Pembenihan merupakan proses tahapan budidaya ikan untuk mencapai output benih yang siap untuk dibesarkan oleh para pembudiaya. Jelasnya hasil yang didapatkan yaitu benih, ada beberapa tahapan dalam pembenihan yaitu seleksi induk, Pemijahan, pemeliharaan telur, perawatan larva dan pembesaran benih pada ukuran tertentu atau benih. berikut ini tahap – tahap pembenihan yaitu :

Seleksi Induk :

Proses seleksi induk ini sendiri adalah tahap awal yang menentukan dalam pembenihan. proses seleksi ini ada bebeapa yang harus diperhatikan yaitu sehat, pemberian pakan pada induk teratur, matang gonad dan genetik tidak inbreeding / tidak sedarah atau ada hubungan keluarga.

Pemilihan induk ikan  yang baik merupakan persyaratan yang krosial dalam kegiatan pembenihan ikan, hal ini dikarenakan dari hasil seleksi yang kurang baik maka benih yang akan dihasilkan juga tidak akan baik.

Induk ikan lele yang bersifat unggul akan mempengaruhi kualitas benih yang dihasilkan. Banyak sekali pembenih ikan melakukan pemijahan dengan menggunakan induk yang tidak jelas asal usulnya  sehingga dimungkinkan terjadinya perkawinan sekerabat(Inbreeding) yang beresiko menuruni sifat resesif dari induknya yang bersifat merusak kualitas benih, diantaranya pertumbuhan benih yang dihasilkan lambat serta rentan terhadap serangan penyakit sehingga mengakibatkan kualitas benih yang dihasilkan jauh dari standar. Induk ikan lele yang digunakan sebaiknya tidak mengalami kelainan fisik maupun dari satu keturunan. Umur dan ukuran dari induk ikan lele sebaiknya berbeda untuk lebih memastikan keturunan dari induk dalam kegiatan pembenihan, maka sebaiknya dilakukan seleksi terhadap induk yang bersifat unggul sehingga hanya induk-induk produktif saja yang dipelihara sehingga dapat menekan biaya perawatan induk karena untuk merawat induk diperlukan biaya pakan dan lain-lain yang tidak sedikit.

Berikut ini ciri – ciri induk yang sudah memasuki usia untuk pemijahan

Adapun ciri-ciri induk ikan lele yang baik adalah sebagai berikut :

  • Organ tubuh lengkap dan normal
  • Umur induk betina  mencapai 1,5 tahun
  • Umur induk jantan mencapai 1 tahun
  • Bobot induk minimal 1 kg
  • Betina tubuh gemuk tidak berlemak
  • Jantan bertubuh langsing dan rongga perut tidak berlemak
  • Alat kelamin normal dan kemerah-merahan
  • Selama perawatan FCR rendah

Untuk mengetahui induk yang siap untuk dipijahkan,berikut ini ciri-ciri induk ikan lele yang baik :

Induk Betina :

  • Perut membesar dan lembek
  • Gerakan agak lambat dan jinak
  • Alat kelamin bulat, berwarna kemerahan dan tampak membesar
  • Warna tubuh secara umum menjadi coklat kemerahan
  • Warna sirip cenderung kemerahan
  • Bila perut diurut kearah alat kelamin akan keluar cairan telur

aa.PNG

Beberapa ciri – ciri Induk Matang gonad secara morfologi (Siap memijah) :

Induk Betina :

  • Perut membesar dan lembek
  • Gerakan agak lambat dan jinak
  • Alat kelamin bulat, berwarna kemerahan dan tampak membesar
  • Warna tubuh secara umum menjadi coklat kemerahan
  • Warna sirip cenderung kemerahan
  • Bila perut diurut kearah alat kelamin akan keluar cairan telur

Induk Jantan :

  • Tubuh gemuk ramping
  • Gerakan lincah dan lebih gesit
  • Alat kelamin runcing dan mencapai sirip anus
  • Warna sirip cenderung kemerahan

Setelah dilakukan seleksi induk siap pijah langkah selanjutnya adalah sebagai berikut :

  • Induk dimasukkan dalam wadah terpisah dan dipuasakan
  • Untuk induk betina dilakukan pengecekan tingkat kematangan telur dengan menggunakan kateter (selang kanulasi)

  • Letakkan telur yang diperoleh diatas cawan petri atau diatas kulit, jika telur terpisah satu dengan yang lainnya maka siap untuk dipijahkan

  • Ciri-ciri telur yang siap pijah ukuran seragam dan kuning telur menepi
  • Ciri-ciri sperma siap pijah berwarna putih kental dan pH sperma 6,5 – 7,5
  • Tempatkan induk kedalam wadah dan siap untuk dipijahkan.

Sumber : http://www.bppp-tegal.com

 

Pemeliharaan telur dan Larva

Induk ikan lele yang telah memijah akan mengeluarkan telurnya pada keesokan harinya. Stadia telur merupakan output dari aktivitas pemijahan ikan, dimana pada saat menetas berubah menjadi stadia larva. Telur ikan lele bersifat melekat (adesif) kuat pada substrat, karena telur ikan lele tersebut memiliki lapisan pelekat pada dinding cangkangnya dan akan menjadi aktif ketika terjadi kontak dengan air, sehingga dapat menjadi rusak/koyak ketika dicoba untuk dicabut. Kekuatan pelekatan tersebut akan menjadi berkurang sejalan dengan perkembangan telur (embriogenesis) hingga menetas. Oleh karena itu, untuk mengurangi faktor kerusakan/kegagalan telur dalam proses penetasan, induk ikan lele yang telah memijah diangkat dan dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan induk kembali.

pemeliharaan larva ikan lele

Telur- telur ikan lele yang telah terbuahi ditandai dengan warna telur kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur-telur yang tidak terbuahi berwarna putih pucat atau putih susu. Lama waktu perkembangan hingga telur menetas menjadi larva tergantung pada jenis ikan dan suhu. Pada ikan lele, membutuhkan waktu 18-24 jam dari saat pemijahan.

Penyesuaian Kondisi Suhu

Selain oksigen, faktor kualitas air yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan penetasan telur adalah suhu. Sampai batas tertentu, semakin tinggi suhu air media penetasan telur maka waktu penetasan menjadi semakin singkat. Akan tetapi, telur menghendaki suhu tertentu (suhu optimal) yang memberikan efisiensi pemanfaatan kuning telur yang maksimal, sehingga ketika telur menetas diperoleh larva yang berukuran lebih besar dengan kelengkapan organ yang lebih baik dan dengan kondisi kuning telur yang masih besar. Pada ikan lele, suhu optimum yang baik untuk penetasan telur adalah sekitar 29-31o C.

Penyediaan Oksigen Terlarut

Selama proses penetasannya, telur-telur tersebut membutuhkan suplai oksigen yang cukup. Oksigen tersebut masuk ke dalam telur secara difusi melalui lapisan permukaan cangkang telur. Kebutuhan oksigen optimum untuk kegiatan penetasan telur ikan lele adalah > 5 mg/L. Oksigen tersebut dapat diperoleh melalui beberapa cara, yaitu (1) memberikan aerasi dengan bantuan aerator; (2) menciptakan arus laminar dalam media penetasan telur; (3) mendekatkan telur kepermukaan air, karena kandungan oksigen paling tinggi berada dibagian paling dekat dengan permukaan air. Selain oksigen, untuk keperluan perkembangan, diperlukan energy yang berasal dari kuning telur (yolk sac) dan kemudian butir minyak (oil globule). Oleh karena itu, kuning telur terus menyusut sejalan dengan perkembangan embrio. Energi yang terdapat dalam kuning telur berpindah ke organ tubuh embrio.

Pencegahan Serangan Penyakit pada Telur

Telur- telur ikan lele akan menetas dalam waktu 18-24 jam setelah pemijahan terjadi. Embrio terus berkembang dan membesar sehingga rongga telur menjadi sesak olehnya dan bahkan tidak sanggup lagi mewadahinya, maka dengan kekuatan pukulan dari dalam oleh pangkal sirip ekor, cangkang telur pecah dan embrio lepas dari kungkungan menjadi larva. Pada saat itu telur menetas menjadi larva. Untuk memperlancar proses penetasan, air sebagai media penetasan telur diusahakan terbebas dari mikroorganisme melalui beberapa upaya, yaitu (1) mengendapkan air untuk media penetasan telur selama 3-7 hari sebelum digunakan; (2) menambahkan zat antijamur seperti methylen blue, kedalam media penetasan; (3) menyaring dan menyinari air yang akan digunakan untuk penetasan dengan menggunakan sinar ultraviolet (UV); (4) menggunakan air yang bersumber dari mata air atau sumur. Setelah semua telur menetas, maka untuk menghindari adanya penyakit akibat pembusukan telur yang tidak menetas, kakaban/substrat tempat pelekatan telur ikan lele diangkat dari wadah penetasan dan untuk memperbaiki kualitas air pemeliharaan larva, maka dilakukan pergantian air sebanyak ¾ dari volume wadah. Pergantian air dimaksudkan untuk mengembalikan kondisi air menjadi baik, sehingga layak dijadikan sebagai media pemeliharaan larva.

Pengelolaan Kualitas Air Larva

Larva yang telah menetas biasanya berwarna hijau dan berkumpul didasar bak penetasan. Untuk menjaga kualitas air, maka sebaiknya selama pemeliharaan dilakukan pergantian air setiap 2 hari sekali sebanyak 50-70 %. Pergantian air ini dimaksudkan untuk membuang kotoran, seperti sisa cangkang telur atau telur yang tidak menetas dan mati. Kotoran-kotoran tersebut apabila tidak dibuang akan mengendap dan membusuk di dasar perairan yang menyebabkan timbulnya penyakit dan menyerang larva. Pembuangan kotoran tersebut dilakukan secara hati-hati agar larva tidak stress atau tidak ikut terbuang bersama kotoran.

Pemberian Pakan Larva

Larva ikan lele hasil penetasan memiliki bobot minimal 0,05 gram dan panjang tubuh 0,75-1 cm, serta belum memiliki bentuk morfologi yang definitif (seperti induknya). Larva tersebut masih membawa cadangan makanan dalam bentuk kuning telur dan butir minyak. Cadangan makanan tersebut dimanfaatkan untuk proses perkembangan organ tubuh, khususnya untuk keperluan pemangsaan (feeding), seperti sirip, mulut, mata dan saluran pencernaan. Kuning telur tersebut biasanya akan habis dalam waktu 3 hari, sejalan dengan proses perkembangan organ tubuh larva. Oleh karena itu, larva ikan lele baru akan diberi pakan setelah umur 4 hari (saat cadangan makanan didalam tubuhnya habis). Pakan yang diberikan berupa pakan yang memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva agar larva ikan lebih mudah dalam mengkonsumsi pakan yang diberikan, pakan ikan juga bergerak sehingga mudah dideteksi dan dimangsa oleh larva, mudah dicerna dan mengandung nutrisi yang tinggi. Salah satu contoh pakan yang diberikan pada saat larva ikan lele tersebut berumur 4 hari adalah emulsi kuning telur. Pada saat lele berumur 6 hari, maka dapat diberikan pakan berupa Daphnia sp (kutu air), Tubifex sp (cacing sutra) atau Artemia sp. Pakan tersebut diberikan secara adlibitum dengan frekuensi 5 kali dalam sehari dan agar tidak mengotori air pemeliharaan, maka diusahakan tidak ada pakan yang tersisa.

Jadwal Pemberian Pakan Larva Lele

  • Emulsi kuning telur: Hari ke 4-5
  • Artemia sp: Hari ke 6-13
  • Daphnia sp: Hari 12-17
  • Tubifex sp: Hari 17-21

sumber : http://www.bibitikan.net