BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan Bawal Air tawar merupakan jenis ikan tawar yang cukup disukai masyarakat terutama pada dagingnya yang mempunyai ciri khas dan banyak yang membudidayakan ikan bawal tersebut dikarenakan mempunyai ekonomis yang cukup tinggi. Dalam budidaya bawal harus diperhatikan kualitas air, penyakit dan terutama daya tahan dari ikan bawal tersebut. untuk memperoleh daya tahan yang kuat ikan memerlukan pakan yang cukup dan mempunyai nutrisi seimbang.

Pakan merupakan komponen penting dalam budidaya ikan terutama dalam energi ikan dalam melakukan aktifitas, berkembang, reproduksi dll. Ikan dapat memenuhi kebutuhan makanannya dengan pakan yang tersedia di alam dan pakan buatan yang mempunyai nutrisi yang sesuai dengan tubuh ikan. pakan yang berasal dari alam selalu sesuai dengan selera ikan (Hany, 2010) dan pakan buatan harus disukai oleh ikan.

Presentasi biaya operasional dalam budidaya yaitu 50-70 %, pakan di butuhkan dalam usaha budidaya ikan dapat berasal dari pakan alami,terutama Pembesaran ikan intensif yaitu pembesaran ikan yang dalam proses pemeliharaannya mengandalkan pakan buatan dalam pemberian pakannya serta dilakukan pada wadah yang terbatas dengan kepadatan maksimal. buatan Seperti diketahui bahwa pakan buatan harus mengandung energi lebih dari 3000 kilokalori agar dapat memberikan pertumbuhan yang baik bagi ikan budidaya (Gusrina, 2003).

Dalam pengeturan nutrisi ikan membutuhkan protein 20-60 % , karbohidrat (30 %) , lemak (4-8 %) Vitamin dan mineral Dalam zat – zat sesuai dengan kebutuhan ikan. Oleh karena itu untuk menghasilkan ikan Bawal yang maksimal harus menyediakan pakan yang cukup dan nutrisinya seimbang agar ikan tersebut tahan penyakit, pertumbuhan cepat dan meningkatkan hasil produksi ikan.

1.2 Tujuan

Tujuan dilakukan on farm ini bertujuan sebagai berikut:

1.2.1. Tujuan umum

Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan motivasi mahasiswa, terutama dalam rangka meningkatkan wawasan dan pengetahuan serta Untuk meningkatkan kreativitas dan kompetensi mahasiswa melalui proses pengalaman belajar melalui proyek kerja.

   1.2.2. Tujuan khusus

  1. Mengetahui teknik pemberian pakan.

  2. Menegetahui dosis pemberian pakan.

  3. Mengetahui Feeding time, feeding frekuensi dan feeding behaviour pada pembenihan dan pendederan ikan bawal dalam pemberian pakan.

  4. Mengetahui cara mempercepat pertumbuhan dengan pakan.

  5. Mengetahui laju pertumbuhan, Survival Rate (kelangsungan hidup) dan Feed Convertion Ratio (Banyak pakan per kg) pada pembenihan dan pendederanIkan Bawal Air Tawar.

  6. Mampu menganalisa produksi pembenihan ikan bawal.

  7. Mengetahui nutrisi pakan yang baik untuk ikan bawal.

1.2.3. Manfaat

On farm diharapkan dapat memanajemen pemberian pakan terhadap ikan dengan Laju pertumbuhan yang cepat dan Survival Rate yang tinggi, serta menghasilkan benih yang berkualitas dan tahan terhadap serangan penyakit, serta mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi melalui proyek kerja yang nantinya akan diterapkan dilingkungan kerja masing-masing.


BAB II

PENDAHULUAN

2.1 Ikan Bawal (Colossoma macropomum)

Ikan air tawar adalah ikan yang menghabiskan sebagian atau seluruh hidupnya di air tawar, seperti sungai dan danau, dengan salinitas kurang dari 0, 05 %. Dalam banyak hal lingkungan air tawar berbeda dengan lingkungan perairan laut, dan yang paling membedakan adalah tingkat salinitasnya. Untuk bertahan di air tawar, ikan membutuhkan adaptasi fisiologis yang bertujuan menjaga keseimbangan konsentrasi ion dalam tubuh. 41 % dari seluruh spesies ikan diketahui berada di air tawar. Hal ini karena spesiasi yang cepat menjadikan habitat yang terpencar menjadi mungkin untuk ditinggali.

Ikan air tawar berbeda secara fisiologis dengan ikan laut dalam beberapa aspek. Insang mereka harus mampu mendifusikan air sembari menjaga kadar garam dalam cairan tubuh secara simultan. Adaptasi pada bagian sisik ikan juga memainkan peran penting, ikan air tawar yang banyak kehilangan sisik akan mendapatkan kelebihan air yang berdifusi ke dalam kulit, dan dapat menyebabkan kematian pada ikan. Karakteristik lainnya terkait ikan air tawar adalah ginjalnya yang berkembang dengan baik. Ginjal air tawar berukuran besar karena banyak air yang melewatinya.

Ikan bawal air tawar termasuk salah satu komoditi baru di bidang perikanan yang memiliki ekonomis yang cukup tinggi. Ikan bawal air tawar yang memiliki nama latin Colossoma macropomum bukanlah ikan asli Indonesia, tetapi didatangkan dari Negara Brazil, Amerika Selatan beberapa tahun yang lalu. Untuk membedakannya dengan ikan bawal yang terdapat di air laut, ikan bawal air tawar asal Brazil ini disebut dengan ikan bawal air tawar karena memang seluruh siklus hidpnya berada di air tawar. Pertama kali masuk ke Indonesia ikan bawal ini dijadikan ikan hias untuk dipelihara di aquarium dan kolam – kolam taman, namun karena laju pertumbuhannya sangat cepat dan dapat mencapai ukuran besar, bawal air tawar yang sudah dewasa menjadi kurang pantas dipajang. Karena itu, didukung rasa dagingnya yang enak dan gurih, ikan bawal air tawar kemudian menjadi sangat popular sebagai ikan konsumsi.

Klasifikasi bawal air tawar :

Filum               :  Chordata

Subfilurn         :  Craniata

Kelas               :  Pisces

Subkelas          :  Neopterigii

Ordo                :  Cypriniformes

Subordo          :  Cyprinoides

Famili              :  Characidae

Genus              :  Colossoma

Spesies            :  Colossoma macropomum

       Gambar 1  Ikan bawal air tawar

Ikan bawal air tawar memiliki tubuh dari arah samping tampak membulat (oval) dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2 : 1. Bila dipotong secara vertikal, bawal memiliki bentuk tubuh pipih (compressed) dengan perbandingan antara tinggi dan lebar tubuh 4 : 1. Sisik ikan bawal air tawar berbentuk otenoid, dimana setengah bagian sisik belakang menutupi sisik bagian depan. Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian bawah berwarna putih. Tubuh-bagian vertikal dan sekitar sirip dada ikan bawal air tawar muda berwarna merah. Warna merah ini akan memudar seiring dengan pertambahan umur dan perkembangan fisik. Warna merah ini akan memudar seiring dengan pertambahan umur dan perkembangan fisik. Warna merah ini merupakan ciri khusus._bawal air tawar sehingga oleh orang Inggris dan Amerika disebut red bally pacu (Arie, 2005).

2.2  Manajemen Pemberian Pakan

Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya tersebut disamping kualitas air. Pakan dalam kegiatan budidaya ikan sangat dibutuhkan oleh ikan untuk tumbuh dan berkembang.   Untuk menghasilkan pertumbuhan yang optimal sesuai dengan yang diharapkan, maka diperlukan pengetahuan tentang cara pengelolaan pemberian pakan yang baik. Cara pengelolaan pemberian pakan atau yang lebih dikenal dengan manajemen pemberian pakan di dalam suatu usaha budidaya Program pemberian pakan pada budidaya udang putih merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menentukan baik jenis, ukuran frekuensi dan total kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan (Adiwidjaya et al, 2005).

Nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya hewan akuatik.

Dalam manajemen pemberian pakan ada 6 faktor yang harus diperhatikan, yaitu :

  1. Feeding frekuensi

  2. Feeding time

  3. Feeding behaviour

  4. Feeding habits

  5. Feeding periodicity

  6. Feeding level

2.2.1 Feeding Frekuensi

Frekuensi pemberian pakan adalah jumlah pemberian pakan per satuan waktu, misalnya dalam satu hari pakan diberikan tiga kali. Pada ukuran larva frekuensi pemberian pakan harus tinggi karena laju pengosongan lambungnya lebih cepat, dan dengan semakin besarnya ukuran ikan yang dipelihara maka frekuensi pemberian pakannya semakin jarang. Laju evakuasi pakan didalam lambung atau pengosongan lambung ini tergantung pada ukuran dan jenis ikan kultur, serta suhu air (Effendi, 2004). Untuk ikan Bawal, satu sampai tiga hari setelah tebar pakan diberikan empat kali dalam sehari dan setelah itu tiga kali.

2.2.2 Feeding Time

Feeding time atau waktu pemberian pakan adalah waktu yang tepat untuk melakukan pemberian pakan pda setiap jenis ikan. Waktu pemberian pakan ini juga sangat khas untuk setiap jenis ikan. Waktu pemberian pakan ikan bawal aktif mencari makan pada saat siang hari (diurnal) sehingga waktu pemberian pakan di utamakan pada siang 30 % pagi , sore dan 40 % siang hari,  jika di ukur dari feeding periodicity yaitu daya tampung dari lampung ikan kisaran pada 4 – 5 jam lambung kosong pemberian pakan 3 kali sehari.

2.2.3 Feeding Behaviour

Feeding behaviour adalah tingkah laku ikan tersebut dalam lingkungan hidupnya biasanya ikan mempunyai 3 macam yaitu ikan yang hidupnya di bawah permukaan air / dasar permukaan , di tengah – tengah permukaan dan di atas permukaan air. Dalam hal ini dapat ditentukan untuk pakan yang digunakan dalam kegiatan budidaya. Ikan bawal berada pada permukaan air sehingga pakan yang digunakan dengan menggunakan pakan terapung.

2.2.4. Feeding Habits

Feeding habits adalah kebiasaan ikan tersebut dalam memakan makanan dan biasanya di kelompokan menjadi 3 yaitu omnivora (tumbuhan dan daging), herbivora (tumbuhan) dan karnivora (daging).  Ikan bawal merupakan ikan yang memakan segalanya yaitu mampu memakan jenis makanan nabati dan hewani.

2.2.5 Feeding Level

        Feeding level adalah daya cerna (Digestible) dan metaboliszible fraksi dari ransum akan menurun dengan meningkatnya ransum yang dikonsumsi. nilai rata – rata dari metabolizability ransum 40 – 85 %. Dikarenakan ikan bawal omnivore mempunyai metabolizability 80 % jika dia diberi pakan hewani.

2.2.6 Jenis Pakan

    2.3.1.1 Alami

   Sesuai dengan namanya, pakan alami adalah pakan yang berasal dari alam. Namun dalam perkembangannya, sumber pakan alami tidak hanya berasal dari alam . Sumber makan ini juga bisa berasal dari budidaya . Pakan alami rata-rata memiliki kandungan protein cukup tinggi .. Kadar air pakan alami harus tetap dijaga. Jika tidak dibekukan, pakan alami bisa membusuk hingga menurunkan kualitas pakan. Pakan alami hidup yang digunakan untuk larva ikan bawal dengan menggunakan artemia dengan protein 42 % untuk mempercepat pertumbuhan  dan penambahan vitamin C dan memiliki peranan penting dalam menangkal penyakit.

2.3.1.2 Buatan

Pakan buatan adalah pakan yang disiapkan oleh manusia dengan bahan dan komposisi tertentu yang sengaja disiapkan oleh manusia . Pakan buatan bersifat basa, seperti bentuk pasta atau emulsi (cairan pekat), tidak perlu disimpan . Jenis pakan basah sebaiknya dihabiskan dalam satu kali pemberian/ aplikasi karena pakan jenis ini mudah rusak jenis kandungannya . Namun bila memang harus disimpan, sebaiknya disimpan dalam ruangan pendingin (lemari es), itu pun tidak bisa terlalu lama, hanya 2 s.d 3 hari. Jika terlalu lama disimpan, kualitas pakan turun dan tidak bagus untuk dikonsumsi. Bahan baku yang digunakan untuk menentukan kualitas pakan buatan harus memenuhi beberapa syarat diantaranya, bernilai gizi, mudah dicerna, tidak mengandung racun, mudah diperoleh, dan bukan merupakan kebutuhan pokok manusia. Pada pemberian pakan ikan bawal dengan menggunkan pakan jenis tepung untuk larva berumur 20 hari dan dengan campuran vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh larva tersebut.

2.2.7    Kualitas  Pakan

   Dalam penggunaan pakan harus mempunyai 3 kareteria dalam pakan tersebut agar menghasilkan ikan yang pertumbuhannya cepat dan tahan penyakit. 3 diantaranya fisik, kimia dan biologi.

            2.2.7.1  Fisik

Pellet ikan yang baik mempunyai daya tahan di dalam air minimal 10 menit (Akbar, 2000).  Dan mudah hancur pada saat berada di mulut ikan sehingga ikan dengan mudah mencerna makanannya ke dalam  lambung

            2.2.7.2. Kimia

Kandungan zat-zat gizi pakan ikan harus sesuai dengan kebutukan tubuh ikan untuk beraktifitas dan pertumbuhan. Beberapa komponen zat-zat gizi yang perlu diketahui adalah kandungan protein, lemak, karbohidrat, abu, serat kasar, dan kadar air. Pellet yang baik memiliki kadar

air maksimal 10%, kandungan abu dan seart kasar maksimal 5%, kadar protein minimal 25%,  lemak antara 5-7%, dan karbohidrat antara 16-18% (Zuheid, 1990).

            2.2.7.3 Biologi

Pakan yang di pakan harus disukai ikan  dan menghasilkan FCR yang makin kecil makin baik sehingga seefesien mungkin dalam penggunaan pakan dan berdampak pada nilai biaya budidaya dalam pembelian pakan.

2.3  Strategi Pemberian Pakan

Ukuran lebih kecil dari bukaan mulut larva. Dalam masa larva selama 10 hari ikan bawal diberi pakan artemia ukuran 20 mm dan lebih kecil dari bukaan mulut larva bawal tersebut. Artemia mudah dideteksi dan dimangsa larva dan benih Artemia mudah didieksi oleh larva dikarenakan warnanya yang merah, bau yang cukup menyengat dan pakan artemia mudah dicerna dikarenakan pakan alami dan mempunyai serat yang tidak terlalu tinggi.

Pada ukuran 10 hari sampai 45 hari pemberian menggunakan pakan tepung berupa pakan hivrofit. Pada pakan tepung pemberian Vitamin C yang dibutuhkan loeh tubuh ikan dalam memproses memperkuat daya tahan tubuh ikan dan telur bebek untuk membuat pakan tersebut mempunyai aroma yang menyengat sehigga pakan akan mudah diditeksi oleh ikan sehingga di makan semua dan lebih effisen dalam penggunakan pakan. Serta pakan harus mengandung nutrisi tinggi dan seimbang, nutrisi yang baik untuk ikan bawal   untuk larva protein 40 % dan benih ikan bawal protein 30 – 35 %. Pada pakan tepung yang mempunyai serat yang seimbang kurang dari 15 % dan hewani yang mudah dicerna dalam tubuh ikan dikarenakan omnivore lebih cepat mencerna hewani di banding nabat yang masih tersisa seratnya dalam feses.

2.4  Metode Pemberian Pakan

Metode pemberian pakan dikakukan dengan menggunakan At satiation untuk larva 3 – 10 hari merupakan teknik pemberian pakan yang sesuai dengan kemampuan konsumsi atau kebutuhan ikan dan menggunakan metode Feeding rate 4 % untuk pemeliharaan benih pemberian dilakukan 3 kali sehari. Sistem teknologi budidaya ekstensif dengan menggunkan kolam tanah bagian dasar dan pematang tanah dan penggunaan pakan 50 % pakan alami dan 50 % pakan buatan.


BAB III

RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN ON FARM (OF)

 3.1 Tempat dan Waktu

Pelaksanaan kegiatan on farm ini adalah di Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK Pertanian Cianjur dan kolam harempoy akan dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai Maret  2013.

3.2 Alat dan Bahan

    • Alat

No

Alat

Spesifikasi

Jumlah

Kegunaan

1.

Seser

Diameter  40 cm

2

Untuk menangkap ikan

2.

Kertas lakmus

Kertas asam basa berwarna

44

Untukmengukur asam basa

3.

Ember

Diameter 30 cm

2

Untuk penampungan sementara ikan dan sipon

4.

Botol DO

6

Penampungan sample air

5.

Thermometer

1

Pengukuran Suhu air

6.

Bak pemijahan

2 x 1 meter

2

Pemijahan ikan

7.

Bak larva

2,5 x 2meter

1

Perawatan larva

8.

Bak  penetasan

Kerucut diameter  60 cm dan tinggi 1 m

2

Penetasan telur bawal

9.

DO meter

1

Penukuran oksigen terlarut

10.

Plankton net

1

Menyaring plankton

11.

Mikroskop

1

Mengamati jenis plankton

2.2.1.  Bahan

No

Bahan

Spesifikasi

Jumlah

Kegunaan

1.

Ikan Bawal Jantan

Ikan yang matang gonad

1

Bahan Hibridisasi

2.

Ikan Bawal hitam betina

Ikan yang matang gonad

2

Bahan Hibridisasi

3.

Artemia

Ukuran 20 mm

100 gram

Pakan untuk larva

4.

Hivrofit

Pakan tepung

10 kg

Pakan untuk pendederan

5.

Vitamin C

1 botol

Untuk daya tahan tubuh bawal

  • Skenario Pelaksanaan

    • Prosedur Kerja

  1. Pemilihan calon induk

  2. Pengelolaan induk

  3. Tidak memiliki morfologi yang cacat.

  4. Tidak dalam keadaan stress.

  5. Matang gonad.

  6. Tidak sakit.

    Seleksi induk jantan dan betina

    Jantan

  • Perutnya lebih langsing dibandingkan dengan betina

  • Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah anus akan mengeluarkan cairan putih kental (sperma).

  • Gerakannya lincah.

 Betina

  • Gerakannya lambat dibandingan jantan.

  • Perutnya lebih gembung dan lunak.

Pemberian pakan

  • Pemberian pakan1 kali sehari atlibitum.

  • Pemberian pakan jenis tenggelam.

  • Pemberokan induk jantan dan betina

  • Pemberokan dilakukan 1 hari sebelum pemijahan.

Pemijahan induk

  • Penyuntikan hormon ovaprim pada induk.

  • 0,5 ml ovaprim dan 2 ml aquabides pada induk betina.

  • 0,25 ml ovaprim dan 2 ml aquabides pada induk jantan.

  • Penyatuan induk jantan dan betina pada wadah.

  • Penutupan wadah pemijahan.

Penetasan telur dan pemeliharaan larva

  • Penggunaan Suhu 26 – 30° C

  • Mengkondisikan suhu air

  • Pemindahan Telur ke bak penetasan

  • Pemberian pakan alami

  • Pemberian pakan artemia.

  • Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari..

    Pengelolaan kualitas air

  • Mengukur pH, Suhu , Amoniak , dan kadar oksigen air.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

  • Membersikan bak penetasan.

  • Mensterilkan sekitar bak penetasan.

  • Menutup bagian atas wadah.

    Perhitungan jumlah telur.

  • Menimbang berat induk betina sebelum dan sesudah ovulasi.

  • Menimbang sample telur.

  • Menghitung telur.

Jumlah sample / berat sample = jumlah telur / (berat induk betina sebelum dipijahkan – sesudah dipijahkan).

  1. Pemeliharaan benih

  2. Penebaran larva

  • Persiapan paking.

  • Pengangkutan dan transporasi ke harempoy.

  • Padat penebaran larva 100 – 150 ekor / m2.

  1. Pengelolaan kualitas air

  • Mengukur pH, Suhu , Amoniak , dan kadar oksigen air.

  1. Pemberian pakan

  • Pemberian pakan 2 kali sehari.

  • Pemberian pakan hivrofit.

Pengamatan pertumbuhan

  • Pengambilan sample 1 minggu sekali.

  • Pengukuran laju pertumbuhan

  • Pengamatan dilakukan dibawah mikroskop.

  •  Pemanenan dan penjualan benih
  • Pencarian informasi pasar.Transaksi harga benih.

    Panen

  • Penangkapan benih.

  • Mengeringkan kolam.

  • Menangkap benih.

  • Pindahkan ke hapa.

  • Penghitungan benih.

3.4.      Analisa Data

Menurut Effendy (1997), dalam istilah sederhana pertumbuhan dapat dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu. Sedangkan pertumbuhan dalam individu adalah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Hal tersebut terjadi apabila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan.

3.4.1.   Kelangsungan Hidup (SR)

Rumus kelangsungan hidup :

  • SR = (Nt/No) x 100%

  • M = (No-Nt)/No x 100%

                        Keterangan :

                                    M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir ikan

No = Jumlah awal ikan       SR = Survival rate

3.4.2.   Pertumbuhan Mutlak

Rumus laju pertumbuhan mutlak :

W = Wt – Wo

                                              t

Keterangan :

                     Wt       : berat rata-rata ikan pada waktu tertentu (gram)

                     Wo      : berat rata-rata ikan pada waktu t = 0 (gram)

                     t           : waktu (hari)

3.4.3.   Pertumbuhan Spesifik (Specific Growth Rate)

Untuk  menentukan  laju pertumbuhan  spesifik  :

                        SGR  X100%       

Keterangan :

SGR     =  Laju pertumbuhan berat spesifik (% perhari)

Wt        =  Bobot biomassa pada akhir penelitian (gram)

Wo      =  Bobot biomassa pada awal penelitian (gram)

t1          =  Waktu akhir penelitian (hari)

t0          =  Waktu awal penelitian (hari)

3.4.4.   Pertumbuhan Panjang

            Rumus untuk mencari pertumbuhan panjang ikan adalah :

P = Pt – Po

Keterangan :

P  : Pertumbuhan panjang (cm)

Pt : Panjang akhir ikan (cm)

P0 : Panjang awal ikan (cm)

t   : waktu (hari)

  3.4.5. Feed Convertion Ratio (Efisiensi Pakan)

  FCR adalah berapa banyak pakan(Kg) yang diberikan untuk menghasilkan 1 kg daging.

Rumus :

                            F

      FCR = _________

                        Wt – Wo

Keterangan :

F          =          Jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan.

Wo       =          Berat total ikan saat awal penebaran.

Wt        =          Berat total ikan saat panen.

3.5 Parameter Pengamatan

Tabel 1. Pembenihan

Pengamatan

Hari ke 10

Hatching Rate

Laju Pertumbuhan

Survival Rate

Feed Convertion Ratio

    Tabel 2. pendederan

Pengamatan

Minggu ke-I

Minggu ke-III

Minggu ke-V

Laju Pertumbuhan

Survival Rate

Feed Convertion Ratio

3.6 Jadwal pelaksanaan

No

Kegiatan

Bulan Ke-

Des enber

Januari

Pebruari

Maret

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

Produksi 1

1

Persiapan (Alat, bahan dan proposal)

2

Persiapan wadah dan media

3

Pengelolaan induk

4

Pemijahan induk

5

Penetasan telur

6

Pemeliharaan larva

7.

Pemeliharaan Benih

7

Penjualan benih

Produksin ke-2

8

Pemijahan induk

9

Penetasan telur

10

Pemeliharaan larva

11

Penjualan benih

Produksi ke- 3

12

Pemijahan induk

13

Penetasan telur

14

Pemeliharaan larva

15

Penjualan benih

Produksi ke-4

16

Pemeliharaan larva

17

Penjualan benih

18.

Pembuatan laporan

19.

Seminar

20

Pengesahan laporan

DAFTAR PUSTAKA

Adiwidjaya, A.,Triyono, Herman, Aris Supramono dan subiyanto 2005. Manajemen pakan dan penduggan populasi pada budidaya udang.DKP. ditjen. Perikanan budidaya. BPBAP jepara. 15 hal.

 Akbar, S.. 2000. Meramu Pakan Ikan Kerapu. Penebar Swadaya. Jakarta

Amri, K. dan Khairuman. 2009. Bisnis dan Budidaya intensif air tawar. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Cetakan ke-2. Jakarta

 Arie, U. 2000. Budidaya Bawal Air Tawar untuk Konsumsi dan Hias. Penebar swadaya. Jakarta.

    Effendi. 2004. Pengukuran Tingkat Kelangsungan Hidup, Laju Pertumbuhan dan Efisiensi Penggunaan Makanan pada Ikan.

 Effendy, Rizal. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.

 Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta

 Hany handajani dan Wahyu widodo. 2010. Nutrisi Ikan. Umm press. Malang.

 Id.wikipedia.org/wiki/vitamin_C

 Zuheid, N.. 1990. Biokimia Nutrisi. UGM – Press.Yogyakarta.

Advertisements