BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan budiaya ada beberapa faktor yang menentukan keberhasilan budiaya tersebut yaitu kualitas air, ikan dan penyakit. pada ikan harus memiliki fitness yang tinggi agar bisa taha terhadap penyakit dan jika ada perubahan suhu pada saat hujan di kolam ikan tidak stress. Untuk bisa memperoleh ikan yang meliki fitness dengan cara seleksi ikan. Program breeding yang memanfaatkan phenotypic variance (keragaman fenotipe) yang diteruskan dari orang tua kepada keturunnya (Tave, 1995) .

Menurut (Gusrina, 2003) Tujuan pemulian adalah menghasilkan benih yang unggul yang diperoleh dari hasil seleksi agar dapat meningkatkan produktifitas. Seleksi akan menghasilkan benih yang mempunyai keunggulan yang dihasilkan dari seleksi tersebut untuk melakukan permulian dan meningkatkan produksi dalam kegiatan budiaya tersebut. dalam seleksi dapat melakukan dengan dilihat dari fenotipe kualitatif dan kuantitatif, selective breeding , outbreeding, hibridisasi, sex reversal.

Dalam melakukan seleksi pengamatan fenotipe kualitatif dan kuantitatif maka akan menghasilkan ikan yang secara morfologi, pertumbuhan, fekunditas dll mendapatkan hasil yang maksimal akan memudahkan dan menghasilkan hasil yang maksimal juga dalam kegitan budidaya tersebut. seperti pendapat (rizal effendi, 2004) ikan yang tumbuh cepat mencapai ukuran pasar dalam waktu relative singkat hingga pemanenan bisa lebih sering. Sehingga akan menghasilkan keuntungan yang cukup banyak dari hail pemanenan.

Selain pengamatan fenotipe ikan ada yang disebut juga selective breeding, Selective breeding adalah suatu program breeding yang mencoba untuk memperbaiki nilai pemuliabiakan (breeding value) dari suatu populasi dengan melakukan seleksi dan perkawinan hanya pada ikan-ikan yang terbaik (Gusrina,2003). hal tersebut dapat membantu dalam kegiatan budidaya juga dengan cara seleksi individu dan seleksi famili kedua seleksi tersebut akan menghasilkan perkawinan dan akan menghasilkan ikan yang terbaik tentunya mempermudah kegiatan budidaya.

Selective breeding selain menghasilkan ikan yang terbaik juga tetapi dilain sisi kita harus mengetahui ikan yang kita miliki sudah mengalami inbreeding atau tidak hal tersebut sangat penting dikarenakan menentukan faktor daya tahan tubuh ikan tersebut  dikarenakan alel homozigot Menurut Leary et al (1985), individu yang homozigot kurang mampu mengimbangi keragaman lingkungan dan memproduksi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan. Dengan cara melakukan pengukuran karakter fenotipe , toleransi salinitas , dan fluktuasi asimetri akan mengetahui jika ikan tersebut sudah mengalami inbreeding atau tidak.

1.2 Tujuan

  • Untuk menentukan ikan tersebut inbreeding
  • Menganalisis perkembangan ketidakstabilan organism dan dapat menentukan apakah organisme tersebut bersifat homozigot atau heterozigot
  • Daya toleransi ikan terhadap salinitas.
  • Penentu ikan tersebut sudah inbreeding.
  • Mengetahui keunggulan dan kekurangan dari program breeding ikan dapat dilakukan dengan program breeding.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Ikan Nila

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan                :           Animalia

Filum                     :           Chordata

Kelas                     :           Osteichtyes

Ordo                      :           Perciformes

Famili                    :           Cichlidae

Genus                    :           Oreochromis

Spesies                  :           Oreochromis niloticus

Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia sekaligus hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.

Ikan peliharaan yang berukuran sedang, panjang total (moncong hingga ujung ekor) mencapai sekitar 30 cmdan kadang ada yang lebih dan ada yang kurang dari itu. Sirip punggung ( pinnae dorsalis) dengan 16-17 duri (tajam) dan 11-15 jari-jari (duri lunak); dan sirip dubur (pinnae analis) dengan 3 duri dan 8-11 jari-jari.

Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis tegak, 7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung dengan warna merah atau kemerahan (atau kekuningan) ketika musim berbiak.ada garis linea literalis pada bagian truncus fungsinya adalah untuk alat keseimbangan ikan pada saat berenang

Ikan nila yang masih kecil belum tampak perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50 gram, dapat diketahui perbedaan antara jantan dan betina. Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di samping lubang anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih gelap, dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh, sedangkan yang betina biasanya pada bagian perutnya besar.

 

2.2. Fluktuasi Asimetri

Fluktuasi asimetri adalah perbedaan antara karakter sisi kiri dan sisi kanan yang menyebar secara normal dengan rataan mendekati nol sebagai akibat dari ketidakmampuan individu untuk berkembang secara tepat dan normal (Van Valen, 1962). Fluktuasi asimetri ini dapat merefleksikan dari perkembangan yang tidak stabil dari suatu individu organisme sehingga dapat menimbulkan perbedaan fenotip. Pada ikan, peningkatan fluktuasi asimetri dapat diamati melalui jari-jari sirip perut, jari-jari sirip dada, tapis insang atas bagian bawah serta pori-pori rahang atau mandibular pores.

Dalam mengamati dan menganalisis perkembangan ketidakstabilan organisme, dapat menggunakan tekhnik fluktuasi asimetri karena relatif sederhana dan tidak memerlukan alat yang rumit. Fluktuasi asimetri merupakan tekhnik analisa perkembangan ketidakstabilan organisme melalui pendekatan heterozigositas yang dapat menunjukkan adanya perbedaan kestabilan perkembangan seperti halnya tekhnik elektroforesis dengan analisis jumlah loci heterozigot.

Menurut Koehn dan Shumwai in Leary, et. al. (1985) bahwa individu yang homozigot kurang efisien dalam memproduksi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang lambat, jumlah ciri meristik yang lebih kecil dan adanya asimetri.

Asimetri adalah perubahan ukuran bentuk dan jumlah ciri-ciri morfologis tubuh, yang meliputi sifat-sifat meristik dan morfometrik tubuh bagian kiri dan kanan (Leary et. al., 1983)

Asimetri terjadi karena adanya ketidakmampuan suatu organisme untuk berkembang secara normal dan dapat digunakan untuk mengukur homeostatis/stabilitas perkembangan individu yang homozigot dan heterozigot (Leary et. al., 1983 dan 1985). Individu heterozigot mempunyai tingkat stabilitas perkembangan yang tinggi (Soule; Vrinjenhoek and Lerman; Angus and Schultz; Leary et.al. in Swain, 1987).

Analisa fluktuasi bilangan (Number) yaitu jumlah individu asimetri yang diketemukan dalam pengamatan dibagi dengan banyaknya sampel yang diamati.

Rumus :

Keterangan :

FAn     = fluktuasi asimetri bilangan

Zi         = Jumlah individu asimetri untuk ciri meristik tertentu.

n          = Jumlah seluruh sampel yang diamati

 

Fluktuasi asimetri bilangan besaran (Magnitude) yaitu nilai yang didapat dari jumlah selisih karakter yang diamati pada sebelah pada sebelah kiri dan kanan dibagi dengan total jumlah sampel yang diamati.

Rumus :

Keterangan :

FAm    = fluktuasi asimetri besaran

Xi        = Jumlah karakter sisi kiri

Yi        = Jumlah karakter sisi kanan

N         = Jumlah seluruh sampel yang diamati

 

FAgab = FAn + Fam

Dari masing- masing karakter yang diamati dapat dicari nilai fluktuasi asimetri gabungan (Overali). Fluktuasi asimetri gabungan merupakan hasil penjumlahan nilai fluktuasi asimetri dari semua karakter meristik bilateral yang diamati.

Rumus                         :

Keterangan :

FAgab                         = fluktuasi asimetri besaran

FAn                 = fluktuasi asimetri bilangan

FAm                = fluktuasi asimetri besaran

 

2.3. Heritabilitas

Heritabilitas atau daya waris adalah besaran bagi pengaruh keragaman genetik terhadap keragaman fenotipik dalam suatu populasi biologis. Besaran ini tidak berdimensi dan dinyatakan sebagai nisbah (rasio) dari dua varians (ragam). Dalam genetika terapan dikenal dua macam heritabilitas: heritabilitas arti luas, berupa nisbah varians genotipe terhadap varians fenotipe, dan heritabilitas arti sempit, berupa nisbah varians genetik aditif terhadap varians fenotipe.

Heritabilitas menempati posisi penting dalam analisis genetika populasi dan genetika kuantitatif, dan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan (assessment) metode seleksi yang tepat bagi suatu populasi pemuliaan. Heritabilitas bukan pengukur bagi besarnya komponen genetik yang terekspresikan pada suatu sifat, melainkan bagi besarnya komponen genetik pada keragaman yang teramati pada suatu sifat dalam populasi.

Metode pendugaannya bermacam-macam karena tergantung dari susunan genetik populasi-populasi yang dikaji, tetapi adalah tiga “mazhab” utama untuk penentuannya: cara regresi dari Pearson dan Galton, cara uji skala menggunakan analisis rerata generasi dari Sewall Wright, dan cara analisis varians yang dikembangkan oleh Ronald Fisher dan para ilmuwan dari Iowa State University dan North Carolina State University.

Menurut D. Minkema (1987 : 115)  dalam dasar genetika pembudidayaan ternak menyatakan bahwa variansi dari nilai bibit merupakan bagian dari seluruh variansi kefenotifan yang disebut tingkat keturunan (heritability). Tingkat keturunan adalah pengertian yang sangat banyak dipakai dalam sifat-sifat kaimat/dinyatakan dengan lambing h2. Jadi tingkat keturunan adalah bagi variansi yang berwujud dalam nilai bibit dalam populasi/ukuran bagi variansi antara rata-ratanya sifat keturunan dari berbagai individu.

Lebih lanjut dalam dasar genetika pembudidayaan ternak menrangkan bahwa tingkat keturunan sebagai bagian dari kelebihan/kekurangan yang tampak pada induk yang diteruskan kepada keturunannya. Selain itu tingkat keturunan daaat dipakai untuk meramalkan kemajuan yang dapat dicapai dengan seleksi.

Tingkat keturunan mengambil nilai antara 0 dan 1, karena ia mengenai sebagian variasi seluruhnya. Jika nilai h2 dari suatu ciri adalah 0, maka seleksi atas ciri ini tidak akan memberikan hasil satupun, karena semua hewan mempunyai nilai bibit yang sama, yaitu rata-rata mempunyai sifat keturunan yang sama. Jika h2=1, maka semua variansi bersendi pada perbedaan nilai bibitnya dan dapatlah seleksi cepat menghasilkan hasil baik.

Dengan melakukan seleksi kearah tertentu meningkatkan kehomozigotan dalam populasi dan variasi nilai bibit berkurang. Akibatnya ialah nilai h2 itu bahkan 0, semua variasi nilai bibit telah lenyap. Tentu saja ciri-ciri dalam suatu garis murni masih tetap ditentukan oleh factor keturunan.

Tingkat keturunan yang efektif memuat disamping variansi kegenotifan tambahan sebagian dari variansi sebagai akibat dari interksi bukan alel. Pengukuran h2 untuk mengetahui besarnya keragaman fenotif yang diakibatkan oleh aksi genotif/ menggambarkan tentang persentasi keragaman fenotif yang diwariskan dari induk kepada keturunannya. Lebih jelas lagi dalam lembar kerja praktikum menjelaskan bahwa nilai h2=0 berarti karakter yang diwariskan pada keturunannya semuanya diakibatkan oleh keragaman lingkungan tidak ada pengaruh genetic, begitupula seblaiknya. Nilai heriditas dikelompokan menjadi 3, yaitu:

 

  1. Rendah (mempunyai nilai 0 – 0,1)
  2. Medium (mempunyai nilai 0,1 – 0,3)
  3. Tinggi (mempunyai nilai 0,3 – 1,0)

 

2.4 Toleransi salinitas

Toleransi salinitas merupakan salah satu karakter fisiologis penting pada ikan (Chiyokubo et al, 1998). Analisa genetic dengan menggunakan toleransi salinitas telah dilakukan pada ikan teleost dan dapat menjelaskan perkembangan genetic dari ikan-ikan gupi liar (Poecilia reticulate) dan ikan-ikan gupi yang telah didomestikasi. Toleransi salinitas diukur dengan menghitung waktu yang dibutuhkan ikan untuk bertahan hidup sejak dipindahkan dari air tawar ke air laut yang bersalinitas 35 permil. Dari hasil penelitian Chiyokubo et al (1998) telah terjadi penurunan toleransi salinitas secara individu yang diakibatkan oleh depresi inbreeding pada generasi kedua. Depresi inbreeding dapat dilihat dari karakter yang berkaitan dengan fitness individu seperti kelangsungan hidup, pertumbuhan dan kemampuan telur menetas (Kincaid et al dalam Chiyokubo et al, 1998).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METEDOLOGI

 

3.1 Waktu dan tempat

     Pelaksanaan praktikum Fluktuasi asimetri dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 18 Juli 2013, dimulai dari pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, PPPPTK Pertanian vedca cianjur, Jawa  barat

3.2. Alat dan Bahan

3.2.1.   Alat

No Alat Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Baskom Diameter 30 cm 2 Untuk menampung ikan.
2. Alat bedah Gunting bedah , kaca pembesar , pinset dll. 1 Untuk membedah ikan dan mengamati
3. Ember Diameter 30 cm 1 Untuk penampungan sementara ikan
4. Toples D 20 cm 1 Untuk wadah ikantoleransi salinitas
5. Tissue  –   Untuk membersihkan tangan

 

3.2.2.  Bahan

No Bahan Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Ikan nila Benih 3 – 5 cm 1 Bahan Hibridisasi
2. Garam 350 gram Untuk bahan toleransi salinitas
3. Air Air tawar 10 liter Untuk bahan toleransi salinitas

 

 

 

 

 

 

3.3 Prosedur Kerja

            3.3.1 Fluktuasi Asimetri

  1. Ambil ikan sample yang ada sebanyak 30 ekor.
  2. Hitung karakter morfometrik dan meristic ikan sample
  3. indentifikasi jenis ikan nila berdasarkan karakter fenotipenya.
  4. Hitunglah fluktuasi asimetri berdasarkan dan morfometrik dan meristic !

3.3.2 Heretabilitas

  1. Tangkap dan ambil benih ikan nila yang berasal daru 2 populasi berbeda di bak penampungan sementara dengan menggunakan seser
  2. Pilih secara acak (sehingga dapat mewakili dari ke 2 populasi tersebut) dan ambil benih tersebut sebanyak @ populasi 30 ekor
  3. Masukkan kedalam baskom plastic yang telah berisi air
  4. Timbang biomassa ikan dan lakukan juga pengukuran tubuh ikan dari ke dua populasi tersebut dan catat hasilnya
  5. Lakukan penghitungan berat tubuh, panjang tubuh (bakudan total) pada setiap populasi dan catat hasilnya
  6. Hitung nilai h2 dari sample benih ikan nila tersebut dengan menggunakan perhitungan statistika yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL)/computer
  7. Catat hasil penghitungannya.

3.3.3 Toleransi salinitas

  1. Menyediakan garam dapur sebanyak 200 gram masing-masing dibagi menjadi 9  bagian.
  2. Pada perlakuan pertama memasukkan ikan mas kedalam akuarium tanpa menambahkan garam terlebih dahulu (dalam keadaan normal) lalu menghitung dan mencatat jumlah pernapasannya dalam selang waktu 3 menit.
  3.   Perlakuan kedua menaikkan salinitas dengan cara menambahkan garam sebanyak 200 gram kemudian mengaduk sampai garam larut dalam air sehingga mendapatkan salinitas yang diperlukan dan mengamati ikan seperti perlakuan yang sebelumnya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil

4.1.1 Karakter penotife

Sirip dada

FAm =   ∑ (L – R)

________

n

 

Penghitungan FAm 

 

 

 

(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3) +(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3) +(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3) +(3-3)

+(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3)+(3-3)

30

 

=              0

 

 

 

 

 

 

                       

 

 

 

                        

FAm =   ∑ (L – R)

            ________

     n

 

Sirip punggung

 

 

0

30

=             0

 

 

 

 

 

 

 

           

FAm =   ∑ (L – R)

            ________

     n

 

Sirip Dubur

 

 

0

30

=  0

 

 

 

           

           

 

FAm =   ∑ (L – R)

            ________

     n

 

Sirip perut

 

 

0

30

=  0

 

 

 

 

 

 

FAm =   ∑ (L – R)

            ________

     n

 

Literal Literalis atas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(21-23)+(22+23)+(20-23)+(21-22)+(20-21)+(22-21)+(22-21)+(23-22)+(21-21)+(20-23) +(20-23) +(20-23) +(20-23) +(20-23)+(21-22)+(20-21)+(22-22)+(21-22)+(22-24)+(21-23)+(24-28)+(24-28)+(23-23)

30

=                             52

30

=                              1,7

 

 

 

           

           

 

 

 

 

Literal Literalis bawah

FAm =   ∑ (L – R)

            ________

     n

 

 

 

 

 

60

30

=             2

 

 

 

 

 

 

 

4.1.2 Heritabilitas

Data hasil pengukuran panjang total

   Dik =   Y = 238                       r = 30

                  T = 2           

 

   FK                               =          (Y..)2 / r.t

                                       =          2382 / 30.2

                                        =         944,067

   JKT                              =         Yij2 /r.t           

                                        =         56644 – 944,067 = 55.699,933

   JKP                                         =         yi.2/r – FK

                                        =         56644 x 2 / 30 – 944,067 = 2832,2

   JKG                            =          JKT – JKP

                                       =          55.699,933 – 2832,2 = 52867.733

   h2                                           =          JKP/JKT

                                       =          0,053

 

Data hasil pengukuran panjang standar

 

Y = 189,20                     r = 30

T = 2        

   FK = (Y..)2 / r.t

         =  189,22 / 30.2

         =  35796.64 / 30.2

         =  596.61

   JKT                             =          Yij2 /r.t                       

                                       =          35796.64  – 596.61= 35200,03

   JKP                                         =         yi.2/r – FK

                                       =          35796.64   x 2 / 30 – 596.61= 1789.8327

   JKG                            =          JKT – JKP                

                                       =          35200,03- 1789.8327= 33410,19

   h2                                            =          JKP/JKT

                                       =          0,0508

 

 

 

Data hasil pengukuran tinggi

Y = 189,20                     r = 30

T = 2        

   FK                   =          (Y..)2 / r.t

                           =          59.92 / 30.2

                            =         3588.01/ 30.2

                           =          59.80016667

   JKT                 =          Yij2 /r.t           

=          3588.01- 59.80

                           =          3528.21

   JKP                             =         yi.2/r – FK

                            =         3588.01x 2 / 30 – 59.80= 239.20

   IKG                             =          JKT – JKP                

                           =          3528.21– 239.20= 3289.01

   h2                            =          JKP/JKT

                           =          0.07

 

Data hasil pengukuran bobot berat

Y = 259              r = 30

T = 2        

FK                      =         (Y..)2 / r.t

                            =         2592 / 30.2

                            =         67081./ 30.2

                           =            1118.0167

   JKT                 =          Yij2 /r.t           

                           =          259 – 1118.0167

                           =          65962.9833

   JKP                             =         yi.2/r – FK

                            =         259 x 2 / 30 – 59.80

                            =         4472.067

   IKG                 =          JKT – JKP                

=          65962.9833– 4472.067= 61490.9167

   h2                            =          JKP/JKT

 =         0.067 

4.1.3  Toleransi salinitas

SR = 6,7 % (28 ekor ikan mati dari 30 ekor )

 

4.2 Pembahasan

Karakter Penotipe

Berdasarkan praktikum pengamatan karakter fenotipe pada ikan nila maka didapatkan hasil pengukuran Fam(Fluktuasi asimetri magnitude besaran) pada organ yang berpasangan dengan nilai mendekati nol. Semua Organ yang mendekati nol hanya linea literalis atas dan bawah yang tidak mendekati nol. Ikan tersebut terindikasi inbreeding dari literature yang ada harus mendekati nol .Fluktuasi asimetri ini merupakan perubahan organ atau bagian tubuh sebelah kiri dan kanan yang menyebar normal dengan rataan mendekati nol (Gusrina,2003) .faktor yang menyebabkan inbreeding adalah perkawinan sekerabat yang menyebabkan terjadinya kromosom homozigot dan dapat menyebabkan fitness menurun.

Heritabilitas       

Berdasarkan hasil penghitungan heritabilitas dari panjang baku , panjang total , bobot berat dan tinggi mempunyai rata – rata 0,05 – 0,07 berdasarkan pendapat tave nilai heritabilitas rendah (0 -0,1) , medium ( 0,1 – 0,3) dan tinggi (  0,4) . berdasarkan pendapat tave berarti ikan nila tersebut menpunyai heritabilitas yang rendah. Jika dilakukan dengan cara individu maka hasil seleksi tersebut tidak akan baik karena ikan tersebut memiliki nilai h2 < 0,25. inbreeding (silang dalam) dalam program pengembangbiakannya sehingga akan mengakibatkan tingginya homozogisitas, yang tentunya akan mengakibatkan lemhanya daya tahan tubuh terhadap perubahan factor lingkungan (fitness rendah).

Selain itu juga, hasil h2 dari ikan nila di cianjur menunjukan bahwa telah terjadi inbreeding (silang dalam) dalam program pengembangbiakannya sehingga akan mengakibatkan tingginya homozogisitas, yang tentunya akan mengakibatkan lemhanya daya tahan tubuh terhadap perubahan factor lingkungan (fitness rendah).

Toleransi salinitas

Hasil dari pengamatan dapat diketahui bahwa pada awal ikan dimasukkan kedalam media yang mempunyai salinitas 35 ppt. tubuh ikan mulai ingin beradaptasi dan terlihat banyak berdiam diri. Akan tetapi pada saat menit ke 5 ikan mulai mengalami merah pada mulutnya akibat dari tekanan osmotik yang terjadi pada tubuhnya yang meyebabkan sel – sel tubuh ikan tersebut berkerja keras untuk menyamai tekanan dalam tubuhnya dan di air toples hal itu dapat dilihat dari banyak berdiam diri karena tubuhnya belum stabil dengan lingkungan. Akan tetapi pada menit ke 41 dan selanjutnya 1 ikan mati menyusul juga ikan lainnya pada menit ke 60 pengamatan dihentikan hanya 2 ikan yang hidup.

Dengan demikian menunjukkan bahwa dalam waktu tertentu ikan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang mempunyai salinitas yang tinggi meskipun akhirnya mati. Sehingga berdasarkan lama waktu kematian ikan Nila dapat dilihat bahwa hal tersebut masih diperoleh dari perkawinan individu-individu yang sekerabat (inbreeding) Dari banyaknya ikannya yang mati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  1. Karakter fenotipe Semua Organ yang mendekati nol hanya linea literalis atas dan bawah yang tidak mendekati nol. Ikan nila tersebut terindikasi (inbreeding)
  2. Pada toleransi salinitas banyak ikan yang mati hanya tersisa 2 kematian ikan Nila dapat dilihat bahwa hal tersebut masih diperoleh dari perkawinan individu-individu yang sekerabat (inbreeding) Dari banyaknya ikannya yang mati.
  3. Dari ketiga pengukuran fluktuasi banyak terdapat ikan yang terindiksasi inbreeding sehingga benih ikan yang berada di cinajur masih banyak terdapat ikan yang perkawinan sekerabat.

 

5.2 Saran

Dengan adanya penelitian ini diharapkan kedepanya dalam memperoleh bibit atau benih ikan harus memiliki kereteria yang baik terutama dalam benih ikan yang tidak inbreeding dikarenakan ikan yang inbreeding mempunyai fitness yang tendah sehingga tidak tahan terhadap lingkungan yang sering berubah – ubah. Dengan adanya peratikum ini juga agar masyakakat atau kita dapat lebih teliti dalam membeli atau pun mengawinkan ikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Boydell, T. and R. Leary, 1996. Implication of Learning in Organizations, Journal of European Industrial Training, Vol.19, No.3, pp.31-42.

Chiyokubo, T., S Takahito , N . Masamichi , F . Yoshihisa. 1998. Genetic features of salinity tolerance in wild  and domestic guppies (poecillia reticula). Aquacultre 167 (1998) 339 – 348 .

Effendy, Rizal. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,

http://id.wikipedia.org/wiki/Heritabilitas

Minkema, D.1987. Dasar Genetika dalam Pembudidayaan Ternak. Bhatara Karya Aksara, Jakarta.

Tave D. 1995.selective breeding programme for medium –sized fish farms. FAO fish.Tech.Paper.No. 352.

Van valen L/ 1962.A study of fluctuating asymmetri. Evulotion , 16(2) : 152 -142.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

Lampiran 1.  Data keterangan meristik dan morfometrik Ikan

Ikan ke- Pjg Total Pjg Standar Tinggi Berat Sirip Punggung

 

Sirip Punggung Sirip Dubur

 

Sirip Dada

kanan

Sirip Dada

kiri

          Keras   Lemah Keras Keras
1 6,80 5,50 1,70 5,13 15 Keras 11 3 3
2 9,50 7,60 2,40 14,57 18 15 9 3 3
3 7,90 6,50 2,30 10,10 16 18 10 3 3
4 7,90 6,40 2,10 8,10 17 16 13 3 3
5 8,00 6,20 2,10 9,14 17 17 11 3 3
6 8,10 6,00 2,30 9,18 16 17 12 3 3
7 8,20 6,70 1,90 8,44 17 16 12 3 3
8 7,90 6,30 2,00 8,38 16 17 13 3 3
9 9,80 7,80 2,30 14,40 16 16 10 3 3
10 9,40 7,50 2,40 13,16 16 16 12 3 3
11 8,90 7,10 2,30 13,08 16 16 11 3 3
12 6,50 5,20 1,40 4,40 15 16 10 3 3
13 9,20 7,00 2,40 13,07 13 15 10 3 3
14 7,50 5,50 1,50 6,74 14 13 13 3 3
15 7,40 6,00 1,80 7,10 17 14 11 3 3
16 8,00 6,50 2,00 8,70 16 17 12 3 3
17 8,00 6,50 2,00 8,60 17 16 12 3 3
18 8,00 6,50 2,00 8,16 16 17 12 3 3
19 8,00 6,50 1,90 9,41 16 16 10 3 3
20 8,00 6,40 2,00 8,80 13 16 10 3 3
21 7,80 6,40 2,00 8,23 17 13 11 3 3
22 8,10 6,50 2,10 9,45 16 17 12 3 3
23 7,80 6,30 2,00 8,10 16 16 9 3 3
24 7,90 6,20 2,00 7,67 15 16 13 3 3
25 8,10 6,40 2,10 8,87 16 15 12 3 3
26 7,00 5,60 1,80 5,56 15 16 10 3 3
27 7,00 5,50 1,80 5,70 15 15 10 3 3
28 6,90 5,40 1,70 5,00 16 15 11 3 3
29 6,90 5,40 1,70 5,37 16 16 10 3 3
30 7,50 5,80 1,90 6,40 17 16 12 3 3
Jml 238,00 189,20 59,90 259,01 476,00 476,00 334,00 90,00 90,00
Rata2 15,35 12,21 3,86 16,71 30,71 30,71 21,55 5,81 5,81

 

Lampiran 2. Data keterangan Meristik ikan

Ikan ke- Sirip Perut Linea Lateralis Atas Linea Lateralis Bawah Tapis Insang
Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri
1 6 6 21 23 15 14 4 4
2 6 6 22 23 14 14 4 4
3 6 6 20 23 16 13 4 4
4 6 6 21 22 10 11 4 4
5 6 6 22 22 18 14 4 4
6 6 6 21 21 12 15 4 4
7 6 6 26 23 12 11 4 4
8 6 6 20 22 14 17 4 4
9 6 6 22 22 14 17 4 4
10 6 6 21 22 17 15 4 4
11 6 6 20 21 12 11 4 4
12 6 6 22 21 10 11 4 4
13 6 6 23 22 15 15 4 4
14 6 6 21 23 15 14 4 4
15 6 6 21 21 12 15 4 4
16 6 6 20 23 16 13 4 4
17 6 6 20 23 16 13 4 4
18 6 6 20 23 16 13 4 4
19 6 6 20 23 16 13 4 4
20 6 6 21 22 10 11 4 4
21 6 6 21 22 10 11 4 4
22 6 6 20 23 16 13 4 4
23 6 6 20 21 14 17 4 4
24 6 6 22 22 18 14 4 4
25 6 6 21 22 10 11 4 4
26 6 6 22 24 16 15 4 4
27 6 6 21 23 15 14 4 4
28 6 6 24 28 14 16 4 4
29 6 6 24 28 14 16 4 4
30 6 6 23 23 16 14 4 4
Jml 180,00 180,00 642,00 681,00 423,00 411,00 120,00 120,00

                                                                                                                                                           

Lampiran 3. Data tingkah laku ikan

Menit Tingkah Laku Ikan
Menit Tingkah laku
3 Ikan sering muncul ke permukaan.
4  warna ikan pucat.
5 Bibir memerah dan  ikan berenang tidak normal.
7 Ikan berenang sering menabrak dinding.
9 Mulut megap-megap.
10 Ikan cenderung bergerombol dan naik ke permukaan.
14 Ikan mulai meloncat-loncat ke permukaan.
16 Hampir semua sirip dan tapis insang memerah serta mata berkabut.
18 Badan  memerah.
20 Ikan lebih banyak berada di permukaan.
24 Terdapat ikan yang berdiam diri di dasar.
25 Ikan berenang ke permukaan dan menabrak dinding.
28 Ikan muncul ke permukaan, berenang tidak beraturan, menabrak dinding, dan dagu memerah.
31 Tubuh berwarna pucat.
34 1 ekor berdiam diri di dasar,sedangkan yang lainnya berada di permukaan.
39 Ikan terlihat sangat pucat dan lemas.
40 Ikan berenang abnormal (berseluncur di permukaan, menabrak dinding, lalu membiarkan dirinya jatuh ke dasar).
41 1 ekor ikan mati.
42 3 ekor pingsan.
43 3 ekor mati.
44 6 ekor pingsan.
46 5 ekor mati.
47 4 ekor pingsan.
48 7 ekor mati.
50 2 ekor mati.
51 4 ekor mati.
52 4 ekor mati.
53 1 ekor mati.
56 1 ekor mati.
57 1 ekor pingsan.