BAB I
PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Semakin berkembangnya kehidupan dan populasi manusia semakin banyak yang akan sadar betapa pentingnya nutrisi bagi kehidupan sehari – hari yang dibutuhkan untuk menjadi energy dan beraktifitas. Hal ini menyebabkan eksploitasi sumber daya alam meningkat dan mengancam ekosistem, eksistensi organisme tertentu, contohnya adalah ikan. Tidak hanya dibutuhkan oleh manusia saja , ikan juga banyak dicari oleh hewan – hewan pemakan daging. Dalam hal ini dibutuhkan usaha untuk membuat stock di alam tetap seimbang dengan cara budidaya ikan tersebut.

Budidaya pun harus menguntungkan agar kegiatan budidaya dapat terus berlangsung oleh karena itu dibutuhkan seleksi ikan dengan menggunakan metode Ginogenesis merupakan prosedur untuk mendapatkan ikan betina dengan inaktivasi sperma dan diploidisasi. Inaktivasi sperma dapat dilakukan dengan penyinaran UV, sinar X atau γ. Diploidisasi dapat dilakukan dengan kejut temperatur atau pemberian kemikalia yang bertujuan untuk mencegah keluarnya polar bodi dari telur (Kucharcyzk et al., 2007).

Ginogenesis merupakan prosedur untuk mendapatkan ikan betina dengan inaktivasi sperma dan diploidisasi. Inaktivasi sperma dapat dilakukan dengan penyinaran UV, sinar X atau γ. Diploidisasi dapat dilakukan dengan kejut temperatur atau pemberian kemikalia yang bertujuan untuk mencegah keluarnya polar bodi dari telur (Kucharcyzk et al., 2007). Dalam gynogenesis akan mengghasilkan benih ikan yang berjenis betina hal ini dapat diaplikasikan pada ikan mas.

Ikan mas  merupakan ikan yang cukup banyak penggemarnya di Indonesia, dan ikan berprotein tinggi ini harganya pun cukup murah sehingga banyak dicari oleh masyarakat. Ikan Mas betina mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dari pada ikan mas jantan. Oleh sebab itu gynogenesis aplikasikan sangat pas dalam produksi budidaya ikan mas akan cepat panen dan menghasilkan keuntungan.

 

 

 

1.2 Tujuan

  • Mahasiswa dapat mempraktekan gynogenesis dalam produksi budidaya.
  • Untuk mempelajari teknik ginogenesis dengan kejutan panas.
  • Pengamatan visual filtrilisasi terhadap telur dan sperma yang tanpa kontribusi kromosom sel sperma.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Ikan Mas

2.1.1 Sejarah Perkembangan Di Indonesia

Sementara itu, menurut R.O Ardiwinata, (1981) ikan karper yang berkembang di Indonesia diduga awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan karper diketahui sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19. Masyarakat setempat disebutkan sudah menggunakan kakaban – subtrat untuk pelekatan telur ikan karper yang terbuat dari ijuk – pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan karper di kolam di Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

Sedangkan penyebaran ikan karper di daerah Jawa lainnya, dikemukakan terjadi pada permulaan abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari “Kementrian Pertanian” (Kemakmuran) saat itu. Dari Jawa, ikan karper kemudian dikembangkan ke Bukittinggi (Sumatera Barat) tahun 1892. Berikutnya dikembangkan di Tondano (Minahasa, Sulawesi Utara) tahun 1895, daerah Bali Selatan (Tabanan) tahun 1903, Ende (Flores, NTT) tahun 1932 dan Sulawesi Selatan tahun 1935. Selain itu, pada tahun 1927 atas permintaan Jawatan Perikanan Darat saat itu juga mendatangkan jenis-jenis ikan karper dari Negeri Belanda, yakni jenis Galisia (karper gajah) dan kemudian tahun 1930 didatangkan lagi karper jenis Frankisia (karper kaca). Menurut Djoko Suseno (2000), kedua jenis karper tersebut sangat digemari oleh petani karena rasa dagingnya lebih sedap, padat, durinya sedikit dan pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ras-ras lokal yang sudah berkembang di Indonesia sebelumnya.

Pada tahun 1974, seperti yang dikemukakan Djoko Suseno (2000), Indonesia mengimpor ikan karper ras Taiwan, ras Jerman dan ras fancy carp masing-masing dari Taiwan, Jerman dan Jepang. Sekitar tahun 1977 Indonesia mengimpor ikan karper ras yamato dan ras koi dari Jepang. Ras-ras ikan karper yang diimpor tersebut dalam perkembangannya ternyata sulit dijaga kemurniannya karena berbaur dengan ras-ras ikan karper yang sudah ada di Indonesia sebelumnya sehingga terjadi persilangan dan membentuk ras-ras baru.Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba di perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah: Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor,Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta

 

2.1.2  JENIS

Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:

Kelas                 : Osteichthyes

Anak kelas        : Actinopterygii

Bangsa              : Cypriniformes

Suku                 : Cyprinidae

Marga               : Cyprinus

Jenis                  : Cyprinus carpio L.

Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya.

2.2. Manipulasi Kromosom

Menurut ilmu genetika, gen yang membawa sifat kelamin jantan ialah gen XY, sedangkan yang membawa gen betina adalah XX. Didalam sel telur terdapat gen yang hanya membawa setengah dari sifat itu yaitu X, sedangkan didalam sperma terkandung pecahan dari XY sehingga ada sperma yang membawa kromosom X dan ada yang membawa kromosom Y. jika terjadi pembuahan sel telur oleh sperma maka akan terbentuk gen rangkap (lengkap), yaitu XX dan XY (Suyanto 1998). Manipulasi perubahan seks pada ikan Mas menghasilkan ikan betina yang mengandung gen penentu dominan kelamin XX dari tanpa kontribusinya sel sperma.

 

2.3. Gynogenesis

Gynogenesis adalah proses terbentuknya zigot tanpa kontribusi genetik atau gen kromosom jantan. Gynogenesis  pada saat ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan inbreeding, sebab pemurnian gen untuk mendapatkan galur murni hanya dilakukan dua kali perkawinan, sedangkan inbreeding baru mampu menghasilkan galur murni setelah enam kali perkawinan. Gynogenesis ini merupakan salah satu teknik secara terkontrol untuk mendapatkan induk murni. Pada teknik ini bisa juga didapatkan hasil larva betina semua. Sebagai contoh dimana ikan mas betina mempunyai pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan ikan mas jantan sehingga dapat disimpulkan budidaya dengan bibit dari Gynogenesis akan diperoleh produksi yang lebih cepat.

Dalam kegiatan Gynogenesis ini ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu :

2.3.1 Radiasi

Radiasi adalah proses untuk menonaktifkan material sperma yang akan digunakan untuk membuahi telur. Proses menonaktifkan sperma dapat dilakukan dengan menggunakan sinar gamma, sinar x dan sinar ultraviolet. Ketiga jenis sinar tersebut dipergunakan karena lebih murah, mudah didapatkan, efisien dan lebih aman dibanding jenis sinar lainnya. Tetapi yang leh sering digunakan adalah sinar UV dengan tujuan untuk meradiasi sperma dengan tujuan melemahkan material jantan agar tidak mempengaruhi keturunannya.

Beberapa radiasi menggunakan sinar ultra violet (UV) dalam Gynogenesis ikan mas yang telah dilakukan oleh para peneliti budidaya ikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) dapat dilihat pada tabel 1.

 

No Jenis ikan Radiasi UV Hasil Sumber
1 Cyprinus carpio   Dosis 2×15 W

  Lama penyinaran 15 menit

  Jarak 15 menit

  Tebal lapisan

  Sperma 1mm

  Larva haploid

  Mati semua 72 jam setelah penetasan

Gustiono (1985)
2 Cyprinus carpio   Dosis 9,630 erg/mm

  Lama penyinaran 90 detik

  Tebal lapisan sperma 1 mm

  100 % embrio haploid Tenighuci et al (1986)
3 Cyprinus carpio   Dosis 2×15 W

  Lama penyinaran 2 menit

  Tebal lapisan 1 mm

  Benih semua betina Sumata dinata (1987)
4 Ikan mas

(Cyprinus carpio)

      Dosis 200 J/m2/menit

      Lama penyinaran 1 jam

      Jarak 2,5 cm mm

100% embrio haploid Komen et al

(1988)

 

2.3.2 Diploidisasi

Diploidisasi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam proses gynogenesis karena dengan proses ini akan dihasilkan individu normal 2-n (zigot diploid). Proses diploidisasi dilakukan dengan memberikan kejutan (shock) pada saat yang tepat. Dengan diberikan kejutan maka polar body II yang akan keluar akan kembali. Kejutan yang dapat diberikan dalam proses ini ada tiga macam yaitu :

  1. Kejutan dingin (cold shock)
  2. Kejutan panas (heat shock)
  3. Tekanan (pressure)

Berdasarkan studi yang telah dilakukan pada beberapa spesies ikan menunjukkan bahwa kejutan dengan menggunakan tekanan dan suhu dalam waktu singkat setelah telur dibuahi sperma non aktif akan menghasilkan individu diploid yaitu dengan mempertahankan keberadaan satu set kromosom yang dipersiapkan menjadi polar body II pada meiosis (Purdom dan Allendorf et al., 1984).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
METODOLOGI

 

3.1. Alat dan Bahan

akuarium, pemanas air, stop watch, termometer, lempengan kaca, bulu ayam, mangkuk atau baskom, kertas tissue, alat bedah, rak plastik, box UV, dan aerator.

3.2.2.1 Alat

No Alat Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Seser Diameter  40 cm 2 Untuk menangkap ikan
2. Aquarium 18 m2 2 Untuk penetasan telur
3. Mangkuk Diameter 15 cm 2 Untuk penampungan sementara Telur dan sperma
4. Kertas / tissue Untuk membersihkan atau mengeringkan
5. Box UV 1 Penyinaran sperma
6. Bulu ayam 1 Pengadukan sperma dan telur
7. Aerator 2 Penambahan oksigen

 

 

 

 

 

3.2.2 Bahan

No Bahan Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Ikan Mas Betina Ikan yang matang gonad 1 Pengambilan telur
2. Ikan Mas jantan Ikan yang matang gonad 1 Pengambilan sperma
3. Larutan fisilogis 99 cc Memperkuat daya tahan sperma dan telur
4. Ovavrim 1 ml Mempercepat ovulasi dan penggambilan sperma

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3 Langkah Kerja

  1. induk jantan (induk 6-8 jam yang sebelumnya sudah diinduksi) distriping, milt disedot dengan spuit, langsung diencerkan 100 kali penngenceran dalam larutan fisiologis / HaCl.
  2. Milt encer diteteskan ke dalam cawan petri sedikit saja (tak lebih dari 1 mm tebal milt encer dalam cawan petri).
  3. Milt encer tipis diiradiasi UV dengan panjang gelombang 254 nm dengan jarak 15 cm selama 5 menit, siap digunakan untuk membuahi .
  4. Induk betina distriping, telur ditampung dalam beberapa saringan the, sesuai jumlah perlakuan dan ulangan yang diinginkan.
  5. Kemudian saringan diletakkan di dalam cawan petri atau mangkok dan dibuahi dengan cara ditetesi pakai pipet dengan milt encer yang telah diiradiasi sebelumnya, dicatat waktu pencampurannya. Tiga menit dari waktu pembuahan, segera dimasukkan ke dalam water bath temperature 40 oC selama 90 detik dipantau dengan stopwatch.
  6. Telur terbuahi diinkubasi ke dalam bak penetasan ber-aerator yang sudah disiapkan sebelumnya.
  7. Telur lainnya dibuahi spermatozoa yang telah diiradiasi, tapi tak dikejutpanaskan, tapi langsung ditetaskan sebagai control langkah kedua ginogenesis, hasilnya individu haploid..
  8. Telur lainnya dibuahi spermatozoa yang tidak diiradiasi sebagai kontrol prosedur tidak ginogenesis..
  9. Amati telur Ikan Mas menetas sekitar 48 jam dan masing – masing kelompok Penetasan telur diamati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil

      Hasil dari praktikum setelah 48 hari dari waktu awal praktek gynogenesis telur tidak menetas dan menglami berjamur dan hancur        

 

4.2 Pembahasan

            Gynogenesis merupakan salah satu kegiatan manipulasi kromosom dimana pada metode ini kita mencari strein monosex (betina). Gynogenesis adalah proses terbentuknya zigot betina dari gamet tanpa kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi untuk  merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturnkan. Sebelum melakukan gynogenesis buatan dengan kejutan suhu (baik suhu dingin maupun suhu panas), terlebih dahulu dilakukan penyuntikan terhadap induk ikan mas, induk betina yang digunakan dengan berat dan induk jantan dengan berat rata-rata sebanyak 2 ekor akan tetapi induk ikan mas yang betina belum siap ovulasi terlihat dari pada saat di striping tidak keluar walaupun perutnya sudah tidak keras terindikasi ikan tersebut sudah lewat dari masa ovulasi dan telurnya akan diserap kembali oleh tubuh. Dan terpaksa telur ikan diambil melalui pembedahan dan hanya telurnya saja yang dimabil.

Penyuntukan ini dirangsang menggunakan hormon ovaprim dimana menurut King dan young (2001) dalam Maftucha (2005), ovaprim merupakan produk yang mengandung 20µg D-Arg6, Pro9-Net sGnRH dan 10 mg domperidone per ml propylene glycol. Ovaprim telah teruji dan terbukti efektif pada ikan, dimana secara signifikan mendorong pematangan tanpa mempengaruhi kemampuan hidup dan fekunditas ikan. Penyuntikan dilakukan pada 8 jam sebelum di stripng. Proses selanjutnya adalah menghancurkan materi genetik sperma dengan menggunakan sinar ultraviolet (UV), denga menonaktifan/menghilangakan material genetik sperma melalui radiasi. Radiasi ini dilakukan hanya 2 menit. Setelah itu sperma difertilisasikan dengan telur ikan yang sudah di keluarkan dari induk betina.

 

Kejadian fertilisasi ini hanya sebentar bahkan hitungan detik, telur fertil tersebut selanjutnya dilakukan perendaman menggunakan air suhu normal selama 29 menit. Dalam perendaman ini telur ditebar kedalam nampan yang telah berisi lempengan kaca, penebaran diharapkan secara hati-hati. Selanjutnya perendaman kedalam air dengan suhu 40 oC selama 3 menit, perendaman ini dilakukan pada saat telur dalam pembelahan mitotik. Selanjutnya langsung ditebar kedalam akuarium penetasan.

Seteh penebaran dilakukan pengamatan sampai menetas dimana kegiatan ini dilakukan selama ± 48 jam.  Dalam hal pengamatan setelah 48 jam telur tidak mengalami penetasan dan malah terjadi pembusukan telur hal tersebut terjadi akibat dari sel tulut yang lewat dari masa ovulasi dan akan menjadi tahap penyerapan tubuh kembali. Dari hasil hatcing rate yang telah menetas didapatkan HR 0% .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

      fertilisasi ini hanya sebentar bahkan hitungan detik, telur fertil tersebut selanjutnya dilakukan perendaman menggunakan air suhu normal selama 29 menit. Dalam perendaman ini telur ditebar kedalam nampan yang telah berisi lempengan kaca, penebaran diharapkan secara hati-hati. Selanjutnya perendaman kedalam air dengan suhu 40 oC selama 3 menit,.  Induk ikan mas yang betina belum siap ovulasi terlihat dari pada saat di striping tidak keluar walaupun perutnya sudah tidak keras terindikasi ikan tersebut sudah lewat dari masa ovulasi dan telurnya akan diserap kembali oleh tubuh hal tersebut menyebabkan sel sperma tak mampu membuahi sel telur yang sudah lewat dari masa ovulasi.

 

5.2 Saran

      Penyiapan sarana, bahan, dan alat harus benar – benar siap digunakan terutama dalm proses budidaya agar program budidaya bisa berjalan dengan lancer dan tanpa kendala apaun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

AllendorfTD,SmithJL,AndersonDH.2007.Residents’perceptionsof Royal Bardia National Park, Nepal. Landscape Urban Plann82:33-40

http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_karper.

King, M.W., 2006. Structure and Function of Hormones : Growth Hormone. Indiana

 

Kucharczyk, D., A. Szczerbowski, M. J. Łuczyński, R. Kujawa, A. Mamcarz and K. Targońska.   2007. Inducing Gynogenetic Development of Ide (Leuciscus idus L.) Using Semen of Other Fish Species. Pol. J. Natur. Sc., 22(4): 714-721.

State University. Retrieved 2008-01-16..

Suyanto. S.R. 1988. Nila. Penebar Swadaya. Jakarta. 105 hal.