Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

LAPORAN
PEMBUATAN PAKAN IKAN
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pakan merupakan komponen penting dalam budidaya ikan terutama dalam energi ikan dalam melakukan aktifitas,berkembang,reproduksi dll. Dialam ikan dapat memenuhi kebutuhan makanannya dengan pakan yang tersedia di alam.pakan yang berasal dari alam selalu sesuai dengan selera ikan (hany, 2010) . Tetapi di lingkungan budidaya ikan tidak bisa memilih ikan tergantung kepada pakan buatan. pakan buatan adalah pakan yang dibuat dari berbagai macam bahan baku hewani dan nabati dengan memperhatikan kandungan gizi, sifat dan ukuran ikan yang akan mengkonsumsi pakan tersebut dengan cara dibuat oleh manusia dengan bantuan peralatan pakan (gusrina, 2003).

Presentasi biaya operasional dalam budidaya yaitu 50-70 %, pakan di butuhkan dalam usaha budidaya ikan dapat berasal dari pakan alami,terutama Pembesaran ikan intensif yaitu pembesaran ikan yang dalam proses pemeliharaannya mengandalkan pakan buatan dalam pemberian pakannya serta dilakukan pada wadah yang terbatas dengan kepadatan maksimal. buatan Seperti diketahui bahwa pakan buatan harus mengandung energi lebih dari 3000 kilokalori agar dapat memberikan pertumbuhan yang baik bagi ikan budidaya (gusrina 2003). Oleh karena itu harus dibuat suatu manajemen pakan yang baik agar pakan yang digunakan benar efesien dan efektif terutama dalam penyusunan nutrisi pada ikan.

Dalam pengeturan nutrisi ikan membutuhkan protein 20-60 % , karbohidrat (30 %) , lemak (4-8 %) vitamin dan mineral Dalam zat – zat sesuai dengan kebutuhan ikan. dalam hal itu penyusunan formulasi bahan baku pembuatan ada 5 metode yaitu metode square, metode aljabar , metode linier , metode try and error (coba-coba). Terutama dalam metode square merupakan metode yang diciptakan oleh seseorang yang bernama pearsons dalam pembuatan pakan ahlo ternak dan dengan menggunakan kotak  dengan pembagian protein , protein basal dan suplemen. Protein Basal, yaitu bahan baku pakan ikan, baik yang berasal dari nabati, hewani dan limbah yang mempunyai kandungan protein kurang dari 20%. Protein Suplement, yaitu bahan baku pakan ikan, baik yang berasal dari nabati, hewani dan limbah yantg mempunyai kandungan protein lebih dari 20%.

1.2 Tujuan

  • Mengetahui pembuatan pakan
  • Mengetahui formulasi pakan
  • Mengetahui dengan menggunakan metode persons square

 

II TINJUAN PUSTAKA

2.1 Pakan

Pakan adalah makanan / asupan yang diberikan kepada hewan (peliharaan). Istilah ini diadopsi dari bahasa Jawa. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan dan kehidupan makhluk hidup . Zat yang terpenting dalam pakan adalah protein . Pakan berkualitas adalah pakan yang kandungan protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitaminnya seimbang . Hal Penting Mengenai Pakan Hal yang harus diperhatikan dalam mengenai pakan yaitu pakan tidak boleh disimpan dalam 2 minggu, tempat penyimpanan pakan sebaiknya kering (tidak lembap). Apabila pakan dibeli di pabrik sebaiknya dipastikan pabrik tersebut memproduksi pakan dengan kualitas yang baik . Kualitas pakan dapat menentukan kualitas ternak . Jika pakan disimpan dalam wadah, sebaiknya wadah tersebut ditutup rapat dan tidak ada udara yang masuk . Pakan yang terkontaminasi udara lembap akan berjamur . Fungsi pakan Bagi semua maklukh hidup, pakan mempunyai peranan sangat penting sebagai sumber energi untuk pemeliharaan tubuh, pertumbuhan dan perkembangbiakan . Selain itu, pakan juga dapat digunakan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk menghasilkan warna dan rasa tertentu. Fungsi lainnya diantaranya yaitu sebagai pengobatan, reproduksi, perbaikan metabolisme lemak dll . Namun pemberian pakan berlebih dapat membuat hewan peliharaan menjadi rentan terhadap penyakit, produktifitasnya pun akan menurun . Macam-Macam Pakan Pada industri peternakan masa kini, pakan yang diberikan biasanya berupa campuran dari bahan alami dan bahan buatan (komposisi) yang telah ditingkatkan kandungan gizinya. salah satunya yaitu yang berasal dari limbah perkebunan. Kadang- kadang pada pakan ditambahkan pula hormon dan vitamin tertentu untuk memacu pertumbuhan ternak dan membebaskannya dari stress .

2.1.1 Pakan buatan

Pakan Buatan Pakan buatan adalah pakan yang disiapkan oleh manusia dengan bahan dan komposisi tertentu yang sengaja disiapkan oleh manusia . Pakan buatan bersifat basa, seperti bentuk pasta atau emulsi (cairan pekat), tidak perlu disimpan. Jenis pakan basah sebaiknya dihabiskan dalam satu kali pemberian /aplikasi karena pakan jenis ini mudah rusak jenis kandungannya. Namun bila memang harus disimpan, sebaiknya disimpan dalam ruangan pendingin (lemari es), itu pun tidak bisa terlalu lama, hanya 2 s.d 3 hari. Jika terlalu lama disimpan, kualitas pakan turun dan tidak bagus untuk dikonsumsi . Bahan baku yang digunakan untuk menentukan kualitas pakan buatan harus memenuhi beberapa syarat diantaranya , bernilai gizi, mudah dicerna, tidak mengandung racun, mudah diperoleh, dan bukan merupakan kebutuhan pokok manusia . Golongan Pakan Buatan Pakan buatan dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu pakan lengkap (complete feed) dan pakan suplemen (suplemental feed) . Pakan lengkap adalah pakan yang diformulasi sedemikian rupa sehingga memiliki semua vitamin esensial dalam jumlah yang diperlukan oleh ternak. Pakan ini lebih ditujukan untuk memberikan pertumbuhan normal pada hewan yang tidak mendapatkan suplai vitamin dari pakan alami. Pakan suplemen adalah pakan yang diformulasi sedemikian rupa hingga mengandung protein dan energi yang memadai, tetapi mungkin kekurangan mikronutrien tertentu. Keuntungan Pakan Buatan Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan pakan buatan, diantaranya yaitu, bahan baku pakan dapat berupa limbah industri pertanian, perikanan, peternakan, dan makanan yang bernilai ekonomi rendah, tetapi masih mengandung nilai gizi yang cukup tinggi. Pakan buatan juga dapat disimpan dalam waktu relatif lama, tanpa terjadi perubahan kualitas yang drastis. Dengan demikian kebutuhan pakan dapat terpenuhi setiap saat. Selain itu pakan buatan juga dapat mengubah warna dan rasa, contohnya pada ikan . Penambahan lemak pada jumlah tertentu menjadikan daging ikan bertambah gurih . Selain itu pemberian kepompong ulat sutera dapat memperbaiki aroma daging ikan . Penambahan ekstrak bunga marigold ke dalam pakan, seperti banyak yang dilakukan oleh petani di Jepang, dapat menghasilkan aroma daging ikan yang lebih baik dan warna yang lebih menarik

Tingkat kebutuhan protein optimal (% berat kering pakan) pada beberapa jenis ikan budidaya (Millamena, 2002)

2.2. Tepung

Tepung adalah partikel padat yang berbentuk butiran halus atau sangat halus tergantung pemakaiannya. Biasanya digunakan untuk keperluan penelitian, rumah tangga, dan bahan baku industri. Tepung bisa berasal dari bahan nabati misalnya tepung terigu dari gandum, tapioka dari singkong, maizena dari jagung atau hewani misalnya tepung tulang dan tepung ikan (Sofiya 2006).

Tepung (bila dilihat di bawah mikroskop) akan terlihat zat tepung yang terdiri atas granula yang berbeda. Tepung dibuat dari jenis padi-padian dan umbi-umbian yang melalui proses beberapa tahap sampai menjadi tepung yang kering. Tepung tidak larut dalam air sehingga tepung akan mengendap di dalam air, dan bila dipanaskan sambil diaduk-aduk akan mengembang dan mengental. Prose ini disebut “gelatinasi” (Soejoetu 1998).

Tepung mulai mengetal pada suhu 64-720 C Celcius. Setelah melampaui suhu 1090 Celcius, tepung akan betul-betul matang. Makin tinggi konsentrasi larutan tepung, makin cepat mengental meskipun belum semua granula pecah. Jadi, masih ada rasa mentah, berarti belum semua bagian matanf. Bila membuat bubur tepung kurang cukup cairan, dan pengaduknya kurang sempurna, butir-butir granula menjadi keras dan liat, tidak rata atau menggumpal. Jika dimasak dengan air, tepung tapioka (tepung kanji, tepung aci), tepung kentang dan tepung maizena serta tepung hungkue akan menjadi bubur kental dan bening, lebih jernih daripada bubur dari tepung beras atau tepung terigu.(Soejoeti 1998).

2.2.1 Tepung Ikan

Tepung Ikan adalah ikan atau bagian-bagian ikan yang minyaknya diambil atau tidak, dikeringkan kemudian digiling. Kegunaan utama tepung ikan adalah sebagai bahan campuran pada makanan ternak. Tepung ikan yang bermutu baik harus bebas dari kontaminasi serangga. Jamur, mikroorganisme pathogen. Dalam susunan makanan ternak, tepung ikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama ternak ayam dan babi selain itu juga sebagai komponen makanan ikan. Tepung ikan yang bermutu baik harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : butiran – butirannya harus seragam bebas dari sisa – sisa tulang, mata ikan dan benda asing, warna halus bersih, seragam, serta bau khas ikan amis (Afrianto dan Liviawaty, 2005).

  2.2.2 Tepung kedelai

Tepung Kacang Kedelai adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tepung Kacang Kedelai mengandung energi sebesar 347 kilokalori, protein 35,9 gram, karbohidrat 29,9 gram, lemak 20,6 gram, kalsium 195 miligram, fosfor 554 miligram, dan zat besi 8 miligram.  Selain itu di dalam Tepung Kacang Kedelai juga terkandung vitamin A sebanyak 140 IU, vitamin B1 0,77 miligram dan vitamin C 0 miligram.  Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Tepung Kacang Kedelai, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 100 %. Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/ Gizi Pada Tepung Kacang Kedelai : Nama Bahan Makanan : Tepung Kacang Kedelai Nama Lain / Alternatif : Tepung Kacang Kedele Banyaknya Tepung Kacang Kedelai yang diteliti (Food Weight) = 100 gr Bagian Tepung Kacang Kedelai yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 100 % Jumlah Kandungan Energi Tepung Kacang Kedelai = 347 kkal Jumlah Kandungan Protein Tepung Kacang Kedelai = 35,9 gr Jumlah Kandungan Lemak Tepung Kacang Kedelai = 20,6 gr Jumlah Kandungan Karbohidrat Tepung Kacang Kedelai = 29,9 gr Jumlah Kandungan Kalsium Tepung Kacang Kedelai = 195 mg Jumlah Kandungan Fosfor Tepung Kacang Kedelai = 554 mg Jumlah Kandungan Zat Besi Tepung Kacang Kedelai = 8 mg Jumlah Kandungan Vitamin A Tepung Kacang Kedelai = 140 IU Jumlah Kandungan Vitamin B1 Tepung Kacang Kedelai = 0,77 mg Jumlah Kandungan Vitamin C Tepung Kacang Kedelai = 0 mg.

2.2.3 Tepung Jagung

Tepung jagung Tepung jagung, pati jagung, atau tepung maizena adalah pati yang didapatkan dari endosperma biji jagung. Tepung jagung merupakan bahan makanan populer yang biasa digunakan sebagai bahan pengental sup atau saus, dan digunakan untuk membuat sirup jagung dan pemanis lainnya.Sejarah Hingga tahun 1850, tepung jagung paling banyak digunakan untuk mencuci pakaian dan proses industri. Pemanfaatan Tepung jagung digunakan sebagai bahan pengental pada makanan berbasis cairan (seperti sup). Tepung jagung dapat membentuk adonan ketika dicampur dengan air dingin. Nugget ayam menggunakan tepung jagung untuk meningkatkan penyerapan minyak dan kerenyahan ketika penggorengan. Tepung jagung dapat diolah menjadi bioplastik. Tepung jagung juga digunakan sebagai bahan anti lengket pada proses transportasi gula dan produk yang terbuat dari lateks, termasuk kondom dan sarung tangan medis.Proses pembuatan Jagung direndam air hangat selama 30 hingga 48 jam yang memfermentasikannya sedikit. Lembaga atau inti biji jagung dipisahkan dan endosperma dihancurkan lalu dilarutkan dalam air untuk mendapatkan patinya. Setelah itu, pati dipisahkan dengan cara sentrifugasi, lalu dikeringkan. Produk samping dari proses ini dapat dijadikan pakan hewan ternak, bahan baku minyak jagung, dan sebagainya. Pati jagung dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan.

  2.2.4 Dedak Halus

Dedak Halus Dedak adalah limbah dari proses penggilingan padi yang tidak menjadi butiran-butiran beras, ada yang menjadi kasar dan ada yang halus, keduanya kalau dicampur air yang kasar terasa banyak sekali serat, sebaliknya yang halus seperti bubur kenyal, keduanya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak bebek , pakan tambahan ikan dll.

2.2.5 Vitamin

Vitamin berasal dari kata vitamin yang berarti zat hidup (vital) yang mengandung N (amine) atau disebut juga biokatalis. Vitamin merupakan senyawa organik dengan berat molekul rendah (berat molekulnya biasanya kurang dari 1000) dengan komposisi dan fungsi yang beragam yang sangat penting bagi kehidupan tetapi tidak dapat disintesis oleh tubuh. Vitamin termasuk kedalam komponen pelengkap yang mana kehadirannya dalam makanan sangat diperlukan untuk menormalkan pertumbuhan dan perawatan kesehatan dan ketidakcukupan dalam bahan makanan dapat mengakibatkan pengembangan kondisi specific pathologic.

2.2.6 Mineral

Mineral merupakan unsur anorganik yang dibutuhkan oleh organisme perairan (ikan) untuk proses hidupnya secara normal. Ikan sebagai organisme air mempunyai kemampuan untuk menyerap beberapa unsur anorganik ini, tidak hanya dari makanannya saja tetapi juga dari lingkungan. Jumlah mineral yang dibutuhkan oleh ikan adalah sangat sedikit tetapi mempunyai fungsi yang sangat penting. Dalam penyusunan pakan buatan mineral mix biasanya ditambahkan berkisar antara 2 – 5% dari total jumlah baha baku dan bervariasa bergantung pada jenis ikan yang akan mengkonsumsinya.

2.3. Analisis Proksimat

Analisis proksimat merupakan metode yang tidak menguraikan kandungan nutrien secara rinci, namun berupa nilai perkiraan (Soejono, 1990). Metode ini dikembangkan oleh Henneberg dan Stockman dari Weende Experiment Station di Jerman pada tahun 1865 (Tillman et al., 1991).

Analisis makronutrien analisis proksimat meliputi kadar abu total, air total, lemak total, protein total dan karbohidrat total, sedangkan untuk kandungan mikronutrien difokuskan pada provitamin A (β-karoten) (Sudarmadji et al., 1996). Analisis vitamin A dan provitamin A secara kimia dalam buah-buahan dan produk hasil olahan dapat ditentukan dengan berbagai metode diantaranya kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom absorpsi, kromatografi cair kinerja tinggi, kolorimetri dan spektrofotometri sinar tampak (Winarno, 1997).

Tabel 6.7. Hasil analisa proksimat bahan baku (Mllamena et al, 2000).

2.3.1  Kadar Air

Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam satuan persen. Kadar air juga merupakan karakteristik yang sangat penting dalam bahan pangan karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air menyebabkan mudahnya bakteri, kapang dan khamir untuk berkembang biak sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan (Haryanto 1992). Kadar air adalah perbedaan antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan kelembaban udara disekitarnya. Kadar air ini disebut dengan kadar air seimbang.

Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan acceptability, kesegaran dan daya tahan bahan itu. Selain merupakan bagian dari suatu bahan makanan, air merupakan pencuci yang baik bagi bahan makanan tersebut atau alat-alat yang akan digunakan dalam pengolahannya. Kandungan air dalam bahan makanan mempengaruhi daya tahan bahan makanan terhadap serangan mikroba yang dinyatakan dengan Aw yaitu jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya (Winarno 2004).

Penetapan kandungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Hal ini tergantung pada sifat bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan mengeringkan bahan dalam oven pada suhu 105 – 110 °C selama 3 jam atau sampai didapat berat yang konstan. Untuk bahan yang tidak tahan panas, seperti bahan berkadar gula tinggi, minyak, daging, kecap dan lain-lain pemanasan dilakukan dalam oven vakum dengan suhu yang lebih rendah. Kdang-kadang pengeringan dilakukan tanpa pemanasan, bahan dimasukkan ke dalam eksikator dengan H2SO4 pekat sebagai pengering, hingga mencapai berat yang konstan (Winarno 2004).

2.3.2.  Abu

Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Soejono, 1990). Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar bahan pakan dalam tanur, pada suhu 400-600o C sampai semua karbon hilang dari sampel, dengan suhu tinggi ini bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar dan sisanya merupakan abu yang dianggap mewakili bagian inorganik makanan. Namun, abu juga mengandung bahan organik seperti sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakaran. Kandungan abu dengan demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan inorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 1994).

2.3.3. Serat Kasar

Fraksi serat kasar mengandung selulosa, lignin, dan hemiselulosa tergantung pada species dan fase pertumbuhan bahan tanaman (Anggorodi, 1994). Pakan hijauan merupakan sumber serta kasar yang dapat merangsang pertumbuhan alat-alat pencernaan pada ternak yang sedang tumbuh. Tingginya kadar serat kasar dapat menurunkan daya rombak mikroba rumen (Farida, 1998).

Cairan retikulorumen mengandung mikroorganisme, sehingga ternak ruminasia mampu mencerna hijauan termasuk rumput-rumputan yang umumnya mengandung selulosa yang tinggi (Tillman et al., 1991). Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua bahan yang terlarut dalam asam dengan pendidihan dengan asam sulfat bahan yang larut dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut adalah serat kasar (Soejono, 1990).

2.3.4. Protein Kasar

Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan pakan kemudian dikali dengan faktor protein 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama, dianggap bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein, kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 1990). Menurut Siregar (1994) senyawa-senyawa non protein nitrogen dapat diubah menjadi protein oleh mikrobia, sehingga kandungan protein pakan dapat meningkat dari kadar awalnya. Sintesis protein dalam rumen tergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ternak. Jika konsumsi N makanan rendah, maka N yang dihasilkan dalam rumen juga rendah. Jika nilai hayati protein dari makanan sangat tinggi maka ada kemungkinan protein tersebut didegradasi di dalam rumen menjadi protein berkualitas rendah.

2.3.5. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)

Kandungan BETN suatu bahan pakan sangat tergantung pada komponen lainnya, seperti abu, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar. Jika jumlah abu, protein kasar, esktrak eter dan serat kasar dikurangi dari 100, perbedaan itu disebut bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) (Soejono, 1990). BETN merupakan karbohidrat yang dapat larut meliputi monosakarida, disakarida dan polisakarida yang mudah larut dalam larutan asam dan basa serta memiliki daya cerna yang tinggi (Anggorodi, 1994).

2.3.5.1 Karbohidrat

Karbohidrat (‘hidrat dari karbon’, hidrat arang) atau sakarida (dari bahasa Yunani σάκχαρον, sákcharon, berarti “gula”) adalah segolongan besar senyawa organik yang paling melimpah di bumi. Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh makhluk hidup, terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), dan materi pembangun (misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur). Pada proses fotosintesis, tetumbuhan hijau mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat. Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil- aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan untuk golongan senyawa yang mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak terhidrasi oleh n molekul air. Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang mengandung nitrogen, fosforus, atau sulfur. Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana yang disebut monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabang-cabang, disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan selulosa. Selain monosakarida dan polisakarida, terdapat pula disakarida (rangkaian dua monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa monosakarida).

2.3.5.2. Lemak Kasar

Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan metode soxhlet, yaitu proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxhlet (Soejono, 1990). Lemak yang didapatkan dari analisis lemak ini bukan lemak murni. Selain mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak eter juga mengandung waks (lilin), asam organik, alkohol, dan pigmen, oleh karena itu fraksi eter untuk menentukan lemak tidak sepenuhnya benar (Anggorodi, 1994). Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan larutan heksan sebagai pelarut. Fungsi dari n heksan adalah untuk mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih (Mahmudi, 1997).

III METODOLOGI

3.1 Alat Dan Bahan

  • Peralatan untuk membuat pakan Pellet secara sederhana, praktis dan mudah diantaranya adalah dengan menggunakan
  • gilingan daging yang dimodifikasi,
  • nampan plastik, ayakan ,
  • gayung plastik,
  • ember plastik,
  • timbangan.

3.2 Bahan

Untuk membuata pakan Pelet terdiri daridua kelompok yaitu baku pokok dan bahan tambahan (Suplemental feeds).

  • Tepung Ikan
  • Tepung kedelai
  • Tepung jagung
  • Dedak halus
  • Tepung terigu
  • Vitamin dan mineral
  • Tepung kanji

3.3 CARA PEMBUATAN PELLET

  • Memprsiapkan bahan baku, menyusun jumlah setiap komponen dan menimbang.
  • Mencampur bahan-bahan seperti tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung, dedak halus ,tepung terigu satu wadah hingga merata, pada wadah yang terpisah dicampur pula  dengan vitamin mix  dan mineral mix. Kemudian kedua wadah tersebut dicampurkan hingga merata.
  • Buat perekat dari tepung kanji dengan air untuk 1 Kg pakan setelah merata dan kental kemudian dicampurkan dengan campuran bahan baku.
  • Membentuk adonan pakan diatas menjadi gumpalan-gumpalan untuk memudahkan dalam proses pencetakan pellet.
  • Pencetakan pelet dengan mesin/alat pellet disesuaikan dengan piringannya dengan diameter pellet yang dikehendaki.
  • Jemur pellet hingga kering.

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

  1. Ikan                    29,36 %          X         1000 g = 293,6  g
  2. Kedelai                          29,36 %          X         1000 g = 293,6 g
  3. Jagung                7,09 %            X         1000 g =   70,9 g
  4. Terigu                 7,09  %          X         1000 g =   70,9 g
  5. Halus                  7,09 %           X         1000 g =   70,9 g

Vitamin                   3%                 X         1000 g =    30  g

Mineral                  3%                  X         1000 g =   30  g

Tepung kanji         14 %               X         10000 g = 140  g +

1000 g

Berat basah = 1990 – 200 = 1790

4.2 PEMBAHASAN

Dalam pembuatan pakan metode persons square menentukan proteinnya dengan memisahkan protein basal dan suplemen dengan kandungan protein 33 % , metode persens square lebih efektif digunakan pada pakan ternak metode yang pertama kali dibuat oleh ahli pakan ternak dalam menyusun pakan ternak yang bernama Pearsons (gusrina 2003). Metode ini ternyata dapat diadaptasi oleh para ahli pakan ikan dan digunakan untuk menyusun formulasi pakan ikan. Pada pemeliharaan ini sumber energi bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang adalah pakan buatan dalam bentuk pellet yang diberikan sebanyak 3-5% sehari dan frekuensi pemberian pakan 3-5 kali sehari. Pakan buatan tersebut harus mengandung protein 20-30%. Tergantung pada jenis ikan dan ukuran ikan tersebut. pada ikan herbivora lebih menggunakan protein sedikit sedangkan pada ikan karnivora membutuhkan protein banyak dan pada stadia larva ikan membutuhkan protein yang banyak dikarenakan larva membutuhkan untuk pembentukan jaringan terutama organ yang masih premitif.

Tingkat kebutuhan protein optimal (% berat kering pakan) pada beberapa jenis ikan budidaya (Millamena, 2002)

Dalam pebuatan pakan ikan dalam percampuran harus di lakukan penggadukan yang rata dan pemakaian air yang cukup agar pakan ikan tercampur dengan sempurna dan mengghasilkan pakan yang bagus pakan tidak boleh terlalu basah akibatnya pakan tersebut akan susah di bentuk lalu akan menghasilkan kadar air yang tinggi sehingga pakan cepat rusak dan tidak boleh terlalu kering dapat mengakibatkan pakan tersebut susah di cetak oleh karena itu pakan harus benar – benar sempurna dalam pebuatannya.

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Pembuatan pakan harus di perhatikan dalam

  • Pembuatan formulasi protein yang sesuai dengan spesies ikan tertentu dan ukuran ikan tersebut
  • dalam pencampuran bahan bakunya pun harus diperhatikan dalam mencampur bahan baku yang digunakan jika terlalu banyak tepung jagung maka akan mengasilkan kabohidtar yang tinggi dan jika terlalu banyak mencampur tepung ikan makan akan menghasilkan protein yang tinggi makan akan tidak sesuai dengan nutrisi yang sudah di tentukan dan
  • pengukuran pemberian air juga penting dikarenakan akan menghasilkan kadar air yang harus sesuai dengan yang diinginkan agar menghasilkan pakan yang sempurna.

5.2 Saran

Dalam pembuatan pakan harus di perhatikan dalam pencampuran pakanya tersebut agar menghasilkan pakan dan bentuk yang sempurna karena salah menanambahkan air akan berakibat fatal terhadap pakan tersebut makan akan menyebabakan terlalu kering atau terlalu lembab.

DAFTAR PUSTAKA

 

Afrianto Eddy, Liviawaty E. 2002. Pakan Ikan Dan Perkembangannya. Jakarta: Kanisius.

Afrianto Eddy, Liviawaty E. 2002.Pemeliharaan Kepiting. Jakarta: Kanisius.

Anggorodi. R. 2005. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Azhari. 2003.Jakarta city tour: tragedi, ironi, dan teror. Jakarta: AgroMedia.

Functionality of batters containing different starch types for deep-fat frying of chicken nuggets”. European Food Research and Technology 218 (4): 318–322. ^

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Hafes. E. S. E.2000.  Metode Analisis Proksimat.  Jakarta  :  Erlangga.

Hany Handajani, wahyu widodo . 2010 . Nutrisi Ikan. Hal 1. Malang : UMM press.

http//:Wikipedia.com/nutrisi.

http://news.google.com/newspapers?nid=1298&dat=19960111&id=JOkyAAAAIBAJ&sjid= xQcGAAAAIBAJ&pg=7209,1622583 ^

http://www.fda.gov/medicaldevices/deviceregulationandguidance/guidancedocuments/ ucm113316.htm ^ “International Starch: Production of corn starch”. Starch.dk. Diakses 2011-06-12.

id.wikipedia.org/wiki/karbohidrat

Karra , 2003. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University.Yogyakarta.

Kartadisastra. 2003. PENGELOLAAN PAKAN AYAM, Kiat Meningkatkan Keuntungan dalam Agribisnis Unggas. Jakarta: Kanisius.

Khairuman, Amri K. 2003. Pembenihan & Pembesaran Gurami secara Intensif (ed. Revisi). Jakarta: AgroMedia.

Mahmudi, M. 1997. Penurunan Kadar Limbah Sintesis Asam Fosfat Menggunakan Cara Ekstraksi Cair-Cair dengan Solven Campuran Isopropanol dan n-Heksan. Semarang: Universitas Diponegoro.

Maizena marca registrada. Diakses 2013-17-04. ^ http://www.merriam-webster.com/dictionary/ cornstarch ^ “Corn starch”. Everything2. Diakses 2011-06-12. ^ Bilge Altunaker; Sepil Sahin; Gulum Sumnu (March 2004).

Soejono, M. 1990. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tiana AH dkk. 2002. Memilih & Membuat Pakan Tepat untuk Koi. Hlmn 22. Jakarta: AgroMedia.

Tiana OA, Murhananto. 2004. Membedah Rahasia Sukses Memelihara Koi. Hal 48. Jakarta: AgroMedia.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosukojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Winarno.  2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Z Akhmad, Rahmadi A. 2002. Memilih & Membuat Pakan Tepat untuk Lou Han. Hal 47. Jakarta: AgroMedia.

 

LAMPIRAN

Tepung ikan                       62,65

Tepung kedela                   39,60

Tepung jagung                  7,63

Tepung terigu                    8,90

Dedek halus                      11,35

Tepung kanji                     14 %

Vitamin   3%

Mineral    3%

  1. Suplemen
  2. Ikan 62,65 + T. Kedelai 39,60 : 2 = 51,12%
  3. Basal
  4. Jagung 7,63 + T. Terigu 8,90 + D. Halus 11,35 : 3 = 27,88 %

9.29 %

  1. Suplemen

51,125 %                                                   30,71 %

  1. Basal   9,30%                                        18,18%

41,835 %

  1. Suplemen           30,71 % : 41,835 % x 80 % = 58,72 %
  2. Ikan                    58,72 % : 2     = 29,36 %
  3. Kedelai                          58,72 % : 2     = 29,36 %
  1. Basal                 11,125 % ; 41,835 % x 80 % = 21,27 %
  2. Jagung               21,27 : 3 = 7,09 %
  3. Terigu    21,27 : 3 = 7,09 %
  4. Halus =             21,27 : 3 = 7,09 %
  1. Ikan                    29,36 % X 62,65%     = 18,38 %
  2. Kedelai                          29,36 % X 39,60%     = 11,62 %
  3. Jagung                7,09 % X 7,63%         = 0,54 %
  4. Terigu                 7,09  % X 8,90%       = 8,90 %
  5. Halus                  7,09 % X 11,35%      = 11,36 % +

 

31,97 % (32 %)

  1. Ikan                    29,36 %          X         1000 g = 293,6
  2. Kedelai                          29,36 %          X         1000 g = 293,6
  3. Jagung                7,09 %            X         1000 g =   70,9
  4. Terigu                 7,09  %          X         1000 g =   70,9
  5. Halus                  7,09 %           X         1000 g =   70,9

Vitamin                   3%                 X         1000 g =    30

Mineral                  3%                  X         1000 g =   30

Tepung kanji         14 %               X         10000 g = 140   +

1000 g

Bahan Baku P (%) KH | Kadar KH Lemak     | Kadar Lemak
T. Ikan 24,03 5,81 1,70 15,38 4,52
T. Kedela 24,03 29,50 8,66 14,30 4,20
T. Jagung 12,32 74,23 5,26 4,43 0,31
T. Terigu 12,32 77,30 5,48 1,30 0,09
D. Halus 12,32 28,62 2,02 12,15 0,86
Jumlah 23,12 % Jumlah 9,98 %

Berat basah = 1990 – 200 = 1790