Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

LAPORAN
PEMBUATAN TEPUNG IKAN
ELFIAN PERMANA
I PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Presentasi biaya operasional dalam budidaya yaitu 50-70 %, pakan di butuhkan dalam usaha budidaya ikan dapat berasal dari pakan alami,terutama Pembesaran ikan intensif yaitu pembesaran ikan yang dalam proses pemeliharaannya mengandalkan pakan buatan dalam pemberian pakannya serta dilakukan pada wadah yang terbatas dengan kepadatan maksimal. buatan Seperti diketahui bahwa pakan buatan harus mengandung energi lebih dari 3000 kilokalori agar dapat memberikan pertumbuhan yang baik bagi ikan budidaya (gusrina 2003).

Dalam pakan harus terdiri dari bahan baku yang berkualitas dan bagus agar mengasilkan ikan yang pertumbuhannya baik dan menguatkan kekebalan tubuh ikan tersebut dari pakan tersebut. terutama bahan paku harus memiliki protein, kabohidrat, lemak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada ikan tersebut dan tergantung pada ikan yang ingin diberikan pakan ikan larva, juventil ataupun ikan dewasa.

Bahan Baku Pakan mempunyai nutrisi yang berbeda karbohidrat , lemak dan Protein. Protein sebagai pengganti sel yang aus ,pengganti sel yang mati dan sebagai sumber energy utama pada ikan biasanya terdapat pada tepung darah, tepung bekicot , tepung kedelai dan tepung ikan.

Tepung ikan salah satu bahan yang menjadi pertimbangan dalam membuat pakan dikarenakan memiliki protein yang tinggi dan asam amino yang lengkap yang baik untuk pertumbuhan ikan dan kekebalan tubuh ikan. Komposisi pakan ikan sama yaitu memerlukan kandungan berupa protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.pemilihan bahan baku pakan buatan harus memenuhi sarat sebagai berikut: Mempunayai nilai gizi yang tinggi  Mudah dicerna oleh ikan Harganya relatif lebih murah Mudah diperoleh. Tidak mengandung racun atau zat anti nutrisi. Bukan bahan pokok manusia sehingga tidak merupakan saingan bagi kebutuhan manusia itu sendiri. (Afrianto,E. 2005).

1.2         Tujuan

  • Agar mahasiswa mengetahui pembuatan tepung ikan
  • Sebagai pengetahuan bahan pakan
  • Awal dalam pembuatan pakan
  • Untuk melakukan seting daya kelembutan tepung

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tepung

Tepung adalah partikel padat yang berbentuk butiran halus atau sangat halus tergantung pemakaiannya. Biasanya digunakan untuk keperluan penelitian, rumah tangga, dan bahan baku industri. Tepung bisa berasal dari bahan nabati misalnya tepung terigu dari gandum, tapioka dari singkong, maizena dari jagung atau hewani misalnya tepung tulang dan tepung ikan (Sofiya 2006).

Tepung (bila dilihat di bawah mikroskop) akan terlihat zat tepung yang terdiri atas granula yang berbeda. Tepung dibuat dari jenis padi-padian dan umbi-umbian yang melalui proses beberapa tahap sampai menjadi tepung yang kering. Tepung tidak larut dalam air sehingga tepung akan mengendap di dalam air, dan bila dipanaskan sambil diaduk-aduk akan mengembang dan mengental. Prose ini disebut “gelatinasi” (Soejoetu 1998).

Tepung mulai mengetal pada suhu 64-720 C Celcius. Setelah melampaui suhu 1090 Celcius, tepung akan betul-betul matang. Makin tinggi konsentrasi larutan tepung, makin cepat mengental meskipun belum semua granula pecah. Jadi, masih ada rasa mentah, berarti belum semua bagian matanf. Bila membuat bubur tepung kurang cukup cairan, dan pengaduknya kurang sempurna, butir-butir granula menjadi keras dan liat, tidak rata atau menggumpal. Jika dimasak dengan air, tepung tapioka (tepung kanji, tepung aci), tepung kentang dan tepung maizena serta tepung hungkue akan menjadi bubur kental dan bening, lebih jernih daripada bubur dari tepung beras atau tepung terigu.(Soejoeti 1998).

2.1.1 Tepung Ikan

Tepung Ikan adalah ikan atau bagian-bagian ikan yang minyaknya diambil atau tidak, dikeringkan kemudian digiling. Kegunaan utama tepung ikan adalah sebagai bahan campuran pada makanan ternak. Tepung ikan yang bermutu baik harus bebas dari kontaminasi serangga. Jamur, mikroorganisme pathogen. Dalam susunan makanan ternak, tepung ikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama ternak ayam dan babi selain itu juga sebagai komponen makanan ikan. Tepung ikan yang bermutu baik harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : butiran – butirannya harus seragam bebas dari sisa – sisa tulang, mata ikan dan benda asing, warna halus bersih, seragam, serta bau khas ikan amis (Afrianto dan Liviawaty, 2005).

2.2. Analisis Proksimat

Analisis proksimat merupakan metode yang tidak menguraikan kandungan nutrien secara rinci, namun berupa nilai perkiraan (Soejono, 1990). Metode ini dikembangkan oleh Henneberg dan Stockman dari Weende Experiment Station di Jerman pada tahun 1865 (Tillman et al., 1991).

Analisis makronutrien analisis proksimat meliputi kadar abu total, air total, lemak total, protein total dan karbohidrat total, sedangkan untuk kandungan mikronutrien difokuskan pada provitamin A (β-karoten) (Sudarmadji et al., 1996). Analisis vitamin A dan provitamin A secara kimia dalam buah-buahan dan produk hasil olahan dapat ditentukan dengan berbagai metode diantaranya kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom absorpsi, kromatografi cair kinerja tinggi, kolorimetri dan spektrofotometri sinar tampak (Winarno, 1997).

Tabel 6.7. Hasil analisa proksimat bahan baku (Mllamena et al, 2000).

III METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Pelaksanaan praktikum pada tanggal Pukul 09.00 – 12.00 di Departemen Budidaya Perikanan Cianjur Jawa Barat

3.2 Alat Dan Bahan

Alat

  • Kompor Gas
  • Nampan
  • Baskom

Bahan

  • Ikan

3.3 Langkah Kerja

  1. Rebus Ikan dengan suhu 80O C
  2. Rebus Ikan hingga benar-benar matang dan lembut tekstur dagingnya
  3. Setelah matang Potong kecil – kecil daging ikan tersebut dengan memisahkan tulang ikannya.
  4. Kemudian setelah di potong timbang ikannya.
  5. Setelah di timbang ikannya

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.2 Pembahasan

Tahap pembuatan Tepung ikan dimulai dengan pengumpulan bahan, pada perebusan dilakukan untuk proses sterlisasi ( mematikan bakteri) dan Proses melunakan daging ikan tersebut agar mudah di potong kecil. Proses pemasakan berpengaruh terhadap  protein, kadar air dan nutrisi lainnya karena jika protein di masak terlalu panas makan protein akan rusak dan kususnya pada tepung ikan terhadap tekstur. Menurut Saleh, dkk (1985) , bahwa tujuan pemasakan baik perebusan maupun pengukusan dilakukan untuk mengurangi kadar air dan mempertahankan mutu daging yaitu tekstur yang padat dan kompak. Akan tetapi proses perebusan yang terlalu lama dapat juga membuat komponen biokimia suatu bahan rusak atau larut karena panas. Komponen biokimia seperti protein dan enzim sanagat rentan terhadap panas  (Adiyanto, 2010).

Seletah di rebus ikan di potong – potong hingga kecil-kecil secara manual dengan tangan dengan pemotongan kecil-kecil ini agar mudah dalam membuat tepung ikan, tidak hanya mudah dalam membuat tepung akan tetapi dalam pemotongan kecil-kecil pada saat di jemur akan memudahkan dalam menonaktifkan senyawa toksik atau antinutrien seperti pendapat Aryani (2008) menyatakan bahwa ”Keuntungan lain dari proses penghalusan bahan baku pakan adalah panas yang ditimbulkan selama penghalusan dapat menginaktifkan beberapa senyawa toksik atau antinutrien.

Daftar Pustaka

Afrianto,E. 2005. Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta

Aquaculture. Essential of fish nutrition, feeds and feeding of tropical

aquatic species. Aquaculture Departemen. Southeast Asian Fisheries

Development Center. Tingbauan. Iloilo, Philipines.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

http://news.google.com/newspapers?nid=1298&dat=19960111&id=JOkyAAAAIBAJ&sjid= xQcGAAAAIBAJ&pg=7209,1622583 ^

Millamena,M.O, R.m. Coloso and F.P. Pascual. 2002. Nutrition in Tropical