Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

LAPORAN

EMBRIOGENESIS

ELFIAN PERMANA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) adalah merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah bisa dibudidayakan. Bila dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, ikan lele dumbo memiliki beberapa keunggulan yaitu pertumbuhannya yang sangat cepat, mudah dipelihara, tahan terhadap kondisi air yang buruk, memiliki nilai gizi dan nilai ekonomis yang cukup tinggi.untuk menentukan jenis kelamin yaitu Ikan lele jantan kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina, warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina, gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress), perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina, kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina dalam menentukan pada saat reproduksi.

Reproduksi ikan lele merupakan aspek biologis yang terkait mulai dari diferensiasi seksual hingga dihasilkan individu baru. Pengetahuan tentang ciri reproduksi yaitu mengetahui tentang perubahan atau tahapan-tahapan kematangan gonad untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan atau tidak melakukan reproduksi. Sampai menghasilkan telur dan perkembangan embrio.

Dalam proses pembuahan, spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang microphyle yang terdapat pada chorion. Tetapi spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur. Telur dan sperma yang baru di keluarkandari tubuh induk, mengeluarkan zat kimia yang berguna dalam proses pembuahan (Effendie, 1997).

Setelah pembuahan kemudian mengalami Perkembangan embrio merupakan suatu kelanjutan hasil fertilisasi dari hasil sel telur dan sel sperma yang kemudian setelah dibuahi akan mengalami proses pembentukan pola-pola pembelahan telur yang disebut cleavage. Sel telur membelah secara berturut-turut hingga mencapai fase diferensiasi menjadi bentuk dewasa pada tahap organogenesis. Pertumbuhan menjadi sistem organ yang kompleks dan saling tergantung merupakan suatu hal yang terinci dalam sistem biologis yang semuanya akan termodifikasi secara sempurna (Harvey, 1979).

Perkembangan embrio pada Ikan Mas betina dimulai setelah telur dibuahi oleh inti spermatozoon yang semua haploid, menjadi inti zigot yang diploid. Zigot inilah yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pembelahan segmentasi melalui proses mitosis yang cepat. Zigot yang tersegmen-segmen menjadi bagian yang kecil (cleavage), bermula dari satu sel kemudian membelah menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, hingga 32 sel yang disebut fase morula (Djuhanda,1981). Sama halnya dengan telur ikan lele.

Proses pembentukan blastula disebut blastulasi dimana kelompok sel-sel anak hasil pembelahan berbentuk benda yang relatif bulat ditengahnya terdapat rongga yang kosong disebut suloblastula (coeloblastula) sedangkan yang berongga massif disebut steroblastula. Gastrulasi adalah proses pembentukan 3 daun kecambah yakni ectoderm, mesoderm dan entoderm. Gastrulasi ini erat hubungannya dengan pembentukan system syaraf (neurolasi) sehingga merupakan periode kritis dan kemudian sampai pada organogenesis.

1.2  Tujuan

  1. Mengetahui telur yang sudah terbuahi dengan yang tidak terbuahi
  2. Mengetahui fase – fase perkembangan telur.
  3. Mengetahui perkembangan organ

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Ikan lele (Clarias sp.)

Taksonomi ikan lele (Clarias sp.)

Kingdom                         :Animalia
Phyllum                           :Chordata
Sub-phyllum                    :Vertebrata
Klas                                 :Pisces
Sub-klas                           :Teleostei
Ordo                                :Ostariophysi
Sub-ordo                          :Siluroidea
Familia                             :Clariidae
Genus                              : Clarias

Speies                              : Clarias sp.

Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) adalah merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah bisa dibudidayakan. Bila dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, ikan lele dumbo memiliki beberapa keunggulan yaitu pertumbuhannya yang sangat cepat, mudah dipelihara, tahan terhadap kondisi air yang buruk, memiliki nilai gizi dan nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Ciri primer

Ikan lele jatan mempunyai organ yang bernama testis, mempunyai urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan, jika sudah matang gonad kelamin yang berbentuk papila membengkak dan berwarna merah tua, bila diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih. sedangkan ikan lele betina mempunyai organ yang bernama ovari kalau di sekitar kloaka ditekan akan keluar beberapa butir telur yang bentuknya bundar dan besarnya seragam.

      Ciri sekunder

Ikan lele jantan kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina, warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina, gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress), perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina, kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina. Sedangkan ikan lele betina kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan, warna kulit dada agak terang, gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung, perutnya lebih gembung dan lunak.

2.2 Proses perkembangan embrio ikan

2.2.1  Kehamilan (Impregnasi) Dari Pembuahan

Perkembangan embrio diawali saat proses impregnasi, dimana sel telur (ovum) dimasuki sel jantan (spermatozoa). Proses pembuahan pada ikan bersifat monospermik, yakni hanya satu spermatozoa yang akan melewati mikropil dan membuahi sel telur. Pada pembuahan ini terjadi pencampuran inti sel telur dengan inti sel jantan. Kedua macam inti sel ini masing-masing mengandung gen (pembawa sifat keturunan) sebanyak satu set (haploid). Sel telur dan sel jantan yang berada dalam cairan fisiologis masing-masing dalam tubuh induk betina dan jantan masih bersifat non aktif. Ada beberapa hal yang mendukung berlangsungnya pembuahan dengan baik. Pada saat sel telur dan spermatozoa dikeluarkan ke dalam air mereka menjadi aktif. Spermatozoa yang tadinya non aktif bergerak (motil) dengan menggunakan ekornya yang berupa cambuk. Berjuta-juta spermatozoa dikeluarkan pada saat pemijahan dan menempel pada sel telur, tetapi hanya satu yang dapat melewati mikropili satu-satunya lubang masuk spermatozoa pada sel telur. Kepala spermatozoa, dimana terdapat inti, menerobos mikropil dan bersatu dengan inti sel telur sedangkan ekornya tertinggal pada saluran mikropil tersebut, dan berfungsi sebagai sumbat untuk mencegah sel-sel jantan yang lain ikut masuk.

Masuknya spermatozoa lewat mikropil harus berlangsung dengan cepat sekali supaya persatuan kedua inti sel kelamin tersebut dapat terjadi, karena inti sel telur akan bergerak dan daya gerak sperma itu sendiri sangat terbatas 1 – 2 menit saja. Spermatozoa lainnya yang bertumpuk pada saluran mikropil, ada yang mengatakan akan dilebur dijadikan makanan sel telur yang telah dibuahi atau zigot. Tetapi ada pula yang mengatakan dibuang, didorong keluar oleh reaksi korteks.

Demikian juga halnya dengan spermatozoa yang menempel pada permukaan karion harus dibuang karena akan mengganggu proses pernapasan (metabolisme) zigot yang sedang berkembang. Cara pembuangan atau pelepasan spermatozoa itupun dengan reaksi korteks.

Pencampuran inti sel telur dan spermatozoa terjadi dalam sitoplasma telur. Persatuan kedua inti (pronuklei) dari sel betina dan sel jantan bersatu dalam proses yang disebut amfimiksis.

2.2.2  Pembelahan Sel Zigot (Cleavage)

Pembelahan sel zigot pada ikan umumnya adalah tipe meroblastik (parsial) walaupun ada juga holoblastik (total). Pada tipe meroblastik yang membelah hanya inti sel dan sitoplasmanya saja, sedang pada holoblastik kuning telur pun turut membelah diri. Kedua tipe pembelahan sel tersebut ditentukan oleh banyaknya kuning telur dan penyebarannya.

Banyaknya dan penyebaran kuning telur dalam telur ikan tidak sama tergantung kepada jenis ikannya. Telur isolesital (alesital, oligolesital) adalah telur yang mengandung kuning telurnya sedikit dan tersebar di seluruh sel telur. Sedangkan pada telur telolesital jumlah kuning telurnya relatif banyak dan berkumpul pada kutub vegetatif sedangkan pada kutub anima hanya terdapat inti sitoplasma. Telur telolesital ini terdiri dari 2 macam, politelosital dan sentrolesital.

Dari hasil pembelahan sel telolesital ini akan terbentuk 2 kelompok sel. Yang pertama adalah kelompok sel-sel utama (blastoderm) yang akan membentuk tubuh embrio disebut sel-sel formatik atau gumpalan sel-sel dalam (inner mass cells). Yang kedua adalah kelompok sel-sel pelengkap (trophoblast, periblast, auxiliary cells) yang berfungsi sebagai selaput pelindung dan jembatan penghubung antara embrio dengan induk atau lingkungan luar.

Pada ikan, reptil dan burung kelompok sel-sel utama ini disebut juga cakram kecambah (germinal disc) yang terdiri dari jaringan embrio (blastodisc) yang akan menjadi tubuh embrio dan jaringan periblast yang berfungsi sebagai penyalur makanan yang berasal dari kuning telur.

2.2.3. Morula

      Morula merupakan pembelahan sel yang terjadi setelah sel mengalami berjumlah 32 sel dan berakhir bila sel sudah menghasilkan sejumlah blastomer yang berukuran sama akan tetapi ukurannya lebih kecil sel tersebut memadat untuk menjadi blastodik kecil yang membentuk dua lapisan sel. Pada saat ini ukuran sel mulai beragam. Sel mulai membentang secara melintang dan mulai membentuk formasi lapisan kedua lapis sel. Pada akhir pembelahan terjadi 2 bentuk yaitu sel utama (blastoderm) yang meliputi sel – sel formatik dan pembelahan kedua yaitu kelompok sel – sel pelengkap yaitu trophoblast ,periblast auxiliary cells fungsinya melindungi dan menghubungi embrio dengan induk atau lingkungan luar.

2.2.4 Blastulasi                                                       

Proses pembentukan blastula disebut blastulasi dimana kelompok sel-sel anak hasil pembelahan berbentuk benda yang relatif bulat ditengahnya terdapat rongga yang kosong disebut suloblastula (coeloblastula) sedangkan yang berongga massif disebut steroblastula. Suloblastula terdapat pada Amphioxus dan kodok, steroblastula terdapat pada ikan dan amphibi yang tidak berkaki (gymmophonia).

Pada blastula ini sudah terdapat daerah yang akan berdiferensiasi membentuk organ-organ tertentu (presumtife organ forming) seperti sel-sel saluran pencernaan, notochorda, saraf dan epidermis, ectoderm, mesoderm, dan entoderm.

Bentuk dan fungsi berbagai bagian blastula terjadi melalui diferensiasi yakni sebuah atau sekelompok sel mengalami perubahan bentuk atau fungsi. Ada 3 macam diferensiasi yakni kimiawi, bentuk dan faali (fungsi). Diferensiasi kimiawi merupakan langkah awal untuk diferensiasi-diferensiasi berikutnya dan sifatnya menentukan atau membatasi kegiatan sel kearah fungsi tertentu.

2.2.5.  Gastrulasi

Gastrulasi adalah proses pembentukan 3 daun kecambah yakni ectoderm, mesoderm dan entoderm. Gastrulasi ini erat hubungannya dengan pembentukan system syaraf (neurolasi) sehingga merupakan periode kritis. Pada proses ini terjadi perpindahan daerah ectoderm, mesoderm, entoderm dan notokorda menuju tempat definitif.

Ektoderm adalah lapisan terluar dari gastrula, disebut juga ektoblast atau epiblast, entoderm adalah lapisan sel-sel terdalam pada gastrula, sedangkan mesoderm atau mesoblast adalah lapisan sel lembaga yang terletak ditengah antara ectoderm dan entoderm.

Gastrulasi pada ikan teleost akan berakhir pada saat massa kuning telur telah terbungkus seluruhnya. Selama proses ini beberapa jaringan mesoderm yang berada sepanjang kedua sisi notokorda disusun menjadi segmen-segmen yang disebut somit.

Akibat adanya gastrulasi maka perkembangan embrio berlangsung terus sampai terbentuk bentuk badan hewan bertulang punggung yang primitif.

2.2.6  Organogenesis

Organogenesis, yakni proses pembentukan alat-alat tubuh makhluk yang sedang berkembang. System organ-organ tubuh berasal dari 3 buah daun kecambah, yakni ectoderm, entoderm dan mesoderm. Dari ectoderm akan terbentuk organ-organ susunan (system) syaraf dan epidermis kulit. Dari entoderm akan terbentuk saluran pencernaan beserta kelenjar-kelenjar pencernaan dan alat pernapasan. Sedangkan dari mesoderm akan muncul rangka, otot, alat-alat peredaran darah, alat ekskresi, alat-alat reproduksi dan korium kulit.

Dari mesoderm intermediate dihasilkan ginjal, gonad dan saluran-salurannya. Mesoderm lateral menjadi lapisan-lapisan dalam dan luar yang membungkus ruang coelom. Pelapis ruang pericardium, peritoneum, jantung, saluran-saluran darah, tubuh dan lapisan-lapisan usus semua berasal dari endoderm (entoderm), sedangkan alat ekskresi melalui pembentukan nephrostom. Mesenchym di kepala membantu pembentukan lapisan-lapisan luar mata, rangka kepala, otot kepala dan lapisan dentin pada gigi.

Beberapa faktor mempengaruhi seluruh proses perkembangan menyebabkan keberhasilan atau kegagalan. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi kecepatan perkembangan dan menentukan bentuk dan susunannya. Diantara faktor-faktor tersebut adalah suhu perairan. Suhu mempengaruhi kecepatan seluruh proses perkembangan atau fraksi-fraksi perkembangan. Kecepatan dapat dinyatakan sebagai kebalikan periode perkembangan dalam hari. Makin besar fraksi tersebut makin cepat perkembangannya. Sebagai contoh jika ikan mempunyai periode perkembangan selama 88 hari maka kecepatannya adalah 1/88.

Periode perkembangan dan periode penetasan umumnya lebih pendek pada suhu yang lebih tinggi. Beberapa jenis ikan berkembang dialam di bawah suhu yang tidak optimal seperti yang dilakukan di laboratorium. Suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan merintangi perkembangan. Suhu yang ekstrim atau yang berubah secara mendadak akan menyebabkan kematian.

Gas-gas yang terlarut dalam air juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan emberio, terutama bagi telur-telur ikan ovipar. Kelarutan oksigen yang optimum atau yang tak dapat ditoleransi bervariasi tergantung kepada jenis ikan, umumnya 4 – 12 ppm dapat diterima oleh ikan-ikan. Ikan-ikan yang biasa memijah di air mengalir dan dingin memerlukan oksigen terlarut lebih tinggi dari pada ikan-ikan yang biasa di air tergenang (stagnan) berarus lambat.

Tekanan oksigen dapat mempengaruhi jumlah elemen-elemen meristik. Pada ikan Salmo truta, tekanan yang berkurang pada saat perkembangan embrio akan menyebabkan bertambahnya jumlah tulang punggung.

Sekurang-kurangnya 2 jenis gas yang bersifat racun bagi ikan dan embrionya, yakni CO2 dan amonia. Makin tinggi konsentrasi kedua gas tersebut dalam air makin berbahaya bagi ikan dan embrionya.

Salinitas tinggi dapat merusak telur ikan air tawar sebaliknya bagi ikan-ikan air laut, begitu juga untuk telurnya. Apabila telur ikan air tawar disimpan dalam salinitas yang tak ditoleransinya telur tersebut akan mengkerut karena air ditarik keluar, akhirnya mati. Sedangkan telur ikan laut bila disimpan dalam air tawar akan menarik air kedalamnya (imbibisi) dan akhirnya telur tersebut akan pecah. Salinitas mempunyai pengaruh selektif terhadap perkembangan beberapa organ.

Pengaruh endokrin (hormon) pada perkembangan embrio telah dikenal, seperti hormon kelenjar hipofisa dan tiroid yang berperan pada metamorfosa.

Jumlah kuning telur ada hubungannya dengan kecepatan perkembangan embrio. Biasanya jenis telur ikan yang mempunyai kuning telur yang banyak perkembangannya lambat. Misal sebagai contoh telur-telur ikan tropis dengan jumlah kuning telur yang relatif sedikit lebih cepat berkembang daripada telur ikan dari daerah 4 musim yang biasa berpijah pada suhu yang lebih rendah.

Cleavage
blastula
glastula
Ooorganogenesiss

Gambar 1. Proses Perkembangan Telur

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu Dan tempat

Judul Laporan       : Pengamatan Embriogenesis Telur Ikan Lele (Clarias sp)

Hari/tanggal          : Rabu , 2 Oktober Sampai 3 Oktober 2013

Tempat                  : Hatchery departeman perikanan vedca Cianjur

3.2 Alat dan Bahan

Nama Alat Spesifikasi Jumlah Kegunaan
Mikroskop inverted Pembesaran 400X 1 buah Mengamati embrio
Petridisk Diameter 10 cm 5 buah Mengamati embrio
Gelas objek 10 buah Mengamati embrio
Pipet Volume 10 ml 2 buah Meneteskan telur
Spatula 1 Mengambil telur
Akuarium 1 buah Tempat sample
Mangkuk 3 buah Tempat telur & sperma
Nama Bahan Spesifikasi Jumlah Kegunaan
Induk ikan lele Matang gonad (betina 400 g, jantan 300g) 1 pasang Sunber telur dan sperma

3.3 Prosedur kerja

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Lakukan Penyuntikan pada Induk jantan dan betina
  3. Striping ikan lele betina dan ambil sperma ikan lele jantan
  4. Lalu fertilisasi telur dan sperma pada mangkuk
  5. Tebar telur ke aquarium
  6. Ambil sample telur untuk di amati
  7. Amati telur yang terbuahi dengan yang tidak terbuahi berdasarkan warna dan morfologinya. .
  8. Letakkan beberapa telur yang telah dibuahi diatas gelas objek
  9. Lakukan pengamatan terhadap setiap 30 menit/fase perkembangan embrio dan amati viabilitasnya sampai menetas menjadi larva.
  10. Di foto dan catat setiap perkembangan yang terjadi dan waktu terjadinya.

BAB VI

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

No Gambar Waktu Keterangan
1. 15.00 Cleavage

Dari hasil pembelahan sel telolesital ini akan terbentuk 2 kelompok sel. Yang pertama adalah kelompok sel-sel utama (blastoderm) yang akan membentuk tubuh embrio disebut sel-sel formatik atau gumpalan sel-sel dalam (inner mass cells). Yang kedua adalah kelompok sel-sel pelengkap (trophoblast, periblast, auxiliary cells) yang berfungsi sebagai selaput pelindung dan jembatan penghubung antara embrio dengan induk atau lingkungan luar.

2 16:00
3 17:00
4. 18.05 Morula

Sel membentuk  suatu bentukan  seperti bola (bulat) akibat pembelahan sel terus menerus dimana  keberadaan antara satu dengan sel yang lain adalah rapat

5. 18.15
  19:21 Blastula

Pada blastula ini sudah terdapat daerah yang akan berdiferensiasi membentuk organ-organ tertentu (presumtife organ forming) seperti sel-sel saluran pencernaan, notochorda, saraf dan epidermis, ectoderm, mesoderm, dan entoderm

kelompok sel-sel anak hasil pembelahan berbentuk benda yang relatif bulat ditengahnya terdapat rongga yang kosong

19:41
20:11
20:35
20:39
21:00
21:30
22:00
22:30
22:55
23:10 Grastula

Gastrulasi pada ikan teleost akan berakhir pada saat massa kuning telur telah terbungkus seluruhnya. Selama proses ini beberapa jaringan mesoderm yang berada sepanjang kedua sisi notokorda disusun menjadi segmen-segmen yang disebut somit.

23:45
00:14
01:00
01:12
01:43
02:05
02:30
03:04
03:32 Organogenesis,

proses pembentukan alat-alat tubuh makhluk yang sedang berkembang. System organ-organ tubuh berasal dari 3 buah daun kecambah, yakni ectoderm, entoderm dan mesoderm. Dari ectoderm akan terbentuk organ-organ susunan (system) syaraf dan epidermis kulit. Dari entoderm akan terbentuk saluran pencernaan beserta kelenjar-kelenjar pencernaan dan alat pernapasan. Sedangkan dari mesoderm akan muncul rangka, otot, alat-alat peredaran darah, alat ekskresi, alat-alat reproduksi dan korium kulit.

04:02
04:43
05:14
05:22
05:53
06:28
07:05
07:35
08:00
08:20
09:10
09:23
09:40
10:52
10:11
10:23
10:41
11:19
11:28
11:53
12:05
12:41
12:59
14:00
14:30
15:00
15:32
16:02
16:26
16:42
16:00

4.2 Pembahasan

Embriogenesis adalah proses pembelahan sel dan diferensiasi sel dari embrio ikan yang terjadi pada saat tahap-tahap awal dari perkembangan ikan hingga penetasan telur. Tahap-tahap embriogenesis terdiri dari zigot, morula, blastula, grastula dan organogenesis. Zigot akan mulai membelah oleh mitosis untuk menghasilkan organisme multiselular, waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan zigot ini adalah 15 menit (Anonim 2009). Berdasarkan hasil praktikum pembentukan zigot berkisar 27 menit yang dimulai dari pukul 15.00 – 15.27 WIB. Hasil dari proses ini disebut embrio. Morula adalah suatu bentukan sel seperti bola (bulat) akibat pembelahan sel terus menerus dimana  keberadaan antara satu dengan sel yang lain adalah rapat, waktu yang dibutuhkan pada tahap ini 2 jam (Anonim 2009).

Berdasarkan hasil praktikum dibutuhkan waktu dari proses zigot keproses morula berkisar 127 menit yaitu dari pukul 15.27 – 18.00 WIB. Tahap berikutnya, blastula adalah bentukan lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan. Tahap blastula ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan mengadakan pelekukan yang tidak beraturan. Berdasarkan hasil praktikum proses morula keproses blastula berkisar 1 jam 21 menit yaitu dari pukul 18.00 – 19.21 WIB. Selanjutnya, gastrula adalah bentukan lanjutan dari blastula yang pelekukan tubuhnya sudah semakin nyata dan mempunyai lapisan dinding tubuh embrio serta rongga tubuh, waktu yang dibutuhkan pada tahap ini 4 jam (Anonim 2009). Berdasarkan hasil praktikum dari proses blastula keproses grastula berkisar 4 jam 10 menit yaitu dari pukul 19.21 – 23.10 WIB. Tahap akhir dari embriogenesis yaitu organogenesis yaitu proses pembentukan organ-organ tubuh pada makhluk hidup (Anonim 2009).   Adapun kegunaan embriologi adalah memberikan pengertian tentang organ dan jaringan yang berbeda, berkembang dari suatu sel tunggal (zigot) dan membantu memberikan gambaran mengenai perkembangan normal dan perkembangan abnormal. Berdasarkan praktikum terlihat perbedaan dan terjadinya pembelahan setiap jamnya. Sehingga dapat membedakan perkembangan sel tunggal sampai penetasan telur.

Berdasarkan praktikum ikan yang digunakan adalah ikan lele (Clarias sp). Awal perkembangan dimulai saat pembuahan (fertilisasi) sebuah sel telur oleh sel sperma yang membentuk zigot (zygot). Gametogenesis merupakan fase akhir perkembangan individu dan persiapan untuk generasi berikutnya. Proses perkembangan yang berlangsung dari gametogenesis sampai dengan membentuk zygot disebut progenesis. Proses selanjutnya disebut embriogenesis (blastogene) yang mencakup pembelahan sel zigot (cleavage), morula, blastulasi, dan gastrulasi. Proses selanjutnya adalah organogenesis , yaitu pembentukan alat-alat (organ) tubuh. Embriologi mencakup proses perkembangan setelah fertilisasi sampai dengan organogenesis sebelum menetas atau lahir, berdasarkan hasil praktikum proses penetasan terjadi pada keesokan harinya pada pukul 16.00 WIB.

Menurut Nagy (1981), cleavage yaitu tahapan proses pembelahan sel. Proses ini berjalan teratur dan berakhir hingga mencapai balastulasi. Bisa juga dikatakan proses pembelahan sel yang terus menerus hingga terbentuk bulatan, seperti bola yang di dalamnya berisi rongga. Gastrulasi merupakan proses kelanjutan blastulasi. Hasil proses ini adalah terbentuknya tiga lapisan, yaitu ektoderrm, modeterm dan entoderm. Organogenesis adalah tahapan dimana terjadi pembentukan organ-organ tubuh dari tiga lapisan diatas, yaitu ektoderm, metoderm dan entoderm. Setiap lapisan membentuk organ yang berbeda. Ektoterm membentuk lapisan epidermis pada gigi, mata dan saraf pendengaran. Mesoderm membentuk sistem respirasi, pericranial, peritonial, hati dan tulang. Sedangkan entoterm membentuk sel kelamin dan kelenjar endokrin. Adapun proses-proses secara terperinci setelah pembuahan terjadi adalah sebagai berikut (Nagy 1981):

  1. Proses cleavage; proses pembelahan zygote secara cepat menjadi unit-unit sel kecil yang disebut blastomer.
  2. Proses blastulasi; proses yang menghasilkan blastula, yaitu campuran sel-sel blastoderm yang membentuk rongga penuh cairan sebagai blastokoel. Pada akhir blastulasi, sel-sel blastoderm akan terdiri atas neural, epidermal,notokhordal, mesodermal,dan entodermal yang merupakan bakal pembentuk organ-organ.
  3. Proses grastulasi; proses pembelahan bakal organ yang sudah terbentuk pada saat blastulasi. Bagian-bagian yang terbentuk nantinya akan menjadi suatu organ
  4. Proses organogenesis; proses pebentukan berbagai organ tubuh secara berturut-turut, antara lain susunan saraf, notochord, mata, somit, rongga kupffer, olfaktorin sac, subnotokhordrod, linear lateralis, jantung, aorta, insang, infundibulum, dan lipatan-lipatan sirip.

Peristiwa penetasan terjadi jika embrio telah menjadi lebih panjang lingkaran kuning telur dan telah terbentuk perut. Selain itu penetasan telur juga disebabkan oleh gerakan larva akibat temperature, intensitas cahaya, dan pengurangan tekanan tekanan oksigen (Affandi 2000).

Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Menurut Effendie (1997), umumnya pertambahan bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10-25% dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5-10%. Lebih lanjut dikemukakan bahwa semakin rneningkat tingkat kematangan gonad, diameter telur yang ada dalam gonad akan menjadi semakin besar. kematangan seksual pada ikan dicirikan oleh perkembangan diameter rata-rata telur dan melalui distribusi penyebaran ukuran telurnya. Berdasarkan hasil praktikum telur yang dihasilkan mempunyai diameter yang hampir sama pada umumnya.

Berdasarkan praktikum tidak terdapat perbedaan antara hasil yang diamati dengan gambar literatur. Dapat dilihat pada tabel 1 yaitu tabel hasil embriogensis ikan lele, literatur menunjukkan hasil yang sama dengan hasil yang diamati pada saat praktikum. selain itu waktu yang dibutuhkan dalam proses perkembangan telur sampai telur menetas selama 25 jam. Menurut Effendi (2000), kisaran normal perkembangan telur sampai menetasnya telur (18-20 jam). Hal ini berbeda dengan literatur yang ada, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses embriogenesis antara lain suhu, intensitas cahaya, dan pengurangan tekanan oksigen (Affandi 2000). Lamanya perkembangan telur ikan lele, dikarenakan kurangnya intensitas cahaya, serta suhu. Selain itu, pada praktikum perlakuan mengalami pemijahan secara buatan

Faktor luar yang yang berpengaruh terhadap penetasan telur ikan adalah suhu, oksigen terlarut, pH, salinitas dan intensitas cahaya. Proses penetasan umumnya berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi karena pada suhu yang tinggi proses metabolisme berjalan lebih cepat sehingga perkembangan embrio akan lebih cepat yang berakibat lanjut pada pergerakan embrio dalam cangkang yang lebih intensif. Namur demikian, suhu yang terlalu tinggi atau berubah mendadak dapat menghambat proses penetasan dapat menyebabkan kematian embrio dan kegagalan penetasan. Suhu yang baik untuk penetasan ikan 27 – 300C.

Kelarutan oksigen terlarut dan intensitas cahaya akan mempengaruhi proses penetasan. Oksigen dapat mempengaruhi sejumlah organ embrio. Cahaya yang kyat dapat menyebabkan laja penetasan yang cepat, kematian dan pertumbuhan embrio yang jelek serta figmentasi yang banyak yang berakibat pada terganggunya proses penetasan.

Telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Di dalam proses penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, setiap bak penetasan di pasang aerasi.

Telur akan menetas tergantung dari suhu air bak penetasan dan suhu udara. Jika suhu semakin panas, telur akan menetas semakin cepat. Begitu juga sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama. Telur ikan lele dumbo, ikanpatin dan bawal akan menetas menjadi larva antara 18 –24 jam dari saat pembuahan.

Sumantadinata (1983) mengatakan faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur adalah :

  1. Kualitas telur. Kualitas telur dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan pada induk dan tingkat kematangan telur.
  2. Lingkungan yaitu kualitas air terdiri dari suhu, oksigen, karbon-dioksida, amonia, dll.
  3. Gerakan air yang terlalu kuat yang menyebabkan terjadinya benturan yang keras di antara telur atau benda lainnya sehingga mengakibatkan telur pecah.

BAB V

KEIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

ü   Embriogenesis adalah proses pembelahan sel dan diferensiasi sel dari embrio ikan yang terjadi pada saat tahap-tahap awal dari perkembangan ikan hingga penetasan telur.

ü   Tahap-tahap embriogenesis terdiri dari zigot, morula, blastula, grastula dan organogenesis. Zigot akan mulai membelah oleh mitosis untuk menghasilkan organisme multiselular, waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan zigot ini adalah 15 menit (Anonim 2009).

ü   Berdasarkan praktikum tidak terdapat perbedaan antara hasil yang diamati dengan gambar literatur. Dapat dilihat pada tabel 1 yaitu tabel hasil embriogensis ikan lele, literatur menunjukkan hasil yang sama dengan hasil yang diamati pada saat praktikum. selain itu waktu yang dibutuhkan dalam proses perkembangan telur sampai telur menetas selama 25 jam.

ü   Menurut Effendi (2000), kisaran normal perkembangan telur sampai menetasnya telur (18-20 jam).

ü   Hal ini berbeda dengan literatur yang ada, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses embriogenesis antara lain suhu, intensitas cahaya, dan pengurangan tekanan oksigen (Affandi 2000). Lamanya perkembangan telur ikan lele, dikarenakan kurangnya intensitas cahaya, serta suhu.

5.2 Saran

Setelah mengambil kesimpulan dari penelitian ini, penulis menyarankan hendaknya para praktikan lebih tekun dan teliti dalam bekerja dan dibutuhkan kekompakan antar kelompok agar memperhatikan setiap perkembangan yang dapat terjadi di kelompok masing-masing. Sehingga pada praktikum ini dapat menghasilkan hasil yang memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Afandi R. & Tang U.M. 2000. Biologi Reproduksi Ikan. Laporan. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kawasan Pantai dan Perairan.

Anonim. 2009. Embriogenesis. http://www.embriogenesis ikan lele.com. [13           Desember 2012].

Djuhanda, T. 1981. Embriologi Perbandingan. Armico, Bandung.

Effendie, M.I.. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama.

Harvey, B. J. 1979. The Theory and Passino. Ichtiology. John Willy and Sons. New York

http: id.wikipedia.org/wiki/Lele

http://bambang pamungka.blogspot.com/2013/03/anatomi-reproduksi-ikan.html

http://nyetnyetanyet.wordpress.com/2009/10/24/perkembangan-embrio-ikan/

Nagy A, Bercsenyi M. & Csenyi V. 1981. Sex reversal in corp Cyprinus caprio by oral administration of metthytestosteron. Canadian Journal of Fisheries & Aquatic Science 38: 725-728.

Sumantadinata, K. 1983. Pengembangbiakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. Bogor: Sastra Hudaya