TEKNIK PEMBENIHAN IKAN RAINBOW KURUMOI (MELANOTAENIA PARVA) SECARA PEMIJAHAN BERPASANGAN DI BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IKAN HIAS DEPOK  JAWA BARAT

 

PRAKTEK KERJA LAPANG

(PKL)

 

 

 3

Oleh

 

ELFIAN PERMANA

NIM D41121609

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGROINDUSTRI

JURUSAN MANAJEMEN AGRIBISNIS

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2016


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan hias merupakan salah satu ikan yang memiliki prospek penting dan prospek yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Indonesia mampu melakukan penjualan senilai USD24 juta pada 2014 (KKP, 2014). Pasar yang sangat luas baik dalam negeri terutama laur negeri, ikan hias menjadi prospek yang baik terutama dikalangan penghobi hiasan ikan.

Potensi Ikan hias di Indonesia sangat besar spesies ikan hias Indonesia paling terbesar dan pengekspor ke 5 terbesar. Ikan hias yang paling banyak digemari oleh pasar ikan hias yaitu ikan yang berwarna cerah, bentuk unik dan mudah dipelihara. Ikan hias yang paling populer pada saat ini yaitu arwana, ikan koki, ikan koi, ikan discus dan ikan rainbow.

Ikan rainbow kurumoi merupakan ikan hias yang berasal dari danau papua dan dikalangan masyarakat ikan rainbow biasa disebut ikan pelangi disebabkan warna ikan ranbow kurumoi berwarna seperti pelangi. Warna pelangi tersebut menjadi daya tarik bagi masyarakat penikmat ikan hias. Ikan pelangi atau ranbow ini menjadi peluang dalam kegiatan budidaya ikan rainbow untuk menghasilkan peospek keuntungan yang besar.

Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan pengembang biakan ikan atau organisme air lainnya. Budidaya perikanan disebut juga sebagai budidaya perairan atau akuakultur mengingat organisme air yang dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja tetapi juga organisme air lain seperti kerang, udang maupun tumbuhan air. Akuakultur atau budidaya perikanan merupakan suatu proses pembiakan organisme perairan dari mulai proses produksi, penanganan hasil sampai pemasaran (Wheaton, 1977).

Kegiatan budidaya perikanan terbagi beberapa bagian yaitu pembenihan dan pembesaran kegiatan pembenihan ikan, merupakan kegiatan yang sangat penting untuk menentukan keberhasilan budidaya selanjutnya. Pembenihan dilakukan untuk mendapatkan benih yang unggul, setelah pembenihan akan dilakukan tahap pembesaran ikan.

Kegiatan pembenihan diarahkan untuk menghasilkan benih unggul yakni dengan kriteria sehat, pertumbuhan cepat dan tahan terhadap penyakit. Oleh sebab itu, tahapan yang baik dalam pembenihan ikan sangat penting untuk menghasilkan hasil benih yang unggul. Terdapat beberapa kegiatan pembenihan yang harus diketahui dan dikuasai yaitu persiapan wadah dan peralatan, seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva, pendederan, manajemen pakan, pengendalian hama, penyakit dan pemanenan.

Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok merupakan pengembangan dari kegiatan budidaya perikanan ikan hias khususnya pembenihan ikan ranbow, yang berperan dalam memenuhi permintaan benih ikan rainbow yang memiliki kualitas dan kuantitas yang mencakupi pemintaan pasar. Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) difokuskan ke komuditas ikan rainbow kurumoi, supaya mahasiswa dapat belajar secara langsung mengenai manajemen kegiatan pembenihan ikan rainbow kurumoi dalam hal produksi.

Selama kegiatan perkuliahan telah disampaikan teori mengenai kegiatan pembenihan, namun juga diperlukan pengetahuan praktis. Oleh karena itu, kegiatan magang industri yang dilaksanakan di Balai Penelitian Dan Pengembangan Ikan Hias Depok sebagai bentuk perwujudan nyata untuk menambah pengetahuan mengenai praktik pembenihan ikan rainbow di lapangan, khususnya ikan rainbow kurumoi.

1.2 Tujuan Dan Manfaat

1.2.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penyelenggaraan Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah sebagai berikut :

  1. Mempersiapkan keterampilan mahasiswa diluar perkuliahan sehingga mampu memahami kondisi pekerjaan sesungguhnya.
  2. Menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa terhadap ruang lingkup dunia kerja.

1.2.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penyelenggaraan Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) yang ingin diperoleh mahasiswa adalah sebagai berikut :

  1. Mahasiswa berperan aktif dalam kegiatan pembenihan ikan di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias, Depok, Jawa Barat sehingga mahasiswa diharapkan mampu melakukan kegiatan cara pembenihan ikan rainbow yang baik.
  2. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kegiatan teknik pembenihan ikan rainbow kurumoi di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias, Depok, Jawa Barat.

1.2.3 Manfaat

Praktek Kerja Lapang (PKL) ini diharapkan menambah pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan wawasan tentang dalam kegiatan pembenihan ikan, pengendalian hama penyakit, pemasaran dan teknik pembenihan ikan khususnya di pembenihan ikan rainbow kurumoi.

1.2.4 Lokasi dan Jadwal Kerja

Lokasi pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini dilaksanakan di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias, Depok, Jawa Barat. Pada Tanggal 07 Maret hingga 16 Mei 2016. Jadwal kegiatan harian dilampirkan terhitung 512 jam kerja.

1.2.5 Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah:

  1. Terlibat langsung ke lapangan, mahasiswa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh karyawan Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias, Depok.
  2. Wawancara langsung kepada karyawan – karyawan yang berpengalaman dibidangnya, sehingga mendapatkan pengetahuan secara lebih mendalam mengenai suatu sistem kerja yang ada di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias, Depok.
  3. Observasi yang dilakukan untuk pengumpulan data dari kegiatan yang dilakukan dan gambaran saat melakukan pekerjaan di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias, Depok, yang bertujuan untuk memperkuat data – data yang telah diperoleh dari teknik pengambilan data sebelumnya.
  4. Diskusi dengan karyawan Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias, Depok secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar – menukar informasi untuk pemecahan suatu masalah.

BAB 2. KEADAAN UMUM INSTANSI

 

2.1 Sejarah Perusahan Instalasi

Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH) adalah salah satu Balai Riset di bawah Pusat Riset Perikanan yang berfungsi sebagai lembaga penghasil teknologi hasil riset budidaya ikan hias air tawar yang bernaung di bawah Departemen Kelautan dan Perikanan.

BPPBIH Depok didirikan pada tahun 1957. Pada awal tahun 1957, BPPBIH ini bernama Balai Penyelidikan Perikanan Darat (BPPD), lalu pada tahun 1963 berubah menjadi Lembaga Penelitian Perikanan Darat (LPPD). Pada tahun 1975 BPPBIH berubah menjadi Pusat Percobaan Perikanan Darat (PPPD), kemudian di tahun 1980 berubah menjadi Balai Penelitian Perikanan Darat (BPPD), dan tahun 1984 menjadi Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BPPAT). Pada tahun 1985 BPPAT mengalami perubahan nama menjadi Sub Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (SBPPAT), dan tahun 1995 berubah menjadi Instalasi Penelitian Perikanan Air Tawar (IPPAT). Pada tahun 2002 berubah lagi menjadi Instalasi Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (IRBIHAT) dan menjadi Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT) di tahun 2005. Pada tahun 2009 namanya diubah lagi menjadi Balai Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (BRBIHAT), dan akhirnya pada tahun 2011 sesuai dengan SK Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.35/MEN/2011 berubah menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH). BPPBIH ini sudah mengalami perubahan nama sebanyak sepuluh kali dari sejak awal berdiri.

2.2 Lokasi BPPBIH

Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias terletak di Jalan Perikanan no.13 Kelurahan Pancoran Mas Depok. Waktu yang ditempuh untuk mencapai BPPBIH Depok dari pusat kota sekitar 45 menit dengan menggunakan kendaraan umum beroda empat. Luas lahan area yang dimiliki oleh BPPBIH mencapai 126.413 m2 atau 12,6413 ha. Secara geografis Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok terletak disebelah Barat berbatasan dengan Kampung Baru, sebelah timur berbatasan dengan kampung sawah, sebelah selatan berbatasan dengan ratu jaya dan sebelah utara berbatasan dengan desa beji.

bb.png

Gambar 2.1 Gedung BPPBIH

 

Struktur Organisasi BPPBIH

Susunan organisasi BPPBIH Depok tersebut terdiri dari kepala Balai Riset yang membawahi tiga koordinator dan Kelompok jabatan Fungsional. Koordinator pertama adalah Koordinator Tata Operasional, yang kedua adalah Koordinator Tata Usaha, dan Koordinator Pelayanan Teknis.  Koordinator Tata Operasional terdiri dari Penanggung Jawab Program Riset dan Kerjasama. Koordinator Tata Usaha terdiri dari penanggung jawab koordinator umum dan keuangan. Koordinator Pelayanan Teknis terdiri dari penanggung jawab jasa dan informasi serta pelayanan riset.

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Balai harus merumuskan kegiatan, mengkoordinasi, dan mengarahkan kegiatan yang akan dan sedang dilaksanakan. Para peneliti bertugas membantu Kepala Balai dalam mengawasi kegiatan serta bertanggung jawab terhadap kerja dari teknisi dan karyawan yang ada dibawahnya.

Bagian Tata Usaha bertugas melakukan segala kegiatan administrasi keuangan, kepegawaian, persuratan, perlengkapan dan rumah tangga serta pelaporan Bagian Tata Usaha ini dibagi menjadi 2 yaitu urusan umum dan kepegawaian, serta urusan keuangan.

Seksi Pelayanan Teknis mempunyai tugas melakukan pelayanan teknis kegiatan pengembangan dan penelitian, penerapan, serta pengawasan teknis pembenihan dan pemeliharaan ikan hias. Seksi pelayanan teknis ini dibagi menjadi 2 sub seksi yaitu sub seksi sarana penelitian dan sub seksi informasi dan perpustakaan. Seksi program dan kerjasama mempunyai tugas bertanggung jawab terhadap segala kegiatan program riset.

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Pada BPPBIH

  • Staf dan Pegawai BPPBIH

Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH) Depok memiliki staf dan pegawai dengan tingkat pendidikan yang beragam, mulai dari pendidikan  Sekolah Dasar (SD) sampai dengan tingkat Strata 3 (S3). Komposisi staf dan pegawai BPPBIH berdasarkan tingkat pendidikannya disajikan pada  Tabel 2.1 Komposisi Staf Dan Pegawai BPPBIH Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tabel 2.1 Komposisi Staf dan Pegawai BPPBIH Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Pendidikan Jumlah
1 SD 11
2 SLTP 1
3 SMU 14
4 D1 0
5 D2 0
6 D3 2
7 D4 1
8 S1 26
9 S2 10
10 S3 1

Tabel 2.2 Komposisi Staf Dan Pegawai BPPBIH Berdasarkan Golongan

Golongan Pangkat Jumlah
I A Juru Muda 0
B Juru Muda Tk. 1 0
C Juru 5
D Juru Tk. 1 1
II A Pengatur Muda 6
B Pengatur Muda Tk. 1 2
C Pengatur 4
D Pengatur Tk. 1 0
III A Penata Muda 24
B Penata Muda Tk 1 7
C Penata 5
D Penata Tk. 1 5
IV A Pembina 2
B Pembina Tk. 1 2
C Pembina Utama Muda 1
D Pembina Utama Madya 2
E Pembina Utama 0

 

2.5 Sarana dan Prasarana BPPBIH

Sarana dan prasarana merupakan faktor penunjang yang paling penting dalam melakukan usaha budidaya ikan. Sarana dan prasarana tersebut diperlukan untuk kelancaran proses pembenihan yang dapat menghasilkan produksi benih hingga pemasarannya. Sarana dan prasarana serta fasilitas yang dimiliki BPPBIH Depok disajikan pada Tabel 2.3

Tabel 2.3 Sarana dan Prasarana di BPPBIH

Gedung Administrasi Luas Jumlah Keterangan
– Ruang Kepala 15 m2 1 unit  
– Aula 54 m2 1 unit  
– Bendahara PNBP 9 m2 1 unit  
– Ruang Administrasi 18 m2 1 unit  
– Ruang Bendahara 6 m2 1 unit  
Ruang KTU 6 m2 1 unit  
Gedung Peneliti Luas Jumlah Keterangan
– Peneliti 278,1 m2 1 unit  
Gedung Teknis Luas Jumlah Keterangan
– Perpustakaan 36 m2 1 unit  
– Lab Basah 84 m2 1 unit  
– Laboratorium 68 m2 1 unit  
Lab. Biologi      
– Ruang Alga 10,95 m2 1 unit  
-Ruang Foto/Pengamatan Embriogenesis 9,45 m2 1 unit  
Green House      
– Hatchery Botia 150 m2 1 unit  
Hanggar 2      
– Ruang Gen Set 19,6 m2 1 unit  
– Ruang Peneliti 41,5 m2 1 unit  
– Ruang Pembenihan 59,5 m2 1 unit  
– Ruang Teknisi 58,1 m2 1 unit  
– Ruang Peneliti 5 m2 1 unit  
– Kamar Mandi 9,99 m2 1 unit  
– Bak Pembenihan 5,0 m x 1,80 m 2 bh  
– Bak Tandon Air 7,0 m x 2,0 m 1 bh  
– Resirkulasi 11 set  
– Gen Set 2 bh  
– Blower 2 bh  
– Frezeer 1 bh  
Lab. Basah 3      
– Ruangan Kantor 14,0125 m2 1 bh  
– Bak Beton 2,30 m x 2,30 m 6 bh  
Lab. Basah 3      
– Bak Beton 4,90 m x 3,30 m 1 bh  
– Bak Beton 3,20 m x 2,0 m 2 bh  
Kolam      
– Kolam Tanah 17 m x 12 m 23 bh Kerja sama
– Kolam Tanah 11.50 mx 8,60 m 8 bh  
– Kolam Tanah 8 m x 9,8 m 12 bh Kerja sama
– Kolam Tanah 43 m x 7 m 1 bh  
– Bak Resirkulasi 13 m x 17 m 1 bh Kerja sama
– Kolam Batu 8 m x 9,8 m 1 bh  

Sumber : BPPBIH (Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias)

Fasilitas lainnya yaitu :

  1. Hatchery, berfungsi untuk melakukan kegiatan pemijahan dan pemeliharaan larva
  2. Kandang kodok, sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan pemijahan, pemeliharaan dan khususnya pada ikan pelangi / rainbowfish
  3. Laboratorium Biologi
  4. Laboratorium Kimia
  5. Laboratorium Pakan Alami, berfungsi sebagai tempat untuk melakukan analisis kandungan gizi dan mineral pakan serta memformulasikan pakan ikan budidaya.
  6. Sumber air tawar

BAB 3. PEMBENIHAN IKAN RAINBOW KUROMOI

 

3.1 Ikan Rainbow Kurumoi (Melanotaenia parva)

3.1.1 Biologi Ikan Rainbow Kurumoi (Melanotaenia parva)

  1. Klasifikasi

Menurut Nasution (2000), Klasifikasi dan Morfologi Klasifikasi Ikan Rainbow Kurumoi sebagai berikut :

Filum               : Chordata

Kelas                : Pisces

Ordo                : Atheriniformes

Famili              : Melanotaeniidae

Genus              : Melanotaenia

Spesies            : Melanotaenia parva

2. Morfologi

Ikan rainbow Kurumoi memiliki sirip punggung ganda, sirip punggung pertama lebih kecil dari pada sirip punggung kedua dan letaknya saling berdekatan, sedangkan bentuk kepala untuk jantan lebih kecil dari betina. Panjang total (dari mulut sampai pangkal ekor) ikan ranbow dewasa mencapai 7 cm pada jantan dan betina 5 cm (Nasution, 2000).

ja.jpg

Gambar 3.1 Ikan Rainbow kurumoi

3. Habitat

Ikan rainbow tergolong dalam famili melanotaenidae yang terdistribusi di Irian Jaya, Papua New Guinea, dan Australia dengan habitat kebanyakan air bersih pada ketinggian di bawah 1500 meter, baik di sungai, danau,dan rawa (Said dan Hidayat, 2005). Ikan rainbow bersifat endemik di Danau Aitinjo dan Danau Ajamaru, Irian Jaya (Allen,1991) Ikan ini aktif pada siang hari (diurnal) untuk mencari makan dan beraktifitas (Allen, 1991).

3.2 Tahapan Pembenihan Ikan Rainbow Kurumoi

Manajemen pembenihan  ikan rainbow kurumoi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk menghasil benih unggul dengan tahapan pelaksanaannya terkontrol dan terawasi. Pembenihan ikan rainbow kurumoi dalam pemijahan ada 2 macam yaitu pemijahan berpasangan dan pemijahan masal. pemijahan berpasangan yang bertujuan untuk mencari keturunan yang kualitas baik terutama dari segi morfologi yang sesuai dengan induknya dan pemijahan masal bertujuan untuk medapatkan kuantitas atau jumlah benih yang banyak. Balai Pengembangan dan Penelitian Ikan Hias Depok Jawa Barat secara teknis terdiri dari beberapa tahapan kerja yang dilakukan yaitu mulai dari persiapan wadah dan peralatan, pemeliharaan induk, seleksi induk, pemijahan ikan rainbow, pemeliharaan larva, pendederan, pemanenan, pemberian pakan, dan pengendalian hama dan penyakit.

3.3 Pemeliharaan Induk

3.3.1 Pengadaan Induk

Selama kegiatan PKL di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias Depok induk ikan Rainbow Kurumoi diperoleh dari hasil budidaya sendiri mulai dari benih sampai indukkan. Induk ikan rainbow kurumoi  yang ada di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias Depok memiliki umur induk berkisar antara 1 – 2 tahun dengan panjang 4 – 8 cm.

3.3.2 Persiapan Wadah Pemeliharaan Induk

Kegiatan persiapan wadah pemeliharaan induk yaitu pengeringan wadah, membersihan sisa lumut dan pengisian air. Kegiatan persiapan kolam merupakan salah satu syarat untuk memenuhi standar agar induk ikan dapat tumbuh optimal dan sehat. Kegiatan ini dilakukan dalam menyiapkan indukan yang berkualitas, dimana induk yang unggul akan menghasilkan keturunan benih yang unggul pula. Wadah pemeliharaan induk berukuran antara Panjang 1,5 meter, panjang 1 meter, tinggi 90 cm dengan ketinggian air 60 cm. wadah atau bak pemeliharaan induk masing – masing memiliki saluran masuknya air (inlet) dan saluran keluarnya air (outlet). Ukuran diameter inlet pada bak pemeliharaan induk yaitu 1,5 inci dan pengeluaran 3 inci, perbedaan ukuran pengeluaran air (outlet) yang lebih besar dengan ukuran saluran pemasukan air (inlet) bertujuan untuk mempercepat proses penyurutan air kolam sehingga dapat mempermudah proses pemanenan ikan

Pemeliharaan induk di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok pada setiap wadah berisi 100 – 120 induk rainbow. Ikan rainbow di BPPBIH induk yang digunakan dalam pemijahan berumur ± 1 tahun, panjang  jantan 6,1 – 8 cm dan betina 4,2 – 6,5 cm.

 

3.3.3 Pemberian Pakan Induk

Pemeliharaan induk hingga matang gonad sangat penting dalam proses pemijahan untuk menghasilkan keturunan yang sehat dan baik. Kegiatan pemeliharaan induk yaitu pemberian pakan, kualitas air, pencegaan hama dan penyakit ikan. Pemberian pakan merupakan proses penting dalam pematangan gonad induk rainbow. Kandungan nutrisi pada pakan induk yang harus diperhatikan adalah kandungan protein karena protein merupakan zat yang dibutuhkan ikan dan perlu dipenuhi untuk mencapai pertumbuhan optimal. Perlu diperhatikan dalam pemberian pakan, kandungan protein pada pakan tidak boleh kurang ataupun lebih dari kebutuhan. Kelebihan atau kekurangan protein pada ikan akan menyebabkan petumbuhan negatif. Protein pada pakan induk ikan rainbow yaitu 39 %, pemberian pakan yang optimum yaitu 30 – 36 % (Natalist, 2003). Induk yang diberi pakan dengan kandungan energi 38% melebihi standar BSN (1999) 35% kandungan protein dan energi yang berlebihan akan menyebabkan adanya konversi protein menjadi energi sehingga mempengaruhi aktivitas reproduksi. Apabila kadar lemak terlalu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya akumulasi berlebihan dalam ovarium yang mengakibatkan gangguan pada perkembangan gonad dan aktivitas reproduk.

Tabel 3.1 Kandungan Nutrisi Pelet Induk

Komponen Persentase
Protein 37 %
Lemak 5  %
Serat Kasar 4 %
Kadar Abu 11 %
Kadar Air 10 %

Sumber :Tertera pada kemasan pakan, 2016.

Kelebihan protein dalam pakan akan mengakibatkan ikan memerlukan energi ekstra untuk melakukan proses deaminasi dan mengeluarkan amoniak sebagai senyawa yang bersifat racun sehingga energi yang digunakan untuk pertumbuhan akan berkurang. Kekurangan protein dalam pakan jelas akan mengakibatkan pertumbuhan yang negatif karena protein yang disimpan di dalam jaringan otot akan dirombak menjadi sumber energi sehingga pertumbuhan menjadi terhambat.

Pemberian pakan untuk ikan rainbow kurumoi yaitu 2 kali sehari (pagi dan sore hari) secara adlibitum (Pemberian pakan hingga kondisi ikan kenyang). Ikan rainbow perenang cepat sehingga dengan pemberian pakan dengan adlibitum diharapkan semua ikan akan mendapatkan pakan. sebanyak per hari 24,75 gram dengan frekuensi pagi dan sore hari. Jumlah pemberian  pakan selama kegiatan PKL pakan terlebih dahulu ditimbang sesuai dengan kebutuhan, pemberian pakan dilakukan dengan cara ditebarkan ke dalam kolam secara merata.

Tabel 3.2 Pemberian Pakan Pada Induk

Bak Populasi Ikan (ekor) Bobot rata-rata (gram) Bobot biomasa (gram) Adlibitum
1 100 7,54 754 37,7 – 404 gram
2 120 7,54 904,8 45,24 – 50 gram

Sumber : Data Primer, 2016.

Selama pemberian pakan dilakukan pengamatan terhadap tingkah laku makan ikan, warna dan kondisi air. Apabila dalam pengamatan tingkah laku ikan terindikasi abnormal seperti tidak mau makan atau pergerakan lemah, perlu adanya pengecekan ulang pada kualitas air, kualitas pakan, dan utamanya adalah identifikasi penyakit yang menyerang ikan. Pengamatan tingkah laku makan harian ikan sangatlah penting untuk mengetahui kondisi kesehatan ikan.

3.3.4 Kualitas Air

Pengecekan kualitas air sangat penting untuk mengetahui kualitas air tetap baik. Pengecekan kualitas air berupa suhu dan pH dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Suhu yang optimum untuk ikan rainbow adalah 27 oC – 31 oC (Boyd, 1990 dalam Tresna, 2012).  Pemeliharaan induk ikan rainbow kurumoi di BPPBIH mempunyai suhu 27 – 30 OC. Kualitas air berupa amonia dilakukan seminggu sekali. Batas maksimal kandungan ammonia dalam air buidaya >0,05 mg/l (Moore, 1991 dalam Effendi, 2003). Wadah pemeliharaan induk rainbow kurumoi di BPPBIH nilai amonia mempunyai 0,1 karena sistem air yang terus mengalir dan amonia tersebut layak untuk pemeliharan ikan rainbow kurumoi.

3.4 Pemijahan

3.4.1 Persiapan Wadah dan Peralatan Pemijahan

Persiapan wadah meliputi pembersihan wadah, pengisian air seting aerasi (Oksigen) dan pengecekan kualitas air. Wadah pemijahan harus dipersiapkan dengan  baik, karena tanpa persiapan yang matang maka usaha untuk dalam menghasilkan benih akan mengalami gangguan. Wadah yang digunakan untuk pemijahan induk berukuran 50 x 35 x 27 cm sebanyak 20 buah. Pembersihan wadah, pengisian air sebanyak 15 liter, seting aerasi dan pengecekan kualitas air. Pemberisihan wadah bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit pada ikan. Pembersihan wadah meliputi mencuci bersih wadah, menyikat wadah dan menjemur wadah. Pengisian air dilakukan dengan 15 liter air dan pengecekan kualitas air bertujuan untuk mengetahui kelayakan air untuk pemeliharaan ikan rainbow kurumoi sebelum dilakukan sebagai media pemijahan.

Peralatan yang digunakan dalam pemijahan ikan rainbow kurumoi diantaranya berupa substrat pemijahan sebagai tempat menenpelnya telur, selang aerasi, wadah pemijahan, aerator, batu aerasi dan alat kualitas air diantaranya (Thermometer, pH meter dan DO meter). Pengunaan alat dilakukan pencucian setiap sebelum pemakaian dan sesudah pemakaian untuk mencegah adanya penyakit pada setiap alat.

Gambar 3.2 Persiapan Wadah Pemijahan

3.4.2 Seleksi Induk

Penyeleksian merupakan kegiatan yang penting dalam pemijahan terutama dalam menghasilkan keturunan yang berkualitas. Induk yang baik harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : sehat, tidak berpenyakit, tidak cacat fisik dan induk yang matang gonad. Induk betina rainbow  kurumoi yang matang gonad akan terlihat bagian perutnya membesar. Induk yang digunakan atau diseleksi berumur lebih dari 7 bulan dengan ukuran panjang 5 – 7 cm. Induk diambil dari bak pemeliharaan induk dengan menggunakan seser berjaring halus untuk mencegah terjadinya lecet atau terluka pada tubuhnya. Kemudian induk dimasukkan  ke dalam baskom atau wadah sementara berukuran diameter 40 cm untuk memindahkan ikan ke wadah pemijahan. Selanjutnya induk dipasangkan pada wadah pemijahan. Perbedaan antara induk jantan dan betina yang sudah matang gonad dapat dilihat pada Tabel 3.3 Perbedaan induk rainbow jantan dan betina yang sudah matang gonad dan gambar jantan dan betina matang gonad pada Gambar 3.3 induk ikan rainbow kurumoi (a) jantan, (b) betina.

Tabel 3.3 Perbedaan induk rainbow jantan dan betina yang sudah matang gonad.

Jantan Betina
Memiliki gonad podium (berupa tonjolan dibelakang sirip perut) yang merupakan modifikasi sirip anal yang berubah menjadi sirip yang panjang. Belakang sirip perut tidak ada gonad podium, tetapi berupa sirip halus
Tubuhnya ramping Tubuhnya gemuk
Warna lebih cerah Warnanya kurang cerah
Sirip punggung lebih panjang Sirip punggung biasa
Kepalanya besar Kepalanya agak runcing
Perutnya kecil Perutnya besar

(a)                                                                  (b)

Gambar 3.3 (a) Induk Ikan Rainbow Kurumoi Induk Jantan dan (b) Induk Betina

Mendapatkan  benih  dalam  jumlah yang memadai, induk yang dipilih harus yang siap pijah. Induk yang akan digunakan memiliki persyaratan antara lain sehat (bebas dari serangan penyakit serta mempunyai organ-organ tubuh yang normal), usia, ukuran ikan dan sudah matang gonad (Nasution, 2000). Pada hatchery ikan rainbow di BPPBIH induk yang digunakan dalam pemijahan berumur ± 1 tahun, panjang  jantan 6,1 – 8 cm dan betina 4,2 – 6,5 cm. Menurut Herman dan fadli (2015), induk yang matang gonad sudah berumur sekitar 7-8 bulan dengan, panjang total ikan 4 -5 cm sudah dapat dijadikan induk namun untuk hasil telur dan larva yang dihasilkan belum optimal sebaiknya menggunakan induk yang telah berumur 1 tahun.

 

3.4.3 Pemijahan

Induk yang sudah matang gonad akan dilakukan pemijahan secara alami (tanpa memberikan rangsangan hormonal). Perbandingan induk jantan dan betina adalah 1:1 pada wadah yang berukuran 50 x 35 x 27 cm dengan volume air 15 liter. Ikan  rainbow kurumoi ini termasuk ikan yang memijah secara parsial yaitu  telur tidak langsung dikeluarkan seluruhnya tetapi secara bertahap. Pemijahan ikan rainbow kurumoi di BPPBIH dilakukan 3 hari sekali dan diberikan substrat pada wadah pemijahan ikan rainbow sebelum dilakukan masa pemijahan. Wadah pemijahan diberikan substrat yang berbahan tali rafia setiap pemijahan diberikan satu substrat. Substrat diberikan bertujuan untuk sebagai penempelan telur ikan rainbow kurumoi. induk diberikan pakan berupa pakan buatan (Pelet) pada pagi dan cacing darah (blood worm) sore hari. Pemijahan akan berlangsung pada malam hari berkisar antara jam 00.00 – 01.00 WIB.

Pemijahan dilakukan 7 kali dengan 20 pasang ikan rainbow kurumoi. masing – masing pemijahan menghasilkan telur pada memijahan pertama menghasilkan telur 1930 butir, pemijahan ke-2 menghasilkan telur 1950 butir, pemijahan ke-3 menghailkan 1300, pemijahan ke-4 menghasilkan 1200 butir, pemijahan ke-5 1670, pemijahan ke-6 1870 dan pemijahan ke-7 1570. Setiap pemijhan mempunyai banyak telur yang berbeda. Rata – rata pemijahan dilakukan 3 hari sekali dan ada beberapa pemijahan yang lebih dari 4 kali sehari. Pemijahan yang berjarak harinya lebih lama dari pemijahan sebelumnya mempunyai jumlah telur yang lebih banyak yaitu pada pemijahan pertama yang baru dipijahkan, ke-2 dengan jarak 7 hari dan ke-6 jarak 4 hari dari pemijahan sebelumnya. Lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 4. Data HR, SR, Jumlah telur, larva dan benih

3.5 Pemanenan dan Penetasan Telur

Induk ikan rainbow kurumoi yang sudah memijah akan menempelkan telurnya ke substrat. Substrat yang ada pada wadah pemijahan kemudian dipindahkan ke wadah penetasan telur untuk menetaskan telur secara terkontrol. Pemanenan telur dilakukan setiap pagi hari pukul 08.00 WIB. Pemindahan telur memerlukan penaganan yang intensif untuk mencegah matinya telur dan lepasnya telur dari substrat tempat menempelnya telur. Telur dari wadah pemijahan akan dipindahkan ke wadah penetasan telur yang berdiameter 15 cm dan tinggi 10 cm. Faktor yang menyebabkan telur tidak menetas yaitu kualitas air buruk, terlalu lama tidak pada media air atau terpapar udara dan telur tidak terbuahi sperma. Penetasan telur selama 6 – 8 hari di wadah penetasan dengan suhu 27 – 30 oC. Beberapa telur akan diambil sampel untuk dilihat perkembangan telurnya dan telur yang tidak terbuahi. Penetasan telur pada setiap pemijahan memiliki hatching rate yang tidak jauh berbeda 94,55 – 98,65 %. Penetasan telur yang dengan suhu yang  optimum membuat telur menetas dengan baik atau optimal. Lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 4. Data HR, SR, Jumlah telur, larva dan benih.

Tabel 3.4 Jumlah Telur Pada Pemijahan Berbeda

kk

3.6 Pemeliharaan Larva

3.6.1 Persiapan Wadah Pemeliharaan Larva

Persiapan wadah meliputi pembersihan wadah, pengisian air, pemasangan aerasi (Oksigen) dan pengecekan kualitas air. Wadah pemeliharaan larva harus dipersiapkan dengan  baik, karena  tanpa persiapan yang matang maka usaha untuk dalam menghasilkan benih akan mengalami gangguan. Wadah yang digunakan untuk pemijahan induk berukuran 50 x 35 x 27 cm. Pembersihan wadah sebelum digunakan bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit pada larva ikan. Pembersihan wadah meliputi mencuci bersih wadah, menyikat wadah dan penjemuran wadah. Pengisian air dilakukan dengan 10 liter air dan pengecekan kualitas air bertujuan untuk mengetahui kelayakan air untuk pemeliharaan ikan rainbow kurumoi sebelum dilakukan sebagai media pemijahan. Peralatan yang digunakan dalam pembenihan ikan rainbow kurumoi yaitu pemijahan berupa substrat pemijahan, selang aerasi, wadah pemijahan, aerator, batu aerasi. Pemeliharaan larva berupa wadah, alat kualitas air (Thermometer, pH meter dan DO meter). Pengunaan alat dilakukan pencucian setiap sebelum pemakaian dan sesudah pemakaian untuk mencegah adanya penyakit pada setiap alat.

Gambar 3.4 Wadah Pemeliharaan Larva

 mmm.jpg

3.6.2 Pemberian Pakan Larva

Pemeliharaan larva dilakuakan setelah menetasnya telur, telur yang menetas di wadah pemeliharaan telur akan dipindahkan ke wadah pemeliharaan larva untuk dilakukan pemeliharaan larva. Ikan rainbow kurumoi akan dilakukan pemeliharaan mencapai ukuran sekitar 1,7 cm di wadah pemeliharaan larva. Kadarini dkk (2015) larva ikan rainbow kurumoi yang baru menetas memiliki panjang total rata – rata sebesar 4.09 mm. larva yang baru menetas masih mempunyai kuning telur yang menempel pada badannya sehingga larva tersebut mengkonsumsi kuning telur yang ada pada larva itu sendiri dan tidak perlu diberikan pakan. Kuning telur rainbow kurumoi akan habis pada hari ke 3 Sehingga larva harus diberi pakan. Pakan yang diberikan kepada larva berupa pakan alami berupa rotifer pada umur 3 hari hingga 21 hari dan umur 21 hari sampai 1 bulan diberikan moina.

Mudjiman (2008), menyatakan bahwa kandungan gizi pada pakan alami Moina sp umumnya terdiri dari air 79 %, protein 37 %, lemak 13,29, dan abu 11 %.  kandungan gizi dan kegunaan pakan alami Moina sp Adapun kandungan gizi dari rotifera (Brachionus plicatilis) adalah kadar air 85,70 %, protein 8,60 %, lemak 4,50 %, abu 0,70 %.

Tabel 3.5 Pemberian Pakan Larva Rainbow Kurumoi

lll

3.7 Pendederan

3.7.1 Persiapan Bak Pemeliharaan

Kegiatan persiapan wadah pemeliharaan induk yaitu pengeringan wadah, membersihan sisa lumut dan pengisian air. Kegiatan persiapan kolam merupakan salah satu syarat untuk memenuhi standar agar induk ikan dapat tumbuh optimal dan sehat. Kegiatan pedederan merupakan kegiatan pemeliharaan benih ikan rainbow kurumoi sampai berukuran tertentu. Tahapan pendederan ikan rainbow kurumoi yang dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok  hanya satu tahapan saja, yaitu pendederan I. Kegiatan pendederan yang dilakukan dimana menghasilkan benih ukuran 2,5 cm. Kolam pendederan memiliki ukuran Panjang 1,5 meter, panjang 1 meter, tinggi 90 cm dengan ketinggian air 60 cm. Larva  yang berumur 1 bulan didederkan pada kolam pendederan jumlah benih ditebar dikolam pendederan pada awal penebaran 2500 ekor.

Gambar 3.5 Kolam Pendederan Ikan Rainbow

 

3.7.2 Pemberian Pakan

Pemberian pakan pendederan kegiatan PKL menggunakan pakan berupa cacing darah atau Bloodwowm. Cacing darah memiliki protein yang tinggi sehingga memacu pertumbuhan benih ikan rainbow kurumoi untuk tumbuh dengan cepat. Pemberian pakan dengan pemberian pakan 5 % total bobot ikan frekuensi 2 kali sehari pagi dan sore hari. Nutrisi pakan cacing darah dapat dilihat pada table 3.5 Nutrisi Pakan Bloodworm.

Karotenoid sangat berpengaruh terhadap intensitas warna pada ikan hias dan terdapat pada cacing darah atau Bloodworm yang akan menambah kecerahan ikan rainbow kurumoi. Bloodworm atau cacing darah juga mengandung pigmen karoten berupa astaxanthin yang berfungsi sebagai intensitas warna pada benih ikan hias (Priyambodo dan Wahyuningsih, 2003 dalam Shafruddin, 2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas warna ikan hias ada dua yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh ikan yang sifatnya tetap yaitu genetik. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar tubuh ikan yaitu kualitas air, cahaya, dan pakan yang mengandung gizi tinggi dan sumber karoten (Sulawesty, 1997). Darwisito (1997) dalam Shafruddin (2006), mengatakan bahwa kandungan protein cacing tersebut mencapai 60% yang mudah dicerna oleh ikan.

Tabel 3.6 Nutrisi Pakan Bloodworm

Komponen Persentase
Protein 60 %
Lemak 11,6 %
Kadar Abu 15,4 %
Karbohidrat 15,4 %

Sumber : widanarmi (2006)

 

3.7.3 Kualitas Air

Kualitas air merupakan hal yang penting dalam pembenihan ikan, kualitas yang buruk menyebabkan tumbuhnya banyak penyakit dan menyebabkan ikan mengalami kematian. Menjaga kualitas air tetap optimal yaitu dengan cara melakukan pengukuran parameter kualitas air untuk mengetahui air masih layak untuk ikan atau tidak. Kualitas air yang tidak optimal akan segera diganti dengan air yang baru. Pengukuran kualitas air pH dan Amonia dengan mengambil sampel air diambil menggunakan botol sampel, kemudian dilakukan pengukuran ke laboratorium uji kualitas air Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok. Pengukuran suhu dan pH dilakukan setiap hari pada waktu pagi dan sore hari. Pengukuran suhu dengan thermometer digital dan pengukuran pH dengan menggunakan pH meter. Sedangkan untuk DO (Oksigen terlarut) dan Amonia dilakukan pada seminggu sekali. Pengukuran DO menggunakan DO meter dengan mengukur secara langsung ke wadah pendederan dan pengukuran amonia dengan membawa sampel ke Lab kualitas air Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok. Pencegahan kualitas air agar tidak memburuk yaitu dengan menyipon bak pendederan dan jika kualitas air tidak dalam keadaan optimum, air akan segera diganti dengan air yang baru. Hasil data pengukuran parameter kualitas air kolam pemeliharaan induk dapat dilihat pada tabel 3.7

Tabel 3.7 Data Kualitas Air

Wadah Parameter Nilai
Pemeliharaa Larva Suhu (oC) 27 – 31 O C
DO (mg/L) 5,8 – 6,5
pH 6 – 8
Amonia 0.001
Pendederan Suhu (oC) 29 – 31 O C
DO (mg/L) 5,8 – 6,7
pH 6 – 8
Amonia 0.001

Sumber : Lab Uji Kualitas Air Balitbanghias, 2016.

Data Hasil kualitas air menunjukan bahwa suhu air pada wadah pendederan berada pada kisaran 29 oC – 31 oC, nilai pH 6 – 8, Amonia dan DO 5,8 – 6,7. Data suhu air yang baik dalam budidaya perikanan yaitu 27 oC – 31 oC (Boyd, 1990 dalam Tresna, 2012). Nilai DO pemeliharan benih >5.8 sudah optimum dimana Konsentrasi oksigen terlarut yang baik dalam budidaya perairan adalah antara 5-7 mg/L (Kordi dan Gufron, 2009), Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitaran 7 – 8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berkhir jika pH rendah (Effendi, 2003). Nilai amonia hasil pengukuran pada wadah pemeliharaan benih memiliki nilai yaitu >0,001, nilai tersebut berada pada kondisi yang ideal. Hal ini berarti bahwa air kolam tersebut layak untuk pemeliharaan pembenihan ikan. Batas maksimal kandungan ammonia dalam air buidaya >0,05 mg/l (Moore, 1991 dalam Effendi, 2003) .

3.7.4 Pengendalian Hama dan Penyakit

Menurut Afrianto dan Liviawaty (1992), Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan yang mempengaruhi kondisi dan kesehatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hama ikan merupakan organisme yang dapat mengganggu kelangsungan hidup ikan yang kita pelihara baik sebagai predator, kompetitor dan perusak.

Tabel 3.8 Pengendalian Hama dan Penyakit

Penyakit / Hama Pencegahan Pengobatan / Mengatasi Menyerang Gejala
Kini – Kini

(Hama)

Menyaring dan menangani pakan alami dengan teliti sebelum di berikan ke larva. Jika sudah masuk wadah pemeliharaan harus segera membuang kini – kini dari wadah pemeliharan. Seluruh tubuh ikan larva Kini – Kini akan terlihat di wadah pemeliharaan ikan rainbow
White Spot

(Penyakit)

Mengecek selalu kualitas air dan menyipon wadah permeliharaan setiap hari. Perendaman Menggunakan Methylene blue dan air garam Tubuh ikan induk Terlihat warna bintik putih pada tubuh ikan rainbw
Copepoda sp (Hama) Membuat wadah pakan alami cadangan untuk jika terjadi kontaminasi pada bak pemeliharaan pakan alami Jika sudah masuk wadah pemeliharaan harus segera memindahkan semua larva ke wadah baru Larva ikan Ikan mendadak mati dan jika diamati dimikroskop terlihat di organnya terdapat copedoda sp
Katak

(Hama)

Memotong rumput sekitar wadah. Membuang katak jika masuk wadah. Memakan induk ikan Katak berada pada kolam bak induk.

3.8 Panen dan Pasca Panen

Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu panen sebagian dan panen total. Pemanenan secara total adalah panen secara keseluruhan benih yang ada dikolam untuk memenuhi permintaan konsumen akan benih ikan raibow kurumoi dengan jumlah yang banyak. Pemanenan total dilakukan dengan cara mengeringkan air, menangkap ikan dengan mengunakan seser. Benih ikan yang sudah dipanen dipindahkan ke kolam seleksi benih, agar mendapatkan hasil benih yang seragam. Panen dilakukan pada pagi hari, pada pagi hari suhu cenderung tidak tinggi sehingga ikan bisa terhindar dari stress. Ikan rainbow kurumoi yang akan dipanen berukuran 2,5 cm dan ukuran 2,5 cm ikan yang akan dijual. Pembeli ikan rainbow biasanya akan datang ke Balai Penelitian Dan Pengembangan Ikan Hias Depok. Benih selain dijual sebagian benih dilakukan sebagai bahan penelitian dan pengembangan. Setelah dilakukan penyeleksian ikan rainbow kurumoi maka tahap berikutnya yaitu menghitung ikan untuk mengetahui jumlah total ikan. Benih yang sudah terseleksi dengan ukuran  yang sama kemudian dikemas (packing) dengan kantong plastik dan berisi air 1/3 bagian dan oksigen 2/3 bagian, lalu diikat dengan menggunakan karet gelang.

3.9 Pemasaran

Sistem pemasaran ikan rainbow kurumoi yang dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok yaitu pembeliannya secara langsung datang ke Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok. Pihak Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok hanya mempanen dan mempacking ikan rainbow kurumoi seterusnya untuk pengangkutan ikan dilakukan oleh orang yang pembeli. Harga ikan hias ukuran 2,5 cm berharga Rp. 750 – Rp. 1000. Wilayah distribusi ikan rainbow kurumoi dilakukan masih disekitar jawa barat terutama wilayah Jabotabek.


BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) yang dilaksanakan di Balai Penelitian Dan Pengembangan Ikan Hias, Depok, Jawa Barat,  adalah sebagai berikut:

  1. Kegiatan pembenihan ikan rainbow kurumoi secara pemijahan berpasangan, dengan panjang induk 5 – 7 cm dan sebanyak 20 pasang dengan 7 kali pemijahan menghasilkan telur yaitu dengan Heatching Rate adalah 94,55 – 98,65 %.  Pada 30 hari menghasilkan rata – rata sebanyak 9760 ekor benih ukuran 0,7 cm  dengan  kelangsungan hidup benih ikan rainbow adalah 75,48 – 97,26 %.  Pendederan atau benih dengan ukuran 2,5 cm dengan umur 70 hari dengan kelangsngan hidup 59,46 – 89,00 % dengan rata – rata benih 6749 ekor.
  2. Kegiatan pembenihan ikan rainbow kurumoi yang dilakukan dalam 1 siklus yaitu 2 bulan meliputi yaitu persiapan wadah, penyeleksian induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharan larva, pendederan, pemberian pakan, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan serta pemasaran.

 

4.2 Saran

         Berdasarkan hasil kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) yang dilaksanakan di Balai  Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok, Jawa Barat. Berikut saran yang perlu dipertimbangan  untuk permasalahan, adalah sebagai berikut:

  1. Menyaring pakan alami sebelum pemberian pakan untuk mencegah masuknya hama seperti kini – kini ke wadah pemeliharaan larva.
  2. Membuat kultur pakan alami cadangan untuk sebagai antisipasi jika bak pakan alami utama tejadi kontaminasi.
  3. Mengecek selalu kualitas air untuk meminimalisir kematian pada ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E dan E, Liviawaty, 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Yogyakarta.

Allen, G. R. 1980. Field Guide to freshwater fisher of New Gunea. Papua New Guinea. Publication 9 New Cristensi Research Institute.

BSN. 1999. Standar Nasional Indonesia. Kelas Induk Pokok. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta. SNI 01-6131-1999

Herman Y dan F. D. Ikrom. 2015. Kajian Budidaya Ikan Rainbouw (Melanotaenia parva) di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias Depok, Jawa Barat. Jurnal. Universitas Lampung. Lampung. Vol. 12, No. 1, September 2015. ISSN 2252-6579

Jenitasari, B.A., Sukendi dan Nuraini. 2012. The Effect Of Different Natural Food Toward The Growth And Survival Rate Of Tawes Larvae (Puntius jvanicus Blkr). Student at Fisheries and Marine Science Faculty. Universitas of Riau.

Khairuman dan Khairul, A. 2008. Buku Pintar Budidaya Ikan Konsumsi 5. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Kadarini, T., Siti S. dan Zamroni M. 2015. Dukungan Kelestarian Keanekaragaman Melalui Produksi Larva Ikan Rainbow Kurumoi (Melanotaenia Parva) Pada Ukuran Induk Berbeda. Jurnal. Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias. Depok. Vol. 1, No.5, Agustus 2015. ISSN : 2407 – 8050

KKP 2014. Direktur Pengembangan Produk Nonkonsumsi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). http://www.kkp.go.id. Diakses pada 02 Maret 2016 Pukul 10.00 WIB.

Mudjiman, A. 2008. Makanan Ikan. Edisi Revisi Penebar Swadaya. Jakarta. 192 hlm.

Natalist. 2003. Pengaruh Pemberian Tepung Wortel (Daucus Carota L. Dalam Pakan Buatan Terhadap Warna Ikan Mas Koi (Cyprinus Carpio L. Skripsi. Fakultas Teknobiologi. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Yogyakarta.

Nasution, S. H. 2000. Ikan Hias Air Tawar Rainbow. Jakarta: Penebar Swadaya.

NRC, 1993. Nutrient Requirements of Fish. National Academy of Sciences. Washington, D.C.

Said S. D. dan Nur H. 2003. Kekerabatan Beberapa Spesies Ikan Pelangi Irian (Famili Melanotaeniidae) Berdasarka Karyotipe. Jurnal. Puslit Limnologi LIPI. Bogor. Vol. 2, No. 1 Hal. 67-77, 2014. ISSN : 2303-2960

Shafruddin D., B.R. Parlinggoman dan K. Sumantadinata. 2006. Pertumbuhan Dan Produksi Larva Cacing Darah Chironomus sp. Pada Media Yang Dipupuk Kotoran Ayam Dosis 1,0-2,5 gram/liter. Jurnal. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Vol. 5, No. 1, Januari 2006. ISSN : 1979-7621

Sulawesty, F. 1997. Perbaikan Penampilan Ikan Pelangi Merah (Glossolepis Incies) Jantan Dengan Menggunakan Karotenoid Total Dari Rebon. Limnotek. Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Cibinong.

Widanarni, D., D. Mailana dan O. Carman. 2006.  Pengaruh Media Yang Berbeda Terhadap Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Larva Chironus sp. Jurnal. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Vol.5 No. 2, Januari 2006. ISSN : 1979-7621

Wheaton, F.W. (1977). Aquacultural Engineering. New York: John Willey & Sons.

Yogi H., I Wayan S. dan Mertayasa I. M. A. W. 2011. Keragaman Reproduksi Udang Hias Red Cherry (Neocaridina heteropoda) Dengan Pemberian Jenis Pakan Berbeda. Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok Jawa Barat. Depok.