images(5).jpg

Taksonomi Ikan Kakap Putih
Menurut Tiensongrusme dkk., 1989 dalam Widiastuti dkk., 1999 ikan kakap putih diberi nama pada tahun 1790 oleh M.E Bloch, yang menerima contoh ikan ini dari pedagang Belanda di Eropa dari wilayah perairan Indo-Pasifik. Ikan kakap putih ini mempunyai banyak sebutan antara lain dalam bahasa Inggris Giant sea perch atau white sea perch, sedangkan orang Australia menyebutnya Barramundi. Di Thailand ikan kakap putih dikenal dengan nama Plakapong, di Malaysia disebut Siakap, di Filipina mempunyai banyak sebutan seperti Kakap, Apahap, Bulgan, Salongsong. Di Papua Nugini dikenal dengan nama anama. Di Indonesia nama ikan kakap putih lebih beragam lagi seperti pilah, petehan, tetehan, cabeh, cabik (Jawa), kakap (Jakarta, Jabar), dubit, tekong dan cetik (Madura), talungtar, pica-pica, kaca-kaca (Sulawesi).
Adapun taksonomi ikan kakap putih menurut Kungvankij dkk. (1986) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Famili : Centropomidae
Genus : Lates
Spesies : Lates carcarifer (Bloch, 1Morfologi Ikan Kakap Putih
Morfologi ikan kakap putih (Gambar 1) secara lengkap telah dideskripsikan oleh Mayunar dan Abdul, 2002 sebagai berikut :
a. Badan memanjang, gepeng dan batang sirip ekor lebar, kepala lancip dengan bagian atas cekung dan menjadi cembung di depan sirip punggung.
b. Pada waktu masih burayak (umur 1 – 3 bulan) warnanya gelap dan setelah menjadi gelondongan (umur 3 – 5 bulan) warnanya terang dengan bagian punggung berwarna coklat kebiru-biruan yang selanjutnya berubah menjadi keabu-abuan dengan sirip berwarna abu-abu gelap.
c. Mulut lebar, sedikit serong dengan gigi halus.
d. Bagian atas penutup insang (operculum) terdapat lubang kuping bergerigi di atas pangkal gurat sisik.
e. Sirip punggung memiliki jari-jari keras sebanyak 7 – 9 buah dan jari-jari lemah sebanyak 10 – 11 buah, sedangkan sirip duburnya terdiri dari 3 jari- jari keras dan 7- 8 jari-jari lemah

Tiensongrusme dkk., (1989) dalam Widiastuti dkk., (1999), menyatakan bahwa sirip dada ikan kakap pendek dan membulat. Sirip punggung dan sirip dubur mempunyai lapisan bersisik. Sisik ikan kakap putih bertipe sisir besar. Tubuh berwarna 2 (dua) tingkat yaitu kecoklatan dengan bagian sisi dan perut keperakan untuk ikan hidup di laut dan coklat keemasan pada ikan yang hidup di lingkungan perairan tawar. Ikan dewasa berwarna kehijauan atau keabu-abuan pada bagian bawah.

Habitat dan Penyebaran
Menurut Mayunar dan Abdul (2002), penyebaran ikan kakap putih meliputi perairan trofis dan subtrofis seperti India, Bima, Srilanka, Bangladesh, Malaysia, Indonesia, Cina, Taiwan, Papua New Guinea, Australia, dan lain – lain. Di Indonesia ikan kakap putih dijumpai di perairan pantai, tambak air payau, dan muara sungai yang penyebarannya merata hampir di seluruh Indonesia. Ikan kakap putih juga banyak terdapat di negara yang berwilayah tropis dan sub tropis yang meliputi daerah sebelah Barat Laut Pasifik dan Laut India (Wardani dkk., 1989 dalam http://www.scrib.com).
Ikan kakap putih bersifat euryhaline atau mampu hidup pada kisaran salinitas yang cukup luas antara 0 – 35 ppt (Mayunar dan Abdul, 2002). Pada waktu ikan masih berumur 2 tahun lebih banyak menghabiskan waktunya di perairan tawar sedangkan di saat matang gonad lebih menyukai perairan payau di sekitar muara sungai, benih ikan kakap putih yang pandai berenang berupaya ke sungai atau perairan tawar untuk hidup dan mencari makan di daerah tersebut (Kordi, 2007). Rabanal dkk. (1982) dalam http://www.scrib.com. menyatakan bahwa gonad ikan kakap putih yang telah berkembang dan dorongan untuk melakukan pemijahan yang menyebabkan bermigrasi ke perairan pantai.
Ikan kakap putih dewasa (3 – 4 tahun) bermigrasi ke arah muara sungai menuju perairan laut yang bersalinitas 30 – 32 ppt untuk pematangan gonad dan kemudian memijah (Kungvankij dkk., 1986). Slamet dkk. (1995) dalam http://www.scrib.com. menerangkan bahwa ikan kakap putih bersifat euryhaline sehingga memungkinkan dibudidayakan di laut dengan sistem keramba jaring apung (KJA) atau keramba tancap di tambak bersalinitas tinggi atau rendah, kolam air tawar serta keramba jaring apung di perairan waduk atau danau.

Makan Dan Kebiasaan Makan
Menurut Kungvankij dkk. (1986) ikan kakap putih dewasa termasuk rakus ikan karnivora yang rakus, tetapi juvenilnya bersifat omnifora. Ikan kakap putih dewasa yang berukuran besar kadang hanya berdiam diri sepanjang hari dan menunggu calon mendekat, begitu calon mangsa yang terdiri dari ikan kecil dan udang-udangan ini mendekat maka dengan tiba-tiba disergapnya, sedangkan ikan kakap putih yang kecil aktif mencari makan (Kordi, 2007).
Mayunar dan Abdul (2002) menyatakan jenis-jenis makanan ikan kakap putih berdasarkan stadia hidup adalah sebagai berikut :
 Larva sampai juvenile : fitoplankton seperti Tetraselmis sp., Nannochloropsis sp., zooplankton seperti rotifera, acartia, artemia, kopepoda.
 Juvenile sampai gelondongan : udang jambret, udang rebon, ikan-ikan kecil dan jenis kepiting.
 Ikan-ikan muda dan dewasa: ikan selar, sardine, kuniran, teri dan udang.
Nilai nutrisi dalam pakan merupakan unsur yang sangat penting dalam pertumbuhan, perkembangbiakan dan pemeliharaan kesehatan tubuh (Mustahal dkk., 1995 dalam http://www.scrib.com).
Kebutuhan nutrisi ikan kakap putih hampir sama dengan kebutuhan nutrisi ikan laut karnivora lainnya, yang meliputi : protein (asam amino), lemak (asam lemak), karbohidrat, vitamin, dan mineral (Akbar dkk., 1999). Ikan karnivora memerlukan protein lebih tinggi dibandingkan dengan ikan herbivora atau omnivora (Kompiang, 1996).

Reproduksi
Ditinjau dari pola reproduksinya ikan kakap putih adalah hermaprodit protandri, yaitu pada awal reproduksinya mempunyai kelamin jantan setelah umur lebih dari 3 tahun berubah kelamin menjadi betina, di daerah muara sungai, danau dan laguna (Asmanik, 2011). Testis mulai terbentuk pada ukuran panjang total antara 25 – 35 cm. Terdapat kecenderungan semakin ke garis ekuator, pematangan seksual jantan terjadi lebih awal dibandingkan yang berada jauh dari ekuator. Di Australia Utara dan Indonesia pematangan kelamin jantan terjadi pada umur 1 – 2 tahun (panjang total ± 29 cm), sedangkan di Queensland pada umur 3 – 5 tahun atau pada saat panjang total mencapai 53 – 63 cm (Davis, 1986).
Ikan kakap putih bersifat katadromus, yaitu pemijahan dan penetasan telurnya terjadi di perairan laut dan larvanya akan memasuki perairan payau dan mangrove (Kungvankij dkk., 1986).
Pemijahan adalah proses pertemuan antara ikan pejantan dan ikan betina yang bertujuan untuk melakukan pembuahan telur oleh spermatozoa yang terjadi di luar tubuh atau secara eksternal (Effendi, 2004).
Ikan dewasa yang berumur 3 – 4 tahun beruaya ke muara sungai, danau dan laguna yang bersalinitas 30 – 32 ppt untuk pematangan gonad dan kemudian melakukan pemijahan. Pergerakan ke area pemijahan terjadi pada akhir musim panas dan pemijahan terjadi pada awal musim penghujan. Pemijahan pada musim hujan terjadi karena salinitas dan suhu merupakan faktor penting yang mempengaruhi siklus pemijahan (Grey, 1987 dalam Widiastuti dkk., 1999)
Menurut Kungvankij dkk. (1986) dalam membedakan jenis kelamin kakap putih cukup sulit, kecuali pada musim pemijahan. Beberapa tanda yang dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin ikan kakap putih dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa tanda untuk membedakan jenis kelamin ikan kakap putih
[
Ikan kakap jantan Ikan kakap betina
Moncong bengkok Moncong lurus
Tubuhnya langsing Tubuhnya gemuk
Berat tubuhnya lebih ringan Berat tubuhnya lebih berat
Sisik-sisik dekat lubang pembuangan Sisik-sisik dekat lubang pembuangan
lebih tebal selama musim pemijahan kurang tebal selama musim pemijahan
Sumber : Kungvankij dkk., 1986

Kordi (2007) menyatakan bahwa induk kakap putih betina yang matang gonad akan terlihat pada bagian perutnya membuncit dan memisahkan diri dari gerombolan sedangkan jantan bergerombol.
Musim berpijah (spawning season) pada masing – masing perairan atau daerah berbeda-beda. Di Thailand, berlangsung pada bulan April – September, dan benihnya mulai banyak tertangkap pada bulan Mei – Agustus. Di Malaysia kakap putih memijah pada bulan Februari – Mei, tepatnya tujuh hari setelah bulan purnama atau bulan baru. Di India bermula dari bulan Januari dan berakhir pada bulan Agustus. Di Australia, kakap yang sudah tampak bertelur bergerak untuk berpijah pada musim semi sebelum musim penghujan. Sedangkan di Indonesia, masa memijah berlangsung pada pertengahan bulan Oktober sampai pertengahan bulan April setiap tahunnya (Mayunar dan Abdul, 2002).
Pemijahan induk kakap putih berlangsung pada malam hari (Kordi, 2008) dan dalam 1 (satu) bulan melakukan 2 kali siklus pemijahan yaitu pada bulan terang (purnama) dan bulan gelap. Aktifitas pemijahan diawali dengan tanda induk jantan dan betina akan berenang bersama dan sering membolak-balikkan tubuhnya. Induk betina mengeluarkan sel telurnya, ± 5 menit induk jantan mengeluarkan sperma yang menyerupai asap, waktu yang dibutuhkan untuk pembuahan yaitu 30 menit (Kordi, 2007).
Ada beberapa parameter pemilihan calon induk kakap putih untuk dipijahkan menurut (Kordi, 2005) yang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Beberapa parameter pemilihan calon induk kakap putih

Parameter Betina Jantan
Panjang tubuh 50 – 70 cm Lebih panjang
Berat 1,6 – 7,0 kg 1,6 – 4,0
Perut Buncit Langsing
Tinggi badan Tinggi Tidak Tinggi
Sisik di sekitar anus Tidak tebal Tebal
Pergerakan Pasif Aktif
Sumber : Kordi, 2005

Pada ikan kakap betina yang berukuran 5,5 kg, fekunditas telurnya adalah 3.100.000 butir, sedangkan untuk induk yang berukuran 8,1 – 10,5 kg, fekunditasnya berkisar antara 3.100.000 – 8.100.000 butir. Volume sperma untuk ikan jantan yang berukuran 2 – 3 kg adalah 3 – 5 ml (Mayunar dan Abdul, 2002).