Laporan Mengukur Protein dengan metode Kjeldahl


 

Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjungdan beretika dalam berblog. mari kita budayakan berblog yang mengghargai karya orang lain.

(elfian permana)

 

“Mengukur Protein dengan metode Kjeldahl”
Biokimia

Disusun Oleh :
ELFIAN PERMANA
Budidaya Peraiaran

Program Pendidikan D4 Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian Vedca Cianjur
Joint
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Protein merupakan senyawa biokimia yang tersusun dari satu atau lebih polipeptida dan memilki bentuk globular atau fibrous. Polipeptida sendiri merupakan suatu polimer dari asam amino yang berbentuk dari ikatan peptida. Sebagian besar asam amino penyusun protein adalah L-α-asam amino. Secara tingkatan, struktur protein dibagi menjadi empat, yakni primer, skunder, tersier dan kuarter.
Protein merupakan polimer asam amino. Ada puluh sam alain asam amino yang berbeda merupakan penyusun protein alami. Protein dibedakan satu sama lain berdasarkan tipe, jumlah dan susunan asam aminonya. Dibedakan satu sama lain berdasarkan tipe, jumlah dan susunan asam aminonya. Perbedaan menyebabkan perbedaan struktur molekuler , kandungan nutrisi dan sifat fisikokimia. Protein merupakaan konstituen penting dalam makanan, dimana protein merupakan sumber energy sekaligus sekaligus mengandung asam amino esensial seperti lysine, tryptophan, methionine, leucine, isoleucine, dan valine ( esensisal berati penting bagi tubuh, namun tidak bisa disintesis daalam tubuh).
Protein merupakan komponen utama dalam berbagai makanan alami, yang menentukan tekstur keseluruhan, misalnya keempukan produk daging atau ikan, dan sebagainya. Protein terisolisasi sering digunakan dalam makanan sebagai unsure kandungan (ingredient) karena sifat atau fungsi uniknya, antara lain kemampuannya menghasilkan penampilan tekstur ataau staabilitas yang diinginkan . misalnya , protein digunakan sebagai agen pembentuk gel ( gelling agent), pengemulsi (emulsifier) , pembentuk busa (foaming agent) dan pengental (thickener)
Beberapaa protein makanan merupakan enzim yang merupakan enzim yang mampu meningkatkan laju reaksi biokimia tertentu, baik yang menguntungkan maupun yang menrugikan merusak. Didalam analisis makanan, mengetahui kadar total, jenis, struktur molekul dan sifat funsional dari protein sangat penting.

1.2 Tujuan
1. Tujuan Praktikum ini adalah untuk mempelajari cara mengukur kadar protein total dalam bahan.
2. Untuk mengetahui kadar protein ikan nila

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ikan Nila

Ikan nila mempunyai nama ilmiah Oreochromis niloticus dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. Ikan nila bukanlah ikan asli perairan Indonesia, melainkan ikan introduksi (ikan yang berasal dari luar Indonesia, tetapi sudah dibudidayakan di Indonesia). Bibit ikan ini didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969 dari Taiwan ke Bogor. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia(Wiryanta Wahyu, B.T.,dkk, 2010).
Sesuai dengan nama Latinnya Oreochromis niloticus berasal dari sungai Nil di Benua Afrika. Awalnya ikan ini mendiami hulu sungai Nil di Uganda. Selama bertahun-tahun, habitatnya semakin berkembang dan bermigrasi ke arah selatan (kehilir) sungai melewati danau Raft dan Tanganyika sampai ke Mesir. Dengan bantuan manusia, ikan nila sekarang sudah tersebar sampai kelima benua meskipun habitat yang disukainya adalah daerah tropis dan sub tropis. Sedangkan di wilayah beriklim dingin , ikan nila tidak dapat hidup baik (Suyanto ,S.R., 2009).
Pada awalnya ikan nila dikenal dengan nama Tilapia nilotica. Aristoteles dan rekan-rekannya memberi nama itu sekitar tahun 300 tahun SM. Mengingat Mesir kuno bukan satu-satunya negeri yang menghargai nila tetapi di kawasan Junani juga telah dikenal sebagai penggemar ikan nila sehingga diyakini telah menamakan Tilapia nilotica (ikan Nil) pada waktu tersebut (http://ikan nila.com/mengenal ikan nila dan legendanya).
Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh pemerintah Indonesia melalui Direktur Jenderal Perikanan sejak tahun 1972. Menurut klasifikasi yang terbaru (1982) nama ilmiah ikan nila adalah Oreochromis niloticus.
Nama genus Oreochromis menurut klasifikasi yang berlaku sebelumnya disebut Tilapia. Perubahan nama tersebut telah disepakati dan dipergunakan oleh para ilmuwan meskipun dikalangan awam tetap disebut Tilapia nilotica. Perubahan klasifikasi tersebut dipelopori oleh Dr.Trewavas (1980) dengan membagi genus Tilapia menjadi tiga genus berdasarkan prilaku ikan terhadap telur dan anak-anaknya yaitu:
- Genus Oreochromis
Pada genus Oreochromis induk ikan betina mengerami telur di dalam rongga mulut dan mengasuh sendiri anak-anaknya.
Anggota genus ini adalah : Oreochromis hunteri, Oreochromis niloticus, Oreochromis mossambicus, Oreochromis aureus, dan Oreochromis spilurus.
- Genus Sarotherodon
Pada genus Sarotherodon induk jantanlah yang mengerami telur dan mengasuh anaknya.
Yang termasuk spesies ini adalah Sarotherodon melanotheron dan Sarotherodon galilaeus.
- Genus Tilapia
Ikan yang termasuk genus ini memijah dan menaruh telur pada suatu tempat atau benda (substrat). Induk jantan dan betina bersama-sama atau bergantian menjaga telur dan anak-anaknya.
Contoh spesies ini adalah Tilapia sparmanii, Tilapia rendalli, dan Tilapia zillii.
Klasifikasi lengkap yang kini dianut oleh para ilmuwan adalah yang telah dirumuskan oleh Dr.Trewavas sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii Universitas Sumatera Utara
Ordo : Percomorphi
Kerajaan : Animalia Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii Sub-ordo : Percoidea
Ordo : Percomorphi Famili : Cichlidae

2.2 Protein
Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti bahan makronuttrien lain (lemak dan karbohidrat), protein ini berperan lebih penting dalam pembentukan biomolekul daripada sebagai sumber energy. Keistimewaan lain dari protein ini adalah strukturnya yang mengandung N, disamping C,H, dan O. Dengan demikian maka salah satu cara terpenting yang cukup spesifik untuk menentukan jumlah-jumlah protein secara kuantitatif adalah dengan penentuankandungan N yang ada dalam bahan makanan atau bahan lain. Karena molekulnya yang lebih besar (berat molekulnya sampai mencapai jutaan), maka protein mudah sekali mengalami perubahan bentuk fisik ataupun aktivitas biologisnya.Banyak agensia yang dapat menyebabkan perubahan sifat alamiah protein, misalnya panas, asam, basa, solven organic, garam, logam berat, radiasi sinar radioaktif. Perubahansifat fisik yang mudah diamati adalah terjadinya penjedalan (menjadi tidak larut) atau pemadatan Di alam umumnya terdapat 20 jenis asam amino (untuk protein tertentu terdapat 25 jenis). Fungsi utama protein dalam tubuh adalah sebagai zat pembentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang sudah ada agar tidak mudah rusak. Protein dapat juga digunakan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi tubuh tidak dapat terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Protein juga berperan dalam pengaturan proses dalam tubuh ( secara langsung maupun tidak langsung ). Dengan cara mengatur zat-zat pengatur proses dalam tubuh, protein dapat mengatur keseimbangan cairan dalam jarngan dan pembuluh darah, yaitu dengan cara menimbulkan tekanan osmotik koloid. Tekanan osmotic tersebut dapat menarik cairan jaringan kedalam pembuluh darah. Selain itu, sifat amfoter protein yang dapat bereaksi dengan asam dan basa, dapat mengatur keseimbangan asam basa dalam tubuh (Lehninger, 1995).

2.1.1 Metode Kjeldahl

Johan Gustav Christoffer Thorsager Kjeldahl (pengucapan Denmark: [johan k ʰ ɛld̥æ ː ˀ l] 1849-1900), adalah seorang kimiawan Denmark yang mengembangkan metode untuk menentukan jumlah nitrogen dalam senyawa organik tertentu dengan menggunakan teknik laboratorium yang bernama metode Kjeldahl mengejarnya. Metode kjeldal dikembangkan pada tahun 1883 oleh pembuat bir bernama johann Kjeldehl. Makanan didigesti dengan asam kuat sehingga melepaskan Metode ini terdiri dari pemanasan zat dengan asam sulfat, yang terurai zat organik dengan oksidasi untuk membebaskan mengurangi nitrogen sebagai amonium sulfat. Dalam langkah ini kalium sulfat ditambahkan untuk meningkatkan titik didih menengah (dari 337 ° F sampai 373 ° F / 169 ° C sampai 189 ° C). Dekomposisi kimia dari sampel selesai ketika media berwarna gelap awalnya sangat telah menjadi jelas dan tidak berwarna.

Larutan kemudian disuling dengan sejumlah kecil natrium hidroksida, yang mengubah garam amonium menjadi amonia. Jumlah amonia, dan karenanya jumlah nitrogen hadir dalam sampel, ditentukan oleh titrasi kembali. Akhir kondensor dicelupkan ke dalam larutan asam borat. Amonia bereaksi dengan asam dan sisa asam ini kemudian dititrasi dengan larutan natrium karbonat dengan cara indikator pH metil oranye.

Degradasi: Contoh + H2SO4 → (NH4) 2SO4 (aq) + CO2 (g) + SO2 (g) + H2O (g)
Pembebasan amonia: (NH4) 2SO4 (aq) + 2NaOH → Na2SO4 (aq) + 2H2O (l) + 2NH3(g)
Penangkapan amonia: B (OH) 3 + H2O + NH3 → NH4 + + B (OH) 4 -
Back-titrasi: B (OH) 3 + H2O + Na2CO3 → NaHCO3 (aq) + NAB (OH) 4 (aq) + CO2 (g) +H2O

Dalam prakteknya, analisis ini sebagian besar otomatis; katalis spesifik mempercepat dekomposisi. Awalnya, katalis pilihan adalah oksida merkuri. Namun, sementara itu sangat efektif, masalah kesehatan mengakibatkan itu digantikan oleh tembaga sulfat. Tembaga sulfat tidak seefisien oksida merkuri, dan menghasilkan hasil protein yang lebih rendah. Itu segera dilengkapi dengan titanium dioksida, yang saat ini katalis disetujui semua metode analisis protein dalam Metode Resmi dan Praktik Rekomendasi Society American Oil Chemists ‘.Kjeldahl digestion Kjeldah ldistilasi Aplikasi

Universalitas metode Kjeldahl itu, presisi dan reproduksibilitas telah membuat metode yang diakui secara internasional untuk memperkirakan kandungan protein dalam makanan dan itu adalah metode standar yang semua metode lain yang dihakimi. Hal ini juga digunakan untuk uji tanah, air limbah, pupuk Ini tidak, bagaimanapun, memberikan ukuran kandungan protein sejati, seperti mengukur nitrogen nonprotein selain nitrogen dalam protein. Hal ini dibuktikan dengan 2007 pet insiden makanan dan 2008 Cina Skandal susu bubuk, ketika melamin, bahan kimia kaya nitrogen, ditambahkan ke bahan baku untuk kandungan protein tinggi palsu. Juga, faktor koreksi yang berbeda diperlukan untuk protein yang berbeda untuk memperhitungkan sekuens asam amino yang berbeda. Kerugian tambahan, seperti kebutuhan untuk menggunakan asam sulfat pekat pada suhu tinggi dan waktu pengujian yang relatif lama (satu jam atau lebih), buruk dibandingkan dengan metode Dumas untuk mengukur kadar protein kasar.Total Kjeldahl nitrogen

Jumlah Kjeldahl nitrogen atau TKN adalah jumlah nitrogen organik, amonia (NH3), dan amonium (NH4 +) dalam analisis kimia tanah, air, atau air limbah (misalnya pabrik pengolahan limbah limbah). Untuk menghitung total Nitrogen (TN), konsentrasi nitrat dan nitrit-N-N ditentukan dan ditambahkan ke TKN.

Hari ini, TKN adalah parameter yang diperlukan untuk pelaporan peraturan di banyak pabrik pengolahan, dan sebagai sarana operasi pabrik pemantauan. Konversi faktor
TKN sering digunakan sebagai pengganti untuk protein dalam sampel makanan. Konversi dari TKN protein tergantung pada jenis protein yang hadir dalam sampel dan apa fraksi protein yang tersusun dari asam amino nitrogen, seperti arginin dan histidin. Namun, berbagai faktor konversi relatif sempit. Contoh faktor konversi, yang dikenal sebagai faktor N, untuk makanan berkisar dari 6,38 untuk susu dan 6,25 untuk daging, telur, jagung (jagung) dan sorgum 5.83 untuk sebagian besar biji-bijian,. 5.70 untuk tepung terigu, dan 5,46 untuk kacang

Metode kjeldahl adalah buruk sensitif dalam versi asli. Metode deteksi lainnya telah digunakan untuk mengukur NH4 + setelah mineralisasi dan distilasi, mencapai peningkatan sensitivitas, yaitu in-line generator pasangan hydrure ke spektrometer emisi plasma (ICP-AES-HG) (10-25 mg / L) [4], titrasi potensiometri (> 0,1 M Nitrogen), Zona Elektroforesis Kapiler (1,5 ug / ml Nitrogen) [5], kromatografi ion (0.5μg/ml) .

2.1.2 Pengukuran Protein dan Metode yang Digunakannya
Protein merupakan senyawa polimer organik yang berasal dari monomer asam amino yang mempunyai ikatan peptida. Istilah protein berasal dari bahasa Yunani “protos” yang memiliki arti “yang paling utama ”.Protein” memilikiperan yang sangat penting pada fungsi dan struktur seluruh sel makhluk hidup. Hal ini dikarenakan molekul protein memiliki kandungan oksigen, karbon, nitrogen, hydrogen, dan sulfur.Sebagian protein juga menagndung fosfor.
Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).
Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan dengan alkali kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi. Metode ini telah banyak mengalami modifikasi. Metode ini cocok digunakan secara semimikro, sebab hanya memerlukan jumlah sampel dan pereaksi yang sedikit dan waktu analisa yang pendek. Metode ini kurang akurat bila diperlukan pada senyawa yang mengandung atom nitrogen yang terikat secara langsung ke oksigen atau nitrogen. Tetapi untuk zat-zat seperti amina,protein,dan lain – lain hasilnya lumayan.
Cara Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya. Dengan mengalikan hasil analisis tersebut dengan angka konversi 6,25, diperoleh nilai protein dalam bahan makanan itu. Untuk beras, kedelai, dan gandum angka konversi berturut-turut sebagai berikut: 5,95, 5,71, dan 5,83. Angka 6,25 berasal dari angka konversi serum albumin yang biasanya mengandung 16% nitrogen.
Prinsip cara analisis Kjeldahl adalah sebagai berikut: mula-mula bahan didestruksi dengan asam sulfat pekat menggunakan katalis selenium oksiklorida atau butiran Zn. Amonia yang terjadi ditampung dan dititrasi dengan bantuan indikator. Cara Kjeldahl pada umumnya dapat dibedakan atas dua cara, yaitu cara makro dan semimakro.
1. Cara makro Kjeldahl digunakan untuk contoh yang sukar dihomogenisasi dan besar contoh 1-3 g
2. Cara semimikro Kjeldahl dirancang untuk contoh ukuran kecil yaitu kurang dari 300 mg dari bahan yang homogen.
Cara analisis tersebut akan berhasil baik dengan asumsi nitrogen dalam bentuk ikatan N-N dan N-O dalam sampel tidak terdapat dalam jumlah yang besar. Kekurangan cara analisis ini ialah bahwa purina, pirimidina, vitamin-vitamin, asam amino besar, kreatina, dan kreatinina ikut teranalisis dan terukur sebagai nitrogen protein. Walaupun demikian, cara ini kini masih digunakan dan dianggap cukup teliti untuk pengukuran kadar protein dalam bahan makanan.
Analisa protein cara Kjeldahl pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu proses destruksi, proses destilasi dan tahap titrasi.

1. Tahap destruksi
Pada tahapan ini sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon, hidrogen teroksidasi menjadi CO, CO2 dan H2O. Sedangkan nitrogennya (N) akan berubah menjadi (NH4)2SO4. Untuk mempercepat proses destruksi sering ditambahkan katalisator berupa campuran Na2SO4 dan HgO (20:1). Gunning menganjurkan menggunakan K2SO4 atau CuSO4. Dengan penambahan katalisator tersebut titk didih asam sulfat akan dipertinggi sehingga destruksi berjalan lebih cepat. Selain katalisator yang telah disebutkan tadi, kadang-kadang juga diberikan Selenium. Selenium dapat mempercepat proses oksidasi karena zat tersebut selain menaikkan titik didih juga mudah mengadakan perubahan dari valensi tinggi ke valensi rendah atau sebaliknya.
Reaksi yang terjadi pada tahap ini adalah:
H destruksi
R-C-COOH NH3 + CO2 + H2O
NH2 H2SO4
Asam amino CuSO4
(protein) Na2SO4
NH3 + H2SO4 (NH4)2SO4
Hasil Destruksi

2. Tahap destilasi
Pada tahap destilasi, ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3) dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan. Agar supaya selama destilasi tidak terjadi superheating ataupun pemercikan cairan atau timbulnya gelembung gas yang besar maka dapat ditambahkan logam zink (Zn). Ammonia yang dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh asam khlorida atau asam borat 4 % dalam jumlah yang berlebihan. Agar supaya kontak antara asam dan ammonia lebih baik maka diusahakan ujung tabung destilasi tercelup sedalam mungkin dalam asam. Untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebihan maka diberi indikator misalnya BCG + MR atau PP.
Reaksi yang terjadi pada tahap ini adalah:
(NH4)2SO4 + NaOH NH3 + H2O + Na2SO4
NH3 + HCl 0,1 N NH4Cl
Berlebihan

3. Tahap titrasi
Apabila penampung destilat digunakan asam khlorida maka sisa asam khorida yang bereaksi dengan ammonia dititrasi dengan NaOH standar (0,1 N). Akhir titrasi ditandai dengan tepat perubahan warna larutan menjadi merah muda dan tidak hilang selama 30 detik bila menggunakan indikator PP.
Reaksi yang terjadi pada tahap ini adalah:
HCl 0,1 N + NaOH 0,1 N NaCl + H2O
Kelebihan
Kandungan nitrogen kemudian dapat dihitung sebagai berikut:
%N = ml NaOH blanko – ml NaOH sampel × N. NaOH × 14,008 × 100%
Gram bahan x 1000
Apabila penampung destilasi digunakan asam borat maka banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat diketahui dengan titrasi menggunakan asam khlorida 0,1 N dengan indikator (BCG + MR). Akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan dari biru menjadi merah muda.
Kandungan nitrogen kemudian dapat dihitung sebagai berikut:
%N = ml NaOH blanko – ml NaOH sampel × N. HCl × 14,008 × 100%
Gram bahan x 1000
Setelah diperoleh %N, selanjutnya dihitung kadar proteinnya dengan mengalikan suatu faktor. Besarnya faktor perkalian N menjadi protein ini tergantung pada persentase N yang menyusun protein dalam suatu bahan.
Kadar protein (%) = % N x faktor konversi
Nilai faktor konversi berbeda tergantung sampel:

1. Sereal 5,7
2. Roti 5,7
3. Sirup 6,25
4. Biji-bijian 6,25
5. Buah 6,25
6. Beras 5,95
7. Susu 6,38
8. Kelapa 5,20
9. Kacang Tanah 5,46

Apabila faktor konversi tidak diketahui, faktor 6,25 dapat digunakan . Faktor ini diperoleh dari fakta rata-rata nitrogen dalam protein adalah 16 %.
Kadar Protein (%) = N x 100/16
= N x 6,25

2.3 Klasifikasi Ikan Nila

Ikan nila mempunyai nama ilmiah Oreochromis niloticus dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. Ikan nila bukanlah ikan asli perairan Indonesia, melainkan ikan introduksi (ikan yang berasal dari luar Indonesia, tetapi sudah dibudidayakan di Indonesia). Bibit ikan ini didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969 dari Taiwan ke Bogor. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia(Wiryanta Wahyu, B.T.,dkk, 2010).
Sesuai dengan nama Latinnya Oreochromis niloticus berasal dari sungai Nil di Benua Afrika. Awalnya ikan ini mendiami hulu sungai Nil di Uganda. Selama bertahun-tahun, habitatnya semakin berkembang dan bermigrasi ke arah selatan (kehilir) sungai melewati danau Raft dan Tanganyika sampai ke Mesir. Dengan bantuan manusia, ikan nila sekarang sudah tersebar sampai kelima benua meskipun habitat yang disukainya adalah daerah tropis dan sub tropis. Sedangkan di wilayah beriklim dingin , ikan nila tidak dapat hidup baik (Suyanto ,S.R., 2009).
Pada awalnya ikan nila dikenal dengan nama Tilapia nilotica. Aristoteles dan rekan-rekannya memberi nama itu sekitar tahun 300 tahun SM. Mengingat Mesir kuno bukan satu-satunya negeri yang menghargai nila tetapi di kawasan Junani juga telah dikenal sebagai penggemar ikan nila sehingga diyakini telah menamakan Tilapia nilotica (ikan Nil) pada waktu tersebut (http://ikan nila.com/mengenal ikan nila dan legendanya).
Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh pemerintah Indonesia melalui Direktur Jenderal Perikanan sejak tahun 1972. Menurut klasifikasi yang terbaru (1982) nama ilmiah ikan nila adalah Oreochromis niloticus. Nama genus
Oreochromis menurut klasifikasi yang berlaku sebelumnya disebut Tilapia. Perubahan nama tersebut telah disepakati dan dipergunakan oleh para ilmuwan meskipun dikalangan awam tetap disebut Tilapia nilotica. Perubahan klasifikasi tersebut dipelopori oleh Dr.Trewavas (1980) dengan membagi genus Tilapia menjadi tiga genus berdasarkan prilaku ikan terhadap telur dan anak-anaknya yaitu:
- Genus Oreochromis
Pada genus Oreochromis induk ikan betina mengerami telur di dalam rongga mulut dan mengasuh sendiri anak-anaknya.
Anggota genus ini adalah : Oreochromis hunteri, Oreochromis niloticus, Oreochromis mossambicus, Oreochromis aureus, dan Oreochromis spilurus.
- Genus Sarotherodon
Pada genus Sarotherodon induk jantanlah yang mengerami telur dan mengasuh anaknya.
Yang termasuk spesies ini adalah Sarotherodon melanotheron dan Sarotherodon galilaeus.
- Genus Tilapia
Ikan yang termasuk genus ini memijah dan menaruh telur pada suatu tempat atau benda (substrat). Induk jantan dan betina bersama-sama atau bergantian menjaga telur dan anak-anaknya.
Contoh spesies ini adalah Tilapia sparmanii, Tilapia rendalli, dan Tilapia zillii.
Klasifikasi lengkap yang kini dianut oleh para ilmuwan adalah yang telah dirumuskan oleh Dr.Trewavas sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii Universitas Sumatera Utara
Ordo : Percomorphi
Kerajaan : Animalia Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii Sub-ordo : Percoidea
Ordo : Percomorphi Famili : Cichlidae

2.3.1 Kandungan nutrisi nila
Analisis proksimat merupakan suatu uji yang dilakukan untuk mengetahui kandungan gizi yang dimiliki oleh suatu bahan. Pada praktikum kali ini tidak dilakukan uji proksimat secara langsung melainkan berdasarkan literatur yang telah ada. Komposisi kimia ikan nila (Oreochromis niloticus) tercantum dalam tabel 3.
Tabel 3. Komposisi kimia ikan nila (Oreochromis
niloticus)
Senyawa Jumlah (%)
Kadar air 79.44
Kadar abu 1.26
Protein 12.52
Lemak 2.57
Karbohidrat 1.26
Sumber : Suyanto 1994, diacu dalam Pradana 2008
Berdasarkan literatur yang terdapat pada tabel 3 dapat diketahui bahwa ikan nila memilki kandungan air yang paling tinggi yaitu sebesar 79.44% kemudian kadar proteinnya sebesar 12.52% sedangkan komposisi terendahnya adalah kadar abu dan karbohidrat sebesar 1.26%. Hal ini didukung pula oleh pernyataan Shahidi dan Botta 1994, diacu dalam Prawira 2008 bahwa protein merupakan bagian terbesar setelah air pada daging ikan, nilainya diperkirakan mencapai 11-27%. Protein otot ikan dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan berdasarkan kelarutannya yaitu protein miofibril, sarkoplasma dan stroma (Nakai dan Modler 1999, diacu dalam Prawira 2008). Komposisi setiap fraksi antara lain miofibril sebesar 65-75%, sarkoplasma sebesar 20-30% dan stroma 1-3% (Suzuki 1981, diacu dalam Prawira 2008).
Tingginya kandungan protein miofibril tersebut berperan penting dalam koagulasi dan pembentukan gel ketika daging ikan diolah (Suzuki 1981, diacu dalam Prawira 2008). Penyusun utama protein myofibril ialah aktin dan myosin. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat gel aktomiosin pada ikan adalah konsentrasi protein, pH, kekuatan ion, waktu dan suhu pemanasan. Penurunan PH dan peningkatan konsentrasi protein meningkatkan kekuatan gel aktomiosin (Zayas 1997, diacu dalam Febrina 2008).
Protein sarkoplasma pada ikan jauh lebih stabil dibandingkan dengan protein miofibril (Eskin et al.1971, diacu dalam Febrina 2008). Protein ini larut air dan secara normal ditemukan di plasma sel dan berperan sebagai enzim yang diperlukan untuk metabolism anaerob sel-sel otot dan pembawa oksigen (Eryanto 2006, diacu dalam Febrina 2008).
Menurut Muchtadi et al 1992, diacu dalam Trisnawaty 2008 bahwa adanya variasi dalam komposisi baik jumlah maupun komponen penyusunnya disebabkan karena faktor alami dan biologis. Faktor biologis yaitu faktor yang berasal dari individu ikan itu sendiri seperti jenis atau golongan ikan, umur, dan jenis kelamin. Faktor ekstrinsik yaitu faktor yang berasal dari luar ikan itu sendiri seperti daerah kehidupannya, musim dan jenis makanan yang tersedia.
Menurut Stansby dan Olcott 1963, diacu dalam Trisnawaty 2008, penggolongan ikan berdasarkan kandungan lemak dan proteinnya dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Penggolongan ikan berdasarkan kandungan lemak dan proteinnya
Golongan ikan Kadar lemak (%) Kadar protein
Lemak rendah-protein sedang 5 <5
Lemak rendah- protein tinggi 20
Lemak rendah- protein rendah <5 <15
Sumber : Stansby dan Olcott 1963, diacu dalam Trisnawaty 2008
Berdasarkan tabel 4 di atas maka dapat diketahui bahwa ikan nila termasuk golongan ikan yang memilki lemak rendah dan protein rendah.

BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat
Pelaksanaan analisa kadar protein ikan pada hari jumat tanggal 22 maret 2013 jam 08.00 sampai selesai di Laboratorium kimia, PPPPTK Pertanian Cianjur, Jawa Barat.
3.2 Alat dan Bahan
No Nama alat Spesifikasi Nama bahan
1 Labu kjeldhal 100 ml Sampel ikan patin
2 Labu ukur 100 ml selenium
3 Pipet volume 5 ml H2SO4 Pekat
4 Pipet volume 10 ml NaOH 30%
5 Pipet ukur 5 ml Indikator PP
6 Pipet ukur 10 ml Asam Borat 2%
7 Pipet ukur 25 ml Aquadest
8 Buret 25 ml HCl 0.01 N
9 Pipet tetes – Brom kresol hijau
10 Labu Erlenmeyer 250 ml
11 Corong -
12 Alat destilasi -
13 Pemanas/bunsen -
14 Timbangan digital -
15 Tissue -
16 Statif -

3.3 Prosedur Kerja
• Sample ditimbang dengan seksama 0,51 g dan dimasukan dalam labu kjeidahl 100mL
• Ditambahkan 2 g campuran selen dan 25 mL H2SO4 pekat
• Dipanaskan diatas pemanas listrik atau api pembakar sampai mendidih dan larutanmenjadi jernih kehijau-hijauan (sekitar 2 jam).
• Dibiarkan dingin kemudian diencerkan dan dimasukan dalam labu ukur 100 mL,tepatkan sampai tanda garis.
• 5 mL larutan dipipet dan dimasukan dalam alat penyuling, kemudian 5 mL NaOH30% ditambahkan dan beberapa tetes indicator phenolphthalein (PP).
• Disulingkan selama kurang lebih 10 menit, sebagai penampung adalah 10 mL larutanasam borat 2% yang telah dicampur indicator dan dimasukan dalam Erlenmeyer.
• Ujung pendingin dibilasi dengan air suling.
• Dititrasi dengan larutan HCl 0,01 N.
• Dibandingkan dengan blankoLalu konversi data yang telah di dapat ke rumus berikut :Kadar Protein = (V1-V2) x N x 0,014 x f.k x fp x 100% . Dimana:
W
W = Bobot cuplikan.
V1 = Volume HCl 0,01 N yang di gunakan penitaran contoh.
V2 = Volume HCl yang digunakan penitaran blanko.
N = Normalitas HCl.
f.k = Faktor konversi untuk protein dari makanan ( 6,25 ) *)
fp = Faktor pengenceran (20)

*) secara umum menggunakan faktor konversi 6,25

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Data analisis kadar protein
Standarisasi NaoH 0,1 N dengan Asam Oksalat
No Ikan W.A. oksidat (g) NaoH (ml) N NaoH N rata-rata
1 Lele 0, 1092 17,05 0,1016
2 Nila 0,1140 17,95 0,1008 0,1009
3 Mas 0,1042 15,75 0,1041
4 Patin 0,1210 19,00 0,1010

Penghitungan :
Ditanya : NaoH = ?
Diketahui : H2C2O4 = 5 H2O
: BM. Oks = 126

3. Standarisasi Hcl 0,01 N dengan NaoH 0,1010 N
Ikan V.Hcl V. NaoH N NaoH N. Hcl
Lele 25,0 2.60 0,0105
Nila 25,0 2,50 0,1009 0,1010
Mas 25,0 2,50 0,1010
Patin 25,0 2,70 0,0108

4. Penentuan kadar Protein
Ikan W.sample Volume V1 blanko Volume V2
blanko % N
Lele 0,5162 0,30 6,4 20,88
Nila 0,5184 0,30 6,25 20,26
Mas 0,5182 0,30 2,2 6,48
Patin 0,5190 0,30 4,15 13,11

Dik : NHcl = 0,0101
FP = 20
FK = 6,25

(V2 – V1) x NHcl x 0,014 x Fk x FP
=
W

(6,25 – 0,30) x 0,0101 x 0,014 x 6,25 x 20
=
0,5189

= 0,189 x 100 %
= 20, 26633 %
4.2 Pembahasan
Dari data hasil praktek dan perhitungan maka diketahui analisa kadar protein metodesemimikro kjeldahl menghasilkan yang pertama mengandung protein sebanyak 20,26 % Hasil tersebut didapatkan dari perhitungan menggunakan rumus :% kadar protein =
Volume HCl sample- Volume HCl blanko x N HCl x 0,014 x fpx fk Berat Sample x 100%
Nilai 0,014 merupakan berat atom N yang dibagi 1000. Dan nilai factor koreksi yang dipergunakan untuk sample sosis adalah 6,25. Nilai ini dipergunakan secara umumkecuali untuk bahan yang sudah diketahui kadar proteinnya.hasil ini didapatkan saat membandingkan kertas belanko yang berisi selenium dan blanko kosong. Setelah itu jika semuanya sudah terdata lalu sehingga tidak dapat diambil nilai rata-ratanya. Jadi nilai yang diambil adalah nilai yang paling mendekati dengan nilai hasil dari analisa dan perhitungan darikelompok lain yang menggunakan sampel dan metode analisa yang sama. Dan hasil yang paling mendekati dengan nilai hasil analisa dengan kelompok lain. Karena pada saat pemasukan dari buret terlalu banyak sehingga menghasilkan warna merah muda terang sehingga menghasilkaan protein ikan nila 20,26 % setandarnya adalaah 12,52 %

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Setelah mendapatkan hasil protein dari ikan nila sample yaitu 20,26 % dan kadar protein ikan nila yang standar adalah 12,52 % . dapat disimpulkan bahwa ikan nila mempunyai protein yang tinggi sehingga baik untuk sebagai zat pembentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang sudah ada agar tidak mudah rusak. Protein dapat juga digunakan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi tubuh tidak dapat terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak.(Wikipedia)

5.2 Saran
Banyak-banyak lah mengkonsumsi ikan terutama ikan nila yang terkadung protein yang cukup baik dan bagus. Dalam hal ini ikan nila juga mudah untuk didapatkan di pasar-pasar sehingga tidak ada alasan untuk mengkonsumsi proten dari ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anna Poedjiadi, 1994.Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta
http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_nila (diunduh 11 april 2013 jam 19.30)
www. Wikipedia/kjeldhal.com (diunduh 11 april 2013 jam 19.30)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s