I PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Dalam makluk hidup seperti hewan  untuk proses keberlangsungan Keturunan hewan memerlukan reproduksi untuk memperoleh berlangsungnya keturunan makluk hidup itu tersebut tak terkecuali ikan yang bereproduksi untuk agar  keturunannya tetap ada sehingga ekosistem di alam tetap setabil dengan tetap adanya reproduksi pada ikan dan hewan lainnya. Ekosistem terdiri dari faktor biotik dan abiotic. Komponen biotik terdiri dari berbagai jenis mikroorganisme, jamur, ganggang, lumut, tubuhan paku, tumbuhan tingkat paku, tumbuhan tingkat tinggi intertebratae dan veterbrata serta manusia. (diah aryulia 2004:264)

Setiap Mahluk hidup seperti ikan mempunyai organ reproduksi yang berbeda dengan organ reproduksi ikan lainnya. Dengan berbedanya organ reproduksi ikan tersebut berpengaruh terhadap hasil anak atau keturunan ikan itu tersebut seperti hal pada ikan yang mempunyai ovari sinkron mampu menghasilkan anakan yang banyak akan tetapi setelah itu mati , ikan singkron sebagian hanya bertelur setahun sekali dan ikan ovari acyncronous menghasilkan telur yang setiap musim asalkan telur sudah matang.

Faktor yang mempengaruhi kematangan gonad sangat dipengruhi oleh  hormon yang saling berkomunkasi antar sel yang terletak di otak ikan (hifotalamus). Seperti pendapat ( Suyanto, 1991) Otak juga tempat menrespektor untuk terciptanya hormone untuk kepentingan reproduksi pada jenis. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan.

Kelenjar hifofisa meransang terjadinya pembentukan telur dan ovulasi pada ikan. Menurut Hoar (1957), hipofisa terdiri dari dua kelenjar hipofisa yaitu neuron dan adenohypofisa yang merupakan bagian terbesar dari kelenjar danmemiliki tiga ruangan yaitu proximal pars distalis, rostal pars distalis, dan pars intermediaHipofisa terletak pada bagian bawah otak dan menghasilkan hormon GnRH, ACTH, TSH,FSH, LH, STH, MSH, Prolaktin, Vasopresin, dan Oksitosin. Secara umum, hormon tersebut berfungsi mengatur pertumbuhan, perkembangan, metabolisme, reproduksi,tingkah laku, dan homeostatis.

Kelenjar hifofisa sangat mudah rusak dan terurai dengan bakteri sehingga bagaimana untuk pemkaiannya jika dilakukan untuk menyuntik ikan pada esok hari atau lusa. Oleh sebab itu digunakan pengawetan jika ingin dipakai esok hari hari sehingga dapat digukana sesusai waktu yang dibutuhkan asalkan dipengawetan tidak terlalu lama.

1.2    Tujuan

  • Melakukan pembedahan untuk pengamatan organ – organ reproduksi dan kelenjar hipofisa
  • Mengetahui organ –organ reproduksi ikan jantan teleostei
  • Mengetahui organ –organ reproduksi ikan betina teleostei
  • Mengetahui struktur hipotalamus –hipofisa dan gonad ikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II TINJAUAN PUSTAKA

 

Pegamatan terhadap aspek aspek biologis spesies ikan merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui tingkah laku dan cara makan ikan tersebut. Ikan memiliki beberapa organ dalam antara lain : insang, mulut, esofagus, jantung, hati, lambung renang, lambung, usus anus dan terutama otak

 

2.1 Ikan lel. Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Kepala Ikan mas dipotong mulai dari lubang hidungnya menggunakan pisau. Pomotongan mengikuti lekukan dagu ikan sehingga hasil potongannya dangkal dan tidak merusak otak. Setelah tulang kepala terbuka otak dikeluarkan menggunakan tusuk gigi atau alat bantu lainnya. Kelenjar Hipofisa akan terlihat tepat dibawah otak. Kelenjar ini berbentuk bulat kecil dengan warna putih. Prosedur berikutnya adalah kelenjar ini dikeluarkan dari kepala ikan menggunakan tusuk gigi.

2.2 Hifolatamus

 

Hipotalamus (bahasa Inggris: hypothalamus) adalah bagian dari otak yang terdiri dari sejumlah nukleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap steroid dan glukokortikoid, glukosa dan suhu. Hipotalamus juga merupakan pusat kontrol autonom. Salah satu di antara fungsi hipotalamus yang paling penting karena terhubung dengan sistem syaraf dan kelenjar hipofisis yang merupakan salah satu homeostasis sistem endokrin, adalah fungsi neuroendokrin yang berpengaruh terhadap sistem syaraf otonomi sehingga dapat memelihara homeostasis tekanan darah, denyut jantung, suhu tubuh dan perilaku konsumsi dan emosi.

Hipotalamus juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem limfatik, dan merupakan konektor sinyal dari berbagai bagian otak menuju ke korteks otak besar. Akson dari berbagai sistem indera berakhir pada hipotalamus (kecuali sistem olfaction) sebelum informasi tersebut diteruskan ke korteks otak besar. Hipotalamus berfungsi sebagai monitoring dan mengontrol berbagai aktivitas dari tubuh yang sangat banyak.

Hipotalamus mengirim suatu signal ke kelenjar adrenal yaitu epinephrine dan neropinephrine. Sekresi yang lain berupa:

Antideuretic hormone (ADH), oksitosin, dan regulatory hormones. hormon ini disekresi dari hipotalamus posterior

GnRH pada area preoptik dan merangsang hipofise anterior

GHIH oleh neuron perventrikular dan merangsang hipofise anterior

GHRH oleh neuron infudibular pada area mediobasal dan merangsang hipofise anterior

2.2 Hifofisa

GSH itu terdapat dan dihasilkan oleh kelenjar hipofisa atau  disebut juga  kelenjar pituitari. Setiap ikan (juga makhluk bertulang belakang lainnya) mempunyai kelenjar hipofisa yang terletak di bawah otak. Kelenjar hipofisa itu sangat penting fungsinya di dalam proses perkembangbiakan, ukurannya kira-kira hanya sebesar butir kacang hijau bahkan lebih kecil. Beratnya hanya 2 – 3 mg. Kelenjar hipofisa ini menghasilkan hormon GSH sejalan dengan proses kedewasaan kelamin ikannya. Pada ikan yang sudah dewasa hipofisa mengeluarkan GSH lebih banyak dibanding dengan ikan yang belum dewasa benar.

2.2.1 Kematangan gonad

Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Menurut Effendie (1997), umumnya pertambahan bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10-25 persen dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5-10 persen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa semakin rneningkat tingkat kematangan gonad, diameter telur yang ada dalam gonad akan menjadi semakin besar. Pendapat ini diperkuat oleh Kuo et al. (1974) bahwa kematangan seksual pada ikan dicirikan oleh perkembangan diameter rata-rata telur dan

melalui distribusi penyebaran ukuran telurnya. Ikan lele (Clarias batrachus) pertama kali matang kelamin pada umur satu tahun (Chinabut et al. 1991) dengan ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh 100 sampai 200 gram (Mollah dan Tan 1983; Suyanto 1986). Di Thailand, ikan lele yang hidup di alam memijah pada musim penghujan dari bulan Mei sampai Oktober (Chinabut et al. 1991). Perkembangan sel telur (oosit) diawali dari germ cell yang terdapat dalam lamela dan membentuk oogonia. Oogonia yang tersebar dalam ovarium menjalankan suksesi pembelahan mitosis dan ditahan pada “diploten” dari profase meiosis pertama. Pada stadia, ini oogonia dinyatakan sebagai oosit primer  (Harder 1975). Oosit primer kemudian menjalankan masa tumbuh yang meliputi dua fase. Pertama adalah fase previtelogenesis, ketika ukuran oosit membesar  akibat pertambahan volume sitoplasma (endogenous vitelogenesis), namun  belum terjadi akumulasi kuning telur. Kedua adalah fase vitelogenesis, ketika terjadi akumulasi material kuning telur yang disintesis oleh hati, kemudian dibebaskan ke darah dan dibawa ke dalam oosit secara mikropinositosis (Zohar, 1991; Jalabert dan Zohar, 1982). Peningkatan ukuran indeks gonad somatik atau perkembangan ovarium disebabkan oleh perkembangan stadia oosit.

 

2.3 Hormon

 

Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ, yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel-sel.  sebagian besar hormon merupakan protein yang terdiri dari rantai asam amino dengan panjang yang berbeda-beda. sisanya merupakan steroid, yaitu zat lemak yang merupakan derivat dari kolesterol.  hormon dalam jumlah yang sangat kecil bisa memicu respon tubuh yang sangat luas.  hormon terikat kepada reseptor di permukaan sel atau di dalam sel. ikatan antara hormon dan reseptor akan mempercepat, memperlambat atau merubah fungsi sel. pada akhirnya hormon mengendalikan fungsi dari organ secara keseluruhan:

  • hormon mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan dan ciri-ciri seksual
  • hormon mempengaruhi cara tubuh dalam menggunakan dan menyimpan energi
  • hormon juga mengendalikan volume cairan dan kadar air dan garam di dalam darah.

beberapa hormon hanya mempengaruhi 1 atau 2 organ, sedangkan hormon yang lainnya mempengaruhi seluruh tubuh.

misalnya, tsh dihasilkan oleh kelenjar hipofisa dan hanya mempengaruhi kelenjar tiroid. sedangkan hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid, tetapi hormon ini mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. insulin dihasilkan oleh sel-sel pulau pankreas dan mempengaruhi metabolisme gula, protein serta lemak di seluruh tubuh. (medicastore.com, 2007)

 

2.4. Syarat Donor

 

Syarat indukan yang bisa diambil kelenjar hipofisanya adalah ikan jantan yang telah matang gonad. Perbandingan berat ikan jantan dengan ikan betina adalah 1,5 : 1 jadi ikan jantan seberat 1,5 Kg digunakan untuk hipofisasi induk betina yang memiliki berat 1 kg. Perbandingan diatas berguna jika donor dan penerima berasal dari satu spesies, jika menggunakan donor dari lain spesies maka dosisnya harus ditambah. Donor dari lain spesies disebut donor universal contohnya ikan mas, tetapi sebaiknya donor dan penerima tetap berasal dari satu famili.

 

2.5 Kelebihan dan Kekurangan Hipofisasi

  • Kelebihan dari hormon hipofisa adalah hormon ini bisa disimpan dalam waktu lama sampai dua tahun. Penggunaan hormon ini juga relatif mudah (hanya membutuhkan sedikit alat dan bahan), tidak membutuhkan refrigenerator dalam penyimpanan, dosis dapat diperkirakan berdasar berat tubuh donor dan resepien, adanya kemungkinan terdapat hormon hormon lain yang memiliki sifat sinergik.

 

  • Kekurangan dari teknik hipofisasi adalah adanya kemungkinan terjadi reaksi imunitas (penolakan) dari dalam tubuh ikan terutama jika donor hipofisa berasal dari ikan yang berbeda jenis, adanya kemungkinan penularan penyakit, adanya hormon hormon lain yang mungkin akan merubah atau malah menghilangkan pengaruh hormon gonadotropin.

 

2.6. Pengawetan Kelenjar Hipofisa

 

Ada dua metode yang biasa dilakukan dalam mengawetkan kelenjar hipofisa yaitu metode kering dan metode basah. Metode kering dilakukan dengan menggunakan larutan aseton. Kelenjar hipofisa direndam dalam larutan aseton selama 8-12 Jam, kemudian larutan aseton dibuang dan kelenjar hipofisa dikeringkan lalau disimpan. (Susanto, 2001)

Metode basah digunakan dengan larutan alkohol pekat. Kelenjar hipofisa dimasukan dalam larutan alkohol selama 24 jam. Dalam proses perendaman alkohol diganti selama 2-3 kali. Setelah 24 jam kelenjar hipofisa dibiarkan terendam larutan alkohol sampai akan digunakan. (susanto, 2001)

 

2.7. Hormon Reproduksi

 

GnRH (Gonadotropin Releasing Hormon): diekresikan oleh hipotalamus untuk merangsang hipofisa mengeskresikan kelenjar FSH (Folikel Simulating Hormon) pada betina untuk mematangkan ovarium dan LH (Luitenizing Hormon) pada Jantan Gametogenesis yaitu memacu kematangan telur dan sperma.

luteinizing hormone releasing hormone (LHRH) berfunsi untuk memunculkan sifat pariental care pada ikan. Hormon ini juga akan memacu kelenjar susu memproduksi air susu pada mamalia

Prolaktin merupakan polipeptida yang mengandung gugus tirosil hormon ini berfungsi sebagai pemicu pariental care

  • GTH adalah hormone gonadotropin fungsinya adalah merangsang ovulasi sel gamet.
  • GIH (gonad Inhibitting Hormone) merupakan hormon penghambat pematangan gonad yang diskresikan oleh kelenjar yang terdapat di tangkai mata krustacea.
  • GSH (Goanad Stimulating Hormone) akan bekerja jika kelenjar penghasil GIH diablasi. GSH berfungsi untuk merangsang vitelogenesis pada ovarium.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III METODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat

 

Praktikum pengawetan hifofisa dilakukan pada hari Rabu, 02 Oktober 2013 di  Departemen Budidaya Perairan, Vedca cianjur.

3.2 Alat dan Bahan

 

3.2.1. Alat

  • Timbangan
  • Penggaris
  • Peralatan Bedah
  • Nampan
  • Tissue
  • Lap
  • Gelas Objek
  • Lup
  • Mikroskop

3.2.2. Bahan

Ikan donor

3.3 . Langkah kerja

 

  1. Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan
  2. Ukur panjang dan berat masing-masing ikan sempel
  3. Untuk pengamatan struktur hipotalamus-hipofisa lakukan pemotongan kepala ikan dan menyingkap otak ikan sehingga kelenjar hipotalamus-hipofisa terlihat dengan jelas !
  4. Ambil saluran bagian kelenjar hipofisa ,letakan pada botol kecil dan di berilarutan.
  5. Simpan hifopisa tersebut

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

 

4.2 Pembahasan

Dalam pembedahan dilakukan dengan alat bedah yang bersih dikarenakan pada saat mengambil hifotalamus jika kotor banyak bakteri sehingga pada saat pengambilan alat yang kotor akan terkontaminasi dengan kelenjar hipofisanya hal tersebut mengakibatkan kelenjar hipofisa akan terurai dengan bakteri dan akan cepat membusuk. Pengawetan dikakukan untuk pemakaian hifopisa bisa dilakukan esok hari atau beberapa hari kemudian digunakan hal tersebut membuat efektif dalam pengorganisasian atau persiapan untuk persiapan memproduksi benih ikan agar lebih terorganisir.  Menurut Susanto, (2001) metode hipofisasi adalah usaha untuk memproduksi benih dengan menggunakan bantuan kelenjar hipofisa dari ikan donor yang menghasilkan hormon yang merangsang pemijahan seperti gonadotropin

 

 

 

 

 

 

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Pengawetan bertujuan untuk penggunaan kelenjar hifofisa pada waktu-waktu tertentu dan mencegah terjadinya busuk akibaar dari bakteri dan terkontaminasi udara pada kelenjar hifofisa.

5.2 Saran

Membetah membutuhkan ketelatenan dan ketelitian agar tidak mengenai kelenjar hifofisanya leh sebab itu dalam pembenahan harus teliti dan berhati-hati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

 

Susanto, H. 2001. “Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis”. Penebar Swadaya : Jakarta

http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotalamus

Budiyanto. 2002. Pengaruh Penyuntikan Ekstraks Kelenjar Hipofisa Ikan Patin Terhadap Laju Pertumbuhan Harian Ikan Koi yang Dipelihara Dalam Sistem Resirkulasi. (Skripsi tidak dipublikasikan). Bogor: Program Studi Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikananan dan Ilmu Kelautan IPB

 

 

Advertisements