LAPORAN SELEKSI IKAN

Sex Reversal

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Nama           : ELFIAN PERMANA

NIM             : D41121609

 

 

 

 

PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA IV

MANAJEMEN AGROINDUSTRI

PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN

TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) PERTANIAN

Kerjasama Dengan

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2013


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar belakang

Ikan Nila merupakan jenis ikan tawar yang cukup disukai masyakrakat terutama pada dagingnya yang mempunyai ciri khas dan banyak yang membudidayakan ikan bawal tersebut dikarenakan mempunyai ekonomis yang cukup tinggi dan Selain itu ikan nila juga mempunyai kadar nutrisi yang sangat dibutuhkan bagi tubuh manusia. Untuk mepertahankan tetap bisa kosumsi di masyarakat maka komsumsi ikan nila harus berbading lurus dengan produksi nila tersebut. Produksi bisa dilakukan dengan budidaya ikan nila dan penangkapan.

Budidaya Ikan nila haruslah menguntungkan bagi pengkonsumsi dan pembudidaya, dalam hal itu ikan nila yang mempunyai pertumbuhan yang cepat dapat menguntungkan bagi sipembudiaya terutama menghemat dalam pemberian pakan sependapat dengan seperti pendapat (rizal effendi, 2004) ikan yang tumbuh cepat mencapai ukuran pasar dalam waktu relative singkat hingga pemanenan bisa lebih sering. Sehingga akan menghasilkan keuntungan yang cukup banyak dari hail pemanenan.

Ikan nila jantan lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan nila betina dikarenakan ikan jantan yang nafsu makannya lebih banyak dari ikan nila betina, seperti pendapat Muhamad Sulhi, Spi, peneliti di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar), Bogor menuturkan, proses jantanisasi pada budidaya ikan konsumsi sekaligus berefek mempercepat pertumbuhan. Jantan pada dasarnya memiliki pertumbuhan lebih cepat ketimbang betina karena nafsu makannya jauh lebih tinggi. ( majalah tribus ) . sehingga dengan memproduksi nila jantan akan mempercepat pertumbuhan dan mempersingkat waktu pemanenan untuk memproduksi ikan nila jantan semua. Oleh karena itu dapat menggunakan metode sex reversal untuk memperoleh ikan nila yang mayoritas jantan pada saat produksi.

1.2. Tujuan

  • Untuk mengetahui cara penggunan hormon dari madu.
  • Untuk mengetahui keberahasilan pembalikan sex dengan madu.
  • Untuk mengetahui sex reversal dengan metode perendam.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nila Ikan Nila

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan                :           Animalia

Filum                     :           Chordata

Kelas                     :           Osteichtyes

Ordo                      :           Perciformes

Famili                    :           Cichlidae

Genus                    :           Oreochromis

Spesies                  :           Oreochromis niloticus

Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia sekaligus hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.

Ikan peliharaan yang berukuran sedang, panjang total (moncong hingga ujung ekor) mencapai sekitar 30 cmdan kadang ada yang lebih dan ada yang kurang dari itu. Sirip punggung ( pinnae dorsalis) dengan 16-17 duri (tajam) dan 11-15 jari-jari (duri lunak); dan sirip dubur (pinnae analis) dengan 3 duri dan 8-11 jari-jari.

Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis tegak, 7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung dengan warna merah atau kemerahan (atau kekuningan) ketika musim berbiak.ada garis linea literalis pada bagian truncus fungsinya adalah untuk alat keseimbangan ikan pada saat berenang

 

2.2.  Sex Reversal  

Sex reversal adalah suatu teknologi yang membalikan arah perkembangan kelamin menjadi berlawanan. Cara ini dilakukan pada waktu ikan baru menetas gonad ikan belum berdiferensiasi secara jelas menjadi jantan atau betina tanpa merubah genotipnya. Tujuan utama dari penerapan teknik sex reversal adalah menghasilkan populasi monoseks (tunggal kelamin). Dengan membudidayakan ikan monoseks akan didapatkan berbagai manfaat antara lain mendapatkan ikan dengan pertumbuhan yang cepat, mencegah pemijahan liar, mendapatkan penampilan yang baik, dan menunjang genetika ikan (teknik pemurnian ras ikan). Beberapa jenis ikan, baik ikan konsumsi maupun ikan hias, telah berhasil diproduksi dengan teknologi sex reversal (Junior, 2002).

Pada dasarnya ada dua metode yang digunakan untuk mendapatkan atau memperoleh populasi monosex (sex reversal) yaitu melalui terapi hormon (cara langsung) atau rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung, hormone androgen dan estrogen mempengaruhi fenotip tetapi tidak mempengaruhi genotip.

Pada metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan, apapun jenis kromosom sexnya. Hormon biasanya diberikan pada awal kehidupan ikan. Pada metode ini memiliki kelebihan utama yaitu sederhana. Selain itu juga pada dosis yang optimal kematian ikan dapat dioptimalkan dan juga memiliki kelemahan yaitu keberhasilannya sangat beragam yang disebabkan oleh perbandingan kelamin alamiah antara jantan dan betina tidak selalu sama.

Mengingat permasalahan penggunaan hormon sintetik tersebut, diperlukan adanya bahan lain dalam sex reversal. Salah satu cara yang dianggap aman yaitu dengan penggunaan bahan alami yang aman dan ramah lingkungan, antara lain adalah dengan madu lebah hutan (Djaelani, 2007; Utomo, 2008; Sukmara, 2007).

2.2.1.  Manfaat

Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin tunggal). Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat  dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapa ikan yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kolam  cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tinggi namun kualitasnya rendah. Pemeliharaan ikan monoseks akan mencegah perkawinan dan pemijahan liar sehingga kolam tidak cepat dipenuhi ikan. Selain itu ikan yang dihasilkan akan berukuran besar dan seragam. Contoh ikan yang cepat berkembangbiak yaitu ikan nila dan mujair.Pada beberapa jenis ikan hias seperti cupang, guppy, kongo dan rainbow akan memiliki penampilan tubuh yang lebih baik pada jantan daripada ikan betina. Dengan demikian nilai jual ikan jantan lebih tinggi ketimbang ikan betina.

Sex reversal juga dapat dimanfaatkan untuk teknik pemurnian ras ikan. Telah lama diketahui ikan dapat dimurnikan dengan teknik ginogenesis yang produknya adalah semua betina. Menjelang diferensiasi gonad sebagian dari populasi betina tersebut diambil dan diberi hormon androgen berupa metiltestosteron sehingga menjadi ikan jantan. Selanjutnya ikan ini dikawinkan dengan saudaranya dan diulangi beberapa kali sampai diperoleh ikan dengan ras murni.

 

 

 

 

 

2.2.2. Metode Sex Reversal

 

  1. Metode Oral (Melalui Pakan)

Metoda oral adalah metode pemberian hormon melalui mulut yang dapat  dilakukan dengan pemberian pakan alami atau pakan butan. Jika pada pakan buatan, hormon 17 α metyltestoesteron dilarutkan dalam pelarut polar (alkohol) secara merata dengan ketentuan dosis disesuaikan dengan jenis ikan yang akan diaplikasikan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh pakar genetika sampai saat ini teknik penghormonan melalui oral paling banyak digunakan para pembudidaya ikan karena hasil yang diperoleh lebih dari 95 sampai 100 % bila dibandingkan dengan perendaman yang menghasilkan 70 – 80 %. Menurut Muhammmad Zairin Jr (2002), menyatakan bahwa pemberian akriflavin dengan dosis 15 mg/kg pakan dengan frekwensi pemberian pakan 3 – 4 kali sehari dapat menghasilkan 89% ikan jantan dengan survival rate 88 %.

  1. Perendaman (dipping)

Metoda perendaman (dipping), yaitu dengan cara merendamkan larva ikan ke dalam larutan air yang mengandung 17 α metyltestoesteron dengan dosis 1,0 gram/liter air.  Pada umumnya metode ini diaplikasikan pada embrio, dan pada larva ikan yang masih belum mengalami diferensiasi jenis kelamin (sex). Lama perendaman embrio atau larva ikan tergantung dosis hormon yang diaplikasikan, dimana semakin banyak dosis hormon maka semakin singkat waktu perendaman dan demikian juga sebaliknya.

Perendaman yang dilakukan pada fase embrio dilakukan pada saat fase bintik mata mulai terbentuk, karena dianggap embrio telah kuat dalam menerima perlakuan.

 

Alur pembentukan sel kelamin

Lemak      kolestrol

Pregnenolone

Progesteron

17 α Hidroxy progesteron

17 α H     17 α , 20 β Dihidroxy

Androstenodion

Aromatase

Testoteron           Estradiol 17 β (♀)

–          AI = Aromatase inhibiton (♂)

–          Acrivlafin (berasal dari senyawa pembuat cat)

 

 

2.3. Propolis

propolis adalah nama dari zat yang dihasilkan lebah yang memiliki sifat anti bakteri, jamur dan virus..Pada kenyataannya dalam penelitian, kualitas propolis yang dihasilkan lebah ternyata sangat tergantung dari asal letak geografis dimana lebah itu hidup.

kandungan-kandungan yang ada dalam propolis secara garis besar:

55% resin dari tanaman, 10% minyak essensial, 5% pollen, dan 30% balsam, enzim, wax dan kandungan lainnya.

Bioflavonid atau juga disebut vitamin C dosis tinggi, juga makanan bagi sel-sel tubuh

Multivitamin seperti A, B1, B2, B5, B6 , A, C, E, RR, dan banyak lagi kecuali vitamin K

Asam Amino yang dibutuhkan untuk meregenerasi sel

Semua kandungan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh

Kandungan dalam propolis sebenarnya begitu banyak dan propolis dari macam-macam daerah memiliki kandungan yang berbeda-beda, semua kembali dari letak geografis dimana lebah itu hidup.  kualitas terbaik dengan kandungan propolis terbaik kembali tergantung tempatnya. Sebab para peneliti pun menyatakan bahwa propolis memiliki kandungan yang luar biasa dan begitu kompleks, bahkan banyak sekali kandungan-kandungan dan zat-zat baru yang belum diketahui namanya.

Bahkan uniknya propolis, bioflavonid atau vitamin C dosis tinggi yang terkandung dalam propolis memiliki sifat basa beda dengan vitamin C yang terkandung dalam buah-buahan yang hampir semua bersifat asam. Dari berbagai kandungan yang begitu banyak para peneliti pun mengakui bahwa masih banyak zat-zat lain yang sedang mereka teliti hingga kini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat

Pelaksanaan praktikum Sex revelsal hormone dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 26 September 2013, dimulai dari pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, PPPPTK Pertanian vedca cianjur, Jawa  barat

3.2.      Alat dan bahan

3.2.1    Alat

No Alat Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Seser Diameter  40 cm 2 Untuk menangkap ikan
2. Hapa Jaring Kubus 1 Untuk pembatas ikan bergerak
3. Ember Diameter 30 cm 2 Untuk penampungan sementara ikan
4. hitter 1 Pemanas air
5. Toples 20 cm 1 Wadah ikan

 

3.2.2 Bahan

No Bahan Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1. Larva Ikan nila Ikan yang berusia 1 – 10 hari 100 Bahan sex reversal
2. Propolis Madu Sarang lebah 10 tetes / 1 L Bahan sex reversal

 

 

 

 

 

 

3.3 Langkah kerja

  • Siapkan alat dan bahan
  • Isi toples tetskan propolites 30 tetes ke toples berisi air.
  • Pasang hitter di toples
  • Ketika suhu 28° C stabil masukan ikan ke toples
  • Setelah itu cabut hitter.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil

 

pemasangan hitter menit pertama.

 

keadaan ikan pada menit ke 4.

tampak dari bawah toples  menit ke 10

 keadaan ikan sudah mati.

4.2 Pembahasan

Sex reversal merupakan teknologi yang membalikan arah perkembangan kelamin ke arah yang berlawanan. Ikan pada saat baru menetas belum berdeferensiasi kelamin atau belum definitif gonad jantan dan betina belum terbentuk sehingga mudah di lakukan sex reversal. Seperti pendapat yamazaki (1983) massa yang tepat dan baik untuk pemberian hormon yaitu disaaat ikan masih dalam stadia larva atau ikan saat mulai makan.  Metode perendaman merupakan metode yang merendamkan ikannya dengan air yang diberi hormon dan hormon yang bercampur air bergantian masuk dan menyerap kedalam tubuh setelah itu dalam tubuh ikan mulai bereaksi dan menggubah kelamin ikan dalam tubuh. Metode perendaman merupakan metode yang efesien dikarenakan hanya memasukan ikan ke dalam larutan hormone yang sudah dicampurkan air dalam jumlah larva ikan yang banyak akan tetapi metode perendaman campuran hormon dengan madu / propolis membutuhkan banyak  dosis banyak dikarenakan harus bercampur dengan air yang untuk direndamkan.

Perlakukan dengan perlakuan menggunakan suhu 28° C , umur ikan yang 7 hari , hormon penggunaan 30 tetes sekitar 30 ml , dengan waktu 30 menit. Kegiatan praktikum dilakukan dengan dosis 30 Tetes berbanding ketika pada saat perendaman ikan, pada waktu 30 menit ikan mengalami kematian dengan SR 0 %

Kegiatan praktikum mengalami kematian dikarenakan beberapa faktor yaitu :

  1. Suhu (28 ° C ) dalam toples

Selanjutnya  Zairin (2002) menyatakan bahwa faktor yang sangat berpengaruh dalam metode seks reversal baik secara langsung maupun tidak langsung adalah kondisi lingkungan seperti suhu, PH, dan oksigen terlarut, dimana antara faktor tersebut yang paling berpengaruh dalam proses maskulinisasi adalah suhu dimana bekerja langsung pada metabolisme tubuh dan kerja hormone.

Dikarenakan jumlah Air yang sedikit pemakaian hiter yang 28 ° C akan tetapi pada keadaannya suhu air lebih dari 35° C . jumlah 15 liter air tidak sebanding dengan panas hitter.

 

 

 

  1. Aklimatisasi

Pada saat pemindahan ikan, suhu tubuh ikan kaget dikarenakan pada saat suhu di akuarium dingin dan diberi hitter yang cukup panas mengakibatkan ikan susah untuk menstabilkan tubuhnya berdampak ikan mati.

  1. Propolis

Propolis mengandung kolestrol yang mengakibatkan ikan bermasalah pada dalam tubuhnya terutama pada organ larva yang masih primitive sulit untuk ikan mencerna terlalu banyak kolestrol yang seharusnya larva membutuhkan protein tinggi.

  1. Jumlah dosis yang tinggi

Jumlah dosis yang tinggi membuat luntuarva harus beradaptasi setelah bertukar cair osmotik yang lebih keras . membuat ginjalnya harus berkerja lebih ekstra.

  1. Daya tahan ikan

Daya tahan ikan yang masih berusia 7 hari belum kuat untuk perubahan suhu,osmotik dan mineral secara signifikan dan membuat ikan tersbut tidak mampu untuk bertahan hidup.

Penggunaan propolis diproyeksikan kurang efisein hanya menegaskan perubahan kelamin ikan saja tidak membalikan kelamin ikan dikarenakan kandungan propolis yang mengandung kolestrol berubah menjadi progesterone kemudian estradiol 17 β sehingga hal tersebut diproyeksikan akan tidak akan terjadi perubahan apa pun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

5.2 Kesimpulan

  1. Ikan pada saat baru menetas belum berdeferensiasi kelamin atau belum definitif gonad jantan dan betina belum terbentuk sehingga mudah di lakukan sex reversal.
  2. Masa yang tepat dan baik untuk pemberian hormon yaitu disaaat ikan masih dalam stadia larva atau ikan saat mulai makan (berumur 2-3 hari).
  3. propolis mempunyai kandungan kolestrol dan akan berubah menjadi testoteron dan estradiol.
  4. lingkungan seperti suhu, PH, dan oksigen terlarut, dimana antara faktor tersebut yang paling berpengaruh dalam proses maskulinisasi adalah suhu dimana bekerja langsung pada metabolisme tubuh dan kerja hormone dan juga berpengaruh terhadap daya tahan tubuh.
  5. Penggunaan propolis diproyeksikan kurang efisein hanya menegaskan perubahan kelamin ikan saja tidak membalikan kelamin ikan dikarenakan kandungan propolis.

 

5.2 Saran

Pemberian dosis dalam kegiatan apapun seperti pengobatan, pencegahan penyakit (pengapuran) dan penelitian / praktikum seperti ini harus diperhatikan sebelum memulai kegiatan dan pengecekan alat dan bahan dalam kegiatan itu sangat penting untuk mencapai hasil yang diinginkan.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Djaelani, F. 2007. Pengaruh Dosis Madu Terhadap Pengarahan Kelamin Jantan Pada Ikan Gapi (Poecilia reticulata Peters) dengan Metode Perendaman Larva). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Effendy, Rizal. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_nila

http://propolis-kesehatan.blogspot.com/2013/02/kandungan-dalam-propolis.html

Junior, M. Zairin. 2002. Sex Reversal. Jakarta: Penebar Swadaya.

Yamazaki F.1983.sex control and manipulation in fish .jour . aquatic

Zairin, M. 2002. Sex reversal: memproduksi benih ikan jantan atau betina. Penebar Swadaya, Jakarta.