Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

2.1 Ikan Bawal (Colossoma macropomum)

Ikan air tawar adalah ikan yang menghabiskan sebagian atau seluruh hidupnya di air tawar, seperti sungai dan danau, dengan salinitas kurang dari 0, 05 %. Dalam banyak hal, lingkungan air tawar berbeda dengan lingkungan perairan laut, dan yang paling membedakan adalah tingkat salinitasnya. Untuk bertahan di air tawar, ikan membutuhkan adaptasi fisiologis yang bertujuan menjaga keseimbangan konsentrasi ion dalam tubuh. 41 % dari seluruh spesies ikan diketahui berada di air tawar. Hal ini karena spesiasi yang cepat menjadikan habitat yang terpencar menjadi mngkin untuk ditinggali.

Ikan air tawar berbeda secara fisiologis dengan ikan laut dalam beberapa aspek. Insang mereka harus mampu mendifusikan air sembari menjaga kadar garam dalam cairan tubuh secara simultan. Adaptasi pada bagian sisik ikan juga memainkan peran penting, ikan air tawar yang banyak kehilangan sisik akan mendapatkan kelebihan air yang berdifusi ke dalam kulit, dan dapat menyebabkan kematian pada ikan. Karakteristik lainnya terkait ikan air tawar adalah ginjalnya yang berkembang dengan baik. Ginjal air tawar berukuran besar karena banyak air yang melewatinya.

Ikan bawal air tawar termasuk salah satu komoditi baru di bidang perikanan yang memiliki ekonomis yang cukup tinggi. Ikan bawal air tawar yang memiliki nama latin colossoma macropomum bukanlah ikan asli Indonesia, tetapi didatangkan dari Negara Brazil, Amerika Selatan beberapa tahun yang lalu. Untuk membedakannya dengan ikan bawal yang terdapat di air laut, ikan bawal air tawar asal Brazil ini disebut dengan ikan bawal air tawar karena memang seluruh siklus hidpnya berada di air tawar. Pertama kali masuk ke Indonesia ikan bawal ini dijadikan ikan hias untuk dipelihara di aquarium dan kolam – kolam taman, namun karena laju pertumbuhannya sangat cepat dan dapat mencapai ukuran besar, bawal air tawar yang sudah dewasa menjadi kurang pantas dipajang. Karena itu, didukung rasa dagingnya yang enak dan gurih, ikan bawal air tawar kemudian menjadi sangat popular sebagai ikan konsumsi.

Klasifikasi bawal air tawar :

Filum               :  Chordata

Subfilurn         :  Craniata

Kelas               :  Pisces

Subkelas          :  Neopterigii

Ordo                :  Cypriniformes

Subordo          :  Cyprinoides

Famili              :  Characidae

Genus              :  Colossoma

Spesies            :  Colossoma macropomum

Ikan bawal air tawar memiliki tubuh dari arah samping tampak membulat (oval) dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2 : 1. Bila dipotong secara vertikal, bawal memiliki bentuk tubuh pipih (compressed) dengan perbandingan antara tinggi dan lebar tubuh 4 : 1. Sisik ikan bawal air tawar berbentuk otenoid, dimana setengah bagian sisik belakang menutupi sisik bagian depan. Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian bawah berwarna putih. Tubuh-bagian vertikal dan sekitar sirip dada ikan bawal air tawar muda berwarna merah. Warna merah ini akan memudar seiring dengan pertambahan umur dan perkembangan fisik. Warna merah ini merupakan ciri khusus._bawal air tawar sehingga oleh orang Inggris dan Amerika disebut red bally pacu (Arie, 2005).

2.2 Manajemen Pemberian Pakan

Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya tersebut disamping kualitas air. Pakan dalam kegiatan budidaya ikan sangat dibutuhkan oleh ikan untuk tumbuh dan berkembang.   Untuk menghasilkan pertumbuhan yang optimal sesuai dengan yang diharapkan, maka diperlukan pengetahuan tentang cara pengelolaan pemberian pakan yang baik. Cara pengelolaan pemberian pakan atau yang lebih dikenal dengan manajemen pemberian pakan di dalam suatu usaha budidaya Program pemberian pakan pada budidaya udang putih merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menentukan baik jenis, ukuran frekuensi dan total kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan (Adiwidjaya et al, 2005). Nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya hewan akuatik.

Dalam manajemen pemberian pakan ada 6 faktor yang harus diperhatikan, yaitu :

1.      Feeding frekuensi

2.      Feeding time

3.      Feeding behaviour

4.      Feeding habits

5.      Feeding periodicity

6.      Feeding level

      2.2.1 Feeding frekuensi

   Frekuensi pemberian pakan adalah jumlah pemberian pakan per satuan waktu, misalnya dalam satu hari pakan diberikan tiga kali. Pada ukuran larva frekuensi pemberian pakan harus tinggi karena laju pengosongan lambungnya lebih cepat, dan dengan semakin besarnya ukuran ikan yang dipelihara maka frekuensi pemberian pakannya semakin jarang. Laju evakuasi pakan didalam lambung atau pengosongan lambung ini tergantung pada ukuran dan jenis ikan kultur, serta suhu air (Effendi, 2004). Untuk ikan Bawal, satu sampai tiga hari setelah tebar pakan diberikan empat kali dalam sehari dan setelah itu tiga kali

2.2.2 Feeding time

Feeding time atau waktu pemberian pakan adalah waktu yang tepat untuk melakukan pemberian pakan pda setiap jenis ikan. Waktu pemberian pakan ini juga sangat khas untuk setiap jenis ikan. Waktu pemberian pakan ikan bawal aktif mencari makan pada saat siang hari (diurnal) sehingga waktu pemberian pakan di utamakan pada siang 30 % pagi , sore dan 40 % siang hari,  jika di ukur dari feeding periodicity yaitu daya tampung dari lampung ikan kisaran pada 4 – 5 jam lambung kosong pemberian pakan 3 kali sehari .

2.2.3 Feeding behaviour

            Feeding behaviour adalah tingkah laku ikan tersebut dalam lingkungan hidupnya biasanya ikan mempunyai 3 macam yaitu ikan yang hidupnya di bawah permukaan air / dasar permukaan , di tengah – tengah permukaan dan di atas permukaan air. Dalam hal ini dapat ditentukan untuk pakan yang digunakan dalam kegiatan budidaya. Ikan bawal berada pada permukaan air sehingga pakan yang digunakan dengan menggunakan pakan terapung.

2.2.4. feeding habits

Feeding habits adalah kebiasaan ikan tersebut dalam memakan makanan dan biasanya di kelompokan menjadi 3 yaitu omnivora (tumbuhan dan daging) , herbivora (tumbuhan) dan karnivora (daging).  Ikan bawal merupakan ikan yang memakan segalanya yaitu mampu memakan jenis makanan nabati dan hewani.

2.2.5 feeding level

Feeding level adalah daya cerna (digestible) dan metaboliszible praksi dr ransum akan menurun dengan meningkatnya ransum yg dikonsumsi. nilai rata2 dr metabolizability ransum 40 – 85 %. Dikarenakan ikan bawal omnivore mempunyai metabolizability 80 % jika dia di beri pakan hewani. .

2.2.6   Jenis Pakan

2.3.1.1 Alami

Sesuai dengan namanya, pakan alami adalah pakan yang berasal dari alam. Namun dalam perkembangannya, sumber pakan alami tidak hanya berasal dari alam . Sumber makan ini juga bisa berasal dari budidaya . Pakan alami rata-rata memiliki kandungan protein cukup tinggi .. Kadar air pakan alami harus tetap dijaga. Jika tidak dibekukan, pakan alami bisa membusuk hingga menurunkan kualitas pakan. Pakan alami hidup yang digunakan untuk larva ikan bawal dengan menggunakan artemia dengan protein 42 % untuk mempercepat pertumbuhan  dan penambahan vitamin C dan memiliki peranan penting dalam menangkal penyakit (Wikipedia).

2.3.1.2 Buatan

Pakan buatan adalah pakan yang disiapkan oleh manusia dengan bahan dan komposisi tertentu yang sengaja disiapkan oleh manusia . Pakan buatan bersifat basa, seperti bentuk pasta atau emulsi (cairan pekat), tidak perlu disimpan . Jenis pakan basah sebaiknya dihabiskan dalam satu kali pemberian/ aplikasi karena pakan jenis ini mudah rusak jenis kandungannya . Namun bila memang harus disimpan, sebaiknya disimpan dalam ruangan pendingin (lemari es), itu pun tidak bisa terlalu lama, hanya 2 s.d 3 hari. Jika terlalu lama disimpan, kualitas pakan turun dan tidak bagus untuk dikonsumsi. Bahan baku yang digunakan untuk menentukan kualitas pakan buatan harus memenuhi beberapa syarat diantaranya , bernilai gizi, mudah dicerna, tidak mengandung racun, mudah diperoleh, dan bukan merupakan kebutuhan pokok manusia. Pada pemberian pakan ikan bawal dengan menggunkan pakan jenis tepung untuk larva berumur 20 hari dan dengan campuran vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh larva tersebut.

2.2.7    Kualitas  pakan

Dalam penggunaan pakan harus mempunyai 3 kareteria dalam pakan tersebut agar menghasilkan ikan yang pertumbuhannya cepat dan tahan penyakit. 3 diantaranya fisik, kimia dan biologi.

2.2.7.1  Fisik

Pellet ikan yang baik mempunyai daya tahan di dalam air minimal 10 menit (Akbar, 2000).  Dan mudah hancur pada saat berada di mulut ikan sehingga ikan dengan mudah mencerna makanannya ke dalam  lambung

2.2.7.2. Kimia

Kandungan zat-zat gizi pakan ikan harus sesuai dengan kebutukan tubuh ikan untuk beraktifitas dan pertumbuhan. Beberapa komponen zat-zat gizi yang perlu diketahui adalah kandungan protein, lemak, karbohidrat, abu, serat kasar, dan kadar air. Pellet yang baik memiliki kadar

air maksimal 10%, kandungan abu dan seart kasar maksimal 5%, kadar protein minimal 25%,  lemak antara 5-7%, dan karbohidrat antara 16-18% (Zuheid, 1990).

2.2.7.3 Biologi

pakan yang di pakan harus disukai ikan  dan menghasilkan FCR yang makin kecil makin baik sehingga seefesien mungkin dalam penggunaan pakan dan berdampak pada nilai biaya budidaya dalam pembelian pakan.

2.3  Strategi pemberian pakan

Ukuran lebih kecil dari bukaan mulut larva. Dalam masa larva selama 20 hari ikan bawal di beri pakan artemia ukuran 20 mm dan lebih kecil dari bukaan mulut larva bawal tersebut.  pada ukuran 20 hari sampai 45 hari pemberian menggunakan pakan tepung.

mudah dideteksi dan dimangsa larva dan benih Artemia mudah didieksi oleh larva dikarenakan warnanya yang merah dan bau yang cukup menyengat. Pada tepung pemberian vitamin c dan telur bebek untuk membuat pakan tersebut mempunyai aroma yang menyengat sehigga pakan akan di makan semua dan lebih effisen dalam penggunakan pakan.

Mudah dicerna Pakan artemia mudah dicerna dikarenakan pakan alami dan mempunyai serat yang tidak terlalu tinggi. Dan pada pakan tepung yang mempunyai serat yang seimbang kurang dari 15 % dan hewani yang mudah dicerna dalam tubuh ikan dikarenakan omnivore lebih cepat mencerna hewani di banding nabat yang masih tersisa seratnya dalam feses.

Mengandung nutrisi tinggi dan seimbang. Nutrisi yang baik untuk ikan bawal untuk larva protein 40 % dan benih ikan bawal protein 30 – 35 %.

2.4  Metode Pemberian pakan

Metode pemberian pakan dikakukan dengan menggunakan at libitum untuk larva 3 – 20 hari dan menggunakan metode feeding rate 4 % untuk pemeliharaan benih.

2.2.10.  Sistem dan Teknologi budidaya

Sistem teknologi ekstensif dengan menggunkan kolam tanah bagian dasar dan pematang tanah penggunaan pakan 50 % pakan alami dan 50 % pakan buatan.