LAPORAN

SELEKSI IKAN

HIBRIDISASI

 

 

 

Disusun Oleh:

Nama           : ELFIAN PERMANA

NIM             : D41121609

 

 

PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA IV

MANAJEMEN AGROINDUSTRI

PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN

TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) PERTANIAN

Kerjasama Dengan

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2013

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang


Budidaya ikan yang baik adalah memperoleh pertumbuhan ikan yang cepat dan daya tahan yang bagus untuk mencegah terjadinya penyakit menyerang ikan tersebut. Dalam pertumbuhan yang cepat akan meringgankan biaya pakan. Ikan yang baik Pada dasarnya ikan mengalami pertumbuhan secara terus – menerus, baik pertumbuhan bobot dan panjang serta gonadnya. Untuk mencapai pertumbuhan yang cepat dapat dilakukan dengan nutrisi pada pakan dan seleksi ikan.

Seleksi ikan dapat melakukan Proses hibrdisasi diantaranya dan merupakan perkawinan anatara individu yang berbeda atau persilangan (Gusrina, 2003). antar jenis (dalam satu famili), atau antar strain yang bertujuan untuk mendapatkan benih hibrida yang lebih cepat pertumbuhannya dari pada kedua induknya (hibrid vigor) dan menurut Waynorovich dan Horvarth (1980) Perolehan ikan hybrid sangat bergantung pada karakter dari induk. Kromosom yang heterozigot membuat ikan menjadi pertumbuhan cepat, daya tahan tubuh kuat, menghasilkan dengan menghasilkan perbaikan dan peningkatan kelangsungan hidup.

Dalam hal ini proses hibridisasi sangat menguntukan dengan pertumbuhan cepat sehingga dapat meringgankan anggaran untuk biaya pakan ikan tersebut dan penanganan mudah dalam proses hibridisasi. Oleh karena itu dengan program hibridisasi dapat memudahkan dan menguntungkan produksi budidaya ikan.

1.2  Tujuan

  • Menganalisis perkembangan ketidakstabilan organism dan dapat menentukan apakah organisme tersebut bersifat homozigot atau heterozigot.
  • Meningkatkan keragaman genetik.
  • Mahasiswa mampu melakukan program hibridisasi.
  • mendapatkan kombinasi hibrid yang unggul dalam pertumbuhan dan kombinasi hibrid

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifkasi Ikan Nila        

Klasifikasi ilmiah

 

 Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Osteichtyes
Ordo: Perciformes
Famili: Cichlidae
Genus: Oreochromis
Spesies: Oreochromis niloticus
Nama binomial
Oreochromis niloticus
1. Ikan Nila

 

 

Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia sekaligus hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.

Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ikan nila yang masih kecil belum tampak perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50 gram, dapat diketahui perbedaan antara jantan dan betina. Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di samping lubang anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih gelap, dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh, sedangkan yang betina biasanya pada bagian perutnya besar.

2.1.1 Nila merah

 

Menurut klasifikasinya, nila merah (Oreochromis sp.) termasuk kedalam Ordo Percomorphi, Famili Cichlidae dan Genus Oreochromis. Ikan ini berkembangbiak dengan cara mengerami telur dan mengasuh anaknya dalam mulut (maternal mouth brooders).

Nila merah merupakan salah satu jenis ikan air tawar hasil persilangan antara Oreochromis mossambicus albino yang berwarna merah oranye dengan Oreochromis niloticus atau Oreochromis aureus. Nila merah yang kita kenal biasanya mempunyai warna tubuh kemerah-merahan atau kuning keputih-putihan.

 

Dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, nila merah mempunyai beberapa kelebihan untuk dibudidayakan. Kelebihan tersebut antara lain pertumbuhannya cepat, mudah berkembangbiak, tahan terhadap penyakit, mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan dan mempunyai prospek pemasaran yang cukup baik. Disamping itu ikan ini juga mempunyai warna yang menarik, cenderung untuk memakan semua makanan yang tersedia di sekitarnya dan keturunannya dominan berjenis kelamin jantan. Kelebihan lainnya yaitu warna daging putih, rasa daging enak, gurih dan lezat serta hanya terdapat sedikit tulang, itulah sebabnya ikan ini sudah banyak diekspor ke luar negeri dalam bentuk fillet beku.

Nila merah yang sudah dewasa dapat dibedakan dengan mudah antara yang jantan dengan betina. Nila merah jantan mempunyai bentuk tubuh yang relatif tinggi, lubang genital hanya satu yang berupa tonjolan agak meruncing yang berfungsi sebagai alat pengeluaran urine dan sperma. Sedangkan nila merah betina mempunyai bentuk tubuh yang lebih rendah dan mempunyai dua lubang genital yang berupa tonjolan agak membundar. Kedua lubang genital tersebut masing-masing berfungsi untuk mengeluarkan urine dan telur.

Nila merah jantan mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dan dapat mencapai ukuran yang lebih besar bila dibandingkan dengan yang betina. Hal ini disebabkan karena nila merah jantan lebih agresif dan rakus bila dibandingkan dengan yang betina, sehingga dalam persaingan untuk mendapatkan makanan yang jantan selalu menang. Selain itu, proses kematangan seksual nila jantan lebih lambat daripada yang betina sehingga energi yang diperoleh sepenuhnya dapat digunakan untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, pembudidayaan nila merah jantan secara tunggal kelamin merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi budidaya.

 

2.2. Hibridisasi

Hibridisasi merupakan program persilangan yang dapat diaplikasikan pada ikan, udang, kerang-kerangan maupun rumput laut. Hasil dari program ini dapat menghasilkan individu-individu yang unggul, kadang-kadang ada juga yang steril dan dapat menghasilkan strain baru (Rustidja, 2005). Hibridisasi akan mudah dilakukan apabila dapat dilakukan reproduksi buatan seperti halnya ikan mas dan ikan nila, dimana dapat dilakukan striping telur dan sperma. Selain itu ada defenisi lain dari hibridisasi yang sebenarnya tidak jauh berbeda. Hibridisasi adalah perkawinan antara spesies yang berbeda. Hibridisasi atau persilangan merupakan suatu upaya untuk mendapatkan kombinasi antara populasi yang berbeda untuk menghasilkan keturunan yang memiliki sifat unggul (gusrina, 2003). Menurut tave (1993) hibridisasi dapat memperbaiki produktivitas oleh karena ekpoitasi variasi dominan adalah keragaman genetik yang dihasilkan oleh interaksi masing – masing alel dan lokus. Genotif – genotif tersebut terpisah pada miosis dan disusun kembali secara acak pada waktu penyatuan gamet. Karena bentuk keragaman genetic ini tergantung pada interaksi hal ini akan menggangu selama meosis dan tidak dapat transmisikan dari induk kepada keturunananya. Meosis berlangsung pada saat pembentukan gamet dari sel induk akan diperoleh empat sel turunan (tetrad) yang menggandung kromosom dengan jumlah yang dikandung oleh sel induknya. Dalam satu bivalen dua komarid tidak bersaudara dapat saling bertukar ruas satu dengan yang lain , yang disebut pindah silang dalam bentuk kombinasi baru (rekombinasi) pada saat pembentukan turunan – turunan persilangan sehingga sehingga diperoleh keragaman penotife.pada program perkembang biakan silang kombinasi induknya menghasilkan kombinasi dari alelnya yang akan berinteraksi pada keturunannya dan dengan demikian akan memperbaiki produktifitasnya sehingga diperlukan

2.2.3 Manfaat hibridisasi

Hibridisasi merupakan jalan untuk memperbaiki produktifitas yang bermanfaat untuk menghasilkan produk yang seragam dan juga dapat menghasilkan populasi yang monoseks (tave,1993) . hibridisasi mempunyai tujuan memperbaiki kualitas benih , seperti mebaikan terhadap laju pertumbuhan , penundaan, kematangan gonad, meningkatkan ketahanan penyakit dan lingkungan yang kurang baik..

2.2.4 Tahap hibridasi

  1. Pengelolaan Induk

Induk yang digunakan dalam kegiatan terlebih dahulu diseleksi berdasarkan jenis kelamin jantan dan betina. Induk jantan dan betina hasil seleksi ditempatkan dalam bak beton secara terpisah. Induk hasil seleksi dipelihara selama 10 hari untuk pematangan gonad. Pakan yang diberikan selama pematangan gonad berupa pellet dengan kandungan protein 26‐28 % dengan dosis 3%/bobot biomas/hari.

  1. Hibridisasi

Proses hibrid dilakukan dalam bak pemijahan. Ikan nila yang dihibrid adalah strain Chitralada dengan Aureus dan nila merah albino dengan nila putih. Pakan yang diberikan terhadap induk yang dipijahkan adalah pellet dengan kandungan protein 28% dengan dosis 3%/bobot biomas/hari. Pemanenan larva hasil pemijahan dilakukan setiap 10‐15 hari sekali. Larva yang diperoleh diseleksi (grading) untuk mendapatkan ukuran yang relatif seragam.

 

  1. Pendederan I

Pendederan I dilakukan dalam hapa ukuran 2x2x1 m dengan padat tebar 500 ekor/m2. Lama pemeliharaan dalam pendederan I adalah 30 hari. Dosis pemberian pakan dalam pendederan I dengan dosis 20%/ bobot biomas/hari.

  1. Pendederan II dan III

Wadah yang digunakan adalah hapa hitam berukuran 2x2x1 m. Menebarkan benih dengan kepadatan 125 ekor/m3. Pemeliharaan benih di P II dan P III masingmasing selama 60 hari. Dosis pemberian pakan adalah 10%/bobot biomas/hari untuk 30 hari pertama dan 5%/bobot biomas/hari untuk 30 hari kedua dengan frekuensi tiga kali/hari.

  1. Pembesaran

Wadah yang digunakan adalah keramba jaring apung yang terletak di waduk Cirata, Cianjur. Padat tebar untuk kegiatan pembesaran dengan kepadatan 50 ekor/m3. Pemberian pakan selama pembesaran menggunakan dosis 3‐4 %/bobot biomas/hari. Frekuensi pemberian pakan adalah tiga kali/hari. Mendata parameter kelangsungan hidup (%), FCR dan laju pertumbuhan.

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

3.1. Waktu dan tempat

Pelaksanaan praktikum Hibridisasi dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 25 Juli 2013, dimulai dari pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, PPPPTK Pertanian vedca cianjur, Jawa  barat.  .

3.2.      Alat dan bahan

3.2.1.   Alat

No Alat Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Seser Diameter  40 cm 2 Untuk menangkap ikan
2. Hapa Jaring Kubus 1 Untuk pembatas ikan bergerak
3. Ember Diameter 30 cm 2 Untuk penampungan sementara ikan

 

2.2.1.  Bahan

No Bahan Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Ikan nila merah Jantan Ikan yang matang gonad 1 Bahan Hibridisasi
2. Ikan nila hitam betina Ikan yang matang gonad 2 Bahan Hibridisasi

 

 

 

 

3.3.2    Hibridisasi

  • Siapkan Alat dan Bahan.
  • Pasang Hapa pada kolam dan pilih ikan yang ingin dihibridisasi.
  • Masukan ikan yang sudah di hibridisasi.
  • Tunggu ikan sampai sudah memijah dan mengeluarkan telur.
  • Ambil telur ke aquarium dan keluarkan telur dari mulut induk nila.
  • Pasang aerasi.
  • Amati hasil anak dari ikan nila tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN KESIMPULAN

4.1. Hasil

Merah Hitam
Merah MM Mm
Hitam Mm mm

 

 

 

 

 

 

 

Menghasilakan 6 ekor ikan nila.

Merah         : 2 ekor.

Hitam          : 4 ekor.

 

4.2. Pembahasan

Ikan nila yang di dapatkan dari hapa hanya berjumlah 6 ekor nila, hal ini diakibatkan karena telatnya penangana pasca pemindahan telur dari mulutnya akibatnya telur mengalami penetasan terlebih dahulu di dalam mulut ikan nila tersebut.  Hasil yang didapatkan 6 ekor nila, terdiri dari 2 ekor merah dan 4 ekor nila hitam,   hal ini dikarenakan akibat pasca pemijahan akibat penanganan induk yang kurang baik akibatnya induk ikan menjadi stress dan pemijahan ikan tidak bisa di prediksi dikarenakan induk ikan yang tak kunjung mau memijah , yang kedua faktor ikan di luar hapa yang sering menggangu ikan nila yang sedang memijah sehingga ikan nila terganggu akibat ikan yang diluar hapa yang ketiga gagalnya penentuan dan pengamatan kapan ikan tersebut sudah menelur menjadi kendala ikan nila tersebut sudah menetas di dalam mulut ikan tersebut.

Proses hibrdisasi imerupakan perkawinan antar jenis (dalam satu famili), atau antar strain yang bertujuan untuk mendapatkan benih hibrida yang lebih cepat pertumbuhannya daripada kedua induknya (hibrid vigor) dan menurut Waynorovich dan Horvarth (1980) Perolehan ikan hybrid sangat bergantung pada karakter dari induk. Hibridisasi antara nila merah hitam dengan nila merah untuk mendapatkan informasi pola pertumbuhan dan pola warna pada hibridanya. Hibridsasi intervaritas adalah mempersilangkan antara induk jantan dan induk betina yang berasal dari spesies yang sama namun minimal memiliki dua karakter fenotipe tampilan morfologi yang berbeda (Kirpichnikov, 1981). Disamping itu juga memiliki fungsi meningkatkan keragaman genetik, memungkinkan untuk menghasilkan nila merah jika di silangkan kembali dengan nila hitam serta memungkinkan untuk meningkatkan pola pertumbuhan melalui efek heterosis.

Penggunaan nila merah dan hitam menghasilkan Hasil yang didapatkan Hasil yang didapatkan 6 ekor nila, terdiri dari 2 ekor merah dan 4 ekor nila hitam. Jika di jadikan pengambilan sample 6 ekor dapat diansumsikan nila merah ( 66,7 %) dan nila hitam ( 33,3 %). Seperti menurut Kirpichnikov (1981), menyatakan bahwa perbedaan yang` paling menonjol yang digunakan dalam hibridisasi intervaritas adalah perbedaan warna, bentuk, ukuran dan kelengkapan biologis lain yang melekat pada organ tubuh.

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 5.1. Kesimpulan

Penanganan yang kurang baik dapat mengakibatkan kegagalan dalam proses hinbridisasi terutama dalam pengamatan, pasca penanganan pada saat seleksi induk dan proses penimbangan agar ikan tersebut tidak stress dan menentukan keberhasilan hibridisasi. . Jika di jadikan pengambilan sample 6 ekor dapat diansumsikan nila merah ( 66,7 %) dan nila hitam (33,3 %). Disamping itu juga memiliki fungsi meningkatkan keragaman genetik, memungkinkan untuk menghasilkan nila merah jika di silangkan kembali dengan nila hitam serta memungkinkan untuk meningkatkan pola pertumbuhan melalui efek heterosis.

  5.2. Pesan

Dalam proses penanganan budidaya ikan harus dilakukan dengan baik dan benar terutama saat penanganan induk yang dipijahkan agar tidak menyebabkan ikan menjadi stress  dan luka untuk memperoleh keturunan yang baik.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Finfishes. A manual Extension. Food and Agriculture. Organitation of the United Nation.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,

http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_nila

http://sebenaghau.blogspot.com/2009/04/nila-merah-oreochromis-sp.html

Kirpichnikov. 1981. Genetic Bases of Fish Selection. springer verlag berlin helde bang new York.

Rustidja 2005. Breedeng dan reproduksi hewan air pemijahan ikan-ikan tropis. Universitas Briwijaya. Malang.

Woynarovich E. dan Horvath L. 1980. The Artificial Proagation of Warm Water