Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Ikan merupakan sumber prospek perekonomian dan potensial di budidayakan di indonesia yang cukup diminati oleh pembisnis dikarenakan harga ikan yang cukup mahal dan bayak di cari dikarenakan sebagai bahan protein yang di butuhkan untuk manusia untuk tumbuh. Pada ikan laut mempunyai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan ikan tawar dan payau terutama ikan Kerapu, Bawal bintang, Kakap dan rumput laut.

 

Ikan kerapu mempunyai pasar yang menjajikan  didalam negeri ukuran kerapu Rp. 2000/cm , bahkan pasar ekspor seperti Hongkong, Taiwan dan Cina di jual dengan harga Rp. 7000,00/cm  (Puja et al, 2001). Ditambah permintaan kerapu terutama kerapu bebek dari tahun ke tahun terus meningkat dan Selain dari harga Ikan kerapu yang terus stabil dan meninkat.

 

Pertengahan tahun 1980-an kerapu ini mulai di kembangkan oleh pemerintah dengan mengadakan di hatchery. Di Balai Budidaya Laut Lampung pada tahun 1993 terus mengupayakan membudidayakan kerapu bebek dan sudah dapat mengembangkan teknologi kerapu bebek dengan manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon untuk benih.

 

Oleh karena itu, pada saat ini budidaya ikan kerapu mempunyai peluang pasar yang masih terbuka. Namun demikian, untuk mengimplementasikannya dalam bentuk usaha berskala besar memerlukan kecermatan atas fenomena pasar ikan kerapu, baik sebagai komoditas ekspor maupun pasaran dalam negeri.

 

 

 

1.2. Tujuan

  • Mengetahui  teknik pembenihan kerapu
  • Mengetahi mengaplikasikan diteori dalam praktek
  • Mengetahui permasalahan yang timbul dalam pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis).
  • Sebagai salah satu syarat dalam outscorsing
  • Dapat mengatasi masalah yang timbul dalam budidaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1. Klasifikasi Kerapu Bebek

Menurut Sunyoto (1994), Ikan kerapu terdapat dalam 46 spesies yang hidup di berbagai tipe habitat. Dari jumlah tersebut berasal dari 7 genus, yaitu Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Chromileptes, Epinephelus, Plectropomus dan Variola. Dari ketujuh genus tersebut, genus Chromileptes, Epinephelus, dan Plectropomus yang sekarang digolongkan ikan komersial, dan mulai dibudidayakan. Ikan kerapu Bebek, dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama Humback seabassPolka-dot grouper, ataupun Hump-backed rocked.

Ikan kerapu bebek dalam perdagangan Internasional mendapat julukan sebagai Panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik kecil bulat berwarna hitam. Kerapu Bebek selain ikan konsumsi, yang berukuran kecil mempunyai bentuk dan penampilan yang menarik sebagai ikan hias akuarium, oleh karena itu kerapu bebek mempunyai nama lain yang cukup populer dan cantik yaitu Grace Kelly (Antoro dkk. dalam Anonimous, 1999).

 

Menurut Randall (1987) klasifikasi ikan kerapu bebek adalah :

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class : Osteichtyes

Subclass : Actinopterigii

Ordo : Percomorphi

Subordo : Percoidea

Family : Serranidae

Subfamili : Epinephelinae

Genus : Cromileptes

Spesies : Cromileptes altivelis

 

 

 

 

2.2  Morfologi

Ikan ini memiliki bentuk badan yang lonjong dan agak gepeng. serta bagian kepala memiliki bentuk yang mendatar, sehingga menyerupai kepala bebek. Moncongnya kelihatan meruncing seperti moncong tikus. Sirip punggung tersusun dari 10 jari-jari keras dan 17-19 jari-jari lunak, sirip dubur terdapat 3 jari-jari keras dan 10 jari-jari lunak. Ikan ini bisa mencapai ukuran panjang hingga 70 cm atau lebih namun yang umum ditangkap dan dikonsumsi kebanyakan berukuran 30-50 cm (Kordi, 2005).

 

Tubuh ikan ini memiliki warna dasar abu-abu dengan bintik-bintik hitam berukuran cukup besar dan terbatas jumlahnya. Warna badan bagian atas merah sawo matang, dibagian bawah keputihan dan pada seluruh tubuh baik kepala sampai ujung ekor termasuk siripnya, terdapat noda-noda berwarna coklat tua yang menyebar secara merata (Murtidjo, 2002).

 

2.3  Habitat Dan Penyebaran

Pada umumnya, penyebaran ikan kerapu dapat dikatakan identik dengan penyebaran terumbu karang, daerah tersebut merupakan habitat utamanya (Murtidjo, 2002). Kerapu muda biasanya hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 meter. Setelah menginjak  dewasa berpindah ke perairan yang lebih dalam, yakni di kedalaman 7 – 40 meter. Biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan sore hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989 dalam  Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).

 

Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24-31 oC, salinitasnya antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8-8,0 (Yoshimitsu, 1986 dalam Anonimous, 1999).

Ikan kerapu tersebar luas dari wilayah Asia Pasifik termasuk Laut Merah, tetapi lebih terkenal dari teluk Persi, Hawai, atau Polinesia dan hampir seluruh perairan pulau tropis Hindia dan Samudera Pasifik Barat dari Pantai Timur Afrika sampai dengan Mozambika. Di Indonesia ikan kerapu bebek banyak didapati di daerah perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon dengan salah satu indikator adanya kerapu di daerah berkarang . Kerapu berkembang baik pada terumbu karang hidup maupun mati atau perairan karang berdebu dan tide pools .Dalam siklus hidup, kerapu bebek muda hidup diperairan karang pantai dengan kedalaman 3-5 m dan kerapu dewasa hidup pada kedalaman 40 – 60 m .Parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu pada kisaran suhu 24 – 31°C, salinitas antara 30 – 33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8,0 .(Departemen pertanian, Direktorat jenderal perikanan 1999).

 

Effendi, 2002 menyampaikan bahwa ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. mengatakan fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu bebek sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan umur ikan, indeks matang kelamin dan ukuran tubuh.  Induk kerapu bebek yang ditangkap di alam memiliki ukuran kecil dan pada umumnya berjenis kelamin betina.  Induk ikan akan mengalami pematangan kelamin sepanjang tahun.

 

2.3.1.  Kebiasaan Makan

Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1,70 – 1,78 mm, mata belum berpigmen, mulut dan anus belum terbuka. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama, pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ. Dan hari ke empat kuning telur telah habis terabsorbsi. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 – 29 ºC.

 

Setelah telur menetas sampai derngan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus, rotifera merupakan pakan pertama. Selanjutnya Muchari. et al. (1991) mengutip pendapat Blaxter dan Hempal dalam Tseng dan Chan (1985) kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh sutau keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal, sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia, dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan.

 

Ikan kerapu bersifat karnivora terutama larva molusca, rotifera, krustacea kecil, kopepoda, dan zooplankton. Sedangkan untuk ikan kerapu yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil, krustacea dan cepalophoda. Menurut Nybakken ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari. Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyianya.

 

2.3.2.  Siklus Hidup dan Reproduksi

Kerapu bebek bersifat hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan apabila tumbuh menjadi lebih besar  atau bertambah tua umurnya, fenomena ini berkaitan erat dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran. Kerapu matang gonad pada ukuran panjang 38 cm .Umumnya kerapu bersifat soliter tetapi pada saat akan memijah akan bergerombol musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada Bulan Juni – September dan Nopember – Februari terutama pada perairan kepulauan Riau, Karimun, Jawa dan Irian Jaya. Berdasarkan perilaku makannya ikan kerapu menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan salah satu sifat buruk dari ikan kerapu adalah sifat kanibal tapi pada kerapu bebek sifat kanibalis tidak seburuk pada kerapu macan dan kerapu lumpur (Tampubulon dan Mulyadi, 1989).

 

Ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan (Effendi, 2002).

 

 

 

 

2.3.3. Cara Makan dan Jenis Makanan

Ikan kerapu tikus merupakan hewan karnivora yang memangsa ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan. Ikan kerapu tikus bersifat karnifora dan cenderung menangkap/memansa yang aktif bergerak di dalam kolam air (Nybakken, 1988 dan Anonim, 2001). Kerapu tikus juga cenderung bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu tikus tidak seperti jenis ikan kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu tikus lebih kecil (Cholik, dkk 2005).

Ikan kerapu tikus mencari makan hingga menyergap mangsa dari tempat persembunyiannya dengan cara memakan satu per satu makanan yang diberikan sebelum makanan tersebut sampai ke dasar ( Anonim, 2001 ).

 

2.3.4. Siklus Hidup

Dalam siklus hidupnya, pada umumnya kerapu tikus muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5-7 meter selanjutnya menginjak masa dewasa berupaya ke perairan yang lebih dalam antara 7-40 meter, biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang hari dan senja hari, telur dan larva bersifat pelagis sedangkan kerapu muda hinggga dewasa bersifat demersal (Tampubolon dan Mulyadi, (1989).  Menurut Effendi (1979) menyatakan bahwa ikan kerapu merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, dimana proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau ikan kerapu ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. Fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Tampubolon dan Mulyadi, 1989).

 

2.3.5. Siklus Reproduksi dan Perkembangan Gonad

Ikan kerapu tikus ini bersifat hermaprodit protogini, yakni pada tahap perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantansetelah tumbuh besar /umurnya bertambah tua. Menentukan jenis kelamin jatan dan betina dapat di lakukan dengan dua cara yaitu menggunakan selang mikro (kanulasi) dan menggunakan metode pengurutan.

Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran (Subyakto dan Cahyaningsih 2003). Di habitat aslinya, kerapu melakukan pemijahan pada malam hari, yakni antara pukul 8 malam hingga 3 pagi. Biasanya, kerapu  jantan akan berenang berputar-putar mengikuti kerapu betina. Setelah kerapu betina mengeluarkan telurnya, kerapu jantan akan mengeluarkan spermanya kemudian telur akan di buah oleh sperma. Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Smith, 1982. dalam Subyakto S. Dan Cahyaningsih S. 2003)

2.4. Aspek Penggelolaan Induk

2.4.1. Bak Pemeliharaan Induk

Bak Pemeliharaan yang dipakai yaitu bak beton yang berbentuk bulat agar sirkulasi bisa berjalan lebih sempurna dan KJA.  Bak pemeliharaan induk berbentuk bulat dan bersamaan dengan bak pemijahan induk, kapasitas bak minimal adalah 50 m3 dengan kedalaman 2,5 – 3,0 m.

2.4.2. Pemberian Pakan  

Pemberian pakan dengan menggunakan ikan rucah segar dengan kombinasi cumi – cumi. Frekuensi pemberian pakan sendiri yaitu 1 kali sehari dengan pemberian cumi – cumi 2 kali seminggu. Pemberian pakan pada waktu jam 07.00 WIB jenis ikan yang di diberikan yaitu ikan rucah dan pemberian vitamin E dan multivitamin 2 minggu sekali.

 

 

2.5. Pemijahan

Menurut Effendie (1993), pemijahan ikan adalah pertemuan sel telur dan sperma yang umumnya terjadi secara eksternal. Selanjutnya menurut Liviawaty dan Afrianto (1999), pemijahan merupakan salah satu ciri makhluk hidup untuk mempertahankan kelestariannya keturunannya. Keberhasilan pemijahan sangat tergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya. Pemijahan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : (1). Pemijahan alami yaitu dengan cara membiarkan ikan memijah sendiri, (2). Pemijahan buatan yaitu dengan menggunakan teknik hipofisa, merangsang induk ikan dengan menambahkan sejumlah hormon gonadotropin.

Pasangan hidup yang telah matang gonad bila disatukan akan segera memijah akan tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pemijahan tersebut. Pertama yaitu musim pemijahan, letak geografis dan kondisi lingkungan dimana induk berada (Lestari, 1997). Menurut Imanto (1995), bahwa musim pemijahan ikan kerapu tikus diteluk Banten antara bulan juni-september di dalam keramba jaring apung dan bak terkontrol antara bulan Maret – Desember.

 

2.6.  Perkembangan Telur

Menurut Subyakto (2003), ciri-ciri telur yang terbuahi adalah transparan, melayang di air atau mengapung di permukaan air, berdiameter 850-950 mikron, mempunyai gelembung minyak yang berdiameter 170-220 mikron dan terletak di bagian belakang (posterior) sehingga posisi embrio larvanya nungging. Telur yang terbuahi akan mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi embrio dan menetas menjadi larva sekitar 19 jam setelah di buahi. Sementara itu, warna telur yang tidak terbuahi segera berubah menjadi keruh atau putih susu dan mengendap di dasar bak.

 

Pembelahan sel pertama kali terjadi sekitar 40 menit setelah pembuahan dan pembelahan sel berikutnya berlangsung setiap 15-30 menit hingga mencapai tahap multisel selama 2 jam 25 menit sejak penetasan. Setelah tahap multisel, tahapan berikutnya adalah fase blastula, gastrula, neurula, dan embrio. Telur yang telah dibuahi berbentuk bulat, transparan, mengapung di permukaan air sedangkan yang tidak dibuahi berwarna putih dan tenggelam di dasar (Les in Polovina and Rainston., 1987; Antoro et ql., 1999; Usrnan, 1999). Telur yang dibuahi akan berkembang menjadi embrio dan akhirnya menetas menjadi larva.

 

2.7. Perkembangan Larva

Panjang tubuh total larva kerapu tikus hampir sama dengan jenis kerapu lainnya, yakni berkisar 1,5-2 mm. Sedangkan menurut Kohno et al, 1990 panjang total larva kerapu tikus, yakni 1,287-1,393 mm.ketika larva berumur satu hari (D1), saluran pencernaanya sudah mulai terlihat, tetapi mulut dan anusnya masih tertutup dan calon matanya yang transparan sudah terbentuk. Larva berumur dua hari (D2) bersifat planktonis, bergerak mengikuti arus, sistem penglihatannya belum berufungsi, dan masih memiliki kuning telur (yolk egg).

Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama (D1). Pada hari kedua (D2), sirip dada mulai terbentuk dan jaringan ususnya telah berkembang sampai ke anus (Sugama dkk. 2001).

 

2.8. Parameter Kualitas Air

Guna mendukung benih ikan kerapu tikus hidup dan tumbuh dengan baik, selain harus tersedia pakan yang bergizi dalam jumlah dan kualitas yang baik, kondisi lingkungan fisik dan kimiawi air harus berada pada kisaran yang optimum. Kualitas air yang berperan terhadap kelangsungan hidup pada pertumbuhan ikan kerapu tikus meliputi : suhu air, oksigen terlarut, pH air, salinitas dan ammonia (Akbar dan Sudaryanto, 2001).

Suhu pH DO Salinitas Amonia
27-31 oC 7.5-8.8. 4-12 ppm 31-33 ppt <0,060

 

2.9. Hama dan Penyakit

Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA adalah ikan buntal, burung, dan penyu. Sedang, jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis, (c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis, (d) penyakit akibat serangan bakteri, (e) penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
METEDOLOGI

 

3.1. Waktu dan Tempat

Praktek magang ini dilaksanakan pada tanggal 15 – 28 Juni 2014 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung yang terletak di jalan Yos Sudarso, Desa Hanura, KecamatanPadang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

 

3.2. Bahan dan Alat

Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam melakukan pembenihan ikankerapu tikus

(Cromileptes altifelis) antara lain, sebagai berikut:

Tabel 1. Alat – alat yang digunakan dalam kegiatan pembenihan ikan Kerapu bebek

(Cromileptes altifelis)

 

Tabel 2. Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan pembenihan ikan Kerapu bebek

(Cromileptes altifelis).

 

 

 

3.3. Langkah Kerja

  • Membersihkan wadah pemijahan, pembenihan dan pembenihan.

Pembersihan bak dilakukan dengan cara menyikat bagian bak yang kotor dan bayak terdapat lender ikan. Bak yang kotor dapat menyebabkan tumbuhnya bakteri dan lendir ikan akan mengakibatkan tubuhnya jamur.

  • Pengeringan wadah pemijahan, penetasan dan pembenihan.

Pengeringan dilakukan untuk menguapkan senyawa – senyawa beracun dan mematikan bakteri yang ada dalam bak.

  • Persiapan alat – alat.

Persiapan alat – alat seperti alat kualitas air, alat lab, aerasi.

  • Pengisian air.

Pengisian air dilakukan pada saat setelah pengeringan minimal 1 hari. Dan pengisian wadah pemijahan tidak boleh terlalu penuh agar induk ikan tidak loncat ke luar wadah.

 

  1. Pengelolaan induk

Pengelolaan induk dilakukan untuk mendapatkan calon induk yang sudah siap memijah dan mendapatkan hasil anakan yang baik dan berkualitas. Tahap nya antara lain adalah

  1. Pemilihan calon induk
  • Tidak memiliki morfologi yang cacat.

Mempunyai morfologi yang lengkap tidak ada yang rusak ataupun kehilangan bagian organ tubuh luarnya seperti sirip dan tubuh luka yang akibat dari hasil inbreeding.

  •   Tidak dalam keadaan stress.

Pencarian ikan yang tidak stress dimaksudkan agar ikan mau memijah, jika ikan dalam keadaan stress maka ikan akan menolak untuk memijah.

  • Matang gonad.

Matang gonad sangat penting dalam pemijahkan, ikan yang matang gonad akan menentukan kualitas telur dan sperma.

  • Tidak sakit.

Diharapkan ikan tidak keadaan sakit, karena pada saat sakit ikan akan cenderung menstabilkan tubuhnya dan banyak berdiam diri. Jika ikan sakit diharapkan untuk di pisahkan dan di rawat terlebih dahulu hingga sehat keembali.

  1.  Seleksi induk jantan dan betina
  2. Pemberian pakan induk
  • Pemberian pakan 1 kali sehari at libitum.

Untuk mengasilkan anak yang baik, ikan diberi pakan untuk mendapatkan energi, dari energi ikan tersebut digunakan oleh ikan untuk proses perkembangan gonad dan kesehatan telur.

  • Pemberian pakan ikan segar.
  1. Pemijahan induk
  • Sistem manipulasi lingkungan
  1. Penetasan telur dan pemeliharaan larva.
  2. Mengkondisikan suhu air.
  • Penggunaan Suhu 29 – 30°C.
  1. Pemindahan Telur ke bak penetasan.
  2. Pemberian pakan alami
  • Pengecekan kuning telur

Pengecekan kuning telur merupakan proses untuk menentukan pemberian pakan terhadap ikan tersebut. .

  •    Pemberian pakan berupa rotifer, naupli artemia dan pelet
  1.   Pengelolaan kualitas air
  • Mengukur pH, Suhu , Amoniak , dan kadar oksigen air.

Pengukuran kualitas air dilakukan seminggu 1 sekali kecuali suhu yang dilakukan setiap hari.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit
  • Membersikan bak penetasan.

Pengendalian penyakit dengan membersikan bak penetasan dan mengendapkan air tersebut.

  • Mensterilkan sekitar bak penetasan.

Mensterilkan bak dari kotoran dan sampah daun ataupun serangga agar mencegah penyakit masuk ke wadah.

  • Menutup bagian atas wadah.

Penutupan agar mencegah masuknya benda asing ke dalam wadah dan pengaturan suhu agar tetap stabil.

  1.  Perhitungan jumlah telur.
  • Menimbang berat induk betina sebelum dan sesudah ovulasi.
  • Menimbang sample telur.
  • Menghitung telur.

Jumlah sample / berat sample = jumlah telur / (berat induk betina sebelum dipijahkan – sesudah dipijahkan).

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pembenihan

4.1.1. Bak pemeliharaan Induk

Wadah merupakan bagian yang sangat penting yang   sebelum melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pembenihan ikan termasuk dalam pengelolaan induk. Wadah yang digunakan di BBPBL Lampung untuk pemeliharaan dan pemijahan induk merupakan wadah yang sama. Wadah ini terbagi atas 2 jenis yaitu keramba jaring apung dan bak terkontrol yang terbuat dari beton dan berbentuk tabung dengan diameter 3 dengan ketinggian 3 meter dan kapasitas daya tampung ± 84,86 m sementara keramba jarring apung yaitu 3 x 3 x 3 m.

 

4.1.2. Penyediaan Induk

Induk yang berada di BBPBL mempunyai panjang 40 – 62 cm dan berat 1,4 – 4,8 kg. Induk betina memiliki berat dan panjang antara 1,4 – 4,8 kg dan 40 – 60 cm. Pemeliharaan induk sudah hasil famili 1 yaitu sudah merupakan hasil balai sendiri.

 

4.1.3. Pemeliharaan Induk 

4.1.3.1. Pemberian pakan

Pakan diberikan pada induk untuk mempertahankan hidup perkembangan gonad. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah jenis ikan kuniran, cumi-cumi dan kerang-kerangan. Disimpan dalam lemari pendingin guna mempertahankan kualitasagar tetap baik. Sebelum diberikan, terlebih dahulu pakan ini di rendam kedalam air guna mencairkan es – es yang terdapat pada pakan.

 

Selain pakan ikan rucah dan cumi, induk juga diberikan vitamin Cdan E berbentuk kapsul dan spirulina berbentuk tablet. Menurut Wardoyodan Muchsin (1990), vitamin E dapat memperlancar kerja fungsi sel-sel kelamin dengan bertambahnya fungsi hormon gonadotropin sertamenguatkan jaringan indung telur dan vitamin C berperan dalam menjagakondisi kesehatan induk, mempercepat kematangan gonad dan dapatmeningkatkan kualitas telur. Vitamin diberikan 2 kali dalam seminggu sementara spirulina diberikan setiap hari.

 

4.1.3.2. Pencegahan Penyakit

Pengendalian terhadap penyakit induk kerapu tikus (Cromileptes altivelis) dilakukan apabila ada induk yang terserang penyakit atau paling tidak dilakukan sekali dalam sebulan. Parasit pembawa penyakit yang ditemukan pada induk banyak. Pencegahan dan pengobatan dilakukan menggunakan air tawar dan obat acriflavin air tawar dipakai untuk merendam induk-induk dengan tujuan agar parasit-parasit yang menempel pada tubuh induk mati karena ada sebagian parasite yang hidup di air laut akan mati setelah terkena air tawar. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugama dkk (2001), bahwa untuk menghindari serangan penyakit disarankan untuk membersihkan induk dengan perendaman air tawar setiap bulan sebelum induk memijah.

 

4.1.4. Pemijahan

Pasangan induk yang telah matang gonad apabila dikumpulkan dalam satu tempat, pada waktunya akan terjadi pemijahan akan tetapi ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pemijahan tersebut. Pertama adalah faktor teknis yang meliputi penanganan induk, seleksi induk dan metode yang digunakan, kedua adalah faktor nonteknis yang meliputi iklim, letak geografis dan kondisi lingkungan dimana induk berada. seekor induk betina berukuran 3 – 4 kg dapat menghasilkan 200 – 300 ribu butir telur per satu kali memijah. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air, sedangkan telur yang tidak dibuahi dan mati akan mengendap didasar pada slinitas air antara 28 -35 ppt.

Pemijahan kerapu tikus terjadi sepanjang tahun (12 kali) artinya waktu pemijahan ikan ini tidak tergantung pada musim. Ikan kerapu tergolong memijah secara ovipar, yaitu mengeluarkan telur ketika memijah dan perbandingan induk jantan dan betina yang akan dipijahkan adalah 1:2 dengan berat berkisar antara 1 – 4 kg. Metode pemijahan yang digunakan di BBPBL Lampung menggunakan metode manipulasi lingkungan dengan menaikan dan menurunkan suhu. Pemijahan kerapu bebek terjadi pada 21.00 – 02.00 WIB, hal ini seperti pendapat Antoro et al. (1999) Bahwa pemijahan ikan kerapu bebek di bak terkontrol dapat terjadi malam hari antara jam 19.00 – 02.00 WIB dan pada bulan gelap dengan frekuensi pemijahan setiap bulan 5 – 12 kali.

 

4.1.4.1.  Pemanenan Telur

Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00-08.00 wib. Pemanenan harus dilakukan secara hati – hati agar perkembangan emberio tidak terganggu sehingga dapat berkembang dengan baik dansempurna. Pemanenan menggunakan scop net berukuran 400 mikron. Telur – telur yang telah diserok dimasukkan ke dalam ember berukuran 10 atau 20 liter yang telah berisi air laut. Kemudian telur – telur   tersebut dipindahkan ke dalam akuarium yang berukuran 65 x 40 x 40 cm lalu  ditambah air hingga volume air mencapai 90 liter dan diberi aerasi. Jumlah telur yang dipanen 1.420.000 telur.

 

4.1.4.2. Seleksi Telur

Telur yang sudah dipanen kemudian diseleksi secara selektif untuk mencari telur yang dibuahi dan tidak dibuahi. Telur yang dibuahi berwarna tidak pucat dan trasparan biasanya mengapung diatas permukaan air. meseleksi telur dengan cara menyipon terlur yang tidak terbuahi untuk mencegah tubulnya berbagai penyakit seperti jamur.

 

4.2.1. Pemeliharaan Larva

4.2.1.1. Bak Pemeliharaan Larva

Bak pemeliharaan larva berbentuk persegi panjang dengan bak sudut tumpul. Bak terbuat dengan beton dengan ukuran panjang 3,5 x 2 x 1,5 m berkapasitas 3 m3 yang berjumlah 12 buah. Sebelum digunakan bak terlebih dahulu dicuci dengan menggunakan kaporit menggunakan dosis 100 mg/l dan dibiarkan selama 3 jam, kemudian bak dibilas kembali meenggunakan air laut. pemberian kaporit bertujuan untuk membunuh pathogen – pathogen yang tumbuh dibak pemeliharaan sehingga mencegah terjadinya penyakit pada larva. Bak diisi dengan air laut berkisar 6 – 7 m3 dan untuk memenuhi kebutuhan oksigen terlarut dilakukan pemasangan aerasi.

 

4.2.1.2. Penebaran Larva

Penebaran larva dilakukan beberapa jam setelah  telur menetas dengan menggunakan wadah baskom. Sebelum itu larva di ambil menggunakan seser kemudian ditempatkan sementara dibaskom setelah itu ditebar ke bak pemeliharaan. Padat tebar yang dipakai yaitu 10 – 15 ekor/l penebaraan dengan cara aklimatiasi.

 

4.2.1.3. Perkmbangan Larva

Telur yang terbuahi akan mengalami perkembangan hingga menjadi larva dan kemudian akan menjadi benih. Larva kerapu bebek yang menetas, berwarna kuning trasparan, melayang – laying mengikuti gerakan air akibat pengadukan aerasi.  Penatasan telur D0 mengalami perkembangan hingga menjadi benih yaitu selama 45 hari.

 

 

 

4.2.1.4. Pemberian Pakan

Salah satu kunci keberhasilan hidup larva adalah adalah adanyapasokkan makanan dari luar setelah cadangan makanan di tubuh larva habis. Slamet dkk (1996) mengemukakan bahwa larva yang baru menetasmempunyai kuning telur (yolk) dan pada ujung kuning telur tedapat butitanminyak dan berfungsi sebagai cadangan makanan larva. Pemberian pakan pertama dimulai sejak larva berumur D2 yakni pada sore hari. Adapun jenis pakan yang diberikan antara lain, sebagai berikut:

  1.  Nannochloropsis sp atau Tetraselmis sp

Diberikan sejak larva berumur D2-D25 dan ini merupakan tahap awal pemberian pakan bagi larva. Hal ini dikenal dengan metode greenwater system adapun kepadatan untuk Nannochloropsis sp 2-4 x 105 sel/ml dan

Tetraselmis sp 1-2 x 105 sel/ml. Selain untuk pakan larva,plankton ini juga berfungsi untuk mengatur keseimbangan insensitas cahaya dan suplai oksigen (siang hari) serta sebagai makanan rotifera.

 

  1. Minyak ikan

Diberikan pada pagi hari saat larva umur D3-D7. Minyak ikandiperkaya asam lemak tidak jenuh (omega 3) dengan tujuan untuk suplai vitamin a untuk larva dan rotifera sekaligus sebagai pelicin agarlarva tidak mengapung di permukaan air.

 

  1. Rotifera

Rotifera diberikan pada larva mulai umur D2 tepatnya pada sore hari sampai pada larva umur D25. Kepadatannya antara 5-7 ind/ ml bahkan lebih, seiring bertambahnya umur larva. Rotifera diperoleh dari bak  kultur massal yang dipanen setiap hari. Pemberian ini dilakukan 2 kali dalam sehari. Sebelum diberikan kepadatan larva dicek menggunakan gelas kaca, bertujuan untuk mengetahui kepadatan rotifera yang terdapat di dalam bak.

 

  1. Artemia Naupli

artemia mulai diberikan pada larva umur D14. Pemberian naupli artemia 2 x sehari yakni pada pagi dan sore hari. Naupli artemia diperoleh dari hasil kultur. Kultur artemia dilakukan menggunakan bak fiber hitam yang terdapat di ruang pembenihan. Lama pengkulturan ±18-20 jam. Hasil panen naupli artemia dibagi menjadi 2 bagian yaitu untuk pemberian pagi dan pemberian sore. Naupli yang diberikan pada sore hari diberikan pengkayaan berupa minyak cumi. Ini bertujuan untuk menambah nutrisi dan supaya ukuran artemia menjadi besar. Kepadatan naupli artemia yang diberikan berkisar antara 1-3 ind/ml. Pemberian naupli artemia akan dihentikan jika larva telah mampumengkonsumsi pakan bauatan secara utuh.

 

  1. Pakan buatan Pakan

yang digunakan bermerek Love Larva ukuran pakan yang diberikan bervariasi tergantung umur dan ukuran larva. Pakan inidiberikan sejak larva berumur D16. Pada awal pemberiannya, pakandiberikan sedikit demi sedikit gunanya untuk membiasakan sekali merangsang larva untuk memakan pakan ini. Pakan ini diberikan sampai larva masuk ke tahap pendederan.

Pakan sangat berkaitan dengan pertumbuhan larva, sehingga dilakukanlah pengukuran larva untuk melihat tingkat pertumbuhannya. Pengukuran larva dilakukan dengan cara mengambil beberapa ekor larva sebagai sampel lalu diukur panjang larva dan diambil rata-rata dari pengukuran tersebut. Pengukuran panjang larva dilakukan sebilan harisekali atau ketika larva telah melewati masa-masa kritis dimana masa-masa kritis yakni pada umur D7 sampai dengan D10.

 

4.2.1.5. Pengelolaan Kualitas Air

Keberhasilan pemeliharaan larva kerapu bebek

dalam suatu pembenihan salah satunya ditentukan oleh kondisilingkungan atau kualitas air.

  1. Filterisasi air. Meliputi penyaringan di tandon, penyaringan menggunakan flter elektronik dan penyaringan menggunakan kain kasa.
  2. Sirkulasi atau pergantian air. Pergantian air dimulai sejak umur D7 sebanyak 5% dan ditingkatkan menjadi 10% setelah berumur D10. Pada umur D20 sampai panen pergantian air ditingkatkan menjadi 20-50%.
  3.  Sipon. Penyiponan dilakukan ketika larva menginjak umur D16 atau jika banyak terdapat kotoran di dasar bak.d.
  4.  Penggunaan penutup bak. Penutup bak berbahan plastik terpal.Tujuannya untuk menjaga kestabilan suhu dan mencegah kotoranmasuk ke dalam bak.e.
  5.  Penggunaan probiotik. Probiotik yang digunakan bertujuan untuk menumbuhkan bakteri baik yang dapat menguraikan lumpur ataupunkotoran-kotoran sisa pakan.

 

4.2.1.6. Pemanenan dan Seleksi Benih (Grading)

Pemanenan dilakukan ketika larva telah mencapai umur D35-D40 atau berukuran 1,5 – 2 cm. Pemanenan bertujuan untuk memindahkan larva yang telah menjadi benih ke proses pendederan atau juga untuk dijual Bak benih yang di grading diturunkan air hingga mencapai 30 cm.Benih ditangkap menggunakan serok lalu dipindahkan ke baskom dandibawa ke tempat grading tempat grading berupa bak fiber bulat yang biasanya juga digunakan untuk pemeliharaan benih untuk pendederan.Benih kemudian di grading Grading ini dibagi menjadi 3 ukuran yaitu kecil, sedang dan besar. Setelah dipisahkan selanjutnya benih siap ditebar dibak pendederan sesuai ukurannya. Grading hampir 20% ukuran benih kecil atau belum mencapai ukuran 1,5 cm. Hal ini dapat disebabkan karena pada masa pemeliharaannya kurang memperoleh pakan akibat kalah dalam persaingan perebutan pakan tersebut sehingga pertumbuhannya terhambat. Dengan demikian, maka pemeliharaan selamalarva sudah mendekati berhasil karena 80% benih telah sesuai ukuran untuk dipanen.

 

 

 

 

 

BAB V
PENUTUP

 

5.1. Kesimpulan

  • Pemijahan kerapu tikus terjadi sepanjang tahun (12 kali) artinya waktu pemijahan ikan ini tidak tergantung pada musim. Ikan kerapu tergolong memijah secara ovipar, yaitu mengeluarkan telur ketika memijah dan perbandingan induk jantan dan betina yang akan dipijahkan adalah 1:2 dengan berat berkisar antara 1 – 4 kg. Metode pemijahan yang digunakan di BBPBL Lampung menggunakan metode manipulasi lingkungan.
  • Pembenihan dimulai dari : Pemeliharaan induk, pemijahan penanganan telur dan pemeliharaan larva.
  • Pemanenan dilakukan ketika larva telah mencapai umur D35-D40 atau berukuran 1,5 – 2 cm. Pemanenan bertujuan untuk memindahkan larva yang telah menjadi benih ke proses pendederan atau juga untuk dijual Bak benih yang di grading diturunkan air hingga mencapai 30 cm.

 

5.2. Saran                        

Untuk mendapatkan benih yang berkualitas harus dari indukan yang berkualitas juga. Oleh sebab itu pemelliharaan induk harus diberikan pemberian pakan yang teratur dan vitamin menunjang untuk perkembangan gonad. Pada saat pengelolaan induk optimal maka akan menghasilkan keturunan yang baik seperti tahan pada penyakit, HR dan SR yang tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Akbar, S. dan Sudaryanto, 2001. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek(Chromileptes altivelis). Penebar Swadaya. Jakarta.

Anonim, 1993. Petunjuk Pelaksanaan Penangulangan Penyakit Ikan. Direktorat

Anonimous. 2001. Petunjuk Teknis Produksi Benih Ikan Kerapu Bebek(Chromileptes altivelis). Pusat riset dan pengembangan Eksplorasi laut dan Perikanan Departemen kelautan dan perikanan dan Japan International Cooperation Agency, balai riset budidaya laut. Gondol.

Cholik F dkk . 2005. Akuakultur (tumpuan masa depan bangsa). Masyarakat Perikanan Nusantara dengan Taman Akuarium Air Tawar, TMII. Jakarta.

Departemen pertanian, 1999,  Pemeliharan kerapu bebek,  Direktorat jenderal perikanan

Effendi, M.I. 1979. Metode Perikanan. Fakultas Perikanan.IPB. Bogor

fuscoguttatus). Makalah Seminar Marine Fish. Jakarta.

Kordi, K.M.G.H., 2005. Budidaya Ikan Laut : Di Keramba Jaring Apung. Rineka Cipta. Jakarta.

Muchari, A et al., 1991. Pemeliharaan Larva Ikan Kerapu Macan (Epinephelus

Murtidjo, B.A. 2002. Budidaya Kerapu Dalam Tambak. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Puja, Y., Sudjiharo, Syarifudin. 2001. Panen dan Penanganan Pasca Panen. Pembesaran ikan kerapu macan dan Ikan kerapu tikus di KJA. Balai Besar Budidaya Laut Lampung.

Randall, J. E., (1987). A Preliminary Synopsis of the Groupers (Perciformes : Serranidae; Epinephelinae) ot the indo-pacific Region in J.J. Polovina, S. Ralston (editor), Tropical Snapper and Groupers : Biology and Fisheries Management. Westview Press. Inc., Boulder and London.

Subayakto, S., dan Cahyaningsih. 2003. Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga. Aggromedia Pustaka. Jakarta.

Sugama, K., Tridjoko. B. Slamet, S. Ismi, E. Setiadi dan S.Kawahara. 2001. Pentunjuk Teknis Produksi Benih Ikan Kerapu Bebek (Cromileptis altivelis). Balai Besar Riset Budidaya Laut Gondol – JIKA. Gondol Bali.

Sumber Hayati. Ditjen Perikanan. Jakarta.

Suyonto, P., dan Musthal, 2000. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tampubolon , dkk . 1989 . Metode Makan Ikan Kerapu Bebek, Pedoman Pemberian Makan, Balai Budidaya Laut, Lampung.

Tridjoko, B. Slamet, dan D. Makatutu, 1997. Pematangan Induk Kerapu Bebek Dengan Rangsangan Hormon LHRHa dan 17 – α Methyltesteron Jurnal Penelitian Perikanan Indonsia. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian.