Awal mula niatan menulis ini, saya terinspirasi sekurangnya oleh beberapa hal berikut ini. Pertama, teman laki-laki saya yang telah berulang kali berpacaran dan berhasil “memakai” pasangannya. Kedua, banyak bertebaran status-status di facebook, yang bernada galau dan mendambakan jodohnya. Ketiga, banyak di antara teman perempuan muda saya, yang kerap diputus cinta oleh pacarnya, dengan alasan yang beragam dan di saat yang sama, ia sakit hati lantaran telah “dicolek” atau “dipakai” oleh pacarnya. Keempat, banyak menemukan kasus perempuan yang “mengemis” kepada pacarnya agar tidak diputus. Kelima, akibat dari pacaran yang kebablasan, berakibat hamil di luar nikah. Keenam, tak jarang ada pihak yang mengharamkan pacaran. Ketujuh, seseorang yang pacaran secara sembunyi-sembunyi karena takut dicemooh sebagai sosok yang tidak islami. Kedelapan, seseorang yang kuat atas komitmennya, untuk tidak berpacaran sebelum ia menikah, lantaran takut terjerumus, dan di saat yang sama bukan lantaran ia tidak “laku”. Agak banyak memang inspirasinya. Nah, saya rasa jika di antara khalayak ada yang merasa demikian, membaca tulisan ini menjadi alternatif yang—semoga—baik.

Di awal, saya ingin membenarkan sekaligus membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang dianugerahi rasa cinta. Sebab, cinta itu adalah fitrah. Oleh karena ia fitrah, maka rasa cinta pasti akan menghinggapi siapapun itu orangnya. Bahkan para ulama pun (terutama ulama sufi) bisa dibuat mabuk kepayang lantaran rasa cintanya yang begitu akut, meskipun cintanya berlabuh kepada Allah. Namun demikian, yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana kita dapat mengelola rasa cinta itu dengan baik dan terarah. Jelas, hal ini menjadi penting agar cinta yang bersemai di dalam diri kita tidak malah membawa petaka. Maka di sini, saya akan menoba menggali khazanah tentang sejauh mana Islam membicarakan soal cinta dan jodoh.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jodoh diartikan sebagai: orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; dan imbangan. Dalam al-Qur’an disebutkan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari diri kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar-Rum [30] : 21). Dalam ayat ini, secara eksplisit Allah Swt hanya menciptakan manusia berpasang-pasangan dengan; memperkenankan laki-laki mencari jodoh perempuannya atau sebaliknya. Karenanya, akan sulit dicari tentang dalil yang secara jelas menunjukkan perkenan Allah tentang pacaran.

Saya sendiri merasa kesulitan untuk kemudian mendefinisikan arti pacaran. Hal ini disebabkan, bisa jadi karena orang akan mendefinisikan pacaran dengan beragam sesuai kemauan dan kepentingannya masing-masing. Meskipun begitu, saya akan mencoba menginventarisir indikasi-indikasi yang kemudian bisa mengantarkan seseorang dianggap pacaran. Menurut saya, pacaran dengan definisnya yang sederhana, yakni, jalinan (hubungan) antara laki-laki dan perempuan atas kehendak suka sama suka dan cinta, untuk mengikatkan satu sama lain tentang arti kesetiaan dan kasih sayang. Lepas dari itu, khalayak boleh saja kurang setuju atau tidak sekali terhadap ikhtiar saya dalam mendefinisikan arti pacaran.

Dan sungguh, di saat yang sama, saya sangat kesulitan mendapatkan satu jalinan cinta (pacaran) yang dilakukan secara sehat dan sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, pacaran yang tidak dngan sering smsan, tidak sering telpon-telponan, tidak pegang-pegangan tangan, tidak sering bertemu, tidak sering jalan berdua, tidak sering mojok berdua, dan lain sebagainya. Karena yang ada adalah sebaliknya; atau bahkan hingga melakukan hal yang tidak dibenarkan Islam; zina (seks bebas). Naudzubillah.

Saya sendiri memang—sama sekali—belum pernah berpacaran, akan tetapi setidaknya saya bisa mengetahuinya lewat cerita-cerita seorang tentang pengalaman seseorang ketika ia berpacaran, atau kadang saya melihat dengan kepala mata sendiri, satu adegan, dimana dua sejoli sedang bercengkarama dimabuk asmara, penuh tabur tawa dan canda, bahkan—yang paling ironis—beberapa kali melihat sepasang kekasih muda bermesraan, berpelukan, bahkan (maaf) berciuman di warung internet (warnet) tanpa malu sedikitpun. Sungguh, hal demikian seperti sudah membudaya. Budaya yang tidak sehat dan membahayakan masa depan generasi muda. Padahal, memandang perempuan (atau sebaliknya) dengan syahwat saja tidak diperkenankan. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS An Nuur, [24] :30). Dan juga “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa, [17]: 32)

Di luar perilaku biadab di atas, ada juga orang yang—seakan-akan—sulit mendapatkan jodoh, lantaran jodoh yang ditunggu-tunggunya tak kunjung datang. Ia sudah berdo’a dan beriktiar sekuat tenaga untuk mengelola rasa cinta dan hawa nafsu agar baik dan terarah. Ia sudah menghindari untuk tidak bergaul dengan sembarang teman. Ia tidak mengikuti budaya pacaran tidak sehat. Ia sudah mencari saran ke banyak orang. Namun satu kesimpulan, sang jodoh belum juga datang menghampirinya. Mendapati itu, ketahuilah jika hal ini lebih baik ketimbang kasus di atas, jika kita bandingkan. Dan, tetaplah bersabar, karena Allah bersama orang yang bersabar.

Maka muncullah beberapa pertanyaan; Bagaimana cara mencari jodoh yang sesuai dengan tuntunan Islam? Bagaimana cara mengetahui jodoh yang baik untuk kita? Bagaimana cara agar kita tidak terjebak pada zina dan seks bebas? Bagaimana cara kita agar dapat mengelola cinta dan hawa nafsu, sehingga baik dan terarah? Dan mungkin masih banyak pertanyaan lainnya yang serupa.

Sahabat-sahabat saya yang terpuji akhlak dan hatinya. Ingat bahwa jodoh ada ditangan Allah Swt, meskipun memang bukan untuk menjadikan kita berpangku tangan dan tidak berikhtiar untuk menjemputnya, sebab mana mungkin jodoh kita itu akan berada digenggaman tangan, tanpa diikhtiarkan oleh kita. Karenannya, di bawah ini, ada beberapa ikhtiar yang bisa dilakukan di antaranya sebagai berikut; Pertama, berdo’a. sebagaimana tertera dalam (QS.Al-Furqon [25]: 74): “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. Ya, teruslah berdo’a tanpa lelah. Boleh jadi keluhanmu atas do’a dan ikhtiar yang hingga sekarang belum mewujud, bukan hal mustahil jika jodoh itu akan datang besok hari.

Kedua, teruslah berbuat baik. Beberapa di antaranya, bermurah senyum, bertutur lembut, bersedekah, menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua, dan masih banyak lagi. Ingat karena, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur [24] : 26).

Ketiga, meng-istiqamah-kan shalat istikharah. Dan, istiqamah-kan pula do’anya: ““Ya Allah, dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu pilihan terbaik bagiku. Dengan takdir-Mu, aku memohon kepada-Mu kemampuan dan kekuatan. Aku juga memohon anugerah-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau yang Mahakuasa, dan aku tidaklah berdaya. Engkau yang Mahatahu, semetara aku tidak tahu. Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau telah mengetahui bahwa perkara ini baik bagi diriku, agamaku, kehidupanku, dan pada akhir urusan di dunia maupun di akhirat, takdirkanlah perkara ini untukku. Mudahkanlah, kemudian berkahilah diriku dalam perkara ini. Jika Engkau telah mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku, agamaku, kehidupanku, dan pada akhir urusanku di dunia maupun di akhirat, jauhkanlah perkara ini dariku. Takdirkanlah bagiku sesuatu yang baik, di mana pun berada, kemudian ridlailah diriku”.

Keempat, mintalah saran dan pendapat dari orang tua. Karena, ridhanya Allah bergantung pada ridhanya orang tua, murkanya Allah bergantung pada murkanya orang tua. Jangan sampai kita berjodoh dan menikah dengan orang yang keliru, apalagi tidak direstui oleh orang tua. Maka, sekali lagi, menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua harus menjadi prioritas.

Kelimat, pilihlah jodoh dengan kriteria; agama, nasab, finansial, dan parasnya. Seseorang yang dengan kriteria seperti ini memang banyak, namun begitu kita tidak boleh terpedaya oleh hal itu semua. Jadi, cukuplah pilih agamanya, jika nasab, finansial, dan parasnya terlalu atau malah menyulitkan. Dan yang sangat penting, selain dari keempat kriteria itu adalah “orang yang mau menerimamu apa adanya”. Jika, sudah yakin, bismillah, jalani dengan penuh tawakal. “Sesungguhnya Allah Swt tidak melihat pada bentuk – bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu, tapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian.”, begitu kata hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Satu hal yang juga tidak kalah penting adalah tentang beberapa tanda bahwa seseorang tersebut adalah jodoh yang terbaik bagi kita. Adalah—wallahu ‘alam—mungkin ini yang disebut dengan pacaran yang sehat dan sesuai dengan tuntunan Islam. Pertama, jika kita melihat parasnya dalam sekejap, pandangan mata seakan ingin terus tertunduk malu, lantaran cahaya tulusnya begitu mencerahkan pikir dan hati. Kedua, rasa takut akan dosa dan maksiat seakan menjadi pengingat tersendiri, jika kita bersamanya. Ketiga, tak ada istilah pegang-pegangan tangan, jalan berdua, mojok berdua, (maaf) berciuman, apalagi berbuat zina. Keempat, setiap tutur dan akhlak lainnya mengandung magma motivasi yang dahsyat, yang dapat mengantarkan keduanya semakin mendekatkan diri kepada Allah, agar terlindungi dari segala hal yang menjerumuskan kepada keburukan. Insya Allah ini beberapa hal ini adalah tanda jika dia adalah jodoh yang baik untukmu.

Kemudian soal jodoh laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik ataupun sebaliknya, selain karena hal ini logis, juga karena hal ini telah digariskan oleh al-Qur’an tuntunannya. Dengan ketentuan semacam ini, terkadang hal ini menyulut emosi bagi sebagian orang, dengan nada mempertanyakan; “Mengapa jodoh laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik? Lalu, bagaimana nasib orang yang buruk? Apakah tidak sebaiknya orang baik itu berjodoh dengan yang buruk, agar keburukannya bisa dirubah menjadi kebaikan?. Tidak mudah memang menjawab serentetan pertanyaan ini. Dan, wallahu ‘alam, hanya Allah yang tahu secara pasti jawabannya. Hanya saja untuk sekedar menjawab, saya punya pandangan bahwa bukan satu hal yang mustahil bagi Allah jika orang yang baik berjodoh dengan orang buruk. Atau bisa jadi, seseorang yang tadinya buruk, tetapi setelah ia bertemu dengan jodohnya ia sadar dan diberikan hidayah oleh Allah untuk menjadi baik. Bisa juga, hal ini merupakan pengingat kepada kita, bagi yang masih buruk akhlaknya, untuk bisa memperbaiki keburukannya itu dan merubahnya melalui taubat dengan sungguh-sungguh dan kebaikan, sebelum beranjak kepada pernikahan, atau juga mumpung ruh kita belum dicabut dengan kematian.

Demikian, mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa menginspirasi dan menjawab kegalauan sahabat-sahabat muda yang kerap dirundung rasa khawatir untuk tidak kebagian jodoh. Atau sebagai bentuk pertaubatan bagi siapa saja yang telah melakukan hal yang bertentangan dengan tuntunan Islam, agar kembali ke jalan yang diridhai Allah. Semoga sahabat-sahabat semua dipertemukan dengan jodoh terbaiknya masing-masing.

Cirebon, 120812.

Salam penuh rindu,

Mamang M. Haerudin
sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/14/islam-bicara-soal-jodoh-485818.html