Imotilisasi Mengunakan Ekstrak Hati Batang Pisang (Musa Spp) Dalam Transportasi Tanpa Media Air Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anestesi merupakan suatu kondisi ketika tubuh atau bagian tubuh kehilangan kemampuan untuk merasa (insensibility). Anestesi dapat disebabkan oleh senyawa kimia, suhu dingin, arus listrik atau penyakit (Tidwell,et.al.2004) Bahan anestesi mengganggu secara langsung maupun tidak langsung terhadap keseimbangan kationik tertentu di dalam otak selama masa anestesinya.Terganggunya keseimbangan ionik dalam otak menyebabkan ikan tersebut mati rasa karena syaraf kurang berfungsi. Anetasi merpakan hal penting dalam hal pengangkutan untuk mencapai tujuan dengan baik dan ikan tidak terluka.

Anastesi banyak digunakan dalam budidaya perkanan untuk mengirim ikan ke berbagai wilayah. Bahan anestsi harus menggunakan bahan yang aman bagi ikan dan bagi manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut.anestetik alami yang sudah diteliti untuk diaplikasikan dalam transportasi ikan antara lain ekstrak biji karet, minyak cengkeh, ekstrak ubi kayu (Habibie, 2006) dan bahan alami lainnya yang mengandung zat anestesia. Hati pisang juga bisa di manfaatkan sebagai anestesi ikan sebagai bahan alami yang tidak berbahaya bagi ikan dan manusia.

Senyawa yang juga terkandung dalam ekstrak hati batang pohon pisang ambon adalah saponin. Saponin merupakan glikosida yang memiliki sifat khas membentuk busa. Diduga dalam ekstrak hati pisang dapat digunakan untuk anetesi ikan yang cukup efektif dalam proses transportasi tanpa media air terutama ikan gurami. Oleh sebab itu dengan adanya anestesi memudahkan petani untuk  memproduksi ikan gurami yang banyak sehingga dapat terus berlanjut konsumsi ikan gurami di daerah daerah tertentu.

 1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana dosis untuk anestesi yang sesuai untuk ikan gurami dalam pengankutan transportasi tanpa media air?
  2. Bagaimana tingkat kelangsungan hidup ikan gurami dengan anestesi menggunakan ekstrak hati batang pisang (Musa spp)?
  3. Bagaimana mengetahui tingkat kadar glukosa darah ikan pada saat pengangutan ?

 

1.3. Tujuan                                                                      

Secara umum, dari latar blakang ini telah diuraikan, maka tujuan dalam penelitian yang akan dilakukan adalah :

  1. Mengetahui dosis menggunakan ekstrak hati batang pisang (Musa spp)pemberian ikan gurami (Osphronemus gouramy)
  2. Mengetahui tingkat kelulusan hidup ikan gurami
  3. Mengetahui glukosa darah ikan gurami

  • Manfaat

Berdasarkan tujuan yang telah disebutkan, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :

  1. Pengembangan ilmu tentang anestesi ikan dengan mendapatkan bahan yang mudah dicari dan murah.
  2. Acuan penelitian selanjutnya dalam penelitian anestesi menggunakan ekstrak hati batang pisang (Musa spp).
  3. Sebagai media informasi aplikatif yang mudah diaplikasikan oleh para petani.


 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian Abdullah (2012), Perlakuan pembedaan jenis batang pisang tunas, muda dan tua serta konsentrasi yang berbeda memliki pengaruh dalam penelitian ini. Ikan bawal yang diberikan konsentrasi ekstrak hati batang pisang sebesar 15 %, Waktu onset paling cepat yaitu selama 66,66 menit. Waktu onset paling lama ditunjukkan oleh perlakuan ekstrak hati batang pisang muda dengan pemberian konsentrasi sebesar 5 %, yaitu selama 145 menit.  Kelulusan hidup ikan bawal air tawar terkecil didapatkan pada ekstrak batang tua sebesar 15 %. Pada konsentrasi yang tinggi juga kandungan bahan kimia pada batang pisang juga tinggi seperti saponin. Konsentrasi terbaik didapatkan pada ekstrak hati batang pisang 10 % yang memberikan waktu pemingsanan 90 menit dan dengan tingkat kelulusan hidup 86,67 %.

Penelitian Rahmawati(2006), Perlakuan menunjukkan bahwa pemberian minyak cengkeh sebagai bahan pembius berpengaruh sangat nyata terhadap lama waktu pingsan benih ikan gurami selama proses pengangkutan.Berdasarkan hasil analisa BNT bahwa dosis yang tepat untuk pembiusan benih ikan gurami adalah dosis (0,015 ml/l) karena pada dosis  (0,015 ml/l) benih ikan mengalami tahap pingsan selama 429,67 menit (7 jam 42 menit), selain itu pada dosis0,015 ml/l.
Kisaran suhu pada penelitian ini adalah antara 25,63oC – 26,63oC dengan dissolved oxygen (DO) antara 4,5 – 4,9 mg/l dengan pH berkisar antara 6,49 –  6,6. Berdasarkan hasil analisa variansi bahwa kisaran suhu, pH dan DO pada penelitian ini masih layak untuk kehidupan benih ikan gurami.

Penelitian Nirmala dkk (2012),Penambahan dari garam pada berisi media air kayu arang zeolit dan aktif pada angkutan sistem tertutup dari ikan gurami (Osphronemus gouramy). Hasil dari pembahasan persiapan showed bahwa rate survival dari ikan gurami adalah 100% dan berenang aktif untuk lima hari tanpa makanan, taraf dari konsumsi oksigen sebanyak 1340.28 mgO2, hasilkan NH3 sebanyak 22.64 mg / l, sementara zeolit dan arang mengaktifkan seraplebih dari 50% Berwarna Coklat pada waktunya 120 detik. Pada pembahasan primer, survival ratedari ikan gurami selama 72 jam untuk perlakuan satu, B, C, D, dan E adalah 0%, 57%, 59%, 65% dan 74%, berturut-turut. Perlakuan e dengan rate survival dari 74% diperoleh di konsentrasi NH3 dari 0.016±0.069 mg / l dan CO2 setinggi 89.89 mg / l sementara Lakukan dengan 4.26 mg/l. Perkembangan paling tinggi dan survival rateadalah perlakuan E menghitung ke 2.95%dan 100%, berturut – turut.

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Ikan Gurami

Ikan gurami merupakan jenis ikan konsumsi. Gurami merupakan jenis ikan air tawar, yang mempunyai bentuk badan agak panjang, pipih, lebar ke samping (compressed). Ikan Gurami umumnya berbentuk panjang dan ramping perbandingan antara panjang dan tinggi adalah 3 : 1. Sisiknya berukuran besar berwarna gelap pada siripnya. Badannya tertutup oleh sisik yang besar-besar, terlihat kasar dan kuat. Ukuran matanya besar dan menonjol tepiannya berwarna putih (Sugiarti, 1988). Klasifikasi ikan gurami (Osphronemus gouramy). Menurut Saanin (1984), adalah sebagai berikut:

Phylum                  : Chordata

Sub Phylum           : Vertebrata

Classis                   : Pisces Sub

 Classis                  : Teleostei

 Ordo                     : Labyrinthici

Sub Ordo              : Anabantoidae

Famili                    : Anabantidae

Genus                    : Osphronemus

Species                  : Osphronemus gouramy(Lacepede)

Menurut Bachtiar dkk (2002), dilihat dari morfologi atau bentuk tubuhnya ikan gurame memiliki ciri-ciri sebagai berikut bentuk badan memanjang dan sedikit pipih ke samping, mulut terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan serta dihiasi dua pasang sungut. Selain itu di dalam mulut terdapat gigi kerongkongan, dua pasang sungut ikan gurami terletak di bibir bagian atas tetapi kadang-kadang satu pasang sungut rudimentee atau tidak berfungsi, gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri atas tiga baris yang berbentuk geraham. Menurut Nijiyati (1992), sirip ikan gurami terdiri dari lima jenis yaitu sirip dada, punggung, perut, dubur dan ekor. Ikan gurami memiliki sirip punggung (dorsal) berbentuk memanjang dan terletak di bagian permukaan tubuh, berseberangan dengan permukaan sirip perut.

            Ikan gurami merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici. Ikan gurami berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia) dan menyebar ke Malaysia, Thailand, Ceylon dan Australia. Masyarakat Indonesia telah lama membudidayakannya karena mempunyai laju pertumbuhan yang relatif lambat, namun berdaya ekonomi yang tinggi (Dinas Perikanan Jateng, 1994).

2.2.2. Transportasi Hidup Sistem Kering

            Penggunaan transportasi merupakan hal yang penting dalam proses pengankutan ikan untuk mencapai tempat tujuan dengan ikan dalam keaadan baik. Metode transportasi hidup biota perairan secara umum ada dua jenis, yaitu dengan menggunakan media air (sistem basah) dan tanpa media air (sistem kering). Transportasi sistem basah umumnya digunakan untuk transportasi jarak dekat (lokal), sedangkan transportasi sistem kering digunakan untuk transportasi jarak jauh untuk tujuan ekspor (Suryaningrum et. al,2005). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam transportasi biota perairan hidup sistem kering antara lain suhu lingkungan, kadar oksigen dan proses metabolisme (Andasuryani,2003).

2.2.3. Hati Batang Pisang

     Menurut Anonim (2006), tumbuhan pisang berasal dari Asia dan tersebar di spanyol, Itali, Indonesia, Amerika dan bagian dunia yang lain. ekstrak batang pohon pisang ambon mengandung tanin, saponin dan flavonoid yang dapat berguna sebagai antimikrobial dan perangsang pertumbuhan sel-sel baru pada luka. (Priosoeryanto et.al,2006). Senyawa yang juga terkandung dalam ekstrak hati batang pohon pisang ambon adalah saponin. Saponin merupakan glikosida yang memiliki sifat khas membentuk busa. Saponin merupakan senyawa berasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin dan sering mengakibatkan iritasi terhadap selaput lendir. Saponin juga bersifat bisa menghancurkan butir darah merah lewat reaksi hemolisis, bersifat racun bagi hewan berdarah dingin, dan banyak diantaranya. Saponin yang berpotensi keras atau beracun seringkali disebut sebagai sapotoksin. Saponin terdiri atas agligen polisiklik yang disebut sapogenin dan gula sebagai glikon. Sapogenin dapat diuraikan kembali dari struktur kimia ikatan hidrogennya menjadi dua bentuk, yaitu steroid dan triterpenoid. Adanya saponin dalam tanaman diindikasikan dengan adanya rasa pahit. Bila saponin dicampur dengan air akan membentuk busa stabil (Cheek, 2005).

2.2.4. Anestesi

            Anestesi merupakan suatu kondisi ketika tubuh atau bagian tubuh kehilangan kemampuan untuk merasa (insensibility). Anestesi dapat disebabkan oleh senyawa kimia, suhu dingin, arus listrik atau penyakit (Tidwell et.al, 2004) Bahan anestesi mengganggu secara langsung maupun tidak langsung terhadap keseimbangan kationik tertentu di dalam otak selama masa anestesinya. Terganggunya keseimbangan ionik dalam otak menyebabkan ikan tersebut mati rasa karena syaraf kurang berfungsi. Anetasi merpakan hal penting dalam hal pengangkutan untuk mencapai tujuan dengan baik dan ikan tidak terluka. Bahan anestesi dapat berupa bahan alami dan bahan kimia sintetik.

2.3. Kerangka Pemikiran

Capture.PNG

2.4. Hipotesis

            Berdasarkan uraian dan kajian teori yang ada, maka dapat diambil rumusan hipotesis yang digunakan adalah : Diduga penggunaan ekstrak Ekstrak Hati Batang Pisang (Musa Spp) Dalam Transportasi Tanpa Media Air berpengaruh terhadap anestesiIkan gurami  (Osphronemus gouramy).


BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

 3.1 Desain Penelitian

              Penelitian ini  menggunakan metode eksperimen yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lainnya dengan kondisi yang terkendali.

              Penelitian menggunakan desain penelitian dengan menggunakan teknik pengambilan data secara observasi langsung di lapangan terhadap objek penelitian. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan.

Tabel 1. Unit percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap

P4U1 P1U2 P4U4 P5U4 P1U3
P5U3 P1U4 P3U2 P2U2 P5U1
P5U1 P5U2 P3U3 P2U3 P1U3
P2U1 P4U2 P1U1 P1U2 P2U4

Keterangan :

P1         = Perlakuan Konsentrasi 0 %

P2         = Perlakuan Kosentrasi 10 %

P3         = Perlakuan Kosentrasi 15 %

P4         = Perlakuan Kosentrasi 20 %

U1         = Ulangan Pertama

U2         = Ulangan Kedua

U3         = Ulangan Ketiga

U4         = Ulangan Keempat

3.3 Alat dan Bahan

  • Alat

              Alat merupakan sarana yang sangat diperlukan dalam menunjang kegiatan penelitian.alat yang digunakan dalam kegiatan penelitian sebagai berikut :

Tabel 2. Alat yang digunakan dalam penelitian

No. Alat Spesifikasi Jumlah Fungsi
1. Gelas Ukur Berdiameter 10 cm dan bervolume 200 ml 3 Untuk mengukur ekstrasksi
2. Toples Berdiameter 30 cm dan volume 3 liter 3 Sebagai wadah ekstraksi
3. Akuarium Panjang 40 cm, lebar 20 cm dan tinggi 40 cm 20 Sebagai wadah ikan dan tempat pengamatan ikan
4. DO meter Digital 1 Untuk mengukur oksigen terlarut air wadah saat ekstraksi
5. pH meter Digital 1 Mengukur kadar pH air
6. Glukosa meter Digital 1 Mengukur kadar glukosa darah
7. Thermometer 0O– 100 OC. 1 Mengukur suhu air

 

  • Bahan

              Bahan merupakan sangat diperlukan dalam penggunaan kegiatan penelitian. Bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian sebagai berikut :

Tabel 3. Bahan yang digunakan dalam penelitian

No. Bahan Spesifikasi Jumlah Fungsi
1. Ikan gurami Ukuran 200 – 250 gram 40 ekor Ikan uji
2. Hati batang pisang Berat 200 g 4 buah Ekstrak untuk anestesi

3.5 Parameter Pengamatan

              Parameter yang diamati dalam penelitian ini antara lain adalah tingkatkadar glukosa ikan gurami, survival rate, parameter kualitas air sebagai parameter skunder dan waktu anestesi pada ikan.

3.5.1 Glukosa Darah Ikan

              Pengukuran tinggkat glukosa darah dengan menggunakan alat cek gula darah glucoDr menggunakan teknologi elektrokimia dalam mengukur kadar gula darah untuk diagnosis secara in vitrio. Dapat di pergunakan untuk mengukur kadar gula darah secara kuantitatif,.

 3.5.2 Survival Rate

Survival rate atau biasa dikenal dengan SR / Tinggkat kelangsungan hidup dalam perikanan budidaya merupakan indeks kelulusan hidupsuatu jenis ikan dalam suatu proses budidaya dari mulai awal ikan ditebar hingga ikan dipanen. nilai SR ini dihitung dalam bentuk angka persentase, mulai dari 0 – 100 %. rumus mencari SR adalah :

SR=

Keterangan :SR : Survival Rate, Nt : Jumlah ikan akhir (saat pemanenan), N0 : Jumlah ikan awal (saat penebaran).

3.5.3. Kualitas Air

              Parameter kualitas air yang diamati antara lain adalah pH, DO, dan Suhu. Opsi yang digunakan dalam pengamatan kualitas air antara lain yaitu dengan menggunakan alat thermometer, DO meter dan pH meter.

3.6 Simulasi transportasi

              Simulasi transportasi dengan melakukan percobaan pada meja getar. Waktu transportasi yang digunakan dari jam ke 0 sampai dengan jam ke 6. Untuk melihat waktu seberapa lama anestesi yang terkandung pada ikan gurami dengan menggunakan ekstrak hati batang pisang.

  • Prosedur Pengumpulan Data
  1. Persiapan Wadah Pemeliharaan Ikan gurami

Membersihkan wadah (akuarium) yang akan digunakan dan pemasangan aerasi di dalam wadah (akuarium).

  1. Persiapan ekstrak hati batang pisang

Hati diambil dari batang pohon pisang dengan cara mengestraknya dengan jumlah kadar yang berbeda dan dilakukan pembedaan umur dengan tunas, muda dan tua.

  1. Persiapan ikan uji dan bahan pemingsanan

Kondisi awal bawal air tawar yang digunakan dalam penelitian ini memiliki keseimbangan yang baik di dalam air.Hal ini ditandai dengan posisi bawal yang tegak dan kokoh, aktif, agresif dan responsif di dalam air. Proses adaptasi (aklimatisasi) bawal sebelum proses pemingsanan dilakukan selama satu minggu. Selama dua hari terakhir sebelum proses pemingsanan, bawal dipuasakan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mengurangi sebanyak mungkin kotoran yang ada dalam perut, serta mengurangi aktivitas metabolisme ikan selama transportasi (Suryaningrum et. al. 1993).Hati batang pisang mengandung bahan-bahan seperti flavonoid dan saponin. Menurut Priosoeryanto et.al(2006), ekstrak hati batang pohon pisang ambon mengandung tanin, saponin dan flavonoid. Ekstraksi hati hati batang pisang dilakukan dengan cara hati batang pisang di potong-potong kecil lalu diblender. Hasil blender hati batang pisang tersebut lalu diperas menggunakan kain blacu.

  1. Kualitas Air

Kualitas air merupakan salah satu faktor penting yang dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bawal air tawar.Parameter yang diamati meliputi suhu, pH, DO.

  1. Pengambilan Data

Pembiusan ikan gurami dengan bahan anestesi hati batang pisang dengan konsentrasi 10 %, 15 % dan 20 % dengan pembedaan kandungan batang pisang tunas, muda dan tua. Ikan gurami dibius dengan cara memasukan ikan secara langsung ke dalam wadah. ke dalam wadah.Hal ini bertujuan untuk menhatiui tingkat kelulusan hidup ikan jika dibius dengan bahan anestesi.Tahap ini dilakukan pencatatan waktu, tingkah laku ikan dan kelulusan hidup ikan gurami.Tahap ini dilakukan uji coba kedalam simulasi transportasi dengan melakukan percobaan pada meja getar.Tahap ini dilakukan dengan mengambil dari penelitian tahap kedua yang mempunyai nilai kelulusan hidup yang tinggi dan waktu pingsan yang cepat. Pada tahap ini dilakukan pengujian kualitas air bahan anestesi, perbedaan waktu transportasi dan kelulusan hidup ikan gurami. Waktu transportasi yang digunakan dari jam ke 0 sampai dengan jam ke 6. Pengujian kualitas air di lakukan dengan DO, pH, suhu dan TAN serta perhitungan glukosa darah dengan mengambil sample darah ikan.

  • Lokasi dan Waktu Penelitian

Waktu penelitianImotilisasi Mengunakan Ekstrak Hati Batang Pisang (Musa Spp) Dalam Transportasi Tanpa Media Air Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) direncanakan pada bulan Juni sampai dengan Juli 2015. Penelitian akan dilakukan di Politeknik Negeri Jember, Jawa Timur.

  • Metode Analisis Data

Analisis data diperlukan untuk mendapatkan kesimpulan dari percobaan yang dilakukan. Pada penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis secara deskriptif mengunakan tabel dan grafik dan menggunakan SPSS


 

BAB 4. JADWAL PELAKSANAAN TUGAS AKHIR

 

4.1.Rencana Jadwal Pelaksanaan Tugas Akhir

Rencana pelaksanaan kegiatan tugas akhir yang berjudul Imotilisasi Mengunakan Ekstrak Hati Batang Pisang (Musa Spp) Dalam Transportasi Tanpa Media Air Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Disajikan pada tabel 4.

Tabel 4.Rencana Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Observasi lapangan                        
2 Studi literature                        
3 Penyusunan proposal                        
4 Konsultasi proposal                        
5 Seminar proposal                        
6 Persiapan alat dan bahan penelitian                        
7 Pembuatan ekstrak                        
8 Perlakuan pengangkutan                        
9 Pengambilan data                        
10 Analisis data                        
11 Penyusunan laporan                        
12 Revisi                        
13 Penjilidan dan penggandaan                        

BAB 5. PERKIRAAN BIAYA TUGAS AKHIR

5.1.  Perkiraan Anggaran Biaya Tugas Akhir

Perkiraan biaya yang akan dikeluarkan dalam pelaksanaan kegiatan tugas akhir mulai dari observasi lapang hingga pelaksanaan ujian akhir dan penjilidan laporan dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Rencana Anggaran Biaya Penelitian

No JenisAnggaran Satuan Jumlah Biaya (Rp) Total (Rp)
A. BAHAN HABIS DAN PERALATAN
1. Akuarium Unit 20 50.000 1.000.000
2. Toples Unit 3 25.000 75.000
3. Gelas Ukur Buah 3 15.000 45.000
4. DO Meter Unit 1 150.000 150.000
5. Ikan gurami ekor 40 7.5000 300.000
6. Hati Batang Pisang Buah 4 10.0000 40.000
  Total A 1.600.000
B. TRANSPORTASI
  Observasi lapang kali 1 100.000 100.000
  Pengambilan ikan Paket 1 100.000 500.000
  Pengambilan Hati Batang Pisang Paket 1 20.000 20.000
  Total B 620.000
C. LAIN – LAIN
1. Studi literatur paket 1 200.000 1.000.000
2. Seminar Paket 1 150.000 100.000
3. Ujian TA Kali 1 100.000 100.000
4. Dokumentasi foto paket 5 50.000 250.000
5. Pembuatan laporan eksemplar 4 50.000 200.000
  Total C 1.650.000
  Total biaya (A+B+C) 3.870.000

 

Advertisements