Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

Pengukuran Panjang dan Berat Ikan

PROPOSAL SKRIPSI

 

 

 

Oleh :

 

ELFIAN PERMANA

D41121609

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2015

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Perairan laut Indonesia mempunyai sumberdaya hayati dengan potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan. Sumberdaya hayati laut terutama yang berupa ikan merupakan sumber pangan utama kedua setelah pertanian di darat. Pieris (1988) menyatakan bahwa ikan merupakan salah satu hasil laut utama dan selama ini menjadi sumber protein penting bagi rakyat. Dibandingkan dengan daging dan susu, ikan merupkan sumber protein yang lebih baik untuk kesehatan (kadar kolesterol rendah) selain relatif murah harganya (Rifqie, 2007).

Ilmu biologi perikanan  merupakan mata kuliah lanjutan dari Ikhtiologi yang sebelumnya lebih menjelaskan tentang ciri-ciri ikan, sistem organ, peredaran darah dll. Sedangkan matakuliah Biologi perikanan lebih mempelajari teknik-teknik yang digunakan untuk penelitian mahasiswa. Salah satunya berkaitan dengan hubungan  panjang dan berat. Panjang tubuh sangat berhubungan dengan panjang dan berat seperi hukum kubik yaitu bahwa berat sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Namun, hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda (Manik, 2009).

Akhir-akhir ini ilmu tentang perikanan banyak dipelajari mengingat ikan merupakan salah satu sumberdaya yang penting. Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis, memiliki ciri khas pada tulang belakang, insang dan siripnya serta tergantung pada air sebagai medium untuk kehidupannya. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air (Wahyuningsih dan Barus, 2006).

Menurut UU No. 45 Tahun 2009, ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Pengertian ikan meliputi Ikan bersirip (Pisces); udang rajungan, kepiting dan sebangsanya (Crustacea); kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput dan sebangsanya. (Mollusca); ubur-ubur dan sebangsanya (Coelenterata); teripang, bulu babi dan sebangsanya (Echinodermata); kodok dan sebangsanya (Amphibia); buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air dan sebangsanya (Reptilia); paus, lumba-lumba, pesut, duyung dan sebangsanya (Mammalia); rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya dalam air (Algae); dan biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis tersebut diatas termasuk dalam kategori ikan (Jabarsyah, 2011).

Dari keseluruhan vertebrata, sekitar  50,000 jenis hewan, ikan merupakan kelompok terbanyak di antara vertebrata lain memiliki jenis atau spesies yang terbesar sekitar 25,988 jenis yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo. Jenis-jenis ikan ini sebagian besar tersebar di perairan laut yaitu sekitar 58% (13,630 jenis) dan 42% (9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan. Jumlah jenis ikan yang lebih besar di perairan laut, dapat dimengerti karena hampir 70% permukaan bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan perairan tawar. Dalam mempelajari ihktiologi ini tidak terlepas dari ilmu-ilmu yang lain karena saling berkaitan. Beberapa cabang ilmu pengetahuan yang sangat terkait dengan ikhtiologi ini antara lain taksonomi vertebrata, morfologi dan anatomi hewan, fisiologi, genetika, dan evolusi (Wahyuningsih dan Barus, 2006).

1.2. Tujuan

  1. Dapat merumuskan hubungan panjang dan berat ikan.
  2. Dapat memprediksi berat ikan berdasarkan formula LWR.
  3. Dapat menghitung condition factor index.
  4. Dapat mengintrepetasikan condition factor index..

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1. Klasifikasi dan Morfolgi Ikan Kembung

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                : Actinopterygii

Order               : Perciformes

Family             : Scombridae

Genus              : Rastrelliger

Species            : Rastrelliger kanagurta

Ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) atau seringkali disebut indian mackerel, merupakan salah satu komoditas penting perikanan tangkap. Ikan kembung memiliki panjang maksimal 35 cm TL. Termasuk ikan pelagis di zona neritik, oseanodrom. Swimming layer berkisar antara 20 – 90 m. Larva kembung memakan fitoplakton seperti jenis diatom laut dan jenis zooplankton kecil seperti ladoceran, ostracods, larva polychaetes, dan lain-lain.

Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut : kepala lebih panjang dibandingkan dengan tebal tubuh, rahang sebagian tersembunyi, tertutup oleh tulang lakrimal yang memanjang hingga tepi rongga mata, bukan insang sangat panjang, terlihat ketika mulut sedang terbuka, memiliki kantung renang, memiliki sirip punggung pertama berjari-jari keras IXXI; sirip punggung pertama berjari-jari lemah 11-13+5; finlet pada sirip anal 11-12+5; serta finlet pada sirip dada 19-22; V, 1+5.

Ikan kembung lelaki dalam keadaan hidup berwarna keemasan pada bagian punggung, sedangkan dalam keadaan mati berwarna garis kegelapan pada bagian punggung dan tanda hitam dekat batas bawah sirip dada; sirip punggungberwarna kekuningan dengan corak hitam, sirip ekor dan sirip dada berwarna kekuningan.

Ikan ini merupakan jenis schooling fish atau ikan yang bergerombol. Ikan ini berenang dengan cara mulut dan tapis insang terbuka. Ini merupakan cara ikan ini makan dengan menyaring plankton yang masuk ke mulut dan tersaring di tapis insang. Panjang tubuh  maksimal ikan kembung bias mencapai 35 cm.

2.2 Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Ikan

Pertumbuhan dapat didefenisikan sebagai perubahan ukuran panjang, berat dan volume dalam jangka waktu tertentu. Pertumbuhan ikan biasanya ditunjukkan dari penambahan panjang dan berat yang biasanya bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan atau tampilan ikan di alam. Pola pertumbuhan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan sangat bermanfaat dalam penentuan selektivitas alat tangkap agar ikan-ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap. Dalam hubungannya dengan pertumbuhan, analisa hubungan panjang-berat di-maksudkan untuk mengukur variasi berat harapan untuk panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, perkembangan gonad (Nofrita, dkk., 2013).

Faktor kondisi ini menunjukan keadaan ikan, baik dilihat dari kapasitas fisik maupun dari segi survival dan reproduksi. Dalam penggunaan secara komersial, pengetahuan kondisi ikan dapat membantu untuk menentukan kualitas dan kuantitas daging ikan yang tersedia agar dapat dimakan. Faktor kondisi merupakan simpangan pengukuran dari sekelompok ikan tertentu dari berat rata-rata terhadap panjang pada kelompok ikan tertentu dari berat rata-rata terdapat panjang gelombang umurnya, kelompok panjang atau bagian dari populasi (Weatherley, 1972 dalam Yasidi,dkk., 2005).

Faktor kondisi adalah keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan dengan angka-angka berdasarkan data panjang dan berat. Faktor kondisi menunjukkan keadaan baik dari ikan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk survival dan reproduksi. Nilai faktor kondisi dipengaruhi oleh tingkat kematangan gonad dan jenis kelamin. Nilai faktor kondisi ikan betina lebih besar dibandingkan ikan jantan, hal ini menunjukkan bahwa ikan betina memiliki kondisi yang lebih baik dengan mengisi cell sex untuk proses reproduksinya dibandingkan ikan jantan. Faktor kondisi dapat menjadi indikator kondisi pertumbuhan ikan di perairan. Faktor dalam dan faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan ialah jumlah dan ukuran makanan yang tersedia, jumlah makanan yang menggunakan sumber makanan yang tersedia, suhu, oksigen terlarut, faktor kualitas air, umur, dan ukuran ikan serta kematangan gonad (Barus, 2011).

Faktor kondisi biasanya digunakan untuk menentukan kecocokan lingkungan dan membandingkan berbagai tempat hidup. Variasi faktor kondisi bergantung pada kepadatan populasi, tingkat kematangan gonad, makanan, jenis kelamin dan umur. Selama dalam pertumbuhan, tiap pertambahan berat material ikan akan bertambah panjang dimana perbandingan liniernya akan tetap   (Suwarni, 2009).

Faktor kondisi……..

Dan rumus menurut (effendi,  1979)

K = 105 . W

L3

W = Berat tubuh ikan (gram)

L = Panjang ikan (mm)

2.3. Hubungan Panjang dan Berat

Dalam biologi perikanan, hubungan panjang–berat ikan merupakan salah satu informasi pelengkap yang perlu diketahui dalam kaitan pengelolaan sumber daya perikanan, misalnya dalam penentuan selektifitas alat tangkap agar ikan-ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap. Pengukuran panjang berat ikan bertujuan untuk mengetahui variasi berat dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok–kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, produktifitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisa hubungan panjang berat juga dapat mengestimasi faktor kondisi atau sering disebut denganindex of plumpness yang merupakan salah satu hal penting dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan relatif dari populasi ikan atau individu tertentu, (Mulfizar, dkk., 2012).

            Analisa hubungan panjang berat bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan dengan menggunakan parameter panjang dan berat. Berat dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Nilai yang didapat dari perhitungan panjang berat ini adalah untuk menduga berat dari panjang ikan atau sebaliknya. Selain itu juga dapat dketahui pola pertumbuhan, kemontokan, dan pengaruh perubahan lingkungan terhadap pertumbuhan ikan (Rifqie, 2007).

Menurut Barus (2011), berat dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan panjang dengan berat hampir mengikuti hukum kubik yaitu bahwa berat ikan sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Tetapi hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda. Dengan melakukan analisa hubungan panjang berat ikan tersebut maka pola pertumbuhan ikan dapat diketahui. Selanjutnya dapat diketahui bentuk tubuh ikan tersebut gemuk atau kurus. Analisis panjang dan berat bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan di alam.

Harga b ialah harga pangkat yang harus cocok dari pangkat ikan agar sesuai dengan berat ikan. Hubungan panjang dan berat dapat dilihat dari nilai konstanta b, yaitu bila b = 3, hubungan yang terbentuk adalah isometrik (pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan berat). Bila b ≠ 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik, yaitu bila b > 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik positif yaitu pertambahan berat lebih cepat daripada pertambahan panjang, menunjukkan keadaan ikan tersebut montok. Bila b < 3, hubungan yang terbentuk adalah allometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat, menunjukkan keadaan ikan yang kurus (Barus, 2011).

Kisaran panjang total dan bobot total ikan betina lebih besar dibandingkan dengan jantan. Hal ini diduga karena adanya perbedaan pola pertumbuhan, lingkungan, ketersediaan makanan dan perbedaan ukuran pertama kali matang gonad. Apabila pada suatu perairan terdapat perbedaan ukuran dan jumlah dari salah satu jenis kelamin, kemungkinan disebabkan oleh perbedaan pola pertumbuhan, perbedaan ukuran pertama kali matang gonad, perbedaan masa hidup, dan adanya pemasukan jenis ikan / spesies baru pada suatu populasi ikan yang sudah ada (Suwarni, 2009).

Hal ini sesuai dengan Jabarsyah, dkk., (2011) hubungan panjang dan berat dapat dilihat dari nilai konstanta b, yaitu bila b = 3, hubungan yang terbentuk adalah isometrik (pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan berat). Bila b ≠ 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik, yaitu bila b > 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik positif yaitu pertambahan berat lebih cepat daripada pertambahan panjang, menunjukkan keadaan ikan tersebut montok. Bila b < 3, hubungan yang terbentuk adalah allometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat, menunjukkan keadaan ikan yang kurus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

METODE PELAKSANAAN

 

 

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Reproduksi Ikan Air Tawar dan Air Laut dilaksanakan pada tanggal 18 November 2014 pukul 15.00-17.00 di Laboratorium Biosience Politeknik Negeri Jember.

3.2 Alat dan Bahan

No Alat Dan Bahan Spesifikasi Fungsi
1. Ikan praktikum

·   Ikan Kembung

·

Hewan uji
2. Penggaris Standar Mengukur panjang ikan
3. Nampan Standar Tempat hewan uji
4. Sterofoam Standar Tempat mengukur hewan uji
5. Timbangan Digital Menimbang berat hewan uji

 

3.4 Prosedur Kerja

  1. Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
  2. Mengukur panjang tubuh setiap hewan uji menggunakan penggaris.
  3. Menimbang bobot setiap hewan uji menggunakan timbangan digital.
  4. Menghitung data hubungan panjang dan berat ikan.
  5. Menghitung faktor kondisi ikan dan menentukan pola pertumbuhan ikan.
  6. Catat setiap kegiatan yang dilakukan dan legkapi dengan dokumentasi.
  7. Data tiap Kelompok dikompilasi, dihitung dan dibahas.

3.5 Analisa Data

  1. Rumus Faktor Kondisi

Keterangan :

K     = Condition factor (Indeks Kondisi Ikan)

W    = Berat ikan (gram)

L     = Panjang Ikan (mm)

  1. Rumus hubungan panjang dan berat

Log W= log a+b log L

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel … Data perhitungan faktor kondisi

1 1,385
2 0,791
3 1,178
4 0,779
5 1,085
6 1,685
7 1,172
8 1,273
9 1,375
10 1,783

 

TL 14.92904 PT

184.64

14.95621 185.51
14.7922 179.42
14.95621 185.51
14.8197 181.16
14.8197 181.16
14.8197 179.42
14.95621 184.64
14.98331 185.51
14.7922 180.29

 

4.2 Pembahasan

Perbedaan panjang dan berat dari ikan menujukkan adanya pertumbuhan yang terjadi pada ikan itu sendiri. Menurut Fujaya (2002), bahwa pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat. Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon, dan lingkungan (zat hara). Ketiga faktor tersebut bekerja saling mempengaruhi, baik dalam arti saling menunjang maupun saling menghalangi untuk mengendalikan perkembangan ikan. Pada ikan kembung nilai b  merupakan allometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat, menunjukkan keadaan ikan kembung tersebut yang kurus. Pada hasil semakin tinggi hasil hubungan panjang dan berat(W) pada ikan kembung menunjukan bahwa keadaan ikan tersebut baik.

Tabel ……

Pertumbuhan seekor ikan dapat diukur dari tambahan panjang badan dan kenaikan bobotnya, maka untuk mengetahui normal tidaknya pertumbuhan ikan pemeliharaan, sebaiknya kita mengukur panjang dan menimbang bobot badan ikan itu, setiap kali sebelum menebar, dan setiap kali memungut hasil yang diukur ialah panjang standard, yaitu panjang antara ujung moncong dan pangkal sirip ekor tanpa mengikutsertakan sirip ekor. Bila ikan tumbuh normal atau baik, bobotnya akan bertambah sesuai dengan pertambahan panjangnya. Makin panjang ikan itu, makin beratlah badannya seharusnya. Hal ini bisa di ukur menggunakan  faktor kondisi.  Berdasarkan hasil yang di amati (tabel …) dengan menggunakan faktor kondisi bahwa ikan kembung nomer 2 dan 4 mengalami faktor kondisi terlaku kurus 0,79 dan 0,77. Ikan nomer 3,5 dan 7 ikan kondisinya kurus. Pada ikan 1,8, 7 dan 9 ikan mengalami kondisi yang baik atau normal dan 6 dan 10 mengalami kondisi sangat baik. Semua ikan mengalami faktor kondisi yang berbeda

Banyak faktor yang di akibatkan dari faktor kondisi yang berbeda Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon, dan lingkungan (zat hara). Faktor genetik yaitu keturunan, faktor hormon pertumbuhan yang terkandung kemudian faktor lingkungan yang mendukung untuk pertumbuhan ikan tersebut untuk berkembang.

BAB V

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Pada ikan kembung nilai b  merupakan allometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat, menunjukkan keadaan ikan kembung tersebut yang kurus. Pada hasil semakin tinggi hasil hubungan panjang dan berat(W) pada ikan kembung menunjukan bahwa keadaan ikan tersebut baik.

Menggunakan faktor kondisi bahwa ikan kembung nomer 2 dan 4 mengalami faktor kondisi terlaku kurus 0,79 dan 0,77. Ikan nomer 3,5 dan 7 ikan kondisinya kurus. Pada ikan 1,8, 7 dan 9 ikan mengalami kondisi yang baik atau normal dan 6 dan 10 mengalami kondisi sangat baik. Semua ikan mengalami faktor kondisi yang berbeda

 

 

5.1 Kesimpulan

Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon, dan lingkungan (zat hara). Ketiga faktor tersebut bekerja saling mempengaruhi, baik dalam arti saling menunjang maupun saling menghalangi untuk mengendalikan perkembangan ikan.

           

5.2 Saran

 Pemilihan ikan merupakan hal yang penting dalam melakukan hal budidaya ikan untuk mencegah terjadinya kematian dalam pemeliharaan. oleh karena itu pentingnya pengitungan panjang dan berat untuk melihat ikan tersebut normal atauj tidak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Barus, S, R, D. 2011. Bioekologi Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis). [Tesis] Program Magister Biologi. Fmipa. USU.

 

Jabarsyah, A., Firdaus, M., dan Nursidik. 2011. Faktor Kondisi Ikan Tenggiri Batang (Scomberomorus lineatus), Bawal Putih (Pampus Argentus) dan Ikan Senangin (Eleutheronema tetradactylum) yang Tertangkap dengan Gillnet di Perairan Pantai Amal Tarakan. Jurnal Ilmu Perikanan.

Manik, N. 2009. Hubungan Panjang – Berat Dan Faktor Kondisi Ikan Layang     (Decapterus Russelli) Dari Perairan Sekitar Teluk Likupang Sulawesi Utara. [Jurnal] ISSN 0125-9830. Vol 1 No 35.

Mulfizar., Muchlisin, Z, A., Dan Dewiyanti, I. 2012. Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi Tiga Jenis Ikan yang Tertangkap Di Perairan Kuala Gigieng, Aceh Besar, Provinsi Aceh. [Jurnal] ISSN 2089-7790.               Vol 1. No 1.

Nofrita., Dahelmi., Syandri, H., Tjong, D, H. 2013. Hubungan Tampilan Pertumbuhan Dengan Karakteristik Habitat Ikan Bilih (Mystacoleucus Padangensis). [Jurnal] Jurusan Biologi, FMIPA. Universitas Andalas, Padang.

Rifqie, G, L. 2007. Analisis Frekuensi Panjang dan Hubungan Panjang Berat Ikan Kembung Lelaki (Rasrelliger kanagurta) di Teluk Jakarta. [Skripsi] Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Suwarni. 2009. Hubungan Panjang-Bobot Dan Faktor Kondisi Ikan Butana (Acanthurus Mata) Yang Tertangkap Di Sekitar Perairan Pantai Desa Mattiro Deceng, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan. [Jurnal] Ilmu Kelautan dan Perikanan ISSN 0853-4489 Vol 19      No 3. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Wahyuningsih, H dan Barus, T.A. 2006. Buku Bahan Ajar Ikhtiologi. Diakses melalui http://repository.usu.ac.id [18Desember 2014].

 

 

 

 

 

 

 

 

L A M P I R A N

 

 

 

 

Lampiran 1. Data Perhitungan

Tabel 1. Data Pertumbuhan Ikan

Ikan Kembung
Ikan Total Length (mm) Fork Length (mm) Weight (gr)
1 234 207 177.4
2 238 213 106.6
3 205 181 101.5
4 235 210 101.1
5 212 189 103.4
6 211 188 158.3
7 213 181 113.3
8 236 208 167.3
9 241 211 192.4
10 206 182 155.9

 

Tabel 2. Tabulasi Data Untuk Perhitungan LWR

Ikan Log W (Y) Log TL (X) XY X2 Y2
1 2.24 2.36 5.28 5.57 5.02
2 2.02 2.37 4.78 5.62 4.08
3 2.006 2.31 4.63 5.34 4.02
4 2.004 2.37 4.74 5.62 4.02
5 2.01 2.32 4.66 5.38 4.04
6 2.19 2.32 5.08 5.38 4.80
7 2.05 2.32 4.75 5.38 4.20
8 2.22 2.37 5.26 5.62 4.93
9 2.28 2.38 5.42 5.66 5.20
10 2.19 2.31 5.05 5.34 4.80
21.21 25.75 49.65 54.85 45.05

 

 

 

 

a

 

 

 

Tabel 3. Tabulasi Data Untuk Perhitungan LWR

Ikan Log W (Y) Log FL (X) XY X2 Y2
1 2.24 2.31 5.17 5.34 5.02
2 2.02 2.32 4.69 5.38 4.08
3 2.006 2.25 4.51 5.06 4.02
4 2.004 2.32 4.65 5.38 4.02
5 2.01 2.27 4.56 5.15 4.04
6 2.19 2.27 4.97 5.15 4.80
7 2.05 2.25 4.61 5.06 4.20
8 2.22 2.31 5.13 5.34 4.93
9 2.28 2.32 5.29 5.38 5.20
10 2.19 2.26 4.95 5.11 4.80
21.21 22.28 48.54 52.36 45.05

 

 
 

1.09