Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

Mandarinfish (Synchiropus  splendidus )

Banyaknya ikan hias bernilai tinggi di Indonesia yaitu ikan clowfish, manvis, kuda laut dan terutama mandarinfish (Synchiropus splendidus) merupakan ikan yang unik, cantik bahkan dengan keunikan dan kecantikan warnanya menjadi salah satu dari sepuluh ikan tercantik didunia. Membuat ikan tersebut banyak dicari kalangan penghobi ikan hias untuk dijadikan.

Melihat prospek pasar yang cukup tinggi dan menjanjikan maka usaha ikan mandarinfish tampaknya akan mendapatkan keuntungan yang cukup tinggi. Namun untuk menghasilkan keuntungan yang cukup tinggi ini dibutuhkan bibit ikan yang unggul. Oleh karena itu diperlukan adanya pengetahuan, keterampilan, softskill dan wawasan yang tinggi tentang pemeliharaan dan pembiakan ikan mandarinfish.

Gambar 1. Mandarinfish.

:mandarin

Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan          : Animalia

Filum                : Chordata

Kelas                : Actinopterygii

Order               : Perciformes

Subordo           : Callionymoidei

Keluarga          : Callionymidae

Genus              : Synchiropus

Spesies            : Synchiropus splendidus

2.1.1. Morfologi

Ikan Mandarinfish merupakan anggota paling indah dari genus Synchiropus karena memiliki keunikan sendiri, tubuh unik dengan 2 sirip punggung berbeda rupa serta pola-pola garis tubuh yang tidak beraturan membuat penampilan mandarin fish menjadi eksotis, ditambah dengan warna ekor0range dan merah dengan pinggiran biru. Ikan ini juga kadang-kadang disebut ikan Psychedelic karena warna yang agak aneh. Mandarinfish Hijau maksimal ukurannya  6 cm atau 2,4 inci. Kepala lebar dan tertekan kebawa. Ikan ini dilengkapi dengan sirip perut yang besar dan bulat digunakan untuk berjalan atau berenang. Mandarinfish Hijau adalah ikan benar-benar flamboyan dan kadang-kadang disebut sebagai “ikan psikedelik” karena warna mencolok dan pola  tubuh yang dihiasi dengan pola mosaik rumit dengan berbagai warna yang kontras, biasanya hijau, biru, merah kuning dan oranye.

2.1.2. Habitat

Mandarinfish Hijau menghuni perairan pantai terumbu karang dan laguna dangkal yang dilindungi, termasuk dasar berlumpur dengan reruntuhan karang. Kisaran kedalaman untuk spesies ini adalah 1-18 meter / 3,3-59 kaki, hidup dengan kelompok-kelompok kecil atau berpasangan dan dapat bersembunyi di bawah foliose (daun) dan karang mati. Daerah penyebarannya adalah di barat Samudera Pasifik dan telah ditemukan di perairan Australia, Cina (Taiwan), Indonesia, Jepang, Malaysia, Mikronesia, Kaledonia Baru, Palau, Papua Nugini, dan Filipina. Jangkauan geografis membentang dari Kepulauan Ryukyu Jepang ke Australia. Spesies ini hanya ditemukan di perairan tropis.

2.1.3. Makanan dan Kebiasaan Makan

Mandarinfish menyukai makanan seperti krustasea kecil, misalnya amphipods dan isopoda, juga menyukai cacing air, protozoa dan hewan kecil lainnya namun dari gaya makannnya dan posisi mulutnya terlihat ikan ini adalah pemakan dasar. Pakan yang baik harus sesuai dengan bukaan mulut ikan dan berpareasi agar telur yang dihasilkan lebih maksimal dan berkualitas.

2.2. Manajemen Pengelolaan Induk Mandarinfish

2.2.1. Penempatan  lokasi

Lokasi yang digunakan dekat dengan pantai sehingga mudah mendapatkan air laut     dan terbebas dari pencemaran limbah. sebaiknya cukup banyak mendapatkan cahaya matahari sehingga dapat mencegah penyakit white spot pada ikan.

2.2.2. Persiapan Bak Induk

Wadah yang digunakan dalam pemeliharaan induk ikan hias mandarinfish yakni dapat berupa bak fiber, bak beton maupun yang terbuat dari plastic dan volumenya disesuaikan dengan kepadatan induk yang dipelihara. Biasanya 30 – 50 ekor per ton karena jika terlalu padat akan mudah terserang penyakit dan menularkan ke induk lainnya, kepadatan yang tinggi juga dapat menyebabkan bentrokan pada saat pemijahan. Wadah yang digunakan dilengkapi dengan pipa pemasukan (inlet) dan pengeluaran (outlet) air laut serta perlengkapan aerasi, jumlah titik aerasi pada masing – masing bak pemeliharan induk minimal 3 titik dengan tekanan yang sederhana agar telur tidak tercerai – berai sehingga memudahkan dalam pemanenan.

Gambar 2. Bak fiber

 2.2.3. Seleksi Induk

Penyeleksian dilakukan dengan penimbangan bobot, pengukuran panjang tubuh  ikan, pengamatan organ tubuh dan kondisi kesehatan ikan. Umumnya induk berukuran 5 – 7 cm dengan bobot 1,51 – 4 gram. Sebaiknya induk yang digunakan berukuran besar agar dapat menghasilkan telur yang banyak. Induk jantan mempunyai warna yang cerah dan sirip yang panjang dan corak yang banyak sedangkan betina mempunyai corak yang gelap dan sirip yang pendek.

(a)                              jantan       (b)betina

Gambar 3. (a) Jantan dan (b) Betina.

 

2.2.4. Manejemen  Induk

Dalam manajemen induk yang perlu diperhatikan adalah kesehatannya terutama napsu makan ikan dimana jika napsu makan menurun berati ikan tersebut kurang sehat dan perlu dilakukan penanganan  terutama perendaman air tawar untuk melepaskan parasit yang menempel pada tubuh ikan dan bersamaan dengan itu bak disterilkan dengan menggunakan kaporit untuk menghilangkan bibit-bibit penyakit tersebut dan setiap hari dilakukan penyiponan dasar bak untuk membersihkan kotoran di dasar bak.

  2.2.5. Manajemen Pemberian  Pakan

Pakan yang diberikan adalah pakan hidup (Life food) berup aartemia dewasa, copepoda, udang renik, larva mollucca dan cacing renik yang diberikan secara adlibitum. Karena pakan yang diberikan adalah pakan hidup sedangkan ikan hias mandarinfish termasuk ikan pemakan lambat dan terkadang pakan yang diberikan pada pagi hari belum habis di sore hari sehingga pemberian pakan dapat dilakukan 1 – 2 kali sehari. Sebaiknya induk makan pakan buatan berupa pelet karena pakan pelet merupkan pakan alternatif yang baik, baik dari segi jumlah, ukuran, nutrisi dan dapat di simpan dalam jangka waktu yang lama sehingga ketersediaannya dapat diatur.

2.2.6. Pengelolaan Kualitas Air

Mandarinfish dipelihara tanpa menggunakan air mengalir karena sebagian besar pakan yang diberikan dalam bentuk hidup dan ikan ini sangat lambat merespon pakan tersebut sehingga butuh waktu yang lama untuk menghabiskan pakan yang diberikan. Pengelolaan kualitas air pada pemeliharaan induk meliputi penyiponan dan pergantian air. Penyiponan  dilakukan  bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang mengendap di dasar bak, sedangkan pergantian air dilakukan untuk membuang sisa-sisa metabolisme yang larut di dalam air. sisa metabolisme atau kotoran tersebut tersebut dapat menyebabkan pembusukan yang pada akhirnya ikan stres, napsu makan menurun bahkan dapat menyebabkan penyakit.

Mandarinfish dapat dipelihara dengan sistim air mengalir akan tetapi saluran pembungan harus dirancang dengan menggunakan saringan agar pakan yang diberikan tidak hanyut terbawah oleh arus air yang keluar dan saringan tersebut tidak mudah tersumbat.

2.2.7 Pemijahan

Induk betina yang siap memijah ditandai dengan perut yang besar yang diikuti oleh jantan dengan melayarkan sirip punggungnya sambil mendekati betina hingga keduanya pelan-pelan naik kepermukaan sambil melepaskan telur dan sperma. Pemijahan terjadi pada waktu memasuki  malam/petang dan pemijahan secara alami. Pemijahan terjadi antara pukul 18.00-19.00. Telur ikan mandarin mengapung dipermukaan air dan saling melekat sehingga mudah dipanen. Data pemijahan induk periode Agustus – Oktober 2011 dapat dilihat pada pemijahan dapat berlangsung setiap malam tergantung banyaknya induk yang dipelihara.

 pemijahan
        Bab 4. Proses pemijahan

2.2.8  Panen Telur

Panen telur sebaiknya dilakukan pada malam hari karena jika keesokan harinya bias jadi telur tersebut sudah menetas. Teknik pemanenan telur dapat dilakukan dengan dua cara: pertama dengan menggunakan gayung dimana gumpalan-gumpalan telur tersebut diserok dan dipindahkan ke bak larva, kedua dengan menggunakan kolektor dengan system penampungan telur yang tentunya dengan system air mengalir.

Gambar 5. Telur mandarinfish

Gambar 6. Pembuahan sel telur

2.2.9. Pencegahan dan Pengobatan Terhadap Penyakit

Pencegahan penyakit terhadap induk ikan hias mandarinfish dapat dilakukan dengan teknik perendaman air tawar, batasan waktu yang diperlukan untuk perendaman tersebut disesuaikan dengan kemampuan ikan jika ikan sudah terserang penyakit tidak mampu bertahan lama di dalam air tawar sehingga harus dibarengi dengan pengobatan. Obat yang biasa digunakan adalah acriflavin dan elbasin. Biasanya jika ikan hias terserang penyakit dalam satu wadah maka yang lainya akan tertular sehingga secara keseluruhan harus ditangani namun jika ada yang sangat parah harus dipisahkan dengan yang lainnya untuk menghidari.

2.3.        Pemeliharaan Larva

Pada periode larva, ikan mengalami dua fase perkembangan, yaitu prolarva dan pasca larva. Ciri-ciri prolarva adalah masih adanya kuning telur, tubuh transfaran dengan beberapa pigmen yang belum diketahui fungsinya, serta adanya sirip dada dan sirip ekor walaupun bentuknya belum sempurna. mulut dan rahang belum berkembang dan ususnya masih merupakan tabung halus, pada saat tersebut makanan didapatkan dari kuning telur yang belum habis terserap.  Gerakan larva hanya terjadi sewaktu-waktu dengan menggerakan ekornya ke kiri dan ke kanan. Setelah memasuki pascalarva kuning telur sudah mulai habis dan beberapa organ terutama organ pencernaan sudah mulai terbentuk.

Larva ikan hias mandarinfish setelah berumur 3 hari, warna yang tadinya bening berubah menjadi gelap, kuning telur sudah menipis dan organ pencernaanpun sudah mulai terbentuk. Setelah memasuki umur 25 hari larva yang tadinya melayang-layang sudah mulai menempel di dinding/dasar bak, dengan kepala yang besar hampir mirip dengan seekor kecebong. Adapun tahapan perubahan warna mulai dari bening, hitam, coklat gelap dan coklat terang dimana pada fase ini garis-garis lorengnya sudah mulai kelihatan hingga akhirnya muncullah warna-warni yang indah setelah berumur sekitar 2 bulan pemeliharaan.

d1Gambar 7. Larva D1
Gamabr 8. Larva D 2

Gambar 9. Larva D3

 

2.3.1. Penanganan Larva

Dalam penanganan larva ikan hias mandarinfish, bak larva yang digunakan adalah bak fiber yang berukuran 2,5 ton dan dilengkapi dengan tiga titik batu  aerasi sebagai pensuplai oksigen kedalam air serta diberi penutup plastik pada bagian atas bak untuk menjaga kestabilan suhu. Larva yang berumur 2 hari  diberikan pakan berupa rotifer. Walaupun larva pada tahap ini kemungkinan belum mengkonsumsi makanan yang diberikan akan tetapi bertujuan untuk memperkenalkan pakan tersebut dan dipertahankan kepadatannya yaitu 10-15 sel/ml air dalam wadah pemeliharaan.

Gambar 10. Bak pemeliharaan larva

2.4. Pemeliharaan benih

Setelah berumur 25 hari atau 1 bulan berlahan-lahan benih diajarkan mengkonsumsi naupli artemia, akan tetapi pakan rotifer harus tetap dipertahankan. Pemberian pakan dapat dilakukan 1 atau 2 kali sehari namun kepadatannya harus dikontrol agar tidak berlebihan dan tidak kekurangan dimana kebutuhan pakan perharinya sulit diperhitungkan karena kepadatan larva dalam bak pemeliharaan juga sulit diperhitungkan SR nya. Hal ini disebabkan karena biasanya benih cenderung hanya menempati pojok-pojok bak pemeliharaan.  Setelah larva berumur 1,5 bulan maka benih tersebut sudah siap dipindahkan di bak pendederan karena pada umur tesebut larva sudah dapat beradaptasi pada lingkungan yang baru sehingga sudah dapat dipindahkan di akuarium atau wadah lain untuk didederkan.

Gambar 11.  Benih umur 1.5 bulan
Gambar 11.  Benih umur 3 bulan

Gamabr 12. Benih ikan mandarinfish

2.5. Hama dan Penyakit

2.5.1.   Cryptocaryon 
Penyakit ini disebabkan oleh serangan protozoa Cryptocaryon sp, yang lebih dikenal dengan nama penyakit bintik putih. Bagaian tubuh yang diserang adalah permukaan tubuh, ekor, insang dan mata. Gejala dari penyakit ini adalah mata ikan kerapu membengkak, insang dan mata ditumbuhi semacam kista sebesar kepala jarum pentul dan berwarna putih terjadi pendarahan pada bagaian sirip, produksi lendir tubuh meningkat, dan nafsu makan ikan hilang.Penyakit ini dapat diobati dengan merendam ikan dengan air laut yang telah dicampur formalin dengan dosis 100 ~ 150 ppm selama 15 ~ 30 menit.

2.5.2.   Hama Ubur –ubur

Larva ubur ubur yang masuk ke masuk ke bak pemeliharaan melalu inlet yang tidak tersaring dapat menjadi pesaing suplai oksigen bagi ikan.