Jadilah pembaca dan pengcopy yang baik dengan mencantumkan sumber yang anda ambil . budayakan tidak untuk menjadi plagiat/plagiator. terima kasih sudah berkunjung dan beretika dalam berblog.

(Elfian Permana)

Semakin berkembangnya kehidupan manusia hal itu menyebabkan semakin sadar manusia membutuhkan protein dan asam amino yang cukup dalam tubuhnya karena asam amino esensial tidak dapat disintesis tubuh oleh sebab itu untuk mendapatkan asam amino esensial yang tinggi dan baik yaitu dengan memakan ikan setiap hari untuk memperoleh protein yang dibutuhkan oleh tubuh manusia itu sendiri.

Protein yang terkandung dalam ikan sangatlah tinggi dari pada protein yang terkandung dari tumbuhan dan kacang – kacangan dan Ikan tidak hanya protein tinggi yang penting untuk di sintesis oleh tubuh manusia akan tetapi budidayanya pun penting untuk menjaga kestabilan ekosistem alam yang semakin banyak penanggkapan liar dan berlebihan di alam.
Jawa Barat merupakan sentra produksi ikan bawal air tawar merupakan pemasok utama pada pasar ikan di Jakarta dan sekitarnya (Jabotabek). Bawal air tawar dari Jawa Barat mampu bersanding dengan ikan bawal air laut di beberapa pasar ikan utama di Jabotabek. Itu artinya bawal air tawar sudah mulai diminati oleh konsumen luas. Namun, sampai sejauh ini, pasokan ikan bawal air tawar yang masuk ke Jakarta dari luar Jawa Barat belum terlihat menonjol. Hal tersebut dikarenakan bawal yang cenderung hanya memijah pada musim hujan dan pemijahan semi buatan (penyuntikan).
Budidaya ikan merupakan upaya untuk menjaga kelangsungan konsumen dalam konsumsi ikan tertentu yaitu budidaya ikan air laut , payau dan tawar. Budidaya air tawar yaitu budidaya ikan air tawar seperti ikan mas, ikan lele, terutama ikan bawal dan lain – lain. Ikan terbebut mempunyai kadar protein yang tidak berbeda jauh akan tetapi kadungan proteinnya pun semuanya tinggi.
Hal ini disebabkan karena ikan bawal air tawar rasa dagingnya yang enak dan mudah di dapatkan dipasar selain harganya pun ekonomis. Budidaya bawal harus memperhatikan kualitas air, penyakit dan terutama daya tahan dari ikan bawal tersebut. untuk memperoleh daya tahan yang kuat ikan memerlukan pakan yang cukup dan mempunyai nutrisi seimbang.
Pakan merupakan sumber energi bagi ikan untuk kelangsungan hidup ikan itu sendiri Ikan dapat memenuhi kebutuhan makanannya dengan pakan yang tersedia di alam dan pakan buatan yang mempunyai nutrisi yang sesuai dengan tubuh ikan. pakan yang berasal dari alam selalu sesuai dengan selera ikan (Hany, 2010) dan pakan buatan harus juga seperti pakan alami yang disukai oleh ikan.
Presentasi biaya operasional dalam budidaya yaitu 50-70 %, pakan di butuhkan dalam usaha budidaya ikan dapat berasal dari pakan alami,terutama Pembesaran ikan intensif yaitu pembesaran ikan yang dalam proses pemeliharaannya mengandalkan pakan buatan dalam pemberian pakannya serta dilakukan pada wadah yang terbatas dengan kepadatan maksimal. buatan Seperti diketahui bahwa pakan buatan harus mengandung energi lebih dari 3000 kilokalori agar dapat memberikan pertumbuhan yang baik bagi ikan budidaya (Gusrina, 2003).
Ikan membutuhkan nutrisi optimal dalam pakan, kebutuhan 20-60 % , karbohidrat (30 %) , lemak (4-8 %), Vitamin dan mineral dalam zat – zat sesuai dengan kebutuhan ikan. Oleh karena itu untuk menghasilkan Ikan Bawal Air Tawar yang maksimal harus menyediakan pakan yang cukup dan nutrisinya seimbang agar ikan tersebut tahan penyakit, pertumbuhan cepat dan meningkatkan hasil produksi ikan.

Ikan Bawal Air Tawar
Ikan air tawar adalah ikan yang menghabiskan sebagian atau seluruh hidupnya di air tawar, seperti sungai dan danau, dengan salinitas kurang dari 0, 05 %. Dalam banyak hal lingkungan air tawar berbeda dengan lingkungan perairan laut, dan yang paling membedakan adalah tingkat salinitasnya. Untuk bertahan di air tawar, ikan membutuhkan adaptasi fisiologis yang bertujuan menjaga keseimbangan konsentrasi ion dalam tubuh. 41 % dari seluruh spesies ikan diketahui berada di air tawar. Hal ini karena spesiasi yang cepat menjadikan habitat yang terpencar menjadi mungkin untuk ditinggali.
Ikan air tawar berbeda secara fisiologis dengan ikan laut dalam beberapa aspek. Insang mereka harus mampu mendifusikan air sembari menjaga kadar garam dalam cairan tubuh secara simultan. Adaptasi pada bagian sisik ikan juga memainkan peran penting, ikan air tawar yang banyak kehilangan sisik akan mendapatkan kelebihan air yang berdifusi ke dalam kulit, dan dapat menyebabkan kematian pada ikan. Karakteristik lainnya terkait ikan air tawar adalah ginjalnya yang berkembang dengan baik. Ginjal air tawar berukuran besar karena banyak air yang melewatinya.
Klasifikasi ikan bawal air tawar :
Filum : Chordata
Subfilum : Craniata
Kelas : Pisces
Subkelas : Neopterigii
Ordo : Cypriniformes
Subordo : Cyprinoides
Famili : Characidae
Genus : Colossoma
Spesies : Colossoma macropomum
Sumber : Khairuman dan Khairul Amri, 2009.

Gambar 1. Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum)

Asal Usul
Ikan bawal air tawar termasuk salah satu komoditi baru di bidang perikanan yang memiliki ekonomis yang cukup tinggi. Ikan bawal air tawar yang memiliki nama latin Colossoma macropomum bukanlah ikan asli Indonesia, tetapi didatangkan dari Negara Brazil, Amerika Selatan beberapa tahun yang lalu. Ikan ini hidup dan berkembang di Amerika latin Sungai Amazon seperti Venezuela, Colombia, Peru, Equador, Brazil dan Argentina. Selain sungai Amazon ikan bawal air tawar juga ditemukan di anak – anak sungai amazona dan lembah sungai Orinoco serta daerah aliran sungai (DAS) Rio de La Plata. Untuk membedakannya dengan ikan bawal yang terdapat di air laut, ikan bawal air tawar asal Brazil ini disebut dengan ikan bawal air tawar karena memang seluruh siklus hidupnya berada di air tawar. Pertama kali masuk ke Indonesia ikan bawal ini dijadikan ikan hias untuk dipelihara di aquarium dan kolam – kolam taman, namun karena laju pertumbuhannya sangat cepat dan dapat mencapai ukuran besar, bawal air tawar yang sudah dewasa menjadi kurang pantas dipajang. Karena itu, didukung rasa dagingnya yang enak dan gurih, ikan bawal air tawar kemudian menjadi sangat popular sebagai ikan konsumsi.

Morfologi
Berdasarkan morfologinya, ikan bawal dibedakan dari ikan lainnya melalui bentuk tubuh, warna badan dan siripnya. Ikan bawal air tawar memiliki tubuh dari arah samping tampak membulat (oval) dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2 : 1. Bila dipotong secara vertikal, bawal memiliki bentuk tubuh pipih (compressed) dengan perbandingan antara tinggi dan lebar tubuh 4 : 1. Sisik ikan bawal air tawar berbentuk otenoid, dimana setengah bagian sisik belakang menutupi sisik bagian depan mempunyai literalis berjumlah 78 – 84. Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian bawah berwarna putih. Tubuh-bagian vertikal dan sekitar sirip dada ikan bawal air tawar muda berwarna merah. Warna merah ini akan memudar seiring dengan pertambahan umur dan perkembangan fisik. Warna merah ini akan memudar seiring dengan pertambahan umur dan perkembangan fisik. Warna abu – abu tua, ujung sirip berwarna kuning sampai merah, sedangkan perutnya berwarna putih keperakan dan merah`

. Perkembangan
Arie (2000) Biasanya induk jantan terlebih dahulu mencapai matang kelamin. Fekunditasnya (jumlah telur yang dihasilkan) sekitar 500.000 butir telur.ikan bawal tergolong ikan air tawar yang dioesis. Pembuahan eksternal didalam air dan induk tidak mengawal anaknya. Induk mulai matang kelamin pada saat berukuran 3 – 4 kg/ekor dan berumur 2 – 4 tahun. Di alam, ikan bawal secara alami memijah selama musim hujan. Pemijahan pada daerah asalnya Brazil dan Venezuela dilaporkan terjadi pada bulan juni dan juli. Sementara di Indonesia, preode musim hujan berlangsung oktober – Maret dan bawal memijah rentang pada waktu tersebut.
Rangsangan musim hujan berupa genangan air baru merupakan faktor pemicu pemijahan bawal. Biasanya induk – induk bawal akan berenang ke bagian hulu sungai dan memijah dilokasi yang perairannya relative tenang. Pemijahan terjadi diluar tubuh induk ( di dalam air ) setelah induk betina mengeluarkan telur yang dibarengi dengan pengeluaran sprema induk jantan untuk membuahinya. Telur ikan bawal tidak menempel di subtract tetapi tenggelam di perairan yang tenang dan relative jernih. Telur akan menetas pada waktu 18 – 24 jam dan larva yang baru menetass akan berenang mencari perairan yang aman berupa perairan tenang agar tidak hanyut terbawa arus air tersebut dan mulai mencari makan sendiri.

Gambar 4. Perkembangan Ikan Bawal Air Tawar
2.1.4. Lingkungan Hidup
Di daerah asalnya, ikan bawal merupakan ikan liar yang sering bergerombol dan bergerak kesana kemari dalam berenang dan mencari makan. Pada ikan bawal yang dewasa biasanya ditemukan di perairan yang deras dan ikan stadia benih banyak ditemukan di perairan yang relatif tenang. Ikan bawal hidup pada perairan yang tidak jernih dan tidak terlalu keruh seperti di tempat asalnya hidup sungai amazon. Di Asalnya ikan bawal hidup dengan pH 5 – 7, suhu optimum 22 – 28 oC, kandungan oksigen (O2) yang 2,4 – 6,0 ppm, dan kesadahan 20. Makanan yang dimakan larva bawal berumur 4 – 5 hari adalah organisme renik berupa plankton, ikan larva bawal memakan plankton nabati (phytoplankton) yang berukuran 100 – 300 mikron, misalnya Brachionus calicyflorus, Synchaeta sp., Notcholca sp., Concchilus sp., filina sp., Brachionus angularis. Keratella cochlearis dan K. quadrata. Pada umur 5 hari tersebut, ukuran larva bawal 6 – 7 mm. Benih ikan bawal yang besar dan dewasa akan memakan aneka macam makanan berupa organisme nabati maupun hewani, misalnya invertebrate air, udang – udangan renik, larva dan serangga air dan aneka macam tanaman air.

Gambar 5. Ikan Bawal Air tawar di sungai Amazon

Tabel 1. Kualitas Air pada media pembenihan Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum)

Parameter Nilai
Suhu 25-300C
Warna Hijau Kecoklatan
Kekeruhan 20-40 cm planton
Oksigen Minimal 4 mg/I
Karbondioksida Maksimal 25 mg/I
pH 7-8
Amoniak Maksimal 0,1 mg/I
Alkalinitas 50-300 mg/I
Sumber : Aries, 2005

2.2. Wadah Budidaya
Wadah merupakan aspek yang penting dalam proses budidaya dan berpengaruh dalam padat tebar ikan tersebut. dan peralatan mempermudah dalam pekerjaan kegiatan budidaya terutama pada saat memindahkan ikan, pengecekan kualitas air dan lain – lain. Bahan yang diperlukan dalam budiaya sebagai berikut.
2.2.1. Bak pengendapan
Bak pengendapan digunakan untuk menendapkan Air sumur, Air Pam dan Air tanah untuk mengendapkan kotoran, menghilangkan senyawa yang berbahaya dalam budidaya. Daya tamping bak pengendapan harus sesuai ataupun lebih dengan air yang digunakan untuk kegiatan budiaya agar sesuai dengan kebutuhan budiaya. Pengendapan dilakukan kurang lebih minimal 1 – 2 hari untuk menghilangkan seyawa yang beracun.

Gambar 6. Bak Pengendapan 3 x 3 m
2.2.2. Bak fiber
Bak fiber merupakan wadah yang mudah dibersikan dan tahan lama yang terbuat dari serat fiber. Keleman hiber dalam membersikan haruslah hati – hati karena mudah patah atau bocor jika terbating dan bau nya susah hilang jika sehabis pemakaian untuk ikan apalagi ikan yang telah mati. Cara mudah membersikannya dengan metode alami adalah dengan menaruh batang pohon tebu dan pembersihan dengan garam dikarenakan banyak bakteri – bakteri penyakit yang berassal dari air tawar dengan menggunkan garam bakteri tak tahan dengan air yang mengangandung garam tinggi, terlebih dahulu keringkan baknya 1 – 2 hari setelah itu baru bersikan dan keringkan 1- 2 hari. Setelah pengisian air usahakan lakukan pengendapan di bak tersebut agar zat – zat racun hilang jaka air tersebut dari pompa.

Gambar 7. Bak Fiber
2.2.3. Kolam Tradional / Ekstensif
Kolam tradisonal adalah kolam yang hampi semua bagannya tanah dari dinding dan dasarnya. Keuntungan dari kolam tanah adalah lebih mudah menghasilkan pakan alami dan bawal lebih menyukai kolam tradisonal dikarenakan sifat bawal yang dialam berada di rumput – rumputan dan sungai dengan begitu akan lebih cepat pertumuhan ikan bawal tersebut.

Gambar 8 . Kolam Ekstensif
2.2.4. Inkubator
Inkubator adalah wadah pengeraman dan penetasan ikan. Incubator juga dapat digunakan untuk wadah perawatan larva dan benih ikan. Model dan tipe ikubator yang digunakan harus disesuaikan dengan keadaan telur menurut jenis ikan. Sebaikanya, ikubator dibuat dari bahan – bahan yang tersedia dilokasi budiaya.

Gambar 9. Inkubator (bak penetasan telur)
2.3. Pengelolahan Induk
Induk yang ingin dipijhkan haruslah dipersiapkan untuk pembenihan ikan bawal tersebut. keberasilan usaha pembenihan tergantung dari kualitas induk itu sendiri. untuk itu, menjadi sangat penting bagi pembenih untuk memperoleh induk – induk yang berkualitas. Dan nutrisi yang diberikan berpengaruh terhadap gonad yang berkembang terhadap induk itu tersebut.
2.2.1. Seleksi Induk Ikan bawal
Kegiatan yang pertama dilakukan adalah pemilihan induk-induk, baik jantan maupun betina yang telah siap pijah dari kolam induk. Induk-induk tersebut ditimbang untuk mengetahui jumlah donor atau perangsang yang di butuhkan. Selanjutnya unduk dipelihara secara terpisah Antara jantan dan betina di kolam pemberokan ( kolam penyimpanan sementara ). Agar selama pemberokan ini induk tetap sehat, usahakan air tetap mengalir di kolam tersebut. Keberhasilan usaha pembenihan boleh dibilang sangat tergantung pada kualitas induk yang digunakan. Untuk itu, menjadi sangat penting bagi pembenihan untuk memperoleh induk-induk yang berkualitas. Adapun ciri-ciri induk atau calon induk bawal yang berkualitas baik adalah sebagai berikut :
No Uraian Betina Jantan
1 Bentuk tubuh Melebar dan pendek Lebih lansing
2 Warna kulit Lebih gelap Merah atau kemerahan
3 Perut Lemak Kasar
4 Lubang kelamin Berwarna merah Bila di urut akan mengeluarkan sperma berwarna putih
5 Umur 4 tahun 3 tahun

Tabel 2. Perbedaan jantan dan betina saat matang gonad

(a) “ (b)
Gambar 10. (a) Induk Bawal Jantan Dan (b) Induk Bawal Betina

2.2.2. Pemberokan Ikan
Kegiatan pemberokan dilakukan dengan tujuan untuk membuang kotoran dan mengurangi kandungan lemak dalam gonad. Pemberokan dilakukan dalam bak seluas 4-6 m2 dengan tinggi 1 meter selama 1-2 hari (Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Sukabumi, 2006).
Pembuangan kotoran dan mengurangi lemak dalam gonad bertujuan untuk mempermudah keluarnya telur – telur ( ovulasi ) yang ada di dalam gonad ikan, sehingga hasil telur yang didapatkan akan maksimal.

P
Gambar 11. Pemberokan ikan
2.2.3 Penyuntikan
Pada pemijahan semi alami maupun buatan hormon perangsang yang umum digunakan selain ekstrak kelenjar hipofisa adalah ovaprim (merek dagang). Ekstrak hipofisa yang digunakan dapat berasal dari ikan lele dan ikan mas sebagai ikan donor.
Sebelum penyuntikan, setiapkan lebih dulu peralatan yang diperlukan seperti spuit atau jarum suntik, kapas, gunting, baskom, cutter, bulu ayam,serta obat-obatan seperti aquabides, NaCl, dan peransang seperti ovaprim, LHRH atau chorulon atau donor dari ikan mas atau lele. Perhitungan dari dosis yang akan di gunakan tergantung dari jenis hormon. Sebagai berikut:
No
Induk Peransang pemijahan
Hipofisa Ovaprin LHRH analog
1 Betina 3 dosis 0,75 ml/kg 3 ug/kg
2 Jantan 1 dosis 0,5 mk/ kg 2ug/kg

Tabel 3.Dosis penyuntikan induk jantan dan betina ikan bawal

Tabel dosis penyuntikan dengan ovaprim dan hifofisa

2.2.3. Pemijahan Semi Intensif
Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan menyuntikan hormon perangsang ke tubuh induk betina dan jantan kemudian disatukan di dalam bak pemijahan dan dipijahkan secara alami.

2.2.4. Penetasan Telur
Telur- telur ikan bawal yang telah dibuahi selanjutnya ditetaskan pada akuarium atau corong- corong penetasan di unit penetasan yang dilengkapi dengan system resirkulasi yang telah disiapkan lebih dahulu. Air untuk penetasan telur harus bersih dan jernih yang berasal dari sumber pompa. Untuk meningkatkan kandungan oksigen, selama proses penetasan telur di bak sebaiknya menggunakan aerasi. Telur akan menetas Antara 20- 24 jam setelah striping. Jumlah telur yang menetas tergantung wadah penetasan.

Gambar 12 Bak Penetasan Telur
2.2.5. Pemeliharaan Larva
Setelah telur menetas semua waktu 1-2 hari selanjutnya satu persatu pengangkatan harus hati-hati agar kualitas air tetap terjaga. Larva yang baru menetas belum perlu di beri makanan. Sebab masih mempunyai makanan cadangan berupa kuning telur. Dengan perawatan dan makanan yang baik dalam tempo 20 hari larva bawal dapat tumbuh hingga mencapai 3-5 cm. Pekerjaan pokok perawatan bawal adalah membersihkan telur, siphonisasi, cangkang dan telur busuk, dan mempertahankan konsentrasi oksigen pada suhu optimal.

Gambar 13. Bak Pemeliharaan Larva
2.4 Kualitas Air
Kualitas air merupakan mutu suatu air ataupun kondisi air tersebut yang biasanya digunakan dalam keperluan tertentu. Dalam lingkup tertentu kualitas air berperan dalam budidaya kualitas air yang buruk akan menyebabkan ikan mati akan tetapi jika kualitas air yang baik maka proses budidaya pun maka kemungkinan besar akan berhasil. Ikan dan lingkungan perairannya akan berinteraksi seperti ikan membutuhkan O2 dan mengeluarkan CO2 , garam – garaman dan buang buangan (feses). Ada beberapa yang diperhatikan dalam kualitas air yaitu pH, oksigen terlarut, ammonia, kesadahan, kecerahan dan zat – zat material berat.

2.4.1. pH Air
pH ( singkatan dari “ puissance negative de H “ ) adalah teori yang digunakan untuk menjelaskan sifat–sifat senyawa di dalam air. Sifat senyawa di dalam air berupa asam dan basa. Pedoman pH (derajat keasaman) air ditentukan oleh kosentrasi ion H+ yang digambarkan dengan angka 1 sampai 14. Angka kurang dari 7 menunjukan perairan asam dan jika melebihi 7 suatu perairan dikatakan basa. Pembatasan pH dilakukan karena akan mempengaruhi rasa, korosifitas air dan efisiensi klorinasi. Beberapa senyawa asam dan basa lebih toksid dalam bentuk molekuler, dimana disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi oleh pH. Ikan Bawal air tawar adalah ikan air tawar yang yang hidup kisaran pH antara 7 – 8 (Aries, 2005). Untuk mengetahu nilai pH suatu perairan dapat menggunakan kertas lakmus atau pH meter (Gufran et al,. 2005).

Tabel 4 Hubungan pH air dengan Kehidupan Ikan
pH Air Pengaruhnya Terhadap Ikan
< 4,5 Air bersifat racun bagi ikan 5-6,5 Pertumbuhan ikan terhambat dan ikan sangat sensitif terhadap serangan parasit dan jamur 6,5-9,0 Ikan dengan pertumbuhan normal > 9,0 Pertumbuhan ikan terhambat dan nafsu makan menurun
Sumber : (Gufran et al,. 2005).

Gambar 14. Alat pengukur pH (Kertas Lakmus) dan pH meter
2.4.2. Oksigen Terlarut
Kebutuhan oksigen untuk setiap ikan berbeda tergantung jenis, ukuran dan alat pernapasan tambahan. Umumnya semua biota yang dibudidayakan, baik ikan maupun non-ikan, tidak mampu mentolerir penurunan oksigen di bawah 2 ppm, hanya ikan – ikan tertentu yang dapat menghirup oksigen langsung dari udara.
Oksigen terlarut di dalam air antara 4-6 ppm di anggap paling ideal untuk tumbuh dan berkembang baiknya untuk ikan budidaya. Jika kurang dari 3 ppm, perlu diwaspadai jika lebih dari 6 juga harus di waspadai Karena dapat menyebabkan penyakit gelembung gas. Untuk ikan bawal air tawar memerlukan minimal 4 ppm oksigen terlarut. Kandungan oksigen terlarut dalam air wadah pemeliharaan dapat diamati dengan menggunakan alat berupa DO meter (Gusrina, 2008).

Gambar 15. DO meter

2.4.3. Karbondiosida
Karbondioksida atau CO2 merupakan gas yang dibutuhkan oleh tumbuhan hijau dan untuk melakukan fotosintesis. Bagi tumbuh – tumbuhan hijau seperti plankton dan alga, kesediaan karbondioksida di dalam air harus cukup yang sebagai pakan alami ikan. Tinggi rendahnya oksigen dan karbondioksida bisa berdampak pada suhu air. Berikut ini tabal 4 hubungan antara suhu dan oksigen terlarut.
Tabel 5 Hubungan antara Suhu Air dan Kandungan Oksigen terlarut.
Suhu Air (oC) Kandungan Oksigen Terlarut (ppm)
0 14,8
5 12,34
10 10,92
15 9,79
20 8,88
25 8,12
30 7,48
Sumber : (Ghufran , 2005)
Umumnya ikan mempunyai kemampuan untuk mentolerir karbondioksida hingga 15 ppm. 15 ppm cukup untuk proses fotosintesis tumbuhan – tumbuhan air seperti plankton dan alga.
2.4.4. Salinitas
Salinitas didefinisikan sebagai total padatan dalam air setelah semua karbonat dan senyawa organic dioksidasi, bromide dan ionida dianggap sebgai klorida. Tingginya salinitas lebih rendah dari total padatan terlarut dan biasanya dinyatakan dalam gram per kilogram (ppt = part per thousand). Cara yang biasa dilakukan untuk menentukan salinitas adalah dengan menghitung jumlah kadar garam yang di dalam satu sample disebut khorinitas. Setiap perairan mempunyai kadar garam atau salinitas yang berbeda air tawar 0 – 0,5 % , air payau 0,5 – 17 % dan air laut 17 % (Nontji, 1987) Ikan Bawal air tawa yang cenderung hidup di air tawar membutuhkan salinitas yang rendah yaitu 0 – 0,5 ppt. untuk melihat tinggi tidaknya salinitas bisa menggunakan alat refraktometer.

Gambar 16. Refrakto meter
2.4.5. Kalsium dan Magnesium
Kalsium (Ca) di perairan berada dalam bentuk karbonat dan bikarbonat yaitu senyawa yang umumnya terdapat bahkan sering melimpah dalam suatu perairan. Penyangga karbonat dan bikarbonat merupakan komponen penyangngga (buffer) esensial di perairan yang menyangga kadar pH dan CO2. Maka dengan demikian Ca bisa dikatakan penentu kesuburan perairan. Sedangkan Magnesium (Mg) biasanya terdapat dalam larutan sebagai karbonat dan sifat – sifatnya menyerupai bikarbonat. Satu perbedaan terdapat di antara keduanya yaitu MgCO3 , sehingga jika CO2 diambil dari bikarbonat (misalnya dengan fotosintesis) maka MgCO3, tidak mungkin mengendap.
Jika kualitas seperti pH, karbondioksida dan oksigen optimal berate kandungan Ca an Mg pun dalam keadaan stabil. Untuk mengstabilkan Cad an Mg dengan cara pengapuran pada kolam yang ingin dipakai untuk mengstabilkan Oksigen, pH dan Karbondioksida.

2.4.6 Kesadahan (Hardness)
Gambaran kation logam divalen (valensi dua). Kation-kation dapat bereaksi dengan sabun (soap) membentuk endapan (presipitasi) maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air membentuk endapan atau karat pada peratatan logam. Perairan air tawar yang paling berlimpah adalah Kalsium dan Magnesium. Berikatan dengan anion penyusun alkalinitas, yaitu bikarbonat dan karbonat.
Kation Anion
Ca2+ HCO3-
Mg2+ SO4
Sr2+ Cl-
Fe2+ NO3-
Mn2+ SiO32-
Sumber : Sawyer dan McCarty, 1978.
Tabel 6. kation – kation penyusun kesadahan dan anion-anion pasangan / Asosiasinya.
Kesadahan perairan berasal dari kotak air dengan tanah dan bebatuan. Tetapi larutan ion-ion yang dapat meningkatkan nilai kesadahan tersebut lebih banyak disebabkan oleh aktivitas bakteri di dalam tanah , yang banyak mengeluarkan karbondioksida.
2.4.7. Suhu
Suhu merupakan faktor yang sangat menentukan bagi ikan, semua organisme budidaya sangat bergantung pada suhu yang diterapkan dalam budidaya tersebut. Akan tetapi, proses dekomposisi biasanya terjadi pada kondisi udara yang hangat. Kecepatan dekomposisi akan meningkat pada suhu 5 – 30 °C. pada kiaran suhu seperti ini, setiap peningkatan suhu sebesar 10 °C akan menigkatkan proses dekomposisi dan komsumsi oksigen menjadi dua kali lipat.
Selain dekomposisi, ikan pun membutuhkan suhu yang hangat untuk mempercepat pertumbuhannya. Perubahan suhu yang mendadak sebesar 5 °C, misalnya 30 °C turun mendadak 24 °C hal tersebut membuat ikan menjadi stress dan bahkan menyebabkan ikan tersebut mati. Suhu juga berdampak terhadap respon ikan dalam mengkonsumsi pakan, pemberian pakan yang optimum pada suhu yang tinggi seperti 28 – 30 °C. pemberian pakan yang optimum berdampak pada pakan yang akan dikonsumsi, jika pakan dikonsumsi optimum maka otomatis tidak ada pakan yang terbuang dan tidak menyebabkan sisa pakan di perairan. Suhu juga bisa dilihat dengan menggunakan alat termometer.

Gambar 17. Termometer

Tabel 7. pengaruh suhu air dengan respon komsumsi pakan terhadap ikan

Sumber : Tucker dan Hargreaves (2004)
2.4.8. Amonia
Amonia adalah nitrogen yang sangat berbahaya bagi ikan budidaya, akan tetapi jika berbentuk amonium tidak berbahaya lagi bagi ikan tersebut. Sumber utama senyawa nitrogen pada kolam atau tambak ikan adalah protein yang terkandung dalam pakan. Oleh karena itu, laju produksi amonia pada ikan sebanding dengan laju makannya. Amonia terutama diekskresikan melalui insang, dan dalam urine maupun feses. Amonia juga diproduksi selama dekomposisi aerobik bahan organik berlangsung oleh bakteri (Effendi, 2004).
Menurut Effendi (2004), pada perairan, amonia – nitrogen total (TAN) terjadi dalam dua bentuk yaitu bentuk amonia (NH3) bukan ion dan ion ammonium (NH4+). NH3bukan ion adalah racun untuk ikan sedangkan ion NH4+ tidak berbahaya kecuali bila konsentrasinya sangat tinggi. Tingkat daya racun ammonia (NH3) bukan ion dalam kolam dengan kontak yang berlangsung singkat adalah antara 0,6 – 2,0 mg/l. Batas pengaruh yang mematikan dapat terjadi bila konsentrasi NH3 bukan ion pada air kolam sekitar 0,1 – 0,3 mg/l. Kadar 0,5 mg/l merupakan batas maksimum yang lazim dianggap sebagai batas untuk menyatakan bahan air itu “unpolluted” (Gusrina, 2003).
Amonia harus diperhatikan di dalam perairan terutama pada saat persiapan wadah, sebelum memasukan ikan ke wadah sebaiknya air di cek trlebih dahulu untuk mengetahui ammonia itu keadaan tinggi atau tidak dan amonia meningkat dapat terlihat dari tingkah laku ikan itu sendiri. pengukuran ammonia bisa dengan titrasi dan pengukuran ammonia simple berupa ammonia test kit.

Gambar 18 Ammonia test kit

Menurut Effendi (2004) ;
Tanda – tanda jika konsentrasi amonia meningkat :
– Tingkah laku berenang abnormal (tidak normal), ikan tampak lesu/letih.
– Nafsu makan berkurang.
– Ikan – ikan berkumpul disekitar inlet.
– Ikan menunjukan tanda – tanda tersebut di siang hari, tetapi pulih dimalam hari.

Dampak dari konsentrasi amonia yang tinggi.
– Insang rusak.
– Laju pertumbuhan menurun.
– Lebih rentan terhadap serangan penyakit.
– pH darah meningkat.
– Terjadi kerusakan pada jaringan dan organ dalam.
– Proses osmoregulasi terhambat.
– Terjadi kematian.

Penyebab tingginya konsentrasi amonia pada perairan :
– Laju pemberian pakan yang tinggi.
– Dekomposisi bahan organik oleh bakteri.

Penanganan terhadap konsentrasi amonia tinggi :
– Kurangi atau hentikan pemberian pakan.
– Kuras kolam atau bak pemeliharaan.
– Kurangi kepadatan.
– Aerasi kolam dan menggunakan filter mekanis maupun filter biologis.
– Dalam keadaan darurat – kurangi pH kolam atau bak pemeliharaan.

2.4.9. Kecerahan dan Kekeruhan
Kecerahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan ke dalam air yang dinyatakan dalam persen (%) dari beberapa panjang gelombang di daerah spekrum yang terlihat cahaya melalui lapisan 1 meter jauh agak lurus pada permukaan air. Apabila kecerahan tidak bagus berate perairan tersebut keruh, kekeruhan (turbidity) diakibatkan dari plankton, humus dan suspensi lumpur. Kekeruhan berdampak pada ikan secara langsung maupun tidak langsung, pengarus secara langsung antara lain jika perairan dalam keadaan keruh akibat lumpur ikan sulit bernafas akibat lumpur masuk ke insang akibatnya elemen insang tertutup oleh partikel – partikel lumpur. Secara tidak langsung dapat menyebabkan selera ikan kurang nafsu akib dari kurang terlihatnya pakan di permukaan dan menyebabkan ikan mudah terkena serang penyakit. untuk menggukur kecerahan dan kekeruhan bisa dengan menggunakan seccidisk.

Gamabar 19. Seccidisk (Alat Pengukur Kekeruhan)

2.5.6 Jenis Pakan
2.5.6.1 Alami
Sesuai dengan namanya, pakan alami adalah pakan yang berasal dari alam. Namun dalam perkembangannya, sumber pakan alami tidak hanya berasal dari alam . Sumber makan ini juga bisa berasal dari budidaya. Pakan alami rata-rata memiliki kandungan protein cukup tinggi. Kadar air pakan alami harus tetap dijaga. Jika tidak dibekukan, pakan alami bisa membusuk hingga menurunkan kualitas pakan.
2.5.6.1.1. Artemia
Udang renik air asin (Artemia salina) adalah sejenis plankton yang merupakan makanan bermutu tinggi bagi berbagai jenis ikan, udang dan kepiting. Cangkang telur artemi secara garis besar terbagi dua bagian, yaitu korion yang bagian luar dan kortikula embrionik yang di bagian dalam dan bagian lapisan ketiga yang dinamakan selaput kutikuler luar. (Ahmad Mudjiman, 1989). Korion sendiri tebalnya 6 – 8 mikrometer, kutikuler luar 0,5 mikrometer dan kutikula embrionik 1,8 – 2,2 mikrometer. Semua telur berdiameter artemia diameter (garis tengah) berkisar antara 350 mikrometer (0,2 – 0,3 mm). sedangkan berat kering sekitar 3.65. yang diberikan kepada ikan yaitu burayak artemia yang panjangnya sekitar 400 mikron (0,4 mm) dan beratnya 15 mikrogram. Artemia mempunyai protein 40 – 60 % dan baik untuk pertumbuhan larva ikan bawal terutamanya.

Gambar 20. Arrtemia burayak
2.5.6.2 Buatan
Pakan buatan adalah pakan yang disiapkan oleh manusia dengan bahan dan komposisi tertentu yang sengaja disiapkan oleh manusia . Pakan buatan bersifat basa, seperti bentuk pasta atau emulsi (cairan pekat), tidak perlu disimpan . Jenis pakan basah sebaiknya dihabiskan dalam satu kali pemberian/ aplikasi karena pakan jenis ini mudah rusak jenis kandungannya . Namun bila memang harus disimpan, sebaiknya disimpan dalam ruangan pendingin (lemari es), itu pun tidak bisa terlalu lama, hanya 2 s.d 3 hari. Jika terlalu lama disimpan, kualitas pakan turun dan tidak bagus untuk dikonsumsi. Bahan baku yang digunakan untuk menentukan kualitas pakan buatan harus memenuhi beberapa syarat diantaranya, bernilai gizi, mudah dicerna, tidak mengandung racun, mudah diperoleh, dan bukan merupakan kebutuhan pokok manusia. Pada pemberian pakan ikan bawal dengan menggunkan pakan jenis tepung untuk larva berumur 20 hari.

2.5.6.2.1. Fengli 1
Fengli merupakan pakan buatan yang di buat oleh sebuah perusahaan dibidang makanan ikan. Perusahaan tersebut mencetak pakan dan mengelolah nutrisi pakan yang diberikan kepada ikan dengan beberapa ketentuan. Selain nutrisi kualitas pakan pada fengli cukup baik dan bagus karena dilakukan standar operation dan percobaan terhadap ikan yaitu pertumbuhan, daya cerna dan nafsu ikan terhadap pakan tersebut.
Tabel 8. Nutrisi pakan pada fengli
Jenis Nutrisi Kandungan (%)
Protein 40
Lemak 6
Serat kasar 3
Abu 15
Kadar Air 10

2.5.7 Kualitas Pakan
Dalam penggunaan pakan harus mempunyai 3 kareteria dalam pakan tersebut agar menghasilkan ikan yang pertumbuhannya cepat dan tahan penyakit. 3 diantaranya fisik, kimia dan biologi.
2.5.7.1 Fisik
Pellet ikan yang baik mempunyai daya tahan di dalam air minimal 10 menit (Akbar, 2000). Dan mudah hancur pada saat berada di mulut ikan sehingga ikan dengan mudah mencerna makanannya ke dalam lambung
2.5.7.2. Kimia
Kandungan zat-zat gizi pakan ikan harus sesuai dengan kebutukan tubuh ikan untuk beraktifitas dan pertumbuhan. Beberapa komponen zat-zat gizi yang perlu diketahui adalah kandungan protein, lemak, karbohidrat, abu, serat kasar, dan kadar air. Pellet yang baik memiliki kadar air maksimal 10%, kandungan abu dan seart kasar maksimal 5%, kadar protein minimal 25%, lemak antara 5-7%, dan karbohidrat antara 16-18% (Zuheid, 1990).
2.5.7.3 Biologi
Pakan yang di pakan harus disukai ikan dan menghasilkan FCR yang makin kecil makin baik sehingga seefesien mungkin dalam penggunaan pakan dan berdampak pada nilai biaya budidaya dalam pembelian pakan.
2.6 Strategi Pemberian Pakan
Ukuran lebih kecil dari bukaan mulut larva. Dalam masa larva selama 10 hari ikan bawal diberi pakan artemia ukuran 20 mm dan lebih kecil dari bukaan mulut larva bawal tersebut. Artemia mudah dideteksi dan dimangsa larva dan benih Artemia mudah didieksi oleh larva dikarenakan warnanya yang merah, bau yang cukup menyengat dan pakan artemia mudah dicerna dikarenakan pakan alami dan mempunyai serat yang tidak terlalu tinggi.
Pada ukuran 10 hari sampai 45 hari pemberian menggunakan pakan tepung berupa pakan hivrofit. Pada pakan tepung pemberian Vitamin C yang dibutuhkan loeh tubuh ikan dalam memproses memperkuat daya tahan tubuh ikan dan telur bebek untuk membuat pakan tersebut mempunyai aroma yang menyengat sehigga pakan akan mudah diditeksi oleh ikan sehingga di makan semua dan lebih effisen dalam penggunakan pakan. Serta pakan harus mengandung nutrisi tinggi dan seimbang, nutrisi yang baik untuk ikan bawal untuk larva protein 40 % dan benih ikan bawal protein 30 – 35 %. Pada pakan tepung yang mempunyai serat yang seimbang kurang dari 15 % dan hewani yang mudah dicerna dalam tubuh ikan dikarenakan omnivore lebih cepat mencerna hewani di banding nabat yang masih tersisa seratnya dalam feses.
2.7 Metode Pemberian Pakan
Metode pemberian pakan dikakukan dengan menggunakan At satiation untuk larva 3 – 10 hari merupakan teknik pemberian pakan yang sesuai dengan kemampuan konsumsi atau kebutuhan ikan dan menggunakan metode Feeding rate 4 % untuk pemeliharaan benih pemberian dilakukan 3 kali sehari. Sistem teknologi budidaya ekstensif dengan menggunkan kolam tanah bagian dasar dan pematang tanah dan penggunaan pakan 50 % pakan alami dan 50 % pakan buatan.

2.8. Hama dan Penyakit Ikan
Masalah terbesar yang sering dianggap menjadi penghambat budidaya ikan adalah munculnya serangan penyakit. Serangan penyakit yang disertai gangguan hama dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi sangat lambat (kekerdilan), mortalitas meningkat, konversi pakan manjadi sangat tinggi dan menurunnya hasil panen (produksi).

Advertisements