BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Kehidupan ikan tergantung terhadap lingkungan hidup ikan itu sendiri tinggal. Kehidupan ikan yang baik. Kualitas perairan ditentukan oleh faktor biologis, faktor kimia, dan faktor fisika. Salah satu faktor kimia adalah kelarutan oksigen (DO) dan derajatkeasaman (pH). Menurut Yuliani dan Raharjo (2013), fluktuasi kualitas air dipengaruhi antara lain oleh agitasi udara, fotosintesis tumbuhan air, dan aktivitasmikroba dekomposter. Kadar oksigen rendah dan pH yang rendah akan berpengaruh terhadap aktivitas respirasi ikan.

pH merupakan salah satu hal penting dalam menentukan kualitas air suatu perairan. pH umumnya mengalami peningkatan akibat dari perairan yang sudah tercemar oleh ulah manusia itu sendiri. Itu karena banyaknya limbah, ataupun bahan organic dan anorganik yang mencemari perairan tersebut. Walaupun ada beberapa factor lain yang dapat menyebabkan itu terjadi selain ulah manusia.

Nilai pH pada suatu perairan mempunyai pengaruh yang besar terhadap organisme perairan sehingga seringkali dijadikan petunjuk untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Biasanya angka pH dalam suatu perairan dapat dijadikan indikator dari adanya keseimbangan unsur-unsur kimia dan dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur kimia dan unsur-unsur hara yang sangat bermanfaat bagi kehidupan vegetasi akuatik. Tinggi rendahnya pH dipengaruhi oleh fluktuasi kandungan O2 maupun CO2. Tidak semua mahluk bisa bertahan terhadap perubahan nilai pH, untuk itu alam telah menyediakan mekanisme yang unik agar perubahan tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan cara perlahan (Sary, 2006). Tingkat pH lebih kecil dari 4, 8 dan lebih besar dari 9, 2 sudah dapat dianggap tercemar. Disamping itu larutan penyangga merupakan larutan yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun oleh basa lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi, yaitu Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7).

mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti natrium, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain. Larutan penyangga yang sedangkan pH yang tinggi mengindikasikan perairan basa. Larutan penyangga yang bersifat basa Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebihi. Secara pH parameter ntuk kehidupan ikan-ikan tersebut adalah 6,5-8,4 (Asdak, 2007).

Inilah yang menjadi rumusan masalah yang akan dibahas yaitu pengaruh peningkatan pH terhadap perairan.

1.2. Tujuan

Tujuan praktikum ini yaitu mengetahui tingkah laku ikan terhadap perubahan pH air.

1.3.  Manfaat

Manfaat dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui sejauh mana ikan dapat bertahan hidup dan mengetahui perbandingan asam,basa, dan netral.

 

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Sistematika dan Morfologi Ikan Patin (Pangasius sp)

Adapun sistematika ikan Patin (Pangasius sp) menurut Saanin (2003), yaitu sebagai berikut:

Kingdom                : Animalia

phylum                   : Chordata
sub phylum            : Vertebrata
class                       : Pisces
sub class                 : Teleostei
ordo                       : Ostariophysi
sub Ordo                : Siluroidei
family                     : Schilbeidae
genus                      : Pengasius
spesies                    : Pangasius sp

Ikan patin memiliki warna tubuh putih agak keperakan dan punggung agak kebiruan, bentuk tubuh memanjang, kepala relatif kecil, pada ujung kepala terdapat mulut yang dilengkapi dua pasang sungut yang  pendek. Pada sirip punggung memiliki sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi patil yang bergerigi dan besar di sebelah belakangnya. Sirip ekor membentuk cagak dan bentuknya simetris. Ikan patin tidak mempunyai sisik, sirip dubur relatif  panjang yang terletak di atas lubang dubur terdiri dari 30-33 jari-jari lunak sedangkan sirip perutnya memiliki enam jari-jari lunak. Memiliki sirip dada 12-13 jari-jari lunak dan sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi senjata yang dikenal dengan patil, di bagian permukaan punggung ikan patin terdapat sirip lemak yang berukuran kecil (Saanin, 2003).

Ikan Patin nama Inggrisnya Catfish, yang termasuk dalam FamiliPangasidae, Ikan Patin bersifat nocturnal (lebih banyak melakukan aktivitas di malam hari), juga sifatnya yang Omnivora (pemakan segala macam makanan), antara lain cacing, serangga, udang, ikan yang kecil–kecil dan biji–bijian , bahkan sabun detergen batangan (Affandi, 2001).

Ikan Patin, termasuk ikan dasar, dapat terlihat dari bentuk mulutnya yang terletak lebih kebawah, dan habitat ikan ini di sungai–sungai besar , dan muara– muara sungai, dan tersebar di Indonesia, Myanmar dan india (Affandi, 2001).

Banyak kerabat Ikan Patin ini yang termasuk dalam keluarga Pangasidae ini, antara lain yang tersebar di Indonesia pada umumnya memiliki ciri–ciri bentuk badannya sedikit memipih, tidak bersisik atau ada yang bersisik sangat halus, mulutnya kecil dan ada sungutnya berjumlah 2-4 pasang yang berfungsi sebagai alat peraba, terdapat Patil/panting pada sirip punggungnya juga sirip dadanya, sirip duburnya panjang dimulai dari belakang dubur hingga sampai pangkal sirip ekor (Affandi, 2001).

 

2.2.  Habitat dan Penyebaran Ikan Patin

Habitat dan penyebaran ikan patin (pangasius sp) dimana patin tidak pernah ditemukan di daerah payau atau di air asin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air (Affandi, 2001).

Habitat atau lingkungan hidup ikan patin banyak ditemukan di perairan air tawar, di dataran rendah sampai sedikit payau. Penyebaran ikan patin di Indonesia berada di Pulai Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Ikan patin secara alami berada di perairan umum, namum seiring dengan semakin banyaknya petani yang membudidayakan ikan patin ini, pemeliharaan ikan patin banyak dilakukan di kolam-kolam buatan (Affandi, 2001).

 

2.3. Kebiasaan Makan

Kebiasaan makan ikan (food habits) adalah kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan. Kebiasaan makan ikan diperlukan untuk mengetahui gizi alamiah ikan tersebut sehingga dapat dilihat hubungan ekologi diantara organisme diperairan itu, misalnya bentuk– bentuk pemangsaan, saingan dan rantai makanan. Jadi makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi populasi pertumbuhan dan kondisi ikan. Jenis makanan dari spesies ikan biasanya tergantung umur, tempat dan waktu (Affandi, 2001).
Ikan Patin termasuk ikan yang beraktifitas pada malam hari ataunocturnal. Ia termasuk ikan ikan dasar . Secara fisik memang dari bentuk mulut yang lebar persis seperti ikan demersal lain seperti lele dan ikan gabus. Malam hari ia akan keluar dari lubangnya dan mencari makanan renik yang terdiri dari cacing, serangga, udang sungai, jeni–jenis siput dan biji–bijian juga. Dari sifat makannya ikan ini juga tergolong ikan yang sangat rakus karena jumlah makannya yang besar (Affandi, 2001).

Ikan patin mempunyai kebiasaan makan di dasar perairan atau kolam (bottom feeder). Berdasarkan jenis pakannya, ikan patin digolongkan sebagai ikan yang bersifat omnivora (pemakan segala). Namun, pada fase larva, ikan patin cenderung bersifat karnivora. Pada saat larva, ikan patin bersifat kanibalisme atau bersifat sebagai pemangsa. Oleh karena itu, ketika masih dalam tahap larva, pemberian pakan tidak boleh terlambat (Affandi, 2001).

 

 

2.4 Derajat Keasaman (pH).

Aktifitas ikan patin yang memproduksi asam dari hasil proses metabolisme dapat mengakibatkan penurunan pH air, kolam yang lama tidak pernah mengalami penggantian air akan menyebabkan penurunan pH, hal ini disebabkan karena peningkatan produksi asam oleh ikan patin yang terakumulasi terus-menerus didalam kolam dan ini dapat menyebabkan daya racun dari amoniak dan nitrit dalam budidaya ikan nila akan meningkat lebih tajam. pH yang sesuai agar pertumbuan ikan patin optimum adalah pada pH 6 – 7 (Subani, 2000).

 

2.5. Derajat Keasaman pH sebagai Paramaeter Perairan

Derajat keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang mencirikan keseimbangan asam dan basa. Derajat keasaman suatu perairan, baik tumbuhan maupun hewan sehingga sering dipakai sebagai petunjuk untuk menyatakan baik atau buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Nilai pH juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktifitas perairan (Pescod, 1973). Nilai pH pada suatu perairan mempunyai pengaruh yang besar terhadap organisme perairan sehingga seringkali dijadikan petunjuk untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Biasanya angka pH dalam suatu perairan dapat dijadikan indikator dari adanya keseimbangan unsur-unsur kimia dan dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur kimia dan unsur-unsur hara yang sangat bermanfaat bagi kehidupan vegetasi akuatik. Tinggi rendahnya pH dipengaruhi oleh fluktuasi kandungan O2 maupun CO2.

Tidak semua mahluk bisa bertahan terhadap perubahan nilai pH, untuk itu alam telah menyediakan mekanisme yang unik agar perubahan tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan cara perlahan (Sary, 2006). Tingkat pH lebih kecil dari 4, 8 dan lebih besar dari 9, 2 sudah dapat dianggap tercemar. Disamping itu larutan penyangga merupakan larutan yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun oleh basa lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi, yaitu Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti natrium, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain. Larutan penyangga yang sedangkan pH yang tinggi mengindikasikan perairan basa. Larutan penyangga yang bersifat basa Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebihi. Secara pH parameter ntuk kehidupan ikan-ikan tersebut adalah 6,5-8,4 (Asdak, 2007).

 

 

 

BAB 3

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1     Tempat dan Waktu

Praktikum Fisiologi Hewan Air ini dilaksanakan di Laboratorium Dasar Perikanan, Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya pada hari Rabu, 4 Maret 2015 pukul 14.30 WIB sampai dengan selesai.

 

3.2     Bahan dan Metoda

          Tabel 1.  Bahan yang digunakan dalam praktikum

No Bahan Spesifikasi Fungsi
1

2

3

 

4

5

6

 

7

8

Toples

Tisu

Kertas Lakmus

Air tawar

Ikan patin

Ikan sepat siam

NaOH

H2SO4

2 buah

1 buah

3 buah

 

2  liter

2 ekor

1 ekor

 

Secukupnya

Secukupnya

Sebagai wadah pemeliharaan ikan Untuk membersihkan toples dan peralatan lainnya

Untuk mengukur pH air

 

Media pemeliharaan ikan

Bahan uji percobaan

Bahan uji percobaan

 

Untuk menaikkan pH air

Untuk menurunkan pH air

 

3.2.1.   Metoda

   Adapun cara kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. Bersihkan wadah yang akan digunakan untuk lingkungan idup ikan.
  2. Isi toples dengan air 2 liter.
  3. Ukur pH awal air dengan menggunakan kertas lakmus dan kemudian catat berapa pH-nya.
  4. Masukkan ikan kedalam toples yang telah diisi dengan air yang memiliki pH 7, amati tingkah laku ikan selama 10 menit.
  5. Tambahkan NaOH sampai pH menjadi 9, amati tingkah laku ikan selama 10 menit.
  6. Tambahkan H2SO4sampai pH menjadi 5, amati tingkah laku ikan selama 10 menit.

 

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1     Hasil

Hasil yang diperoleh dari praktikum ini disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 1.Hasil respon ikan terhadap perlakuan pH setiap dalam wadah toples

No pH Respon Ikan Keterangan
Ikan Sepat Ikan Patin
1 3 Stres Hiperaktif, sering muncul ke permukaan Stress, pingsan
2 5 Normal Awal stress, lalu melambat Ikan hidup
3 7 Normal Normal Ikan hidup
4 9 Aktivitas normal Aktivitas normal Ikan hidup
5 11 Ikan pasif Ikan stress, overculum cepat Ikan mati

 

Pada percobaan pengamatan respon ikan terhadap perubahan pH ini ada beberapa langkah yang digunakan yaitu dengan menambahkan larutan H2SO4 yang merupakan asam kuat dan NaOH yang merupakan basa kuat. Pada percobaan ini, ikan diberikan respon dengan kondisi yang dinaikkan yaitu mulai dari pH 3-11. Bisa kita lihat dari tabel hasil bahwa ikan mampu bertahan pada kisaran pH 5-9, itu menunjukkan bahwa kisaran pH yang bisa menjadi tempat hidup ikan berkisar 5-9. Ketika ikan berada pada pH dibawah batasannya ikan akan pingsan. Semakin tinggi pH yang diberikan, akan membawa dampak buruk bagi ikan. Hal yang terjadi biasanya ikan mengalami stres sampai mati.

 

Tabel 2.Hasil respon ikan terhadap perubahan pH di dalam toples

No pH Respon Ikan Keterangan
Ikan Sepat Ikan Patin
1 5 Stres Stres Ikan hidup
3 7 Aktivitas normal Aktivitas normal Ikan hidup
4 9 Stres Stres Ikan hidup

 

Percobaan ini pH yang diberikan kedalam air tidak sebesar pada percobaan pertama. Percobaan ini menggunakan pH dari 5-9. Menaikkan pH dapat menggunakan larutan NaOH yang merupakan basa kuat. Pada percobaan ini, ikan masih dapat bertahan hidup, karena ikan air tawar mampu bertahan hidup pada kondisi kisaran pH dari 5-9. Kamampuan hidup ikan dalam perubahan pH tidak sama, hal ini dapat terlihat dari percobaan yang dilakukan bahwa ikan patin langsung lemas atau tidak begitu aktif dan mengalami stres saat kondisi pH lingkungannya berubah.

 

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.  Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. pH sangat berpengaruh pada kehidupan ikan.
  2. Jika pH terlalu rendah,ikan akan pingsan.
  3. Jika pH terlalu tinggi, ikan akan mengalai stres dan mati.
  4. Ikan cenderung bisa bertahan pada pH rendah.
  5. Ikan patin dan sepat siam memiliki respon yang berbeda terhadap pH.

 

5.2.  Saran

Sebaiknya alat yang akan digunakan untuk praktikum disesuaikan dengan jumlah kelompok praktikan agar bisa menghemat waktu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Odum, E. P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sounders Company. Philadelphia, London.
Odum E. P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Yogayakarta. Gajah Mada University press.
Pescod, M. B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream Standard for Tropical Countries. AIT, London.
Sary, 2006. Bahan Kuliah Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur
www. Nn. Elly_k55588800@yahoo.com. Diakses pada Sabtu,12 Desember 2009
http://www.nprihantini@hotmail.com
<nprihantini@hotmail.com. diakses=”” pada=”” sabtu,12=”” desember=”” 2009>www. R. Eko Prihartono.blogspot@yahoo.com. Diakses pada Sabtu,12 Desember 2009
http://www.airminumisiulang.com/image-product/img75.JPG. Diakses pada Sabtu,12 Desember 2009

 

 

Sumber penelitian : http://meisardi.blogspot.co.id/2016/01/laporan-tentang-respon-ikan-terhadap.html

Dilengakapi beberapa refrensi dan literatur