Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Umur ikan adalah lama hidup suatu ikan mulai dari menetasnya telur hinggamenjadi dewasa. Pengetahuan mengenai komposisi umur dalam suatu populasi ataukomunitas ikan dalm suatu perairan merupakan hal yang sangat penting, terutama jika dihubungkan dengan produksi dan pengelolaan ikan sebagai sumber daya dari suatu perairan. Beberapa usaha yang dilakukan di Indonesia untuk memajukan danmengembangkan perikanan adalah dengan melakukan penelitian tentang umur ikan, dimana penelitian ini merupakan sesuatu yang sangat penting dalam bidang biologi perikanan. Dengan mengetahui data umur pada ikan yang dihubungkan dengan data panjang dan berat dapat memberikan keterangan tentang umur pada waktu ikan pertama kali matang kelamin, lama hidup, mortalitas, pertumbuhan dan reproduksi pada ikan. Melihat pentingnya mengetahui usia ikan, maka pada praktikum ini akan di pelajari penentuan usia ikan. Umur ikan dapat menggunakan materi pengamatan sisik ikan, tingkah laku migrasi ikan dan metode otolith.

Migrasi merupakan  satu  mata  rantai  daur  hidup  bagi  ikan  untuk  menentukan habitat dengan kondisi yang sesuai bagi keberlangsungan suatu tahapan kehidupan ikan. Studi  mengenai  ruaya  ikan  menurut  Cushing(1968)  merupakan  hal  yang  fundamental untuk dunia perikanan karena dengan mengetahui lingkaran ruaya ikan akan diketahui daerah dimana stok atau sub populasi itu hidup. Ruaya ini mempunyai arti penyesuaian, peyakinan terhadap kondisi yang menguntungkan untukeksistensi dan untuk reproduksi spesies.

1.2 Permasalahan

Permasalahan pada praktikum penentuan umur ikan adalah bagaimana mengetahuicara menentukan umur ikan dan mengetahui tanda tahunan pada squama ikan.

1.3 Tujuan

Praktikum penentuan umur ikan bertujuan untuk mengetahui cara-cara menentukan umur ikan dan mengetahui tanda tahunan pada squama ikan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Sidat (Anguilla bicolor)

Ikan sidat (Anguilla bicolor) merupakan salah satu ikan budidaya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Sidat memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan energi ikan sidat mencapai 270 kkal/100 g, Kandungan vitamin A sidat mencapai 4700 IU/100 g tujuh kali lipat lebih banyak dari telur ayam, 45 kali lipat dari susu sapi. Vitamin B1 sidat setara dengan 25 kali lipat kandungan vitamin B1 susu sapi dan vitamin B2 sidat sama dengan 5 kali lipat kandungan vitamin B2 susu sapi. Dibanding ikan salmon, sidat mengandung DHA (Decosahexaenoic acid, untuk pertumbuhan anak) sebanyak 1.337 mg/100 gram sementara ikan salmon hanya 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. Sidat memiliki kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) sebesar 742 mg/100 gram sementara salmon hanya 492 mg/100 gram atau tenggiri 409 mg/100 gram (Baedah 2010).

Menurut Deelder (1984) klasifikasi ikan sidat (Anguilla bicolor) adalah sebagai berikut :

Filum               : Vertebrata

Sub Filum        : Craniata

Super Kelas     : Gnathostomata

Kelas               : Teleostei

Sub Kelas        : Actynopterigii

Ordo                : Anguilliformes

Sun Ordo         : Anguilloidei

Famili              : Anguillidae

Genus              : Anguilla

Spesies             : Anguilla bicolor

Ikan sidat (Anguilla sp.) sampai saat ini telah ditemukan 18 spesies yang tersebar di Indo-Pasifik, Atlantik dan Oseania (Fahmi dan Hirnawati 2010). Ikan Sidat yang dikelompokkan menjadi 2 golongan besar yang didasarkan posisi dorsalnya yaitu long fin dan short fin (Skrzynski 1974). Indonesia memiliki tujuh 8 jenis ikan sidat dari total 18 jenis di dunia. Ketujuh jenis itu, dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu yang kelompok bersirip punggung pendek dan kelompok yang bersirip punggung panjang. Kelompok bersirip punggung pendek diantaranya adalah Anguilla bicolor dan Anguilla bicolor Pacifica, sedangkan kelompok yang memiliki sirip punggung panjang adalah Anguilla borneoensis, Anguilla marmorata, Anguilla celebesensis, Anguilla megastoma dan Anguilla interioris (KKP 2011).

Ciri utama sidat dewasa adalah bentuknya menyerupai belut. Apabila diperhatikan lebih teliti terdapat beberapa perbedaan morfologi (Gambar 2) yang membedakan antara sidat dengan belut. Sidat memiliki sirip dada (pectoral) yang sempurna yang terdapat pada bagian belakang tutup insang serta sirip punggung (dorsal), sirip ekor (caudal) dan sirip anal yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Sirip sidat dilengkapi dengan jari-jari lunak yang dapat dilihat dengan mata telanjang.

Ikan sidat memiliki linea lateralis yang terbentuk dengan baik, perut jauh dari kepala, mulut terminal, rahang tidak memanjang secara khusus, gigi kecil, pektinat dan setiform dalam beberapa sisi rahang dan vomer, terdapat gigi halus pada tulang faring, membentuk “ovate patch” pada faring, bagian atas celah insang lateral vertical berkembang dengan baik dan terpisah satu sama lainnya. Insang dapat terbuka lebar, terdapat lidah, bibir tebal, tulang frontal, berpasangan tetapi tidak tumbuh bersama. Palatopterygoid berkembang baik, premaksila tidak berkembang sebagi suatu elemen yang dapat dibedakan pada ikan dewasa, lengkun pektoral terdiri dari 7-9 (untuk yang masih muda mencapai 11) elemen radial, tulang ekor tanpa proses transverse.

Daur hidup Anguilla sp. pada fase pelagik (larva) leptocephalus mencapai bentuk daun dan akan mengalami perubahan bentuk (metamorfosis). Bentuk ikan sidat sudah menyerupai bentuk ikan sidat dewasa tetapi tubuhnya belum memiliki pigmen sehingga disebut glass eel (sidat kaca). Selanjutnya sidat kaca tersebut mengikuti arus kearah pantai, kemudian beruaya ke muara sungai. Setelah memasuki habitatnya tersebut, peristiwa pigmentasi terjadi sehingga menjadi ikan sidat kecil yang disebut elver yang berpigmen.

Elver akan bermigrasi ke arah hulu kemudian tumbuh menjadi ikan dengan ukuran dewasa. Ikan sidat dewasa yang memiliki pigmentasi kuning dan cokelat disebut ikan sidat kuning dan ikan sidat cokelat. Ikan sidat kuning ini bentuknya seperti sidat dewasa lainnya namun organ kelamin belum berkembang secara sempurna. Selanjutnya sidat tumbuh dan warnanya akan berubah menjadi perak (Xanthocrhomatism) yang terlihat pada bagian dasar perutnya. Perkembangan sidat menjadi silver eel terjadi di air tawar. Ikan ini tinggal di perairan air tawar selama 10-15 tahun dan kemudian akan masuk tahap memijah sehingga sidat harus bermigrasi ke lautan kembali, (Tesch 1977 dalam Sasono 2001).

Larva  ikan  sidat  mengalami  siklus  hidup  atau  metamorfosis  dalam hidupnya. Siklus tersebut dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini :

2.2 Umur Ikan

Umur ikan adalah lama hidup suatu ikan mulai dari menetasnya telur hinggamenjadi dewasa. Suatu populasi ikan yang telah berhasil mengadakan pemijahan menghasilkan sejumlah besar anak-anak ikan yang bergantung pada fekunditas, keberhasilan pemijahan dan mortalitas dari anak-anak ikan tersebut. Sisa anak-anak ikan yang tumbuh dan berhasil hidup mencapai ukuran yang dapat dieksploitasi dinamakan recruitmen, (Effendie, 1997).

2.3 Metode Penentuan umur ikan

Metode untuk menentukan umur suatu individu ikan dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu :

  1. Cara langsung, yang hanya dapat dilakukan pada individu spesies ikan budidaya.
  2. Cara tidak langsung yaitu pada individu spesies ikan yang masih hidup diperairanalami.

Penentuan umur ikan secara tidak langsung dapat dilakukan melalui 2 carayaitu :

b        Dengan mempelajari tanda-tanda tahunan (Annulus) atau harian (Sirkulus) padabagian-bagian tubuh yang keras.

c         b.Metoda prekuensi panjang (metoda petersen) yaitu melalui pengukuran panjangtubuh ikan, metoda ini biasanya diterapkan pada individu-individu spesies ikanyang hidup didaerah tropis (Pulungan, 2006).

Pada ikan di daerah tropis walaupun mengalami hidup di dua musim, kenyataannya suhu lingkungan sekitar tidak begitu mempengaruhi pertumbuhan sirkulasi pada bagiantubuh yang keras. Jadi tanda tahunan dari hasil susunan sirkuli yang rapat tidak begitunyata bentuknya (Effendie, 1997).Selain berdasarkan metode tersebut, untuk menentukan umur ikan juga dapatmenggunakan metode :

  1. Tanda tahunan. Tanda tahunan terjadi karena adanya kelambatan pertumbuhan yang disebabkanoleh musim dingin atau kekurangan makanan atau faktor lain. Tanda tahunan yangbiasanya digunakan untuk menentukan umur ikan adalah sisik (squama), operculum,otolith, vertebrae dan jari keras sirip dorsal (Effendie, 1997).

Metoda penentuan umur berdasarkan tanda tahunan pada bagian tubuh yang kerasbiasanya dilakukan pada daerah subtropis (4 musim). Karena ikan-ikan yang hidup didaerah subtropis sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungannya, dimana pada musim dinginpertumbuhan tubuh ikan hampir terhenti atau lambat sama sekali. Sehingga mempengaruhipertumbuhan pada sisik (squama), vertebrae, tulang, operculum, duri sirip dan tulangotolith yang menyebabkan terbentuknya susunan sirkulasi yang sangat rapat dan akhirnyamembentuk annulus (Effendie, 1997). Penentuan umur ikan dengan menggunakan tanda tahunan berupa sisik berdasarkankepada tiga hal, yaitu:

  • Jumlah sisik ikan tidak berubah dan tetap identitasnya selama hidup.
  • Pertumbuhan tahunan pada sisik ikan sebanding dengan pertambahan panjang ikanselama hidupnya.
  • Hanya satu annulus yang dibentuk pada tiap tahunnya (Effendie, 1997).
  1. Metode frekuensi panjang, yaitu dengan metode PetersenMetode Petersen digunakan untuk ikan dengan masa pemijahan pendek, dimanaterjadi satu kali satu tahun dan umur ikan tidak panjang. Metode ini tidak cocok untuk ikandengan masa pemijahan panjang karena menyebabkan terjadi pertumpuan ukuran dariumur yan berbeda. Ikan yang pertumbuhannya lambat dari satu kelas umur lebih tinggi,akan bertumpuk atau mempunyai ukuran sama dengan ikan yang tumbuhnya lebih cepatpada umur yang lebih rendah (Effendie, 1997).
  2. Tagging dan MarkingTagging adalah pemberian tanda berupa benda asing pada tubuh ikan, dimana padatanda tadi dapat diberi tanda-tanda lain berupa tanggal nomor atau kode-kode lain (Effendie, 1997).Marking adalah pemberian tanda pada ikan bukan dengan benda asing melainkandengan jalan menghilangkan bagian tubuh ikan, misalnya pemotongan sirip (Effendie,1997).

2.4 Metode menghitung umur ikan

Otolit adalah unit mikrostruktur yang digunakan untuk menghitung umur ikan terdiri dari lapisan-lapisan kristal kalsium karbonat yang mengendap secara periodik pada matriks organik. Lapisan-lapisan kristal yang mengendap tersebut merupakan struktur yang tendiri dari 2 bagian (bipartite) dan disebut sebagai zona inkremental. Zona tersebut terdiri dari zona inkremen dan zona diskontinus yang umumnya terbentuk dalam 24 jam (Campana dan Neilson 1985).

2.4.1 Bentuk Otolith pada ikan

Otolit terletak di dalam aparatus vestibula. Aparatus ini terbagi menjadi kantung bagian dorsal yang disebut pars superior, dan kantung bagian ventral yang disebut pars inferior. Lapili terletak di bagian anterior dari pars superior, sedangkan sagita dan asteriskus letaknya saling berdekatan yakni berada didalam pars inferior yang posisinya di bagian tengah dan bawah dan lapili (Gambar 1 A)

.

Kantung-kantung (vestibula) berisi 3 pasang otolith masing-masing mempunyai nama sendiri yaitu utriculus berisi lapilus, sacculus berisi sagita dan lagenus berisi asteriscus (Gambar IB), menurut Secor et al. (1991),

Otolith umumnya dikeluarkan dengan cara menyayat bagian kepala (dekat otak) dengan memakai pinset yang agak halus. Tehnik ini dapat dilakukan untuk semua ukuran ikan baik dewasa maupun embrio yang masih dalam telur. Setelah otolit dikeluarkan dari tempatnya, dibersihkan dari jaringan yang menempel dan dikeringkan, untuk selanjutnya siap untuk dibaca. Untuk ikan-ikan yang berukuran kecil, cara ini sudah cukup dan inkremen pada otolit dapat langsung dibaca dihitung. Akan tetapi untuk otolit yang berukuran relatif besar, biasanya dibutuhkan pengasahan dan pemolesan sebelum dibaca. dua zona, yaitu: 1) Zona kontinus atau inkremen, yaitu penambahan (deposit) yang terjadi pada periode aktif dan metabolisme kalsium, dan 2) Zona diskontinus yang mated utamanya berupa matriks organik (PANELLA 1974; BEAMISH & Me. FARLANE 1990).

2.4.2. Penyimpanan Otolit

Otolit ikan dewasa dapat disimpan dalam bentuk kering di dalam vial atau botol. Untuk otolit dan ikan-ikan muda, penyimpanan dalam alkohol akan lebih cocok, sedangkan otolit dari larva ikan, penanganan lebih sulit karena sifatnya yang rapuh dan mudah pecah. Cara penyimpanan terbaik yaitu dengan meletakkan diobjek-glas dan direkatkan (mounted) dengan media yang tembus pandang (contoh: permount) dan kemudian ditutup dengan coverslip (BROTHERS 1990).

2.4.3. Aplikasi otolit dalam perikanan

Perubahan yang terjadi pada inkremen otolit dapat menjadi tanda yang sangat berguna untuk mengetahui suatu kejadian pada saat itu, sehingga melalui inkremen otolit, dapat diketahui kejadian awal (sejarah) kehidupan dari individu ikan (PANELLA 1971; 1908; BROTHERS & McFARLAND 1981; VICTOR 1982).

2.4.4. Metode otolit

Otolit sebaiknya diambil dan ikan yang baru mati namun jika tidak memungkinkan, ikan bisa diawetkan dalam etanol atau dibekukan. Tidak disarankan untuk menggunakan formalin, karena akan merubah struktur otolit. Untuk ikan juvenil atau larva, sangat dibutuhkan penanganan yang teliti karena pada stadium ini, otolit sangat sensitif terhadap perubahan atau degradasi. Metoda yang paling aman dalam menangani stadium ini adalah dengan mengawetkan dalam etanol 95% atau dibekukan (BROTHERS 1990). Otolith umumnya dikeluarkan dengan cara menyayat bagian kepala (dekat otak) dengan memakai pinset yang agak halus. Tehnik ini dapat dilakukan untuk semua ukuran ikan baik dewasa maupun embrio yang masih dalam telur. Setelah otolit dikeluarkan dari tempatnya, dibersihkan dari jaringan yang menempel dan dikeringkan, untuk selanjutnya siap untuk dibaca. Untuk ikan-ikan yang berukuran kecil, cara ini sudah cukup dan inkremen pada otolit dapat langsung dibaca/ dihitung. Akan tetapi untuk otolit yang berukuran relatif besar, biasanya dibutuhkan pengasahan dan pemolesan sebelum dibaca.Otolit sebaiknya diambil dan ikan yang baru mati namun jika tidak memungkinkan, ikan bisa diawetkan dalam etanol atau dibekukan. Tidak disarankan untuk menggunakan formalin, karena akan merubah struktur otolit. Untuk ikan juvenil atau larva, sangat dibutuhkan penanganan yang teliti karena pada stadium ini, otolit sangat sensitif terhadap perubahan atau degradasi. Metoda yang paling aman dalam menangani stadium ini adalah dengan mengawetkan dalam etanol 95% atau dibekukan (BROTHERS 1990). Otolith umumnya dikeluarkan dengan cara menyayat bagian kepala (dekat otak) dengan memakai pinset yang agak halus. Tehnik ini dapat dilakukan untuk semua ukuran ikan baik dewasa maupun embrio yang masih dalam telur. Setelah otolit dikeluarkan dari tempatnya, dibersihkan dari jaringan yang menempel dan dikeringkan, untuk selanjutnya siap untuk dibaca. Untuk ikan-ikan yang berukuran kecil, cara ini sudah cukup dan inkremen pada otolit dapat langsung dibaca/ dihitung. Akan tetapi untuk otolit yang berukuran relatif besar, biasanya dibutuhkan pengasahan dan pemolesan sebelum dibaca.Otolit bersifat spesies spesifik dan terdiri dari 3 pasang yang masing masing mempunyai perbedaan karakteristik tersendiri yang mempengaruhi kegunaan dalam menentukan umur. Pasangan terbesar disebut sagita, diikuti oleh lapilus sedangkan pasangan terkecil disebut asteriskus (Gambar 2). Untuk menentukan umur ikan, otolit yang sering digunakan adalah sagita dan lapilus. Sagita umumnya mempunyai inkremen yang lebar, sehingga lebih sering dipilih untuk menentukan umur ikan yang pertumbuhannya lambat (ikan yang berumur panjang). Sedangkan inkremen pada lapilus umumnya lebih sempit, sehingga membutuhkan keakuratan yang tinggi dalam membacanya. Umur ikan yang berumur 30 hari memperlihatkan adanya 2- 3 lingkaran sub harian pada ingkramen. Seperti gambar di bawah ini

Umur ikan yang berumur 30 hari memperlihatkan adanya 2- 3 lingkaran sub harian pada ingkramen

DAFTAR PUSTAKA

Campana, S.E., and J.D. Neilson. 1985. Microstructure offish otoliths. Can. J. Fish. Aquat. Sci. 42: 1014-1032

Effendie, M. I. 1997. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara: Yogyakarta.

Pulungan, C. P., et al. 2006. Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.Univesitas Riau: Pekanbaru.