Ketika masa-masa sekolah di SD sampai SMA, aku bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, walaupun aku tahu bahwa orangtua tidaklah sanggup untuk menyekolahkanku di kedokteran karena masalah keterbatasan ekonomi. Untuk mencari sesuap nasi setiap hari saja susah. Tapi aku tetap bersemangat untuk sekolah sehingga aku bisa menyelesaikan bangku SMA. Meskipun banyak rintangan yang kuhadapi, bagiku tidak menjadi masalah. Yang penting cita-citaku bisa tercapai untuk menjadi seorang dokter nanti.

Setelah itu, aku berencana untuk melanjutkan studi di kedokteran. Orangtua mendukung, tapi apalah daya, biaya tidak sanggup untuk melanjutkan studi karena masalah keuangan tersebut. Gagallah sudah cita-cita yang kuimpikan untuk menjadi seorang dokter dari kecil. Semangatku untuk melanjutkan studi tidak lagi membara, karena bagiku tidak ada gunanya bersekolah, karena cita-cita yang kuimpikan sedari kecil tidak tercapai.

Mengapa aku bercita-cita ingin menjadi seorang dokter? Agar aku bisa menyembuhkan penyakit orangtuaku dan juga bisa mebantu orang lain jika sakit.

Karena cita-cita ingin menjadi seorang dokter tidak tercapai, mulai dari sanalah aku tidak mau mendengarkan nasihat orangtua. Bahkan aku sering tidak dekat kepada Tuhan. Dan aku menjalani hidupku sendiri tanpa mendengarkan nasihat dari orangtua.

Gara-gara aku tidak mendengarkan nasihat dari orangtua dan jarang berdoa, aku menderita terkena penyakit. Dari sanalah aku mulai sadar bahwa apa yang aku perbuat selama ini terhadap orangtua, tidak mendengarkan nasihat mereka, menganggap diri yang paling benar dan juga kurangnya dekat kepada Tuhan adalah tidaklah benar. Dari kejadian itulah aku mulai sadar dan mendengarkan apa nasihat orangtua dan tidak terpikirkan lagi tentang cita-cita yang sudah gagal ingin menjadi seorang dokter. Aku mulai dekat kepada Tuhan.

Walaupun aku tidak bisa melanjutkan studi kedokteran, aku tidak kecewa lagi, karena mungkin bukan itu panggilanku kepada Tuhan untuk melanjutkan studi di kedokteran. Aku juga tetap semangat dan selalu berdoa kepada Tuhan untuk menunjukkan jalan keluar agar aku bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Suatu saat ada informasi dari kabupaten kami, NIAS SELATAN, mengenai tawaran melanjutkan studi ke perguruan tinggi dengan biayai PEMDA. Aku kemudian mencoba untuk mendaftar di UNIMED dan mengikuti seleksi. Hati mulai senang karena sudah ada harapan untuk bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi. Ternyata setelah keluar pengumuman UNIMED namaku tidak terdaftar, begitu sedih hati ini. Walaupun kegagalan terus yang kuhadapi, aku tetap semangat dan terus berusaha untuk menggapai cita-citaku. Karena kegagalan bukan akhir dari hidupku tapi awal dari keberhasilanku. Dan aku mencoba untuk mendaftarkan diri di STIE Kasih Bangsa Jakarta Barat. Dan puji Tuhan aku lolos seleksi dan melanjutkan studi di STIE KASIH BANGSA.

Aku terlahir di dunia ini dengan banyaknya kekurangan, baik dari segi kehidupan maupun dari segi kebutuhan hidup sehari-hari. Terkadang aku berpikir tidak ada gunanya aku hidup di dunia ini. Mengapa? Karena dari aku kecil hingga aku beranjak dewasa seperti sekarang ini, penderitaan yang aku jalani lengkap sudah. Tapi, aku juga berpikir tidak ada gunanya menyesali hidup karena HIDUP ADALAH ANUGERAH dariYang Maha Kuasa.

Aku menjalani hidup di dunia ini dengan banyaknya rintangan, baik dalam berjuang untuk bisa sekolah walaupun serba banyak kekurangan, namun aku tetap bersemangat, hingga sekarang ini aku bisa kuliah di STIE Basih Bangsa dan itu semua anugerah dari Tuhan. Dan aku baru tahu bahwa tidak semua apa yang kita inginkan bisa terwujud sesuai dengan yang kita pikirkan. Tapi Tuhan sudah menyediakan yang lebih indah bagi kita.Untuk itu aku belajar untuk mensyukuri apa yang terjadi dalam hidup ini, karena HIDUP ADALAH ANUGERAH dari Yang Maha Kuasa.
Sumber : http://www.andriewongso.com/articles/details/10198/Hidup-adalah-Anugerah