BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Budidaya merupakan hal yang sangat menguntukan dan hal yang diperhatikan adalah kualitas air , Patogen dan ikan. Dalam hal penyakit Penyakit didefinisikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal  karena beberapa penyebab dan terbagi atas  2 kelompok yaitu penyebab dari dalam  (internal) dan  luar (eksternal) . Penyakit internal meliputi genetic,  sekresi internal, imunodefesiensi, saraf dan metabolic. Sedangkan penyakit eksternal meliputi  penyakit pathogen  (parasit,  jamur, bakteri , virus) dan non pathogen (lingkungan  dan nutrisi). Penyakit parasitic  merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering menyerang  ikan terutama pada usaha pembenihan. Serangan parasit  bisa mengakibatkan  terganggunnya pertumbuhan, kematian bahkan  penurunan produksi ikan.  Berbagai organisme yang   bersifat parasit mulai dari protozoa, crusstacea dan annelida. (Wikipedia, 2013)

Pencegahan dan pengobaatan merupakan hal yang lumrah dalam budidaya, pencegahan lebih baik dari pada menggobati akan tetapi jika ikan tersebut terkena penyakit harus juga segera diobati. Pengobatan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh para pembudidaya ikan jika ikan yang dipelihara terserang penyakit (Gusrina, 2003).

Sebelum melakukan pengobatan terhadap ikan yang sakit, terlebih dahulu harus diketahui jenis penyakit yang menyebabkan ikan sakit agar dapat diketahui jenis obat yang akan digunakan untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

1.2Tujuan

  • Untuk mengetahui cara pengobatan ikan.
  • Untuk Mengetahui kadar pemakaian obat ikan tersebut.
  • Untuk Mengetahui tinggkah laku ikan dalam pengobatan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Pengobatan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh para pembudidaya ikan jika ikan yang dipelihara terserang penyakit (Gusrina, 2003)

2.1 Ikan Mas (Cyprinus carpio)

             2.1.1.  Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Mas

Tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak (compressed). Mulut  terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Bagian enterior mulut terdapat  2 pasang sungut. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam sisik tipe sikloid. Selain itu, tubuh ikan mas juga dilengkapi dengan sirip. Sirip punggung (dorsal) berukuran relatif panjang dengan bagian belakang berjari-jari keras dan sirip terakhir, yaitu sirip ketiga dan sirip keempat, bergerigi. Linea lateralis (gurat sisi) terletak di pertengahan tubuh, melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Pharynreal teeth (gigi kerongkongan) terdiri dari baris yang berbentuk gigi geraham.

 Secara umum, ikan mas mempunyai sifat-sifat sebagai hewan air omnivora yang lebih condong ke sifat hewan karnivora. Dalam ilmu taksonomi hewan, Klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut :

            Filum               : Chordata

            Anak Filum     : Vertebrata

            Induk Kelas    : Pisces

            Kelas               : Osteichtyes

            Anak Kelas     : Actinopterygii

            Bangsa                        : Cypriniformes

            Anak Bangsa   : Cyprinoidei

            Suku                : Cyprinidae

            Marga              : Cyprinus

            Jenis                : Cyprinus carpio L.

Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan mas menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis mas yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang memiliki ukuran sirip memanjang. Golongan pertama yakni yang bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan mas yang bersisik biasa dan kedua bersisik kecil.

Sedangkan Djoko Suseno (2000) berpendapat bahwa berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan mas yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias.

2.2 Ikan Lele

      2.2.1 Klasifikasi ikan lele dan habitatnya

                  Kerajaan          : Animalia

Filum               : Croudata

Kelas               : Actinopterygii

      Ordo                : Siluriformes

Famili              : Clariidae

Genus              : Clarias

Lele atau ikan keli, adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki “kumis” yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya.

Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.

Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan. Walaupun biasanya lele lebih kecil daripada gurami umumnya,namun ada beberapa jenis lele yang bisa mencapai panjang 1-1,5 m dan beratnya bisa mencapai lebih dari 2 kg,contohnya lele Wels dari Amerika.

Banyak jenis lele yang merupakan ikan konsumsi yang disukai orang. Sebagian jenis lele telah dibiakkan orang, namun kebanyakan spesiesnya ditangkap dari populasi liar di alam. Lele dumbo yang populer sebagai ikan ternak, sebetulnya adalah jenis asing yang didatangkan (diintroduksi) dari Afrika.

Lele dikembangbiakkan di Indonesia untuk konsumsi dan juga untuk menjaga kualitas air yang tercemar. Seringkali lele ditaruh di tempat-tempat yang tercemar karena bisa menghilangkan kotoran-kotoran. Lele yang ditaruh di tempat-tempat yang kotor harus diberok terlebih dahulu sebelum siap untuk dikonsumsi. Diberok itu ialah maksudnya dipelihara pada air yang mengalir selama beberapa hari dengan maksud untuk membersihkannya.

Kadangkala lele juga ditaruh di sawah karena memakan hama-hama yang berada di sawah. Lele sering pula ditaruh di kolam-kolam atau tempat-tempat air tergenang lainnya untuk menanggulangi tumbuhnya jentik-jentik nyamuk.

2.3  Kalium Permanganat (PK)

Kalium permanganat (PK) dengan rumus kimia KMnO4 sebagai serbuk maupun larutan berwarna violet. Sering dimanfaatkan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan infeksi bakteri terutama pada ikan-ikan dalam kolam. Bila dilarutkan dalam air akan terjadi reaksi kimia sebagai berikut;

KMnO4 􀃆 K+ + MnO4-

MnO4- 􀃆 MnO2+2On

On – Oksigen elemental. (Oksidator)

Sifat Kimia

Oksidator kuat

  • Sifat bahan aktif beracun adalah merusak dinding-dinding sel

melalui proses oksidasi.

  • Mangan oksida membentukkompleks protein pada permukaan epithelium, sehingga

menyebabkan warna coklat pada ikan dan sirip, juga membentuk kompleks protein pada struktur pernapasan parasit yang akhirnya menyebabkan kematian.

  • Secara umum tingkat keracunan PK akan meningkat pada lingkungan perairan yang alkalin

(basa).

  • Tingkat keracunannya sedikit

lebih tinggi dari tingkat pengobatannya.

  • Dapat mengoksidasi bahan organik.

Manfaat

  • Efektif mencegah flukes, tricodina, ulcer, dan infeksi jamur (ektoparasit dan infeksi bakteri) dengan dosis 2 – 4 ppm pada perendaman.
  • Bahan aktif beracun yang mampu membunuh berbagai parasit dengan merusak dinding-dinding sel mereka melalui proses oksidasi.
  • Argulus, Lernea and Piscicola diketahui hanya akan respon apabila PK digunakan dalam

perendaman (dengan dosis: 10-25 ppm selama 90 menit). Begitu pula dengan Costia dan

Chilodinella, dilaporkan resisten terhadap PK, kecuali dengan perendaman.

  • Kalium permanganat sangat efektif dalam menghilangkan Flukes. Gyrodactylus dan Dactylus dapat hilang setelah 8 jam perlakuan dengan dosis 3 ppm pada suatu sistem tertutup, perlakuan diulang setiap 2-3 hari
  • Sebagai disinfektan luka.
  • Dapat mengurangi aeromonas

(hingga 99%) dan bakteri gram

negatif lainnya.

  • Dapat membunuh Saprolegnia yang umum dijumpai sebagai infeksi sekunder pada Ulcer.
  • Golongan ikan Catfish, perlakuann kalium permanganat dilakukan pada konsentrasi diatas 2 ppm.
  • Sebagai antitoxin terhadap aplikasi bahan-bahan beracun.Sebagai contoh, Rotenone dan Antimycin. Konsentrasi 2-3 ppm selama 10-20 jam dapat menetralisir residu Rotenone

atau Antimycin. Dosis PK sebaiknya diberikan setara dengan dosis pestisida yang

diberikan, sebagai contoh apabila Rotenone diberikan sebanyak 2 ppm, maka untuk menetralisirnya PK pun diberikan sebanyak 2 ppm.

  • Transportasi burayak dapat dengan perlakuan kalium permanganat dibawah 2 ppm.

Prosedur Perlakuan PK (untuk jamur, parasit, dan bakteri)

  • Filter biologi tidak boleh dilewatkan larutan PK, karena dapat membunuh bakteri dalam

filter biologi.

  • Aliran air dan aerasi bekerja optimal, karena pada saat molekul-molekul organik

teroksidasi, dan algae mati maka air akan cenderung keruh dan

oksigen terlarut menurun.

  • Berikan dosis sebanyak 2-4 ppm.
  • Dosis 2 ppm diberikan pada ikanikan muda atau ikan-ikan yang

tidak bersisik.

  • Dosis 4 ppm diberikan pada ikanikan bersisik. Dosis tersebut tidak akan merusak tanaman air,

sehingga biasa digunakan untuk mensterilkan tanaman air dari hama dan penyakit, terutama dari gangguan siput dan telurnya.

  • Satu sendok teh peres (jangan dipadatkan) kurang lebih setara dengan 6 gram. Hal ini dapat

dijadikan patokan untuk mendapatkan dosis yang diinginkan apabila timbangan tidak tersedia.

  • Perlakuan dilakukan 4 kali berturut dalam waktu 4 hari, dengan pemberian PK dilakukan setiap pagi hari. Apabila pada perlakuan ketiga atau keempat air bertahan berwarna ungu selama lebih dari 8 jam (warna tidak berubah menjadi coklat), maka hal ini dapat dijadikan

pertanda untuk menghentikan perlakuan. Karena hal ini menunjukkan bahwa PK sudah

tidak bereaksi lagi, atau dengan kata lain sudah tidak ada lagi bahan yang dioksidasi. Setelah perlakuan dihentikan lakukan penggantian air sebanyak 40 % untuk segera membantu pemulihan warna air.

2.4 Garam dapur

      Garam dapur. Larutan garam dapur sebanyak 30 mg per liter dengan waktu perendaman 1 menit dan dilakukan setiap hari, selama 3 – 5 hari berturut-turut. Cara ini juga dapat menyembuhkan penyakit bintik putih.


BAB 3 METODOLOGI

3.1 Waktu Dan Tempat

      Pelaksanaan praktikum tentang Pengendalian Hama Dan Penyakit Ikan  pada hari Selasa tanggal 14 Mei 2013, jam 13.00 sampai selesai di Hatchery  Departemen Perikanan, PPPPTK Pertanian Vedca Cianjur, Jawa Barat Indonesia.

3.2 Alat Dan Bahan

      3.2.1 Alat

  • Baskom
  • Timbangan
  • Mistar
  • Akuarium / toples
  • Aerator

3.2.2 Bahan

  • Ikan mas
  • Ikan lele
  • Air
  • Kalium pemangat
  • Garam (NaCl)

3.3 langkah kerja

  • Siapkan alat dan bahan yang digunakan
  • Ambil 9 ekor ikan timbanganlah berat ikan

Berat ikan ke-1: ……………….. gr

Berat ikan ke-2 :……………….  gr

Berat ikan ke-3 :……………….  gr

Berat ikan ke-4 :……………….  gr

Berat ikan ke-5 :……………….  gr

Berat ikan ke-6:………………… gr

Berat ikan ke-7:………………… gr

Berat ikan ke-8:………………… gr

Berat ikan ke-9:………………… gr

  • Ukurlah panjang badan dengan menggunakan mistar dari ujung kepala sampai dengan ujung ekor

Panjang ikan ke-1 :…………………gr

Panjang ikan ke-2:…………………gr

Panjang ikan ke-3:…………………gr

Panjang ikan ke-4:…………………gr

Panjang ikan ke-5:…………………gr

Panjang ikan ke-6:…………………gr

Panjang ikan ke-7:…………………gr

Panjang ikan ke-8:…………………gr

Panjang ikan ke-9:…………………gr

  • Untuk buat larutan garan (NaCl)

Buatlah larutan garam 10 ppt , 20 ppt dan 30 ppt. kemudian masukan larutan garam tersebut kedalam aquarium/toples yang telah disediakan. Beri kode akuarium / toples untuk aquarium yang berisi larutan garam 10ppt dengan kode A, untuk yang berisi larutan garam 20 ppt dengan kode B dan aquarium yang berkode C untuk 30 ppt

Untuk larutan  Kalium pemangat (KMnO4)

Buatlah larutan KMnO4 dengan kosentrasi 2 ppm, 4 ppm dan 6 ppm. Kemudian masukan larutan KMnO4 ke dalam aquarium yang telah disediakan. Beri kode untuk aquarium yang berisi larutan KMnO4 2 ppm dengan kode A, 4 ppm dengan kode B dan 6 ppm dengan kode C.

  • Untuk buat larutan garan (NaCl)

Masukan ikan ke- 1 , ke- 2 , ke-3 ke akuarium A , ikan ke-4, ke-5, ke-6 kedalam akuarium B dan ikan ke-7, ke-8 ,ke-9 ke akuarium C

Untuk larutan  Kalium pemangat (KMnO4)

Masukan ikan ke- 1 , ke- 2  ke akuarium A , ikan ke-3, ke-4,  kedalam akuarium B dan ikan ke-5, ke-6 , ke akuarium C .

  • Amati tingkah laku ikan di dalam akuarium A, B , dan C kemudian setiap perubahan tingkah laku dan kondisi fisik yang terjadi pada ikan setiap 5 menit , sampai selama 30 menit.

3.4. Analisa Data

  • Garam (NaCl)

                        1 ppt = 1 gr x 1 liter air

  • Kalium permangat (KMnO4)

                        1 ppm = 1 mg x 1 liter air

                        1 ppm = 1 mg x 1 liter x 5


BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Data

4.1.1    Ikan mas dan Untuk buat larutan garan (NaCl)

  • Berat badan ikan
Berat ikan ke-1: 150 gr
Berat ikan ke-2 : 150 gr
Berat ikan ke-3 : 100 gr
Berat ikan ke-4 : 140 gr
Berat ikan ke-5 : 150 gr
Berat ikan ke-6: 125 gr
Berat ikan ke-7: 100 gr
Berat ikan ke-8: 140 gr
Berat ikan ke-9: 100 gr
  • Ukuran panjang badan
Panjang ikan ke-1 : 24                  cm
Panjang ikan ke-2: 21                 cm
Panjang ikan ke-3: 17,5              cm
Panjang ikan ke-4: 18                 cm
Panjang ikan ke-5: 18                 cm
Panjang ikan ke-6: 22,5              cm
Panjang ikan ke-7: 17,5              cm
Panjang ikan ke-8: 18,9              cm
Panjang ikan ke-9: 18                 cm
Waktu (menit) Tingkah laku ikan pada larutan garam 10 ppt Tingkah laku ikan pada larutan garam 20 ppt Tingkah laku ikan pada larutan

garam 30 ppt

5 14.01. WIB

·      pergerakan ikan mas lambat

14.00 WIB

Pergerakan pada ikan mas lambat

14.04 WIB

Pergerakan ikan cepat

10 ·         Ikan berenang didasar

·         Ikan mas mengap –mengap

·         Ikan berada didasar air

·         Warna ikan mas pucat dan ikan mengap – mengap dipermukaan air.

Ikan sering muncul kepermukaan

Ikan mengap – mengap

Ikan melompat – lompat.

15 Ikan sering berenang kepermukaan air. Kemudian ikan berenang abnormal. ·         Ikan membenturkan diri ketoples.

·         Ikan berenang vertikel

Ikan berada di per mukaan air

Ikan berenang terbalik.

20 ·         Ikan berada didasar

·         Sisik –sisik ikan semakin merah

·         Ikan berenang didasar, kemudian ikan mas mengap – mengap

·         Berenang abnormal

·         1 ekor ikan berada didasar dan 2 ekor ikan berada dipermukaan air

Ikan mas berenang abnormal.
25 ·         Ikan mengap- mengap dipermukaan air. 1 ikan mengap- mengap di permukaan. Ikan mas melompat – lompat.
30 Normal dan mengeluarkan feses Ikan berenang di permukaan dan ikan mas mengap- mengap dipermukaan air Ikan mencari oksigen kepermukaan.

Ikan berenang miring di permukaan

Sisik ikan tekelupas kemudiaan badan ikan kemerah – merahan

Operculum ikan mereh – merah.

4.1.2    Ikan lele dan Untuk buat larutan kalium Permangat (KMnO4)

  • Berat badan ikan
Berat ikan ke-1: 100 gr
Berat ikan ke-2 : 110 gr
Berat ikan ke-3 : 90 gr
Berat ikan ke-4 : 100 gr
Berat ikan ke-5 : 75 gr
Berat ikan ke-6: 100 gr
  • Panjang ikan
Panjang ikan ke-1 : 24   cm
Panjang ikan ke-2: 20,5 cm
Panjang ikan ke-3: 21,5  cm
Panjang ikan ke-4: 21  cm
Panjang ikan ke-5: 22 cm
Panjang ikan ke-6: 20,5 cm
Waktu (menit) Tingkah laku ikan pada larutan KMnO4 2 ppm Tingkah laku ikan pada larutan KMnO4 4 ppm Tingkah laku ikan pada larutan KMnO4 6 ppm
5 14.59 WIB

·     Ikan berenang didasar

·     Ikan ke atas permukaan ikan berenang abnormal

·     Pergerakan lambat

15.00 WIB

·        Ikan mengambil oksigen ke atas permukaan

14.57 WIB

·      Ikan berenang kepermukaan

·      Ikan berenang vertikal

10 15.04 WIB

·   Ikan tidak bergerak

15.05 WIB

·         Ikan tidak bergerak

·         Ikan mengambil oksigen ke permukaan

·         Berenang vertikal

15.02 WIB

·         Ikan tidak bergerak

·         Ikan mengambil oksigen ke permukaan

15 15.09 WIB

·         Ikan loncat

·         Berdiam didasar

15.10 WIB

·         Ikan berenang ke permukaan

15.07 WIB

·         Ikan tidak bergerak

·         Ikan mengambil oksigen kepermukaan

20 15.14 WIB

·         Ikan agresif

·         Mencari oksigen kepermukaan

·         Ikan loncat keluar toples

15.15 WIB

·         Mengambil oksigen ke permukaan

·         Berdiam di dasar

15.12 WIB

·         Ikan meloncat keluar toples

·         Berdiam diri di toples

25 15.19 WIB

·         Ikan loncat

·         Megap-megap di atas permukaan air

·         Berdiam di dasar

15.20 WIB

·         Ikan megap-megap

·         Ikan mengambil oksigen kepermukaan

·         Ikan loncat keluar toples

15.17 WIB

·         Ikan berenang vertical

·         Ikan selalu didasar

·         Ikan megap-megap di dasar

·         Megap-megap di permukaan air

·         Ikan locat keluar toples

30 15.24 WIB

·         Berdiam didasar toples

·         Bergerak agresif

15.25 WIB

·         Ikan naik kepermukaan

·         Ikan loncat

15.22

·         Ikan berenang vertical

·         Iakn loncat keluar toples

 

4.2 Pembahasan

4.2.1 larutan garam (NaCl)

      Dalam praktek kali ini dalam penggnaan garam (NaCl) pada kisaraan 2 ppt, 4 ppt dan 6 ptt pada awal pertama pemasukan ikan mas, tidak terjadi hal apapun pergerakaan ikan masih normal. Dikarenakan ikan masih keadaan dalam kisaran ptt yang sebelum di masukan ke toples, pada saat 5 menit cenderung yang kisaraan 8 ppt cepat dalam buka tutup insang dikarenakan Menurut pak laoude (2012)  keadaan ikan yang Ikan Air tawar memiliki cairan tubuh yang konsentrasinya lebih besar daripada lingkungannya (hiperosmotik) : ikan kehilangan garam dan mengambil air melalui insang. Pada 10 ppt ikan dalam keadaan yang normal pada waktu 5-10 menit , untuk 20 ppt ikan 1-5 menit untuk keadaan normal selanjutnya ikan mulai stress dan 30 ppt 2 menit ikan mulai stress dengan pergerakan cepat dan tutup ingsang terbuka cepat. Dikarenakan salinitas 30 ppt sudah masuk air laut, Air tawar adalah air yang memiliki kadar garam (salinitas) antara 0 – 5 ppt. Air payau adalah air yang memiliki kadar garam (salinitas) antara 6 – 29 ppt. Air laut adalah air yang memiliki kadar garam (salinitas) antara 30 – 35 ppt. (gusrina, 2003).  dan kesadaan air sudah tinggi . sehingga ikan mas yang habitatnya air tawar harus meyesuaikan osmotik air laut yang cenderung cairan tubuhnya mengandung cairan garam harus mengambil air di luar tubuhnya garam menyebabkan ikan stress. Osmoregulasi pada ikan air tawar melibatkan pengambilan ion dari lingkungan untuk membatasi kehilangan ion. Air akan masuk ke tubuh ikan karena kondisi tubuhnya hipertonik, sehingga ikan banyak mengeksresikan air dan menahan ion (Boyd, 1990 dalam Arista, 2001). Jika pada pengobatan ikan lihaat tingkah laku ikan jagnag terlalu lama perendaman jika ikan sudah terlihat normal pergerakannya dan terlihat ciri-ciri penyakitnya hilang ikan mulai  pindahkan ke air tawar lagi.

4.2.2 Larutan (KMnO4)

                Pada saat pengunaan larutan kalium permanganat dengan dosis 2,4,6 ppm memiliki tingkah laku yang berbeda karena pada pemerian kalium permanaganat, pada percobaan kali ini menggunakan ikan lele pada toples A yang kandungan 2 ppm ikan lele cenderung normal pada menit ke 1 – 10 , 4 pmm hanya 6 menit dan 6 ppm hanya 5 menit untuk keadaan normalnya jika waktunya lebih dari itu ikan mulai bergerak cepat dan loncat ke luar dari toples dikarenakan menurut Gusrina (2003) PK Tingkat keracunannya sedikit lebih tinggi dari tingkat pengobatannya. akan tetapi jika terlalu lama ikan juga merasakan racun yang ada di PK tersebut dan menyebabkan ikan stress. Badan ikan juga terlihat coklat dikarenakan menurut Gusrina (2003) Mangan oksida membentuk Badan ikan juga berwana coklat kompleks protein pada permukaan epithelium, sehingga menyebabkan warna coklat pada ikan dan sirip, juga membentuk kompleks protein pada struktur pernapasan parasit yang akhirnya menyebabkan kematian.


BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.1.1 larutan garam dan ikan mas

        Pada ikan mas menggunakan larutan garam hanya menggunakan 10 ppt untuk waktu 15 menit , 20 ppt waktu 10 menit dan 30 ptt untuk waktu 5 menit. Dikarenakan sistem osmotik ikan yang tidak sesuai dengan dalam tubuh ikan . jika terlalu lama ikan tersebut bisa menyebabkan stress dan waktu itu sudah cukup untuk memberantas penyakitnya.

5.1.2 Larutan kalium Permanganat (KMnO4)

      Pada ikan lele keadaan normal untuk kalium permanganate dosis 2,4,6 ppm memiliki tingkah laku yang berbeda karena pada pemerian kalium permanaganat, pada percobaan kali ini menggunakan ikan lele pada toples A yang kandungan 2 ppm ikan lele cenderung normal pada menit ke 1 – 10 , 4 pmm hanya 6 menit dan 6 ppm hanya 5 menit untuk keadaan normalnya. Dikarenakan bahan kimia yang terkandung di Kalium permangat tersebut yang menyebabkan ikan stress jika terlalu lama.

5.2 Saran

      Sebaiknya pengobatan adalah benteng terakhir dalam pengelolahan penyakit sebaiknya utamakan pencegahan agar tidak terjadi penyakit. Jika ikan masih terkena penyakit obati dengan obat yang aman dan sesuai standar SNI . dan obati sesuai dosis dengan waktu yang sudah ditentukan agar ikan tidak stress.


DAFTAR PUSTAKA

Affandi,R., DS Sjafei, MF Rahardjo dan Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan. Pusat

Antar universitas Ilmu Hayati. IPB. Bogor.

Boyd. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Auburn University. Alabama. USA

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK.Jakarta:Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

http://wikipedia/ikan-mas.com (diunduh 14 mei 2013 jam 17.30 WIB)

http://wikipedia/ikan-lele.com (diunduh 14 mei 2013 jam 17.30 WIB)

http://gunaria10.blogspot.com (diunduh 14 mei 2013 jam 17.30 WIB)

Powerpoint Fisiologi Hewan air “Osmoregulasi” bapak La ode M. Apdy poto S.st.pi M.si PPPPTK Pertanian Vedca Cianjur.

.

Advertisements