Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

          LAPORAN PRAKTIKUM

“Laju pertumbuhan ikan patin dan lele”

FISIOLOGI HEWAN AIR

 

 

 

Disusun Oleh :

ELFIAN PERMANA

Budidaya Peraiaran

 

 

                                                                   

Program Pendidikan D4  Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian Vedca Cianjur

Joint

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2013

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkesempatan dalam  memberikan limpahan kesehatan, rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Laju Pertumbuhan Ikan Lele Dan Patin ini dapat diselesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun dalam hal tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan Air. Atas tersusunnya makalah ini, penulis ucapkan terimakasih kepada :

  1. Bapak Laode M. Abdi Poto, S.St Pi, M.Si dan Ibu Leli Lisnawati, SPi dan Ibu Yuli ,SPi selaku dosen Mata Kuliah Fisiologi Hewan Air.
  2. Kedua orang tua tercinta yang selalau memberikan do’a dan dukungannya`.
  3.  Semua pihak yang telah mendukung dalam penyelesaian makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terlalu banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya harap kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi  makalah ini bisa lebih baik lagi. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam dalam hal ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Cianjur, 19 Januari 2013

penulis

                                                                                          Elfian Permana

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………… ii

 

BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………… 1

1.1. Latar Belakang…………………………………………………………………………………… 1

1.2. Tujuan……………………………………………………………………………………………….. 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………………………… 2

2.1 Klasifikasi Patin………………………………………………………………………………….. 2

2.2. Klasifikasi Lele………………………………………………………………………………….. 3

2.3 Laju Pertumbuhan Ikan………………………………………………………………………… 5

2.4 Pengukuran Kualitas Air………………………………………………………………………. 6

2.5 Salinitas……………………………………………………………………………………………… 7

2.6 pH…………………………………………………………………………………………………….. 9

BAB III. METODOLOGI…………………………………………………………………………………… 10

3.1. Waktu dan Tempat……………………………………………………………………………… 10

3.2. Alat dan Bahan………………………………………………………………………………….. 10

3.3. Prosedur percobaan…………………………………………………………………………….. 11

3.4.. Analisa data……………………………………………………………………………………… 12

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………………………………… 14

4.1. Hasil ………………………………………………………………………………………………… 14

4.2. Pembahasan……………………………………………………………………………………….. 16

BAB V. KESIMPILAN DAN SARAN………………………………………………………………… 18

5.1. Kesimpulan……………………………………………………………………………………….. 18

5.2. Saran………………………………………………………………………………………………… 18

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………. 19

 

                                                            

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Ikan Patin atau nama saintifiknya Pangasius Sutchi adalah spesis ikan air tawar jenis meserba yang mendiami kawasan-kawasan sungai dan lombong-lombong.

Bentuk fizikal utamanya adalah mempunyai dua sengat di kiri kanan dan satu di belakang badan, tidak bersisik dan lembut. Saiznya boleh mencecah 1 meter panjang dan beratnya boleh menjangkau 20kg. Diet utama spesis ini adalah anak-anak ikan, buah-buahan sungai, udang dan bangkai binatang. Lele atau ikan keli, adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki “kumis” yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya.  Budidaya adalah kegiatan memelihara/mengkulturkan organisme air baik melalui pembenihan, pembesaran sekaligus pengembangbiakannya. Kolam merupakan wadah usaha budidaya / media hidup ikan yang sengaja dibuat oleh manusia untuk melangsungkan kegiatan pemeliharaan ikan baik secara tradisional maupun secara modern. Pembesaran adalah suatu usaha pemeliharaan ikan yang dimulai dari ikan lepas dederan dan berakhir sampai mencapai ukuran konsumsi atau ukuran untuk pasar. Kegiatan Pembesaran ikan tujuan utamanya adalah mengharapkan hasil produksi yang akan didapat bisa maksimal namun berbagai faktor yang sering menjadi hambatan bagi pembudidaya sehingga usaha yang dilakukan tidak sesuai dengan keinginan atau target produksi menurun.

1.2  Tujuan

  1. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dilapangan
  2. Untuk mengetahui padat penebaran yang baik terhadap pertumbuhan ikan
    1. Pengalaman kerja khususnya mengenai pengamatan laju pertumbuhan
    2. Mengetahui berapa ukuran dan beratnya selama praktek

BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi ikan Patin

Klasifikasi ikan patin

Ordo         :      Ostarioplaysi.

Subordo    :      Siluriodea.

Famili        :      Pangasidae.

Genus        :      Pangasius.

Spesies      :      Pangasius Pangasius Ham. Buch.

Ikan Patin atau nama saintifiknya Pangasius Sutchi adalah spesis ikan air tawar jenis meserba yang mendiami kawasan-kawasan sungai dan lombong-lombong.

Bentuk fizikal utamanya adalah mempunyai dua sengat di kiri kanan dan satu di belakang badan, tidak bersisik dan lembut. Saiznya boleh mencecah 1 meter panjang dan beratnya boleh menjangkau 20 kg. Diet utama spesis ini adalah anak-anak ikan, buah-buahan sungai, udang dan bangkai binatang.

Ikan ini pernah mencetuskan kontroversi di Malaysia kerana harganya yang boleh mencecah RM180.00 sekilogram terutamanya di sekitar negeri Pahang. Ikan Patin di Pahang terkenal dengan keenakan dan kelembutannya kerana mempunyai persekitaran yang sesuai sebagai habitat ikan ini. Masakan yang menjadi identiti bagi ikan ini adalah gulai masam tempoyak. Ikan patin sungai mempunyai nilai komersial yang tinggi dan ada yang diternak di kolam-kolam (patin kolam) dan di sangkar-sangkar (patin sangkar). Terdapat beberapa jenis ikan patin yang biasa dikenali antaranya ialah:

  1. Patin Kolam (Biasanya berwarna hitam)
  2. Patin Sangkar (Biasanya berwarna hitam dan putih)
  3. Patin Sungai (Biasaya berwarna cerah atau kelabu)
  4. 4.   Patin Buah
    1. 5.   Patin Mucung
    2. 6.   Patin Juara.

Menurut Djariah (2001), ikan patin (Pangasius pangasius) memerlukan sumber energi yang berasal dari makanan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Patin merupakan ikan pemakan segala (omnivora), tetapi cenderung ke arah karnivora (pemakan daging/hewani) Susanto dan Amri (2002) menjelaskan, dialam makanan utama ikan patin berupa udang renik (crustacea), insekta dan molusca. Sementara makanan pelengkap ikan patin berupa rotifera, ikan kecil dan daun – daunan yang ada diperairan. Apabila dipelihara dikolam, ikan patin tidak menolak diberi pakan, sesuai dengan penelitian Jangkaru, Z (2004)dalam Buku Budidaya Ikan di Jaring Terapung, Cholik et al (2004) yang menyatakan bahwa ikan patin (Pangasius pangasius) sangat tanggap terhadap pakan buatan.

Ikan patin yang dipelihara dikolam diberi pakan dengan kandungan protein 28-35 %, Pakan pellet 3 % per hari dan diberikan 3 kali per hari, untuk mempercepat pematangan gonad, induk ikan diberi pakan ikan rucah 10 % dari bobotnya dan diberikan 2 kali

Ikan patin sebagaimana hewan air lainnya untuk memperoleh pertumbuhan maksimal membutuhkan asupan makanan yang unsur-unsurnya (protein, karbohidart, lemak dan lain-lainnya) mencukupi hewan tersebut. Padat tebar yang tinggi akan mengganggu laju pertumbuhan meskipun kebutuhan makanan tercukupi. Hal ini disebabkan karena adanya persaingan dalam memperebutkan makanan dan ruang. (Kordik, 2005).

Pertumbuhan adalah total energi yang diubah menjadi penyusun tubuh, kebutuhan energi ini diperoleh dari makanan. Pertumbuhan juga merupakan suatu proses pertambahan bobot maupun panjang tubuh ikan, adapun perbedaan laju pertumbuhan dapat disebabkan karena adanya pengaruh padat penebaran dan persaingan di dalam mendapatkan makanan.(Hernowo, 2001)

2.2 Klasifikasi Ikan Lele

Klasifikasi

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Croudata

Kelas               : Actinopterygii

Ordo                : Siluriformes

Famili              : Clariidae

Genus              : Clarias

Lele atau ikan keli, adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki “kumis” yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya.

Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.

Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan. Walaupun biasanya lele lebih kecil daripada gurami umumnya,namun ada beberapa jenis lele yang bisa mencapai panjang 1-1,5 m dan beratnya bisa mencapai lebih dari 2 kg,contohnya lele Wels dari Amerika.

Banyak jenis lele yang merupakan ikan konsumsi yang disukai orang. Sebagian jenis lele telah dibiakkan orang, namun kebanyakan spesiesnya ditangkap dari populasi liar di alam. Lele dumbo yang populer sebagai ikan ternak, sebetulnya adalah jenis asing yang didatangkan (diintroduksi) dari Afrika.

Lele dikembangbiakkan di Indonesia untuk konsumsi dan juga untuk menjaga kualitas air yang tercemar. Seringkali lele ditaruh di tempat-tempat yang tercemar karena bisa menghilangkan kotoran-kotoran. Lele yang ditaruh di tempat-tempat yang kotor harus diberok terlebih dahulu sebelum siap untuk dikonsumsi. Diberok itu ialah maksudnya dipelihara pada air yang mengalir selama beberapa hari dengan maksud untuk membersihkannya.

Kadangkala lele juga ditaruh di sawah karena memakan hama-hama yang berada di sawah. Lele sering pula ditaruh di kolam-kolam atau tempat-tempat air tergenang lainnya untuk menanggulangi tumbuhnya jentik-jentik nyamuk.

2.3 Laju pertumbuhan ikan

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perlakuan padat penebaran yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan ikan patin. Hal ini karena ikanpatin mempunyai sifat menggerombol dan hidup di kolom air sehingga mengalami persaingan dalam mendapatkan makanan akibat padat penebaran yang tinggi (Asyari dkk, 1992).

Menurut Asmawi, 1983, menyatakan bahwa semakin besar kepadatan ikan yang kita berikan, akan semakin kecil laju pertumbuhan per individu. Dengan kepadatan rendah ikan mempunyai kemampuan memanfaatkan makanan dengan baik dibandingkan dengan kepadatan yang cukup tinggi, karena makanan merupakan faktor luar yang mempunyai peranan di dalam pertumbuhan

Kekurangan pakan akan memperlambat laju pertumbuhan sehingga dapat menyebabkan kanibalisme, sedangkan kelebihan pakan akan mencemari perairan sehingga menyebabkan stres dan menjadi lemah serta nafsu makan udang akan menurun(Khairuman, 2002).

Ruang gerak juga merupakan faktor luar yang mempengaruhi laju pertumbuhan, dengan adanya ruang gerak yang cukup luas ikan dapat bergerak dan memanfaatkan unsur hara secara maksimal (Rahmat, 2010). Pada padat penebaran yang tinggi ikan mempunyai daya saing di dalam memanfaatkan makanan, unsur hara dan ruang gerak, sehingga akan mempengaruhi laju pertumbuhan ikan tersebut.

Keragaan Pertumbuhan benih ikan patin dengan kepadatan 10 ekor/m2 merupakan yang terbaik untuk pemeliharaan ikan patin di Karamba, dan untuk dikolam kepadatan/padat tebar yang baik adalah 40 – 50 ekor/m2. Akan tetapi dalam padat penebaran ikan bisa ditambah dengan syarat kedalaman air kolam lebih dari 100 – 120 cm.(Warintek. 2002).

2.4 Pengukuaran Kualitas Air

1. Fisika

Suhu merupakan Variabel lingkungan penting untuk organisme akuatik yang mana Rentang toleransi serta suhu optimum kultur berbeda untuk setiap jenis / spesies ikan, hingga stadia pertumbuhan yang berbeda, Suhu yang ada disuatu perairan (wadah budidaya) dapat mempengaruhi aktivitas makan ikan

Peningkatan suhu dapat mengeluarkan reaksi diantaranya :

–       Peningkatan aktivitas metabolisme ikan

–       Penurunan gas (oksigen ) terlarut

–       Efek pada proses reproduksi ikan

–       Ekstrim : kematian kultur

Suhu merupakan faktor fisika yang penting dimana-mana di dunia.  Kenaikan suhu mempercepat reaksi – reaksi kimiawi, misalnya saja proses metabolisme akan naik sampai puncaknya dengan kenaikan suhu tetapi kemudian menurun lagi.  Setiap perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi banyak proses kimiawi yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan binatang, karenanya juga mempengaruhi biota secara keseluruhan. (Effendi H. 2007),menyatakan bahwa suhu air normal adalah suhu air yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan metabolisme dan berkembangbiak.

Gatot Subroto (2002), distribusi suhu secara vertikal perlu diketahui karena akan mempengaruhi distribusi mineral dalam air karena kemungkinan terjadi pembalikan lapisan air. Suhu air akan mempengaruhi juga kekentalan (visikositas) air.  Perubahan suhu air yang drastis dapat mematikan biota air karena terjadi perubahan daya angkut darah. Suhu sangat berkaitan erat dengan konsentrasi oksigen terlarut dalam air dan konsumsi oksigen hewan air.  Suhu berbanding terbalik dengan konsentrasi jenuh oksigen terlarut, tetapi berbanding lurus dengan laju konsumsi oksigen hewan air dan laju reaksi kimia dalam air.

Menurut Gatot Subroto (2002), baik secara langsung maupun tidak langsung, suhu air mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan pertumbuhan dan kehidupan larva udang. Secara umum, dalam batas – batas tertentu, kecepatan pertumbuhan larva meningkat sejalan dengan naiknya suhu air. Tetapi daya kelangsungan hidupnya menurun pada suhu tinggi.

Menurut Effendi H. (2007), pertumbuhan dan kehidupan biota air sangat dipengaruhi suhu air.  Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan di perairan tropis adalah antara   28-32 0C.  Pada kisaran tersebut konsumsi oksigen mencapai 2,2 mg/g berat tubuh/jam.  Dibawah suhu 250C, konsumsi oksigen mencapai 1,2 mg/g berat tubuh/jam.  Pada suhu 18-25 0C, ikan masih bertahan hidup, tetapi nafsu makan mulai menurun.  Suhu air 12-18 0C mulai berbahaya bagi ikan, sedangkan pada suhu dibawah 120C ikan tropis akan mati kedinginan.

2. kimia

Parameter kimia perairan yang sangat berpengaruh besar terhadap kualitas air media pemeliharaan ikan/udang seperti oksigen terlarut (DO), pH, salinitas, karbodioksida (CO2), alkalinitas, amoniak.

 

2.5 salinitas

Salinitas adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat didalam perairan. Pengertian salinitas yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Satuan untuk pengukuran salinitas adalah satuan gram per kilogram (ppt) atau promil (o/oo) dan salinitas dapat diukur dengan menggunakan Refraktometer atau salinometer. Nilai salinitas untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 0–5 ppt, perairan payau biasanya berkisar antara 6–29  ppt dan perairan laut berkisar antara 30–35 ppt. Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut

Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagaiair payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebutbrine.

Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut

Air tawar

Air payau

Air laut

Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.

Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halida—terutama klorida—adalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalam oseanografi, halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam “bagian perseribu” (parts per thousand , ppt) atau permil (‰), kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk setiap liter larutan. Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas dinyatakan sebagai ‰ dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel terhadap”Copenhagen water”, air laut buatan yang digunakan sebagai standar air laut dunia.

Selain itu juga Salinitas adalah kadar garam seluruh zat yang larut dalam 1.000 gram air laut, dengan asumsi bahwa seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, semua brom dan lod diganti dengan khlor yang setara dan semua zat organik menga1ami oksidasi sempuma (Forch et al,1902 dalam Sverdrup et al, 1942). Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki ikatan erat dengan kehidupan organisme perairan termasuk ikan, dimana secara fisiologis salinitas berkaitan erat dengan penyesuaian tekanan osmotik ikan tersebut.

Faktor – faktor yang mempengaruhi salinitas :

  1. Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
  2. Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi.
  3. Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.

Distribusi salinitas permukaan juga cenderung zonal. Air laut bersalinitas lebih tinggi terdapat di daerah lintang tengah dimana evaporasi tinggi. Air laut lebih tawar terdapat di dekat ekuator dimana air hujan mentawarkan air asin di permukaan laut, sedangkan pada daerah lintang tinggi terdapat es yang mencair akan menawarkan salinitas air permukaannya.

2.6 pH ( ukuran keasamaan dan basa perairan )

Menurut Khairuman, dkk 2005 dalam wikipedia Org.Salinitas dan pH), derajat keasaman (pH) merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen yang menunjukan suasana asam atau basa suatu perairan. Kisaran nilai pH adalah 1-14. Suatu pH dianggap normal jika bernilai 7. Faktor yang mempengaruhi pH adalah konsentrasi karbondioksida dan senyawa yang bersifat asam.

Menurut Khairuman, dkk 2005 dalam wikipedia Org.Salinitas dan pH), nilai pH di atas 10 dapat membunuh Ikan, sementara nilai pH dibawah 5 mengakibatkan pertumbuhan Ikan terhambat.  Patin sangat toleran terhadap derajat keasaman (pH) air. Ikan ini dapat bertahan hidup di perairan dengan derajat keasaman yang agak asam (pH rendah) sampai di perairan yang sangat basa (pH tinggi) dengan pH 5-9.

BAB III

METODOLOGI

3.1.Waktu Dan Tempat

Kegiatan praktikum dilakukan pada hari Senin, tanggal 7 Januari 2013 sampai dengan 14 Januari 2013 Dan praktikum ini dilakukan di Laboratorium Departement Budidaya Perikanan vedca cianjur

3.2 Alat dan Bahan

  • Alat

1. Timbangan

2. Toples

3. Aerator

  • Bahan
  1. Ikan patin dan lele
  2. Air
  3. Pelet

3.3 Prosedur Kerja

  1. Isi toples dengan air
  2. Masukan 10 ekor ikan uji coba timbang dahulu wo an to
  3. Lama pemeliharaan 7 hari. Dikasih pakan 3x (3% bobot biomasa)
  4. Simpan dang anti air 50 % volume wadah
  5. Ukur Wt dan Lt setelah 7 hari
  6. Catat ikan yang mati (ukur panjang + w)
  7. Masukan 50ekor ikan patin dan 10 ikan lele

3.4 Analisa Data

SR (Survival Rate)

= Mt   x 100 %

No

SGR (Spesific Growth Rate)

Ln Wt – Ln Wo x 100 %

Mt = jumlah yang hidup

No = jumlah awal

Dik :

  • lele mati 10 Nt = 0
  • Patin mati 2 Nt = 48

a)         SR (Survival Rate)

1. SR (patin)

SR       = Nt x 100 %

No

= 48 x 100%

50

SR = 96 %

  1. SR (lele)

SR       = Nt x 100 %

No

=  0x 100%

10

SR       = 0 %

b)         SGR (specific Growth Rate)

1. Patin

= Ln wt – Ln Wo  x 100 %

7

= Ln 2,19 – Ln 12,57

7

= 0,78 – 0,9 x100 %

7

= 0,017 x 100 %

=          17 %

2. Lele

= Ln wt – Ln Wo  x 100 %

7

= Ln 0 – Ln 3 x 100 %

7

= 0 – 1,09 x 100 %

7

= 0,15  x 100 %

=          15 %

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Hasil

  • Panjang awal ikan patin
No Ukuran No Ukuran No Ukuran No Ukuran No Ukuran
1 7,5 11 6,8 21 4,8 31 6 41 5,4
2 6 12 6,2 22 5,5 32 5,5 42 4,8
3 5,5 13 7 23 6,2 33 5 43 5,5
4 5 14 5,2 24 5,5 34 6 44 5,3
5 5,5 15 6 25 5 35 6,3 45 6
6 5,5 16 5,5 26 6 36 5 46 5,5
7 5,2 17 6,5 27 6,5 37 5,5 47 4,8
8 7 18 5,5 28 7 38 5,2 48 5,5
9 6,3 19 5,3 29 4,5 39 5,5 49 4,9
10 6 20 5 30 7 40 5,3 50 5,2
Rata-rata 2,57
  • Panjang awal ikan Lele
no Ukuran
1 7,5
2 8
3 7,5
4 8
5 8
6 6,5
7 9
8 6,5
9 8,2
10 8,2

4.1.1        Panjang setelah 7 hari

  • Patin
No Ukuran No Ukuran No Ukuran No Ukuran No Ukuran
1 7,7 11 6,9 21 4,9 31 6,1 41 5,5
2 6,3 12 6,4 22 5,7 32 5,5 42 4,9
3 5,7 13 7,5 23 6,3 33 5,8 43 5,8
4 5,5 14 5,3 24 5,6 34 6,1 44 5,3
5 5,8 15 6,1 25 5,5 35 5,6 45 6
6 5,7 16 5, 26 6,1 36 5,1 46 5,4
7 5,3 17 6,5 27 6,5 37 5,6 47 4,8
8 7,1 18 5,7 28 7,4 38 5,4 48 5,5
9 5 19 5,8 29 4,7 39 5,6 49 5,3
10 6,5 20 5,1 30 7,6 40 5,3 50 5,2

4.2  Pembahasan

Setelah ikan di masukan ke toples selama 7 hari dan di lihat perkembangannya dengan memberi pakan 2 kali sehari dan mengganti air 50 % sehari setiap ikan bertambah ukuran panjangnya dan berkurang bobot berat ikannya. dalam hari ke 2 ikan lele mati 2 ekor , ikan patin masih lengkap jumlahnya. Pada hari ke 3 ikan lele mati 1 dengan ukuran 7,6 dan ikan patin masih lenggkap. Hari ke 4 ikan lele mati 1 dengan ikan patin mati 1 dengan pajang masing-masing 7,6 dan 5,7 pada hari ke 5 ikan patin mati 1 dan ikan lele tersisa 6 ekor ikan patin yang mati berukuran 6,5 . pada hari ke 6 ikan lele mati 6 ekor dan ikan patin mati 1 ekor.

Jadi hari ke 7 hanya tersisa 0 ikan lele dan 27 ikan patin dengan panjang akhir

No Ukuran No Ukuran No Ukuran No Ukuran No Ukuran
1 7,7 11 6,9 21 4,9 31 6,1 41 5,5
2 6,3 12 6,4 22 5,7 32 5,5 42 4,9
3 5,7 13 7,5 23 6,3 33 5,8 43 5,8
4 5,5 14 5,3 24 5,6 34 6,1 44 5,3
5 5,8 15 6,1 25 5,5 35 5,6 45 6
6 5,7 16 5, 26 6,1 36 5,1 46 5,4
7 5,3 17 6,5 27 6,5 37 5,6 47 4,8
8 7,1 18 5,7 28 7,4 38 5,4 48 5,5
9 5 19 5,8 29 4,7 39 5,6 49 5,3
10 6,5 20 5,1 30 7,6 40 5,3 50 5,2

Ikan lele di sebabkan kurang baiknya pergantian air yang terlalu banyak amoniak di dasar toples tersebut dan pada hari ke 6 banyak ikan yang tidak di kasih pakan mengakibatkan banyak ikan yang mati secara mendadak. Dan ruang gerak juga terhadap ikan patin seperti pendapat Ruang gerak juga merupakan faktor luar yang mempengaruhi laju pertumbuhan, dengan adanya ruang gerak yang cukup luas ikan dapat bergerak dan memanfaatkan unsur hara secara maksimal (Rahmat, 2010). Pada padat penebaran yang tinggi ikan mempunyai daya saing di dalam memanfaatkan makanan, unsur hara dan ruang gerak, sehingga akan mempengaruhi laju pertumbuhan ikan tersebut.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1 Kesimpulan

Dalam proses budidaya ikan apapun sebaiknya harus dengan melihat kualitas air dan pemberian pakan secara intensif, dengan pergantian air secara teratur dan dengan cara selalau mengecek sisa pakan dan selalau mengecek pH dan salinitas airnya. Dalam pakan pun harus sesuai pemberian pakannya pada saat lambung ikan pada keadaan kosong sehingga tidak banyak pakan yang terbung. Dalam proses praktek kali ini klualitas air dan pemberian pakaan yang kurang baik sehingga banyak ikan lele dan ikan patin yang mati dengan jumlah ikan lele mati 10 dan ikan patin mati 3.

5.2 Saran

Harus melihat kualitas air , pergantiian air harus di perhatikan dan pemberian pakan harus sesuai dengan jam kapan ikan mau makan.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://id.wikipedia.org /2006/02/07/lele /.(Diunduh pada hari jumat, 17 Januari 2013, pukul 21.50)

http://id.wikipedia.org /2006/02/07/Patin /.(Diunduh pada hari jumat, 17 Januari 2013, pukul 21.55)

http://id.wikipedia.org /2010/02/27/salinitas/. (Diunduh pada hari jumat, 17 Januari 2013, pukul 21.57)

http://id.wikipedia.org /2010/02/27/pH/. (Diunduh pada hari jumat, 17 Januari 2013, pukul 21.57)

Effendi, H. 2007. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan  Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.258 hal.

Advertisements