LAPORAN SELEKSI IKAN

POLIPLOIDISASI

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Nama           : ELFIAN PERMANA

NIM             : D41121609

 

 

 

 

PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA IV

MANAJEMEN AGROINDUSTRI

PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN

TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) PERTANIAN

Kerjasama Dengan

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2013

BAB I
PENDAHULAUAN

  • Latar belakang

Semakin banyaknya permintaan masyaraakan terhadap ikan konsumsi membuat para pembudidaya berfikir panjang untuk memproduksi banyak ikan untuk memenuhi permintaan ikan tersebut. Ikan lele memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap peningkatan produksi perikanan budidaya. Pada rentang tahun 2007 – 2011 saja, peningkatan rata-rata produksi lele hampir mencapai 40% per tahun dan pada tahun 2011 produksinya mencapai 340 ribu ton. Dalam dunia perikanan yang luas ini banyak hal yang dilakuakan untuk menghasilkan ikan yang banyak dan biaya murah hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan seleksi ikan yang benar dan baik untuk memperoleh produksi yang cepat.

Seleksi ikan akan menghasilakan ikan yang bermutu diantaranya daya tahan terhadap penyakit dan pertumbuhan ikan yang cepat. Seleksi ikan bisa menggunakan proses poliplodisasi dan  Triploidisasi merupakan salah satu bagian dari ploidisasi dengan proses atau kejadian terbentuknya individu dengan kromosom lebih dari dua set. Triploidisasi telah dilakukan dan digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.

Dalam hal ini triploidisi memiliki keuntungan yaitu  dapat mengontrol overpopulate, membuat populasi monosex, memacu pertumbuhan dan kelulushidupan serta memiliki pertumbuhan lebih cepat dari diploid, karena energi yang dipergunakan untuk perkembangan gonad pada diploid dipergunakan untuk pertumbuhan somatik pada triploid (Thorgaard, 1983). Pertumbuhan cepat ini akan memproduksi ikan lebih cepat dibandingan dengan ikan yang tanpa perlakukan (normal) .

1.2 Tujuan

  • Mahasiswa dapat mempraktekan poliplodisasi ( triploid dan tetraploid ) dalam produksi budidaya.
  • Untuk mempelajari teknik poliploidisasi dengan kejutan panas.
  • Mengamati secara visual dengan mata proses perubahan telur.

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Siluriformes
Famili: Clariidae
Genus: Clarias
  • Ikan Lele

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lele atau ikan keli, adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki “kumis” yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya. Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.

Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan. Walaupun biasanya lele lebih kecil daripada gurami umumnya,namun ada beberapa jenis lele yang bisa mencapai panjang 1-1,5 m dan beratnya bisa mencapai lebih dari 2 kg,contohnya lele Wels dari Amerika.

 

  • Poliploidisasi

 

Rekayasa genetik merupakan salah satu aplikasi dalam peningkatan produksi perikanan terutama dalam usaha budidaya. Dalam perkembangannya rekayasa genetik dapat dilakukan dengan poliploidisasi. Poliploidisasi adalah usaha, proses atau kejadian yang menyebabkan individu berkromosom lebih dari satu set (Rieger et al., 1976).

Peningkatan produksi budidaya perairan dapat diusahakan melalui beberapa pendekatan, yaitu manipulasi lingkungan, manipulasi genetik dan kombinasi antara keduanya. Rekayasa set kromosom, seperti poliploidisasi merupakan salah satu pendekatan manipulasi genetik yang dapat diterapkan pada ikan. Secara umum, ikan poliploid yang potensial untuk dikembangkan adalah yang memiliki tiga set kromosom atau triploid. Dengan tiga set ini, ikan triploid memungkinkan untuk menjadi steril. Hal ini penting terutama dalam usaha budidaya ikan yang memiliki kematangan gonad yang sangat cepat sehingga pertumbuhan ikan tersebut akan menjadi lambat.

Poliplodisasi merupakan salah satu rekayasa kromosom, dimana pada organisme yang normal mempunyai kromosom yang selalu berpasangan pada sel tubuhnya yang disebut dengan diploid (2N), tetapi dengan perlakuan tertentu akan dihasilkan organisme yang kromosomnya lebih dari dua set yaitu menjadi triploid (3N) atau tetraploid (4N). dibawah ini merupakan suatu contoh skema proses poliploidisasi yang tegaskan oleh Sumantadinata (2006).

Skema proses poliploidisasi pada ikan (Sumantadinata, 2006) Poliploidisasi merupakan salah satu metode manipulasi kromosom untuk perbaikan dan peningkatan kualitas genetik ikan guna menghasilkan benih-benih ikan yang mempunyai keunggulan, antara lain: pertumbuhan cepat, toleransi terhadap lingkungan dan resisten terhadap penyakit. Induksi poliploid dalam budidaya ikan sangat menarik perhatian masyarakat petani ikan maupun para peneliti di bidang perikanan. Poliploidisasi pada ikan dapat dilakukan melalui perlakuan secara fisik seperti melakukan kejutan (shocking) suhu baik panas maupun dingin, pressure (hydrostatic pressure) dan atau secara kimiawi untuk mencegah peloncatan polar body II atau pembelahan sel pertama pada telur terfertilisasi (Thorgaard, 1983; Yamazaki, 1983; Carman et al., 1992; Shepperd dan Bromage, 1996).

Thorgard (1983) menjelaskan, pendekatan praktis untuk induksi poliploidisasi melalui kejutan panas merupakan perlakuan aplikatif sesaat setelah fertilisasi (untuk induksi triploidi) atau sesaat setelah pembelahan pertama (untuk induksi tetraploidi) pada suhu lethal. Kejutan suhu selain murah dan mudah juga efisien dapat dilakukan dalam jumlah banyak (Rustidja, 1991).

Kejutan panas merupakan teknik perlakuan fisik yang paling umum digunakan untuk menghasilkan poliploidi pada ikan Don dan Avtalion (1986). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perlakuan untuk menghasilkan poliploidisasi pada ikan juga mempengaruhi laju penetasan, abnormalitas, kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan ikan. Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam perlakuan kejutan suhu pada telur, yaitu waktu awal kejutan, suhu kejutan dan lama kejutan (jelas sangat rendah daya hidupnya, tetapi Don dan Avtalion, 1986). Nilai parameter tersebut berbeda untuk setiap spesies (Pandian dan Varadaraj, 1988).

Dibawah ini merupakan tabel hasil dari penelitian oleh para ilmuan tentang poliploidisasi

Jenis ikan Jenis kejutan Lama kejutan dan awal kejutan Hasil
Ikan mas koki Suhu 42 oC 2 menit, 5 menit fertilisasi 80 % Triploid
Ikan mas 38 – 40 oC 1,5 – 3 menit, 3 menit fertilisasi 72 % Trploid
Ikan lele Suhu 36 oC 1,5 menit, 1,5 – 4,5 menit fertilisasi 84 – 96 % Triploid
Ikan salmon Suhu 32 oC 5 menit, 5 menit fertilisasi 100 % Triploid

 

Tave (1993) melaporkan, triploidisasi akan menyebabkan peningkatan pertumbuhan dan sterilitas. Ukuran sel ikan triploid lebih besar dibandingkan dengan diploid, nukleus berisi 33 persen lebih allel untuk pertumbuhan dan energi untuk pertumbuhan produksi gamet berkurang atau terhambat. Ikan triploid mempunyai gonadosomatic index yang lebih rendah bila dibandingkan dengan diploid (Mair, 1993).

 

2.2.1 Manfaat Poliplodisasi

Keuntungan triploid adalah dapat mengontrol overpopulate, membuat populasi monosex, memacu pertumbuhan dan kelulushidupan serta memiliki pertumbuhan lebih cepat dari diploid, karena energi yang dipergunakan untuk perkembangan gonad pada diploid dipergunakan untuk pertumbuhan somatik pada triploid (Thorgaard, 1983). Tetraploid terlihat dapat dibesarkan untuk kematangan kelamin dan dipergunakan dalam memproduksi ikan triploid melalui persilangan dengan diploid normal dan androgenetik pada telur-telur yang diradiasi dengan sinar-γ (Purdom, 1993 dan Santiago et al., 1993). Valenti (1975) dalam Thorgaard (1983) menemukan beberapa kemungkinan tetraploid di antara telur Tilapia aurea yang diperlakukan dengan kejutan dingin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
MEDODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat

Pelaksanaan praktikum Poliploidisasi dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 26 September 2013, dimulai dari pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, PPPPTK Pertanian vedca cianjur, Jawa  barat

 

3.2 Alat dan bahan

No Alat Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Seser Diameter  40 cm 2 Untuk menangkap ikan
2. Aquarium 18 m2 2 Untuk penetasan telur
3. Mangkuk Diameter 15 cm 2 Untuk penampungan sementara Telur dan sperma
4. Kertas / tissue     Untuk membersihkan atau mengeringkan
5. Box UV   1 Penyinaran sperma
6. Bulu ayam   1 Pengadukan sperma dan telur
7. Aerator   2 Penambahan oksigen
 

8.

 

Kaca 10 x 10 cm 8 Penempelan telur
No Bahan Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Ikan Lele Betina Ikan yang matang gonad 1 Pengambilan telur
2. Ikan lele jantan Ikan yang matang gonad 1 Pengambilan sperma
3. Larutan fisilogis   99 cc Memperkuat daya tahan sperma dan telur
4. Ovavrim   1 ml Mempercepat ovulasi dan penggambilan sperma

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3. Langkah kerja

  1. Ambil satu petridisk, masing-masing petridisk diisi dengan ketebalan 1mm larutan sperma.
  2. Kemudian masukkan satu sendok kecil sel telur ke dalam larutan sperma tersebut.
  3. Lalu aduk hingga rata
  4. Lalu dengan segera masukkan campuran telur dan sperma tersebut ke dalam saringan atau kain saring.
  5. Kemudian apungkan ke dalam bak.
  6. Diamkan selama dua menit.
  7. Angkat saringan, kemudian masukkan ke dalam heat shock selama dua menit dengan suhu 39-400C
  8. Setelah itu, angkat dan masukkan ke dalam akuarium yang telah diberi aerasi.
  9. Diamkan selama beberapa waktu.
  10. Ambil beberapa butir telur yang telah dibuahi, letakkan dalam objek glass.
  11. Amati setiap perubahan fase di bawah mikroskop
  12. Gambar setiap perubahan fase pada telur.

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

     Hasil praktikum poliploidisasi telur tidak menetas dan mengalami kerusakan telur.

 

4.2 Pembahasan

Poliploidisasi merupakan salah satu rekayasa kromosom dimana pada umumnya makhluk hidup mempunyai dua pasang kromosom normal atau disebut diploid (2 N), dengan dilakukan suatu perlakuan tertentu maka dapat kromosom tersebut bisa menjadi triploid (3N) dan tetraploid (4N). Oleh sebab itu kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan suatu stren yang lebih unggul dan mempunyai pertumbuhan lebih cepat. Kegiatan rekayasa kromosom ini diterapkan pada ikan lele.

kegiatan poliploidisasi diawali dengan penyuntikan induk betina dengan dosis ovaprim 0,2 cc/kg dan pengenceran menggunakan aquadest 2 kali lipat dari dosis ovaprim. Pada saat setelah penyuntikan, pagi harinya terjadi  induk lele jantan dimana didapatkannya terjadi kerusakan pada tubuhnya peyebab diperkirakan akibat saling menggigit ikan lele tersebut, Selanjutnya kegiatan pengambilan kantong sperma dimana pada saat pengambilan dilakukan dengan menggunakan gunting bedah, sperma yang sudah diambil lalu dipotong-potong menggunakan gunting dan encerkan menggunakan larutan fisiologis. Larutan fisologis ini berfungsi untuk mengencerkan sperma dan sperma akan lebih tahan lama.

Kegiatan selajutnya pengambilan telur, pengambilan ini dilakukan dengan cara striping (pengurutan), hasil stripingan tersebut ditempatkan pada mangkok plastik dengan ketentuan mangkok tersebut tidak terdapat air, karna jika terdapat air akan menyebabkan telur tersebut akan menjadi cepat mati. Fertilisasi dilakukan setelah telur dan sperma disiapkan, fertilisasi tersebut dilakukan dengan cara pencampuran antara keduannya selanjutnya tetesi sedikit larutan fisologis agar tidak kental dan sperma mudah masuk ke lubang mikrofil serta aduk secara berlahan-lahan menggunakan bulu ayam.

Penebaran telur fertil dilakukan bertujuan untuk menetaskan telur tersebut, karna kegiatan ini bertujuan untuk mengubah kromosom menjadi 3N atau 4 N maka sebelum penebaran telur diberi perlakuan dengan cara direndam menggunakan air bersuhu panas, suhu yang digunakan 40 o C. perendaman dilakukan hanya 2 menit selanjutnya telur langsung ditebar di akuarium. Dalam pengelolaan kualitas air penetasan kelompok kita mengalami tdak menggunakan heater sehingga suhu yang terdapat pada akuarum penetasan 25 – 27 oC. Penetasan telur lele terjadi ± 24 jam.

Ketika sudah 24 jam lebih telur tidak menetas diindikasikan penyebabnya adalah penanganan dalam memfirlilisasi telurnya terlalu lama dalam udara bebas , ada yang sudah tercampur air pada saat telur keluar dari induknya dan pengaturan suhu yang tidak pas pada saat menuangkan air panas yang suhu ± 100 oC yang telebih dahulu airnya menyentuh telur sebelum tercampur air dikarenakan baskom yang pendek dari permukaan air ke baskom membuat telur tidak menetas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Poliploidisasi bisa membuat kromosom tersebut bisa menjadi triploid (3N) dan tetraploid (4N) dengan perlakukan air bersuhu panas, suhu yang digunakan 40o C. perendaman dilakukan hanya 2 menit selanjutnya telur langsung ditebar di akuarium. Penyebab telur tidak menetas penanganan dalam memfirlilisasi telurnya terlalu lama dalam udara bebas , ada yang sudah tercampur air pada saat telur keluar dari induknya dan pengaturan suhu yang tidak pas pada saat menuangkan air panas yang suhu ± 100 oC yang telebih dahulu airnya menyentuh telur sebelum tercampur air dikarenakan baskom yang pendek dari permukaan air ke baskom membuat telur tidak menetas.

 

5.2 Saran

Dalam proses pekerjaan harus benar – benar bekerja serius agar diharapkan mendapatkan hasil yang memuaskan dan maksimal dalam kegiatan apa pun terutama dalam kegiatan budidaya yang menentukan berhasil atau tidaknya dalam budidaya tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Antar universitas Ilmu Hayati. IPB. Bogor.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK.Jakarta:Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

http://wikipedia/ikan-lele.com

Tave D. 1995.selective breeding programme for medium –sized fish farms. FAO fish.Tech.Paper.No. 352.

Thorgaard.1983.cromosome set manipulation and sex control in fish , p. 405 – 434  in W.S Hoar , D.J. Rendal.  And E.M. Donaldson (Eds.) Fish physiology vol.ix B. Academic press, New York

Yamazaki F.1983.sex control and manipulation in fish .jour . aquatic