Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

 

Ikan merupakan sumber prospek perekonomian dan potensial di budidayakan di indonesia yang cukup diminati oleh pembisnis dikarenakan harga ikan yang cukup mahal dan bayak di cari dikarenakan sebagai bahan protein yang di butuhkan untuk manusia untuk tumbuh. Pada ikan laut mempunyai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan ikan tawar dan payau terutama ikan Kerapu, Bawal bintang, Kakap dan rumput laut.

images(4)

 

 

Ikan kerapu mempunyai pasar yang menjajikan  didalam negeri ukuran kerapu Rp. 2000/cm , bahkan pasar ekspor seperti Hongkong, Taiwan dan Cina di jual dengan harga Rp. 7000,00/cm  (Puja et al, 2001). Ditambah permintaan kerapu terutama kerapu bebek dari tahun ke tahun terus meningkat dan Selain dari harga Ikan kerapu yang terus stabil dan meninkat

Pertengahan tahun 1980-an kerapu ini mulai di kembangkan oleh pemerintah dengan mengadakan di hatchery. Di Balai Budidaya Laut Lampung pada tahun 1993 terus mengupayakan membudidayakan kerapu bebek dan sudah dapat mengembangkan teknologi kerapu bebek dengan manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon untuk benih.

Oleh karena itu, pada saat ini budidaya ikan kerapu mempunyai peluang pasar yang masih terbuka. Namun demikian, untuk mengimplementasikannya dalam bentuk usaha berskala besar memerlukan kecermatan atas fenomena pasar ikan kerapu, baik sebagai komoditas ekspor maupun pasaran dalam negeri.

 

2.1. Klasifikasi Kerapu Bebek

Menurut Sunyoto (1994), Ikan kerapu terdapat dalam 46 spesies yang hidup di berbagai tipe habitat. Dari jumlah tersebut berasal dari 7 genus, yaitu Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Chromileptes, Epinephelus, Plectropomus dan Variola. Dari ketujuh genus tersebut, genus Chromileptes, Epinephelus, dan Plectropomus yang sekarang digolongkan ikan komersial, dan mulai dibudidayakan. Ikan kerapu Bebek, dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama Humback seabassPolka-dot grouper, ataupun Hump-backed rocked.

Ikan kerapu bebek dalam perdagangan Internasional mendapat julukan sebagai Panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik kecil bulat berwarna hitam. Kerapu Bebek selain ikan konsumsi, yang berukuran kecil mempunyai bentuk dan penampilan yang menarik sebagai ikan hias akuarium, oleh karena itu kerapu bebek mempunyai nama lain yang cukup populer dan cantik yaitu Grace Kelly (Antoro dkk. dalam Anonimous, 1999).

 

Menurut Randall (1987) klasifikasi ikan kerapu bebek adalah :

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class : Osteichtyes

Subclass : Actinopterigii

Ordo : Percomorphi

Subordo : Percoidea

Family : Serranidae

Subfamili : Epinephelinae

Genus : Cromileptes

Spesies : Cromileptes altivelis

images(6)

 

 

2.2  Morfologi

Ikan ini memiliki bentuk badan yang lonjong dan agak gepeng. serta bagian kepala memiliki bentuk yang mendatar, sehingga menyerupai kepala bebek. Moncongnya kelihatan meruncing seperti moncong tikus. Sirip punggung tersusun dari 10 jari-jari keras dan 17-19 jari-jari lunak, sirip dubur terdapat 3 jari-jari keras dan 10 jari-jari lunak. Ikan ini bisa mencapai ukuran panjang hingga 70 cm atau lebih namun yang umum ditangkap dan dikonsumsi kebanyakan berukuran 30-50 cm (Kordi, 2005).

 

Tubuh ikan ini memiliki warna dasar abu-abu dengan bintik-bintik hitam berukuran cukup besar dan terbatas jumlahnya. Warna badan bagian atas merah sawo matang, dibagian bawah keputihan dan pada seluruh tubuh baik kepala sampai ujung ekor termasuk siripnya, terdapat noda-noda berwarna coklat tua yang menyebar secara merata (Murtidjo, 2002).

 

 Habitat Dan Penyebaran

Pada umumnya, penyebaran ikan kerapu dapat dikatakan identik dengan penyebaran terumbu karang, daerah tersebut merupakan habitat utamanya (Murtidjo, 2002). Kerapu muda biasanya hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 meter. Setelah menginjak  dewasa berpindah ke perairan yang lebih dalam, yakni di kedalaman 7 – 40 meter. Biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan sore hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989 dalam  Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).

 

Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24-31 oC, salinitasnya antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8-8,0 (Yoshimitsu, 1986 dalam Anonimous, 1999).

Ikan kerapu tersebar luas dari wilayah Asia Pasifik termasuk Laut Merah, tetapi lebih terkenal dari teluk Persi, Hawai, atau Polinesia dan hampir seluruh perairan pulau tropis Hindia dan Samudera Pasifik Barat dari Pantai Timur Afrika sampai dengan Mozambika. Di Indonesia ikan kerapu bebek banyak didapati di daerah perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon dengan salah satu indikator adanya kerapu di daerah berkarang . Kerapu berkembang baik pada terumbu karang hidup maupun mati atau perairan karang berdebu dan tide pools .Dalam siklus hidup, kerapu bebek muda hidup diperairan karang pantai dengan kedalaman 3-5 m dan kerapu dewasa hidup pada kedalaman 40 – 60 m .Parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu pada kisaran suhu 24 – 31°C, salinitas antara 30 – 33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8,0 .(Departemen pertanian, Direktorat jenderal perikanan 1999).

 

Effendi, 2002 menyampaikan bahwa ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. mengatakan fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu bebek sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan umur ikan, indeks matang kelamin dan ukuran tubuh.  Induk kerapu bebek yang ditangkap di alam memiliki ukuran kecil dan pada umumnya berjenis kelamin betina.  Induk ikan akan mengalami pematangan kelamin sepanjang tahun.

 

 Kebiasaan Makan

Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1,70 – 1,78 mm, mata belum berpigmen, mulut dan anus belum terbuka. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama, pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ. Dan hari ke empat kuning telur telah habis terabsorbsi. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 – 29 ºC.

 

Setelah telur menetas sampai derngan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus, rotifera merupakan pakan pertama. Selanjutnya Muchari. et al. (1991) mengutip pendapat Blaxter dan Hempal dalam Tseng dan Chan (1985) kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh sutau keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal, sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia, dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan.

 

Ikan kerapu bersifat karnivora terutama larva molusca, rotifera, krustacea kecil, kopepoda, dan zooplankton. Sedangkan untuk ikan kerapu yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil, krustacea dan cepalophoda. Menurut Nybakken ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari. Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyianya.

 

 Siklus Hidup dan Reproduksi

Kerapu bebek bersifat hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan apabila tumbuh menjadi lebih besar  atau bertambah tua umurnya, fenomena ini berkaitan erat dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran. Kerapu matang gonad pada ukuran panjang 38 cm .Umumnya kerapu bersifat soliter tetapi pada saat akan memijah akan bergerombol musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada Bulan Juni – September dan Nopember – Februari terutama pada perairan kepulauan Riau, Karimun, Jawa dan Irian Jaya. Berdasarkan perilaku makannya ikan kerapu menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan salah satu sifat buruk dari ikan kerapu adalah sifat kanibal tapi pada kerapu bebek sifat kanibalis tidak seburuk pada kerapu macan dan kerapu lumpur (Tampubulon dan Mulyadi, 1989).

 

Ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan (Effendi, 2002).

 

 

 

 

 Cara Makan dan Jenis Makanan

Ikan kerapu tikus merupakan hewan karnivora yang memangsa ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan. Ikan kerapu tikus bersifat karnifora dan cenderung menangkap/memansa yang aktif bergerak di dalam kolam air (Nybakken, 1988 dan Anonim, 2001). Kerapu tikus juga cenderung bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu tikus tidak seperti jenis ikan kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu tikus lebih kecil (Cholik, dkk 2005).

Ikan kerapu tikus mencari makan hingga menyergap mangsa dari tempat persembunyiannya dengan cara memakan satu per satu makanan yang diberikan sebelum makanan tersebut sampai ke dasar ( Anonim, 2001 ).

 

 Siklus Hidup

Dalam siklus hidupnya, pada umumnya kerapu tikus muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5-7 meter selanjutnya menginjak masa dewasa berupaya ke perairan yang lebih dalam antara 7-40 meter, biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang hari dan senja hari, telur dan larva bersifat pelagis sedangkan kerapu muda hinggga dewasa bersifat demersal (Tampubolon dan Mulyadi, (1989).  Menurut Effendi (1979) menyatakan bahwa ikan kerapu merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, dimana proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau ikan kerapu ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. Fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Tampubolon dan Mulyadi, 1989).

 

Siklus Reproduksi dan Perkembangan Gonad

Ikan kerapu tikus ini bersifat hermaprodit protogini, yakni pada tahap perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantansetelah tumbuh besar /umurnya bertambah tua. Menentukan jenis kelamin jatan dan betina dapat di lakukan dengan dua cara yaitu menggunakan selang mikro (kanulasi) dan menggunakan metode pengurutan.

Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran (Subyakto dan Cahyaningsih 2003). Di habitat aslinya, kerapu melakukan pemijahan pada malam hari, yakni antara pukul 8 malam hingga 3 pagi. Biasanya, kerapu  jantan akan berenang berputar-putar mengikuti kerapu betina. Setelah kerapu betina mengeluarkan telurnya, kerapu jantan akan mengeluarkan spermanya kemudian telur akan di buah oleh sperma. Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Smith, 1982. dalam Subyakto S. Dan Cahyaningsih S. 2003)

Aspek Penggelolaan Induk

Bak Pemeliharaan Induk

Bak Pemeliharaan yang dipakai yaitu bak beton yang berbentuk bulat agar sirkulasi bisa berjalan lebih sempurna dan KJA.  Bak pemeliharaan induk berbentuk bulat dan bersamaan dengan bak pemijahan induk, kapasitas bak minimal adalah 50 m3 dengan kedalaman 2,5 – 3,0 m.

 Pemberian Pakan  

Pemberian pakan dengan menggunakan ikan rucah segar dengan kombinasi cumi – cumi. Frekuensi pemberian pakan sendiri yaitu 1 kali sehari dengan pemberian cumi – cumi 2 kali seminggu. Pemberian pakan pada waktu jam 07.00 WIB jenis ikan yang di diberikan yaitu ikan rucah dan pemberian vitamin E dan multivitamin 2 minggu sekali.

 

 

 Pemijahan

Menurut Effendie (1993), pemijahan ikan adalah pertemuan sel telur dan sperma yang umumnya terjadi secara eksternal. Selanjutnya menurut Liviawaty dan Afrianto (1999), pemijahan merupakan salah satu ciri makhluk hidup untuk mempertahankan kelestariannya keturunannya. Keberhasilan pemijahan sangat tergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya. Pemijahan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : (1). Pemijahan alami yaitu dengan cara membiarkan ikan memijah sendiri, (2). Pemijahan buatan yaitu dengan menggunakan teknik hipofisa, merangsang induk ikan dengan menambahkan sejumlah hormon gonadotropin.

Pasangan hidup yang telah matang gonad bila disatukan akan segera memijah akan tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pemijahan tersebut. Pertama yaitu musim pemijahan, letak geografis dan kondisi lingkungan dimana induk berada (Lestari, 1997). Menurut Imanto (1995), bahwa musim pemijahan ikan kerapu tikus diteluk Banten antara bulan juni-september di dalam keramba jaring apung dan bak terkontrol antara bulan Maret – Desember.

 

Perkembangan Telur

Menurut Subyakto (2003), ciri-ciri telur yang terbuahi adalah transparan, melayang di air atau mengapung di permukaan air, berdiameter 850-950 mikron, mempunyai gelembung minyak yang berdiameter 170-220 mikron dan terletak di bagian belakang (posterior) sehingga posisi embrio larvanya nungging. Telur yang terbuahi akan mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi embrio dan menetas menjadi larva sekitar 19 jam setelah di buahi. Sementara itu, warna telur yang tidak terbuahi segera berubah menjadi keruh atau putih susu dan mengendap di dasar bak.

 

Pembelahan sel pertama kali terjadi sekitar 40 menit setelah pembuahan dan pembelahan sel berikutnya berlangsung setiap 15-30 menit hingga mencapai tahap multisel selama 2 jam 25 menit sejak penetasan. Setelah tahap multisel, tahapan berikutnya adalah fase blastula, gastrula, neurula, dan embrio. Telur yang telah dibuahi berbentuk bulat, transparan, mengapung di permukaan air sedangkan yang tidak dibuahi berwarna putih dan tenggelam di dasar (Les in Polovina and Rainston., 1987; Antoro et ql., 1999; Usrnan, 1999). Telur yang dibuahi akan berkembang menjadi embrio dan akhirnya menetas menjadi larva.

 

Perkembangan Larva

Panjang tubuh total larva kerapu tikus hampir sama dengan jenis kerapu lainnya, yakni berkisar 1,5-2 mm. Sedangkan menurut Kohno et al, 1990 panjang total larva kerapu tikus, yakni 1,287-1,393 mm.ketika larva berumur satu hari (D1), saluran pencernaanya sudah mulai terlihat, tetapi mulut dan anusnya masih tertutup dan calon matanya yang transparan sudah terbentuk. Larva berumur dua hari (D2) bersifat planktonis, bergerak mengikuti arus, sistem penglihatannya belum berufungsi, dan masih memiliki kuning telur (yolk egg).

Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama (D1). Pada hari kedua (D2), sirip dada mulai terbentuk dan jaringan ususnya telah berkembang sampai ke anus (Sugama dkk. 2001).

 

Parameter Kualitas Air

Guna mendukung benih ikan kerapu tikus hidup dan tumbuh dengan baik, selain harus tersedia pakan yang bergizi dalam jumlah dan kualitas yang baik, kondisi lingkungan fisik dan kimiawi air harus berada pada kisaran yang optimum. Kualitas air yang berperan terhadap kelangsungan hidup pada pertumbuhan ikan kerapu tikus meliputi : suhu air, oksigen terlarut, pH air, salinitas dan ammonia (Akbar dan Sudaryanto, 2001).

Suhu pH DO Salinitas Amonia
27-31 oC 7.5-8.8. 4-12 ppm 31-33 ppt <0,060

 

Hama dan Penyakit

Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA adalah ikan buntal, burung, dan penyu. Sedang, jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis, (c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis, (d) penyakit akibat serangan bakteri, (e) penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus).