IMG_20151003_072213
Lobster Pasir

Lobster memiliki tubuh dengan kulit yang sangat keras, terutama di bagian kepala, yang ditutupi oleh duri-duri besar maupun kecil mata lobster agak tersembunyi di bawah cangkang ruas abdomen yang ujungnya berduri tajam dan kuat. Lobster memiliki dua pasang antenna, yang pertama kecil dan ujungnya bercabang dua, disebut juga sebagai kumis (antenulla). Antenna kedua sangat keras dan panjang dengan pangkal antenna besar kokoh dan ditutupi duri-duri tajam, sedangkan ekornya melebar seperti kipas. Warna lobster bervariasi tergantung jenisnya, pola-pola duri di kepala dan warna lobster biasanya dapat dijadikan tanda spesifik jenis lobster (Muljanah et al., 1994).

Isnansetyo dan Yuspanani (1993) memberikan gambaran morfologi udang karang, yaitu mempunyai bentuk badan memanjang, silindris, kepala besar ditutupi oleh karapaks berbentuk silindris, keras, tebal dan bergerigi. Mempunyai antena besar dan panjang menyerupai cambuk, dengan rostrum kecil. Menurut Sudradjat (2008), cephalothoraxs tertutup oleh cangkang yang keras (carapace) dengan bentuk memanjang kearah depan. Pada bagian ujung cangkang tersebut terdapat bagian runcing yang disebut cucuk kepala (rostrum). Mulut terletak pada kepala bagian bawah, diantara rahang-rahang (mandibula). Sisi kanan dan kiri kepala ditutup oleh kelopak kepala dan dibagian dalamnya terdapat insang. Mata terletak dibagian bawah rostrum, berupa mata majemuk bertangkai yang dapat digerakkan.

Carpenter & Niem (1998) dalam Kadafi, et.al., mengatakan jenis kelamin lobster ditentukan dengan melihat letak gonopores. Gonopores lobster jantan terletak pada kaki jalan kelima, sedangkan lobster betina terletak pada kaki jalan ketiga. Selain dari letaknya, penentuan jenis kelamin lobster juga dapat dilakukan dengan memperhatikan ukuran badannya.

 

  • Habitat dan Kebiaasaan Makan Lobster

Hewan ini hidup di karang, pasir atau dasar berlumpur dari garis pantai hingga pinggir lautan yang berbatasan dengan benua. Di alam, lobster bersembunyi pada lubang-lubang yang terdapat di sisi terumbu karang.

Menurut daerah penyebarannya, Djamal dan Marzuki (1996) membedakan lobster karang/ lobster air laut menjadi :

  1. Lobster yang hidup diperairan dangkal (continental species) antara lain Panulirus homarus, dan Panulirus penicillatus.
  2. Lobster perairan karang (coral spesies) yang banyak hidup di daerah-daerah karang di perairan pantai maupun lepas pantai agak dalam antara lain: Panulirus longipes, Panulirus versicolor, Panulirus ornatus, dan lain sebagainya.
  3. Lobster lepas pantai (oceanic species) hidup di perairan laut dalam seperti: Panulirus polyphagus, Panulirus javanicus, dan Panulirus marginatus

Lobster bersifat nokturnal dimana banyak melakukan aktivitasnya pada malam hari, terutama aktivitas mencari makan. Sementara, pada siang hari lobster beristirahat dan tinggal di goa-goa karang atau di celah-celah batu. Oleh karena itu, tempat budidaya lobster perlu dilengkapi dengan tempat perlindungan atau tempat persembunyian (shelter) dan dosis pemberian pakan malam hari lebih banyak diberikan dibandingkan pada siang hari.

  • Pertumbuhan Lobster

Menurut Effendie (1979), menyatakan bahwa pertumbuhan merupakan perubahan ukuran baik bobot maupun panjang dalam suatu periode atau waktu tertentu. Pertumbuhan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni pertumbuhan mutlak dan pertumbuhan nisbi. Pertumbuhan mutlak didefinisikan sebagai ukuran rata-rata ikan pada umur tertentu, sedangkan pertumbuhan nisbi didefinisikan sebagai panjang atau berat yang dicapai dalam satu periode waktu tertentu yang dihubungkan dengan panjang atau berat pada awal periode tersebut.

Proses pertumbuhan pada bangsa crustacea menurut Asbar (1994) adalah : 1. crustacea berganti kulit dengan melepaskan diri dari kulit luarnya yang keras, 2. air diserap sehingga ukuran udang menjadi lebih besar, 3. kulit luar yang baru tumbuh, 4. secara bertahap diganti oleh jaringan baru.

Menurut Holdich dan Lowery (1988) pertumbuhan krustasea adalah pertambahan berat dan panjang tubuh yang terjadi secara berkala saat setelah pergantian kulit (molting). Jadi pertambahan bobot dan panjang tubuh tidak akan terjadi tanpa didahului proses molting. Frekuensi ganti kulit udang tergantung pada umur dan makanan, yaitu jumlah dan mutu makanan yang diserap. Udang fase juvenil lebih sering mengadakan pergantian kulit daripada udang tua. Udang yang makanannya berkualitas baik dalam jumlah yang banyak akan lebih cepat mengalami pergantian kulit daripada makanannya sedikit ataupun yang kualitasnya kurang baik (Ling, 1976). Menurut Merrick (1993) menyatakan bahwa frekuensi ganti kulit pada lobster berkurang sejalan dengan bertambahnya umur. Frekuensi ganti kulit pada juvenil terjadi satu kali setiap 10 hari, pada pra-dewasa antar 4-5 kali/tahun dan pada lobster dewasa 1-2 kali/tahun.