LAPORAN 

PERTUMBUHAN IKAN NILA DAN IKAN MAS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Perubahan kualitas lingkungan dapat diketahui berdasarkan perubahan dalam sistem atau parameter biologi yang terpilih, pendekatan ini dikenal dengan istilah Biomonitoring. Biomonotoring adalah cabang dari monitoring lingkungan yang mengacu kepada penggunaan organisme hidup, yang digunakan sebagai pendugaan residu bahan pencemar dalam jaringan organisme sampai pendugaan akhir pengaruh biologi spesifik (Lam dan Wu, 2003).

Bentuk atau tipe biomonitoring dapat dikembangkan berdasarkan perubahan karakteristik secara biokimia, phisiologi, morphologi, atau tingkah laku organisme, demikian juga berdasarkan cara tradisional seperti struktur komunitas yang meliputi kemelimpahan dan indeks diversitas. Biomarkers. “A biomarker is a xenobiotically-induced variation in cellular or biochemical components or processes, structures, or functions that is measurable in a biological system or sample” (National Research Council, 1987).

Biomarker didefinikan sebagai respon secara biologi terhadap pencemaran lingkungan yang memberikan besarnya pajanan dan pengaruh toksik bahan pencemar (Walker et.al., 1996). Biomarker sebagai alat secara biologi digunakan sebagai indikator yang sensitif, yang menunjukkan adanya bahan pencemar dalam tubuh organisme, terdistribusi dalam jaringan dan menghasilkan efek secara toksikologi (McCarthy and Shugart, 1990). Biomarkers adalah suatu alat digunakan dalam memprediksi pengaruh secara chronis pajanan bahan kimia secara spesifik atau non spesifik dalam lingkungan (Jorgensen, 1997).

Berbicara tentang ikan dalam hal ini adalah ikan mas dan ikan nila tidak lepas dari beberapa faktor dalam menunjang kelangsungan kehidupannya. Bisa dari pemberian pakan baik itu pakan alami ataupun buatan, pemberian nutrisi, pencegahan serangan hama dan penyakit, faktor internal (reproduksi, respirasi, TKG, daya cerna terhadap pakan, metabolisme tubuh, dll) dan faktor eksternal (suhu, salinitas, ph, intensitas cahaya, kekeruhan, debit air, dll). Beberapa faktor diatas sangatlah erat kaitannya dengan kelangsungan hidup ikan.

Penyesuaian  ikan terhadap pengaruh lingkungan itu merupakan suatu homeostasis, dalam hal ini ikan akan mempertahankan keadaan yang stabil melalui suatu proses aktif melawan perubahan yang dimaksud. Homeostasis merupakan kecenderungan organisme hidup untuk mengontrol dan mengatur fluktuasi lingkungan internalnya (Affandi dan Tang 2002).

1.2.      Tujuan Praktikum

Tujuan dilakukannya praktikum Laju pertumbuhan Ikan ini adalah sebagai berikut :

  1. Mahasiswa dapat mengetahui secara langsung pertambahan bobot awal ikan dan bobot akhir ikan, pertumbuhan panjang awal ikan dan panjang akhir ikan, pertumbuhan spesipik, SR dan Mortalitas ikan.
  2. mahasiswa dapat mengetahui laju pertumbuhan mutlak,efisiensi makanan, FCR, jumlah pakan yang dibutuhkan perhari/perminggu,serta mengetahui feeding frekuensi pakan selama praktikum berlangsung.
  3. untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi dalam pertumbuhan ikan secara kuantitatif dan mengetahui perkiraan perbedaan bobot sertau panjang tubuh ikan .
  4. Mengindikasi jumlah pakan yang dibutuhkan perhari/perminggu, serta mengetahui feeding frekuensi pakan selama praktikum berlangsung.
  5. Sebagai pemenuhan tugas praktek mata kuliah Fisiologi Hewan Air yang dilaksanakan pada tanggal 1 februari 2012 sampai dengan 7 Februari 2012.

1.3.      Manfaat

 Memudahkan petani ikan mas dalam memgembangkan usaha budidaya perikanan masal, sebagai referensi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang perikanan masal dan membantu pemerintah dalam peningkatan komoditas perikanan darat.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kebutuhan masyarakat dunia terhadap protein hewani ikan terus meningkat seiring dengan peningkatan populasi penduduk dunia. Sejak tahun 1990-an, produksi perikanan tangkap mengalami stagnasi dan cenderung menurun akibat kerusakan lingkungan laut dan upaya penangkapan ikan illegal. Oleh karena itu pemenuhan konsumsi ikan dunia hanya diharapkan dari usaha budidaya ikan. Keberhasilan usaha budidaya ikan sangat dipengaruhi oleh 3 faktor yang sama pentingnya, yaitu breeding (pemuliaan biakan, bibit), feeding (pakan) dan management (tata laksana). Namun jika dilihat dari total biaya produksi dalam usaha budidaya ikan, maka kontribusi pakan adalah yang paling tinggi sekitar 75%.

2.1.      Ikan Mas (Cyprinus carpio)

             2.1.1.  Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Mas

Tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak (compressed). Mulut  terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Bagian enterior mulut terdapat  2 pasang sungut. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam sisik tipe sikloid. Selain itu, tubuh ikan mas juga dilengkapi dengan sirip. Sirip punggung (dorsal) berukuran relatif panjang dengan bagian belakang berjari-jari keras dan sirip terakhir, yaitu sirip ketiga dan sirip keempat, bergerigi. Linea lateralis (gurat sisi) terletak di pertengahan tubuh, melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Pharynreal teeth (gigi kerongkongan) terdiri dari baris yang berbentuk gigi geraham.

Secara umum, ikan mas mempunyai sifat-sifat sebagai hewan air omnivora yang lebih condong ke sifat hewan karnivora. Dalam ilmu taksonomi hewan, Klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut :

Filum               : Chordata

Anak Filum     : Vertebrata

Induk Kelas    : Pisces

Kelas               : Osteichtyes

Anak Kelas     : Actinopterygii

Bangsa                        : Cypriniformes

Anak Bangsa   : Cyprinoidei

Suku                : Cyprinidae

Marga              : Cyprinus

Jenis                : Cyprinus carpio L.

Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan mas menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis mas yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang memiliki ukuran sirip memanjang. Golongan pertama yakni yang bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan mas yang bersisik biasa dan kedua bersisik kecil.

Sedangkan Djoko Suseno (2000) berpendapat bahwa berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan mas yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias.

2.2.      Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

            2.2.1.   Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Nila

Kordy K.(2000) membuat catatan tentang bentuk tubuh (morfologi) seekor ikan nila (oreochromis niloticus) secara umum, yaitu mempunyai bentik badan pipih ke samping memenjang, warna putih kehitaman, makin ke perut makin terang. Ikan nila mempunyai garis vertikal 9-11 buah berwarna hijau kebiruan. Mata ikan nila tampak menonjol agak besar dengan bagian tepi berwarna hijau kebiru-biruan. Letak mulut ikan terminal, posisi sirip perut terhadap sirip dada thorocis, garis rusuk (linea lateralis) terputus menjadi dua bagian, letaknya memanjang diatas sirip dada, jumlah sisik pada garis rusuk 34 buah dan tipe sisik stenoid.

Penamaan ikan nila dan mujair di Indonesia menjadi Oreochromis nilotikus dan Oreochromis mossamicus (Sugiarto, 1988). Sehingga klasifikasi ikan nila sebagai berikut :

Filum               : Chordata

Kelas               : Pisces

Ordo                : Percomorphi

Famili              : Cichlidae

Genus              : Oreochromis

Spesies            : Oreochromis nilotikus

Ikan nila termasuk golongan ikan pemakan segala atau lazim disebutomnivore. Namun larva ikan nila tidak sanggup memakan makanan dari luar selama masih tersedia makanan cadangan berupa kuning telur yang melekat di bawah perut larva yang baru menetas. Hal ini berbeda dengan jenis ikan air tawar pada umumnya yang sesaat setelah menetas lubang mulut sudah terbuka. Setelah rongga mulut terbuka, larva ikan nila memakan tumbuh-tumbuhan dan hewan air berupa plankton. Jenis-jenis plankton yang biasa dimakan antara lain yaitu alga bersel tunggal maupun benthos dan krustase berukuran kecil. Makanan ini diperoleh dengan cara menyerapnya dalam air (Djarijah, 1995).

2.3.      Pertumbuhan

Menurut Effendy (1997), dalam istilah sederhana pertumbuhan dapat dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu. Sedangkan pertumbuhan dalam individu adalah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Hal tersebut terjadi apabila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan.

Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar ikan. Termasuk faktor dalam ikan adalah faktor genetik, kesehatan serta keseragaman ukuran ikan tersebut. Sedangkan faktor luar meliputi kondisi kualitas air, serangan hama dan penyakit serta kondisi pakan ikan.

Kecepatan pertumbuhan ikan ditentukan oleh gen. Gen tersebut merupakan sifat warisan dari induknya yang dibawa melalui telur. Gen merupakan bagian kecil dari kromosom merupakan penyimpan sifat-sifat individu tersebut.

Berhubungan dengan pengukuran pertumbuhan ikan, terdapat tiga  parameter yaitu laju pertumbuhan ikan harian(spesifik), perutmbuhan mutlak dan pertumbuhan panjang ikan.

Menurut Dra.S. Rachmatun Suyanto (2005 : 9). Beberapa faktor penting yang turut mempengaruhi laju pertumbuhan ikan Mas dan Nila, diantaranya yaitu :

Ø  Padat penebaran

Ø  Kualitas air yang oftimal

Ø  Sistem budidaya yang digunakan

Ø  Bebas serangan hama dan penyakit

Ø  Pakan mencukupi (alami atau buatan)

Beberapa faktor penting yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan Mas dan ikan Nila menurut Suyanti (1995) adalah sebagai berikut :

2.3.1.     Kualitas Air

              Kualitas air yang kurang baik dapat mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Kualitas air yang penting untuik pertumbuhan benih ikan mas dan berkisar 6-7 ppm. Kekeruhan air yang disebabkan lumpur akan menghambat pertumbuhan ikan. Untuk kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik untuk pertumbuhan antara 20-35 cm (Suyanto, 1995). Ikan nila mampu tumbuh cepat hanya dengan pakan yang mengandung protein sebesar 20-25%, dan bila hidup diperairan yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan lunak ( Suyanto, 1993).

2.3.2.     Suhu

              Ikan mas dan ikan nila dapat hidup diperairan yang dalam dan luas maupun dikolan yang sempit dan dangkal. Ikan mas dan ikan nila dapat hidup disungaio yang tidak terlalu deras airnya, diwaduk , danau  , rawa, sawah, tambak, air payau atau didalam jaring apung dilaut. Suhu optimal ikan mas dan ikan nila adalah 25-30%. Oleh karena itu ikan mas dan ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai tinggi (500%), (Anonim, 1989).

2.3.3.     pH

              Ikan mas dan ikan nila yang kecil lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan ikan yang sudah besar. Nilai pH perairan yang baik untuk budidaya ikan pada siang hari berkisar 6,5-9 pada pH, ikan dapat mati, tetapi terkadang kondisi ini masih dapat di tolerir oleh ikan. Sementara pH ideal pada budidaya ikan berada pada kisaran 7-8 (Huet, 1971).

2.3.4.     Kandungan oksigen dan karbondioksida

              Ikan memerlukan kandungan oksigen untuk bernapas, sumber oksigen dalam air berasal dari proses fotosintesis. Proses fotosintesis itu sendiri dipengaruhi oleh sinar matahari dan kandungan karbondioksida. Bila sinar matahari dan kandungan karbondioksida cukup, proses fotosintesis akan berjalan dengan baik dan kandungan oksigen dalam air akan tinggi. Kandungan karbondioksida yang baik pada ikan mas dan ikan nila yaitu 4,8-5,2 ppm (Yulianti dan Prasenno, 1988).

2.3.5.    Alkalinitas

              Alkalinitas adalah konsentrasi basa total yang terkandung dalam air dengan mengetahui nilai alkalinitas dapat diketahui produktifitas suatu kolam.total alkalinitas yang dibutuhkan dalam pembudidayaan ikan mas dan ikan nila berada pada kisaran 50-300 mg/L CaCo3, eqivalen (Yulianti dan Prasenno 1988).

2.3.6.     Amoniak

              Menurut jangkaru (1982), amoniak dalam air dapat berasal dari proses metabolisme ikan dan proses pembusukan bahan organik oleh bakteri NH3, akan lebih beracun kalau konsentrasi oksigen sangat rendah. Konsentrasi NH3 tertinggi biasanya terjadi setelah pytoplankton mati yang diikuti penurunan pH karena CO2 meningkat. Batas konsentrasi NH3 yang mematikan ikan pada 0,1-0,3 mg/L.

BAB III

METODOLOGI

3.1.      Waktu Dan Tempat

Kegiatan praktikum dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 1  februari 2012 – 7 februari 2012, pukul 10.00 – 12.30 WIB. Dan praktikum ini bertempat di Laboratorium dan Hatchery Departement Agrabisnis Perikanan PPPPTK VEDCA Cianjur.

3.2.      Alat Dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah akuarium dengan ukuran 80cm x 40cm x 40cm, aerator, timbangan digital, ember, lap/tissue, penggaris, selang, kalkurator, seser, alat tulis.

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan sampel (10 ekor ikan mas dan 30 ekor ikan nila) dan pakan atau pellet.

3.3.      Prosedur Kerja

  1. Persipan akurium yang sebelumnya telah dibersihkan terlebih dahulu.
  2. Isi akuarium tersebut dengan air tawar sampai ketinggian 25 cm.
  3. Timbang bobot awal dan ukur panjang awal ikan sampel
  4. Catat hasil yang di peroleh
  5. Hitung kebutuhan makan ikan selama seminggu (FCR)
  6. Tebar ikan ke dalam akuarium yang telah disediakan
  7. Amati ikan selama seminggu
  8. Beri makan sehari tiga kali makan
  9. Timbang bobot akhir dan ukur panjang akhir ikan sampel
  10. Hitung laju pertumbuhan ikan (GR, SGR dan pertumbuhan panjang ikan)
  11. Hitung juga Survival Rate serta Mortalitas ikan
  12. Catat hasil yang diperoleh

3.4.      Analisa Data

Menurut Effendy (1997), dalam istilah sederhana pertumbuhan dapat dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu. Sedangkan pertumbuhan dalam individu adalah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Hal tersebut terjadi apabila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan.

Parameter yang diamati pada praktikum ini adalah :

3.4.1.   Kelangsungan Hidup (SR)

Rumus kelangsungan hidup :

Ø  SR       = (Nt/No) x 100%

Ø  M         = (No-Nt)/No x 100%

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir ikan

No = Jumlah awal ikan       SR = Survival rate

3.4.2.   Pertumbuhan Mutlak

Rumus laju pertumbuhan mutlak :

W = Wt – Wo

t

Keterangan :

Wt       : berat rata-rata ikan pada waktu tertentu (gram)

Wo      : berat rata-rata ikan pada waktu t = 0 (gram)

t           : waktu (hari)

3.4.3.   Pertumbuhan Spesifik (Specific Growth Rate)

Untuk  menentukan  laju pertumbuhan  spesifik  sesuai  dengan Steffens (1989):

SGR X100%       

Keterangan :

SGR     =  Laju pertumbuhan berat spesifik (% perhari)

Wt        =  Bobot biomassa pada akhir penelitian (gram)

Wo      =  Bobot biomassa pada awal penelitian (gram)

t1          =  Waktu akhir penelitian (hari)

t0          =  Waktu awal penelitian (hari)

3.4.4.   Pertumbuhan Panjang

            Rumus untuk mencari pertumbuhan panjang ikan adalah :

P = Pt – Po

Keterangan :

P  : Pertumbuhan panjang (cm)

Pt : Panjang akhir ikan (cm)

P0 : Panjang awal ikan (cm)

t   : waktu (hari)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Hasil

Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh hasil seperti yang tersaji pada tabel-tabel berikut :

Tabel 1. Data Panjang awal tubuh ikan Mas dan Nila

No. Panjang (cm)
Ikan Nila (30ekor) Ikan Mas (10ekor)
1 5,5 6,5
2 5 6
3 5 6,5
4 6 6,5
5 6 7,5
6 5,5 6,5
7 4,5 6
8 5 6
9 5 6,5
10 5,5 6
11 5
12 5,5
13 4,5
14 5,5
15 5,5
16 5,5
17 5,5
18 5,5
19 4,5
20 5,5
21 6
22 5,5
23 5,5
24 4,5
25 5
26 5,5
27 5
28 5,5
29 5,5
30 5,5
Rata-rata = 5,3 cm/ekor Rata-rata = 6,4 cm/ekor

Dari tabel di atas terlihat bahwa rata-rata panjang awal tubuh ikan nila adalah 5,3 cm/ekor sedangkan ikan mas adalah 6,4 cm/ekor.

Tabel 2. Bobot Awal Ikan Mas dan Nila

Bobot tubuh ikan (gram)
Ikan Nila (30ekor) Ikan Mas (10ekor)
2,52 3,87
Rata-rata= 0,084 gr/ekor Rata-rata= 0,387 gr/ekor

Dari tabel di atas terlihat bahwa rata-rata bobot awal tubuh ikan nila adalah 0,084 gr/ekor sedangkan ikan mas adalah 0,387 gr/ekor.

  • Berat rata-rata ikan sampel

= 3,2 gr/ekor

  • Populasi ikan

Populasi = Jumlah ikan sampel keseluruhan x rata-rata ikan

sampel

= 40 x 3,2

= 128 x 6% = 7,68 gr/hari (FCR)

= 7,68 / 3 = 2,5 gr/makan

Penelitian selama 6 hari jadi jumlah pakan total yang di perlukan adalah : 2,5 gram/hari.

Tabel 3. Data panjang akhir Ikan Mas dan Ikan Nila

No. Panjang (cm)
Ikan Nila (30ekor) Ikan Mas (0ekor)
1 6 Mati Total
2 6
3 7
4 7,5
5 6
6 6
7 6
8 6
9 6
10 6
11 6
12 6
13 5,5
14 6
15 6,5
16 5,5
17 5,5
18 6
19 6
20 6
21 6
22 5,5
23 6
24 6
25 6
26 6
27 6
28 5,5
29 6
30 6
Rata-rata = 6,02 cm/ekor Rata-rata = 0 cm/ekor

Dari tabel di atas terlihat bahwa rata-rata panjang awal tubuh ikan nila adalah 6,02 cm/ekor sedangkan ikan mas adalah 0 cm/ekor karena semuanya mati total.

Tabel 4. Bobot Akhir Ikan Mas dan Nila

Bobot tubuh ikan (gram)
Ikan Nila (30ekor) Ikan Mas (0ekor)
4,34 gr/ekor
Rata-rata= 0,15 gr/ekor Rata-rata= 0 gr/ekor

Dari tabel di atas terlihat bahwa rata-rata bobot awal tubuh ikan nila adalah 0,15 gr/ekor sedangkan ikan mas adalah 0 gr/ekor karena semuanya mati.

Tabel 5. Data perhitungan

Data SR Morta

litas

Pertumbuhan Panjang Pertumbuhan Mutlak Pertum

buhan Spesifik

Pertumbuhan Bobot
Ikan Nila 100 % 100 % 0,72 Cm 0,31 cm 9,17 % 0,31 gram
Ikan Mas 0% 0 %

4.2.      Pembahasan

Berdasarkan hasil yang telah diperoleh selama kegiatan berlangsung Dengan melakukan praktikum laju pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) secara langsung, kita dapat mengetahui, menelaah, dan mencatat hasilnya. Dalam pengamatan selama 1 minggu ini ternyata ikan yang memiliki SR yang baik adalah Ikan Nila itu terbukti dari data hasil praktek yang tercantum di dalam tabel 4.

Dalam kelangsungan hidupnya ikan nila mencapai 93,33 % dan dikategorikan ikan mampu hidup dan bertahan dengan baik terhadap resistensi dan mampu bertoleransi dengan baik terhadap perlakuan lingkungan yang diberikan. Selain itu, pakan yang kami gunakan adalah pellet yang ditumbuk halus karena harus sesuai dengan bukaan mulut ikan. Untuk FCR yang datanya kami peroleh adalah 12,084 gr/hari yang diperoleh dari banyaknya populasi ikan dengan kebutuhan pakan 6% dari bobot biomassa ikan.

Perumbuhan yang signifikan tetapi lambat di tunjukan oleh ikan Nila dengan pertumbuhan panjang 0,72 cm dan bobot 0,31 gram selama 1 minggu dengan frekwensi pemberian pakan 3× sehari. Sayang sekali di akhir pengamatan ikan Mas tak ada satupun yang hidup jadi tidak bisa membandingkan diantara keduanya mana yang lebih baik.Penyebab kematian ikan Mas mungkin bisa saja disebabkan karna faktor-faktor internal dan eksternal yang luput dari pengawasan selama praktek.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.      Kesimpulan

             Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diperoleh selama kegiatan praktikum berlangsung maka dapat disimpulkan bahwa ikan mas kelangsungan hidupnya mencapai 0% dikarenakan beberapa faktor yaitu kualitas air (kekeruhan, suhu, salinitas, dan lain-lain) atau dapat juga dipengaruhi oleh padat penebaran ikan yang dimana ikan nila lebih dominan daripada ikan mas sehingga dalam mengkonsumsi pakannya ikan mas harus bersaing dengan ikan nila yang lebih banyak jumlahnya.

Pada ikan nila, kelangsungan hidupnya mencapai 100 %. Dan, ikan Mas tidak bisa bertahan hidup atau SR-nya rendah bahkan nol itu terbukti dari 10 ekor ikan Mas yang di tebar hasil akhirnya adalah nihil. Tetapi kebalikannya ikan Nila ternyata mampu hidup dan berkembang dengan baik walau dengan pertumbuhan yang sedikit lambat. Terlepas dari itu mungkin faktor ketidak bertahanan hidup ikan Mas bisa saja dari hal-hal yang luput dari pengamatan selama proses tersebut berlangsung.

5.2.     Saran

           Didalam melakukan praktikum laju pertumbuhan ikan mas dan ikan nila,  penulis menyarankan agar untuk praktikum kedepannya semua praktikan dapat melakukan praktikum dengan serius terlebih dalam memperhatikan proses persiapan akuarium, apakah posisi akuarium sudah atau belum karena ketika posisi akuarium kurang pas bisa menyebabkan kebocoran pada akuarium atau pun akuarium jebol dan juga para praktikan harus memperhatikan dosen  ketika menjelaskan cara kerja dalam menjalankan praktikum agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan praktikum dan akhirnya dapat memperoleh informasi yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyadi Sukmam M.Ed. Ir. Ondi, Ir. Leni Rahardjo, 1987. Budidaya ikan. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK.Jakarta:Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Affandi R dan Tang U.M. 2002. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru : Unri Press.

Tang. U.M. dan R Affandi. 2001. Biologi Reproduksi Ikan. P2kp2 Unri.

http://wwwrizalbireuen.blogspot.com/2010/03/Laju-pertumbuhan-terhadap-pertumbuhan ikan.html. ( Diunduh pada hari kamis,  2 januari 2012, pukul 15.30 ).

LAMPIRAN

Contoh Perhitungan :

1)      Pertumbuhan Mutlak (GR)

  • Ikan Nila

GR

 

2)      Pertumbuhan Spesifik (SGR)

  • Ikan Nila

SGR x 100 % = 9,17 %

3)      Pertumbuhan Panjang (P)

  • Ikan Nila

PPt-Po

= 6,02-5,3

= 0,72 cm

4)      Survival Rate

  • Ikan Nila

SR

5)      Mortalitas

  • Ikan Nila

M