Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

LAPORAN 

PEMBUATAN SILASE IKAN

 BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Pendahuluan

Pakan merupakan komponen penting dalam budidaya ikan terutama dalam energi ikan dalam melakukan aktifitas,berkembang,reproduksi dll. Dialam ikan dapat memenuhi kebutuhan makanannya dengan pakan yang tersedia di alam.pakan yang berasal dari alam selalu sesuai dengan selera ikan (hany, 2010) . Tetapi di lingkungan budidaya ikan tidak bisa memilih ikan tergantung kepada pakan buatan. pakan buatan adalah pakan yang dibuat dari berbagai macam bahan baku hewani dan nabati dengan memperhatikan kandungan gizi, sifat dan ukuran ikan yang akan mengkonsumsi pakan tersebut dengan cara dibuat oleh manusia dengan bantuan peralatan pakan (gusrina, 2003).

Presentasi biaya operasional dalam budidaya yaitu 50-70 %, pakan di butuhkan dalam usaha budidaya ikan dapat berasal dari pakan alami,terutama Pembesaran ikan intensif yaitu pembesaran ikan yang dalam proses pemeliharaannya mengandalkan pakan buatan dalam pemberian pakannya serta dilakukan pada wadah yang terbatas dengan kepadatan maksimal. Seperti diketahui bahwa pakan buatan harus mengandung energi lebih dari 3000 kilokalori agar dapat memberikan pertumbuhan yang baik bagi ikan budidaya (gusrina 2003).  Selain pakan yang harus menggandung 3000 kkal ikan juga harus mencukupi nutrisinya dan pakan juga harus berbahan baku yang tidak di pakai pakanan pokok oleh manusia atau bisa menggunkan paka alternatif.

Pakan alternatife merupakan pakan pengganti dalam pakan utama seperti yang diketahui bahan baku pakan sangat mahal dan penggunaannya sangat berbenturan dengan makanan yang digunakan manusia seperti tepung kedelai, jagung dan lain lain. Untuk memperoleh pakan yang protein yang tinggi dan bahan baku mudah bisa dengan menggunkaan limbah perikanan dengan fermentasi pencampuran bakteri kedalam limbah itu  berupa selase. Dari limbah ikan yang terbung dan hasil industry perikanan bisa di buat selase.

Pembuatan selase sangatlah mudah , menguntungkan dan berprotein tinggi. Pembuatan selase merupakan permentasi merupakan perubahan bahan bahan organik yang kompleks menjadi bahan – bahan yang lebih sederhana. Oleh adanya kegiatan enzim yang menghambat mikroorganisme pembusuk dan dapat meninggkatkan nilai gizi pada bahan tersebut.

1.2. Tujuan

  • Mengetahaui pembuatan silase
  • Mengetahui hasil fermentasi bakteri terhadap ikan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Nila

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Osteichtyes
Ordo: Perciformes
Famili: Cichlidae
Genus: Oreochromis
Spesies: Oreochromis niloticus

Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia sekaligus hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.

Kandungan Nutrisi nila (128 kcal)
Protein 26 gram
karbohidrat 0 gram
Lemak jenuh 1 gram
Lemak tak jenuh 2 gram

2.2 Pengawetan Ikan

Pengawetan ikan yang umum adalah dengan penggaraman lalu dikeringkan dengan penjemuran sebagai ikan asin yang nantinya digunakanuntuk kebutuhan konsumsi manusia dimana produk ini sangat digemari oleh masyarakat pedesaan pada umumnya . Cara pengawetan yang lain adalah dengan pemberian bahan pengawet lalu dikemas dalam kaleng dan dilakukan proses sterilisasi pada industry pengalengan ikan. Untuk industri pakan ternak cukup dikeringkan dengan cara penjemuran, tetapi dapat juga dikeringkan dengan menggunakan oven dan perolehan hasil pengeringan akan lebih baik, hanya biaya produksi menjadi lebih mahal. Setelah kering kemudian digiling dan dikemas untuk dipasarkan pada Perusahaan Pakan Ternak. Teknologi lain yang dapat dimanfaatkan adalah dengan dibuat silase . Apabila proses pembuatan silase ikan ini dilakukan dengan baik dan benar, serta tidak ada gangguan yang berarti, maka tidak akan ada kendala yang serius yang bakal dihadapi . Yang mungkin timbul dari proses pembuatan silase ikan ini adalah bau busuk, dan yang Iainnya adalah banyak atau

sedikitnya bahan baku ikan bisa tergantung dari musim. Kendala lain yang mungkin terjadi adalah cara transportasi apabila diangkat masih dalam bentuk cair.

2.3 Silase

Silase adalah pakan berkadar air tinggi hasil fermentasi yang diberikan kepada hewan ternak ruminansia  atau dijadikan biofuel melalui digesti anaerobik. Silase umumnya dibuat dari tanaman rerumputan (dari suku Gramineae), termasuk juga jagung, sorghum, dan serealia lainnya dengan memanfaatkan seluruh bagian tanaman, tidak hanya biji-bijiannya. Silase juga bisa dibuat dari hijauan kelapa sawit,[3] singkong,[4] padi, rami, dan limbah pasar.  Silase dapat dibuat dengan menempatkan potongan hijauan di dalam silo, menumpuknya dengan ditutup plastik, atau dengan membungkusnya membentuk gulungan besar (bale).

Silase ikan adalah suatu produk cair yang dibuat dari ikan-ikan utuh atau sisa-sisa industry pengolahan ikan yang dicairkan menyerupai bubur oleh enzym-enzym yang terdapat pada ikan-ikan itu sendiri dengan bantuan asam atau mikroba yang sengaja ditambahkan. Ada dua macam proses pembuatannya yaitu dengan cara kimiawi dan cara biologis. Pembuatan silase ikan dengan cara kimiawi adalah dengan cara menambahkan bahan kimia ke dalam ikan dan atau  sisa-sisa ikan yang telah digiling seperti HCI, H 2SO4, Asam Propionat, Asam Formiat atau campuran keduanya . Sedangkan, silase ikan secara biologis dibuat dengan cara memanfaatkan mikroba yang ada yaitu mengaktifkan mikroba tersebut melalu penambahan bahan yang mengandung karbohidrat yang tinggi, seperti dedak padi, jagung dan molases. Silase dapat digunakan sebagai penambah atau sumber protein yang utama dalam pembuatan pakan unggas, babi dan ikan budidaya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Sub Balai Penelitian

Perikanan Laut Slipi, 4 kg silase ikan dapat menggantikan 1 kg tepung ikan . Sedangkan hasil analisa laboratorium dari silase ikan menunjukkan kandungan air 70 – 75%, protein 18 – 20%, lemak 1 – 2%, dan abu 4 – 6% . Pembuatan silase ikan secara kimiawi, hasil yang terbaik adalah

dengan mengunakan campuran asam propionat dan asam formiat dengan perbandingan 1 : 1 . Menurut J . Hertrampf (1987), asam propionat dapat mencegah pembentukan aflatoksin, sedangkan kelebihan asam propionat yang lainnya adalah meningkatkan daya cema bahan pakan, meningkatkan nilai gizi bahan pakan, mencegah terjadinya penggumpalan .

        2.3.1 Sejarah

Silase dibuat dengan teknik yang sama dalam pembuatan sauerkraut; pakan hijauan telah diawetkan untuk pakan hewan di sebagian Jerman sejak permulaan abad ke 19, dan pembuatan silase jagung telah dilakukan di Maryland pada tahun 1876 dengan menggunakan lubang yang digali di tanah. Hasil yang sesuai harapan telah memicu perluasan sistem ini di Inggris.

2.3.2 Kegunaan silase ikan

1 . Silase ikan dapat diberikan langsung dalam bentuk cair terutama untuk

pakan babi atau itik .

  1. Dengan mencampurkan silase cair dengan jagung atau dedak padi . Adapun

perbandingannya adalah 1 : 1 dan setelah tercampur merata kemudian

dikeringkan, lalu digiling .

Cara pemberian seperti ini dapat diberikan sebagai campuran pakan

ayam, itik dan ikan budidaya .

Pembuatan silase ikan ini adalah bukan bermaksud memperbaiki / menaikkan kadar protein dari ikan, akan tetapi adalah untuk memanfaatkan sisa ikan hasil tangkapan agar tidak busuk atau dibuang lagi ke laut yang dapat menambah pendapatan nelayan atau membuka peluang usaha baru dan lapangan kerja baru

2.3.3 Manfaat

Manfaat silase adalah sebagai berikut:

  • Selama fermentasi, bakteri yang berperan di dalamnya bekerja pada kandungan selulosa dan karbohidrat pada pakan untuk menghasilkan asam lemak volatil seperti asam asetat, propionat, laktat, dan butirat. Keberadaan asam lemak menurunkan pH sehingga menciptakan lingkungan di mana bakteri perusak tidak bisa hidup. Sehingga asam lemak volatil berperan sebagai pengawet alami. Pengawetan ini merupakan hal yang penting dilakukan ketika pakan hijauan tidak tersedia di musim dingin.
  • Ketika melalui proses fermentasi, selulosa dari hijauan pecah sehingga ketika dimakan oleh hewan ternak, jalur pencernaan pada perut ruminansia menjadi lebih singkat sehingga mempercepat penyerapan nutrisi.
  • Beberapa organisme pelaku fermentasi memproduksi vitamin, seperti lactobacillus yang menghasilkan asam folat dan vitamin B12.
  • Silase dapat ditambah dengan berbagai bahan seperti bekatul selama proses pembuatannya, untuk menambah nutrisi dan memperbaiki karakteristik fisik dan kimiawi silase.[13]
  • Fermentasi menghasilkan panas, karena energi kimia dari pakan hijauan digunakan oleh bakteri untuk melakukan fermentasi. Sehingga kandungan energi silase umumnya lebih rendah daripada hijauan. Namun kekurangan ini dapat diabaikan mengingat begitu banyaknya manfaat silase. Selain itu, dengan pecahnya selulosa, energi yang digunakan hewan ruminansia untuk mencerna silase menjadi lebih sedikit.

Silase yang tidak terkonsumsi karena berlebih atau rusak, dapati dijadikan stok untuk pembuatan biogas melalui digesti anaerobik. Gas yang dihasilkan dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, pemanas ruangan, dan penerangan.

        2.3.4 Keamanan

Silase sendiri tidak membahayakan. Faktor keamanan yang harus diperhatikan adalah pada proses pembuatan dan keamanan fasilitas pembuatan silase. Silo, fasilitas yang digunakan dalam pembuatan silase, merupakan struktur yang dapat runtuh dan menyebabkan kematian, terutama jika silo kelebihan muatan.[15] Pengisian dan pengeluaran muatan perlu diperhatikan. Ketika silo diisi, partikulat dari bahan dapat terbakar dengan mudah dan menimbulkan reaksi berantai hingga menyebabkan ledakan, karena luas permukaan partikulat yang tinggi sehingga memudahkan reaksi oksidasi.

Proses fermentasi juga dapat menimbulkan bahaya bagi pernafasan. Gas NO yang dihasilkan pada tahap awal fermentasi mampu bereaksi dengan oksigen menghasilkan NO2 yang bersifat racun.

2.3.5 Peresyaratan pembuatan silase

Menurut Irani (1992) untuk mendapatkan silase yang baik harus

memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Memiliki pH di bawah 5.
  2. Kandungan amonia rendah.

Menurut Afrianto dan Liviawaty (1989) silase yang bermutu baik mempunyai

kandungan amonia sekitar 2% dari jumlah total protein yang dikandungnya.

  1. Tidak terdapat bakteri patogen seperti Salmonella sp atau Staphylococcus sp
  2. Jumlah spora anaerob dan E. coli rendah.

Tetap stabil untuk waktu lebih dari 6 bulan dalam keadaan basah dan lebih dari

  1. 1 tahun dalam keadaan kering.

Menurut Afrianto dan Liviawaty (1989) komposisi kimia silase yang berasal dari ikan utuh mengandung 70-75% air, 18-20% protein, 4-6% abu, 1-2%    lemak, 1-3% Ca, dan 0,3-0,9% P.

BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat

Kegiatan praktikumPembuatan Silase Ikan, praktikum dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 21 Oktober 2013, pukul 13.30-16.00 WIB. Dan praktikum ini bertempat di Hatchery  Departement Budidaya Perikanan PPPPTK VEDCA Cianjur.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1.   Alat

No Alat Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Pisau 15 cm dan tajam 2 Untuk memotong ikan
2. Toples Diameter 20 cm dan tinggi 20 1 Untuk menyimpan silase
3. Pengaduk kayu Panjan 30 cm 1 Untuk mengaduk silase
4. Gilingan daging 1 Untuk mengancurkan daging
5. Tissue  – Untuk membersihkan tangan

3.2.2.  Bahan

No Bahan Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Ikan nila Ukuran kosumsi 2 Bahan silase
2. bakteri 350 gram Campuran silase

3.3.  Prosedur Kerja

  1. Siapkan lat dan bahan yang akan  digunakeran tersebut.
  2. Lakukan pembersihan ikan dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran maupun benda keras.
  3. Ikan yang telah dibersihkan dicincang dan digiling dengan penggiling daging sampai benar-benar lumat.
  4. Masukan ikan yang telah digiling halus tersebut kedalam toples yang bersih.
  5. Tambahkan asam formiat 85% kedalam wadah 2-3%.
  6. Aduk secara merata bahan baku yang telah dicampur dengan asm formiat dan asam tersebut tercampur secara merata.
  7. Lakukan pengadukan sebanyak 3-4 kali sehari selama empat hari pertama.
  8. Biasanya pada hari ke-5 ikan sudah mulai mencair dan ikan tersebut sudah menjadi silase.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

TABEL 1. Pengamatan silase ikan secara kimiawi

Hari Pengamatan
1 Aroma : Bau ikan (bau amis) menyengat
Bentuk : Daging ikan cincang masih menggumpal bekum hanya hancur sedikit.
Warna : Warna dari silase ikan berwarna abu-abu keputihan
2 Aroma daging ikan masih menyengat (bau amis)  namun tidak setajam hari pertama
Bentuk : Daging sudah mulai hancur karena pencampuran tersebut
Warna : Warna dari silase ikan adalah berwarna keabu-abuan
3 Aroma : Sudah mulai tidak menyengat
Bentuk : Silase ikan sudah mulai hancur   halus
Warna : Warna silase sudah mulai berubah menjadi kecoklatan
4 Aroma :  masih sama dengan hari ke 3
Bentuk : masih sama seperti hari ke 4 dan tetapi kadungan air meningkat
Warna : Warna silase ikan sudah mulai  kecoklatan
5 Aroma : mulai tidak menyengat
Bentuk : sudah mulai hancur.
Warna : Warna silase ikan sudahmulai  kecoklatan
6. Aroma : seperti hari ke 5
Bentuk : sudah mulai hancur.
Warna : Warna silase ikan sudah mulai  kecoklatan
7. Aroma : sedikit mulai beraroma sedap
Bentuk : sudah mulai hancur.
Warna : Warna silase ikan sudah mulai  kecoklatan

4.2. Pembahasan

Dalam pembuatan silase selama 6 hari bahan ikan tidak berubah bentuk menjadi cair hanya berubah seperti pasta dikarenakan masih kurangnya waktu untuk berubah menjadi cair, untuk berubah cair harus membutuhkan beberapa hari lagi dan warnya menjadi sedikit kecoklatan dan dalam pembuatan silase usahakan kotoran ikan atau bekas pakan dilambung ikan tidak terbawa dikarenakan pembuatan harus mempunyai kadar amonia yang rendah. Seperti pendapat Menurut Afrianto dan Liviawaty (1989) silase yang bermutu baik mempunyai kandungan amonia sekitar 2% dari jumlah total protein yang dikandungnya.

Pada saat hari pertama pencampuran warna cincangan ikan yang diberi bakteri ternyata berubah warna menjadi keabu -abuan, dan setelah mengalami inkubasi dan pengadukan sebanyak 4 kali sehari perubahan terlihat dari bentuk dam menjadi lebih lembut hancur sedikit demi sedikit dikarenakan dari adukan yang membuat hancur sedikit, warna nya masih berwarna keabu – abuan dan sedikit berair  dari kadar air ikan tersebut pada hari pertama dan baunya masih belum tercium masih bau amis dari ikan.

Pembuatan silase ditutup rapat agar tidak terjadi kontaminasi dari luar terutama Tidak terdapat bakteri patogen seperti Salmonella sp atau Staphylococcus sp dan penciuman dilakukan 1 hari 1 kali dikarenakan bahaya dari Proses fermentasi juga dapat menimbulkan bahaya bagi pernafasan. Gas NO yang dihasilkan pada tahap awal fermentasi mampu bereaksi dengan oksigen menghasilkan NO2 yang bersifat racun.  setelah 2 hari bau amis hilang , warna maih abu – abu dan daging mulai hancur fermentasi penguraian sudah mulai optimal, tulang dari ikan masih belum hancur dan mulai berair sedikit lebih banyak dari sebelumnnya.

Hari ketiga dan hari keempat hampir sama bau dari ikan sudah hilang danperubahan terjadi pada daging ikan yang sudah mengalami bentuk hancur halus hanya saja hari keempat perubahan terjadi pada warna dari ikan tersebut sedikit kecoklat coklatan dan perubahan bentuk hari ke 3 dan 4 tetap sama akan tetapi kandungan air meningkat pada hari keempat suhu pada toples pun sedikit panas. Hari ke 5 dan 6 mulai hancur seperti bubur akan tetapi hari ke 6 sudah mucul wangi dari silase tersebut yang menandakan silase tersebut akan pada proses tahap akhir warna kecoklat – coklatan.

 

\\

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

  • Silase merupakan bahan yang bertujuan untuk meningkatkan kandungan protein pada  bahan apapun.
  • Pentutupan yang rapat dan pengadukan mempercepat fermentasi dari selase tersebut.
  • Silase yang sempurna yaitu berbentuk cair dan beraroma yang wangi.
  • Silase harus memiliki pH di bawah 5 dan  Kandungan amonia rendah.

5.2. Saran

   Dalam pembuatan selase usaha kan mengikuti prosedur yang sudah dibuat agar mempermudah dan mendapatkan hasil yang maksimal dalam pembuatan silase tersebut, terutama dalam proses menutup dan mengaduk yang harus rutin setiap hari 4 kali sehari.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E, Liviawaty, E. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kasinisius Yogyakarta

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Hertrampf JW,  Piedad-Pascual F. 2000. Handbook on ingredients for aquaculture feeds. Kluwer  Academic Publishers. Dordrecht. Boston, London.

http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_nila

http://id.wikipedia.org/wiki/Silase

Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Irani, A. S. 1992. “Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Asam terhadap Stabilitas Silase

Jeroan Ikan Pari”. Skripsi. Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.