Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya perikanan dan kelautan.Wilayah perairan yang lebih luas dibandingkan darat, membuka potensi yang baik bagi Indonesiasebagai penghasil komoditi perairan hasil tangkapan maupun budidaya. Hasil produksi perikananIndonesia yang meningkat juga memperlebar peluang Indonesia dalam pasar dunia.Namun, pemanfaatan hasil perairan Indonesia masih sangat kurang. Banyak sekali ikan yangditangkap namun kurang mendapatkan penanganan dan cara distribusi yang baik.Penanganan yang baik mampu mempertahankan mutu hasil perairan sehingga tingkat harga tidakturun drastis. Produk dengan mutu tinggi juga akan mempertahankan kandungan gizi dan vitaminyang terkandung dalam hasil perairan tersebut.

Wilayah Indonesia yang begitu luas sangat membutuhkan transportasi ikan yang baik.Transportasi ikan harus diperhatikan agar ikan yang dikirim sampai ke tangan konsumen dalamkeadaan yang baik. Konsumen saat ini sudah mulai sadar akan kualitas hasil perikanan yangmereka konsumsi. Tantangan yang harus dihadapi oleh transportasi biota perairan adalah menjagaagar biota tidak keracunan dan tetap dalam keadaan prima sampai tujuan. Salah satu cara yangdapat ditempuh adalah dengan menggunakan teknik imotilisasi yang bertujuan untuk memperkecilmetabolisme agar biota dapat hidup lebih lama. Salah satu teknik imotilisasi adalah denganpenurunan suhu secara bertahap. Perubahan suhu yang kecil menyebabkan ikan tetap tenang,tidak banyak bergerak, aktivitas metabolis-me dan respirasi berkurang sehingga diharapkan dayatahan hidup ikan cukup tinggi. Di samping itu, dengan redahnya metabolisme ikan maka kebutuhanenergi untuk aktivitas ikan juga akan rendah (Karnila dan Edison, 2001).

1.2 Tujuan

  1. Dapat melakukan pemingsanan dan penyimpanan ikan hidup dengan metode air es.
  2. Dapat menganalisis tingkat mortalitas ikan hidupnsetelah dilakukan pengemasan dan penyimpanan selama beberapa waktu pada suhu rendah.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskrifsi dan Klasifikasi Ikan Gurami

Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang dibudidayakan di kolam dan merupakan ikan asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta salah satu jenis ikan yang senang tinggal diperairan yang tenang, tergenang,  rawa, telaga, danau serta waduk

Klasifikasi ikan gurami menurut (Susanto, 1989) adalah :

Filum               : Chordata

Kelas               : Pisces

Ordo                : Labirintichi

Subordo          : Anabantoide

Famili             : Anabantidae

Genus             : Osphronemus

Species            : Osphronemus gouramy

Secara morfologi, ikan gurami memiliki garis lateral tunggal, lengkap dan tidak terputus, bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah. Memiliki sirip ekor bulat. Jari-jari lemah pertama sirip perut merupakan benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba. Ikan gurami mempunyai bentuk badan panjang, pipih, dan tertutup sisik yang berukuran besar serta terlihat kasar dan kuat. Ikan gurami jantan yang sudah tua terdapat tonjolan seperti cula, mulutnya kecil dengan bibir bawah menonjol sedikit dibandingkan bibir atas. Pada jantan bibir bawah relatif tebal.

Ikan gurami memiliki lima buah sirip, yaitu sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip dubur, dan sirip ekor. Sirip punggung tidak begitu panjang dan berada hampir di bagian belakang tubuh. Sirip dada kecil berada di belakang tutup insang. Sirip perut juga kecil berada di bawah sirip dada. Sirip ekor berada dibelakang tubuh dengan bentuk bulat. Sedangkan sirip dubur panjang, mulai dari belakang sirip perut hingga pangkal bawah sirip ekor.

Ikan gurami juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa Labirin pada organ tubuh ikan gurami ini merupakan sebuah alat pernapasan tambahan pada ikan berupa lipatan-lipatan epithelium pernapasan. alat tambahan ini merupakan turunan dari lembar insang pertama. Labirin terletak pada suatu rongga di belakan atau di atas insang. Dengan adanya alat tambahan ini, ikan mampu hidup dan bertahan di perairan yang miskin oksigen terlarut, asalkan permukaan perairan terdapat udarabebas. Hal ini terjadi karena pada habitat alamnya suatu waktu bisa terjadi kondisi dimana kandungan oksigen dalam air berkurang atau sedikit.[  Sehingga ikan-ikan yang memiliki labirin ini mudah beradaptasi dengan berbagi kondisi air danlingkungan dan memiliki daya tahan yang baik.

Gambar 1. Morfologi ikan gurami

2.2 Pemingsanan

Pemingsanan ikan merupakan suatu tindakan yang membuat kondisi tubuh ikan kehilangan kemampuan untuk merasa atau biasanya disebut dengan insensibility. Dalam proses ini, ikan tidak mati, namun aktifitas respirasi dan metabolisme ikan dibuat pada tingkat yang paling rendah karena ikan tidak diletakkan di dalam air, sehingga ikan memiliki daya hidup yang lebih tinggi. Ikan yang mengalami pemingsanan dimasukkan ke dalam wadah. Ikan dipingsankan dengan menggunakan senyawa-senyawa kimia, alami, suhu dingin dan arus listrik. Pemingsanan ikan ini dapat menurunkan laju O2, tingkat laju ekskresi CO2, amoniak dan hasil ekskresi lainnya. Pemingsanan ikan untuk menekan metabolisme dan aktivitas ikan dapat digunakan pemingsanan dengan menggunakan anestesi. Secara umum pemingsanan pada suhu rendah dibagi menjadi 2 yaitu pemingsanan dengan penurunan suhu secara bertahap dan pemingsanan dengan suhu rendah secara langsung. Dalam pemingsanan, suhu ikan harus dipertahankan agar tetap rendah dalam waktu yang lama. Media bukan air yang suhunya rendah memberikan suasana lembab dan basah di daerah sekitar insang, sehingga titik air yang menempel pada insan menjadi media terjadi pertukaran gas secara difusi dengn lingkungan sekitar. Ikan dapat bertahan hidup jika media dapat mempertahankan suhu rendah. Untuk menjaga suhu agar tetap rendah dapat digunakan media busa. Selain itu pengaturan suhu kotak kemas juga harus tetap diperhatikan agar ikan tetap dalam keadaan pingsan .

2.3 Imotilisasi (Pemingsanan) dengan Penurunan Suhu Secara Langsung 

Imotilisasi adalah proses pemingsanan yang berprinsip pada hibernasi yaitu usaha menekan metabolisme suatu organisme hingga kondisi minimum untuk mempertahankan hidupnya lebih lama. Teknik imotilisasi terdiri dari Imotilisasi dengan penurunan suhu secara langsung, imotilisasi dengan penurunan suhu secara bertahap, dan imotilisasi dengan bahan kimia. Suhu merupakan faktor utama yang mempengaruhi proses fisika kimia yang terjadi di dalam perairan. Suhu air secara tidak langsung akan mempengaruhi kelarutan oksigen dan secara langsung mempengaruhi proses kehidupan organisme. Pengaruh suhu air akan langsung mempengaruhi derajat metabolisme ikan. Selain teradaptasi pada suhu tinggi atau suhu rendah tertentu, ikan juga mempunyai sifat tersendiri dalam mengadaptasi perubahan suhu lingkungan. Ikan air tawar mempunyai daya toleransi yang besar terhadap perubahan suhu (Jubaedah 2006). Perubahan suhu yang kecil saat penurunan suhu bertahap menyebabkan ikan tetap tenang, tidak banyak bergerak, aktivitas metabolisme, dan respirasi berkurang sehingga diharapkan daya tahan ikan cukup tinggi. Imanadji et al (1994), Tanda ikan pingsan di antara lain tubuhnya miring dan tenggelam, tidak bergerak walaupun dari rangsangan luar, tapi operculumnya masih bergerak lambat warna tubuh agak pucat. Di samping itu, dengan rendahnya metabolisme ikan maka kebutuhan energi untuk aktivitas ikan juga akan rendah. Ini berarti perombakan ATP menjadi. Hal ini menyebabkan kadar oksigen dalam darah ikan tidak turun secara drastis, sehingga ikan mampu hidup lebih lama (Karnila dan Edison 2006). Menurut Zonneveld et al, (1991) semua perubahan lingkungan pada ikan di anggap penyebab stress bagi ikan oleh sebab itu perlu adanya adaptasi dari ikan.

2.4  Pengemasan

Pada pengangkutan kering diperlukan media pengisi sebagai pengganti air. Menurut Wibowo (1993), yang dimaksud dengan bahan pengisi dalam pengangkutan ikan hidup adalah bahan yang dapat ditempatkan diantara ikan hidup dalam kemasan untuk menahan ikan dalam posisinya. Selanjutnya disebutkan bahwa bahan pengisi memiliki fungsi antara lain mampu manahan ikan agar tidak bergeser dalam kemasan, menjaga lingkungan suhu rendah agar ikan tetap hidup serta memberi lingkungan udara dan kelembaban memadai untuk kelangsungan hidupnya.

Media pengisi yang sering digunakan dalam pengemasan adalah serbuk gergaji, serutan kayu, serta kertas koran atau bahan karung goni. Namun penggunaan karung goni sudah tidak digunakan karena hasilnya kurang baik. Jenis serbuk gergaji atau serutan kayu yang digunakan tidak spesifik, tergantung bahan yang tersedia.Dari bahan pengisi yaitu sekam padi, serbuk gergaji, dan rumput laut , menururt Wibowo (1993) ternyata sekam padi dan serbuk gergaji merupakan bahan pengisi terbaik karena memiliki karakteristik, yaitu :

  • Berongga
  •  Mempunyai kapasitas dingin yang memada
  •  Tidak beracun, dan
  •  Memberikan RH tinggi.

Media serbuk gergaji memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis media lainnya. Keunggulan tersebut terutama pada suhu. Serbuk gergaji mampu mempertahankan suhu rendah lebih lama yaitu 9 jam tanpa bantuan es dan tanpa beban di dalamnya. Sedangkan rumput laut kurang efektif karena menimbulkan lendir dan bau basi selama digunakan

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Teknik Pemingsanan dengan Suhu Rendah, Pengemasan dan Penyimpanan Ikan Hidup dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2015 pukul 11.00-13.00 di Laboratorium Analisis Politeknik Negeri Jember.

3.2 Alat dan Bahan                                                           

            Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Alat dan Bahan

No Alat Bahan
1. Styrofoam Ikan Gurami
2. Nampan plastic Es
3. Stop wach Kapas
4. Baskom plastil
5. Lemari es
6. Perlengkapan aerator
7. Tissie

3.3 Prosedur Kerja

  1. Siapkan ikan hidup yang telah di puasakan selama satu malam.
  2. Siapkan media pengemasan ikan berupa lapisan kapas basah, dengan tebal sekitar 1 cm dalam wadah berupa box Styrofoam.
  3. Siapkan air didalam baskom dengan ketinggian 5cm.
  4. Masukan es kedalam air sampai suhu mencapai 1-5­­­oC.
  5. Masukan ikan hidup ke dalam air es suhu 1-5­­­oC. tersebut sehingga ikan pingsan dan catat waktu rata-rata yang digunakan dalam pemingsanan ikan.
  6. Masukan ikan kedalam box Styrofoam yang telah di lapisi kapas basah. Kemudian tutup lapisan atas ikan dengan kapas basah tersebut. Demikian seterusnya susun ikan pingsan pada lapisan kapas basah lapis kedua, dan penyusunan maksimal 3 lapis.
  7. Masukan ikan dalam lemari es (suhu sekitar 17,5oC) dan lakukan penyimpanan selama 10 menit.
  8. Setelah aktu penyimpanan terpenuhi, lakukan pemulihan sehingga ikan dapat melakukan gerakan renangnya secara normal kembali dengan cara memasukan ikan dalam air suhu 25-28oC dan dibantu dengan aliran oksigen, serta catat waktu yang diperlukan ikan sehigga menjadi hidup normal kembali tersebut.
  9. Hitung persentasi mortalitas ikan hasil pemingsanan dan penyimpanan dalam lemari es yang telah dilakukan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

            Dari hasil praktikum yang telah dilakukan di dapat hasil sebagai berikut :

Tabel 4.1 Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan menggunakan es pada ikan pertama

Waktu (menit) Parameter
1 Warna tubuh ikan mulai pucat dan memudar

Pergerakan mulai lambat

2 Pergerakan sirip melemah

Ikan mulai terlentang

Kesetabilan tubuh berkurang

3 Ikan tidak bergerak

Ikan telah mengalami pingsan

Suhu awal 27oC          Suhu setelah dimasukan es 1oC

Tabel 4.1 Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan menggunakan es pada ikan kedua

Waktu (menit) Parameter
1 Ikan bergerak aktif

Watna tubuh ikan memudar

Sirip punggung dan sirip ekor bergerak aktif

2 Bukaan operculum kecil

Ikan tidak bergerak

3 Pergerakan ikan mulai melemah

Bukaan operculum sangat kecil

Mengmbil oksigen ke permukaan

4 Ikan telahpingsan

Suhu awal 27oC          Suhu setelah dimasukan es 1oC

Keterangan : Pengamatan setelah pemingsanan tidak dapat dilakukan karena ikan mengalami kematian

4.2 Pembahasan

Anastesi pada ikan digunakan untuk meminimalkan motilitas selama penanganan dan transportasi. Anastesi juga dapat mengurangi kerentanan terhadap patogen dan infeksi. Pada proses anastesi juga memerlukan penangana yang sangat intensif untuk mencegah terjadinya kematian pada ikan. Dari hasil pengamatan ikan gurami dengan anestesi menggunakan suhu rendah, dengan menggunakan 2 ikan gurami. Penanganan dengan cara memasukan ikan gurami ke air yang bersuhu -1 O C.

  1. Kondisi Ikan

Memperhatikan kondisi ikan sangat penting dalam penganggutan. Keadaan ikan sakit dan ikan stress dapat menyebabkan ikan mati saat pengangkutan. Dari bahan ikan gurami terlihat dari 3 ikan sebelum praktek ikan mengalami stres, 1 ikan berenang sudah terbalik. Diakibatkan dari pengangkutan ikan gurami menuju tempat praktek. Hal tersebut dapat mempengaruhi penganggutan selanjutnya yang akan di praktekkan.

  1. Pengamatan Tingkah laku Ikan

Dari kedua ikan yang di lakukan anestesi menggunakan suhu rendah suhu awal dari 26o C kemudian ikan langsung di pindahkan ke suhu  -1o  tanpa aklimatisasi. Menurut Zonneveld et al, (1991) semua perubahan lingkungan pada ikan di anggap penyebab stress bagi ikan oleh sebab itu perlu adanya adaptasi dari ikan. Ikan menggalami stres dengan terlihat badan ikan memar merah akibat dari sel yang berdaptasi terhadap perubahan suhu dengan jarak yang sangat jauh dan terlihat pergerakan ikan lebih cepat setelah di tempatkan ke wadah yang berbeda. Setelah 3 – 5 menit ikan mengalami pingsan terlihat dari awal pergerakan ikan melambat, badan berenang mulai tidak stabil bukaan overculum juga terlihat kecil. Hal tersebut sependapat dengan Imanadji et al (1994), Tanda ikan pingsan di antara lain tubuhnya miring dan tenggelam, tidak bergerak walaupun dari rangsangan luar, tapi operculumnya masih bergerak lambat warna tubuh agak pucat.

  1. Wadah pengangkutan

Sarana yang penting dalam proses pengangkutan yaitu wadah pengangkutan. Wadah pengangkutan yang di pakai dengan hanya membasahi kapas bagian bawah dan atas ikan. Di sebabkan ikan gurami mempunyai organ pernafasan tambahan dan dapat mendapatkan oksigen bebas hanya cukup keadaan kulit ikan tetap lembab. Pada saat teknik pengangkutan dilakukan manipulasi penyimpanan ikan di lemari es. Hal yang terjadi kapas akan menjadi beku dan alat pernafasan tambahan akan terganggu. Terlihat dari pada saat keluar lemari es kulit ikan begitu keras dan kemungkinan alat pernafasan membeku.

  1. Proses Penyadaran

Proses penyadaran dengan membuat wadah air dengan suhu 26 oC dan menanbahkan aerasi. Proses penyadaran di manipulasi dengan keadaan air normal situasi suhu yang awal dengan menambahkan oksigen untuk membantu pengambilan nafas ikan. Hasil menunjukan ikan tidak bangun kembali seperti normal sampai waktu 10 – 15 di simpulkan bahwa ikan tersebut mati.

Menurut Hadi Soepardjo (1982), pada dasarnya transportasi ikan hidup adalah memekas menempatkan ikan dalam suatu lingkungan asalanya. Pada umumnya penganggkutan mengangkut ikan dengan tidak membuat ikan mati dan sampai ke tujuan dengan hidup. Dari praktek yang sudah dilakuakan Beberapa faktor yang menyebabkan ikan mati dan tidak bias sadar kembali yaitu : kondisi ikan tidak optimal, keadaan ikan stress dari penanganan dan  pada saat penaganan menggunakan lemari es.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  • Hasil menunjukan ikan tidak bangun kembali seperti normal sampai waktu 10 – 15 di simpulkan bahwa ikan tersebut mati.
  • Kondisi ikan yang tidak optimal atau keadaan ikan sedang stress akibat pengangkutan sebelum praktek
  • Ikan stress pada saat perubahan suhu dari 26 o C ke -1 o C terlihat pada badan ikan memerah dan gerakan cepat

5.2 Saran

            Dalam praktek selanjutnya penangan yang serius berperan penting terhadap kesusksesan praktek, kondisi ikan yang optimal, dan penggunaan pengganti lemari es perlu di coba untuk membandingkan dan kemudian Sebaiknya dalam praktikum pemingsanan ini dapat dilakukan penimbangan ikan terlebih dahulu, agar dapat diketahui bobot ikan sebelum pemingsanan dan bobot ikan setelah pemingsanan. Sebab akan terjadi perubahan berat badan pada saat ikan mengalami perubahan suhu akibat dari penggunaan energi yang cukup tinggi untuk mentabilkan suhu tubuh dengan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Ismanadji, I. Widiarto, Dzajuli, dan D. Budianto. Laporan pengembanagn Transportasi Ikan Hidup dengan Cara Pemingsanan. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan. Jakarta.

Jubaedah I. 2006. Pengelolaan waduk bagi kelestarian dan keanekaragaman hayati ikan. Jurnal  penyuluhan pertanian. Vol 1 No. 1 : 42-47.

Karnila R. dan Edison. 2001. Pengaruh Suhu dan Waktu Pembiusan Bertahap Terhadap Ketahanan Hidup Ikan Jambal Siam (Pangasius Sutchi F) dalam Transportasi SistemKering.  Jurnal Natur Indonesia III (2):151 –167 .

Susanto, Budidaya Ikan Gurami (Yogyakarta: Kanisius, 1989).

Wibowo, S. 1993. Pengangkutan Ikan. Bogor: Program Studi Ilmu Pangan, Institut Pertanian Bogor

Zonneveld, N. E. A. Human dan J.H. Bonn. 1991. Prinsip – Prinsip Budidaya Ikan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Hadi Soepardjo 1982  dalam Dahlia 2007. Pengujian Transportasi Ikan Hidup Mas dan Ikan Jambal Siam dengan Metode Anastesi. Jurnal. Jakarta.