logo_polije

 LAPORAN PRAKTIKUM                     

Respon organisme akuatik terhadap variabel lingkungan  suhu dan salinitas

Fisiologi Hewan Air

 

 

 

 

Disusun Oleh :

ELFIAN PERMANA

Budidaya Peraiaran

 

 

                                                                   

 

Program Pendidikan D4  Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian Vedca Cianjur

Joint

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2012

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………… ii

 

BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………… 1

1.1.Latar Belakang……………………………………………………………………………………. 1

1.2.Tujuan………………………………………………………………………………………………… 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………………………… 3

2.2 Klasifikasi………………………………………………………………………………………….. 3

BAB III. METODOLOGI…………………………………………………………………………………… 10

3.1. Waktu dan Tempat……………………………………………………………………………… 10

3.2. Alat dan Bahan………………………………………………………………………………….. 10

3.3. Prosedur percobaan…………………………………………………………………………….. 11

3.4.. Analisa data……………………………………………………………………………………… 13

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………………………………… 19

4.1. Hasil data………………………………………………………………………………………….. 19

4.2. Pembahasan……………………………………………………………………………………….. 24

BAB V. KESIMPILAN DAN SARAN………………………………………………………………… 27

5.1. Kesimpulan……………………………………………………………………………………….. 27

5.2. Saran………………………………………………………………………………………………… 27

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………. 28

 

                                                            

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkesempatan dalam  memberikan limpahan kesehatan, rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Respon organisme akuatik terhadap variabel lingkungan  suhu dan salinitas ini dapat diselesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun dalam hal tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan Air. Atas tersusunnya Laporan makalah ini, penulis ucapkan terimakasih kepada :

  1. Bapak Laode M. Abdi Poto, S.St Pi, M.Si dan Ibu Leli Lisnawati, SPi dan Ibu Yuli ,SPi         Selaku dosen Mata Kuliah Fisiologi Hewan Air.
  2. Kedua orang tua tercinta yang selalau memberikan do’a dan dukungannya`.
  3. Semua pihak yang telah mendukung dalam penyelesaian makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terlalu banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya harap kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi  makalah ini bisa lebih baik lagi. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam dalam hal ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Cianjur, 16 Desember 2012

                                                                                                   Penulis

                                                                                      Elfian Permana

                                                                                                BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

 

Lingkungan adalah tempat yang paling penting dalam berlangsungnya kehidupan organisme hewan air, dan di lingkungannya selalu mengalami perubahanan  yang terjadi akibat cuaca, musim dan akibat yang dilakukan manusia. Diantaranya suhu , pH salinitas,limbah, kekeruhan hal itu dapat terjadi dari waktu ke waktu. Jika perubaha  tersebut terjadi selang waktu sehari maka organisme tersebut harus di perhatikan Jika tidak maka akan mempengaruhi fisiologi, tinggkah laku biokimia maupun bentuk tubuhnya.

Maka dari itu dilakuan percobaan yang dilakukan seperti mengatur suhu , pH , salinitas , dan kekeruhan berperngaruh terhadap organism tersebut. Dan variable seperti apa yang menyebabkan organisme hewan air itu beberbahaya di suatu lingkungan perairan . dalam usaha mempertahankaan suatu organisme hewan air harus melakukan yang namanya adaptasi secara berkala di lingkungan dalam waktu per jam, harian, bulanan maupun tahunan. Dengan hal mengetahui parameter kualitas air secara kimia,fisika dan biologi .

Dalam percobaan  suhu ini dimana  merupakan faktor penentu ikan tersebut mampu bertahan dalam suhu berapa hingga maksimalnya. Yang kedua salinitas , ada organisme yang biasa hidup di salinitas tinggi dan tidak , dan disini dimana percobaan ikan tertentu dengan mengunakan salinitas tertentu juga agar mengetahui sejauh mana ikan itu mampu bertahan dalam kadar salinitas maksimalnya .

Salinitas juga disini merupakan faktor yang mempengaruhi tinggkat fisilogi ikan terutapa terhadap ikan yang hanya bisa dam air yang salinitasnya tergolong rendah oleh karena itu kita juga harus memperhatikan dalam segala aspek terutama dalam salinitas ini juga dimana menurut  Menurut Boyd (1982) salinitas adalah kadar seluruh ion-ion yang terlarut dalam air, dinyatakan juga bahwa komposisi ion-ion pada air laut dapat dikatakan mantap dan didominasi oleh ion-ion tertentu seperti sulfat, chlorida, carbonat, natrium, calsium dan magnesium. Dan ada juga ikan yang mampu toleran terhadap salinitas rendah dan menengah (air payau)

 

 

 

1.2    Tujuan

 

Laporan pratikum ini bertujuan untuk mengetahui respon dan tingkah laku organisme air tersebut terhadap lingkungan (suhu,salinitas dll) dan mengetahui kisran/ toleransi organisme hewan air tersebut , diantanya sebagai berikut :

  • Mengetahui ikan dalam pH dan salinitas tertentu
  • Menganalisis dan memantau tinggkah laaku ikan pada saat percobaan
  • Mengetahui survival rate dan mortalitas organisme tersebut
  • Mampu mengetahui salinitas dan suhu mematikan (lethal)
  • Mengetahui tingkaah laku ikan pada kisaraan suhu 30o C dan 10o C
  • Mengetahui tingkah laku ikan pada salinitas pada kisaran Gradual dari
  • 5 ppt dan 20 ppt
  • Hal ini supaya  mengetahui kisaaran yang baik dalam saat budidaya perairan

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam hal ini air merupakan hal penting dalam melakukan budidaya terutama terhadaap organisme ikan itu sendiri selain air ada juga pengelolahan kualitas air terbagi dalam tiga bagian kimia, fisika dan biologi. Khususnya membahas kimia tentang salinitas dan pH.

2.1 klasifikasi ikan

2.1.1 Ikan Nila

Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya.

JENIS

Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:

Kelas                     : Osteichthyes
Sub-kelas               : Acanthoptherigii
Crdo                      : Percomorphi
Sub-ordo               : Percoidea
Famili                    : Cichlidae
Genus                    : Oreochromis
Spesies                  :Oreochromis niloticus.
Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu:

nila biasa, nila merah (nirah) dan nila albino.

Suhu atau temperatur air sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhan organisme serta memengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme perairan. Suhu juga memengaruhi oksigen terlarut dalam perairan. Suhu optimal untuk hidup ikan nila pada kisaran 14-38 °C. Secara alami ikan ini dapat memijah pada suhu 22-37 °C namun suhu yang baik untuk perkembangbiakannya berkisar antara 25-30 °C.

Nilai pH merupakan indikator tingkat keasaman perairan . Beberapa faktor yang memengaruhi pH perairan di antaranya aktivitas fotosintesis, suhu, dan terdapatnya aniondan kation. Nilai pH yang ditoleransi ikan nila berkisar antara 5 hingga 11, tetapi pertumbuhan dan perkembangannya yang optimal adalah pada kisaran pH 7–8 .

 

2.1.2 Ikan Lele

 

Ikan lele Tengah badannya mempunyai potongan membulat, dengan kepala pipih kebawah (depressed), sedangkan bagian belakang tubuhnya berbentuk pipih kesamping (compressed), jadi pada lele ditemukan tiga bentuk potongan melintang ( pipih kebawah, bulat dan pipih kesamping). Kepala bagian atas dan bawah tertutup oleh pelat tulang. Pelat ini membentuk ruangan rongga diatas insang. Disinilah terdapat alat pernapasan tambahan yang tergabung dengan busur insang kedua dan keempat.

Klasifikasi dan morfologi ikan lele yaitu,

Kingdom                          : Animalia,

Sub-kingdom                    : Metazoa,

Phyllum                            : Chordata,

Sub-phyllum                     : Vertebrata,

Sub-klas                           : Teleostei

Ordo                                  : Ostariophysi,

Sub-ordo                           : Siluroidea

Familia                             : Clariidae,

Genus                                : Clarias,

Species                              : Clarias batrachus.

Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan. Walaupun biasanya lele lebih kecil daripada gurami umumnya,namun ada beberapa jenis lele yang bisa mencapai panjang 1-1,5 m dan beratnya bisa mencapai lebih dari 2 kg,contohnya lele Wels dari Amerika

 

2.1.2 salinitas

Salinitas adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat didalam perairan. Pengertian salinitas yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Satuan untuk pengukuran salinitas adalah satuan gram per kilogram (ppt) atau promil (o/oo) dan salinitas dapat diukur dengan menggunakan Refraktometer atau salinometer. Nilai salinitas untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 0–5 ppt, perairan payau biasanya berkisar antara 6–29  ppt dan perairan laut berkisar antara 30–35 ppt. Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut

Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagaiair payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebutbrine.

Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut

Air tawar

Air payau

Air saline

Brine

< 0,05 %

0,05—3 %

3—5 %

>5 %

Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.

Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halida—terutama klorida—adalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalam oseanografi, halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam “bagian perseribu” (parts per thousand , ppt) atau permil (‰), kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk setiap liter larutan. Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas dinyatakan sebagai ‰ dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel terhadap”Copenhagen water”, air laut buatan yang digunakan sebagai standar air laut dunia.

Selain itu juga Salinitas adalah kadar garam seluruh zat yang larut dalam 1.000 gram air laut, dengan asumsi bahwa seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, semua brom dan lod diganti dengan khlor yang setara dan semua zat organik menga1ami oksidasi sempuma (Forch et al,1902 dalam Sverdrup et al, 1942). Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki ikatan erat dengan kehidupan organisme perairan termasuk ikan, dimana secara fisiologis salinitas berkaitan erat dengan penyesuaian tekanan osmotik ikan tersebut.

Faktor – faktor yang mempengaruhi salinitas :

1.         Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.

2.         Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi.

3.         Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.

Distribusi salinitas permukaan juga cenderung zonal. Air laut bersalinitas lebih tinggi terdapat di daerah lintang tengah dimana evaporasi tinggi. Air laut lebih tawar terdapat di dekat ekuator dimana air hujan mentawarkan air asin di permukaan laut, sedangkan pada daerah lintang tinggi terdapat es yang mencair akan menawarkan salinitas air permukaannya.

2.1.3 Suhu

Pertumbuhan dan kehidupan biota organisme budidaya sangat dipengaruhi oleh suhu air. Pada umumnya, dalam batas – batas tertentu kecepatan pertumbuhan biota meningkat sejalan dengan naiknya suhu air, sedangkan derajat kelangsungan hidupnya bereaksi sebaliknya terhadap kenaikan suhu. Artinya derajat kelangsungan hidup biota menurun pada kenaikan suhu. Pengaruh suhu secara tidak langsung lainnya adalah dapat mempengaruhi metabolisme, daya larut gas, termasuk oksigen serta berbagai reaksi kimia didalam air. Perubahan suhu secara fluktuatif akan menyebabkan pengaruh terhadap fisiologi hewan air. Ikan merupakan hewan yang bersifat poikilotherm yaitu suhu tubuhnya dipengaruhi suhu lingkungan (air). Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut. selain itu juga Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul. Di samudera, suhu bervariasi secara horizontal sesuai garis lintang dan juga secara vertikal sesuai dengan kedalaman. Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi didalam kisaran suhu yang relative sempit biasanya antara 0-40°C, meskipun demikian bebarapa beberapa ganggang hijau biru mampu mentolerir suhu sampai 85°C.  Selain itu, suhu juga sangat penting bagi kehidupan organisme di perairan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas maupun perkembangbiakan dari organisme tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat euryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah, sedangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada suhu yang cocok, memiliki selera makan yang lebih baik.

Beberapa ahli mengemukakan tentang suhu :

•           Nontji (1987), menyatakan suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya hayati laut pada umumnya.

•           Hela dan Laevastu (1970), hampir semua populasi ikan yang hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk kehidupannya, maka dengan mengetahui suhu optimum dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan kelompok ikan, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan perikanan.

•           Nybakken (1988), sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme.

Sesuai apa yg dikatakan Nybakken pada tahun 1988 bahwa Sebagian besar organisme laut bersifat poikilotermik (suhu tubuh sangat dipengaruhi suhu massa air sekitarnya), oleh karenanya pola penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu laut secara geografik. Berdasarkan penyebaran suhu permukaan laut dan penyebaran organisme secara keseluruhan maka dapat dibedakan menjadi 4 zona biogeografik utama yaitu: kutub, tropic, beriklim sedang panas dan beriklim sedang dingin. Terdapat pula zona peralihan antara daerah-daerah ini, tetapi tidak mutlak karena pembatasannya dapat agak berubah sesuai dengan musim.

Organisme perairan seperti ikan maupun udang mampu hidup baik pada kisaran suhu 20-30°C. Perubahan suhu di bawah 20°C atau di atas 30°C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya daya cerna (Trubus Edisi 425, 2005). Oksigen terlarut pada air yang ideal adalah 5-7 ppm. Jika kurang dari itu maka resiko kematian dari ikan akan semakin tinggi. Namun tidak semuanya seperti itu, ada juga beberapa ikan yang mampu hidup suhu yang sangat ekstrim.

Dari data satelit NOAA, contoh jenis ikan yang hidup pada suhu optimum 20-30°C adalah jenis ikan ikan pelagis. Karena keberadaan beberapa ikan pelagis pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor oseanografi. Faktor oseanografis yang dominan adalah suhu perairan. Hal ini dsebabkan karena pada umumnya setiap spesies ikan akan memilih suhu yang sesuai dengan lingkungannya untuk makan, memijah dan aktivitas lainnya. Seperti misalnya di daerah barat Sumatera, musim ikan cakalang di Perairan Siberut puncaknya pada musim timur dimana SPL 24-26°C, Perairan Sipora 25-27°C, Perairan Pagai Selatan 21-23°C.

BAB III

METODOLOGI

 

3.1.      Waktu Dan Tempat

Kegiatan praktikum dilakukan pada hari Selasa, tanggal 12 November 2012 dan 19 november 2012 dan  pukul 13:30-16:00 WIB. Dan praktikum ini dilakukan di Laboratorium Departement Budidaya Perikanan vedca cianjur.

3.2.     Alat Dan Bahan


3.2.1  Suhu

  • Alat
  • Toples
  • Aerator
  • Termometer
  • Timbangan
    • Bahan  
    • Air dingin
    • Air panas
    • Es batu
      • Ikan nila
      • Ikan lele

3.2.2 Salinitas

  • Alat
  • Toples
  • Aerator
  • Timbangan
  • Bahan 
    • Air
    • Garam
    • Larutan
    • Ikan nila
    • Ikan lele

 

 

3.3 Prosedur percobaan

3.3.1 Respon ikan terhadap suhu

Langkah kerja :

1)      Menyiapkan 2 buah toples,aerator, termometer, untuk praktek tersebut

2)      Mengisi air hingga setengah toples

3)      Masukan es ke dalam toples tersebut pertama hingga suhu 100 C dantoples ke dua suhunya 300 C

4)      Mennyalaahkan aerator

5)      Menyiapkan ikan yang ingin di praktekan

6)      Menimbang semua ikannya

7)      Masukan ikannya ke toples yang sudah disiapkan

8)      Amati ikan tersebut hingga mati dan waktu yang telah ditentukan

9)      Catat tinggkah laku dan respon ikan tersebut

10)  Setelah waktu telah di tentukan habis atau ikan mati timbang kembali ikan tersebut

 

 

 

3.3.2 Respon ikan terhadap salinitas

Langkah kerja :

  1. Menyiapkan 2 buah toples, aerator , thermometer , untuk praktek tersebut
  2. Mengisi air 5 liter per 1 toples
  3. Masukkan garam ke toples 5  gram

Liter

  1. Toples pertama di isi 20 ppt dan toples ke dua di isi 5 ppt gradual
  2. Menyalahkan aerator
  3. Menyiapkan ikan yang ingin di praktekan
  4. Menimbang bobot awal ikan
  5. Masukan ke toples yang sudah di siapkan
  6. Amati ikan tersebut hingga mati dan waktu yang telah ditentukan
  7. Catat tinggkah laku dan respon ikan tersebut
  8. Setelah waktu telah di tentukan habis atau ikan mati timbang kembali ikan tersebut

Parameter yang diamati yaitu lama bertahan ikan pada masing-masing media perlakuan, tingkah laku ikan selama percobaan, sekresi mukus dan kondisi ikan, survival rate ikan selama percobaan dan suhu yang mematikan (lethal). Rumus yang digunakan :

M         =          No-Nt        x 100%

No

SR       =              Nt        x 100%

No

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir

No = Jumlah awal             SR = Survival rate

3.4       Analisa Data                                                                                            

RUMUS :

M         =          No-Nt        x 100%

No

SR       =              Nt        x 100%

No

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir

No = Jumlah awal              SR = Survival rate

Diketahui :

– suhu 35⁰C

  • Nila

N0 = 5         Nt = 5

  • Lele                           N0 = 5          Nt = 5

 

 

 

– Suhu 100 C

  • Nila

N0 = 5          Nt =5

  • Lele

N0 = 5           Nt = 5

– Salinitas 20 ppt

  • Nila

N0 = 5         Nt = 5

  • Lele

N0 = 5         Nt = 5

– Gradual dari 5 ppt

  • Nila

N0 = 5           Nt = 5

  • Lele                                    N0 = 5    Nt = 5

 

Dit :

Mortalitas dan SR ikan mas dan ikan nila pada suhu 35°C?

Mortalitas dan SR ikan mas dan ikan nila pada suhu 10° C ?

Mortalitas dan SR ikan mas dan ikan nila pada salinitas 20 ppt ?

Mortalitas dan SR ikan mas dan ikan nila pada salinitas Gradual dari 5 ppt ?

Jawab :

  • SUHU 30° (Ikan Nila Dan Ikan Lele)

Ikan Nila

M         =          No-Nt        x 100%

No

                        =             5-5        x 100%

5

=             0           x 100%

5

=               0            %

SR       =              Nt        x 100%

No

=              5          x 100%

5

=            100 %

v     Ikan Lele

M         =          No-Nt        x 100%

No

                        =             5-5        x 100%

5

=              0          x 100%

5

=              0      %

SR       =              Nt        x 100%

No

=              5      x 100%

5

=            100 %

  • SUHU 10° C (Ikan Nila Dan Ikan Lele)

Ikan Nila

M         =          No-Nt        x 100%

No

                        =             5-5        x 100%

5

=             0           x 100%

5

=               0            %

SR       =              Nt        x 100%

No

=              5          x 100%

5

=            100 %

v     Ikan Lele

M         =          No-Nt        x 100%

No

                        =             5-5        x 100%

5

=              0          x 100%

5

=              0      %

SR       =              Nt        x 100%

No

=              5      x 100%

5

=            100 %

v     Ikan Lele

M         =          No-Nt        x 100%

No

                        =             5-5        x 100%

5

=              0          x 100%

5

=              0      %

SR       =              Nt        x 100%

No

=              5      x 100%

5

=            100 %

  • SALINITAS 20ppt (Ikan Mas Dan Ikan Nila)

v  Ikan Nila

M         =          No-Nt        x 100%

No

 

=             5-4       x 100%

5

=             0           x 100%

5

=               25          %

SR       =              Nt        x 100%

No

=              4          x 100%

5

=          75  %

v  Ikan Lele

M         =          No-Nt        x 100%

No

 

=             5-4       x 100%

5

=             0           x 100%

5

=               25          %

SR       =              Nt        x 100%

No

=              4          x 100%

5

=          75  %

  • SALINITAS Gradual dari 5 ppt (Ikan Mas Dan Ikan Nila)

v  Ikan Nila

M         =          No-Nt        x 100%

No

 

=             5-5       x 100%

5

=             0           x 100%

5

=               0            %

SR       =              Nt        x 100%

No

=              5          x 100%

5

=            100 %

v  Ikan Lele

M         =          No-Nt        x 100%

No

 

=             5-0       x 100%

5

=              1          x 100%

5

=             100   %

SR       =              Nt        x 100%

No

=              0        x 100%

5

=            0 %

 

 

BAB IV

HASIL DATA DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Data

4.1.1 Perubahan bobot ikan

  • Berat ikan (Variabel Suhu )

suhu

    Jenis ikan

Bobot awal

Bobot akhir

Δ Bobot

300 c

5 ikan lele

20,4

23,5

38,5

300 c

5 ikan nila

68,9

60,7

129,9

100 c

5 ikan lele

23,5

22,6

46,1

100 c

5 ikan nila

60,7

56,9

117,6

  • Berat ikan (Variabel Salinitas)

suhu

    Jenis ikan

Bobot awal

Bobot akhir

Δ Bobot

300 c

5 ikan lele

55,27

249,3

310

300 c

5 ikan nila

60,7

63,94

119,21

100 c

5 ikan lele

59,42

33,1

67,42

100 c

5 ikan nila

34,32

54,9

114,32

4.1.2 Respon ikan

  1. 1.       Variabel suhu (300 C dan 100 C)

v  Suhu 300C

Waktu

Tingkah laku ikan                 nila

Tingkah laku ikan               lele

Menit ke 10

Normal

Normal

20

Normal

Normal

30

 Di atas permukaan

Selalu meloncat ke atas

40

Badan memucat

Meloncat ke atas

v   Suhu 100 C

Waktu

Tingkah laku ikan                 nila

Tingkah laku ikan             lele

Menit ke 10

5 ikan stres

4 ikan stres

12

5 ikan pingsan

4 ikan pinsan

20

Masih dalam keadaan pingsan

Meloncat ke atas permukaan

22

Menabrakake dinding  toples

Meloncat ke atas permukaan

37

Pinsan di bawah permukaan

Menabrakan diri ke dinding toples

  1. 2.  Variabel salinitas

 

v  Salinitas 20 ppt

Waktu

Tingkah laku ikan                 nila

Tingkah laku ikan             lele

Menit ke 1

Ikan nila berenang di dasar toples

Semua lele secara bergantian berenang ke atas permukaan

3

Nila cenderung berenang di dasar kolam

Selalu meloncat ke atas permukaan air

4

4 nila bergerak melayang-layang ke atas

Empat ikan lele selalu mengambil oksigen ke permukaan air

8

Nila selalu berada di dasar permukaan

Lele meloncat ke atas

10

Nila selalu berada di bawah permukaan

Ikan pingsan di atas permukaan toples

13

Warna ikan nila mulai memudar

Masih dalam keadaan pingsan

14

1 nila pingsan di atas permukaan

Ikan menabrakan ke dinding

18

Ikan nila meloncat ke atas permukaan

Meloncat ke atas permukaan air

21

Ikan terus berada di bawah dasar toples

3 ikan berenang agresif

23

Ikan masih berada di dasar permukaan

3 ikan selalu meloncat ke atas permukaan

25

Ikan nila menabrakan ke dinding toples

Mulut ikan menjadi memerah

30

Ikan berputar-putar dipermukaan toples

Ikan meloncat ke atas permukaan

34

Sirip dan mulutnya memerah

Pigsan di atas permukaan air

35

1 ikan nila mati dan keadaan matanya memerah

Sunggut ikan lele memerah dan siripnya

37

1 ikan lele mati di atas permukaan air

v  Gradual dari 5 ppt

Waktu (menit) gradual

Tingkah laku ikan                 nila

Tingkah laku ikan             lele

Menit ke 1 (5 ppt per liter)

Setelah di masukan semua ikan di toples semua berada di dasar toples

Setelah di masukan semua ikan di toples semua bergerak agresif toples

3

1 ikan Meloncat ke permukaan toples

Semua ikan masih bergerak agresif

4

Masih diam di       bawah permukaan toples

1 ikan lele meloncat ke atas permukaan toples

                  7   Meloncat kembali           ke atas permukaan

Lele menabrakan ke dinding toples

8

Ikan Diam kembali di bawah permukaan air

Semua ikan meloncat ke atas permukaan

12

Ikan nila bergerak di atas permukaan toples

Ikan lele meloncat kembali keatas permukaan

14

2 nila mengelurkan kotoran

Ikan lele mengeluarkan kotoran

17

Semua ikan nila kembali diam di bawah permukaan

1 ikan lele meloncat ke atas permukaan hingga keluar dari wadah toples

19

Semua badan ikan lele berubah menjadi sedikit kemerahan

21 (gradual 10ppt)

Semua ikan nila bergerak aktif

Semua ikan lele berenang dengan badan miring

23

Bergerak dengan tidak beraturan

25

Semua ikan nila badannya menjadi pucat

Warna ikan lele menjadi pucat

33 (15 ppt)

Ikan nila saling menggigit

Mulut dan sunggut ikan lele menjadi merah

36

Ikan nila bergerak dan menabrak dinding toples

41 (20 ppt)

Semua sirip dada ikan nila bergerak menjadi lebih cepat

Pergerakan ikan lele menjadi lamabat

45

Permukaan air menjadi berbusa

49

Ikan nila berenang miring

Ikan lele pingsan di atas permukaan

50 (25 ppt)

Overculum ikan memerah

Permukaan air berbusah

52

Semua ikan nila terus berada di dasar air

Semua ikan mati

              

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil praktek yang dilakukan terhadap ikan nila dan ikan lele di 2 toples tersebut. dalam salinitas dan suhu tertentu dengan mengamati tingkah laku ikan tersebut, tinggkah laku tersebut dapat dilihat di 4.1.2 Respon ikan. Dalam hal ini ikan nila dan ikan Lele mumpu bertoleransi dalam suhu 30°C pada 20 menit awal ikan tersebut hanya bersifat normal pada suhu 30°C, hanya sedikit pucat pada bagian badan ikan nila dan sering kali ikan lele meloncat ke atas permukaan pada menit ke 30 – 40. Dalam haal ini terlihat ikan masih kuat dalam kisaraan 30°C . dan yang kedua pada suhu 10°C awal-awal menit ke 5 ikan baru dimasukan ke wadah ikan sudah mengalami stres dengan meloncat-loncat ke atas permukaan lalu ikan nila menabrakan diri ke dinding dan pada saat itu menit 30 ikan nila pun pingsan di dasar air tanpa bergerak sedikit pun dan ikan lele pun pingsan di atas permukaan air di toples tersebut. bahwa dapat disimpulkan bahwa suhu juga sangat berpengaruh terhadap tinggkat fisikologi ikan terutama tinggkat stres ikan tersebut. dengan ikan yang berdarah dingin dengan suhu yang dingin menyebabkan ikan cepat stress , banyak diam lalu gerakannya pun mulai tidak seimbang dalam fisiloginya dan dapat menyebabkan ikan tersebut dalam keadaan pingsan. Dan pada saat ikan dikeluarkan dari akuarium dan di cek suhu awalnya ternyata suhu berubah, hal ini disebabkan oleh aktivitas metabolisme dari ikan-ikan tersebut karena stress dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya berubah secara signifikan.

Dalam praktek salinitas dalam percobaan yang salinitas 20 ppt terlihat ikan nila dan ikan lele yang baru di dalam toples yang sudah di isi air dengan salinitas 20ppt terhihat ikan nila langsung berenang ke dasar permukaan air toples dan ikan lele terlihat menggambil oksigen ke atas permukaan air secara bergantian dan terlihat juga ikan nila sering berada di dasar air toples sedangkan ikan lele selalu bergerak ke atas permukaan air toples terus menerus dan mulai pada ikan nila pun badannya pucat terlihat selalu diam di dasar permukaan air lalu ikan lele pun terlihat badannya pucat sedikit memerah mulut dan sungutnya memerah dan pada salinitas gradual yang dilakukan penambahaan salinitas setiap 10 menit ditambahkan salinitas 5ppt per 1 liter dalama hal ini terlihat pada awal penebaran ikan , ikan nila terlihat sering di dasar air toples dan ikan lele selalu bergerak agresif dengan sering naik ke atas permukaan dan setelah beberapa menit terlihat kedua ikan semakin bergerak pasif atau diam di atas permukaan dan di bawah permukaan pada saat salinitas 15 ppt per 1 liter air dan pada saat salinitas 20 ppt per 1 liter air badan ikan nila memerah dan ikan lele sungut dan mulunya pun memerah dan mengaambaang di atas permukaan air pada ikan lele dan ikan nila hanya diam di daar permukaan air.  seperti pendapat Affandi (2001) bahwa insang merupakan organ penting yang mampu dilewati air mapun mineral, pemeabilitas tinsang yang tinggi terhadap ion-ion dapat menyebabkan ikan selalau bergerak diam di bawah permukaan ataupun di atas permukaan air mungkin juga bisa menyebabkan suatu ikan tersebut pingsan ataupun mati . dalam hal ini Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang kecil (Ctenohaline) dan Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang lebar (Euryhaline). Dan disini ikan nila dan ikan lele mempunyai torelansi salinitas yang kecil yang menyebabkan jika ikan tersebut mengalami stress jika pada kisaaraan salinitas 15ppt dan 20 ppt. selain itu dimana suhu itu stabil sesuai dengan lingkungan ikan maka banyak ikan akan berada pada tempat itu . Sesuai apa yg dikatakan Nybakken pada tahun 1988 bahwa Sebagian besar organisme laut bersifat poikilotermik (suhu tubuh sangat dipengaruhi suhu massa air sekitarnya), oleh karenanya pola penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu laut secara geografik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang telah dilakukan percobaan bahwa ikan nila dan ikan lele tidak mengalami tidak terjadi apa pun pada suhu 30°C hanya mengalami sedikit stress dan pada saat suhu 10°C ikan mengalami stress dan kemudian pingsan dan salinitas 20ppt ikan mengalami stress , pingsan dan 1 ikan nila mati dan  di salinitas gradual dari 5ppt  di tambahkan setiap 10 menit 5ppt  per liter pada toples II yang terdapat ikan nila dan ikan lele mengalami stres, pingsan dan juga ada ikan lele yang mati. Dalam hal ini bisa di simpulkan bahwa betapa pentingnya aspek dalam air biologi,fisika dan kimia diantaranya suhu dan salinitas`

5.2 Saran

Sebaiknya pada saat percobaan untuk membuat air salinitas tinggi sebaiknya air di campurkan garam dan di aduk terlebih dahulu agar air tersebut bebar-benar terlarut sesuai dengan ppt yang digunakan dan dalam peraktek harus selalu focus terhadap tingkah laku ikannya agar benar-benar teramati dengan maksimal.

DAFTAR PUSAKA

http://aryansfirdaus.wordpress.com/2010/10/25/pengaruh-suhu-dan-salinitas-terhadap-keberadaan-ikan/. ( Diunduh pada hari kamis,  10 desember 2012, pukul 10.30 ).

http://id.wikipedia.org /2006/02/07/suhu/.(Diunduh pada hari jumat, 15 desember 2012, pukul 21.50)

http://id.wikipedia.org /2010/02/27/salinitas/.(Diunduh pada hari jumat, 15 desember 2012, pukul 21.55)

http://id.wikipedia.org /2006/08/17/lele/.(Diunduh pada hari jumat, 15 desember 2012, pukul 21.57)

http://id.wikipedia.org /2005/02/24/nila/.(Diunduh pada hari jumat, 15 desember 2012, pukul 22.03)

http://elfitri-vidow.blogspot.com/2012/05/07/bio-pengaruh-suhu-terhadap.(diunduh pada hari minggu, 16 desember 2012, pukul 15.23)

http://aldriyanus.blogspot.com/2012/10/08/pengaruh-suhu-salinitas-arus-cahaya.(diunduh pada pada hari minggu, 16 desember 2012, pukul 15.28)

http://aryansfirdaus.wordpress.com/2010/10/25/pengaruh-suhu-dan-salinitas-terhadap-keberadaan-ikan.(diunduh pada hari minggu, 16 desember 2012, pukul 15.50)