Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada setiap kegiatan budidaya ikan pasti akan terdapat kendala yang dapat menyebabkan berkurangnya produktivitas dalam suatu usaha. Penyebab utama terjadinya kegagalan produksi ikan budidaya biasanya disebabkan oleh karena adanya hama dan penyakit yang menyerang dalam wadah budidaya ikan. Karena ikan yang sakit tidak akan mengalami pertumbuhan berat badan yang optimal dan hal ini sangat merugikan bagi para pembudidaya. Agar tidak terjadi serangan hama dan penyakit ikan dalam wadah budidaya maka sebelum dilakukan kegiatan budidaya harus dilakukan treatment pada wadah yang akan digunakan seperti membersihkan wadah budidaya, penggunaan air yang baik secara kualitas dan kuantitas, peralatan yang akan digunakan untuk kegiatan budidaya telah disucihamakan, jangan memelihara ikan yang sakit dengan ikan yang sehat secara bersamaan, membuang segera ikan yang sakit. Jika ikan telah terserang hama dan penyakit ikan maka langkah yang harus dilakukan adalah melakukan pengobatan terhadap ikan yang sakit. Penyakit ikan terdiri dari virus , bakteri dan terutama parasit. Parasit adalah suatu organisme lebih kecil yang hidup di dan menempel pada tubuh organisme yang lebih besar yang disebut hos dan Ektoparasit adalah parasit yang terdapat di luar tubuh host (inang). Dari sekian banyaknya ektoparasit di dunia termasuk dalam filum Arthropoda.

Penyakit parasit  merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering menyerang  ikan terutama pada usaha pembenihan. Serangan parasit  bisa mengakibatkan  terganggunnya pertumbuhan, kematian bahkan  penurunan produksi ikan.  Berbagai organisme yang   bersifat parasit mulai dari protozoa, crusstacea dan annelida. Di perairan bebas,   terdapat berbagai macam parasit dengan variasi yang luas tetapi jumlahnya sedikit. Sedangkan dalam kegiatan budidaya, parasit terdapat .dengan  variasi yang sedikit tetapi jumlahnya banyak. Umumnya setiap parasit mempunyai siklus hidup yang rumit, yang kemungkinan merupakan  hal  penting dalam pengobatan ikan yang terserang parasit.  Studi siklus  hidup parasit  merupakan hal penting  untuk menentukan tindakan penanganan yang lengkap.  Ujicoba  infeksi  dengan parasit umumnya sulit dilakukan  karena parasit sulit diinkubasi atau dipelihara pada media buatan.oleh karena itu penyakit parasit harus dihilangkan dari tubuh ikan

1.2 Tujuan

Mengetahui cara mengisolasi dan mengidentifikasi parasit pada ikan

Mengetahui jenis parasit dan organ ikan yang terserang parasit

Mengetahui tanda klinis ikan yang terserang parasit.

Mengetahui bentuk parasit.

1.3 Manfaat

Saat keadaan budidaya ikan diharapkan agar mampu mengetahui jenis parasit ikan dan dengan mengetahui jenis parasit ikan maahasiswa mampu juga dalam mengobati ikan tersebut.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1Ikan komet

Ikan komet merupakan salah satu strain dari ikan maskoki.       Ikan komet dikembangkan di Amerika sekitar akhir abad ke-19. Nama komet diambil dari nama benda angkasa yaitu komet Helley. Ikan komet memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan ikan maskoki. Dengan harga yang murah, ikan komet banyak diminati oleh konsumen ikan hias.

Dulu peminat salah satu jenis ikan hias yang namanya dicomot dari nama benda angkasa, Komet Helley, ini sangat banyak, hingga mengalami blooming. Lalu, perlahan tapi pasti, pasarnya menghilang. Tapi, kini, entah kapan tepatnya, orang-orang mulai melirik lagi ikan yang dikembangbiakkan di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

Ikan komet termasuk ikan karper (Cyprinus carpio) dan memiliki nama latin Carassius auratus auratus, red. Karena berbuntut panjang dengan warna cerah inilah yang membuat ikan komet menuai popularitas dalam waktu singkat. Sempat tenggelam tapi kini mulai digandrungi penghobi ikan hias lagi. Ikan komet memiliki ciri-ciri antara lain:

gambar 1 ikan komet

1.Bentuk ikannya seperti maskoki tapi lebih panjang dan lebih agresif.

2.Warnanya juga seperti maskoki, tapi     kebanyakan warna merah atau   putih

3.Biasanya dipelihara di akuarium oleh   orang hanya untuk pajangan

4.Banyak dijual oleh penjual ikan hias

Ikan komet juga memiliki identifikasi antara lain:

Class    : Actinopterygii

Ordo    : Cypriniformes

Family : Cyprinidae

Spesies : Carassius auratus auratus

Ikan komet termasuk ikan karper (Cyprinus carpio) dan memiliki nama latin Carassius auratus auratus, red. Karena berbuntut panjang dengan warna cerah inilah yang membuat ikan komet menuai popularitas dalam waktu singkat. Sempat tenggelam tapi kini mulai digandrungi penghobi ikan hias lagi. Dulu peminat salah satu jenis ikan hias yang namanya dicomot dari nama benda angkasa, Komet Helley, ini sangat banyak, hingga mengalami blooming. Lalu, perlahan tapi pasti, pasarnya menghilang. Tapi, kini, entah kapan tepatnya, orang-orang mulai melirik lagi ikan yang dikembangbiakkan di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 ini.

Sebagai ikan hias tentu saja ikan komet memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan ikan yang dikonsumsi. Misalnya, dilihat dari ekornya, ikan komet memiliki ekor yang lebih panjang dan indah daripada ikan pada umumnya. Ikan komet juga memiliki warna yang bagus yaitu perpaduan antara merah keoranyean dengan putih. Selain itu, ikan komet memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik dibandingkan ikan maskoki (ikan komet merupakan strain atau keturunan ikan maskoki, red.). Perbedaan utama dengan ikan maskoki terletak di ukurannya yg lebih besar dari ikan mas dan adanya tonjolan daging (sungut) kecil di atas lubang hidungnya. Lebih dari itu semua, harga ikan komet relatif murah dibandingkan ikan maskoki sehingga diminati konsumen ikan hias. Ikan komet merupakan ikan hias yang berukuran tak lebih dari sebuah jari orang dewasa. Ukuran paling besar adalah sebesar empat jari orang dewasa. Dalam pemasarannya, yang berukuran dua jari yang lebih diminati para penjual ikan hias. Karena kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan ukuran akuarium penghobi. Karena itu pulalah, ikan komet berukuran dua jari bernilai jual lebih tinggi daripada yang berukuran sejari,

2.2 Ikan Bawal

Klasifikasi dan Deskripsi Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum)

gambar 2 ikan bawal

Ikan bawal yang telah tersebar dan berkembang serta dikenal oleh masyarakat Indonesia termasuk jenis (species) Colossoma spp. Yaitu Colossoma macropomum dan Colossoma bracipomum. Kedua jenis ikan bawal ini mirip atau identik dengan jenis (spesies) ikan bawal yang disebut Cachama (Colossoma oculus) yang berkembang dan hidup di Amerika dan Venezuella. (Ostergaard 2009). Ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis cukup tinggi dan  berasal dari Brazil. Pada mulanya ikan bawal diperdagangkan sebagai ikan hias, namun karena pertumbuhannya cepat, nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segalanya (Omnivora), ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik, disamping itu rasa dagingnya pun cukup enak, hampir menyerupai daging ikan gurami dan dapat mencapai ukuran besar, maka masyarakat menjadikan ikan tersebut sebagai ikan konsumsi sehingga produksinya tiap tahun semakin meningkat (Chobiyah 2001). Morfologi ikan bawal dapat dilihat pada Gambar 1. Klasifikasi ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum) menurut Saanin (1968) adalah sebagai berikut :

Filum               :  Chordata

Kelas               :  Pisces

Ordo                :  Cypriniformes

Famili              :  Characidae

Genus              :  Colossoma

Spesies            :  Colossoma macropomum

Morfologi ikan bawal air tawar dari arah samping tubuh membulat (oval) dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2:1. Ikan bawal air tawar  memiliki bentuk tubuh pipih dengan perbandingan antara tinggi dan lebar tubuh   4:1. Badan agak bulat, bentuk tubuh pipih, sisik kecil, kepala hampir bulat, lubang hidung agak besar, sirip dada di bawah tutup insang, sirip perut dan sirip dubur terpisah, punggung berwarna abu-abu tua, perut putih abu-abu dan merah. Warna tubuh ikan bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian bawah berwarna putih (Haetami 2009). Harga ikan ini dalam ukuran konsumsi berkisar Rp.12.000-15.000 per kologram. Ikan bawal air tawar merupakan salah satu jenis ikan air tawar tropis yang memiliki pyloric caeca Bezerra et al. (2001).

2.3 Parasit

Penyakit didefinisikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal  karena beberapa penyebab dan terbagi atas  2 kelompok yaitu penyebab dari dalam  (internal ) dan  luar (eksternal) . Penyakit internal meliputi genetic,  sekresi internal, imunodefesiensi, saraf dan metabolic. Sedangkan penyakit eksternal meliputi  penyakit pathogen  (parasit,  jamur, bakteri , virus) dan non pathogen (lingkungan  dan nutrisi ).

gambar 3 parasit pada ikan

Penyakit parasit  merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering menyerang  ikan terutama pada usaha pembenihan. Serangan parasit  bisa mengakibatkan  terganggunnya pertumbuhan, kematian bahkan  penurunan produksi ikan.  Berbagai organisme yang   bersifat parasit mulai dari protozoa, crusstacea dan annelida.

Di perairan bebas,   terdapat berbagai macam parasit dengan variasi yang luas tetapi jumlahnya sedikit. Sedangkan dalam kegiatan budidaya, parasit terdapat .dengan  variasi yang sedikit tetapi jumlahnya banyak. Umumnya setiap parasit mempunyai siklus hidup yang rumit, yang kemungkinan merupakan  hal  penting dalam pengobatan ikan yang terserang parasit.  Studi siklus  hidup parasit  merupakan hal penting  untuk menentukan tindakan penanganan yang lengkap.  Ujicoba  infeksi  dengan parasit umumnya sulit dilakukan  karena parasit sulit diinkubasi atau dipelihara pada media buatan. Pada siklus hidupnya, parasit memerlukan inang . Beberapa inang sebagai tempat hidup /berkembang biak parasit meliputi :

Definite host  : Inang , dimana parasit hidup  sampai dewasa (ex ; cestoda)Intermediate host     ; Inang , dimana parasit hidup   sampai tahap larva (digenea)

Tempory host : Inag, dimana parasit hidup secara singkat , kemudian meninggalkan inang (isopoda)

Reservoir host : Inang sebagai sumber parasit untuk inang yang lain  (cyste digenea)

2.3.1 FAKTOR – FAKTOR  YANG MEMUDAHKAN  MUNCULNYA  PARASIT

Beberapa factor memudahkan munculnya parasit  : Faktor-faktor tersebut antara lain : :

Stocking density : Kepadatan tebar tinggi, kontak langsung dan adanya inang

Physical trauma : handling,  grading dapat menyebabkan luka

Air Kolam :  kualitas air jelek

Selective breeding : Seleksi dalam mencarai warna dan bentuk yang bagus bisa mengakibatkan lemah.

Lingkungan : perubahan temperatur

Predator  ;  Bisa sebagai inang penular

System budidaya :  kolam tanah  merupakan media bagi sebagaian siklus hidup parasit

Species baru : Masuknya species ikan yang baru bisa  mengakibatkan masuknya parasit baru’

2.3.2 Macam-macam parasit ikan :

  1. kapang (Fungi)
  2. Ganggang (Algae)
  3. Protozoa
  4. Cacing
  5. Crustacea, kutu

2.3.2.1 KAPANG/FUNGI

Kapang pada ikan bisa terdapat sebagai parasit sekunder ataupun agen patogenik penyebab penyakit.

Sebagai parasit sekunder umumnya tumbuh menyusul proses peradangan kulit.

Sebagai agen patogenik penyebab penyakit umumnya merupakan kapang yang terdapat didalam tubuh dan merupakan endoparasit murni.

Kapang yang sering menimbulkan penyakit adalah :

  1. Ichthyosporidium hoferi.

Kapang ini termasuk dalam kelas Phycomycetes. Beberapa species ikan merupakan induk semang dari jenis kapang ini (73 species ikan, 21 diantaranya adalah ikan laut).

gambar 4 gambar parasit Ichthyosporidium hoferi.

Tanda-tanda

Ikan yang terserang kapang jenis ini adalah : Ikan berenang dengan limbung

Proses terjadinya Pernyakit : Ikan memakan sesuatu yang mengandung kapang, setelah kapang termakan, sebagian dari dinding kista kapang dihancurkan oleh getah gastrointestinal, kemudian sebagian dari stadium infektifnya menembus dinding saluran pencernaan. Setelah itu biasanya merusak hati.

Tanda – tanda yang ditemui pada ikan yang mati adalah :

Adanya sejumlah banyak kista kista kecil berbentuk bundar di dalam hati. Hal ini menyebabkan hati tidak berfungsi.

Pengobatan : Belum ditemukan obat yang tepat untuk mengobati penyakit ini. Hanya beberapa ahli menyarankan penggunaan antibiotik.

  1. Branchiomyces

Ada 2 species dari genus Branchiomyces yang menyebabkan penyakit pada ikan, yaitu :

  1. Branchiomyces sanguinis
  2. Branchiomyces demigrans

gambar 5 parasit Branchiomyces

Branchiomyces sanguinis, menyebabkan nekrosa insang pada ikan mas dan Branhiomyces demigrans menyebabkan nekrosa insang pada ikan tawes.

Nekrosa insang adalah istilah yang umum digunakan untuk infeksi cendawan pada insang, yang disusul dengan perubahan warna menjadi kuning kecoklatan dan runtuhnya bagian-bagian dari jaringan alat pernafasan. Ikan yang sakit terlihat sesak nafas. Kematian yang disebabkan oleh penyakit ini cukup tinggi, terutama pada anak-anak ikan.

Proses terjadinya penyakit : Cendawan yang berasal dari genus Branchiomyces, membentuk tubuli panjang kedalam epitel jaringan insang dengan spora yang tampak dengan jelas. Hyphe dari cendawan ini mendesak jaringan induk semang dan mencernanya, sehingga menimbulkan penyumbatan aliran darah, pembengkakan dan perusakan pembuluh darah, kemudian timbul bercak-bercak yang meluas pada insang ikan dan akhirnya mengalami nekrosis lalu jaringan runtuh.

Untuk mencegah Nekrosa insang adalah dengan menggunakan aliran air yang di perbesar dan desinfeksi kolam dengan menggunakan tembaga sulfat sebanyak 1 gr/10 liter air selama 10 – 30 menit atau 2 – 3 kg CuSO4 per Ha.

  1. Saprolegnia

Kulit ikan yang sehat adalah berlendir. Lendir ini berfungsi sebagai penangkal jamur ataupun cendawan ekternal lainnya yang sering menginfeksi kulit ikan. Cendawan eksternal yang sering menginfeksi kulit ikan adalah Saprolegnia.

gambar 6 parasit saprolegnia

Saprolegnia biasanya menginfeksi kulit ikan jika kondisi pertahanan tubuh ikan kurang baik, misalnya karena proses transportasi.

Tanda – tanda ikan yang diserang Saprolegnia adalah adanya spora-spora yang muncul pada permukaan kulit ikan kemudian berkembang dan tumbuh kedalam kulit. Spora tersebut menyerupai lapisan serat kapas yang berwarna putih kelabu hingga kecoklatan.

Saprolegnia dapat dihilangkan dengan perendaman cepat dalam larutan NaCl (10 – 25 gr/liter air, selama 10 – 20 menit, Kalium permanganat (1 gr/100 liter air selama 30 -90 menit), CuSO4 (5 – 10 gr/100 liter air selama 10 – 30 menit), Colargol (1 mg per 10 liter air selama 20 menit)

2.3.2.2. GANGGANG

Umumnya ganggang tidak tumbuh pada ikan dan menimbulkan penyakit. Namun pada kondisi tertentu ganggang hijau kadang terlihat pada sirip atau penutup insang dari ikan mas yang sudah tua.

2.3.2.3 PROTOZOA

Protozoa yang sering ditemukan pada ikan adalah :

  1. Flagellata
  2. Rhizopoda
  3. Sporozoa
  4. Ciliata

Flagellata

flagellata ditemukan pada ikan dapat sebagai organisma yang tidak merugikan. Tetapi juga dapat sebagai sebagai patogen yang berbahaya.

Berdasarkan tempat nya ditemukan di dalam tubuh ikan, flagellata dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Trichomonada

Species ini berasal dari genus Monocercomonas dan Tritrichomonas. Species ini banyak ditemukan pada usus ikan laut.

  1. Bodomonas dan Cryptobia

Species ini ditemukan dalam darah dan usus ikan laut juga ikan air tawar.

  1. Hexamita salmonis

Hexamita merupakan parasit protozoa yang sering menyerang sistem pencernaan ikan

Tanda-tanda Penyakit

Ikan mengeluarkan kotoran berwarna putih (berak kapur), kadang-kadang diikuti oleh pelebaran pori-pori sensor di kepala dan gurat sisi. Pelebaran pori-pori ini kerap menimbulkan kesan berlubang sehingga sering disebut sebagai penyakit Hole In The Head.

Lubang tersebut biasanya akan terisi lendir berwarna putih. Warna ikan akan cenderung menjadi gelap dan kehilangan nafsu makan. Biasanya diikuti juga oleh gejala perut kembung, namun tidak jarang juga ditemui gejala badan kurus.

Penyebab

Hexamita disebabkan oleh protozoa berflagel (falgellata) dari genus Hexamita. Dalam kondisi normal parasit ini kerap dijumpai dalam jumlah kecil pada sistem pencernaan, pada keadaan tersebut hexamita tidak membahayakan ikan yang bersangkutan.

Meskipun demikian, apabila kondisi ikan kemudian menjadi lemah, seperti akibat stress, maka parasit tersebut akan segara menggandakan diri dengan cepat dan memasuki sistem ikan.

Apabila mereka memasuki pori-pori sensor yang terletak dikepala, maka pada lokasi tersebut akan terbentuk lubang yang terisi lendir berwarna putih. Kematian dapat terjadi apabila infeksi hexamita ini sampai menyerang organ-organ vital ikan dan menyebabkan kerusakan fatal pada organ tersebut.

Hexamita merupakan protozoa bercambuk getar (flagel) dengan ukuran 7- 15 micron.

Contoh pori sensor yang tererosi oleh hexamita pada kepala ikan Microgeophagus altispinous.

Penanganan ikan yang sakit adalah dengan menggunakan entripidin (gabrocal) produksi farmitalia sebanyak 1,5% dicampur dengan makanan kering selama 4 – 10 hari.

Rhizopoda

Contoh Rhizopoda adalah amoeba. Amoeba tidak penting pada ikan. Salah satu yang ditemukan pada ikan laut adalah species Vahlkampia mucicola, yaitu sebagai ektoparasit.

Sporozoa

Diantara Sporozoa, ada species-species yang termasuk agen penyebab penyakit : Whirling disease dan penyakit bisul.

Species yang sering menyebabkan penyakit di kolam penetasan :

  1. Eimeria cyprini : ditemukan dalam saluran pencernaan anak ikan mas. Menimbulkan enteritis, bila perut ikan dipijat akan keluar nanah dari anus ikan. Ikan penderita tampak kurus dan matanya cekung.
  2. Eimeria subephitelialis, menyebabkan timbulnya nodul dengan diameter 2 mm dalam kolon dan rectum ikan mas. Ikan tampak kurus dan matanya cekung.

Reproduksi

Pemberantasan spora parasit didasar kolam adalah dengan melakukan pengapuran.

Ciliata

Salah satu parasit dari Ciliata yang tersebar luas menyebabkan penyakit pada ikan adalah : Ichthiopthirius multifiliis, penyebab penyakit white spot disease, suatu penyakit yang ditandai dengan bercak-bercak putih yang terdiri dari parasit-parasit berkapsel.

Parasit ini biasanya menempel pada lapisan lendir kulit dan sirip ikan serta sering menyebabkan perdarahan pada sirip dan insang ikan.

Ciri ciri ikan yang terserang parasit ini adalah :

  1. Adanya bintik-bintik putih pada tubuh ikan terutama pada kulit, sirip dan insang.
  2. Ikan menggosok-gosok tubuh pada dinding dan dasar kolam.

Siklus hidup pada ikan :

  1. Fase parasiter : Parasit hidup pada ikan kira-kira 7-8 hari, disebut trophont
  2. Fase Pre Cyste : Sesudah 7-8 hari melepaskan diri dari tubuh ikan disebut tomont
  3. Fase Cyste Membelah diri dan terbungkus oleh lapisan lendir selama 3-28 hari
  4. Fase Post Cyste : berupa benih-benih yang keluar dari cyste, disebut theront

Hidup pada kulit dan insang ikan selama 7 hari, pada suhu air 24 – 27 ° C. Fase hidup dalam tubuh ikan ini disebut sebagai trophont. Ukurannya berkisar antara 60 – 370 mikron.

Setelah dewasa, parasit ini akan meninggalkan tubuh ikan dan masuk dalam lingkungan air sebagai sebuah sel tunggal besar bernama tomont.

Tomont akan berenang dalam air selama 12 – 18 jam. Selanjutnya membentuk kista dengan dinding lengket sehingga memungkinkannya melekat pada benda-benda yang berada dalam akuarium, seperti batu karang, koram, atau kaca. Kista ini berukuran 200 – 400 mikron.

Sel didalam kista kemudian membelah diri dan menghasilkan 200 parasit yang disebut tomite. Proses pembelahan sel tersebut berlangsung sekitar 3 – 28 hari. Masing-masing sel hasil pembelahan ini berukuran 25 – 60 mikron. Setiap sel akan membentuk bulu getar yang selanjutnya akan menembus kulit kista dan berenang dalam air. Parasit pada fase ini disebut sebagai theront. Dengan ukuran sedemikian kecil theront tidak akan dapat dilihat dengan mudah dengan mata telanjang.

Theront hanya hidup beberapa jam saja dalam air apabila tidak mendapatkan ikan sebagai inangnya. Begitu mendapatkan ikan, theront dalam waktu 5 menit akan membenamkan dirinya pada kulit dan insang, kemudian hidup dan tumbuh disana.

Pengobatan jenis penyakit ini biasanya lebih berhasil pada fase pre-cyste dan post cyste, yaitu dengan :

  1. Dengan larutan Methilene blue

Campurkan serbuk methilene blue sebanyak 1 gr dengan 100 ml air, aduk hingga rata. Ambil larutan sebanyak 2 – 4 cc campurkan lagi dengan air sebanyak 4 liter. Rendam ikan selama 24 jam. Setelah 24 jam pindahkan ikan ke air bersih dan beri pakan yang cukup. Selang 1 hari ulangi pengobatan sebanyak 3 – 5 kali.

  1. Pengobatan dengan garam dapur (NaCl)

Siapkan air sebanyak 100 cc, campurkan 1-3 gr garam dapur, aduk hingga merata. Rendam ikan dalam larutan tsb selama 5 – 10 menit.

Setelah itu angkat ikan dan pindahkan ikan ke wadah lain yang berisi air bersih. Pengobatan diulangi sebanyak 3 – 5 kali.

Chilodonella cyprini, biasanya menyerang kulit dan insang air tawar.

Trichodina

Trichodina termasuk protozoa, jenis protozoa ini berbentuk seperti setengah bola dengan bagian tengah (dorsal) cembung, sedangkan mulut pada bagian ventral. Pada bagian mulut dilengkapi alat penghisap dengan dilengkapi suatu alat dari chitine yang melingkari mulut. Alat chitine ini berbentuk seperti jangkar (anchor). Gejala adanya serangan parasit ini adalah pendarahan pada kulit ikan, pucat, ikan berlendir banyak.

2.3.2.4 CACING SEBAGAI PARASIT IKAN

Jumlah cacing yang menjadi parasit pada ikan sangat banyak dan tidak dapat disebutkan semua satu persatu. Dalam bahasan ini akan diterangkan beberapa yang terpenting saja :

  1. Class Monogenea
  • Cacing Dactylogyrus menyerang insang
  • Cacing Gyrodactylus menyerang kulit.

gambar 7 parasit class monogenea

Tanda – tanda :

  • Insang ikan rusak, luka dan timbul perdarahan.
  • Sirip ikan menguncup, bahkan kadang terjadi kerontokan pada sirip ekor.
  • Ikan menggosok-gosokkan badannya ke dasar kolam atau benda keras lainnya.
  • Kulit menjadi berlendir dan berwarna pucat.

Penyebab

Perpindahan secara langsung cacing monogenea dari ikan ke ikan terutama oleh kontak langsung. Monogenea mempunyai siklus hidup secara direct life cycles, yang berarti bahwa tidak ada inang intermediate diperlukan untuk ber-reproduksi. Cacing dewasa adalah hermaphroditic, yang berarti bahwa masing-masing organisma mempunyai 2 alat reproduksi (jantan dan betina).

Oviparous Monogenea ( yaitu., Dactylogyridae) telur dilepaskan kedalam air kemudian menetas dan berkembang sebelum menemukan inang baru.

Telur-telur monogenea yang berukuran besar dan berwarna kecoklatan dikeluarkan dekat inangnya. Telur-telur menetas menjadi larva berambut dan memiliki kait-kait yang halus, ini disebut oncomyracidium. Ephitel rambut akan lepas bila larva sudah sanggup melekat pada kulit atau insang ikan.

Viviparous monogenea ( yaitu., Gyrodactylidae) telur telah menetas jadi larva, sebelum dilepaskan. Kemudian larva tersebut langsung menempel pada inang yang sama atau lepas mencari inang baru, Siklus hidup yang secara langsung ini (direct life cycle ) dapat mempercepat tumbuhnya populasi parasit tersebut.

  1. Capillaria

Capillaria adalah nama jenis cacing dari genus nematoda. Cacing ini merupakan parasit pada sistem pencernaan dan juga pada hati ikan. Capillaria diketahui kerap menyerang ikan Diskus (Symphysodon spp) dan Angelfish (Pterophyllum spp).

Tanda-tanda penyakit

Pada infestasi ringan capillaria sering tidak menimbulkan gejala-gejala yang berarti. Sedangkan pada infestasi berat biasanya ditandai dengan gejala “emaciation” atau badan kurus, kehilangan nafsu makan, mengeluarkan kotoran berwarna putih dan tipis, atau kotoran dengan warna berselang-seling antara gelap (hitam) dan terang (putih).

Pada ikan mati, kehadiran cacing ini dapat diketahui dengan melakukan pembedahan dan pengamatan pada isi perut ikan tersebut. Capillaria pada umumnya memilki panjang antara 0.5 sampai 2 cm dengan diameter kurang lebih seukuran dengan rambut.

Pada ikan hidup pengamatan dapat dilakukan pada kotoran ikan dibawah mikroskop, dengan mengamati telur Capillaria yang biasanya akan turut serta terbawa kotoran ikan yang bersangkutan.

  1. Cestoda

Cestoda (cacing pita) pada ikan ditemukan sebagai larva maupun cacing dewasa.

Sebagai larva.

Larva cacing pita hidup bebas atau ditemukan dalam bentuk kapsel dalam rongga perut atau alat tubuh internal seperti dalam hati dan otot.

Cacing pita dewasa

Cacing pita dewasa selalu ditemukan dalam usus ikan.

Perkembangannya

Pada saat stadium awal perkembangan cacing pita ini terdapat dalam crustacea atau cacing. Masuk kedalam tubuh ikan melalui makanan (ikan memakan cacing atau crustacean, sehingga cestoda masuk kedalam tubuh ikan).

Cestoda dapat dikelompokan kedalam :

– Cestodaria, tanpa adanya segmen antara internal dan external

– Cestoda dengan segmentasi internal dan eksternal

– Pseudophylidae, perkembangan scolex sebagai alat penghisap

– Proteocefalidae, berscolex dengan empat pengisap

– Tetraphyllidae, berscolex dengan empat penjuluran berbentuk daun telinga

– Trypanorhyncidae, berscolex dengan empat tentakel yang mempunyai kait dapat digerakan.

Cestoda dalam Saluran Pencernaan

– Caryophyllidae

Cacing pita yang sering dijumpai pada ikan mas, terutama ikan-ikan muda.

Ciri-ciri : Ujung depannya terlipat seperti bunga anyelir dan bagian luarnya tidak berbuku-buku. Induk semang perantaranya adalah cacing jenis lain yaitu Gladidaris spp.

pecies yang paling ditakuti pada ikan adalah : Triaenophorus lucii, yang memiliki 4 kait di ujung bagian mukanya. Induk semangnya adalah ikan-ikan buas.

– Cosmocercoidea dan Dioctophymoidae

Ciri-cirinya adalah alat pengisap dari cacing jantan di ujung belakang dari tubuhnya berbentuk suatu kantong. Induk semangnya adalah lintah-lintah kecil.

  1. Tubifex, salah satu nematode jenis ini melewati masa larvanya didalam oto dan peritoneum ikan air tawar. Induk semangnya adalah itik.

– Trichuroidae

Adalah cacing remi (cacing rambut) yang terdapat pada ikan –ikan air tawar. Cacing dewasa terdapat dalam saluran gastro intestinal.

Ukuran cacing ini 3-9 mm (cacing jantan) dan 7-9 mm (cacing betina)

– Spiruroidae

Ciri-ciri : memiliki esophagus yang terdiri dari 2 bagian.

Stadium larva jenis ini adalah pada ikan air tawar. Induk semang perantaranya adalah Cyclops

  1. Spinigerum adalah salah satu species dari jenis ini yang dapat menyerang kulit manusia dan menyebabkan pembengkakan muka dan alat-alat gerak. Untuk mencegahnya adalah dengan tidak mengkonsumsi ikan tersebut dalam keadaan mentah.

3.3.2.5 COPEPODA

Copepoda memegang peranan penting dalam kehidupan ikan yaitu, :

  1. Sebagai induk semang perantara, bagi berbagai jenis cacing patogenik (Cestoda, Nematoda) yang menyerang ikan. Juga sebagai induk semang perantara cendawan Ichthyosporidium.
  2. Sebagai parasit pada ikan dan menyebabkan kerusakan pada tubuh ikan.

Beberapa Species Copepoda yang sering menyerang ikan :

  1. Ergasilus sielbodi,

betina panjangnya 1,3 – 1,7 mm dan lebarnya 0,4 – 0,7 mm. Pada bagian mukanya terdapat kait-kait dan pada punggungnya memiliki pigmen berwarna biru tua dan berbentuk seperti lukisan akar. Kantung telur berbentuk cerutu dengan panjang kira-kira 1 mm dan mengandung lebih dari 100 butir telur. E. sielbodi jantan, berukuran lebih kecil dan tidak memiliki kait-kait. Parasit ini ditemukan pada insang, terutama pada bagian dalam dan dasar insang, berupa benda-benda asing panjang yang berwarna putih.

  1. sielbodi biasanya menyerang ikan yang mencari makan di dasar perairan, karena parasit ini menyelam di perairan dan sebagian besar berada sedikit diatas dasar perairan. Apabila parasit ini sudah ada di insang, mereka hidup terutama dengan memakan sel-sel epithel. Dan karena selalu aktif bergerak diatas insang, maka sering menimbulkan kerusakan insang. Hal ini membuka kesempatan infeksi cendawan Saprolegnia dan Branchiomyces.
  1. Lernaea

Bila melekat pada induk semangnya, Lernea betina tidak berbuku-buku lagi, tetapi berbentuk bundar menyerupai cacing, kepalanya berbentuk jangkar dilengkapi alat dari chitin untuk bisa menembus tubuh ikan. Memiliki kantung telur yang panjang dan langsing

Lernaea cyprinaea, menyerang kulit ikan mas. Parasit ini memiliki ciri-ciri : Memiliki kepala seperti kancing dengan 2 pasang tanduk, matanya terdiri atas 3 bagian, memiliki kantung telur yang berbentuk silinderis, panjang Lernaea cyprinaea betina bisa mencapai 22,5 mm.

gambar 8 lernaea yang menyerang ikan

Siklus hidup Lernaea :

  1. Mengalami 3 x perubahan bentuk : Nauplius, Copepodid, Dewasa dalam waktu 21-25 hari
  2. Pada stadium dewasa dibagi menjadi 2 bagian : Cyclopoid dan Dewasa
  3. Pada saat stadia Copepodid, Lerneae hidup di sekitar tubuh ikan dan menggigit kulit/lendir ikan
  4. Selama stadium cyclopoid, Lerneae hidup di sekeliling tubuh ikan

Penyerangan :

Lerneae menusukkan kepalanya ke jaringan kulit/lendir/daging ikan kemudian pada bagian yang ditusuk menjadi luka dan membengkak.

2.3.2.6 BRACHIURA (Kutu Ikan)

  1. Argulus

Dari semua kutu ikan yang paling dikenal adalah genus Argulus.

Contohnya adalah Species Argulus foliaceus, yaitu kutu ikan mas.

Ciri-ciri : Bentuknya pipih menyerupai perisai. Dari bagian bawah dapat dilihat mata, stiletto, antenna yang dilengkapi kait-kait dan cakram-cakram pengisap. Sirip belakangnya berpasangan.

Siklus Hidup :

  1. Argulus meninggalkan inangnya saat dewasa (berukuran 1,5 cm) untuk kawin dan bertelur
  2. Telurnya diletakkan pada benda yang terendam dalam air.
  3. Telur menetas pada suhu 19 derajat C
  4. Telur berubah menjadi larva setelah 3 minggu dengan ukuran larva 0,6 mm
  5. Larva berubah menjadi juvenile dengan ukuran 2,3 – 3,5 mm dan menyerang ikan.
  6. Argulus melewati keseluruhan siklus hidupnya pada suhu 16 derajat C dalam waktu 8 minggu.

Penyerangan :

  1. Argulus menyerang pada semua jenis ikan air tawar dengan menusukkan stilettonya dan melepaskan sengat agar tidak terjadi pembekuan darah.
  2. Argulus menyerang dengan menghisap darah inangnya
  3. Argulus menempel pada bagian kulit yang lunak dan banyak pembuluh darahnya, seperti pangkal sirip dan daerah mulut.
  4. Setelah penyerangan, parasit ini melepaskan diri dan berenang lagi mencari mangsa lainnya
  5. Dalam keadaan tertentu, parasit ini dapat tahan berpuasa selama 3 minggu, dan bertindak sebagai parasit obligat

2.4 FAKTOR KONDISI

Salah satu derivat penting dari pertumbuhan ialah faktor kondisi atau index preponderance dan sering disebut pula sebagai faktor K. Faktor kondisi ini menunjukkan keadaan baik dari ikan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk survival dan reproduksi. Kondisi ini mempunyai arti kualitas dan kuantitas daging ikan yang tersedia untuk dapat dimakan. Jadi kondisi disini mempunyai arti dapat memberi keterangan baik secara biologis atau secara komersial .

Pertumbuhan seekor ikan dapat diukur dari tambahan panjang badan dan kenaikan bobotnya, maka untuk mengetahui normal tidaknya pertumbuhan ikan pemeliharaan, sebaiknya kita mengukur panjang dan menimbang bobot badan ikan itu, setiap kali sebelum menebar, dan setiap kali memungut hasil yang diukur ialah panjang standard, yaitu panjang antara ujung moncong dan pangkal sirip ekor tanpa mengikutsertakan sirip ekor. Bila ikan tumbuh normal atau baik, bobotnya akan bertambah sesuai dengan pertambahan panjangnya. Makin panjang ikan itu, makin beratlah badannya seharusnya.

faktor kondisi atau indeks ponderal dapat disebut pula sebagai faktor K, merupakan salah satu derivat penting dari pertumbuhan. Faktor kondisi ini berguna untuk menunjukkan keadaan baik dari ikan. Keadaan ikan tersebut dilihat dari segi kapasitas fisik untuk survival dan reproduksi. Penggunaan faktor kondisi bila dipandang dari segi komersial maka mempunyai arti kualitas dan kuantitas daging ikan yang tersedia untuk dapat dimakan sehingga faktor kondisi di sini mempunyai arti dapat memberikan keterangan baik secara biologis maupun komersial.

Selama dalam pertumbuhan, tiap pertambahan berat material ikan akan bertambah panjang dimana perbandingan liniernya akan tetap. Dalam hal ini dianggap bahwa berat ikan yang ideal sama dengan pangkat tiga dari panjangnya dan berlaku untuk ikan kecil atau besar. Bila terdapat berat tanpa diikuti oleh perubahan panjang atau sebaliknya, akan menyebabkan perubahan nilai perbandingan.

faktor kondisi bergantung pada sistem ukuran yang dipakai maka faktor kondisi ini ada tiga macam:

  1. Sistem metrik, dengan rumus:

K= 100 W (gram) / L3(mm)      atau       K=10.000 W (gram) / L3(mm)

  1. Sistem Inggris, dengan rumus:

C= 10.000 W (pounds) / L3 (inches)

  1. Sistem Campuran, dengan rumus:

R= 100 W  (gram) / L3 (inches)

Tujuan dari perkalian angka tertentu dengan W/L3 agar dapat dicapai angka yang mendekati nilai satu (unity). Sistem metrik banyak digunakan di negara-negara yang telah menggunakan sistem metrik terlebih dahulu. Sedangkan sistem Inggris banyak dipakai di Inggris dengan negara Common wealth, dan sistem campuran banyak digunakan di Amerika Serikat. Namun sekarang hampir semua negara sudah menggunakan sistem metrik .

Seperti telah dikemukakan didalam hubungan panjang berat bahwa panjang ikan tidak selamanya mengikuti hukum kubik atau panjangnya selalu berpangkat tiga, dimana hubungan tadi ialah W = cLn. Apabila menghitung kondisi berdasarkan hubungan panjang berat dengan menggunakan rumus tadi, maka kita akan mendapatkan faktor kondisi yang dinamakan faktor kondisi relatif  (Kn), dengan perumusan Kn = W / aLn, yaitu yang berdasarkan pengamatan dibagi dengan berat yang berdasarkan kepada dugaan berat dari panjangnya, yaitu berdasarkan kelompok umur, kelompok panjang atau sebagian  dari populasi. Menurut Carlender ,faktor kondisi relatif tidak cocok untuk membandingkan diantara populasi.

Deviasi Kn dari 12 menerangkan semua variasi berat  yang tidak berhubungan dengan berat yang menghasilkan faktor kondisi K kecuali kalau “n” sama dengan 3 hal ini jarang sekali terjadi. Kn yang didapatkan oleh Patulu (1963) berfluktuasi dengan ukuran ikan. Ikan yang berukuran kecil mempunyai kondisi relatif tinggi, kemudian menurun ketika  ikan bertambah besar. Hal ini berhubungan dengan perubahan makanan ikan tersebut yang berasal dari ikan  pemakan plankton berubah menjadi ikan pemakan ikan atau carnivore. Hal ini dapat terjadi pula apabila ada perubahan kebiasaan dari perairan estuarine ke perairan laut. Peninggian nilai Kn terdapat pula pada waktu ikan mengisi gonadnya dengan cell sex dan akan mencapai puncaknya sebelum terjadi pemijahan. Fluktuasi nilai Kn juga dapat dilihat secara bulanan dalam tempo satu tahun atau lebih.

III METODOLOGI

3.1 Waktu Dan Tempat

Kegiatan praktikum dilakukan pada hari Selasa, tanggal 30 April 2013 jam 13.00 . Dan praktikum ini dilakukan di Laboratorium daan kolam Departement Budidaya Perikanan vedca cianjur, Jawa Barat Indonesia.

3.2 Alat dan Bahan

            3.2.1 Alat

microskop Serokan
Bascom Penggaris ukur
Alat tulis Gelas objek
Timbangan Mistar
Alat bedah Baskom
Gelas penutup Jarum pentul
Nampan Alat ukur

            3.2.2 Bahan

Kolam tissue
Ikan bawal,koi, komet air

3.3 langkah Kerja

  1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Ambillah ikan yang sakit dan timbanglah berat ikan tersebut

Berat ikan 1     : …………………………………………..gr

Berat ikan 1     : …………………………………………..gr

Berat ikan 1     : …………………………………………..gr

  1. Ukur panjang badan ikan yang sakit tersebut dengan menggunakan penggaris mistar dari ujung kepala sampai dengan ujung ekor

Panjang ikan    :…………………………………………….gr                          Panjang ikan            :…………………………………………….gr                         Panjang ikan            :…………………………………………….gr

  1. Hitunglah faktor kondisi untuk :

Ikan 1 = …………………………………………………..

Ikan 2 = …………………………………………………..

Ikan 3 = …………………………………………………..

  1. Lakukanlah euthanasia pada ikan yang di uji. Dengan cara menutup badan ikan denga tissue atau kain dan getoklah kepala ikan dengan menggunakan benda yang keras. Setelah ikan di getok dan ikan tiak sadar, rusaklah otak ikan dengan menggunakan jarum yang terdapat pada alat bedah.
  2. Keriklah permukaan tubuh ikan seperti kulit, sisik, sirip, insang dan mata ikan, kemudian ulaskan. Tutuplah dengan cover glass dan amati dibawah mikroskop. Temukan parasit pada preparat tersebut kemudian catat nama parasit yang anda temukan dan gambarlah parasit tersebut
  3. Buatlah preparat usapkan darah ikan dengan cara menusuk ujung pangakal ekor ikan dengan jarum yang sudah disiapkan dalam alat bedah dan usapkan darah hasil pada objek glass dan amati di bawah mikroskop
  4. Ambillah organ dalam ikan, seperti : lambung,jantung, hati dan usus. Masukan organ organ tersebut di dalam cawan petri dan keriklah bagian luar dan dalam organ tersebut untuk melepaskan parasit yang menempel pada organ dalam ikan. Buatlah preparat untuk masing masing organ tersebut dan amaati di bawah mikroskop. Temukan parasit yang terdapat organ organ dalam, catat nama parasit dan gambarlah.

Parasit pada lambung : ……………………………………………..

Parasit pada jantug      : ……………………………………………..

Parasit pada hati          ; ……………………………………………..

Parasit pada usus         ; ……………………………………………..

 

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

                4.1.1 faktor kondisi

  1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Ambillah ikan yang sakit dan timbanglah berat ikan tersebut

Berat ikan 1(koi)         : 17, 5  gr

Berat ikan 1 (bawal)    :  16,7 gr

Berat ikan 1     : …………………………………………..gr

  1. Ukur panjang badan ikan yang sakit tersebut dengan menggunakan penggaris mistar dari ujung kepala sampai dengan ujung ekor

Panjang ikan    : 17,5  gr                                                                                   Panjang ikan   :16,5  gr                                                                                               Panjang ikan                        :…………………………………………….gr

  1. Hitunglah faktor kondisi untuk :

Ikan 1 =           K = 100.m /L3 =

K = 100.100/ 17,53

= 1,8 gr

Ikan 2 =           K = 100.m /L3 =

K = 100.100/ 16,73

= 2,14 gr

Ikan 3 = …………………………………………………..

4.1.2    Parasit pada ikan

4.1.2.1 Ikan Komet

Ikan komet Jenis parasit
Organ luar (morfologi)
sisik Glyrodactylus
Insang Dactylogyrus
Darah

 

Kulit

 

Nematoda dan hipa
Sirip

 

Nematoda
Organ dalam (anatomi)
Jantung
Hati Larva capillaria
Lambung

 

Nematoda
Usus Cestoda

 

4.1.2.2 Ikan Bawal

Ikan bawal Jenis parasit
Organ luar (morfologi)
sisik Hipa saprolegnia
Insang Branchiomyces
Darah

 

Kulit

 

Nematoda
Sirip capillaria
Organ dalam (anatomi)
Jantung
Hati Larva capillaria
Lambung

 

Nematoda
Usus Nematoda

 

4.2 Pembahasan

Pada praktik ini sisik ikan komet terkena parasit Glyrodactylus cara menyerangnya ketika makan, parasit menempel ujung anterior untuk ikan dengan kelenjar cephalic. Ini Everts faring melalui mulut dan melepaskan solusi pencernaan dengan enzim proteolitik yang melarutkan kulit. Parasit tidak bisa bertahan di salinitas tinggi air laut, sehingga infeksi tidak menyebar oleh migrasi ikan oleh karena itu cara pengobatannya adalah dengan cara memakai air garam ataupun dengan cara Sebuah metode baru pengobatan mempekerjakan dosis volume kecil aluminium berair dan asam sulfat. Insang ikan komet terkena Dactylogyrus memiliki gejala yang mencakup insang meradang, sekresi lendir berlebihan dan respirasi dipercepat. Ikan yang terinfeksi juga menjadi lesu, berenang dekat permukaan, dan nafsu makan menurun.Selain itu ikan yang terinfeksi dapat memegang insangnya meliputi terbuka dan awal insang pada bebatuan. [8]Pada infeksi berat, Dactylogyrus dapat menyebabkan pendarahan dan metaplasia dari insang yang dapat menyebabkan infeksi bakteri sekunder dan kematian. Ikan terinfeksi berat juga anoreksia dan dapat ditemukan terengah-engah dan menunjukkan perilaku abnormal seperti melompat keluar dari air. Cara pengobatannya . Pengobatan termasuk mandi garam, formalin atau organofosfat, Bromex-50 dan kalium permanganate. Di darah ikan komet tidak terdapat parasit apa pun. Di kulit terdapat nematoda , hipa  di sirip dan lambung terdapat juga nematoda  . Cacing ini merupakan parasit pada sistem pencernaan dan juga pada hati ikan. Capillaria diketahui kerap menyerang ikan Diskus (Symphysodon spp) dan Angelfish (Pterophyllum spp). Tanda-tanda penyakit Pada infestasi ringan capillaria sering tidak menimbulkan gejala-gejala yang berarti. Sedangkan pada infestasi berat biasanya ditandai dengan gejala “emaciation” atau badan kurus, kehilangan nafsu makan, mengeluarkan kotoran berwarna putih dan tipis, atau kotoran dengan warna berselang-seling antara gelap (hitam) dan terang (putih). Pada ikan mati, kehadiran cacing ini dapat diketahui dengan melakukan pembedahan dan pengamatan pada isi perut ikan tersebut. Capillaria pada umumnya memilki panjang antara 0.5 sampai 2 cm dengan diameter kurang lebih seukuran dengan rambut. Pada ikan hidup pengamatan dapat dilakukan pada kotoran ikan dibawah mikroskop, dengan mengamati telur Capillaria yang biasanya akan turut serta terbawa kotoran ikan yang bersangkutan.

Di  jantung tidak terdapat parasit apa pun dan di  hati terdapat larva capillaria merupakan anakan dari capillaria yang berkembang biak. Di usus ikan komet terdapat cestoda Pada saat stadium awal perkembangan cacing pita ini terdapat dalam crustacea atau cacing. Masuk kedalam tubuh ikan melalui makanan (ikan memakan cacing atau crustacean, sehingga cestoda masuk kedalam tubuh ikan).

Sementara itu di ikan bawal di morfologi sisik terdapat hipa saprolegnia pada ikan bawal terlihat adanya sepora-sepora yang muncul pada permukaan sisik , insang bronciomyces ikan bawal terlihat sesak nafas dan megap megap dia air akibat terkena penyakit tersebut , di darah tidak terdapat apapun, kulit ada nematoda akibat terkena penyakit ini bawal terlihat kurus dan sirip capillaria.

Anatomi ikan bawal terdapat jantung tidak terdapat apa pun , di hati terdapat larva capillaria larva capillaria merupakan anakan dari capillaria yang berkembang biak, di usus dan lambung terdapat nematoda kotoran menjadi berselang seling hitam putih.

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Ikan bawal dan ikan komet terdapat banyak parasit terutama banyak nematoda dan  yang kebanyakaan parasit tersebut hidup di air yang tidak cukup bagus atau pun kualitas airnya yang buruk. Dapat disimpulkan ikan tersebut akibat dari kualitas air yang sangat buruk.

5.2 Saran

Hampir semua penyakit parasit diakibatkan oleh kualitas air yang kurang bagus atau kotor. Sebaiknya dalam budidaya kualitas air harus diperhatikan.

DAFTAR ISI

http://diskanlut-jateng.go.id/index.php/read/news/detail/77 (diunduh minggu, 5 mei 2013 jam 15.30)

http://nurrahman08.student.ipb.ac.id/2011/09/29/klasifikasi-dan-deskripsi-ikan-bawal-air-tawar-colossoma-macropomum/ (diunduh minggu, 5 mei 2013 jam 15.30)

fisherysusi.wordpress.com (diunduh minggu, 5 mei 2013 jam 15.30)

http://aigiolokola.wordpress.com/2012/01/26/penyakit-parasit-pada-ikan-2/ (diunduh minggu, 5 mei 2013 jam 15.30)

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta