Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

LAPORAN

Laporan Pewarnaan dan Pengukuran dengan metode subjectif dan Spektrofotometri pada ikan komet

 

logo_polije

Disusun Oleh :

Elfian Permana
D41121609

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGROINDUSTRI JURUSAN

MANAJEMEN AGRIBISNIS POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2015

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Indonesia  yang  beriklim  tropis  memiliki  potensi  ikan  hias  mencapai  300 juta ekor/tahun dan  terdiri  atas  240 jenis ikan hias laut dan 226 jenis ikan hias air tawar  (Lingga  dan  Susanto,  2003).  Salah  satu    ikan  hias  air  tawar  yang  telah berhasil dibudidayakan adalah ikan Komet (Carassius auratus).

Ikan  komet (Carassius auratus)  merupakan salah satu komoditas ikan hias air  tawar  yang  memiliki  corak  warna  yang  cerah  dan  memiliki  bentuk  yang menarik, karena memiliki bentuk tubuh mirip dengan ikan koki dan ikan koi.  Ikan komet  mempunyai  perbedaan  dengan  ikan  mas  koki    yaitu  ukuran  tubuh  ikan komet  yang  lebih kecil dari ikan  mas  koki  dan  terdapat  tonjolan daging (sungut) kecil di atas lubang hidungnya  serta memiliki  bentuk  ekor  seperti ikan mas koki

dengan kombinasi warna kuning, jingga, emas, dan putih (Kottelat dkk, 1993).

Ikan  komet  termasuk  ikan  hias  yang  banyak  digemari,  sehingga  sering diadakan kontes  ikan hias bagi pemilik ikan komet,  ikan komet  merupakan ikanyang  mudah dipelihara di  kolam maupun di akuarium. Ikan  komet  selalu tersediadi setiap penjual ikan hias, sehingga harga jual cenderung stabil.

Warna tubuh yang indah dan  bervariasi merupakan  daya  tarik  komet  sebagai ikan  hias.  Warna  indah  pada  ikan disebabkan  oleh  kromatofor  (sel pigmen)  yang  terletak  pada  lapisan epidermis,  yang  memiliki  kemampuan  untuk  menyesuaikan  dengan lingkungan  danaktifitas  seksual, sedangkan jumlah dan letak pergerakan kromatofor  mempengaruhi  tingkat kecerahan  warna  pada  ikan  (Sally, 1997;  Lesmana  dan  Satyani,  2002). Kromatofor  dapat  diklasifikasikan menjadi  5  kategori  warna  dasar  yaitu melanofor,  eritrofor,  xantofor, leukofor, dan iridofor (Anderson, 2000 ; Sally, 1997). Kandungan  pigmen  dalam  pakan merupakan  salah  satu  faktor  yang mempengaruhi  kecerahan  warna  ikan (Bachtiar,  2002).  Upaya  untuk meningkatkan  kecerahan  warna  ikan dengan menambahkan karotenoid yang merupakan  komponen  pembentukwarna  merah  dan  kuning  (Satyani  dan Sugito,  1997).

Pewarnaan ikan dilakukan dengan memasukan bahan pewarna kedalam pakan ikan budidaya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas warna ikan yang bila tidak dilakukan akan menjadikan warna pudar pada ikan budidaya. Penambahan warna pada pakan ikan budidaya akan mengakibatkan adanya peningkatan pigmen warna pada tubuhnya selama masa pemeliharaan.

1.2  Tujuan

  1. Melakukan pemeliharaan ikan hias komet.
  2. Mengamati dan menghitung pembentukan warna ikan hias komet.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskrifsi Ikan Komet

2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi

Ikan komet termasuk dalam famili Cyprinidae dalam genus Carassius. Ikan komet merupakan salah satu jenis dari Cypridae yang banyak dikenal dikalangan masyarakat karena memiliki warna yang indah dan eksotis serta bentuk yang menarik. Kedudukan ikan komet di dalam sistematika (Lingga dan Susanto, 2003) adalah sebagai berikut :

Filum         : Chordata

Kelas         : Pisces

Sub kelas   : Teleostei

Ordo          : Ostariphisysoidei

Sub ordo   : Cyprinoidea

Famili        : Cyprinidae

Genus        : Carassius

Spesies      : Carassius auratus

Morfologi ikan komet tidak jauh beda dengan morfologi ikan mas. Karakteristik ikan komet masih dapat dibedakan dari karakteristik ikan mas secara umum, meskipun jika didekatkan keduanya akan sangat mirip, oleh sebab itu diluar negeri ikan komet dijuluki sebagai ikan mas (goldfish). Ikan komet sangat aktif berenang baik di dalam kolam maupun di dalam akuarium, tidak dapat bertahan dalam ruang yang sempit dan terbatas, serta membutuhkan filtrasi yang kuat dan pergantian air yang rutin. Ikan komet banyak ditemui dengan warna putih, merah dan hitam, dapat tumbuh dan hidup hingga berumur 7 hingga 12 tahun dan panjang dapat mencapai 30 cm (Partical Fish Keeping, 2006)

2.1.2  Kebiasaan Hidup

Ikan komet yang kita pelihata dikolam atau akuarium dapat kita pijahklan sepanjang tahung tetapi jika ikan komet di alam biasanya memijah setelah musim hujan karena pada saat mudim hujan banyak dataran yang terendam air yang teklah kering beberapa bulan sehingga merangsang ikan memijah pada tempat yang baru tergenan air di sebabkan tempat yang baru di genagi air mengeluarkan bau ampo atau bau has dari dalam tanah seningga merangsan induk ikan memijah di tempat itu.

2.1.3 Reproduksi

Proses reproduksi pada sebagian besar ikan hias, pada umumnya berlangsung melalui pembuahan telur yang terjadi di luar tubuh ikan. Dalam hal ini, ikan jantan dan betina akan saling mendekat satu sama lain kemudian si betina akan mengeluarkan telur. Selanjutnya si jantan akan segera mengeluarkan spermanya, lalu sperma dan telur ini bercampur di dalam air. Cara reproduksi demikian dikenal sebagai oviparus, yaitu telur dibuahi dan berkembang di luar tubuh induk ikan (Goernaso, 2005).

2.1.4. Karetonoid

Karotenoid adalah golongan senyawa kimia organik bernutrisi yang terdapat pada pigmen alami tumbuhan dan hewan. Berdasarkan struktur kimianya, karotenoid masuk ke dalam golongan terpenoid. Karotenoid merupakan zat yang menyebabkan warna merah, kuning, oranye, dan hijau tua pada buah dan sayuran. Peran penting karotenoid adalah sebagai agen antioksidan dan dalam sistem fotosintesis.  Selain itu, karotenoid juga dapat diubah menjadi vitamin esensial. Karotenoid adalah pigmen (pewarna alami) organik yang terjadi secara alamiah dalam tumbuhan dan organisme berfotosintesis lainnya seperti ganggang, beberapa jenis fungi dan beberapa bakteri.  Sekarang terdapat 600 karotenoid yang dikenal, mereka dibagi menjadi dua kelas, xanthophylls dan karoten. Karotenoid alami (juga dikenal sebagai ekstrak karoten) yang secara alami dapat memberikan pigmen warna pada berbagai tumbuhan termasuk buah-buahan dan sayuran. Karotenoid merupakan suatu zat alami yang sangat penting dan mempunyai sifat larut dalam lemak atau pelarut organik tetapi tidak larut dalam air yang merupakan suatu kelompok pigmen berwarna orange, merah atau kuning (Kurniawan, 2010).

Karotenoid adalah pigmen organik yang ditemukan dalam kloroplas dan kromoplas tumbuhan dan kelompok organisme lainnya seperti alga, sejumlah bakteri (fotosintentik maupun tidak), dan beberapa fungi (non-fotosintetik). Karotenoid dapat diproduksi oleh semua organisme tersebut dari lipid dan molekul-molekul penyusun metabolit organik dasar. Organisme heterotrof sepenuhnya, seperti hewan, juga memanfaatkan karotenoid dan memperolehnya dari makanan yang dikonsumsinya. Karotenoid termasuk dalam tetraterpenoid, suatu senyawa rantai panjang dengan 40 atom karbon, yang dibentuk dari empat unit terpena (masing-masing terdiri dari 10 atom karbon). Secara struktural, karotenoid berbentuk rantai hidrokarbon poliena yang kadang-kadang di bagian ujungnya terdapat gugus cincin dan mungkin memiliki atom oksigen. Namanya berasal dari kata carotene yang ditambah sufiks -oid, dan berarti “senyawa-senyawa sekelompok atau mirip dengan karotena” (Ikawati, 2005).

2.2 Menghias Ikan dengan Karoten

Ciri yang paling menonjol dari seekor ikan hias selain bentuknya yang khas, juga adalah warna yang menarik. Warna inilah yang membuat orang rela berjam-jam di depan akuarium kesayangannya selepas pulang kerja atau sekedar istirahat siang dikantor yang ada pajangannya di ruang lobi. Namun terkadang lama kelamaan warna ikan hias ini akan memudar dan bahkan hilang sama sekali sehingga tidak lagi menarik dan menjadi pusat perhatian. Biasanya para penggemar dan petani ikan hias akan memberi udang-udangan kecil sebagai pakan tambahan. Jenis udang-udangan atau yang masuk kedalam family decapoda (kepiting, lobster atau rajungan kecil ) dapat memelihara warna pada kulit ikan. Untuk sementara cara ini benar khususnya buat ikan-ikan hias karnivora seperti arwana, louhan atau udang-udangan hias, namun cara ini tidak berlaku dan justru menjadi masalah bagi ikan-ikan hias omnivore seperti koki, koi atau cupang yang sudah terbiasa dengan pellet sebagai pakannya dan tidak berani untuk memburu mangsa hidup.

Untuk mengatasi permasalahan ini salah satunya adalah cukup dengan memasukkan pigmen warna kedalam pakan ikan hias. Pigmen warna ini dikenal dengan karoten. Karoten adalah sumber utama yang bertanggungjawab terhadap pewarnaan pada ikan. Berbagai warna yang ada dihasilkan oleh adanya karoten khusus dan karoten protein kompleks. Karotenoid hanya bisa disintesa oleh tumbuhan termasuk didalamnya phytoplankton, alga, dan sejumlah kecil jamur dan bakeri. dan kemudian dimanfaantkan oleh hewan, termasuk ikan, lewat rantai makanan atau melalui makanan (pellet) yang diberikan.

Karoten yang tersedia di lingkungan perairan terbagi dua yakni karoten kuning (lutein, zeaxanthin dan alfa dan beta-caroten) dan koroten merah (astaxanthin). Namun keberadaan astaxanthin adalah yang terbesar dan terserap pada hewan-hewan air seperti udang-udangan, krill, trout atau salmon. Olehnya itu udang-udangan ini banyak dimanfaatkan oleh petani ikan atau penggemar ikan hias sebagai pakan hidup bagi ikan hiasnya.

Selain yang berasal dari alam, karotenoid dapat juga berasal dari sintesa secara kimiawi berupa karoten buatan dari gelatin. Jenis ini adalah kelompok astaxanthin (red carotenoid) dan yang termasuk didalamnya roche carophyll pink, cantaxanthin dan citranaxanthin. Pada ikan hias koi, sumber astaxanthin buatan ini umumnya banyak digunakan. Meskipun mudah untuk pembuatan dan pengadaannya namun sumber astaxanthin alami lebih memberikan pengaruh warna yang lebih baik dibanding astaxanthin sintesis pada warna ikan hias.

2.3.    Metode Analisis Karoten

Istilah karotena digunakan untuk menunjuk ke beberapa senyawa yang berhubungan yang memiliki formula C40H56. Karotena adalah pigmen fotosintesis berwarna jinggayang penting dalam fotosintesis. Zat ini membentuk warna jingga dalam wortel dan banyak buah dan sayur lainnya. Dia berperan dalam fotosintesis dengan menyalurkan energi cahaya yang dia serap ke klorofil.

Secara biokimia, karotena terasuk dalam golongan terpena, yang disintesis secara biokimia dari delapan satuan isoprena. Ia dikenal dalam dua bentuk utama yang diberi karakter Yunani: alfa-karotena (α-karotena) dan beta-karotena (β-karotena). Gamma-, delta-, dan epsilon- (γ, δ, dan ε-karotena) juga dikenal dalam jumlah yang sedikit. Beta-karotena terdiri dari dua grup retinil, dan dipecah dalam mukosa dari usus kecil oleh beta-karotena dioksigenase menjadi retinol, sebuah bentuk dari vitamin A]. Karotena dapat disimpan dalam hati dan diubah menjadi vitamin A sesuai kebutuhan, sehingga ia dapat dianggap sebagai provitamin.

Beberapa untuk mengetahui Seekor ikan sudah mengandung betakarotin dengan metode secara objektif dan subjectif. Untuk menggunakan secara objectif dengan cara menggunakan metode sfectrofotometri dan metode subjectif dengan cara melihat secara langsung dengan beberapa panelis dan menentukan warna pada ikan tersebut.

2.3.1.  Metode Subjectif

Pengukuran subjectif dengan mengunakan mata secara langsung dengan beberapa panelis untuk menentukan ukuran warna pada beberapa skala. Untuk pengukuran ikan komet meliputi warna light salmon, coral

tomato, orange red, dark orange dan orange.

2.3.2.  Metode Spektrofotometri

Spektrofotometri merupakan suatu metode analisa yang di dasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatik oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokrometer prisma atau kiri difraksi dengan defector. Spektrofotometri merupakan suatu metode analisis yang di dasarkan pada absorbsi radiasi elektromagnetik . cahaya terdiri dari radiasi terhadap masa mata manusia peka. Gelombang dengan panjang gelombang beraliran akan menimbulkan cahaya yang berlainan. Sedangkan campuran cahaya dengan panjang panjang ini akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih meliputi seluruh sprektum nampak 400 – 760 nm. (Iqra Wahyuni, 2012).

Spektrometri serapan merupakan pengukuran atau interaksi antara radiasi elektromagnetik dan molekul atau atom dari suatuzat kimia. Teknik yang sering di gunakan dalam analisis farmasi meliputi spektrofotometri ultraviolet, cahaya tampak, inframerah dan serapan atom. Jangkauan panjang gelombang untuk daerah ultraviolet adalah 190 – 380 nm, daerah cahaya tampak 380 – 780 nm, daerah infra merah dekat 780 – 3000 nm dan daerah inframerah 2,5 – 40.

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

            Praktikum pewarnaan ikan pada ikan komet dilaksanakan pada tanggal 22 Mei – 17 Juni 2015. Bertempat di Realing Agribisnis Sutra Alam Politeknik Negeri Jember

3.2 Alat dan Bahan

Tabel 3.1 Alat dan bahan yang digunakan selama praktikum adalah sebagai berikut :

Alat Bahan
·         Aquarium ·         Bahan uji (Ikan komet)
·         Resirkulasi ·         Air
·         Seser ·         Pakan pellet
·         Termometer ·         Wortel
·         pH paper ·         Methilyn blue
·         DO meter
·         Pisau
·         Parut
·         Tisue
·         Timbangan digital

·         Penggaris

3.3 Prosedur Kerja

  1. Persiapan Wadah
  • Persiapan wadah (aquarium), pembersihan, pencucian, pengeringan.
  • Pengisian air dengan ketinggian 20cm.
  • Pasang dan atur penyuplai oksigen (pemasangan resirkulasi air).
  • Tandai aquarium sesuai dengan perlakuan yang akan dilakukan  dengan menggunakan kertas label.
  1. Persiapan Benih
  • Melakukan seleksi benih ikan hias komet yang sehat dan tidak cacat.
  • Mengukur panjang dan berat tubuh ikan  komet menggunakan penggaris dan timbangan digital sebagai panjang dan bobot awal ikan komet.
  • Lakukan pengecekan indicator warna awal ikan kemudian di foto sebagai dokumentasi warna ikan.
  • Lakukan pengamatan pertumbuhan dan catat laju pertumbuhan ikan komet setiap minggunya.
  1. Pemeliharaan
  • Pemberian pakan dilakukan sehari 4 kali yaitu pada pagi jam 07.00WIB, siang hari 11.00 wib, sore hari pada jam 15.00 WIB dan malam hari 19.00 WIB.
  • Pakan pellet diberikan 2% dari berat total ikan yang dipelihara setiap aquariumnya.
  • Pemberian pakan tambahan diberikan 2 jam setelah pemberian pakan pellet dengan konsentrasi yang berbeda pada setiap kelompoknya.
  • Pemberian pakan tambahan pada P1=10%, P2=15%, P3-20%, dan P4=25% dari berat total ikan.Lakukan penyiponan 3 kali sehari.
  • Setiap seminggu sekali lakukan pengamatan dan laju pertumbuhan yaitu panjang dan berat ikan.
  • Lakukan pengamatan perkembangan warna tubuh ikan setiap minggunya.
  • Pengamatan tingkat kecerahan warna serta kandungan β karoten pada ikan komet dilakukan di Laboratorium Biosain setelah pemeliharaan selaesai dilakukam.

Data pemberian pakan setiap minggunya sebagai berikut :

Tabel 3.2 Data jumlah pakan setiap minggu

Waktu Pakan Jumlah (gram)
Awal Pellet 20% 0,73
Wortel 2% 7,26
Minggu I Pellet 20% 0,71
Wortel 2% 6,71
Minggu II Pellet 20% 6,87
Wortel 2% 0,69
Minggu III Pellet 20% 6,62
Wortel 2% 0,66
  1. Pengukuran Kualitas Air
  • Tempratur

Pengukuran dilakukan sebelum penebaran dan setiap satu minggu sekali, pada waktu (pagi hari). Menggunakan thermometer. Pengukuran dilakukan dengan cara memasukan alat kemudian melihat nilai yang tertera pada alat tersebut dari 0-100oC.

  • pH

Pengukuran dilakukan sebelum penebaran dan setiap satu minggu sekali, pada waktu (pagi hari). Menggunakan pH paper. Pengukuran dilakukan dengan cara memasukan kertas lakmus ke dalam air. Kemudian cocokan pada paper untuk mengetahui nilai pH tersebut.

  • DO

Pengukuran dilakukan sebelum penebaran dan setiap satu minggu sekali, pada waktu (pagi hari). Dengan menggunakan alat DO meter. Pengukuran dengan cara mengkalibrasi alat tersebut, kemudian celupkan alat tersebut ke dalam air. Lihat nilai DO pada monitor alat, ketika nilai telah stabil dalam 10 detik tik berubah-ubah.

  1. Mengukur Kandungan Karotenoid
  • Ambil sampel (sisik) dari badan ikan.
  • Timbang sampel (sisik) sebanyak 1 gram.
  • Haluskan sampel (sisik) dengan menggunakan mortal dan alu.
  • Tambahkan larutan aceton sebanyak 10ml
  • Pisahkan gibris dengan supernatant menggunakan kertas saring yang disempan diatas saringan.
  • Ambil sampel sebanyak 1 ml menggunakan pipet volume.
  • Masukan sampel ke dalam kupet
  • Masukan kuvet ke dalam alat.
  • Catat nilai panjang gelombang dari 480, 646, dan 663.
  • Masukan ke dalam rumus untuk mengetahui nilai kandungan karotenoid pada ikan komet tersebut.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Dari hasil praktikum didapat hasil sebagai berikut :

Tabel 4.1. Data rata-rata berat dan panjang ikan

Waktu Rata-rata berat ikan Rata-rata panjang ikan
Awal 36,29 9,94
Minggu I 33,35 10,04
Minggu II 34,38 10,02
Minggu III 33,07 10,4
Minggu IV 33,29 10,18

Tabel 4.2. Data nilai kandungan karotenoid

Perlakuan 480 663 646 Karotenoid mMol/L
Kontrol 0,019 0,013 0,018 0,000181
10 0,32 0,009 0,008 0,000350
15 0,052 0,016 0,014 0,00048
20 0,077 0,011 0,011 0,00069
25 0,038 0,002 0,008 0,003379

Tabel 4.3 Data skala warna ikan

Waktu Skala Warna
Awal Skala 4
Minggu I Skala 4
Minggu II Skala 5
Minggu III Skala 5
Minggu IV Skala 5

Keterangan :

  • Light Salmon                     = Skala 1
  • Coral                                   = Skala 2
  • Tomato                               = Skala 3
  • Orange Red                        = Skala 4
  • Dark Orange                      = Skala 5
  • Orange                                = Skala 6

    

untuk menentukan pengukuran warna secara subjectif

4.2 Pembahasan

Pada pengamatan ikan dari berat dan panjang ikan terjadi tidak naik pada berat badan pada awal penimbangan dengan minggu – minggu berikutnya. Ada beberapa faktor yang terjadi jika hasil berat badan ikan tidak naik.

  1. Perbedaan pakan pada saat di pelihara

Pada saat dipelihara oleh pemelihara sebelumnya pakan cenderung diberikan pakan yang menigkatkan pertumbuhan sementara pada saat di pelihara penelitian pakan lebih banyak mengandung beta karoten (wortel) sehingga menurunkan berat badan ikan. Cenderung ikan akan berwarna cerah di bandingkan berbobot besar.

  1. Beda wadah saat menimbang ikan.

Perbedaan wadah yang dipakai pada saat menimbang membuat berbeda pada saat minggu – minggu saat penimbangan. Minggu ke 3 dan ke 4 menggunakan wadah yang sama.

Ikan yang telah dipelihara  berminggu – minggu untuk diamati karoten dengan menggunakan skala warna dan Spektrofotometri. Skala warna menggunakan  Light Salmon     , Coral , Tomato, Orange Red            , Dark Orange, Orange. Ikan yang dipelihara setiap minggu akan di ukur dengan 6 skala tersebut untuk dilihat warna kecerahannya dengan panelis 1 kelompok. Pada awal ikan berskala 4 yaitu orange red (orange kemerah merahan). Pada minggu ke 2 warna ikan masih skala 4 dikarenakan ikan belum menyukai makan wortel (beta karoten). Pada minggu ke 2 warna ikan sedikit berubah menjadi skala 5 ketika ikan sudah mau mengkonsumi wortel. Pada minggu ke 3 dan 4 memiliki skala 5 ketika ikan sudah mulai makan wortel secara rutin.

Karotenoid merupakan suatu zat alami yang sangat penting dan mempunyai sifat larut dalam lemak atau pelarut organik tetapi tidak larut didalam air yang merupakan suatu kelompok pigmen berwarna oranye, merah, atau kuning. Analisa total karotenoid dilakukan dengan metode spektrofotometri. Dengan alat menggunakan nilai panjang gelombang dari 480, 646, dan 663.  Dari hasil pengukuran tersebut semua perlakuan 5 %, 10 %, 15 % dan 20 % mempunyai nilai karoten yang berbeda. Pada control 0,000181,  kelompok I  0,000350, Kelompok II 0,00048, Kelompok III 0,00069 , kelompok IV 0,003379. Dari 5 perlakuan kelompok 5 mempunyai jumlah karoten yang paling tinggi.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  • Pengukuran menggunakan skala warna dan alat  spektrofotometri
  • Berkurangnya bobot badan pada ikan terjadi beberapa hal yaitu pemberian pakan yang berbeda dan wadah yang berbeda saat menimbang.
  • Untuk pengukuran skala warna semakin minggu ke minggu semakin meningkat skala warnanya minggu 1, 2 Skala 3 , minggu 3 skala 4 dan minggu 4, 5 skala 5.
  • Kelompok 5 mempunyai karetonoid yang lebih tinggi 0,003379 mMol/l.

5.2 Saran

Mencari litelatur atau pengakuan pemelihara sebelumnya tentang ikannya sangat penting dan menimbang dengan konstan atau wadah yang sama. Penggunaan wortol 15 % mempunyai karoten yang tinggi dan dapat diaplikasikan untuk menggunakan pewarnaan ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, S. 2000. Salmon Colour and Consumer.  Hoffman-La  Roche, Cambridge Ontario. Canada.

Bachtiar,  Y.  2002.  Mencermelangkan Warna  Koi.  Agromedia  Pustaka. Jakarta

Goernaso, 2005. Fisiologi Hewan. Universitas Terbuka. Jakarta

Lesmana  dan  Satyani,  D.  2002.  Agar Ikan  Hias  Cemerlang.  Penebar Swadaya. Jakarta..

Lingga dan Susanto. 2003. Klasifikasi Ikan Komet (Carassius auratus). Agromedia. Jakarta.

Partical Fish Keeping. 2006. Biologi Ikan Hias. Agromedia. Jakarta.

Sally,  E.  1997.  Pigment  Granula Transport  in  Cromatophores.Departement of Biology Bucknell University, Lewisburg.

Satyani,  D.  dan  Sugito,  S.  1997. Astaxanthin  sebagai  Sumber Pakan  untuk  Peningkatan  Warna Ikan  Hias.  Warta  Penelitian Perikanan Indonesia 3(1): 6-8