Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjungdan beretika dalam berblog. mari kita budayakan berblog yang mengghargai karya orang lain.

(elfian Permana)

 

LAPORAN PRAKTIKUM
“Osmoregulasi”
Fisiologi Hewan Air

Disusun Oleh :
ELFIAN PERMANA
Budidaya Peraiaran

 

Program Pendidikan D4 Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian Vedca Cianjur
Joint
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkesempatan dalam memberikan limpahan kesehatan, rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “osmoregulasi” ini dapat diselesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun dalam hal tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan Air. Atas tersusunnya makalah ini, penulis ucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Laode M. Abdi Poto, S.St Pi, M.Si dan Ibu Leli Lisnawati, SPi dan Ibu Yuli ,SPi selaku dosen Mata Kuliah Fisiologi Hewan Air.
2. Kedua orang tua tercinta yang selalau memberikan do’a dan dukungannya`.
3. Semua pihak yang telah mendukung dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terlalu banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya harap kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi makalah ini bisa lebih baik lagi. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam dalam hal ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Cianjur, 06 Februari 2013

penulis
Elfian Permana
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I. PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Klasifikasi 3
2.2 Jenis-Jenis Strain Ikan Nila 5
2.3 Habitat Ikan Nila 7
2.4 Pengaruh Salinitas Dalam Proses Osmoregulasi 9

BAB III. METODOLOGI 14
3.1. Waktu dan Tempat 14
3.2. Alat dan Bahan 14
3.3. Prosedur percobaan 14
3.4.. Analisa data 15

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16
4.1. Hasil data 16
4.2. Pembahasan 17

BAB V. KESIMPILAN DAN SARAN 18
5.1. Kesimpulan 18
5.2. Saran 18
DAFTAR PUSTAKA 19

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup. Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal (Raharjo, 1970 dalam Bestian, 1996). Osmoregulasi pada ikan air tawar melibatkan pengambilan ion dari lingkungan untuk membatasi kehilangan ion. Air akan masuk ke tubuh ikan karena kondisi tubuhnya hipertonik, sehingga ikan banyak mengeksresikan air dan menahan ion (Boyd, 1990 dalam Arista, 2001) . Menurut Affandi dan Usman (2002), organisme air dibagi menjadi dua kategori sehubungan dengan mekanisme fisiologisnya dalam menghadapi tekanan osmotik air media,yaitu:
1. Osmonkonformer adalah organisme air yang secara osmotik labil dan mengubah-ubah tekanan osmotik cairan tubuhnya untuk menyesuaikan dengan tekanan osmotik air media hidupnya.
2. Osmoregulator adalah organisme air yang secara osmotik stabil (mantap), selalu berusaha mempertahankan cairan tubuhnya pada tekanan osmotik yang relatif konstan, tidak perlu harus sama dengan tekanan osmotik air media hidupnya.
Ikan Laut memiliki cairan tubuh lebih encer (hipoosmotik) daripada lingkungannya : cenderung kehilangan air dan mendapatkan tambahan ion-ion.
Ikan Air tawar memiliki cairan tubuh yang konsentrasinya lebih besar daripada lingkungannya (hiperosmotik) : ikan kehilangan garam dan mengambil air melalui insang.
Ikan yang bermigrasi dapat merubah sistem osmoregulasinya saat berpindah lingkungan (tawar ke laut atau sebaliknya)

Tujuan
Untuk mengetahui daya tahan tubuh ikan pada salinitas 12 ppt
Untuk pengetahuan
Untuk menerapka dalam bidang perbudidayaan
Untuk mengetahui tingkalakunya pada salinitas 12 ppt
Untuk mengetahui mortalitas dan survival rate nya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ikan Nila
Ikan nila mempunyai nama ilmiah Oreochromis niloticus dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. Ikan nila bukanlah ikan asli perairan Indonesia, melainkan ikan introduksi (ikan yang berasal dari luar Indonesia, tetapi sudah dibudidayakan di Indonesia). Bibit ikan ini didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969 dari Taiwan ke Bogor. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia(Wiryanta Wahyu, B.T.,dkk, 2010).
Sesuai dengan nama Latinnya Oreochromis niloticus berasal dari sungai Nil di Benua Afrika. Awalnya ikan ini mendiami hulu sungai Nil di Uganda. Selama bertahun-tahun, habitatnya semakin berkembang dan bermigrasi ke arah selatan (kehilir) sungai melewati danau Raft dan Tanganyika sampai ke Mesir. Dengan bantuan manusia, ikan nila sekarang sudah tersebar sampai kelima benua meskipun habitat yang disukainya adalah daerah tropis dan sub tropis. Sedangkan di wilayah beriklim dingin , ikan nila tidak dapat hidup baik (Suyanto ,S.R., 2009).
Pada awalnya ikan nila dikenal dengan nama Tilapia nilotica. Aristoteles dan rekan-rekannya memberi nama itu sekitar tahun 300 tahun SM. Mengingat Mesir kuno bukan satu-satunya negeri yang menghargai nila tetapi di kawasan Junani juga telah dikenal sebagai penggemar ikan nila sehingga diyakini telah menamakan Tilapia nilotica (ikan Nil) pada waktu tersebut (http://ikan nila.com/mengenal ikan nila dan legendanya).
Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh pemerintah Indonesia melalui Direktur Jenderal Perikanan sejak tahun 1972. Menurut klasifikasi yang terbaru (1982) nama ilmiah ikan nila adalah Oreochromis niloticus. Nama genus
Oreochromis menurut klasifikasi yang berlaku sebelumnya disebut Tilapia. Perubahan nama tersebut telah disepakati dan dipergunakan oleh para ilmuwan meskipun dikalangan awam tetap disebut Tilapia nilotica. Perubahan klasifikasi tersebut dipelopori oleh Dr.Trewavas (1980) dengan membagi genus Tilapia menjadi tiga genus berdasarkan prilaku ikan terhadap telur dan anak-anaknya yaitu:
Genus Oreochromis
Pada genus Oreochromis induk ikan betina mengerami telur di dalam rongga mulut dan mengasuh sendiri anak-anaknya.
Anggota genus ini adalah : Oreochromis hunteri, Oreochromis niloticus, Oreochromis mossambicus, Oreochromis aureus, dan Oreochromis spilurus.
Genus Sarotherodon
Pada genus Sarotherodon induk jantanlah yang mengerami telur dan mengasuh anaknya.
Yang termasuk spesies ini adalah Sarotherodon melanotheron dan Sarotherodon galilaeus.
Genus Tilapia
Ikan yang termasuk genus ini memijah dan menaruh telur pada suatu tempat atau benda (substrat). Induk jantan dan betina bersama-sama atau bergantian menjaga telur dan anak-anaknya.
Contoh spesies ini adalah Tilapia sparmanii, Tilapia rendalli, dan Tilapia zillii.
Klasifikasi lengkap yang kini dianut oleh para ilmuwan adalah yang telah dirumuskan oleh Dr.Trewavas sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii Universitas Sumatera Utara
Ordo : Percomorphi
Kerajaan : Animalia Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii Sub-ordo : Percoidea
Ordo : Percomorphi Famili : Cichlidae

2.2 Jenis-Jenis Strain Ikan Nila
Semenjak pertama kali ikan nila datang pada tahun 1969 ke Indonesia, sudah banyak mengalami perkembangan, khususnya dalam perbaikan genetis yang dilakukan oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BPPAT), Balai Benih Induk (BBI), Balai Benih Air Tawar (BBAT), dan lembaga penelitian lainnya. Selain melakukan pemuliaan genetis, pemerintah juga mendatangkan strain baru yang berasal dari Filipina, Taiwan, dan Thailand. Dengan terciptanya strain baru ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas dan dipasaran tidak kalah bersaing khususnya pasar ekspor.
Berikut beberapa strain ikan nila yang cukup dikenal dan digemari, baik oleh petani maupun konsumen.
Nila Gift (Genetic Improvement of Farmed Tilapias)
Dikembangkan oleh International Center for Living Aquatic Research Management (ICLARM) pada tahun 1987 dengan dukungan dari Asian Development Bank dan Unites Nations Development Programe (UNDP). Strain ini merupakan hasil seleksi dan persilangan ikan nila dari Kenya, Israel, Senegal, Ghana, Singapura, Thailand, Mesir, dan Taiwan.
Nila Best (Bogor Enhanced Strain Tilapias)
Merupakan salah satu ikan unggulan yang dihasilkan pada tahun 2008. Mempunyai fisik yang mirip dengan nila gift. Merupakan hasil seleksi yang menggunakan populasi dasar yang salah satunya bersumber dari ikan nila gift generasi keenam. Tepatnya nila best lahir dari seleksi empat
strain ikan nila yaitu nila lokal, nila danau tempeh, nila gift generasi ketiga, dan nila gift generasi keenam (generasi terakhir).
Nila Gesit (Genetically Supermale Indonesian Tilapias)
Yang berarti ikan nila yang secara genetis diarahkan menjadi jantan super. Ikan ini dihasilkan di BBPBAT Sukabumi hasil kerja sama dengan IPB dan BBPBAT. Rintisannya sudah dimulai sejak 2001 dan dirilis tahun 2007. Sumber gennya berasal dari nila Gift G3.
Nila Jica (Japan for International Cooperation Agency)
Jica adalah sebuah lembaga donor dari Jepang. Tahun 2002, Jica bekerja sama dengan BBAT Jambi melakukan rekayasa genetis strain ikan nila hasil penelitian Kagoshima Fisheries Research Station , Jepang di Jambi. Tahun 2004 dihasilkan ikan nila unggul yang dinamakan strain Jica. Sebagian masyarakat Jambi menyebut nila strain Jica dengan nama nila kagoshima.

Nila Nifi (National Inland Fishery Institute)
Disebut juga nila Bangkok. Nifi pertama kali didatangkan dari Thailand pada tahun 1989. Dikenal juga sebagai nila merah atau nirah. Ada juga menyebutnya mujarah (mujair merah) atau kakap merapi. Pertumbuhannya lebih cepat dari ikan nila lokal. Keunggulan lainnya mampu menghasilkan keturunan yang dominan jantan. Ikan ini kemungkinan merupakan hasil persilangan antara mujair dengan nila O.aureus, O.zilii, O.hornorum.
Nila Nirwana (Nila Ras Wanayasa)
Berasal dari Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Merupakan hasil pemuliaan genetis dari nila gift dan nila get dari Filipina yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa, di Purwakarta, Jawa Barat dan FPK, Institut Pertanian Bogor. Dikenalkan kepada masyarakat tahun 2006
Universitas Sumatera Utara
akhir. Gennya berasal dari nila gift dan nila get (Genetically Enhanced of Tilapias).
Nila hitam
Merupakan strain ikan nila yang pertama kali didatangkan dari Taiwan. Karena begitu akrabnya masyarakat dengan ikan nila ini sehingga tidak heran jika ada yang menyebutnya dengan ikan nila lokal. Memiliki keunggulan mudah berkembang biak, pertumbuhan badannya cepat, serta pemakan plankton dan tanaman air lunak yang tumbuh di dalam kolam.
Nila Cangkringan
Merupakan nila yang berasal dari Cangkringan. Ikan nila merah ini merupakan hasil pemuliaan genetis dari strain nifi, citralada, Singapura, dan Filipina oleh BAT atau BBI Cangkringan. Strain ini sebenarnya belum resmi dirilis ke masyarakat.
Nila Larasati
Dikenal juga dengan nila janti. Ikan nila strain ini merupakan hasil pemuliaan BBI Janti di Klaten. Memiliki keseragaman warna sampai 90% warna merah(Wiryanta Bernard T.W, dkk.,2010).
Jenis nila unggul yang direkomendasikan sebagai bibit untuk pembesaran secara cepat ( 2,5 bulan panen) adalah nila merah hasil silangan (hibrida), nila Gesit dan nila Best(Carman Odang, dkk., 2010).
2.3 Habitat Ikan Nila
Habitat artinya lingkungan hidup tertentu sebagai tempat tumbuhan atau hewan hidup dan berkembang biak(Suyanto, S.R., 2009).
Ikan nila memiliki eurihaline yang menyebabkan ikan nila dapat hidup di dataran rendah yang berair tawar hingga perairan bersalinitas, sehingga pembudidayaannya sangat mudah.
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas dapat juga mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Salinitas air berdasarkan persentase garam dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut.
Tabel 2.1 Salinitas Air
Salinitas Air Garam (%)
Air tawar 5
Salinitas Air Garam (%)

Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, disebut brine.
Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30% (Goetz, P.W., 1986).
Penyelidikan komposisi air laut pertama sekali diselidiki oleh seorang ahli oseanografi W.Dittmar pada tahun 1873 dengan menggunakan contoh air laut sebanyak 77 sampel dari beberapa perairan di Samudera Pasifik, Hindia, dan Atlantik melalui ekspedisi yang dilakukan oleh H.M.S.Challenger hasilnya adalah seperti yang tertera pada tabel 2.2 berikut ini.
Tabel 2.2 Kimia Utama Yang Terkandung Di Air Laut
No Ion Nilai (%)
1. Cl- 55,04
2. Na+ 30,61
3. SO42- 7,68
4. Mg2+ 3,69
5. Ca2+ 1,16
6. K+ 1,10
7. HCO3 – 0,41
8. Br – 0,19
9. H3BO3 0,07
10. Sr 2+ 0,04
12. F – 0,00
13. CO3 2- 0,00

Hasil kajian terakhir kandungan kimia yang ada di laut dikeluarkan oleh The Open University dan Buku Marine Chemistry, komposisi kimia yang terlarut di dalam air laut terdapat sebanyak 81 unsur (dapat dilihat pada lampiran pada L-10).
Nila dapat hidup di lingkungan air tawar, air payau, dan air asin. Kadar garam air yang disukai antara 0 – 35 permil (Watanabe, 1989).
Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan proses adaptasi yang bertahap. Kadar garam air dinaikkan sedikit demi sedikit. Pemindahan ikan nila secara mendadak ke dalam air yang kadar garamnya sangat berbeda dapat mengakibatkan stres dan kematian pada ikan(Suyanto S.R., 2009).
Ikan nila bisa hidup pada kadar garam sampai 35%, namun ikan sudah tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pada kadar garam yang tinggi ikan membutuhkan energi yang minim untuk osmoregulasi sehingga energi yang digunakan untuk pertumbuhan berkurang (Tim Karya Tani Mandiri, 2009).
Ikan nila yang masih kecil lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dibanding dengan ikan yang sudah besar. Nila dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan perairan dengan alkalinitas rendah atau netral. Nilai pH air tempat hidup ikan nila berkisar antara 6 – 8,5. Namun pertumbuhan optimalnya terjadi pada pH 7 – 8. Batas pH yang mematikan adalah 11(Carman Odang, dkk.,2010).
Suhu atau temperatur air sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhan organisme serta mempengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme perairan. Suhu kolam atau perairan yang masih bisa ditolirir ikan nila adalah 15–37oC. Suhu optimum untuk pertumbuhan nila adalah 25-30oC. Oleh karena itu, ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sedangkan untuk pemijahan, suhu ideal untuk bisa menghasilkan telur dan larva adalah 22–37o C (Wiryanta, B.T.W., dkk.,2010)
2.4 Pengaruh Salinitas Dalam Proses Osmoregulasi
Yang dimaksud dengan osmoregulasi adalah proses pengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Sedangkan pengertian osmoregulasi bagi ikan adalah merupakan upaya ikan untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara di dalam tubuh dan lingkungan melalui mekanisme pengaturan tekanan osmotik.
Ginjal akan memompakan keluar kelebihan air tersebut sebagai air seni. Ginjal mempunyai glomeruli dalam jumlah yang banyak dengan diameter yang besar. Hal
ini bertujuan untuk menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar dan sekaligus memompa air seni sebanyak-banyaknya.
Air seni yang keluar dari tubuh ikan sangat encer dan mengandung sejumlah kecil senyawa nitrogen, seperti: asam urat, creatine, creatinine, dan amonia.
Ikan laut hidup pada lingkungan yang hipertonik terhadap jaringan dan cairan tubuhnya, sehingga cenderung kehilangan air melalui kulit dan insang dan kemasukan garam-garam. Untuk mengatasi kehilangan air, ikan “minum air laut sebanyak-banyaknya”. Sehingga kandungan garam akan meningkat dalam cairan tubuh. Padahal dehidrasi dapat dicegah dengan jalan proses ini dan kelebihan garam ini harus dihilangkan. Karena ikan laut dipaksa oleh kondisi osmotik untuk mempertahankan air, volume air seni lebih sedikit dibandingkan dengan ikan air tawar. Tubuli ginjal mampu berfungsi sebagai penahan air. Jumlah glomeruli ikan laut cenderung lebih sedikit dan bentuknya lebih kecil dari pada ikan air tawar.
Untuk organisme akuatik, proses tersebut digunakan sebagai langkah untuk menyeimbangkan tekanan osmose antara substansi dalam tubuhnya dengan lingkungan melalui sel yang permeabel. Dengan demikian, semakin jauh perbedaan tekanan osmotik antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energi metabolisme yang dibutuhkan untuk melakukan osmoregulasi sebagai upaya adaptasi, hingga batas toleransi yang dimilikinya.
Regulasi ion dan air pada ikan terjadi hipertonik, hipotonik atau isotonik tergantung pada perbedaan (lebih tinggi, lebih rendah atau sama) konsentrasi cairan tubuh dengan konsentrasi media. Perbedaan ini dapat dijadikan sebagai strategi dalam menangani komposisi cairan ekstrasellular dalam tubuh ikan.
Untuk ikan-ikan potadrom yang bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya dalam proses osmoregulasi, air bergerak ke dalam tubuh dan ion-ion keluar ke lingkungannya dengan cara difusi. Keseimbangan cairan tubuhnya dapat terjadi dengan cara meminum sedikit air atau bahkan tidak minum sama sekali. Kelebihan air dalam tubuhnya dapat dikurangi dengan cara membuangnya dalam bentuk urin.
Untuk ikan-ikan oseanodrom yang bersifat hipoosmotik terhadap lingkungannya, air mengalir secara osmose dari dalam tubuhnya melalui ginjal, insang, dan kulit ke lingkungannya, sedangkan ion-ion masuk ke dalam tubuhnya secara difusi.
Sedangkan untuk ikan-ikan eurihalin, memiliki kemampuan yang cepat menyeimbangkan tekanan osmotik dalam tubuhnya dengan media (isoosmotik), namun karena kondisi lingkungan perairan tidak selalu tetap, maka proses osmoregulasi seperti halnya pada kedua jenis ikan di atas tetap terjadi(Fujaya, Y.,2004 dan Marshall, W.S., et al.,2006).
Perubahan kadar salinitas mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, sehingga ikan melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik internalnya agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat bekerja secara normal kembali. Apabila salinitas semakin tinggi ikan berupaya terus agar kondisi homeostasis dalam tubuhnya tercapai hingga pada batas toleransi yang dimilikinya. Kerja osmotik memerlukan energi yang lebih tinggi pula. Hal tersebut juga berpengaruh kepada waktu kenyang (satiation time) dari ikan tersebut (Conides, A.J., et al.,2004).
Proses osmoregulasi juga menghasilkan produk buangan seperti feses dan amoniak, sehingga media pemeliharaan akan berwarna keruh sebagai akibat banyaknya feses yang dikeluarkan ikan. Dampak dari ekskresi nitrogen tersebut akan mempengaruhi kehidupan ikan di dalamnya yaitu terhadap kondisi ambient, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pertahanan tubuhnya. Setelah melewati batas
toleransi, maka ikan tersebut mengalami kematian. Mengingat tidak semua ikan mengalami kematian, maka dapat dipastikan bahwa daya toleransi pada populasi ikan dalam akuarium berbeda-beda. Hal ini diduga karena perbedaan kondisi tubuh saat sebelum dimasukkan dalam media praktik termasuk intensitas parasit, tingkat stress dan lain-lain.
Tingkat stress juga berbeda-beda yang dialami oleh benih dalam akuarium, sebagai akibat dari perlakuan. Kajian yang lebih mendalam, dapat ditelusuri dengan kandungan kortisol. Banyak hal berkenaan dengan kortisol selama proses metabolisme, misalnya saat starvasi (puasa), osmoregulasi, pengerahan simpanan energi untuk migrasi, proses pematangan gonad, pemijahan dan selama stres yang dialami oleh ikan itu sendiri(Van Ginneken.V.,et al.,2006).
Aktivitas osmoregulasi dapat dipengaruhi oleh stadia ikan atau krustase dalam hubungannya dengan salinitas. Penelitian pada stadia juvenile dan dewasa krustase, regulasi ion Na/K-ATP menunjukkan hal-hal yang berbeda-beda jika diamati dengan aktivitas enzim Na/K-ATPase. Pada Artemia salina dan A. franciscana aktivitas enzim, tersebut meningkat sejalan dengan perkembangannya sejak setelah menetas hingga tahap mulai berenang bebas. Pada udang galah, hal tersebut juga berlangsung demikian. Namun pada stadia dewasa, aktivitas Na/K-ATPase pada udang galah tidak berbeda nyata setelah diperlakukan pada salinitas yang berbeda(N.Wilder,M.,et al., 2001, Kordi K, M.G.H.,2007).
Kemampuan adaptasi ikan, juga dapat diketahui melalui penelitian pada juvenile fugu Takifugu rubripes terhadap lingkungan bersalinitas rendah. Ikan dipindahkan dari lingkungan air laut 100% ke dalam media air tawar 25, 50, 75, dan 100% air laut dan kemudian didata mortalitasnya selama 3 hari. Tidak ada kematian ikan dalam media baru bersalinitas 25 – 100% air laut dan semua ikan mati dalam media 100% air tawar. Nampaknya, pada ikan yang dipindahkan ke media 25 – 100% osmolalitas darahnya tetap dijaga pada kisaran fisiologis yang normal. Penelitian Universitas Sumatera Utara
dilanjutkan dengan memindahkan ikan dari lingkungan 100% air laut ke media air tawar, 1, 5, 10, 15, dan 25% air laut. Semua ikan hidup dalam media 5 – 25%, tetapi mati dalam media air tawar dan 1% air laut. Ikan yang hidup pada media 25% air laut kemudian dipindahkan kembali ke media air tawar 1 dan 5% air laut dan menunjukkan bahwa osmolalitas darahnya menurun hingga mendekati level subletal, yakni sekitar 300 mOsm/kg.H2O. Nampaknya preaklimatisasi dalam 25% selama 7 hari tidak terlalu berpengaruh terhadap selang kemampuan survivalnya. Meskipun kelangsungan hidup dan osmolalitas darahnya sedikit meningkat dengan cara preaklimatisasi dalam 25%, osmolalitas darahnya mengalami penurunan setelah dipindahkan ke dalam media bersalinitas kurang dari 10%. Penemuan ini mengindikasikan bahwa fugu dapat beradaptasi pada lingkungan hipoosmotik karena adanya kemampuan hiperosmoregulasi, namun sel-sel klorid yang dimilikinya berkurang dalam mengabsorpsi ion-ion pada lingkungan hipoosmotik(Lee, K.M., et al.,2005).
Untuk air tawar , organ yang terlibat dalam osmoregulasi antara lain insang, usus dan ginjal. Sel-sel yang berperan dalam organ insang untuk proses tersebut adalah mitokondria-rich dan role of pavement(Marshall,W.S., et al, 2006).
Struktur insang memiliki hubungan dengan kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas. Hal ini dapat ditunjukkan dengan histology dari struktur insang Caprella (Amphipoda: caprellidea) yang dikumpulkan dari komunitas Sargassum di timur laut Jepang dan diamati di bawah mikroskop elektron. Epitel sel insang dari ikan-ikan tersebut terdiri dari perkembangan apical infolding system (AIS) dan basolateral infolding system (BIS) yang dihubungkan dengan mitokondria. Percobaan tentang toleransi terhadap salinitas dari 4 spesies Caprella mengindikasikan bahwa konsentrasi median letalnya pada 20oC berkisar antara 12,97- 18,84 practical salinity unit (p.s.u) dengan kelangsungan hidup 80% pada kondisi salinitas di atas 25,37 p.s.u bahkan selama 5 hari. Karakteristik insang dan lebarnya rentang toleransi salinitas
pada Caprella spp, menunjukkan bahwa Caprella spp yang menghuni komunitas Sargassum merupakan organisme yang eurihalin (Takeuchi,I.,et al.,2003).

BAB III
METODOLOGI
Waktu Dan Tempat

Pelaksanaan praktikum tentang Osmoregulasi ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada hari Senin tanggal 28 Januari 2013 sampai hari kamis 31 Januari 2013, jam 13:30 sampai selesai di Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Departemen Agribisnis Perikanan, PPPPTK Pertanian Cianjur, Jawa Barat.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalahToples, timbangan digital, aerator dan alat tulis menulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah garam dapur atau NaCl, air ,dan ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam keadaan hidup.

Prosedur Kerja
Siapkan media dengan salinitas berbeda (3,6,9,12,ppt)
Timbang ikan 5 ekor ikan sampel,masukan ke dalam media
Timbang kembali ikan uji setelah tiga hari
Hitung perubahan bobot ikan
Hitung juga ikan yang hidup untunk menghitung SR

3.3 Analisa Data
Para Meter yang di Amati
SR (Survival Rate)

SGR

BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

No Hasil Jumlah Berat
1 Ikan nila awal 5 124,60
2 Ikan nila akhir 4 145,65

Berat awal ikan = 124,60

Bobot akhir (ikan hidup) = (145,65 gr)/5

= 29,13

SR = 4/5 ×100 %

= 80 %

MR = ((No-Nt) )/No ×100 %

= ((5-4))/5 ×100 %

= 20 %

4.2 Pembahasan

Hasil dari pengamatan osmoregulasi ikan nila 1 ikan nila mati akibat keluar dari wadah toples . 4 ikan nila mampu berhasil bertahan dalam salinitas 12 ppt disini ikan nila mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau tubuh ikan nila itu sendiri. Setiap ikan mempunyai tekanan osmotic yang berbeda seperti pendapa Affandi dan Usman (2002), ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal. halnya ikan nila dengan tekanan osmotik salaninitas 12 ppt ikan nila pun masih bisa bertahan sehingga ikan nila mampu juga hidup di air payau . ikan nila ini ikan air tawar yang memiliki cairan tubuh yang konsentrasinya lebih besar daripada lingkungannya (hiperosmotik) ikan kehilangan garam dan mengambil air melalui insang pada saat ikan nila di berikan air yang salinitasnya 12ppt dia akan beradaptasi dan bermigrasi dapat merubah sistem osmoregulasinya saat berpindah lingkungan (tawar ke laut) sehingga terlihat ikan nila lebih cepat pergerakannya membuka katup ingsang.
Dalam tubuh ikan nila Hiperosmotik terhadap lingkungan Air cenderung masuk dari lingkungan, kelebihan air dibuang melalui urine yang encer. Dan jika bertukar menjadi air payau / 12 ppt maka beradaptasi dengan mengubah osmoregulasinya menjadi tawar ke laut Hipoosmotik terhadap lingkungan Air cenderung keluar dari tubuhnya terutama melalui insang
Meminum air, tetapi sekaligus menambah garam dalam tubuhnya oleh sebab itu garam tersebut harus dibuang melalui insang melalui transport aktif.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Setelah pengamatan ikan nila cederung lebih suka diam tidak banyak bergerak dikarnakan salinitas 12 ppt yang menyebabkan ikan nila harus beadaptasi dalam tubuhnya ikan air tawar dan 4 ikan nila pun mampu bertahan . Bisa di simpulkan bahwa ikan nila bisa hidup 0-12 ppt mungkin juga ikan nila hidup di air payau jika di adaptasi secara tahap bertahap dengan menambahkan 1 ppt setiap kenaikan ppt. dengan jika ia udah beradaptasi di 1ppt naikan lagi 1 ppt dan seterusnya.

5.2 Saran
Sebaiknya toples di tutup tetapi biarkan ada udara masuk agar tidak ada ikan nila yang loncar ke luar pada saat berdaptasi terkadang ikan nila loncat dikarnakan tidak tahannya dalam tubuhnya yang terlalu banyak masuk cairan pada (garam) sehingga pada saat itu ikan stress dan meloncat ke luar.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber : http://rudy-dblues.blogspot.com/2010/01/tingkatan-salinitas-pada-air… (Diunduh pada hari rabu, 06 januari, pukul 19.20)
Sumber : Sverdrup dkk, 1962. The Ocean3. (Diunduh pada hari rabu, 06 januari, pukul 19.20)
(http://rudy-dblues.blogspot.com/2010/01/tingkatan-salinitas-pada-air…). (Diunduh pada hari rabu, 06 januari, pukul 19.20)
(http://anaklautundip.blogspot.com/2010/04/osmoregulasi-ikan.html). (Diunduh pada hari rabu, 06 januari, pukul 19.00)
http://id.wikipedia.org /2005/02/24/nila/.(Diunduh pada hari jumat, 15 desember 2012, pukul 22.03)