LAPORAN 

RESPON ORGANISME AKUATIK TERHADAP SUHU DAN SALIINITAS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.      LatarBelakang

Organisme akuatik memerlukan lingkungan untuk melangsungkan kehidupannya dan tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Lingkungan hidup organisme akuatik selalu mengalami perubahan yang berfluktuasi yang disebabkan oleh lingkungan itu sendiri ataupun akibat dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Beberapa variabel lingkungan (fisika-kimia) yang dapat berubah dari waktu ke waktu contohnya seperti suhu, pH, salinitas, deterjen dan kekeruhan. Perubahan kondisi lingkungan tersebut dapat berubah secara harian, mempengaruhi kehidupan organisme akuatik baik secara fisiologis, tingkah laku, biokimia, maupun struktur tubuhnya yang mana perlu untuk kita ketahui.

Oleh karena itu dilakukan percobaan bagaimana variabel lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, deterjen dan kekeruhan berpengaruh terhadap organisme akuatik dan variabel lingkungan yang seperti apa yang dapat dikatakan berbahaya atau tidak terhadap organisme akuatik di suatu perairan. Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup suatu organisme akuatik harus melakukan adaptasi terhadap perubahan variabel lingkungan baik yang terjadi  harian, bulanan dan tahunan. Salah satu nya dengan mengetahui parameter kualitas air secara kimia yaitu seperti salinitas atau kadar garam dan parameter kualitas air secara fisika yaitu seperti suhu.

Salinitas atau kadar garam adalah jumlah kandungan bahan padat dalam satu kilogram air laut, seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium telah disetarakan dengan klor dan bahan organik telah dioksidasi. Secara langsung, salinitas media akan mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan. Apabila osmotik lingkungan (salinitas) berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh (kondisi tidak ideal) maka osmotikmedia akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap berada pada keadaan yang ideal. Pembelanjaan energi untuk osmoregulasi, akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan dan konversi menjadi berat tubuh (Sharaf et al , 2004).

Suhu merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu proses budidaya, suhu akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan bila suhu terlalu rendah maka pertumbuhan ikan yang dipelihara akan lambat tumbuh, karena bila suhu rendah maka proses metabolisme ikan akan menjadi lambat dan nafsu ikan akan menurun. suhu harus tepat yaitu kisaran optimum 25 – 30⁰C. Begitu juga sebaliknya, jika suhu terlalu tinggi maka kadar oksigen dalam air akan menipis, sehingga ikan akan bersaing dalam merebut oksigen terlarut didalam air.

1.2.      Tujuan

Laporan praktikum ini bertujuan untuk mengetahui respon organisme akuatik terhadap variabel lingkungan (suhu, salinitas) serta mengetahui kisaran toleransi organisme akuatik terhadap variabel lingkungan. Selain ditujukan sebagai hasil dari uji coba yang telah dilakukan, juga terdapat tujuan lain adalah sebagai berikut :

v  Mengetahui kemampuan ikan bertahan pada media dengan salinitas dan suhu tertentu.

v  Mengidentifikasi tingkah laku ikan selama uji coba dilakukan

v  Mengetahui Survival rate atau derajat kelangsungan hidup ikan selama uji coba dilakukan

v  Mampu mengindikasi salinitas dan suhu yang lethal (mematikan)

v  Agar mengetahui respon  akuatik( ikan) terhadap suhu sebesar 35⁰C dan salinitas seebesar 15 ppt.

v  Agar mengetahui kisaran suhu dan salinitas yang dapat digunakan dalam kegiatan budidaya ikan, yang tidak menyebabkan kematian pada ikan tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Air merupakan media bagi usaha budidaya ikan, maka pengelolaan air yang baik merupakan langkah awal dalam pencapaian keberhasilan budidaya ikan. Secara umum pengelolaan kualitas air dibagi kedalam tiga bagian, yaitu secara biologi, kimia dan fisika. Dalam hal ini akan dibahas mengenai pengelolaan air secara kimia, khususnya salinitas (kandungan garam) suatu perairan

2.1.      Ikan Mas

            2.1.1.   Morfologi Dan Klasifikasi Ikan Mas

Tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak (compressed). Mulut  terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Bagian enterior mulut terdapat  2 pasang sungut. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam sisik tipe sikloid. Selain itu, tubuh ikan mas juga dilengkapi dengan sirip. Sirip punggung (dorsal) berukuran relatif panjang dengan bagian belakang berjari-jari keras dan sirip terakhir, yaitu sirip ketiga dan sirip keempat, bergerigi. Linea lateralis (gurat sisi) terletak di pertengahan tubuh, melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Pharynreal teeth (gigi kerongkongan) terdiri dari baris yang berbentuk gigi geraham.

Secara umum, ikan mas mempunyai sifat-sifat sebagai hewan air omnivora yang lebih condong ke sifat hewan karnivora. Dalam ilmu taksonomi hewan, Klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut :

Filum               : Chordata

Anak Filum     : Vertebrata

Induk Kelas    : Pisces

Kelas               : Osteichtyes

Anak Kelas     : Actinopterygii

Bangsa                        : Cypriniformes

Anak Bangsa   : Cyprinoidei

Suku                : Cyprinidae

Marga              : Cyprinus

Jenis                : Cyprinus carpio L.

Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan mas menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis mas yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang memiliki ukuran sirip memanjang. Golongan pertama yakni yang bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan mas yang bersisik biasa dan kedua bersisik kecil.

Sedangkan Djoko Suseno (2000) berpendapat bahwa berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan mas yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias.

2.1.2.   Salinitas

Salinitas adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat didalam perairan. Pengertian salinitas yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Satuan untuk pengukuran salinitas adalah satuan gram per kilogram (ppt) atau promil (o/oo) dan salinitas dapat diukur dengan menggunakan Refraktometer atau salinometer. Nilai salinitas untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 0–5 ppt, perairan payau biasanya berkisar antara 6–29  ppt dan perairan laut berkisar antara 30–35 ppt.

Menurut Gusrina, 2008. Salinitas merupakan gambaran tentang padatan total didalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh chlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi. Pengertian salinitas yang lainnya adalah jumlah segala macam garam yang terdapat dalam 1000 gr air contoh. Garam-garam yang ada di air payau atau air laut pada umumnya adalah Na, Cl, NaCl, MgSO4 yang menyebabkan rasa pahit pada air laut, KNO3 dan lain-lain.

Menurut A. Adriyana, 2010. Salinitas adalah kadar garam seluruh zat yang larut dalam 1.000 gram air, dengan asumsi bahwa seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, semua brom dan lod diganti dengan khlor yang setara dan semua zat organik mengalami oksidasi sempuma (Forch et al,1902 dalam Sverdrup et al, 1942). Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki ikatan erat dengan kehidupan organisme perairan termasuk ikan, dimana secara fisiologis salinitas berkaitan erat dengan penyesuaian tekanan osmotik ikan tersebut.

Menurut Boyd (1982) dalam Ghufran dkk (2007), salinitas ditentukan berdasarkan banyaknya garam-garam yang larut dalam air. Parameter kimia tersebut dipengaruhi oleh curah hujan dan penguapan (evaporasi) yang terjadi suatu daerah. Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang kecil (Ctenohaline) dan Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang lebar (Euryhaline).

2.1.3.   Suhu

Pertumbuhan dan kehidupan biota organisme budidaya sangat dipengaruhi oleh suhu air. Pada umumnya, dalam batas – batas tertentu kecepatan pertumbuhan biota meningkat sejalan dengan naiknya suhu air, sedangkan derajat kelangsungan hidupnya bereaksi sebaliknya terhadap kenaikan suhu. Artinya derajat kelangsungan hidup biota menurun pada kenaikan suhu. Pengaruh suhu secara tidak langsung lainnya adalah dapat mempengaruhi metabolisme, daya larut gas, termasuk oksigen serta berbagai reaksi kimia didalam air. Perubahan suhu secara fluktuatif akan menyebabkan pengaruh terhadap fisiologi hewan air. Ikan merupakan hewan yang bersifat poikilotherm yaitu suhu tubuhnya dipengaruhi suhu lingkungan (air).

Menurut Gusrina (2008), Suhu air pada suatu perairan dapat dipengaruhi oleh usim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu dalam satu hari, penutupan awan, aliran dan kedalaman air. Peningkatan suhu air mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatisasi serta penurunan kelarutan gas dalam air seperti O2, CO2, N2, CH4 dan sebagainya.

Penurunan suhu menyebabkan penghambatan proses fisiologi bahkan dapat menyebabkan kematian. Suhu media berpengaruh terhadap aktifitas enzim pencernaan.  Pada proses pencernaan yang tak sempurna akan dihasilkan banyak feses, sehingga banyak energi yang terbuang.  Tetapi jika aktifitas enzim pencernaan meningkat maka laju pencernaan juga akan semakin meningkat, sehingga tingkat pengosongan lambung tinggi.  Tingkat pengosongan lambung yang tinggi menyebabkan ikan cepat lapar dan nafsu makannya meningkat.  Jika konsumsi pakan tinggi, nutien yang masuk kedalam tubuh ikan juga tinggi, dengan demikian ikan memiliki energi yang cukup untuk pertumbuhan.

2.2.      Ikan Nila

            2.2.1.   Morfologi Dan Klasifikasi Ikan Nila

Kordy K.(2000) membuat catatan tentang bentuk tubuh (morfologi) seekor ikan nila (oreochromis niloticus) secara umum, yaitu mempunyai bentik badan pipih ke samping memenjang, warna putih kehitaman, makin ke perut makin terang. Ikan nila mempunyai garis vertikal 9-11 buah berwarna hijau kebiruan. Mata ikan nila tampak menonjol agak besar dengan bagian tepi berwarna hijau kebiru-biruan. Letak mulut ikan terminal, posisi sirip perut terhadap sirip dada thorocis, garis rusuk (linea lateralis) terputus menjadi dua bagian, letaknya memanjang diatas sirip dada, jumlah sisik pada garis rusuk 34 buah dan tipe sisik stenoid.

Penamaan ikan nila dan mujair di Indonesia menjadi Oreochromis nilotikus dan Oreochromis mossamicus (Sugiarto, 1988). Sehingga klasifikasi ikan nila sebagai berikut :

Filum               : Chordata

Kelas               : Pisces

Ordo                : Percomorphi

Famili              : Cichlidae

Genus              : Oreochromis

Spesies            : Oreochromis nilotikus

Ikan nila termasuk golongan ikan pemakan segala atau lazim disebutomnivore. Namun larva ikan nila tidak sanggup memakan makanan dari luar selama masih tersedia makanan cadangan berupa kuning telur yang melekat di bawah perut larva yang baru menetas. Hal ini berbeda dengan jenis ikan air tawar pada umumnya yang sesaat setelah menetas lubang mulut sudah terbuka. Setelah rongga mulut terbuka, larva ikan nila memakan tumbuh-tumbuhan dan hewan air berupa plankton. Jenis-jenis plankton yang biasa dimakan antara lain yaitu alga bersel tunggal maupun benthos dan krustase berukuran kecil. Makanan ini diperoleh dengan cara menyerapnya dalam air (Djarijah, 1995).

2.2.2.   Salinitas

Menurut Boyd (1982) salinitas adalah kadar seluruh ion-ion yang terlarut dalam air, dinyatakan juga bahwa komposisi ion-ion pada air laut dapat dikatakan mantap dan didominasi oleh ion-ion tertentu seperti sulfat, chlorida, carbonat, natrium, calsium dan magnesium.

Salinitas sangat berpengaruh terhadap tekanan osmotik air, semakin tinggi salinitas semakin besar pula tekanan osmotiknya Semua ikan nila lebih toleran terhadap lingkungan payau.

Menurut Andrianto (2005) Ikan nila tergolong ikan yang dapat bertahan pada kisaran salinitas yang luas dari 0 – 35 ppt. Ikan nila merupakan ikan yang biasa hidup di air tawar, sehingga untuk membudidayakan diperairan payau atau tambak perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu secara bertahap sekitar 1 – 2 minggu dengan perubahan salinitas tiap harinya sekitar 2- 3 ppt agar ikan nila dapat beradaptasi dan tidak stres (Andrianto, 2005).

2.2.3.   Suhu

Menurut Ghufran (2007), suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik dilautan maupun diperairan air tawar dibatasi oleh suhu di perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan meningkat seiring dengan kenaikan suhu, karena dapat menekan kehidupan hewan budidaya bahkan menyebabkan kematian bila peningkatan suhunya sampai ekstrim (drastis). Suhu air dapat mempengaruhi biota air secara langsung maupun tidak langsung, yaitu melalui pengaruhnya terhadap kelarutan oksigen dalam air. Semakin tinggi suhu air maka semakin rendah daya larut oksigen didalam air, begitupun sebaliknya. Pada suhu 36o C dan salinitas 36 ppt nilai kelarutan oksigen dalam air sebesar 5,53 ppm, sedangkan  pada suhu 30o C dan 25o C serta salinitas yang sama kelarutan tersebut berturut – turut adalah setinggi 6,14 ppm dan 6,71 ppm (Boyd, 1981. Dan saenong, 1992. Dalam Ghufran, 2007).

Oleh karena itu tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat euryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah, sedangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada suhu yang cocok, memiliki selera makan yang lebih baik.

BAB III

METODOLOGI

3.1.      Waktu Dan Tempat

Kegiatan praktikum dilakukan pada hari Selasa, tanggal 3 januari 2012, pukul 09.30 – 12.00 WIB. Dan praktikum ini dilakukan di Laboratorium dan Hatchery Departement Budidaya Perikanan PPPPTK VEDCA Cianjur.

3.2.      Alat Dan Bahan

3.2.1. Alat

Ø  Akuarium

Ø  Stopwatch

Ø  Refraktometer

Ø  Termometer

Ø  Aerator

Ø  Timbangan digital

Ø  Gayung

Ø  Ember

Ø  Pengaduk

Ø  Alat tulis

3.2.2. Bahan

Ø  Ikan sampel

Ø  Lap/tissue

Ø  Garam dapur, air dingin, dan air panas

3.3.      Prosedur Kerja

3.3.1. Respon Ikan Terhadap Salinitas

Langkah Kerja :

  1. Bersihkan akuarium dengan menggunakan spons.
  2. Isi akuarium dengan air (sampai mencapai ketinggian setengah tinggi akuarium).
  3. Timbang kebutuhan garam untuk membuat media dengan salinitas tertentu.
  4. Masukkan garam ke dalam akuarium, aduk sampai homogen.
  5. Masukkan 2 jenis ikan sampel dengan jumlah masing-masing 10 ekor, terlebih dahulu timbang bobot awal ikan sampel dengan menggunakan timbangan digital.
  6. Amati tingkah laku ikan sampel setiap 10 menit dan catat jumlah ikan sampel yang mati selama percobaan.
  7. Timbang bobot akhir ikan sampel.

Parameter yang diamati yaitu daya tahan ikan (waktu) pada masing-masing media percobaan, tingkah laku ikan selama pengamatan, kondisi tubuh ikan (sekresi mukus, kondisi insang, kondisi sirip), dan derajat kelangsungan hidup (sintasan). Rumus yang digunakan :

M         =          (No-Nt)/No x 100%

SR       =          (Nt/No) x 100%

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir

No = Jumlah awal             SR = Survival rate

3.3.2. Respon Ikan Terhadap Suhu

Langkah Kerja :

  1. Bersihkan akuarium dengan menggunakan spons.
  2. Isi akuarium dengan air (sampai mencapai ketinggian setengah tinggi akuarium).
  3. Masukkan es batu/air panas ke dalam media sampai mencapai suhu yang diinginkan.
  4. Masukkan 2 jenis ikan sampel dengan menggunakan timbangan digital.
  5. Amati tingkah laku ikan sampe setiap 10 menit dan catat jumlah ikan sampel yang mati selama percobaan .
  6. Timbang bobot ikan sampe.

Parameter yang diamati yaitu lama bertahan ikan pada masing-masing media perlakuan, tingkah laku ikan selama percobaan, sekresi mukus dan kondisi ikan, survival rate ikan selama percobaan dan suhu yang mematikan (lethal). Rumus yang digunakan :

M         =          (No-Nt)/No x 100%

SR       =          (Nt/No) x 100%

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir

No = Jumlah awal             SR = Survival rate

3.4.      Analisa Data                                                                                            

RUMUS :

M = (No-Nt)/No x 100%

SR = (Nt/No) x 100%

Dimana :

Ø  M = Mortalitas

Ø  SR = Survival Rate

Ø  No = Jumlah Awal

Ø  Nt = Jumlah Akhir

Dik : Volume Air = 25 liter/akuarium

Garam         = 15 x 25 = 375 gram/akuarium = 15 ppt

Suhu           = 35⁰C

Dit :  Mortalitas dan SR ikan mas dan ikan nila pada salinitas 15 ppt ?

Mortalitas dan SR ikan mas dan ikan nila pada suhu 35⁰C ?

Jawab :

v  Salinitas (Ikan Mas Dan Ikan Nila)

Mortalitas 0% =( No – Nt)/No x 100%

=(20 -20)/20 x 100%

=0%

SR 100%        =(Nt/No) x 100%

=(20/20) x 100%

=100%

v  Suhu (Ikan Mas Dan Ikan Nila)

Mortalitas 0%=( No – Nt)/No x 100%

=(20 -20)/20 x 100%

=0%

SR 100%        =(Nt/No) x 100%

=(20/20) x 100%

=100%

Kesimpulan :

Jadi, dari hasil analisa data diketahui bahwa pada salinitas 15 ppt ikan mas dan ikan nila Mortalitasnya 0% dan SR nya 100%.

Dan dari hasil analisa diatas diketahui bahwa pada suhu 35⁰C ikan mas dan ikan nila Mortalitasnya 0% dan SR nya 100%.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Hasil

Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh hasil seperti yang tersaji pada tabel-tabel berikut :

      Tabel 1. Perubahan Bobot Ikan Sampel Terhadap Salinitas

Salinitas Bobot Awal Bobot Akhir Perubahan Bobot
Ikan Mas : 5 ekor 19,25 gram 17,71 gram 1,54 gram
Rata-rata 3,85 gram/ekor 3,542 gram/ekor 0,308 gram/ekor
Ikan Nila : 5 ekor 65,5 gram 39,20 gram 26,3 gram
Rata-rata 13,1 gram/ekor 7,84 gram/ekor 5,26 gram/ekor

      Tabel 2. Perubahan Bobot Ikan Sampel Terhadap Suhu

Suhu Bobot Awal Bobot Akhir Perubahan Bobot
Ikan Mas : 5 ekor 19,25 gram 15,39 gram 3,86 gram
Rata-rata 3,85 gram/ekor 3,078 gram/ekor 0,772 gram/ekor
Ikan Nila : 5 ekor 51,4 gram 61,18 gram  -9,78 gram
Rata-rata 10,28 gram/ekor 12,236 gram/ekor -1,956 gram/ekor

      Tabel 3. Tingkah Laku Ikan Sampel Pada Salinitas 15 ppt

Waktu

(menit)

Tingkah Laku
10 Ikan normal dan mengambil oksigen dipermukaan air
20 Ikan masih stabil dan normal, aktif bergerak
30 Masih aktif bergerak, gerakan lincah, akan tetapi ada sebagian ikan yang mulai bergerak ke arah aerasi.
40 Ikan mulai bergerak lambat, overculum mulai bergerak cepat.
50 Gerakan kembali lincah lagi, ada beberapa ikan, yang menggesekan badannya pada kaca.
60 Ikan masih ngambil oksigen dipermukaan.
70 Ikan mulai berkumpul di sumber oksigen atau aerasi
80 Ikan mulai megap pada sebagian ikan dan ada pula yang terdiam dan menggesekan badannya pada kaca akuarium, overculum membuka.
90 Ikan mulai stress, overculum membuka dan mengambil oksigen di permukaan.
100 Ikan mulai stress, overculum membuka dan mengambil oksigen dipermukaan.

            Tabel 4. Tingkah Laku Ikan Sampel Pada Suhu 35 C

Waktu

(menit)

Tingkah Laku
10 Ikan masih bereaki tenang.
20 Ikan mulai melemah dan ikan mulai megap-megap dipermukaan air.
30 Ikan semakin melemah dan mengambil oksigen dipermukaan.
40 Ikan tidak ada perubahan.
50 Ikan lebih cepat megap-megap.
60 Ikan masih megap-megap.
70 Ikan mulai melemah lagi dan ikan tidak gesit.
80 Kondisi ikan tetap masih melemah.
90 Ikan mulai kembali gesit.
100 Ikan mulai normal kembali.

Tabel 5. Jumlah ikan yang hidup pada salinitas 15 ppt

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Yang Hidup
Ikan Mas Ikan Nila
10 5 ekor 5 ekor
20 5 ekor 5 ekor
30 5 ekor 5 ekor
40 5 ekor 5 ekor
50 5 ekor 5 ekor
60 5 ekor 5 ekor
70 5 ekor 5 ekor
80 5 ekor 5 ekor
90 5 ekor 5 ekor
100 5 ekor 5 ekor

    

            Tabel 6. Jumlah Ikan Yang Hidup Pada Suhu 35 C       

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Yang Hidup
Ikan Mas Ikan Nila
10 5 ekor 5 ekor
20 5 ekor 5 ekor
30 5 ekor 5 ekor
40 5 ekor 5 ekor
50 5 ekor 5 ekor
60 5 ekor 5 ekor
70 5 ekor 5 ekor
80 5 ekor 5 ekor
90 5 ekor 5 ekor
100 5 ekor 5 ekor

4.2.        Pembahasan

Berdasarkan hasil yang telah diperoleh selama kegiatan berlangsung tentang pengaruh salinitas terhadap ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan nila (Oreochromis niloticus). Wadah yang digunakan yaitu akuarium satu buah yang diisi dengan air tawar sebanyak 25 liter, dengan menambahkan garam sebanyak 375 gram untuk mendapatkan salinitas 15 ppt kemudian memasukkan ikan mas sebanyak 5 ekor dan ikan nila 5 ekor. Pengamatan dilakukan setiap 10 menit sekali, tingkah laku ikan dapat dilihat pada Tabel. 3 dan 4 pada hasil percobaan. Setiap 10 menit sekali ikan mas dan ikan nila mengalami perubahan tingkah laku. Pada sampel ikan mas yang digunakan untuk praktikum masih dapat mentoleransi pada kandungan salinitas yang tinggi. Sehingga ikan mas masih bisa hidup pada kadar salinitas 30-35 ppt. Hal ini dikarenakan ikan mas termasuk ke dalam golongan ikan yang mempunyai toleransi yang lebar terhadapa salinitas. Begitu juga dengan ikan nila, karena memang ikan nila telah dikenal memiliki kisaran toleransi yang lebar terhadap kadar garam atau salinitas.

Salinitas yang digunakan pada saat praktikum adalah 15 ppt. Tingkah laku ikan mas dan ikan nila selama pengamatan dari menit pertama masih aktif bergerak sampai tidak bergerak (diam). Tingkah laku ikan mas yang sering berada pada sumber aerasi karena pada salinitas yang tinggi kandungan oksigen terlarut pada perairaran akan rendah. Berbeda dengan ikan nila yang masih saja aktif bergerak dapat bertahan dengan salinitas 15 ppt. Ikan yang digunakan pada masa percobaan juga semua masih hidup total survival rate nya 100% sampai akhir percobaan selama 100 menit.

Kandungan kadar garam dalam suatu media berhubungan erat dengan sistem (mekanisme) osmoregulasi pada organism air tawar. Affandi (2001) berpendapat bahwa organism akuatik mempunnyai tekanan osmotik yang berbeda-beda dengan lingkungannya. Oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya berlangsung normal.

Dalam pengaturan tekanan osmotik pada setiap ikan, termasuk ikan mas melibatkan peran beberapa organ. Hal ini sesuai dengan pendapat Affandi (2001) bahwa organ osmoregulasi pada ikan meliputi ginjal, insang, kulit dan saluran pencernaan. Pada pengamatan tingkah laku ikan mas, cenderung terlihat pasif bergerak.

Berdasarkan pendapat Affandi (2001) bahwa insang merupakan organ penting yang mampu dilewati air mapun mineral, pemeabilitas tinsang yang tinggi terhadap ion-ion dapat menyebabkan insang pasif bergerak. Untuk organ dalam yang berhubungan dengan organ osmoregulasi tidak dapat diketahui secara pasti pengaruhnya terhadap kadar salinitas karena hanya dilakukan pengamtan tingkah laku ikan saja. Pengaruh organ-organ tersebut hanya dapat diketahui berdasarkan literatur yang ada.

Selama perlakuan pertama berlangsung, penggunaan aerasi pada saat pengamatan, sangat dibutuhkan untuk menyuplai kandungan oksigen pada saat salinitas tinggi, khususnya bagi ikan mas. Karena pada salinitas tinggi telah diketahui bahwa kandungan oksigen rendah, maka ikan mas sering berkumpul didaerah aerasi. Bukaan mulut yang cepat, gerakan tapis insang yang cepat pada perlakuan yang menggunakan kadar salinitas 15 ppt dilakukan oleh ikan mas karena untuk mendapatkan oksigen. Pada salinitas yang tinggi, ikan dalam adaptasinya akan kehilangan air melalui difusi keluar badannya. Walaupun demikian, salinitas air sebaiknya tidak mengalami fluktuasi (naik-turun) yang besar. Dalam budidaya ikan, nilai salinitas harus stabil, tidak mengalami perubahan ekstrem (drastis) mencapai angka 5.

Suhu yang dingin dapat mempengaruhi bobot tubuh ikan, hal ini disebabkan respon ikan terhadap perubahan suhu dari suhu habitat asalnya dan adanya aktivitas berlebihan yang dilakukan ikan dalam rangka adaptasi pada kondisi lingkungan yang baru. Sehingga untuk beradaptasinya ikan memerlukan energy agar fungsi fisiologisnya berjalan secara normal pada suhu dingin. Selain itu, ikan menunjukan tingkah lakunya yang berupa diam atau pingsan, suhu air yang rendah juga dapat mempengaruhi gerakan overcullum, kecepatan berenang, dan bukaan mulut. Suhu 15oC tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan, karena derajat kelangsungan hidup ikan adalah 100 %.

Salinitas juga mempengaruhi tingkah laku ikan dimana ikan mas bergerak menjauh dari aerator karena pada salinitas yang rendah kandungan oksigen terlarut pada perairaran akan naik. Dan ikan nila bergerak diam karena itu merupakan perlakuan yang menunjukan toleransinya terhadap salinitas hal ini sesuai dengan tanggapan Andrianto (2005), Ikan nila tergolong ikan yang dapat bertahan pada kisaran salinitas yang luas dari 0 – 35 ppt.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.      Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diperoleh selama kegiatan praktikum berlangsung maka dapat disimpulkan bahwa pada kisaran salinitas 15 ppt ikan mas dan ikan nila masih dapat bertahan hidup dengan tingkah laku gerakan yang masih aktif, selain itu juga jumlah ikan yang digunakan seluruhnya masih hidup total survival rate 100 %. Organisme akuatik khususnya ikan memiliki respon yang berbeda beda seperti perubahan bobot, tingkah laku, dan tingkat kelangsungan hidup terhadap perubahan berbagai variabel lingkungan seperti suhu, salinitas, yang memiliki kisaran toleransi yang berbeda-beda.

5.2.      Saran

Sebaiknya digunakan ikan yang lebih besar agar dapat teramati dengan jelas yang terjadi pada tubuh ikan selama pengamatan. Sebaiknya pada saat praktikum alat dan bahan yang digunakan, contohnya ikan harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum kegiatan praktikum dilaksanakan, supaya tidak terjadi kekurangan bahan pada saat  kegiatan praktikum di lakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK.Jakarta:Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

http://wwwrizalbireuen.blogspot.com/2010/03/pengaruh-salinitas-terhadap-pertumbuhan.html. ( Diunduh pada hari kamis,  5 januari 2012, pukul 19.30 ).

http://mandala-manik.blogspot.com/2009/04/pengaruh-salinitas-terhadap-ikan mas.html.

( Diunduh pada hari kamis,  5 januari 2012, pukul 19.30 ).

http://aryansfirdaus.wordpress.com/2010/10/25/pengaruh-suhu-dan-salinitas-terhadap-keberadaan-ikan/. ( Diunduh pada hari kamis,  5 januari 2012, pukul 19.30 ).

http://wayanfishery.blogspot.com/2011/06/laporan-manajemen-kualitas-air.html. ( Diunduh pada hari kamis,  5 januari 2012, pukul 19.30 ).

http://www.scribd.com/doc/42557430/ADAPTASI-IKAN. ( Diunduh pada hari kamis,  5 januari 2012, pukul 19.30 ).

http://www.scribd.com/doc/49940458/Toleransi-Salinitas. ( Diunduh pada hari kamis,  5 januari 2012, pukul 19.30 ).