LAPORAN

 

 

3

Makalah Budidaya Cacing Sutra (Tubifex sp.)

Disusun Oleh :

Elfian Permana

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2015


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Budidaya ikan dan udang nampak semakin sering dilaksanakan baik secara intesif maupun secara ekstensif. Salah satu factor yang menentukan keberhasilan budidaya ikan dan udang adalah kesediaan pakannya. Dalam penyediaan pakan harus diperhatiakn beberapa faktor yaitu jumlah dan kualitas pakan, kemudahan untuk menyediakannya serta lama waktu pengambilan pakan yang berkaitan dengan penyediaan makanan yang dihubungkan dengan jenis dan umurnya.

Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan dan udang berupa pakan alami maupun pakan buatan. Ketersediaan pakan alami merupakan faktor penting dalam budidaya ikan dan udang, terutama pada usaha pembenihan dan usaha budidaya ikan hias. Selain itu pakan alami sebagai sumber makanan ikan dan udang dapat dilihat dari nilai nutrisinya yang relatif tinggi dimana berkaitan dengan kalori yang dikandungnya.

Usaha pengembangan budidaya tidak dapat terlepas dari tahap pengembangbiakan atau pembenihan jenis-jenis organisme unggulan. Ketersediaan benih yang memadai baik dari segi jumlah, mutu dan kesinambungan harus dapat terjamin agar usaha pengembangan budidaya organisme dapat berjalan dengan baik. Sampai saat ini usaha pembenihan masih merupakan faktor pembatas dalam pengembangan budidaya di Indonesia untuk organisme-organisme tertentu. Oleh sebab itu, usaha pembenihan mutlak diperlukan.

Salah satu diantara banyak pakan alami adalah cacing sutra atau juga dikenal dengan cacing rambut. Cacing sutra ini menjadi favorit bagi semua benih ikan yang sudah biasa memakan pakan alami. Cacing sutera ini biasanya diberikan dalam keadaan hidup atau masih segar ke dalam air karena lebih sukai ikan.

Cacing sutera (Tubifex sp) cukup mudah untuk dijumpai, dan jika dibudidayakan tidaklah sulit untuk melakukannya. Kemampuanya beradaptasi dengan kualitas air yang kurang bagus membuatnya bisa dipelihara di perairan mengalir mana saja, bahkan pada perairan tercemar sekalipun. Selain itu juga bisa bertahan lama hidup di air dan nilai gizi yang ada pada cacing ini cukup baik untuk pertumbuhan ikan. Berbagai keunggulan ini membuat Cacing sutera (Tubifex sp) menjadi primadona pakan alami bagi dunia pembenihan. Pakan alami dikembangkan dengan berbagai tujuan seperti pemenuhan kebutuhan nutrisi,  sebagai first feeding dalam pembenihan ikan, dan lain sebagainya.

1.2 Tujuan

  • Mengetahui cara membudidayakan cacing sutra.
  • Mengetahui Klasifikasi, biologi dan Kebiasaan Cacing sutra.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi

Cacing tubifex sering disebut dengan cacing sutera, klasifikasi cacing sutra menurut Gusrina (2008) adalah :

Filum   : Annelida

Kelas   : Oligochaeta

Ordo    : Haplotaxida

Famili  : Tubifisidae

Genus  : Tubifex

Spesies: Tubifex sp.

1

Gambar 1. Morfologi Cacing rambut

Cacing ini memiliki bentuk dan ukuran yang kecil serta ramping dengan panjangnya 1-2 cm, sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai karena warna tubuhnya kemerah-merahan, sehingga sering juga disebut dengan cacing rambut. Cacing ini merupakan salah satu jenis benthos yang hidup di dasar perairan tawar daerah tropis dan subtropis, tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai saluran pencernaan, termasuk kelompok Nematoda. Cacing sutera hidup diperairan tawar yang jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bagian-bagian organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan tersebut (Djarijah 1996).

Cacing sutera merupakan organisme hermaprodit yang memiliki dua alat kelamin jantan dan betina sekaligus dalam satu tubuh. Berkembangbiak dengan bertelur, proses peneluran terjadi di dalam kokon yaitu suatu segmen yang berbentuk bulat telur yang terdiri dari kelenjaar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur tersebut mengalami pembelahan, kemudian berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio dari cacing ini akan keluar dari kokon. Cacing sutera ini mulai berkembangbiak setelah 7-11 hari (Lukito dan Surip 2007).

Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi tubifex mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir. Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur di dalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-12 hari. Jadi daur hidup cacing sutera dari telur, menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktu sekitar 50-57 hari (Gusrina, 2008).

2.2. Siklus Hidup Tubifex

Khairuman dan Amri (2002), menyatakan cacing sutra (Tubifex sp) adalah termasuk organisme hermaprodit. Pada satu individu organisme ini terdapat 2 (dua) alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur. Sedangkan menurut Chumaidi dan Suprapto (1986), telur cacing sutra (Tubifex sp) terjadi di dalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bangunan bulat telur,  panjang 1 mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Panjang tubuh 1-2 cm, terdiri dari 30-60 segmen atau ruas. Telur yang ada di dalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio cacing sutra (Tubifex sp) akan keluar dari kokon. Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi tubifex mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir.

Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur didalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-12 hari. Daur hidup cacing sutra dari telur,menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktusekitar 50-57 hari (Gusrina, 2008).

Cacing Sutera (Tubifex sp) berkembang dan menghasilkan kokon pertama sekali setelah berumur 40-45. Jadi siklus hidup Cacing Sutera (Tubifex sp) dari telur hingga menetas (menjadi dewasa) dan bertelur kembali membutuhkan waktu 50-37 hari.

2

Gambar 2. Siklus Hidup Cacing Sutra

2.3. Habitat dan sifat Cacing Tubifex

Brinkhurst et al., (2000) Cacing Tubifex sp umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secar berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis. Ditambahkan bahwa spesies Cacing Tubifex sp ini bisa mentolelir perairan dengan salinitas dengan 10 ppt. Kemudian oleh Cartwright (2004), dikatakan bahwa dua faktor yang mendukung habitat hidup Cacing Tubifex sp ialah endapan lumpur dan tumpukan bahan organik yang banyak.

Cacing Tubifex banyak hidup di perairan tawar yang airnya jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bahan-bahan organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan. Cacing ini akan membenamkan kepalanya masuk ke dalam lumpur untuk mencari makanan. Sementara ujung ekornya akan disembulkan di atas permukaan dasar untuk bernafas. Perairan yang banyak dihuni oleh cacing ini sepintas tampak seperti koloni lumut merah yang melambai-lambai.

Kebiasaan makan dan cara makan cacing rambut ialah memakan detritus, alga benang, diatom atau sisa-sisa tanaman yang terlarut di lumpur dengan cara cacing membuat lubang berupa tabung dan menyaring makanan atau mengumpulkan partikel-partikel lumpur yang dapat dicerna di dalam ususnya. Cara makan Cacing Sutera (Tubifex sp) golongan tubifidae yaitu permukaan atau di dalam sedimen dengan membuat lubang berupa tabung dan menyaring makanan atau mengumpulkan partikel halus dipermukaan. Makanan tersebut dapat berupa bahan organik dan detritus.

Cacing Tubifex sp biasanya hidup disaluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan organik yang dijadikan bahan makanan. Cacing Tubifex sp hidupnya berkoloni, bagian ekornya berada di permukaan dan berfungsi sebagai alat bernapas dengan cara difusi langsung dari udara.

Oksigen terlarut merupaka parameter yang sangat penting dalam kehidupan setiap organisme yang hidup. Setiap organisme hidup pasti membutuhkan oksigen untuk respirasi yang selanjutnya akan digunakan dalam proses metabolisme suntuk meombak bahan organik yang dimakan menjadi sari makanan yang dimanfaatkan sebagai energi untuk tumbuh berkembang biak dan bergerak (Sedana et al., 2003).

Cacing Tubifex tumbuh optimal pada suhu 18 – 20 °C. Pada suhu di atas 35°C cacing ini mati dan pada suhu dibawah 5°C dalam keadaan tidak aktif. Seperti biota air lain, cacing Tubifex membutuhkan oksigen untuk pernafasannya. Oksigen optimum untuk hidup dan berkembang biak adalah 3-8 ppm. Cacing Tubifex adalah hewan air tawar sehingga sangat peka terhadap perubahan salinitas. Cacing Tubifex tidak menyukai sinar, sehingga mudah ditemukan pada tempat-tempat yang teduh.

Kemudian Arhipova (1996) menyatakan bahwa kelimpahan Cacing Tubifex sp akan berkurang dimana keanekaragaman jenis organisme tinggi. Kelimpahannya akan semangkin tinggi bila standing corps rendah sekalipun. Maka predator pemakan cacing akan banyak dalam kondisi perairan seperti di atas. Dan jika semua jenis cacing tak ditemui dalam perairan maka dapat dikatakan perairan tersebut dalam keadaan tercemar logam berat.

Vincentius (1992) menyatakan bahwa ketinggian air pada lingkungan pemeliharaan Cacing Tubifex spi berpengaruh terhadap ketahanan hidup dan perkembangannya. Jika iar terlalu tinggi, maka koloni atau populasi Cacing Tubifex sp akan tidak berkembang bahkan akan mengalami kematian karena cacing Tubifex sp ini membutuhkan oksigen dari luar untuk bernapas. Sedangkan apabila air terlau rendah atau sedikit, maka lingkungannya akan cepat panas sehingga cacing Tubifex sp ini tidak akan dapat bertahan hidup lebih lama. Ketinggian air yang optimal pada populasi Cacing Tubifex sp adalah setinggi 6 cm.

2.4 Kandungan Gizi Tubifex sp

Sebagai pakan ikan hias air tawar, cacing ini mempunyai peranan yangcukup penting. Pakan dari cacing mampu memacu pertumbuhan ikan jauh lebihcepat dibanding pakan alami jenis lainnya. Hal ini disebabkan kandungan lemakdan protein cacing ini cukup tinggi. Cacing ini mempunyai kandungan protein51,9 %, karbobidrat 20,3 %, lemak 22,3 %, dan bahan abu 5,3 %. Sedangkanasam amino penyusun proteinnya juga lengkap.

2.5. Pembibitan Cacing Tubifex sp

Cacing Tubifex sp yang hidup diperairan alam dapat ditangkarkan ditempat-tempat terkontrol, misalnya kubangan tanah. Di dalam kubangan ini kondisi (habitat) dibuat menyamai (mirip) habitat alami berlumpur. Kubangan diisi campuran pupuk kandang (kotoran ayam) dan dedak halus setebal 1 cm. Pupuk kandang dilumatkan dan dicampurkan dengan dedak halus. Selanjutnya diratakan dan diisi sama air. Biarkan rendaman ini sampai membentuk endapan. Kemudian dimasukkan klon (bibit) cacing Tubifex sp yang diangkat dari perairan alam dan aliran air untuk menggantikan peresapan dan penguapan. Aliran air dibesarkan sedikit setalah bibit ditanam (ditebarkan). Aliran air dibesarkan sedikit setalah bibit ditanam (ditebarkan). Aliran air ini dibutuhkan untuk menggantikan air yang ada secara terus menerus.

Masa penakaran Cacing Tubifex sp ini tergantung tujuan produksi cacing yang didinginkan. Biasanya cacing Tubifex sp akan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru selama beberapa hari. Cacing Tubifex sp ini mulai berkembang biak setelah 7 sampai 11 hari penakarannya. Terpenting yang harus diperhatikan selama penakaran cacing Tubifex sp ini jangan sampai terjadi kekeringan, karena cacing Tubifex sp ini tidak akan tumbuh dan berkembangbiak dengan baik bila dalam kondisi kering. Hasil penakaran Cacing Tubifex sp ini selanjutnya digunakan sebagai bibit pada produksi massal Cacing Tubifex sp di tempat pemeliharaan yang ukurannya lebih luas.

Tujuan penakaran Cacing Tubifex sp yaitu untuk memperoleh bibit Cacing Tubifex sp yang telah terbiasa hidup di lingkungan/tempat (habit) buatan. Dengan cara ini setidaknya kematian bibit Cacing Tubifex sp dalam produksi massal dapat dihindarkan sehingga persiapan lahan pemeliharaan Cacing Tubifex sp sesuai.

2.6. Kultur Massal Cacing Tubifex sp

Produksi massal Cacing Tubifex sp merupakan upaya menumbuhkan dan mengembangbiakan Cacing Tubifex sp ini dalam tempat pemeliharaan yang terkontrol. Tempat pemeliharaannya berupa kubangan tanah berlumpur dan tergenang air. Secara berurutan kegiatan produksi Cacing Tubifex sp adalah dengan mebuat kubangan, mempersiapkan dasar kubangan agar berlumpur dan tergenang air, memelihara dan memungut hasil (panen).

Lahan pemeliharaan Cacing Tubifex sp dibuat didaerah berair. Bentuknya mirip kolam dan luasnya 10 x 10 m atau ukuranya lebih. Lahan ini dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pengeluaran air. Dasar kolam dibuat petakan –petakan (blok) lumpur setinggi 10 cm. Luas petakan Cacing Tubifex sp ini adalah 1 x 2 m. Lebih baik jika dasar petakan Cacing Tubifex sp ini dilapisi papan kayu atau dibentuk dalam cetakan. Lapisan atau cetakan ini untuk mempermudah pemanenan dan sebagai penangkal Cacing Tubifex sp yang akan meloloskan diri masuk dalam tanah yang lebih dalam lagi. Jarak antara petakan adalah 20 cm agar memudahkan dalam waktu pemanenan.

Seperti hal pemanenan ikan dan udang pada umumnya, lahan untuk produksi Cacing Tubifex sp sangat perlu disiapkan. Awalnya lahan tersebut perlu dikeringkan, saluran diperbaiki dan tanah digemburkan serta digenangi air setinggi 5 cm dari permukaan dasar. Selanjutnya dipupuk dengan dedak  halus atau kotoran ayam. Pemupukan lahan Cacing Tubifex sp bertujuan untuk menyediakan bahan makanan Cacing Tubifex sp yang dipelihara. Jika lahan menggunakan dedak halus, maka membutuhkan dedak halus sebanyak 200-250 gr/m. Dedak ini ditebarkan merata diatas permukaan dasar petakan lalu direndam air setinggi 5 cm selama 4 hari. Jika lahan menggunkan kotoran ayam, maka membutuhkan 300 gr/m. Sebelum ditebarkan, kotoran ayam dibersihkan dan dikeringkan kemudian dihaluskan.

Pupuk ayam yang dikeringkan dan dihaluskan ini kemudian dicampurkan dengan tanah dasar petakan lalu direndam air setinggi 5 cm selama 3 (tiga) hari. Tujuan dari perendaman ini adalah agar dedak halus atau pupuk segera membusuk sehingga disukai Cacing Tubifex sp sebagai makanannya.

Bibit dalam produksi Cacing Tubifex sp secara massal ini diambil dari hasil penangkapan di tempat yang terkontrol. Sebelum bibit ditebarkan, aliran air dikontrol agar alirannya stabil. Aliran air tidak terlalu besar tetapi cukup untuk mengisi air yang menguap dan meresap ke dalam tanah. Walaupun kelebihan air, diusahakan agar tidak menimbulkan erosi. Apalagi membawa bahan-bahan hasil pemupukan. Aliran air untuk mengisi tempat pemeliharaan Cacing Tubifex sp di perkirakan samapi setinggi 5 cm di atas petakan yang kira-kira membutuhkan waktu 45-60 menit.

Hal lain yang perlu dikontrol sebelum bibit ditebarkan adalah konsentrasi amoniak (NH) dalam air. Gas beracun ini biasanya dihasilkan dari proses pembusukan bahan organik terutama kotoran ayam. Konsentrasi NH dalam air yang terlalu tinggi (pekat) akan mengakibatkan kematian konsentrasi Cacing Tubifex sp yang dibudidayakan.

Penebaran bibit dimulai dengan membuat lubang kecil-kecil di atas dengan petakan (blok). Jarak antar lubang 10-15 cm dan lubang ini selanjutnya dengan koloni bibit Cacing Tubifex sp hasil penakaran beserta media dan tanahnya. Jumlah Cacing Tubifex sp dalam koloni yang di tanam setiap lubang 10 ekor.

Masa pemeliharaan produksi Cacing Tubifex sp ini sekitar 10 hari. Bila kondisi lingkungan cocok dan jumlah pakannya cukup, bibit-bibit Cacing Tubifex sp akan berkembang pesat. Hal yang perlu diperhatikan dalam produksi massal Cacing Tubifex sp adalah aliran air. Meskipun aliran air harus kecil, tetapi jangan sampai kekeringan.

Memanen Cacing Tubifex sp sangat mudah, yakni diambil dengan tangan beserta lumpur. Kemudian ditaruh dalam ember dan dicuci bersih. Panen Cacing Tubifex sp sebaiknya dilakukan secara acak, yaitu tidak seluruh populasi Cacing Tubifex sp pada setiap bedengan diambil, tetapi disisakan sebagai bibit pada pemeliharaan berikutnya. Panen total hanya dilakukan jika kondisi tanah dan medianya tidak cukup lagi menyediakan makanan. Keadaan ini dapat diketahui setelah perkembangan Cacing Tubifex sp kelihatan lambat. Untuk produksi lebih lanjut setelah panen total, bedengan harus dibongkar dan diolah seperti biasa.


BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

  • Brinkhurst et al., (2000) Cacing Tubifex sp umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secar berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis.
  • Khairuman dan Amri (2002), menyatakan cacing sutra (Tubifex sp) adalah termasuk organisme hermaprodit. Pada satu individu organisme ini terdapat 2 (dua) alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur.
  • Sifat cacing sutra yang hermaprodit membuat cacing lebih mudah di kembangbiakan.

3.2. Saran

Paling penting dalam membudidayakan cacing sutra adalah pemilihan calon induk yang baik dan media air yang di sukai cacing sutra (tubifex sp).

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arkhipova, N.R. 1996. Morphology of Pectinate Setae in Tubificids (tubificidae, oligochaeta). Zoologicheskii Zhurnal 75(2): 178-187. Rusia.

Cartwright, D. 2004. Effect of Riparian Zone and Associanted Stream Substrata on Tubifex tubifex. National Fish Health Research Laboratory. Kearnysville. USA.

Chumadi dan Suprapto. 1986. Pengaruh Berbagai Takaran Pupuk Kotoran AyamTerhadap Perkembangan Populasi Tubifex sp.

Chumaidi dan Suprapto, 1986. Populasi Tubifex sp di Dalam Media Campuran Kotoran Ayam dan lumpur Kolam. Bulletin. Panel Perikanan Darat 5(2): 6-11 Balitanwar. Bogor.

Djarijah A S. 1996. Pakan Ikan Alami. Yogyakarta: Kanisius.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 2. Direktorat Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan.Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional.

Lukito A dan Surip P. 2007. Panduan Lengkap Lobster Air Tawar. Jakarta: Penebar Swadaya.

Vincentius, A. 1992. Peranan Tinggi Substrat Terhadap Kualitas Tubifex pada ketinggian Air Budidaya 6 cm. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

BAB I
PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Budidaya ikan dan udang nampak semakin sering dilaksanakan baik secara intesif maupun secara ekstensif. Salah satu factor yang menentukan keberhasilan budidaya ikan dan udang adalah kesediaan pakannya. Dalam penyediaan pakan harus diperhatiakn beberapa faktor yaitu jumlah dan kualitas pakan, kemudahan untuk menyediakannya serta lama waktu pengambilan pakan yang berkaitan dengan penyediaan makanan yang dihubungkan dengan jenis dan umurnya.

Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan dan udang berupa pakan alami maupun pakan buatan. Ketersediaan pakan alami merupakan faktor penting dalam budidaya ikan dan udang, terutama pada usaha pembenihan dan usaha budidaya ikan hias. Selain itu pakan alami sebagai sumber makanan ikan dan udang dapat dilihat dari nilai nutrisinya yang relatif tinggi dimana berkaitan dengan kalori yang dikandungnya.

Usaha pengembangan budidaya tidak dapat terlepas dari tahap pengembangbiakan atau pembenihan jenis-jenis organisme unggulan. Ketersediaan benih yang memadai baik dari segi jumlah, mutu dan kesinambungan harus dapat terjamin agar usaha pengembangan budidaya organisme dapat berjalan dengan baik. Sampai saat ini usaha pembenihan masih merupakan faktor pembatas dalam pengembangan budidaya di Indonesia untuk organisme-organisme tertentu. Oleh sebab itu, usaha pembenihan mutlak diperlukan.

Salah satu diantara banyak pakan alami adalah cacing sutra atau juga dikenal dengan cacing rambut. Cacing sutra ini menjadi favorit bagi semua benih ikan yang sudah biasa memakan pakan alami. Cacing sutera ini biasanya diberikan dalam keadaan hidup atau masih segar ke dalam air karena lebih sukai ikan.

Cacing sutera (Tubifex sp) cukup mudah untuk dijumpai, dan jika dibudidayakan tidaklah sulit untuk melakukannya. Kemampuanya beradaptasi dengan kualitas air yang kurang bagus membuatnya bisa dipelihara di perairan mengalir mana saja, bahkan pada perairan tercemar sekalipun. Selain itu juga bisa bertahan lama hidup di air dan nilai gizi yang ada pada cacing ini cukup baik untuk pertumbuhan ikan. Berbagai keunggulan ini membuat Cacing sutera (Tubifex sp) menjadi primadona pakan alami bagi dunia pembenihan. Pakan alami dikembangkan dengan berbagai tujuan seperti pemenuhan kebutuhan nutrisi,  sebagai first feeding dalam pembenihan ikan, dan lain sebagainya.

  • Tujuan
  • Mengetahui cara membudidayakan cacing sutra.
  • Mengetahui Klasifikasi, biologi dan Kebiasaan Cacing sutra.


 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi

Cacing tubifex sering disebut dengan cacing sutera, klasifikasi cacing sutra menurut Gusrina (2008) adalah :

Filum   : Annelida

Kelas   : Oligochaeta

Ordo    : Haplotaxida

Famili  : Tubifisidae

Genus  : Tubifex

Spesies: Tubifex sp.

Gambar 1. Morfologi Cacing rambut

Cacing ini memiliki bentuk dan ukuran yang kecil serta ramping dengan panjangnya 1-2 cm, sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai karena warna tubuhnya kemerah-merahan, sehingga sering juga disebut dengan cacing rambut. Cacing ini merupakan salah satu jenis benthos yang hidup di dasar perairan tawar daerah tropis dan subtropis, tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai saluran pencernaan, termasuk kelompok Nematoda. Cacing sutera hidup diperairan tawar yang jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bagian-bagian organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan tersebut (Djarijah 1996).

Cacing sutera merupakan organisme hermaprodit yang memiliki dua alat kelamin jantan dan betina sekaligus dalam satu tubuh. Berkembangbiak dengan bertelur, proses peneluran terjadi di dalam kokon yaitu suatu segmen yang berbentuk bulat telur yang terdiri dari kelenjaar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur tersebut mengalami pembelahan, kemudian berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio dari cacing ini akan keluar dari kokon. Cacing sutera ini mulai berkembangbiak setelah 7-11 hari (Lukito dan Surip 2007).

Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi tubifex mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir. Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur di dalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-12 hari. Jadi daur hidup cacing sutera dari telur, menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktu sekitar 50-57 hari (Gusrina, 2008).

2.2. Siklus Hidup Tubifex

Khairuman dan Amri (2002), menyatakan cacing sutra (Tubifex sp) adalah termasuk organisme hermaprodit. Pada satu individu organisme ini terdapat 2 (dua) alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur. Sedangkan menurut Chumaidi dan Suprapto (1986), telur cacing sutra (Tubifex sp) terjadi di dalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bangunan bulat telur,  panjang 1 mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Panjang tubuh 1-2 cm, terdiri dari 30-60 segmen atau ruas. Telur yang ada di dalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio cacing sutra (Tubifex sp) akan keluar dari kokon. Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi tubifex mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir.

Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur didalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-12 hari. Daur hidup cacing sutra dari telur,menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktusekitar 50-57 hari (Gusrina, 2008).

Cacing Sutera (Tubifex sp) berkembang dan menghasilkan kokon pertama sekali setelah berumur 40-45. Jadi siklus hidup Cacing Sutera (Tubifex sp) dari telur hingga menetas (menjadi dewasa) dan bertelur kembali membutuhkan waktu 50-37 hari.

Gambar 2. Siklus Hidup Cacing Sutra

2.3. Habitat dan sifat Cacing Tubifex

Brinkhurst et al., (2000) Cacing Tubifex sp umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secar berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis. Ditambahkan bahwa spesies Cacing Tubifex sp ini bisa mentolelir perairan dengan salinitas dengan 10 ppt. Kemudian oleh Cartwright (2004), dikatakan bahwa dua faktor yang mendukung habitat hidup Cacing Tubifex sp ialah endapan lumpur dan tumpukan bahan organik yang banyak.

Cacing Tubifex banyak hidup di perairan tawar yang airnya jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bahan-bahan organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan. Cacing ini akan membenamkan kepalanya masuk ke dalam lumpur untuk mencari makanan. Sementara ujung ekornya akan disembulkan di atas permukaan dasar untuk bernafas. Perairan yang banyak dihuni oleh cacing ini sepintas tampak seperti koloni lumut merah yang melambai-lambai.

Kebiasaan makan dan cara makan cacing rambut ialah memakan detritus, alga benang, diatom atau sisa-sisa tanaman yang terlarut di lumpur dengan cara cacing membuat lubang berupa tabung dan menyaring makanan atau mengumpulkan partikel-partikel lumpur yang dapat dicerna di dalam ususnya. Cara makan Cacing Sutera (Tubifex sp) golongan tubifidae yaitu permukaan atau di dalam sedimen dengan membuat lubang berupa tabung dan menyaring makanan atau mengumpulkan partikel halus dipermukaan. Makanan tersebut dapat berupa bahan organik dan detritus.

Cacing Tubifex sp biasanya hidup disaluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan organik yang dijadikan bahan makanan. Cacing Tubifex sp hidupnya berkoloni, bagian ekornya berada di permukaan dan berfungsi sebagai alat bernapas dengan cara difusi langsung dari udara.

Oksigen terlarut merupaka parameter yang sangat penting dalam kehidupan setiap organisme yang hidup. Setiap organisme hidup pasti membutuhkan oksigen untuk respirasi yang selanjutnya akan digunakan dalam proses metabolisme suntuk meombak bahan organik yang dimakan menjadi sari makanan yang dimanfaatkan sebagai energi untuk tumbuh berkembang biak dan bergerak (Sedana et al., 2003).

Cacing Tubifex tumbuh optimal pada suhu 18 – 20 °C. Pada suhu di atas 35°C cacing ini mati dan pada suhu dibawah 5°C dalam keadaan tidak aktif. Seperti biota air lain, cacing Tubifex membutuhkan oksigen untuk pernafasannya. Oksigen optimum untuk hidup dan berkembang biak adalah 3-8 ppm. Cacing Tubifex adalah hewan air tawar sehingga sangat peka terhadap perubahan salinitas. Cacing Tubifex tidak menyukai sinar, sehingga mudah ditemukan pada tempat-tempat yang teduh.

Kemudian Arhipova (1996) menyatakan bahwa kelimpahan Cacing Tubifex sp akan berkurang dimana keanekaragaman jenis organisme tinggi. Kelimpahannya akan semangkin tinggi bila standing corps rendah sekalipun. Maka predator pemakan cacing akan banyak dalam kondisi perairan seperti di atas. Dan jika semua jenis cacing tak ditemui dalam perairan maka dapat dikatakan perairan tersebut dalam keadaan tercemar logam berat.

Vincentius (1992) menyatakan bahwa ketinggian air pada lingkungan pemeliharaan Cacing Tubifex spi berpengaruh terhadap ketahanan hidup dan perkembangannya. Jika iar terlalu tinggi, maka koloni atau populasi Cacing Tubifex sp akan tidak berkembang bahkan akan mengalami kematian karena cacing Tubifex sp ini membutuhkan oksigen dari luar untuk bernapas. Sedangkan apabila air terlau rendah atau sedikit, maka lingkungannya akan cepat panas sehingga cacing Tubifex sp ini tidak akan dapat bertahan hidup lebih lama. Ketinggian air yang optimal pada populasi Cacing Tubifex sp adalah setinggi 6 cm.

2.4 Kandungan Gizi Tubifex sp

Sebagai pakan ikan hias air tawar, cacing ini mempunyai peranan yangcukup penting. Pakan dari cacing mampu memacu pertumbuhan ikan jauh lebihcepat dibanding pakan alami jenis lainnya. Hal ini disebabkan kandungan lemakdan protein cacing ini cukup tinggi. Cacing ini mempunyai kandungan protein51,9 %, karbobidrat 20,3 %, lemak 22,3 %, dan bahan abu 5,3 %. Sedangkanasam amino penyusun proteinnya juga lengkap.

2.5. Pembibitan Cacing Tubifex sp

Cacing Tubifex sp yang hidup diperairan alam dapat ditangkarkan ditempat-tempat terkontrol, misalnya kubangan tanah. Di dalam kubangan ini kondisi (habitat) dibuat menyamai (mirip) habitat alami berlumpur. Kubangan diisi campuran pupuk kandang (kotoran ayam) dan dedak halus setebal 1 cm. Pupuk kandang dilumatkan dan dicampurkan dengan dedak halus. Selanjutnya diratakan dan diisi sama air. Biarkan rendaman ini sampai membentuk endapan. Kemudian dimasukkan klon (bibit) cacing Tubifex sp yang diangkat dari perairan alam dan aliran air untuk menggantikan peresapan dan penguapan. Aliran air dibesarkan sedikit setalah bibit ditanam (ditebarkan). Aliran air dibesarkan sedikit setalah bibit ditanam (ditebarkan). Aliran air ini dibutuhkan untuk menggantikan air yang ada secara terus menerus.

Masa penakaran Cacing Tubifex sp ini tergantung tujuan produksi cacing yang didinginkan. Biasanya cacing Tubifex sp akan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru selama beberapa hari. Cacing Tubifex sp ini mulai berkembang biak setelah 7 sampai 11 hari penakarannya. Terpenting yang harus diperhatikan selama penakaran cacing Tubifex sp ini jangan sampai terjadi kekeringan, karena cacing Tubifex sp ini tidak akan tumbuh dan berkembangbiak dengan baik bila dalam kondisi kering. Hasil penakaran Cacing Tubifex sp ini selanjutnya digunakan sebagai bibit pada produksi massal Cacing Tubifex sp di tempat pemeliharaan yang ukurannya lebih luas.

Tujuan penakaran Cacing Tubifex sp yaitu untuk memperoleh bibit Cacing Tubifex sp yang telah terbiasa hidup di lingkungan/tempat (habit) buatan. Dengan cara ini setidaknya kematian bibit Cacing Tubifex sp dalam produksi massal dapat dihindarkan sehingga persiapan lahan pemeliharaan Cacing Tubifex sp sesuai.

2.6. Kultur Massal Cacing Tubifex sp

Produksi massal Cacing Tubifex sp merupakan upaya menumbuhkan dan mengembangbiakan Cacing Tubifex sp ini dalam tempat pemeliharaan yang terkontrol. Tempat pemeliharaannya berupa kubangan tanah berlumpur dan tergenang air. Secara berurutan kegiatan produksi Cacing Tubifex sp adalah dengan mebuat kubangan, mempersiapkan dasar kubangan agar berlumpur dan tergenang air, memelihara dan memungut hasil (panen).

Lahan pemeliharaan Cacing Tubifex sp dibuat didaerah berair. Bentuknya mirip kolam dan luasnya 10 x 10 m atau ukuranya lebih. Lahan ini dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pengeluaran air. Dasar kolam dibuat petakan –petakan (blok) lumpur setinggi 10 cm. Luas petakan Cacing Tubifex sp ini adalah 1 x 2 m. Lebih baik jika dasar petakan Cacing Tubifex sp ini dilapisi papan kayu atau dibentuk dalam cetakan. Lapisan atau cetakan ini untuk mempermudah pemanenan dan sebagai penangkal Cacing Tubifex sp yang akan meloloskan diri masuk dalam tanah yang lebih dalam lagi. Jarak antara petakan adalah 20 cm agar memudahkan dalam waktu pemanenan.

Seperti hal pemanenan ikan dan udang pada umumnya, lahan untuk produksi Cacing Tubifex sp sangat perlu disiapkan. Awalnya lahan tersebut perlu dikeringkan, saluran diperbaiki dan tanah digemburkan serta digenangi air setinggi 5 cm dari permukaan dasar. Selanjutnya dipupuk dengan dedak  halus atau kotoran ayam. Pemupukan lahan Cacing Tubifex sp bertujuan untuk menyediakan bahan makanan Cacing Tubifex sp yang dipelihara. Jika lahan menggunakan dedak halus, maka membutuhkan dedak halus sebanyak 200-250 gr/m. Dedak ini ditebarkan merata diatas permukaan dasar petakan lalu direndam air setinggi 5 cm selama 4 hari. Jika lahan menggunkan kotoran ayam, maka membutuhkan 300 gr/m. Sebelum ditebarkan, kotoran ayam dibersihkan dan dikeringkan kemudian dihaluskan.

Pupuk ayam yang dikeringkan dan dihaluskan ini kemudian dicampurkan dengan tanah dasar petakan lalu direndam air setinggi 5 cm selama 3 (tiga) hari. Tujuan dari perendaman ini adalah agar dedak halus atau pupuk segera membusuk sehingga disukai Cacing Tubifex sp sebagai makanannya.

Bibit dalam produksi Cacing Tubifex sp secara massal ini diambil dari hasil penangkapan di tempat yang terkontrol. Sebelum bibit ditebarkan, aliran air dikontrol agar alirannya stabil. Aliran air tidak terlalu besar tetapi cukup untuk mengisi air yang menguap dan meresap ke dalam tanah. Walaupun kelebihan air, diusahakan agar tidak menimbulkan erosi. Apalagi membawa bahan-bahan hasil pemupukan. Aliran air untuk mengisi tempat pemeliharaan Cacing Tubifex sp di perkirakan samapi setinggi 5 cm di atas petakan yang kira-kira membutuhkan waktu 45-60 menit.

Hal lain yang perlu dikontrol sebelum bibit ditebarkan adalah konsentrasi amoniak (NH) dalam air. Gas beracun ini biasanya dihasilkan dari proses pembusukan bahan organik terutama kotoran ayam. Konsentrasi NH dalam air yang terlalu tinggi (pekat) akan mengakibatkan kematian konsentrasi Cacing Tubifex sp yang dibudidayakan.

Penebaran bibit dimulai dengan membuat lubang kecil-kecil di atas dengan petakan (blok). Jarak antar lubang 10-15 cm dan lubang ini selanjutnya dengan koloni bibit Cacing Tubifex sp hasil penakaran beserta media dan tanahnya. Jumlah Cacing Tubifex sp dalam koloni yang di tanam setiap lubang 10 ekor.

Masa pemeliharaan produksi Cacing Tubifex sp ini sekitar 10 hari. Bila kondisi lingkungan cocok dan jumlah pakannya cukup, bibit-bibit Cacing Tubifex sp akan berkembang pesat. Hal yang perlu diperhatikan dalam produksi massal Cacing Tubifex sp adalah aliran air. Meskipun aliran air harus kecil, tetapi jangan sampai kekeringan.

Memanen Cacing Tubifex sp sangat mudah, yakni diambil dengan tangan beserta lumpur. Kemudian ditaruh dalam ember dan dicuci bersih. Panen Cacing Tubifex sp sebaiknya dilakukan secara acak, yaitu tidak seluruh populasi Cacing Tubifex sp pada setiap bedengan diambil, tetapi disisakan sebagai bibit pada pemeliharaan berikutnya. Panen total hanya dilakukan jika kondisi tanah dan medianya tidak cukup lagi menyediakan makanan. Keadaan ini dapat diketahui setelah perkembangan Cacing Tubifex sp kelihatan lambat. Untuk produksi lebih lanjut setelah panen total, bedengan harus dibongkar dan diolah seperti biasa.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

  • Brinkhurst et al., (2000) Cacing Tubifex sp umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secar berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis.
  • Khairuman dan Amri (2002), menyatakan cacing sutra (Tubifex sp) adalah termasuk organisme hermaprodit. Pada satu individu organisme ini terdapat 2 (dua) alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur.
  • Sifat cacing sutra yang hermaprodit membuat cacing lebih mudah di kembangbiakan.

3.2. Saran

Paling penting dalam membudidayakan cacing sutra adalah pemilihan calon induk yang baik dan media air yang di sukai cacing sutra (tubifex sp).

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arkhipova, N.R. 1996. Morphology of Pectinate Setae in Tubificids (tubificidae, oligochaeta). Zoologicheskii Zhurnal 75(2): 178-187. Rusia.

Cartwright, D. 2004. Effect of Riparian Zone and Associanted Stream Substrata on Tubifex tubifex. National Fish Health Research Laboratory. Kearnysville. USA.

Chumadi dan Suprapto. 1986. Pengaruh Berbagai Takaran Pupuk Kotoran AyamTerhadap Perkembangan Populasi Tubifex sp.

Chumaidi dan Suprapto, 1986. Populasi Tubifex sp di Dalam Media Campuran Kotoran Ayam dan lumpur Kolam. Bulletin. Panel Perikanan Darat 5(2): 6-11 Balitanwar. Bogor.

Djarijah A S. 1996. Pakan Ikan Alami. Yogyakarta: Kanisius.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 2. Direktorat Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan.Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional.

Lukito A dan Surip P. 2007. Panduan Lengkap Lobster Air Tawar. Jakarta: Penebar Swadaya.

Vincentius, A. 1992. Peranan Tinggi Substrat Terhadap Kualitas Tubifex pada ketinggian Air Budidaya 6 cm. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.