Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

Chumaidi et al., (1990) menyatakan bahwa perkembangbiakan artemia ada dua cara, yakni partenhogenesis dan biseksual. Pada artemia yang termasuk jenis parthenogenesis populasinya terdiri dari betina semua yang dapat membentuk telur dan embrio berkembang dari telur yang tidak dibuahi. Sedangkan pada artemia jenis biseksual, populasinya terdiri dari jantan dan betina yang berkembang melalui perkawinan dan embrio berkembang dari telur yang dibuahi.

Pada awalnya naupli berwarna orange kecoklatan karena masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas belum bisa makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam naupli tersebut akan berganti kulit dan memasuki tahap larva kedua (nauplius II). Dalam fase ini naupli tersebut akan mulai makan dengan pakan berupa mikroalga, bakteri, dan detritus organik lainya. Nauplius bersifat tidak memilih pakan sehingga akan memakan segala jenis pakan yang dapat dikonsumsinya selama ukuran sesuai dengan bukaan mulut nauplius. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam kurun waktu 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm (Sumeru, 2008).

Dalam tingkat salinitas rendah dan pakan yang optimal, artemia betina bisa menghasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari) artemia bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10-11 kali. Dalam kondisi normal, artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi naupli atau kista sebanyak 300 ekor (butir) per 4 hari (Sumeru, 2008).