Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator.
terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

   LAPORAN PRAKTIKUM                     

“Analisa Prosimat”

NUTRISI TEKNOLOGI PEMBERIAN PAKAN

 

 

Disusun Oleh :

ELFIAN PERMANA

D41121609

Budidaya Peraiaran

 

 

                                                                                    

Program Pendidikan D4  Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian Vedca Cianjur

Joint

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2013

KATA PENGANTAR

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم ِ

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah berkesempatan dalam  memberikan limpahan kesehatan, rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Analisa Bahan-bahan kimia ini dapat diselesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun dalam hal tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan Air. Atas tersusunnya makalah ini, penulis ucapkan terimakasih kepada :

  1. Ibu Dr. Ir Gusrina M.si ,  Dan Ibu Intan rahima M.si.
  2. Kedua orang tua tercinta yang selalau memberikan do’a dan dukungannya`.
  3.  Semua pihak yang telah mendukung dalam penyelesaian makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terlalu banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya harap kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi  makalah ini bisa lebih baik lagi. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam dalam hal ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Cianjur, 01 September 2013

Penulis

                                                                                          Elfian Permana

                                                                                           D41121609

I PENDAHULAN

Latar Belakang
Suatu usaha budidaya Ikan sangat ditentukan oleh 3 faktor yang sama pentingnya yaitu: Breeding (bibit), feeding (pakan), dan management pengelolahan. Tetapi jika dilihat dari total biaya produksi dalam usaha budidaya maka kontribusi pakan adalah yang paling tinggi yakni sekitar 60%. Pakan merupakan salah satu faktor pembatas dalam unit budidaya. Dimana pertumbuhan dan perkembangan serta kelangsungan hidup biota budidaya tergantung dari pakan ini dan nutrisinya. Pakan ikan dikatakan bermutu jika mengandung nilai nutrisi dan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. bahwa Pakan yang berkualitas mengandung 70 % protein, 15 % karbohidrat, 10 % lemak, dan 5 % vitamin, air, dan mineral Murtidjo (2001)
Nutrisi yang terkandung dalam pakan harus benar-benar terkontrol dan memenuhi kebutuhan dari ikan tersebut. Pakan memiliki peranan penting sebagai sumber energi untuk pemeliharaan tubuh, pertumbuhan, pengganti jaringan yang rusak dan perkembangbiakan. Tanpa nutrisi yang baik ikan akan lambat dalam pertumbuhan pengganti jaringan yang rusak dan perkembangbiakan. Nutrien atau kandungan zat gizi dalam bahan pakan di bagi menjadi enam bagian yaitu : energi, protein dan asam amino, lipid dan asam lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Dalam materi ini akan dipelajari secara spesifik objektifitas untuk masing-masing bagian tersebut. (Gusrina, 2003)
Analisis proksimat atau analisis Weende dikembangkan dari Weende Experiment Station di Jerman oleh Henneberg dan Stokman pada tahun 1865, yaitu suatu metode analisis dan menggolongkan komponen yang ada pada makanan (Karbohidrat,kadar abu,kadar lemak,protein,kadar air.dll) . Cara ini dipakai hampir di seluruh dunia dan disebut “analisis proksimat” (proximate analysis). Analisis ini didasarkan atas komposisi susunan kimia dan kegunaannya pada pakan (Tillman et al., 1998).
Bahan pakan meliputi bahan kering dan Air, bahan kering meliputi senyawa organik yang meliputi karbohidrat, protein, lipid dan non organik yang meliputi vitamin dan mineral. dalam sebuah pakan haruslah memenuhi kereteria Bahan baku, Bahan kering dan terrutama Kadar Air .Kadar air dalam suatu bahan makanan sangat mempengaruhi kualitas dan daya simpan dari bahan pangan tersebut. Apabila kadar air bahan pangan tersebut tidak memenuhi syarat maka bahan pangan tersebut akan mengalami perubahan fisik dan kimiawi yang ditandai dengan tumbuhnya mikroorganisme pada makanan sehingga bahan pangan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi. (Winarno, 2004)
Abu merupakan residu anorganik yang didapat dengan cara mengabukan komponen-komponen organik dalam bahan pangan. Jumlah dan komposisi abu dalam mineral tergantung pada jenis bahan pangan serta metode analisis yang digunakan. Abu dan mineral dalam bahan pangan umumnya berasal dari bahan pangan itu sendiri (indigenous). Tetapi ada beberapa mineral yang ditambahkan ke dalam bahan pangan, secara disengaja maupun tidak disengaja. Abu dalam bahan pangan dibedakan menjadi abu total, abu terlarut dan abu tak larut. (Puspitasari, et.al, 1991).
Lipida adalah golongan senyawa organik yang sangat heterogen yang menyusun jaringan tumbuhan dan hewan. Lipida merupakan golongan senyawa organik kedua yang menjadi sumber makanan, merupakan kira-kira 40% dari makanan yang dimakan setiap hari tak terkucuali pakan untuk ikan. Komponen tersebut mempengaruhi warna dan flavor produk. Dalam jaringan hewan lemak terdapat di seluruh badan, tetapi jumlah terbanyak terdapat dalam jaringan adipose dan sumsum tulang. Secara kimia yang diartikan dengan lemak adalah trigliserida dari gliserol dan asam lemak. Penetapan kadar lemak kasar. Lemak kasar merupakan campuran dari berbagai senyawa yang larut dalam pelarut lemak. Menurut Tillman et al., (1998)

Tujuan
Tujuan praktikum kali ini yakni antara lain:
1. Untuk mengetahui persiapan bahan dan pembuatan pakan.
2. Untuk mengetahui uji proksimat lemak.
3. Untuk mengetahui teknik uji kadar air.
4. Dan untuk mnegetahui teknik uji kualitas fisik pakan.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tepung
Tepung adalah partikel padat yang berbentuk butiran halus atau sangat halus tergantung pemakaiannya. Biasanya digunakan untuk keperluan penelitian, rumah tangga, dan bahan baku industri. Tepung bisa berasal dari bahan nabati misalnya tepung terigu dari gandum, tapioka dari singkong, maizena dari jagung atau hewani misalnya tepung tulang dan tepung ikan (Sofiya 2006).
Tepung (bila dilihat di bawah mikroskop) akan terlihat zat tepung yang terdiri atas granula yang berbeda. Tepung dibuat dari jenis padi-padian dan umbi-umbian yang melalui proses beberapa tahap sampai menjadi tepung yang kering. Tepung tidak larut dalam air sehingga tepung akan mengendap di dalam air, dan bila dipanaskan sambil diaduk-aduk akan mengembang dan mengental. Prose ini disebut “gelatinasi” (Soejoetu 1998).
Tepung mulai mengetal pada suhu 64-720 C Celcius. Setelah melampaui suhu 1090 Celcius, tepung akan betul-betul matang. Makin tinggi konsentrasi larutan tepung, makin cepat mengental meskipun belum semua granula pecah. Jadi, masih ada rasa mentah, berarti belum semua bagian matanf. Bila membuat bubur tepung kurang cukup cairan, dan pengaduknya kurang sempurna, butir-butir granula menjadi keras dan liat, tidak rata atau menggumpal. Jika dimasak dengan air, tepung tapioka (tepung kanji, tepung aci), tepung kentang dan tepung maizena serta tepung hungkue akan menjadi bubur kental dan bening, lebih jernih daripada bubur dari tepung beras atau tepung terigu.(Soejoeti 1998).
2.1.1 Tepung Ikan
Tepung Ikan adalah ikan atau bagian-bagian ikan yang minyaknya diambil atau tidak, dikeringkan kemudian digiling. Kegunaan utama tepung ikan adalah sebagai bahan campuran pada makanan ternak. Tepung ikan yang bermutu baik harus bebas dari kontaminasi serangga. Jamur, mikroorganisme pathogen. Dalam susunan makanan ternak, tepung ikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama ternak ayam dan babi selain itu juga sebagai komponen makanan ikan. Tepung ikan yang bermutu baik harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : butiran – butirannya harus seragam bebas dari sisa – sisa tulang, mata ikan dan benda asing, warna halus bersih, seragam, serta bau khas ikan amis (Afrianto dan Liviawaty, 2005).

2.2. Analisis Proksimat
Analisis proksimat merupakan metode yang tidak menguraikan kandungan nutrien secara rinci, namun berupa nilai perkiraan (Soejono, 1990). Metode ini dikembangkan oleh Henneberg dan Stockman dari Weende Experiment Station di Jerman pada tahun 1865 (Tillman et al., 1991).
Analisis makronutrien analisis proksimat meliputi kadar abu total, air total, lemak total, protein total dan karbohidrat total, sedangkan untuk kandungan mikronutrien difokuskan pada provitamin A (β-karoten) (Sudarmadji et al., 1996). Analisis vitamin A dan provitamin A secara kimia dalam buah-buahan dan produk hasil olahan dapat ditentukan dengan berbagai metode diantaranya kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom absorpsi, kromatografi cair kinerja tinggi, kolorimetri dan spektrofotometri sinar tampak (Winarno, 1997).

Tabel 6.7. Hasil analisa proksimat bahan baku (Mllamena et al, 2000).
2.2.1 Kadar Air
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam satuan persen. Kadar air juga merupakan karakteristik yang sangat penting dalam bahan pangan karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air menyebabkan mudahnya bakteri, kapang dan khamir untuk berkembang biak sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan (Haryanto 1992). Kadar air adalah perbedaan antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan kelembaban udara disekitarnya. Kadar air ini disebut dengan kadar air seimbang.
Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan acceptability, kesegaran dan daya tahan bahan itu. Selain merupakan bagian dari suatu bahan makanan, air merupakan pencuci yang baik bagi bahan makanan tersebut atau alat-alat yang akan digunakan dalam pengolahannya. Kandungan air dalam bahan makanan mempengaruhi daya tahan bahan makanan terhadap serangan mikroba yang dinyatakan dengan Aw yaitu jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya (Winarno 2004).
Penetapan kandungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Hal ini tergantung pada sifat bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan mengeringkan bahan dalam oven pada suhu 105 – 110 °C selama 3 jam atau sampai didapat berat yang konstan. Untuk bahan yang tidak tahan panas, seperti bahan berkadar gula tinggi, minyak, daging, kecap dan lain-lain pemanasan dilakukan dalam oven vakum dengan suhu yang lebih rendah. Kdang-kadang pengeringan dilakukan tanpa pemanasan, bahan dimasukkan ke dalam eksikator dengan H2SO4 pekat sebagai pengering, hingga mencapai berat yang konstan (Winarno 2004).

2.1.2. Abu
Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Soejono, 1990). Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar bahan pakan dalam tanur, pada suhu 400-600o C sampai semua karbon hilang dari sampel, dengan suhu tinggi ini bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar dan sisanya merupakan abu yang dianggap mewakili bagian inorganik makanan. Namun, abu juga mengandung bahan organik seperti sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakaran. Kandungan abu dengan demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan inorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 1994).

2.1.3. Serat Kasar
Fraksi serat kasar mengandung selulosa, lignin, dan hemiselulosa tergantung pada species dan fase pertumbuhan bahan tanaman (Anggorodi, 1994). Pakan hijauan merupakan sumber serta kasar yang dapat merangsang pertumbuhan alat-alat pencernaan pada ternak yang sedang tumbuh. Tingginya kadar serat kasar dapat menurunkan daya rombak mikroba rumen (Farida, 1998).
Cairan retikulorumen mengandung mikroorganisme, sehingga ternak ruminasia mampu mencerna hijauan termasuk rumput-rumputan yang umumnya mengandung selulosa yang tinggi (Tillman et al., 1991). Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua bahan yang terlarut dalam asam dengan pendidihan dengan asam sulfat bahan yang larut dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut adalah serat kasar (Soejono, 1990).

2.1.4. Protein Kasar
Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan pakan kemudian dikali dengan faktor protein 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama, dianggap bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein, kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 1990). Menurut Siregar (1994) senyawa-senyawa non protein nitrogen dapat diubah menjadi protein oleh mikrobia, sehingga kandungan protein pakan dapat meningkat dari kadar awalnya. Sintesis protein dalam rumen tergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ternak. Jika konsumsi N makanan rendah, maka N yang dihasilkan dalam rumen juga rendah. Jika nilai hayati protein dari makanan sangat tinggi maka ada kemungkinan protein tersebut didegradasi di dalam rumen menjadi protein berkualitas rendah.

2.1.6. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
Kandungan BETN suatu bahan pakan sangat tergantung pada komponen lainnya, seperti abu, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar. Jika jumlah abu, protein kasar, esktrak eter dan serat kasar dikurangi dari 100, perbedaan itu disebut bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) (Soejono, 1990). BETN merupakan karbohidrat yang dapat larut meliputi monosakarida, disakarida dan polisakarida yang mudah larut dalam larutan asam dan basa serta memiliki daya cerna yang tinggi (Anggorodi, 1994).

2.1.6.1 Karbohidrat
Karbohidrat (‘hidrat dari karbon’, hidrat arang) atau sakarida (dari bahasa Yunani σάκχαρον, sákcharon, berarti “gula”) adalah segolongan besar senyawa organik yang paling melimpah di bumi. Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh makhluk hidup, terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), dan materi pembangun (misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur). Pada proses fotosintesis, tetumbuhan hijau mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat. Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil- aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan untuk golongan senyawa yang mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak terhidrasi oleh n molekul air. Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang mengandung nitrogen, fosforus, atau sulfur. Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana yang disebut monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabang-cabang, disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan selulosa. Selain monosakarida dan polisakarida, terdapat pula disakarida (rangkaian dua monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa monosakarida).

2.1.6.2. Lemak Kasar
Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan metode soxhlet, yaitu proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxhlet (Soejono, 1990). Lemak yang didapatkan dari analisis lemak ini bukan lemak murni. Selain mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak eter juga mengandung waks (lilin), asam organik, alkohol, dan pigmen, oleh karena itu fraksi eter untuk menentukan lemak tidak sepenuhnya benar (Anggorodi, 1994). Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan larutan heksan sebagai pelarut. Fungsi dari n heksan adalah untuk mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih (Mahmudi, 1997).

III METEDOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2013 Jam 07.00 – 17.00 WIB dengan bertempat di Laboratorium Biologi PPPPTK Pertanian Cianjur, Jawa Barat Indonesia.

3.2 Alat dan Bahan Praktikum
Peralatan :
Botol timbang bertutup / cawan
Dessiccator /eksikator
Oven
Neraca ananlitik
Cawan porselen
Tanur listrik
Neraca analitik
Dessikator / eksikator
Kertasa saring
Labu lemakalat soxhlet
Pemanas listrik
Oven
Neraca analitikut
Kapas bebas lemak
Pereaksi :hexane atau pelarut lemak lainnya

3.2.1 Kadar Air Metode Gravimetri
Prinsip : Air akan menguap seluruhnya jika bahan makanan di panaskan pada suhu 105 -110ᵒ C.
Langkah kerja 1 :
Cawan di panaskan dalam oven pada suhu 105 -110 ᵒc selama 1 jam,dinginkan dalam eksikator selama 10 menit dan di timbang (×₁).
Timbang bahan /contoh yang telah di haluskan sebanyak 2-3 gram (a) lalu di masukan dalam cawan ×₁ .
Cawan dan bahan di panaskan dalam oven selama 4-6 jam pada suhu 105 -110 ᵒc ,dinginkan dalam eksikator kemudian timbang ,lakukan pemanasan kembali dalam oven selama 30 menit,dinginkan dalam eksikator dan timbang,lakukan hal tersebut sampai berat yang konstan (selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,02 gram .
Hitunglah persentasi kadar air bahan yang dapat di peroleh dengan rumus sebagai berikut :
Kadar air (%) = ((x₁+a)- x₂)/a x 100%
Langkah kerja sni :
Timbang dengan seksama 1-2 gcuplikan pada sebuah botoltimbang bertutup
yang sudah di ketahuui bobotnya (w1).
Keringkan pada oven suhu 105 ᵒC selama 3 jam.
Dinginkan dalam eksikator.
Timbang (w),ulang pekerjaan ini hingga di peroleh bobot tetap.
Perhitungan :
Kadar air = w/w1×100%

3.2.2 Pengukuran Kadar Abu Metode Gravimetri
Prinsip : Bahan makanan jika dilakukan pemanasan didalam tanur listrik yang bersuhu 600ᵒC, maka zat-zat organic akan diuraikan menjadi air dan CO₂ yang tertinggal hanya bahan anorganik yaitu abu.
Lankah kerja 1 :
Cawan dipanaskan dalam oven pada suhu 105 – 110 ᵒC selama 1jam, dinginkan dalam eksikator selama 10 menit dan ditimbang (×₁).
Timbang bahan /contoh yang kering sebanyak 2-3 gram (a) lalu masukan kedalam cawan ×₁.
Masukan bahan dan cawan kedalam oven pengabuan/tanur dengan cara dipanaskan dengan suhu 550 – 600ᵒC sampai menjadi abu dan berwarna putih (selama 3-6 jam).
Dinginkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang cawan dan abu tersebut (×₂).
Hitunglah persentasi kadar abu bahan yang dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut :
Kadar abu =(×₂-×₁)/a × 100%
Langkah kerja SNI :
Timbang dengan seksama 2-3 g contoh kedalam cawan perselen yang telah di ketahui bobotnya
Arangkan di atas nyala pembakar lalu abukan kedalam tanur listrik apda suhu maksimum 550ᵒC sampai pengabuan sempurna (sekali-kali pintu tanur dibuka sedikit,agar oksigen dapat masuk).
Dinginkan dalam eksikator ,lalu timbang sampai bobot tetap
Perhitungan :
Kadar abu = (W₁-W₂)/w ×100%
W : Bobot contoh sebelum di abukan dalam garam
W1 : Bobot contoh + cawan sesudah di abukan dalam garam
W2 : B obot cawan kosong dalam garam.

3.2.3 Pengukuran Kadar Lemak
Metode Soxhlet
Prinsip : Bahan makanan yang larut di dalam petrelium eter,atau ekstraksi lemak bebas dengan pelarut non polar.
Peralatan :
Langkah kerja 1 :
Panaskan cawan labu dalam oven pada suhu 105 – 110ᵒC selama 1 jam,dinginkan dalam eksikator selama 10 menit dan timbang (×₁).
Timbang bahan /contoh sebanyak 2-5 gram ( bahan sebaiknya dalam bentuk halus dan kering ),dan di bungkus dengan kertas saring/kertas filter dalam bentuk silinder(a).
Masukan selongsong kertas filter kedalam tabung ekstraksi dan di beri pemberat dan dapat di hubungkan dengan kondensor/pendingin.
Pasanglah tabung ekstraksi pada alat destilasi soxhlet dengan pelarut petroleum ather/petrelium benzene /hexane sebanyak 150 ml yang dimasukan kedalam soxhlet sampai kertas saring tersebut terendam dan sisa larutan dimasukan kedalam labu.
Panaskan cawan labu yang dihubungkan dengan soxhlet di atas water bath sampai cairan dalam soxhlet terlihat bening .pemanasan ini berlangsung selama 2-4 jam, apa bila setelah 4 jam ekstraksi belum sempurna pemanasan dapat dilanjutkan selama 2 jam lagi.
Lepaskan labu dari dalam soxhlet dan tetap di panaskan di atas water bath untuk menguapkan semua petrelium ether dari cawan labu.
Cawan labu di panaskan dalam oven pada suhu 105-110ᵒC selama 16-60 menit,kemudian dinginkan dalam ekskator selama 10 menit dan timbang. Ulangi prosuder ini sampai berat yang stabil(×₂).
Hitunglah persntasi kadar lemak bahan/contoh dengan persamaan sebagai berikaut:
Kadar lemak (%) = (×₂-×₁)/a × 100%
Langkah kerja SNI :
Timbang seksama 1-2 g contoh, masukan kedalam selongsong kertas yang di alasi dengan kapas.
Sumbat selongsong kertas berisi contoh tersebut dengan kapas,keringkan dalam oven pada suhu tidak lebih dari 80ᵒC selama lebih kurang 1 jam,kemudian masukan kedalam alat soxhlet yang telah di hubungkan dengan labu lemak berisi batu didih yang telah di keringkan dan telah diketahui bobotnya .
Ekstrak dengan heksana atau pelarut lemak lainnya selama lebih kurang 6 jam
Sulingkan heksana dan keringkan ekstrak lemak dalam oven pengeringan daalam suhu 105ᵒC
Dinginkan dan timbang
Ulangi pengeringan ini hingga tercapai bobot tetap.
Perhitungan :
% lemk = (W-W1)/W2 ×100%
W : Bobot contoh dalam gram
W1 : Bobot lemak sebelum ekstraksi dalam gram
W2 : Bobot labu lemak sesudah ekstraksi.

3.3.4 Produr kerja analisa kadar karbonhidrat
Metode : SNI 01 – 2891 – 1992 butir 9.1
CARA KERJA :
Timbang dengan seksama lebih kurang 5 g cuplikan kedalam Erlenmeyer 500 ml.
Tambahkan 200 ml larutan HCL 3%,didihkan selama 3 jam dengan pendingin tegak.
Dingin dan netralkan dengan larutan NaOH 30% (dengan kertas lakmus atau fenolptalin )dan ditambahkan sedikit CH₃COOH3% agar suasana larutan agak sedikit asam.
Pindahkan isinya kedalam labu ukur 500 ml,tambahkan aquades sampai tanda batas kemudian saring.
Fifet 10 ml filtrat kedalam labu elemeyer 500 ml,tambahkan 25 ml larutan luff (dengan pipet) dan beberapa butir batu didih serta 15 ml air suling.
Panaskan campuran tersebut dengan nyala yang tetap. Usahakan agar larutan dapat mendidih dalam waktu 3 menit ( gunakan stop wathc)kemudian dengan cepat dinginkan dalam bak berisi es.
Setelah dingin tambahkan 15 ml larutan KI 20% dan 25 ml H₂SO₄ 25% perlahan-lahan
Titar secepatnya dengan larutan tio 0,1 N( gunakan penunjuk larutan kanji 0,5%).
Kerjakan juga blanko.

Perhitungan :

(blanko-penitar)x N tio x 10,setara dengan yang tereduksi .kedian lihat dengan daftar luff school berapa mg gula yang tergandung untuk ml tio yang digunakan.
Kadar glukosa = (W1 × fp )/W ×100%
Kadar karbonhidrat = 0,90 x kadar glukosa
W = Bobot cuplikan ,dalam mg
W₁ = Glukosa yang terkandung untuk ml tio yang dipergunakan,dalam mg dari daftar
Fp = factor pengenceran.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Kadar air = 8.90%
Kadar abu = 47,0493%
Kadar lemak = 6,3840%
Kadar karbohidrat = 3,35581%
Lampiran :
Perhitungan Kadar Air
((sampel+cawan)- cawan s)/dx x 100%
((sampel+cawan)- cawan s)/dx x 100%
Perhitungan Kadar Abu
((contoh+cawan)- bobot cawan kosong)/sampel x100%
(24,7918– 23,6581)/2,4096 x100% = 47,0493%
Perhitungan Kadar Lemak
(labu sesudah ekstraksi-labu sebelum ekstrasi)/(bobot sampel) x100%
(109,2715-109,1804)/1,4270 x100%=6,3840 %
Perhitungan Kadar Karbohidrat
(mg gula x N.Tio x fp x 0,90)/(bobot sampel x 1000) x100%
(3,84 x 0,98 x 50 x 0,90)/5046,3 x100%=3,35581%
BETN (%) = %BK – (%ABU+%PK+%LK+SK)
BETN (%) = 100 % – (47,0493 + 8.90% +6,3840% + 3,35581% )
= 34,31089 %

4.2 Pembahasan
4.2.1 Kadar Air
Hasil analisis kadar air adalah 8,90 % dengan hasil Analisis untuk mengetahui kandungan air pada pakan dilakukan dengan mengeringkan pakan tersebut. Pada uji kadar air ini sampel pakan dengan kandungan air 150 % sebesar 1-2 gram dimasukan ke dalam open dengan suhu 110oC. Pengeringan ini dilakukan hingga mendapat berat yang konstan dari pakan tersebut yang berarti semua airnya sudah diuapkan. Defano (2000) menyatakan ditiap bahan pakan yang paling kering sekalipun,masih terdapat kandungan air walaupun dalam jumlah yang kecil. Dari tabel di bawah membuktikan bahwa analisis kadar air nya yang mendekati adalah ikan tuna.
Kadar Abu
Analisis Kadar abu 47,0493 %,masih tinggi kadar abunya dikarenakan kadar abu masih terdapat senyawa non organik mineral berupa kalsium. Oleh sebab itu harus di panaskan kembali. Karra(2007)menyatakan bahwa pemanasan di dalam tanur adalah dengan suhu 400-600 derajat Celcius dan Halim (2006) menyatakan bahwa zat anorganik yang tertinggal di dalam pemanasan dengan tanur disebut dengan abu.
Kadar Lemak
Bahan makanan yang larut di dalam petrelium eter,atau ekstraksi lemak bebas dengan pelarut non polar. Hasil yang didapat adalah Kadar lemak 6,3840% Lemak memberikan 2.25 kali energi lebih banyak dibanding dengan karbohidrat jika mengalami metabolisme karena lemak mengandung unsur H lebih banyak daripada unsur O.

Kadar karbohidrat
3,35581% kadar karbohidrat tepung ikan kecil dikarenakan jika bahan dari hewani hanya mengandung karbohidrat yang rendah. Dari analisa tersebut Sebanding dengan ikan reborn.

Menurut Darsudi (2008), hasil analisis proksimat pada tepung ikan yaitu kadar air 7,00%, kadar abu 17,93%, kadar lemak 6,89%, kadar protein 59,58% dan kadar serat 4,48%, sehingga ETN yang diperoleh dari mengurangi sempel bahan kering dengan semua komponen – komponen air, serat kasar, lemak, protein dan abu. Besar ETN dari tepung ikan adalah 4,12%. Menurut Rasyaf (1994), kualitas tepung ikan bervariasi berdasarkan macam ikan dan bagian mana yang dimasukkan ke dalam tepung ikan itu. Faktor yang membedakan kadar serat kasar yaitu asal usul tepung ikan, jenis ikan dan proses pembuatan tepung ikan.

V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Dari keempat data tersebut dapat disimpulkan bahwa hampir mendekati dengan data yang ada tepung ikan mempunyai protein yang tinggi dan Kadar abu yang tinggi dikarenakan masih ada kandungan kalsium.
5.2 Saran
Tepung ikan mempunyai kadar protein yang tinggi bagus untuk bahan baku pakan terutama ikan yang karnivora.

TINJAUAN PUSTAKA

Anggorodi. R. 2005. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
http//:Wikipedia.com/nutrisi.
Mahmudi, M. 1997. Penurunan Kadar Limbah Sintesis Asam Fosfat Menggunakan Cara Ekstraksi Cair-Cair dengan Solven Campuran Isopropanol dan n-Heksan. Semarang: Universitas Diponegoro.
Soejono, M. 1990. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosukojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Winarno. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Hafes. E. S. E.2000. Metode Analisis Proksimat. Jakarta : Erlangga.
Karra , 2003. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University.Yogyakarta.

Advertisements