Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator.
terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

 

 

I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Budidaya merupakan suatu kegiatan yang sangat menguntungkan dalam sektor perekonomian. Selain itu Setiap keluarga menginginkan anggota keluarganya sehat dan sejahtera. Manusia yang sehat dan sejahtera akan memiliki produktivitas tinggi dalam menunjang kehidupan sekaligus aktif berperan serta dalam pembangunan. Untuk itu manusia membutuhkan makanan bergizi baik. Terutama ikan mas ikan mas mempunyai kandungan protein yang tinggi.

Ikan mas adalah salah satu jenis ikan bernilai ekonomis penting. Ikan ini telah memasyarakat dan tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia, seperti Jawa Barat, Sumatra Barat, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, ikan mas telah menjadi sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Kini di Indonesia ikan mas menduduki produksi tersebar untuk jenis ikan budidaya air tawar. Bahkan, pada tahun 1987 – 1988 ikan mas telah dicoba diekspor. Namun sayangnya, ekspor ikan tersebut hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Hal tersebut dikarenakan mutu dan kontinuitas produksi belum memenuhi permintaan negara pengimpor. (Wikipedia, 2007).

Ikan mas (Cyorinus carpio, L.) merupakan spesies ikan air tawar yang sudah lama dibudidayakan dan terdomestikasi dengan baik di dunia. Di Cina, para petani telah membudidayakan sekitar 4000 tahun yang lalu sedangkan di Eropa beberapa ratus tahun yang lalu. Sejumlah varietas dan subvarietas ikan mas telah banyak dibudidayakan Asia Tenggara sebagai ikan konsumsi dan ikan hias.(Wikipedia, 2007)

Untuk menghasilkan ikan mas yang baik harus melakukan Penyediaan benih yang bermutu baik dalam jumlah cukup dan kontinu merupakan faktor penting dalam upaya pengembangan budidaya ikan konsumsi. Oleh karna itu, informasi teknologi pengelolahan usaha pembenihan ikan mas yang mencakup ras – ras ikan mas yang potensial, pemilihan lokasi yang tepat, pengelolahan induk yang baik, pemijahan, penetasan telur,, pendederan, pasca panen, analisis kelayakan dan pemasaran sangatlah diperlukan.

Pembenihan yang baik dan benar akan menghasilkan ikan yang baik dan bagus untuk juga proses countinue , Oleh karna itu, informasi teknologi pengelolahan usaha pembenihan ikan mas yang mencakup ras – ras ikan mas yang potensial, pemilihan lokasi yang tepat, pengelolahan induk yang baik, pemijahan, penetasan telur,, pendederan, pasca panen, analisis kelayakan dan pemasaran sangatlah diperlukan.

 

1.2 Tujuan

  • Mahasiswa mampu melakukan dalam pengelolahan kolam
  • Mahasiswa mampu dan memahami , melakukan kegiatan dalam pembenihan ikan
  • Mahasiswa mampu melakukan dalam pemanenan ikan
  • Mahasiswa mampu melakukan dalam pemberian pakan kepada ikan

 

II METEDOLOGI

 

Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang.

2.1 Ikan Mas

2.1.1 Sejarah Perkembangan Di Indonesia

Menurut Djoko Suseno (2000), di Indonesia pertama kali ikan karper berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok yang kemudian berkembang menjadi ikan budi daya yang sangat penting.

Sementara itu, menurut R.O Ardiwinata, (1981) ikan karper yang berkembang di Indonesia diduga awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan karper diketahui sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19. Masyarakat setempat disebutkan sudah menggunakan kakaban – subtrat untuk pelekatan telur ikan karper yang terbuat dari ijuk – pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan karper di kolam di Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

Sedangkan penyebaran ikan karper di daerah Jawa lainnya, dikemukakan terjadi pada permulaan abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari “Kementrian Pertanian” (Kemakmuran) saat itu. Dari Jawa, ikan karper kemudian dikembangkan ke Bukittinggi (Sumatera Barat) tahun 1892. Berikutnya dikembangkan di Tondano (Minahasa, Sulawesi Utara) tahun 1895, daerah Bali Selatan (Tabanan) tahun 1903, Ende (Flores, NTT) tahun 1932 dan Sulawesi Selatan tahun 1935. Selain itu, pada tahun 1927 atas permintaan Jawatan Perikanan Darat saat itu juga mendatangkan jenis-jenis ikan karper dari Negeri Belanda, yakni jenis Galisia (karper gajah) dan kemudian tahun 1930 didatangkan lagi karper jenis Frankisia (karper kaca). Menurut Djoko Suseno (2000), kedua jenis karper tersebut sangat digemari oleh petani karena rasa dagingnya lebih sedap, padat, durinya sedikit dan pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ras-ras lokal yang sudah berkembang di Indonesia sebelumnya.

Pada tahun 1974, seperti yang dikemukakan Djoko Suseno (2000), Indonesia mengimpor ikan karper ras Taiwan, ras Jerman dan ras fancy carp masing-masing dari Taiwan, Jerman dan Jepang. Sekitar tahun 1977 Indonesia mengimpor ikan karper ras yamato dan ras koi dari Jepang. Ras-ras ikan karper yang diimpor tersebut dalam perkembangannya ternyata sulit dijaga kemurniannya karena berbaur dengan ras-ras ikan karper yang sudah ada di Indonesia sebelumnya sehingga terjadi persilangan dan membentuk ras-ras baru.Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba di perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah: Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor,Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta

2.1.2  JENIS

Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:

Kelas : Osteichthyes

Anak kelas : Actinopterygii

Bangsa : Cypriniformes

Suku : Cyprinidae

Marga : Cyprinus

Jenis : Cyprinus carpio L.

Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:

2.1.2.1  Ikan Mas Hias

Jenis-jenis ikan mas yang digolongkan ke dalam kelompok ikan mas hias sebagai berikut.

1. Man Mas Kumpay

Ciri yang menonjol dari ikan mas kumpay adalah semua siripnya panjang dan berumbai sehingga tampak indah ketika sedang bergerak. Warna sisiknya sangat bervariasi, ada yang putih, kuning, merah, dan hijau gelap. Bentuk badannya memanjang seperti ikan mas sinyonya. Pertumbuhannya tergolong lambat. Kadang-kadang, ikan mas ini juga dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi.

2. Ikan Mas Kancra Domas

Bentuk tubuhnya memanjang. Gerakannya mirip ikan mas taiwan, yakni selalu aktif dan kurang jinak. Sisiknya berukuran kecil dan susunannya tidak beraturan. Warna sisiknya bervariasi, ada yang biru, cokelat, atau hijau. Sisik punggungnya berwarna gelap. Semakin ke arah perut, warnanya semakin terang keperakan atau keemasan.

3. Ikan Mas Kaca

Ciri khas ikan ini adalah sebagian tubuhnya tidak tertutup sisik. Bagian yang tidak tertutup sisik sepintas tampak bening, mirip kaca. Di sepanjang gurat sisi (linea lateralis) dan di sekitar pangkal siripnya terdapat sisik berwarna putih mengilap. Sisik tersebut berukuran besar dan tidak seragam.

4. Ikan Mas Fancy                                 

Bentuk tubuh ikan mas ini memanjang. Sisiknya berwarna putih, kuning, dan merah. Pada tubuhnya terdapat totoltotol berwarna hitam. Karena warnanya yang bermacammacam itulah ikan mas ini disebut fancy.

5. Ikan Mas Koi

Ikan mas koi atau yang lebih populer disebut koi ini berasal dari Jepang. Mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980. Bentuk badannya bulat memanjang. Warna sisiknya beragam, ada putih, kuning, merah menyala, hitam, atau kombinasi dari warna-warna tersebut.

Hobis ikan mas umumnya menyukai ikan koi jenis bastar karena warna dan pola totolnya yang indah dan menarik. Ikan koi disukai hobiis karena gerakannya lambat dan cukup jinak.

Ikan koi memiliki beragam nama yang disesuaikan dengan pola dan warna tubuhnya, misalnya platinum nishikigoi, shusui nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku nishikigoi, dan taishusanshoku nishikigoi

2.1.2.2 Ikan Mas Konsumsi

1. Ikan Mas Punten

Ras ini dikembangkan pertama kali pada tahun 1933 di Desa Punten, Malang, Jawa Timur. Tubuhnya relatif pendek, tetapi bagian punggungnya lebar dan tinggi. Karena itu, bentuk badan ikan mas punten terkesan membuntak atau bulat pendek (big belly). Perbandingan antara panjang total dan tinggi badan adalah 2,3-2,4: 1. Warna sisik hijau gelap, mata agak menonjol, gerakan tubuhnya lambat, dan bersifat jinak.

2. Ikan Mas Sinyonya atau Putri Yogya

Tidak diketahui pasti asal-usul nama ikan jenis ini. Beberapa orang menyebutkan, ikan mas ini mudah sekali bertelur sehingga disebut sinyonya. Bentuk tubuhnya memanjang (long bodied form) dan punggungnya lebih rendah dibandingkan dengan ikan mas punten. Perbandingan antara panjang dan tinggi badannya sekitar 3,66: 1.

Sisiknya berwarna kuning muda seperti warna kulit jeruk sitrus. Mata ikan yang masih muda agak menonjol, kemudian berubah menjadi sipit ketika ikan sudah mulai tua. Sifat ikan mas sinyonya lebih jinak dibandingkan dengan ikan ras punten. Ikan mas sinyonya memiliki kebiasaan berkumpul di permukaan air.

Fekunditas atau jumlah telur ikan mas sinyonya 85.000125.000 dan diameternya 0,3-1,5 mm. Induk ikan mas sinyonya jantan akan matang kelamin pertama pada umur 8 bulan, sedangkan yang betina pada umur 18 bulan. Ikan mas ini tahan terhadap parasit Myxoxporea. Kisaran toleransi pH-nya 5,5-8,5.

 

3. Ikan Mas Taiwan

Ikan mas taiwan memiliki bentuk badan yang memanjang dan bentuk punggung seperti busur agak membulat. Sisiknya berwarna hijau kekuningan hingga kuning kemerahan di tepi sirip dubur dan di bawah sirip ekor. Ikan mas taiwan sangat responsif terhadap makanan sehingga akan saling berebut ketika diberi pakan. Diduga nenek moyang ikan mas ini berasal dari Taiwan, kemudian diintroduksi dan dikembangkan di Indonesia.

 

4. Ikan Mas Merah

Ciri khas dari ikan mas ini adalah sisiknya yang berwarna merah keemasan. Gerakannya aktif, tidak jinak, dan paling suka mengaduk-aduk dasar kolam. Bentuk badannya relatif memanjang. Dibandingkan dengan ras sinyonya, posisi punggungnya relatif lebih rendah dan tidak lancip. Matanya agak menonjol.

5. Ikan Mas Majalaya

Sesuai dengan namanya, ikan mas ini berkembang pertama kali di daerah Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ukuran badannya relatif pendek dan punggungnya lebih membungkuk dan lancip dibandingkan dengan ras ikan mas lainnya. Perbandingan antara panjang dan tinggi tubuhnya adalah 3,2: 1.

Bentuk tubuhnya semakin lancip ke arah punggung dan bentuk moncongnya pipih. Sifat ikan mas ini relatif jinak dan biasa berenang di permukaan air. Sisiknya berwarna hijau keabuan dan bagian tepinya berwarna lebih gelap, kecuali di bagian bawah insang dan di bagian bawah sirip ekor berwarna kekuningan. Semakin ke arah punggung, warna sisik ikan ini semakin gelap.

Ikan mas majalaya memiliki keunggulan, di antaranya laju pertumbuhannya relatif cepat, tahan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophilla, rasanya lezat dan gurih, dan tersebar luas di Indonesia. Fekunditas atau jumlah telur yang dihasilkan ikan mas majalaya tergolong tinggi, yakni 84.000-110.000 butir per kilogram induk. Berikut ini kriteria benih ikan mas majalaya berbagai ukuran berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI).

 

 

 

6. Ikan Mas Yamato

Ikan mas ini kurang populer di kalangan petani ikan mas di Indonesia. Bentuk tubuhnya memanjang. Sisiknya berwarna hijau kecokelatan. Ikan mas ini banyak ditemukan dan dibudidayakan di Asia Timur, seperti Cina dan Jepang.

 

 

7. Ikan Mas Lokal

Ikan mas ini sebenarnya belum bisa digolongkan sebagai salah satu ras atau jenis ikan mas. Meskipun demikian, ikan ini justru paling banyak ditemukan di lapangan dan paling banyak dikenal oleh petani ikan dewasa ini.

Bentuk tubuh dan warnanya merupakan kombinasi dari beberapa jenis ikan mas yang sudah ada. Secara umum, bentuk tubuhnya memanjang dan matanya tidak sipit. Kemungkinan besar ikan ini muncul akibat perkawinan silang yang tidak terkontrol dengan jenis-jenis ikan mas lain yang ada di masyarakat.

 

2.1.3   Syarat dan Kebiasaan Hidup

Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150–600 meter di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30° C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas terkadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30%o.

Ikan mas tergolong jenis omnivora, yakni ikan yang dapat memangsa berbagai jenis makanan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Namun, makanan utamanya adalah tumbuhan dan binatang yang terdapat di dasar dan tepi perairan.

 

2.1.4   Perkembangbiakan.

Siklus hidup ikan mas dimulai dari perkembangan di dalam gonad (ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan yang menghasilkan sperma). Sebenarnya pemijahan ikan mas dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak tergantung pada musim. Namun, di habitat aslinya, ikan mas Bering memijah pada awal musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang air.

Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Menjelang memijah, induk-induk ikan mas aktif mencari tempat yang rimbun, seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan.

Sifat telur ikan mas adalah menempel pada substrat. Telur ikan mas berbentuk bulat, berwarna bening, berdiameter 1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20 mg. Ukuran telur bervariasi, tergantung dari umur dan ukuran atau bobot induk. Embrio akan tumbuh di dalam telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa.

Antara 2-3 hari kemudian, telur-telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva. Larva ikan mas mempunyai kantong kuning telur yang berukuran relatif besar sebagai cadangan makanan bagi larva. Kantong kuning telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4 hari. Larva ikan mas bersifat menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva antara 0,50,6 mm dan bobotnya antara 18-20 mg.

Larva berubah menjadi kebul (larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari. Pada stadia kebul ini, ikan mas memerlukan pasokan makanan dari luar untuk menunjang kehidupannya. Pakan alami kebul terutama berasal dari zooplankton, seperti rotifera, moina, dan daphnia. Kebutuhan pakan alami untuk kebul dalam satu hari sekitar 60-70% dari bobotnya.

Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang berukuran 1-3 cm dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian burayak tumbuh menjadi putihan (benih yang siap untuk didederkan) yang berukuran 3-5 cm dan bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus. Setelah tiga bulan berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya sekitar 100 gram.

Gelondongan akan tumbuh terus menjadi induk. Setelah enam bulan dipelihara, bobot induk ikan jantan bisa mencapai 500 gram. Sementara itu, induk betinanya bisa mencapai bobot 1,5 kg setelah berumur 15 bulan. Induk-induk ikan mas tersebut mempunyai kebiasaan mengaduk-aduk dasar perairan atau dasar kolam untuk mencari makanan.

 

2.1.5  Kebiasaan Makan

Biasanya, petani ikan lebih suka memberikan pakan tumbuhan terhadap ikan mas berupa dedak atau pellet. Padahal, ikan ini tergolong ikan pemakan segala ( omnovora ). Hal ini bisa dibuktikan dengan pemberian pakan dari sisa – sisa dapur atau tanaman air yang lunak.

Biasanya, benih ikan mas akan memakan Protozoa dan Crustacean. Benih yang berukuran 10 cm memakan jasad dasar seperti Chironomidae, Oligochaete, Epemenidae, Trichotera, Tubificidae, Mulusca dan lain sebagianya. Jasad – jasad tersebut dimakan bersama – sama dengan tanaman air yang membusuk dan bahan – bahan organik lainya.

2.2 PERSYARATAN LOKASI

            2.2.1  Syarat-syarat lokasi

1)    Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.

 

2)   Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

 

3)   Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150-1000 m dpl.

 

4)   Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.

 

5)   Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras debitnya 100 liter/menit/m3.

 

2.3 Teknik produksi pembenihan ikan mas

2.3.1. Persiapan Kolam

Persiapan kolam untuk kegiatan pemijahan ikan nila antara lain peneplokan/ perapihan pematang agar pematang tidak bocor, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan saringan di pintu pemasukan serta pengisian kolam dengan air. Pemasangan saringan dimaksudkan untuk menghindari masuknya ikan-ikan liar sebagai predator atau kompetitor yang dapat mempengaruhi kuantitas hasil produksi maupun kualitas benih yang dihasilkan.

2.3.1.1. Pengeringan

Pengeringan dasar kolam sangat dibutuhkan oleh ikan agar bakteri pembusuk yang dapat menyebabkan ikan sakit, racun sisa dekomposisi selama budidaya terbuang. Pada kolam pemijahan pengeringan dasar kolam bertujuan agar ikan dapat memijah karena tanah yang dikeringkan dan diairi akan melepaskan bau tertentu yang disebut petrichor, selain itu pengeringan dasar kolam dapat membunuh hama dan penyakit yang ada di dalam kolam.

2.3.1.2. Perbaikan Pematang

Perbaikan pematang bertujuan untuk mencegah kebocoran kolam. Kebocoran kolam dapat diakibatkan oleh binatang air seperti belut, kepiting dan hewan air lainnya.  Pematang bocor mengakibatkan air kolam tidak stabil dan benih ikan banyak yang keluar kolam.  Perbaikan pematang ini hanya dilakukan pada kolam tanah, sedangkan pada kolam tembok dilakukan perawatan dan pengecekan kebocoran pada setiap bagian pematang.

2.3.1.3 Pengolahan dasar kolam

Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan mencangkul dasar kolam sedalam 10 – 20 cm.  Tanah tersebut dibalik dan dibiarkan kering sampai 3-5 hari. Tujuan pengolahan dasar kolam adalah mempercepat berlangsungnya proses dekomposisi (penguraian) senyawa-senyawa organik dalam tanah sehingga senyawa yang beracun yang terdapat di dasar kolam akan menguap,  Tanah yang baru dicangkul diratakan.

2.3.1.4 Pengapuran.

Pengapuran dasar kolam sebaiknya dilakukan setelah pengolahan tanah. Pada saat tanah dibalikkan dan sambil menunggu kering tanah dasar, penebaran kapur dapat dilakukan. Pengapuran merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kestabilan keasaman (pH) tanah dan air, sekaligus memberantas hama penyakit. Jenis kapur yang digunakan untuk pengapuran kolam ada beberapa macam diantaranya adalah kapurpertanian, yaitu kapur carbonat : CaCO3 atau [CaMg(CO3)]2, dan kapur tohor/kapur aktif (CaO). Kapur pertanian yang biasa digunakan adalah kapur karbonat yaitu kapur yang bahannya dari batuan kapur tanpa lewat proses pembakaran tapi langsung digiling. Kapur pertanian ada dua yaitu Kalsit dan Dolomit. Kalsit 45 bahan bakunya lebih banyak mengandung karbonat, magnesiumnya sedikit (CaCO3), sedangkan dolomit bahan bakunya banyak mengandung kalsium karbonat dan magnesium karbonat [CaMg(CO3)]2, Dolomit merupakan kapur karbonat yang dimanfaatkan untuk mengapur lahan bertanah masam. Kapur tohor adalah kapur yang pembuatannya lewat proses pembakaran. Kapur ini dikenal dengan nama kapur sirih, bahannya adalah batuan tohor dari gunung dan kulit kerang. Dosis kapur yang akan ditebarkan harus tepat ukurannya karena jika berlebihan kapur akan menyebabkan kolam tidak subur, sedangkan bila kekurangan kapur dalam kolam akan menyebabkan tanah dasar kolam menjadi masam. Sebagai acuan dalam memberikan kapur pada kolam budidaya ikan Tetapi ada juga para petani menggunakan dosis kapur berkisar antara 100- 200gram/m2 hal ini dilakukan bergantung kepada keasaman tanah kolam.

 

Tabel Dosis kapur Tohor (CaO) menurut jenis tanah dan macam kolam dengan luas 100 meterpersegi

2.3.1.5  Pemupukan.

Pemupukan tanah dasar kolam bertujuan untuk meningkatkan kesuburan kolam, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang porous serta menumbuhkan phytoplankton dan zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami benih ikan. Jenis pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk buatan. Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran ternak besar (sapi, kerbau, kuda dan lain-lain) atau kotoran unggas (ayam, itik dan lain-lain) yang telah dikeringkan. Sedangkan pupuk buatan berupa bahan-bahan kimia yang dibuat manusia dipabrik pupuk yang berguna untuk menyuburkan tanah. Jenis pupuk buatan yang dapat digunakan antara lain adalah pupuk nitrogen (urea, ZA),pupuk phosphor (TSP), pupuk kalium (KCl) dan pupuk NPK yang merupakan gabungan dari ketiga hara tunggal. Dosis pupuk kandang juga bergantung kepada kesuburan kolam ikan, biasanya berkisar antara 100-150 gram/m2 sedangkan untuk kolam yang kurang kesuburannya dapat ditebarkan kotoran ayam sebanyak 300 – 500 gr/m2 . Dosis yang digunakan untuk pupuk buatan biasanya berkisar antara 200-300 gram/m2. Kolam dapat juga dipupuk menggunakan, TSP dan Urea masing-masing sebanyak 10 gr/m2 dan kapur pertanian sebanyak 25 – 30 gr/ m2 atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan.

 

 

 

 

2.3.1.6   Pemupukan.

Pemupukan tanah dasar kolam bertujuan untuk meningkatkan kesuburan kolam, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang porous serta menumbuhkan phytoplankton dan zooplankton

yang digunakan sebagai pakan alami benih ikan. Jenis pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk buatan. Pupuk kandang adalah

pupuk yang berasal dari kotoran ternak besar (sapi, kerbau, kuda dan lain-lain) atau kotoran unggas (ayam, itik dan lain-lain) yang telah dikeringkan. Sedangkan pupuk buatan berupa bahan-bahan kimia yang dibuat manusia dipabrik pupuk yang berguna untuk menyuburkan tanah. Jenis pupuk buatan yang dapat digunakan antara lain adalah pupuk nitrogen (urea, ZA), pupuk phosphor (TSP), pupuk kalium (KCl) dan pupuk NPK yang merupakan gabungan dari ketiga hara tunggal. Dosis pupuk kandang juga bergantung kepada kesuburan kolam ikan, biasanya berkisar antara 100-150 gram/m2 sedangkan untuk kolam yang kurang kesuburannya dapat ditebarkan kotoran ayam sebanyak 300 – 500 gr/m2 . Dosis yang digunakan untuk pupuk buatan biasanya berkisar antara 200-300 gram/m2. Kolam dapat juga dipupuk menggunakan, TSP dan Urea masing-masing sebanyak 10 gr/m2 dan kapur pertanian sebanyak 25 – 30 gr/ m2 atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan.

 

2.3.1.7. Pengairan

Kolam yang telah dikeringkan, dikapur dan di pupuk tersebut lalu diairi agar pakan alami di kolam tersebut tumbuh dengan subur. Pengairan ini harus dilakukan minimal 4 –7 hari sebelum larva/benih ikan di tebar ke dalam kolam pemeliharaan agar pakan alami tumbuh dengan sempurna. Ketinggian air di kolam ikan ini bergantung pada jenis kolam, untuk kolam pemijahan ketinggian air 0,75-1,00 m, kolam pemeliharaan 1-1,25 m (Gambar 2.38). Gambar 2.38. Mengairi kolam Wadah budidaya ikan (kolam) yang sudah dipersiapkan dan siap untuk dipergunakan sebagai wadah untuk kegiatan budidaya. Agar kolam yang dipergunakan senantiasa baik untuk kegiatan budidaya maka harus selalu dilakukan pengelolaan terhadap kolam budidaya baik kolam pemeliharaan, pemijahan, penetasan telur dan lain sebagainya. Pada pengelolaan kolam yang akan dipergunakan sebagai wadah pemeliharaan induk/calon induk sebaiknya mempunyai persyaratan yang sesuai dengan lingkungan yang layak bagi kehidupan induk. Hal-hal yang harus dilaksanakan dalam pengelolaan kolam induk ikan ini adalah :

 

2.3.2. Pembenihan

2.3.2.1. Pemeliharaan dan Seleksi Induk

1)    Pemeliharaan

Induk dipelihara di kolam khusus secara terpisah antara jantan dan betina. Pakan yang diberikan berupa pellet dengan kandungan protein 25%. Dosis pemberian pakan sebanyak 3% per bobot biomas per hari. Pakan tersebut diberikan 3 kali/hari.

Ikan betina yang diseleksi sudah dapat dipijahkan setelah berumur 1,5 – 2 tahun dengan bobot >2 kg. Sedangkan induk jantan berumur 8 bulan dengan bobot > 0,5 kg. Untuk membedakan jantan dan betina dapat dilakukan dengan jalan mengurut perut kearah ekor. Jika keluar cairan putih dari lubang kelamin, maka ikan tersebut jantan.

Ciri-ciri ikan betina yang siap pijah adalah: (secara sederhana)

* Pergerakan ikan lamban

* Pada malam hari sering meloncat-loncat

* Perut membesar/buncit ke arah belakang dan jika diraba terasa lunak

* Lubang anus agak membengkak/menonjol dan berwarna kemerahan

Sedangkan untuk ikan jantan mengeluarkan sperma (cairan berwarna putih) dari lubang kelamin bila di stripping.

1)      Seleksi Induk

Seleksi induk merupakan tahap awal dalam kegiatan budidaya ikan yang sangat menentukan keberhasilan produksi. Dengan melakukan seleksi induk yang benar akan diperoleh induk yang sesuai dengan kebutuhan sehingga produktivitas usaha budidaya ikan optimal. Seleksi induk ikan budidaya dapat dilakukan secara mudah dengan memperhatikan karakter fenotipenya atau dengan melakukan program breeding untuk meningkatkan nilai pemuliabiakan ikan budidaya. Induk ikan yang unggul akan menghasilkan benih ikan yang -unggul. Di Indonesia saat ini belum ada tempat sebagai pusat induk ikan yang menjamin keunggulan setiap jenis ikan. Induk ikan yang unggul pada setiap kegiatan usaha budidaya ikan dapat berasal dari hasil budidaya atau menangkap ikan di alam. Karakteristik induk yang unggul untuk setiap jenis ikan sangat berbeda. Hal-hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh para pembudidaya ikan dalam melakukan seleksi induk agar tidak terjadi penurunan mutu induk antara lain adalah :

• Mengetahui asal usul induk

• Melakukan pencatatan data tentang umur induk, masa reproduksi dan waktu pertama kali dilakukan pemijahan sampai usia produktif.

• Melakukan seleksi induk berdasarkan kaidah genetik

• Melakukan pemeliharaan calon induk sesuai dengan proses budidaya sehingga kebutuhan nutrisi induk terpenuhi.

• Mengurangi kemungkinan perkawinan sedarah

Untuk meningkatkan mutu induk yang akan digunakan dalam proses budidaya maka induk yang akan digunakan harus dilakukan seleksi. Seleksi ikan bertujuan untuk memperbaiki genetik dari induk ikan yang akan digunakan. Oleh karena itu dengan melakukan seleksi ikan yang benar akan dapat memperbaiki genetik ikan tersebut sehingga dapat melakukan pemuliaan ikan.

Tujuan dari pemuliaan ikan ini adalah menghasilkan benih yang unggul dimana benih yang unggul tersebut diperoleh dari induk ikan hasil seleksi agar dapat meningkatkan produktivitas. Produktivitas dalam budidaya ikan dapat ditingkatkan dengan beberapa cara yaitu :

1. Ekstensifikasi yaitu meningkatkan produktivitas hasil budidaya dengan memperluas lahan budidaya.

2. Intensifikasi yaitu meningkatkan produktivitas hasil dengan meningkatkan hasil persatuan luas dengan melakukan manipulasi terhadap faktor internal dan eksternal. Dengan bertambahnya jumlah penduduk sepanjang tahun dan jumlah lahan budidaya yang tidak akan bertambah jumlahnya, maka untuk meningkatkan produktivitas budidaya masa yang akan datang lebih baik menerapkan budidaya ikan yang intensif dengan memperhatikan aspek ramah lingkungan. Program intensifikasi dalam bidang budidaya ikan dapat dilakukan antara lainadalah :

1. Rekayasa faktor eksternal yaitu lingkungan hidup ikan dan pakan, contoh yang sudah dapat diaplikasikan adalah budidaya ikan pada kolam air deras dan membuat pakan ikan ramah lingkungan.

2. Rekayasa faktor internal yaitu melakukan rekayasa terhadap genetik ikan pada level gen misalnya transgenik, level kromosom misalnya Gynogenesis, Androgenesis, Poliploidisasi, level sel misalnya dengan melakukan transplantasim, sel.

3. Rekayasa faktor eksternal dan internal yaitu menggabungkan antara kedua rekayasa eksternal dan internal. Oleh karena itu agar dapat memperoleh produktivitas yang tinggi dalam budidaya ikan harus dilakukan seleksi terhadap ikan yang akan digunakan. Seleksi menurut Tave (1995) adalah program breeding yang memanfaatkan phenotypic variance (keragaman fenotipe) yang diteruskan dari tetua kepada keturunannya. Keragaman fenotipe merupakan penjumlahan dari keragaman genetik, keragaman lingkungan dan interaksi antara variasi lingkungan dan genetik. Seleksi merupakan aplikasi genetic dimana informasi genetik dapatm digunakan untuk melakukan seleksi. Seleksi ikan yang paling mudah dilakukan oleh para pembudidaya ikan adalah melakukan seleksi fenotipe dibandingkan dengan seleksi genotipe. Seleksi fenotipe dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu seleksi fenotipe kualitatif dan seleksi fenotipe kuantitatif. Menurut Tave (1986), seleksi fenotipe kualitatif adalah seleksi ikanberdasarkan sifat kualitatif seperti misalnya warna tubuh, tipe sirip, pola sisik ataupun bentuk tubuh dan bentuk punggung dan sebagainya yang diinginkan. Fenotipe kualitatif ini merupakan sifat yang tidak dapat diukur tetapi dapat dibedakan dan dikelompokkan secara tegas. Sifat ini dikendalikan oleh satu atau beberapa gen dan sedikit atau tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sedangkan seleksi fenotipe kuantitatif adalah seleksi terhadap penampakan ikan atau sifat yang dapat diukur, dikendalikan oleh banyak pasang gen dan dipengaruhi oleh lingkungan. Adapun ciri-ciri atau parameter yang dapat diukur antara lain adalah panjang tubuh, bobot, persentase daging, daya hidup, kandungan lemak, protein, fekunditas dan lain sebagainya. Fenotipe adalah bentuk luar atau bagaimana kenyataannya karakter yang dikandung oleh suatu individu atau fenotipe adalah setiap karakteristik yang dapat diukur atau sifat nyata yang dipunyai oleh organisme. Fenotipe merupakan hasil interaksi antara genotipe dan lingkungan serta interaksi antara genotipe dan lingkungan serta merupakan bentuk luar atau sifat-sifat yang tampak. Menurut Yatim (1996), genotipe menentukan karakter sedangkan lingkungan menetukan sampai dimana tercapai potensi itu. Fenotipe tidak bisa melewati kemampuan atau potensi genotipe. Yang dimaksud dengan karakter itu adalah sifat fisik dan psikis bagian-bagian tubuh atau jaringan. Karakter diatur oleh banyak macam gen, atau satu gen saja. Berhubung dengan banyaknya gen yang menumbuhkan karakter maka dibuat dua kelompok karakter yaitu karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Karakter kualitatif adalah karakter yang dapat dilihat ada atau tidaknya suatu karakter. Karakter ini tidak dapat diukur atau dibuat gradasi (diskontinyu). Sedangkan karakter kuantitatif adalah karakter yang dapat diukur nilai atau derajatnya, sehingga ada urutan gradasi dari yang rendah sampai yang tinggi (kontinu). Karakter kuanlitatif ditentukan ole satu atau dua gen saja sedangkan karakter kuantitatif disebabkan oleh banyak gen (tiga atau lebih). Dengan melakukan seleksi maka akan menghasilkan suatu karakter yang mempunyai nilai ekonomis penting dan karakter fenotipe yang terbaik sesuai dengan keinginan para pembudidaya. Untuk mendapatkan induk ikan yang unggul dilakukan program seleksi dengan menerapkan beberapa program pengembangbiakan antara lain dengan kegiatan selective breeding, hibridisasi/outbreeding/ crossbreeding, inbreeding, monoseks/ seks reversal atau kombinasi beberapa program breeding. Dalam bab ini akan dibahas semua program breeding tersebut sehingga dalam budidaya ikan akan diperoleh hasil baik induk dan benih yang unggul. Induk yang unggul akan menghasilkan benih yang unggul sehingga dengan memelihara benih unggul proses budidaya akan menguntungkan dengan melihat laju pertumbuhan ikan yang optimal sehingga produktivitas budidaya ikan akan meningkat.

 

  • Selective breeding

Selective breeding adalah suatu program breeding yang mencoba untuk memperbaiki nilai pemuliabiakan (breeding value) dari suatu populasi dengan melakukan seleksi dan perkawinan hanya pada ikan-ikan yang terbaik. Hasil yang akan diperoleh adalah induk yang terseleksi yang mempunyai karakteristik lebih baik dari populasi sebelumnya.

 

 

Selective breeding menurut Tave (1995) dapatdilakukan dengan dua cara yaitu :

1. Seleksi individu/massa

2. Seleksi famili

 

 

Tabel Perbandingan strategi, keuntungan dan kerugian dari seleksi individu (A), seleksi within family (B) dan seleksi between family (C) (Tave, 1985)

 

 

 

  • Outbreeding/Hibridisasi/ Crossbreeding

Outbreeding adalah perkawinan antara individu-individu yang tidak sekerabat (berbeda induknya), masih dalam satu varietas atau beda varietas. Outbreeding ini akan menghasilkan heterozigositas yang akan menguatkan individuindividunya terhadap perubahan lingkungan yang biasa disebut juga mempunyai fitnes yang tinggi. Fitnesn yaitu kemampuan relative pada organisma untuk bertahan hidup dan pemindahan gen untuk generasi berikutnya. Individu yang mempunyai heterosigositas yang tinggi maka akan mempunyai fitness yang tinggi pula. Oleh karena itu untuk memperoleh induk ikan yang mempunyai kemampuan hidup yang tinggi sebaiknya dalam proses budidaya harus dilakukan perkawinan yang terseleksi. Sedangkan crossbreeding atau hibridisasi merupakan program persilangan yang dapat diaplikasikan pada ikan, udang, kerang-kerangan maupun rumput laut. Hasil dari program ini dapat menghasilkan individu-individu yang unggul, kadang-kadang ada juga yang steril dan dapat menghasilkan strain baru (Rustidja, 2005). Hibridisasi akan mudah dilakukan apabila dapat dilakukan reproduksi buatan seperti halnya ikan mas dan ikan nila, dimana dapat dilakukan striping telur dan sperma. Selain itu ada defenisi lain dari hibridisasi yang sebenarnya tidak jauh berbeda. Hibridisasi adalah perkawinan antara spesies yang berbeda. Hibridisasi atau persilangan merupakan suatu upaya untuk mendapatkan kombinasi antara populasi yang berbeda untuk menghasilkan keturunan yang memiliki sifat unggul. Berdasarkan hal tersebut para ahli genetika perikanan membagai hibridisasi ke

dalam dua macam yaitu :

1. Interspecifik hibridisasi yaitu perkawinan antara spesies yang berbeda.

2. Intraspecipik hibridisasi yaitu perkawinan dalam satu species.

  • Seks reversal (monosex)

Seks reversal (monosex) adalah suatu teknologi yang membalikan arah perkembangan kelamin menjadi berlawanan. Cara ini dilakukan pada waktu menetas gonad ikan belum berdiferensiasi secara jelas menjadi jantan atau betina tanpa merubah genotipenya.

            2.3.2.2 Pemijahan

Dalam pemijahan, ikan dirangsang dengan cara membuat lingkungan perairan menyerupai keadaan lingkungan perairan umum dimana ikan ini memijah secara alami atau  hormon. Sehubungan dengan hal itu, maka langkah-langkah dalam pemijahan ikan mas adalah :

1)                    Mencuci dan mengeringkan wadah pemijahan (bak/kolam)

2)   Mengisi wadah pemijahan dengan air setinggi 75-100 cm

3)   Memasang hapa untuk mempermudah panen larva di bak atau di kolam dengan ukuran 4 x 3 x 1 meter. Hapa dilengkapi dengan pemberat agar tidak mengambang.

4)      Memasang kakaban di tempat pemihajan (dalam hapa). Kakaban dapat berupa ijuk yang dijepit bambu/papan dengan ukuran 1,5 x 0,4 m.

5)      Memasukkan induk jantan dan betina siap pijah. Jumlah induk betina yang dipijahkan tergantung pada kebutuhan benih lepas hapa dan luas kolam yang akan digunakan dalam pendederan 1. Bobot induk jantan sama dengan induk betina namun dengan jumlah yang lebih banyak

6)         Mengangkat induk yang memijah dan memindahkannnya ke kolam pemeliharaan induk

2.3.2.3. Perawatan Larva

Kakaban diangkat 3 hari setelah telur menetas atau setelah larva tidak menempel di kakaban. Pakan larva berupa suspensi kuning telur dengan frekuensi 5 kali per hari (satu telur untuk 100.000 ekor larva). Waktu perawatan larva ini selama 5 hari sehingga larva sudah tahan untuk ditebar di kolam.

2.3.2.4. Pendederan

Kolam yang akan digunakan untuk pendederan seharusnya sudah dipersiapkan sebelumnya. Padat tebar selama kegiatan pendederan tertera dalam Tabel 1dan 2

.

 

Tabel 1. Standar proses produksi benih ikan mas pada setiap tingkatan pemeliharaan di kolam

Tabel 2. Standar proses produksi benih ikan mas pada setiap tingkatan pemeliharaan di sawah

 

 

 

 

 

 

 

 

III METODOLOGI

3.1 Waktu Dan Tempat

3.1.1 Pemijahan

Waktu pemijahan dilakukan pada hari Senin, 1 April 2013 jam 07.30 – Selasa 2 April 2013 jam 05.00 di kolam pemijahan Departemen perikanan.

3.1.2. Pemeliharaan Larva

Pemeliharaan larva dilakukan 6 april 2013 – 22 April 2013 jam 13.50 WIB di kolam departemen perikanan.

3.1.3. Pendederan

Pendederan ikan mas dilakukan pada tanggal 6 april 2013 – 6 mei 2013 jam 10.00 WIB di kolam harempoy cianjur.

 

3.2 Alat dan Bahan

        3.2.1 Pemijahan

3.2.1.1 Alat

  • Kakaban
  • Aerator
  • Saringan
  • Induk ikan mas
  • Air
  • Plastic
  • Mangkok / piring
  • Aerator
  • Saringan
  • Selang

3.2.1.2 Bahan

3.2.2 Pemeliharan Larva

3.2.2.1 Alat

 

3.2.2.1 Bahan

  • Air
  • Larva ikan
  • Plastic
  • Ember
  • Benih ikan
  • Air

3.2.3 Pendederan

3.2.3.1 Alat

3.2.3.2 Bahan

 

3.3 langkah kerja

            3.3.1. Pemijahan

1)   Ambil induk ikan di kolam pembenihan di bawah departemen perikanan

2)      Pilih induk ikan yang sudah matang gonad

3)      Masukan induk ikan dan gabungkan di bak pemijahan

4)      Pasang kakaban di atas permukaan air di bak pemijahan

5)      Tunggu sampai ikan memijah sampai esok hari dan telurnya menempel di kakaban.

6)      Setelah ikan mengularkan telurnya pindahkan kakaban yang berisi telur ke kolam yang sudah disediakan.

7)      Bersikan kakaban dengan air mengalir

8)      Setelah itu baru masukan ke kolam yang sudah disiapkan

9)      Pasang aerasi di kolam penetasan.

10)  Hitung fekunditas ikan mas tersebut.

 

3.3.2. Pemeliharaan Larva

1)      Setelah ikan menetas kakaban dipindahkan dari bak pemijahan

2)      Pada saat pertama menetas larva masih mempunya kuning telur jadi tidak perlu pemberian pakan

3)      Disipon air setiap pagi agar air tetap jernih

4)      Setelah larva berusia 3 hari , larva di beri pakan kuning telur dengan kuning telur direbus terlebih dahulu

3.3.3 Pendederan

1)      Persiapan kolam terlebih dahulu, pengeringan,pembalikan,pengkapuran,pemupukan dan pengisian air

2)      Setelah ukuran benih ikan mas di dederkan di kolam

3)      Ikan yang ada di departemen di paking terlebih dahulu menggunakan plastic

4)      Setelah di packing ikan mas di bawa ke harempoy

5)      Setelah sampai harempoy ikan mas di aklimatisasi di kolam terlebih dahulu

6)      Setelah suhu sama ikan di tebar di kolam harempoy.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil

Berat Awal Ikan Betina :

Betina 1 : 2,1 kg

Betina 2 : 1,6 kg

Total Berat induk Betina 3,7 kg

Berat akhir setelah pemijahan 1,8 kg

Berat Awal Ikan Jantan :

  1. 6 ons
  2. 7 ons
  3. 5 ons
  4. 5 ons
  5. 4 ons
  6. 4 ons
  7. 4 ons
  8. 4 ons
  9. 4 ons
  10. 4 ons

 

Total Berat Induk Jantan 4,3 kg

Jumlah sampel telur 705 butir

Berat akhir setelah pemijahan 1,6 kg

Jumlah sampel telur 705 butir

Lama pemelihan 1 bln 2 minggu

8 kg = 560 ekor          1kg = 70 ekor

Pakan yang diberikan  : Hidropit (dedek)

FR 3-5 %

Frekuensi pakan 2 kali, sebanyak 1 ons jadi sekali pemberian pakan 0,5 ons

Ukuran kolam 7×6

 

Jumlah telur induk 1 :

Betina 1 – betina 2

2,1 kg – 1,6 kg = 0,5 kg = 500 gr/5 ons berat telur

Sampel telur 705 butir x 500 gr = 352.500 butir

Jumlah telur Induk 2 :

Berat awal – berat akhir

1,7 – 1,6 = 0,1 kg = 100 gr/1 ons berat telur

Sampel telur 705 butir x 100 gr = 70.500 butir

Jadi jumlah telur betina 1 dan 2 = 423.000 butir

 

 

 

 

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pemijahan

Pemijahan dilakukan di kolam departemen dengan induk betina rata-rata 3,8 kg dan 10 ikan jantan dengan berat sama 3,9 kg. dalahm hal ini pemijahan dengan menggunakan kakaban akan tetapi kakaban hanya ada sedikit jadi ikan yang bertelur telurnya mengeluarkannya ada yang tidak ke kakaban dan menempel di dasar kolam tetapi hal itu tidak mengapa karena walaupun didasar kolam telur itu mampu dibuahi dengan baik asalkan sel sperma jantan masuk ke mikrofil telur sibetina. Seperti menurut Effendi (2004), ikan mas menempel pada substrat seperti ijuk, kakaban.   Setelah telur sudah menetas induk jantan dan betina dipisahkan dari kolam agar si induk tidak makan si telur dikarenakan induk ikan sebelum dipijahkan induk tersebut belum di kasih makan/dipuasakan sehingga pada saat  telur keluar si induk memakan telur tersebut.

4.2.2 Penetasan

Faktor yang mempengaruhi penetasan adalah suhu dan sepses ikan pada penetasan ikan , ikan mas menetas 48 jam dan suhu optimal 28 – 30o C (effendi, 2004)  . pada praktetk kemarin telur sudah keluar pada Selasa 2 April 2013 jam 05.00 – kamis 4 april 2013 jam 06.30. dengan waktu 49 jam 30 menit dengan suhu 28o C. ikan sudah keluar dari telur.

4.2.3 Pembenihan

              Pada saat telur sudah menetas anak ikan tidak perlu di beri makan dikarenakan sudah memiliki kuning telur Setelah kuning telur habis, larva mengambil makanan dari luar atau lingkungan hidupnya (gusrina, 2004). Pada saat menetas ikan tidak perlu di beri makan karena sudah mempunyai kuning telur seperti pendapat buku ibu gusrina tadi, setelah 2 hari ikan baru di beri makan dengan menggunakan emulsi kuning telur ayam sampai umur pendederan yaitu 2 minggu pada saat awal menetas ikan tersebut. fase pemeliharaan larva merupakan fase yang paling sulit (effedi, 2004) oleh karena itu pemberian pakan harus berhati-hati, pemberian pakan juga harus disaring oleh kain agar benar-benar halus pakan tersebut untuk tidak mengotori perairan tersebut dan agar pakan lebih kecil dari bukaan mulut ikan nya tersebut.

4.2.4. Pengelolaan kolam

Pengelolaan kolam meliputi pengeringan kolam, pembalikan tanah, pengapuran dan pemupukan lalu pengisian air. Pada saat pembalikan tanah tidat dilakukan tapi sudah di olah oleh petani di kolam tetapi harus tahu prinsifnya bahwa pengelolahan kolam itu adalah  pengeringan kolam, pembalikan tanah, pengapuran dan pemupukan lalu pengisian air, untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam budidaya.

 

4.2.5 Pendederan

Pendederan dilakukan di kolam harempoy, pendederan di lakukan setelah pengelolahan kolam. Setelah kolam di olah  lalu larva ikan mas di dederkan di kolam harempoy dengan melalui proses aklimatisasi terlebih dahulu agar ikan tidak stress atapun mati karena perubahan suhu tidak lebih dari 5o C oleh sebab itu aklimatisasi sangat penting buat ikan.

 

4.2.6 Panen

Pemanenan dilakukan dengan car pengeringan kolam terlebih dahulu dengan waktu 2 jam pengeringan ,setelah kering ikan pun di panen secara masal. Pada waktu jam 10 siang  panen dilakukan.

 

V PENUTUP

 

5.1       Kesimpulan

Pemijahan harus dilakukan dengan banyak kakaban agar telur mudah dipindahkan ke kolam penetasan. Faktor yang mempengaruhi penetasan adalah suhu dan sepses ikan pada penetasan ikan , ikan mas menetas 48 jam dan suhu optimal 28 – 30o C (effendi, 2004)  .  Pada saat menetas ikan tidak perlu di beri makan karena sudah mempunyai kuning telur seperti pendapat buku ibu gusrina tadi, setelah 2 hari ikan baru di beri makan dengan menggunakan emulsi kuning telur ayam sampai umur pendederan yaitu 2 minggu pada saat awal menetas ikan tersebut. Pengelolaan kolam meliputi pengeringan kolam, pembalikan tanah, pengapuran dan pemupukan lalu pengisian air. lalu larva ikan mas di dederkan di kolam harempoy dengan melalui proses aklimatisasi terlebih dahulu agar ikan tidak stress atapun mati karena perubahan suhu tidak lebih dari 5o C oleh sebab itu aklimatisasi sangat penting buat ikan. Pemanenan seharusnya dilakukan pada pagi hari, pemanenan dilakukan dari kobakan dan sampai ujung pemalir tidak mengambil secara masah agar tidak mengotori perairan.

 

5.2 Saran

Dalam proses budidaya ikan mas selanjutnya seharusnya memperhatikan aspek-aspek dengan benar agar kegiatan budidaya berjalan dengan lancer dan menghasilkan yang maksimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSATAKA

 

Agus Rochdianto, 2005. Analisis Finansial Usaha Pembenihan Ikan Karper (Cyprinus carpio Linn) di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Skripsi S1 FE, Universitas Tabanan

·   Budi Daya Ikan Mas Secara Intensif. Khairuman, SP, Ir. Dodi Sudenda, MM, & Ir. Bambang Gunadi, M.Sc. AgroMedia Pustaka. Jakarta. 2008

 

·   http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_karper.  Diunduh desember 2010. Jam 19.00    WIB.

  • Anonim. 1999. Membangun perbenihan ikan yang lebih maju. Sinar tani no. 2789- tahun XXIX – 1999. Rabu 12 mei 1999.
    • Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta
    • Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.