Setiap manusia pasti diberi cobaan yang berat maupun yang ringan seperti firman allah SWT
Allah berfirman: “Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS 2: 155)
Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah… .tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, “yah..sabar kan ada batasnya… ” Atau lidah kita berseru, “sabar sih sabar… saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?” Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.

Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”. (Qs 2: 156)
Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat “Inna lillahi… .” Orang sabar-kah kita? Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.
Arti kalimat itu adalah : “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Quran!
Terlbih lagi kita akan mengadapi cobaan dari orang yang anda percayai , sayangi dan sahabat anda sendiri. dan menggambarkan bahwa hanya allah yang ada selalu untuk kita.
Akan tetapi jika tidak ada cobaan patutnya kita harus bersedih seperti contohnya
Bisnis rugi bagi pebisnis itu biasa, harta adalah milik Allah. Kita hanya dititipi untuk mengelola, saat harta diambil oleh yang punya maka sungguh tak pantas bila kita marah.
Abdurahman bin Auf sebagai pebisnis kaya raya pada zaman Nabi saw bisa kita jadikan suri tauladan. Saat bisnisnya selalu untung besar, ketika malam tiba Abdurrahman bin Auf malah menangis dan mengadu kepada Allah. “Ya Allah mengapa usahaku selalu memberi keuntungan besar? Aku khawatir semua nikmat dari-Mu aku terima di dunia dan aku tidak mendapatkannya di akhirat.”
Bagi yang berkarir, mungkin ujiannya adalah pimpinan yang tidak visioner atau mungkin anak buah yang “ndablek” alias keras kepala, malas dan sulit dikembangkan. Ujian itu menjadikan Anda belajar bagaimana Anda bisa “memimpin” pimpinan Anda. Termasuk Anda juga belajar bagaimana memberdayakan orang-orang yang pada awalnya “trouble maker” kemudian menjadi SDM yang hebat.

Dalam kehidupan rumah tangga, terkadang datang ujian berupa anak dengan berbagai keterbatasannya, pasangan hidup yang tidak sesuai harapan atau bahkan dari orang tua yang memiliki pandangan berbeda dengan kita. Semua itu ujian yang akan menguatkan dan menyempurnakan hidup kita.

Apabila hidup kita ayem-tentrem alias berada di zona nyaman, waspadalah dan bersedihlah. Segeralah buat target-target yang lebih menantang agar cobaan dan ujian datang kepada kita. Perluas zona nyaman Anda. Ingatlah pesan nabi, “Yang tidak pernah mendapat ujian atau cobaan, sesungguhnya ia jauh dari kasih sayang Allah.”

Bila hidup kita ibaratkan seperti lari, aktivitas rutin sehari-hari ibarat marathon. Nah, dalam waktu-waktu tertentu Anda perlu sprint atau lari cepat agar Anda tidak menjadi orang rata-rata. Sprint inilah yang berpeluang besar mendatangkan cobaan dan ujian. Dan cobaan yang datang dari aktivitas sprint itu adalah pertanda bahwa Sang Maha masih mencintai kita…