BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Pendahuluan
Alat-alat optik merupakan alat-alat yang dibuat oleh manusia untuk membantu dalam mengamati objek-objek yang sukar di imprestitasi oleh syaraf jika dilihat dengan mata telanjang. Dalam usaha budidaya, tidak lepas dari penggunaan alat-alat optic tersebut. Misalnya saja mikroskop, digunakan dalam setiap penelitian, atau kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat mikro.

Contohnya saja dalam mengidentifikasi serangan penyakit pada ikan. Virus, bakteri, atau jasad phatogen lainnya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga untuk mendeteksi serangan jasad phatogen tersebut pada hewan budidaya harus menggunakan alat bantu berupa r salinitas dalam mikroskop.
Alat optic lainnya yang biasa digunakan untuk menunjang keberhasilan budidaya yaitu refraktometer. Refraktometer meruakan alat ukur salinitas yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup biota air. Kadar salinitas dalam air tidak dapat diukur jika tidak menggunakan alat bantu. Sehingga penggunakan alat optic berupa refraktometer sangat membantu dalam menunjang keberhasilan usaha budidaya. Penggunaan alat-alat optic untuk menunjang keberhasilan usaha budidaya tidak hanya berupa mikroskop dan refraktometer saja, masih banyak alat-alat optic lainnya seperti lux (kaca pembesar), mata, dan lain sebagainya.
1.2. Tujuan
Setelah membaca makalah ini, diharapkan setiap mahasiswa mengetahui tentang :
1. Penggunaan alat-alat optic untuk menunjang keberhasilan usaha budidaya.
2. Pengaruh penggunaan alat-alat optic untuk menunjang keberhasilan budidaya.
3. Kemudahan yang dapat diperoleh setelah menggunaan alat-alat optic untuk meningkatkan hasil budidaya.

Pembahasan
Optika adalah cabang fisika yang menggambarkan perilaku dan sifat cahaya dan interaksi cahaya dengan materi. Optika menerangkan dan diwarnai oleh gejala optis. Kata optik berasal dari bahasa Latin ὀπτική, yang berarti tampilan. Bidang optika biasanya menggambarkan sifat cahaya tampak, inframerah dan ultraviolet; tetapi karena cahaya adalah gelombang elektromagnetik, gejala yang sama juga terjadi di sinar-X, gelombang mikro, gelombang radio, dan bentuk lain dari radiasi elektromagnetik dan juga gejala serupa seperti pada sorotan partikel muatan (charged beam). Optik secara umum dapat dianggap sebagai bagian dari keelektromagnetan. Beberapa gejala optis bergantung pada sifat kuantum cahaya yang terkait dengan beberapa bidang optika hingga mekanika kuantum . Dalam prakteknya, kebanyakan dari gejala optis dapat dihitung dengan menggunakan sifat elektromagnetik dari cahaya, seperti yang dijelaskan oleh persamaan Maxwell . Bidang optika memiliki identitas, masyarakat, dan konferensinya sendiri. Aspek keilmuannya sering disebut ilmu optik atau fisika optik. Ilmu optik terapan sering disebut rekayasa optik. Aplikasi dari rekayasa optik yang terkait khusus dengan sistem iluminasi (iluminasi) disebut rekayasa pencahayaan. Setiap disiplin cenderung sedikit berbeda dalam aplikasi, keterampilan teknis, fokus, dan afiliasi profesionalnya. Inovasi lebih baru dalam rekayasa optik sering dikategorikan sebagai fotonika atau optoelektronika. Batas-batas antara bidang ini dan “optik” sering tidak jelas, dan istilah yang digunakan berbeda di berbagai belahan dunia dan dalam berbagai bidang industri. Karena aplikasi yang luas dari ilmu “cahaya” untuk aplikasi dunia nyata, bidang ilmu optika dan rekayasa optik cenderung sangat lintas disiplin. Ilmu optika merupakan bagian dari berbagai disiplin terkait termasuk elektro, fisika, psikologi, kedokteran (khususnya optalmologi dan optometri), dan lain-lain. Selain itu, penjelasan yang paling lengkap tentang perilaku optis, seperti dijelaskan dalam fisika, tidak selalu rumit untuk kebanyakan masalah, jadi model sederhana dapat digunakan. Model sederhana ini cukup untuk menjelaskan sebagian gejala optis serta mengabaikan perilaku yang tidak relevan dan / atau tidak terdeteksi pada suatu sistem. Di ruang bebas suatu gelombang berjalan pada kecepatan c = 3 ×108 meter/detik. Ketika memasuki medium tertentu (dielectric atau nonconducting) gelombang berjalan dengan suatu kecepatan v, yang mana adalah karakteristik dari bahan dan kurang dari besarnya kecepatan cahaya itu sendiri (c). Perbandingan kecepatan cahaya di dalam ruang hampa dengan kecepatan cahaya di medium adalah indeks bias n bahan sebagai berikut : n = c⁄v Optika klasik Sebelum optika kuantum menjadi penting, asarnya terdiri dari aplikasi elektromagnetik klasik dan pendekatan frekuensi tinggi untuk cahaya. Optik klasik terbagi menjadi dua cabang utama: optika geometris dan optika fisis. Optika geometris, atau optika sinar, menjelaskan propagasi cahaya dalam bentuk “sinar”. Sinar dibelokkan di antarmuka antara dua medium yang berbeda, dan dapat berbentuk kurva di dalam medium yang mana indeks-refraksinya merupakan fungsi dari posisi. “Sinar” dalam optik geometris merupakan objek abstrak, atau “instrumen”, yang sejajar dengan muka gelombang dari gelombang optis sebenarnya. Optik geometris menyediakan aturan untuk penyebaran sinar ini melalui sistem optis, yang menunjukkan bagaimana sebenarnya muka gelombang akan menyebar. Ini adalah penyederhanaan optik yang signifikan, dan gagal untuk memperhitungkan banyak efek optis penting seperti difraksi dan polarisasi. Namun hal ini merupakan pendekatan yang baik, jika panjang gelombang cahaya tersebut sangat kecil dibandingkan dengan ukuran struktur yang berinteraksi dengannya. Optik geometris dapat digunakan untuk menjelaskan aspek geometris dari penggambaran cahaya (imaging), termasuk aberasi optis. Optika geometris sering disederhanakan lebih lanjut oleh pendekatan paraksial, atau “pendekatan sudut kecil.” Perilaku matematika yang kemudian menjadi linear, memungkinkan komponen dan sistem optis dijelaskan dalam bentuk matrik sederhana. Ini mengarah kepada teknik optik Gauss dan penelusuran sinar paraksial, yang digunakan untui order pertama dari sistem optis, misalnya memperkirakan posisi dan magnifikasi dari gambar dan objek. Propagasi sorotan Gauss merupakan perluasan dari optik paraksial yang menyediakan model lebih akurat dari radiasi koheren seperti sorotan laser. Walaupun masih menggunakan pendekatan paraksial, teknik ini memperhitungkan difraksi, dan memungkinkan perhitungan pembesaran sinar laser yang sebanding dengan jarak, serta ukuran minimum sorotan yang dapat terfokus. Propagasi sorotan Gauss menjembatani kesenjangan antara optik geometris dan fisik. Optika fisis atau optika gelombang membentuk prinsip Huygens dan memodelkan propagasi dari muka gelombang kompleks melalui sistem optis, termasuk amplitudo dan fase dari gelombang. Teknik ini, yang biasanya diterapkan secara numerik pada komputer, dapat menghitung efek difraksi, interferensi, polarisasi, serta efek kompleks lain. Akan tetapi pada umumnya aproksimasi masih digunakan, sehingga tidak secara lengkap memodelkan teori gelombang elektromagnetik dari propagasi cahaya. Model lengkap tersebut jauh lebih menuntut komputasi, akan tetapi dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan kecil yang memerlukan pemecahan lebih akurat. Topik yang berkaitan dengan optik klasik Bilangan Abbe Aberasi Cahaya Difraksi Difraksi kisi-kisi Dispersi Distorsi Fabrikasi dan pengujian (komponen optis) Hukum Snellius Koherensi Persamaan Fresnel Prinsip Fermat Prinsip Huygens Optik Fourier Optik geometris dari:Lensa Cermin Instrumen optis Prisma Optik indeks gradasi Sejarah optik Interferometri Desain lensa optis Resolusi optis Fotografi (ilmu) Polarisasi Sinar Penelusuran sinar Pemantulan Pembiasan Penyebaran Spektrum Gelombang Animasi kons pad ↑Kembali ke bagian sebelumnya Optika modern Optika modern meliputi bidang ilmu dan rekayasa optik yang menjadi terkenal pada abad ke 20. Bidang-bidang ilmu optik ini biasanya berhubungan dengan elektromagnetik atau sifat kuantum dari cahaya tetapi tidak termasuk topik lain. Topik yang berkaitan dengan optik modern Optik adaptif Dikroisme lingkar Optik kristal Optik difraksi Optik serat Panduan gelombang Holografi Optik terpadu Kalkulus Jones Laser Suar lensa Lensa mikro Optik non- imaging Optik taklinear Pengenalan citra optis Prosesor optis Pusaran optis Fotometri Fotonika Optik kuantum Radiometri Optik statistik Optik lapisan tipis Optik sinar-X ↑Kembali ke bagian sebelumnya Optik sehari-hari Optik adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Pelangi dan bayangan adalah contoh gejala optis. Banyak orang mendapat manfaat dari kacamata atau lensa kontak, dan optik digunakan di banyak barang konsumen termasuk kamera. Superimposisi dari struktur periodik, misalnya tisu transparan dengan struktur kisi, menghasilkan bentuk yang dikenal sebagai pola moiré. Superimposisi dari pola periodik transparan yang terdiri garis atau kurva buram paralel memproduksi pola garis moiré.

1. Mikroskop
(bahasa Yunani: micros = kecil dan scopein = melihat) adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata kasar. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata. Jenis-jenis mikroskop Mikroskop digital yang bisa tersambung dengan komputer Jenis paling umum dari mikroskop, dan yang pertama diciptakan, adalah mikroskop optis. Mikroskop ini merupakan alat optik yang terdiri dari satu atau lebih lensa yang memproduksi gambar yang diperbesar dari sebuah benda yang ditaruh di bidang fokal dari lensa tersebut. Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibagi menjadi dua, yaitu, mikroskop cahaya dan mikroskop elektron . Mikroskop cahaya sendiri dibagi lagi menjadi dua kelompok besar, yaitu berdasarkan kegiatan pengamatan dan kerumitan kegiatan pengamatan yang dilakukan. Berdasarkan kegiatan pengamatannya, mikroskop cahaya dibedakan menjadi mikroskop diseksi untuk mengamati bagian permukaan dan mikroskop monokuler dan binokuler untuk mengamati bagian dalam sel. Mikroskop monokuler merupakan mikroskop yang hanya memiliki 1 lensa okuler dan binokuler memiliki 2 lensa okuler. Berdasarkan kerumitan kegiatan pengamatan yang dilakukan, mikroskop dibagi menjadi 2 bagian, yaitu mikroskop sederhana (yang umumnya digunakan pelajar) dan mikroskop riset (mikroskop dark-field, fluoresens, fase kontras, Nomarski DIC, dan konfokal). ↑Kembali ke bagian sebelumnya Struktur mikroskop Ada dua bagian utama yang umumnya menyusun mikroskop, yaitu: Bagian optik, yang terdiri dari kondensor, lensa objektif, dan lensa okuler. Bagian non-optik, yang terdiri dari kaki dan lengan mikroskop, diafragma, meja objek/meja preparat, pemutar halus dan kasar, penjepit kaca objek (preparat), dan sumber cahaya. ↑Kembali ke bagian sebelumnya Pembesaran Tujuan mikroskop cahaya dan elektron adalah menghasilkan bayangan dari benda yang dimikroskop lebih besar. Pembesaran ini tergantung pada berbgai faktor, diantaranya titik fokus kedua lensa( objektif f1 dan okuler f2, panjang tubulus atau jarak(t) lensa objektif terhadap lensa okuler dan yang ketiga adalah jarak pandang mata normal(sn). Rumus: ↑Kembali ke bagian sebelumnya Sifat bayangan Baik lensa objektif maupun lensa okuler keduanya merupakan lensa cembung. Secara garis besar lensa objektif menghasilkan suatu bayangan sementara yang mempunyai sifat semu, terbalik, dan diperbesar terhadap posisi benda mula-mula, lalu yang menentukan sifat bayangan akhir selanjutnya adalah lensa okuler. Pada mikroskop cahaya, bayangan akhir mempunyai sifat yang sama seperti bayangan sementara, semu, terbalik, dan lebih lagi diperbesar. Pada mikroskop elektron bayangan akhir mempunyai sifat yang sama seperti gambar benda nyata, sejajar, dan diperbesar. Jika seseorang yang menggunakan mikroskop cahaya meletakkan huruf A di bawah mikroskop, maka yang ia lihat adalah huruf A yang terbalik dan diperbesar.
2.Lup atau kaca
pembesar adalah sebuah lensa cembung yang mempunyai titik fokus yang dekat dengan lensanya. Benda yang akan diperbesar terletak di dalam titik fokus lup itu atau jarak benda ke lensa lup tersebut lebih kecil dibandingkan jarak titik fokus lup ke lensa lup tersebut. Bayangan yang dihasilkan bersifat tegak, nyata, dan diperbesar. Lup ditemukan oleh seorang dari Arab bernama Abu Ali al-Hasan Ibn Al-Haitham. Menghitung jarak titik fokus suatu Lup Titik fokus suatu lup menentukan perbesaran yang dihasilkan, oleh karena itu titik fokusnya adalah besaran yang perlu diketahui (lihat juga dibawah). Dalam penggunaan sehari-hari jaraktitik fokus dari sebuah lup dapat ditentukan dengan percobaan sederhana cahaya dapat dikumpulkan di satu titik yang berjarak tertentu dari lensa lup. Apabila cahaya mencapai tingkat energi yang tinggi maka kertas, serpih kayu, atau lainnya dapat terbakar ketika diletakkan di bawah lup tersebut. Dalam hal ini cahaya dikumpulkan di sebuah titik yang disebut titik fokus atau titik api yang sifatnya maya atau semu bukan nyata atau di belakang lensa tersebut. Metode lain yang lebih nyata untuk menentukan jaraktitik fokus atau disebut juga Autoklimasi dapat menggunakan: persamaan gambar Newtonschen (juga dapat diturunkan dari persamaan lensa) Metode Bessel Metode Abbe ↑Kembali ke bagian sebelumnya Pembesaran Perbesaran angular Sudut pandang tanpa Lup Sudut pandang dengan Lup Jarak pandang normal Besar objek Titik focus.
3.Refractometer
adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar / konsentrasi bahan terlarut misalnya : Gula, Garam, Protein dsb. Prinsip kerja dari refractometer sesuai dengan namanya adalah dengan memanfaatkan refraksi cahaya. Seperti terlihat pada Gambar di bawah ini sebuah sedotan yang dicelupkan ke dalam gelas yang berisi air akan terlihat terbengkok. Pada Gambar kedua sebuah sedotan dicelupkan ke dalam sebuah gelas yang berisi lauran gula. Terlihat sedotan terbengkok lebih tajam. Fenomena ini terjadi karena adanya refraksi cahaya. Semakin tinggi konsentrasi bahan terlarut (Rapat Jenis Larutan), maka sedotan akan semakin terlihat bengkok secara proporsional. Besarnya sudut pembengkokan ini disebut Refractive Index (nD). Refractometer ditemukan oleh Dr. Ernst Abbe seorang ilmuwan dari German pada permulaan abad 20.
Refraktometer ABBE adalah pengukur indeks bias suatu zat cair yang mempunyai indeks bias antara 1,3 sampai 1,7. Prinsip kerja alat ini didasarkan pada sifat sudut kritis. Alat refraktometer ABBE ini terdiri dari sebuah teleskop, dua buah prisma P dan P’, dua buah prisma amici K1 dan K2 dan cermin sebagai alat pemantul. Objek (cairan) yang akan diukur indeks biasnya diletakkan diantara prisma pembias P dan P’, yang jarak antara dua prisma tersebut sekitar 0,1 mm.Sistem prisma amici K1 dan K2, masing-masingnya terdiri dari 3 prisma yang ditempelkan. Tiga prisma ini terdiri dari satu gelas flint dan dua gelas crown. Sistem prisma K1 dan K2 ini disebut kompensator yang berfungsi sebagai pengubah dari sinar polokromatik sebagai sumber cahaya, menjadi sinar monokromatik. Pengukuran ini didasari oleh prinsip sudut kritis, yaitu apabila sinar monokromatik berpindah dari medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat, sehingga terjadi pembiasan menjauhi garis normal.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Mikroskop ini merupakan alat optik yang terdiri dari satu atau lebih lensa yang memproduksi gambar yang diperbesar dari sebuah benda yang ditaruh di bidang fokal dari lensa tersebut.
Pada mikroskop cahaya, bayangan akhir mempunyai sifat yang sama seperti bayangan sementara, semu, terbalik, dan lebih lagi diperbesar. Pada mikroskop elektron bayangan akhir mempunyai sifat yang sama seperti gambar benda nyata, sejajar, dan diperbesar.
Mikroskop dalam budidaya perairan digunakan sebagai alat untuk melihat jenis – jenis penyakit yang ada pada ikan budidaya.
Lup digunakan untuk melihat histologi pada ikan yang sudah dibedah.
Refractometer dipakai untuk mengukur konsentrasi larutan garam, protein dll.

3.2. Saran
Mahasiswa harus mengetahui alat – alat optik yang biasa digunakan dalam budidaya ikan.
Mahasiswa juga mampu memahami prinsip kerja alat – alat opik.

DAFTAR PUSTAKA

http://putrakalimas.blogspot.com/2011/01/refraktometer-abb.html
http://www.scribd.com/doc/47782862/Refraktometer-Abbe