BAB 1. PENDAHULUAN

Ikan  hias  merupakan salah satu ikan  yang memiliki prospek  penting dan mempunyai prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Indonesia mampu melakukan penjualan senilai USD24 juta pada 2014 (KKP, 2014). Pasar yang sangat luas baik dalam negeri terutama laur negeri, ikan hias menjadi prospek yang baik terutama dikalangan penghobi hiasan ikan.

Potensi Ikan hias di Indonesia sangat besar spesies ikan hias Indonesia paling terbesar dan pengekspor ke 5 terbesar. Ikan hias yang paling digemari oleh pasar yaitu ikan yang berwarna cerah, bentuk unik dan mudah dipelihara. Ikan hias yang paling populer pada saat ini yaitu arwana, ikan koki, ikan koi, ikan diskus dan ikan rainbow.

Ikan Botia merupakan ikan hias asli Indonesia yang mempunyai nama daerah Ikan Bajubang, ikan ini hanya bisa dijumpai di dua tempat di Indonesia yakni Sungai Batanghari, Jambi dan Sungai Barito, Kalimantan. botia ini menjadi peluang dalam kegiatan budidaya untuk menghasilkan peospek keuntungan yang besar.

Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan pengembang biakan ikan atau organisme air lainnya. Budidaya perikanan disebut juga sebagai budidaya perairan atau akuakultur mengingat organisme air yang dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja tetapi juga organisme air lain seperti kerang, udang maupun tumbuhan air.  Akuakultur atau budidaya perikanan merupakan suatu proses pembiakan organisme perairan dari mulai proses produksi, penanganan hasil sampai pemasaran (Wheaton, 1977).

1.2 Tujuan

  • Sebagai informasi tentang pembenihan ikan botia
  • Pengetahuan baru ikan hias
  • Mengaplikasikan untuk peluang bisnis


BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

 

2.2 Klasifikasi Botia

Klasifikasi Ikan Botia

Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan botia adalah:

Fillum              : Chordate

Kelas               : Osteichthyes

Subkelas          : Actinopterygii

Ordo                : Teleostei

Subordo          : Cyprinoidea

Famili              : Cobitidae

Genus              : Botia

Spesies            : macracanthus

 

2.2 Morfologi dan Daerah Sebaran Ikan Botia

Ikan Botia memiliki bentuk tubuh memanjang dan pipih, perut hampir lurus, posisi lengkung sirip punggung lebih depan daripada sirip perut, memiliki empat pasang sungut. Warna dasar tubuh merah jingga kekuning-kuningan, yang dibalut warna hitam di tiga tempat. Satu memotong di kepala persis melintas di mata, di tengah tubuh agak lebar, terakhir di pangkal ekor merambat sampai sirip punggung. Sirip ekor tebal terbagi dengan ujung lancip, warna oranye dengan ujung kemerahan. Sirip anus hitam, dengan tulang sirip kuning, sirip dada berwarna merah darah. Botia memiliki duri di bagian bawah matanya.

Ikan botia yang berasal dari beberapa DAS di Sumatera dan Kalimantan. Penyebaran benih ikan botia di daerah banjiran sepanjang sungai Batang Hari mulai dari terusan sampai ke londerang pada musim penghujan. Penyebaran induk ikan botia mulai dari Muara Tembesi sampai Dusun Teluk Kayu Putih Kabupaten Tebo. Habitat ikan ini banyak ditemukan berkumpul di perairan yang tenang (tidak berarus deras). Ikan botia hidup di dasar perairan (termasuk ikan dasar), yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Suhu untuk pertumbuhan adalah 24-28oC

2.3 Pembenihan Ikan Botia

  1. Reproduksi

Botia yang sudah matang gonad akan berenang melawan arus menuju hulu sungai yang berair dangkal. Disepanjang sungai yang dangkal dan jernih itu induk botia akan memijah. Setelah memijah, ikan akan kembali ke hilir mengikuti aliran sungai. Saat memijah, botia melepaskan semua telur – telurnya secara serempak. Telur botia yang telah dibuahi akan menetas 14 – 26 jam setelah pembuahan. Benih ikan botia berkelompok dalam jumlah besar sehingga mudah ditangkap. Botia mulai matang gonad setelah ukurannya ± 40 gram, untuk botia jantan  dan untuk botia betina ± 70 gram, atau panjangnya lebih dari 15 cm.

Pengamatan histologi gonad ikan botia yang dilakukan oleh Susanto (1996), membagi tingkat kemetangan gonad (TKG) menjadi 6 fase, yaitu sebagai berikut :

  1. TKG 1. Sel telur baru mengalami perbanyakan dari sel epitel dan membentukoogonia.  Kumpulan oogeniaberbentuk bulat yang dilapisi oleh satu dinding epitel.  Sitoplasmanya berwarna merah jambu dengan nucleus yang besar
  2. TKG II. Ootgonia berkembang menjadi oositdenagn sitoplasma yang bertambah besar dengan nucleus yang terletak ditengah – tengahnya.  Selama perkembangannya, oosit ditutupi satu baris epitel.  Diameter oosit berkisar antara 100 – 150 um.
  3. TKG III. Fase ini adlah fase berkembangnya dinding sel.  Oosit semakin membesar dan inti sel mulai tampak.  Sitoplasma yang berwarna biru merupakan awal / persiapan vitelogenesis.  Diameter telur antara 200 – 300um
  4. TKG IV. Membrane inti mulai tampak berwarna terang, melingkari inti sel. Inti berwarna merah jambu sedangkan sitoplasma berwarna biru yang lebih terang dibandingkan pada TKG II dan III.  Pada fase ini vitelogenesis berlangsung dan mulai terbentuk granula dan vakuola pada sitoplasma.  Juga mulai terbentuk zona radiate yang berasal dari sel epitel.  Diameter telur antara 300 – 500 um.
  5. TKG V. Pada fase ini nucleus tampak jelas dengan granula yang masih kasar. Sitoplasma berwarna biru, sedangkan nucleus berwarna merah jambu agak cerah dibandingkan dengan cairan yang mulai mengalami deregerasi.  Lapisan zona radiate tampak lebih jelas, tersusun dari sel berbentuk kubus dan sel tiang.  Diameter telur antara 500 – 600 um.
  6. TKG VI. Fase ini merupakan fase maksimum perkembangna oosit, dimana sudah mengalami perkembangna optimal dengan vakuola yang berukuran besar dan jumlahnya sangat banyak.  Nucleus serta granula tampak lebih jelas, memenuhi sitoplasma.  Dinding folikel terdiri atas zona radiate, teka interna dan eksterna.  Pada bagian tertentu dari teka terdapat epitel yang menipis, membentuk mikrofil.  Diameter telur mencapai kisaran antara 600 – 700 um.

Seleksi Induk

Dalam pemijahan buatan induk ikan botia masih diambil dari alam. Setelah induk diambil dari alam induk ikan botia ditempatkan pada wadah pemeliharaan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Proses adaptasi induk ikan botia hingga matang gonad sekitar 8-10 bulan. Induk yang sudah matang gonad ditandai dengan perut yang gendut pada induk betina, bobot > 80 gram, sedangkan induk jantan sudah berbobot> 40 gram, perut langsing, dan ditandai keluarnya cairan sperma setelah distripping.

Rangsangan Pemijahan

Untuk merangsang ovulasi atau spermiasi pada induk yang telah matang gonad dilakukan dengan cara stimulasi yaitu dengan menyuntikan hormon gonadotropin. Biasanya hormaon yang sering digunakan untuk merangsang pemijahan adalah “Ovaprim”. Ovaprim merupakan hormaon GNRH dan domperidon. Dosis yang digunakan dalam penyuntikan yaitu 1 ml/kg berat induk. Penyuntikan biasanya dilakukan dua kali. Penyuntikan pertama dilakukan bertujuan untuk pematangan sel telur dengan dosis 0,4 ml/kg. Sedangkan penyuntikan kedua bertujuan untuk proses pemijahan dengan dosis 0,6 ml/kg.

  1. Stripping

Stripping adalah proses pengeluaran telur dan dan sperma dari induk betina maupun jantan dengan cara mengurut bagian genetal induk. Sebelum induk dilakukan stripping dilakukan pembiusan dengan menggunakan MS22 (phenoxy ethanol) dengan dosis 0,3 ml/L air. Setelah dilakukan stripping, telur dan sperma dimasukan pada wadah terpisah. Biasanya sperma diencerkan dengan larutan fisiologis (perbandingan 1:3).

  1. Pembuahan

Pembuahan ika botia dilakukan secaran buatan yaitu dengan mencampur telur dan sperma. Setelah telur dan sperma tercampur, ditambahkan air untuk mengaktifkan sperma dan diaduk perlahan dengan bulu ayam. Selanjutya telur diletakan pada corong penetasan selama 15-26 jam pada suhu 26-270C.

  1. Pemanenan Larva

Pemanenan larva dilakukan setelah telur menetas atau setelah 15-26 inkubasi. Larva yang baru menetas tidak langsung dipindahkan ke dalam akuarium sebab larva botia sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Setelah 4 hari didalam corong penetasan dan larva sudah dapat makan artemia, larva botia baru bisa dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan larva atau akuarium.

  1. Pemeliharaan Larva

Pemeliharaa larva ikan botia dilakukan pada akuarium dengan padat tebar 5 ekor/liter. Pada larva berumur 4 hari, larva diberi makan dengan aetrmia sampai latva berumur 13 hari. Setelah itu larva diberi makan  cacing darah sampai panen.