Pemeliharaan Induk Ikan Nila

Pemeliharaan induk yang baik dalam kegiatan usaha pembenihan mempunyai peran yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan, karena induk merupakan salah satu faktor utama yang akan menentukan kualitas dan kuantitas benih yang dihasilkan. Tahapan pemeliharaan induk ikan nila yaitu meliputi persiapan kolam, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air serta pemberantasan hama dan penyakit.

Persiapan Kolam Pemeliharaan Induk

Persiapan kolam pemeliharaan induk dilakukan pada kegiatan pembenihan merupakan salah satu syarat untuk memenuhi standar agar induk ikan dapat tumbuh optimal. Kegiatan ini dilakukan dalam menyiapkan indukan yang berkualitas, dimana induk yang unggul akan menghasilkan keturunan benih yang unggul pula.

Kolam pemeliharaan induk yang digunakan pada pemeliharaan induk pada saat kegiatan MKI yaitu kolam D28 dan D29 bentuk persegi panjang dengan konstruksi kolam semi permanen, pinggir pematang kolam dan kobakan beton serta dasar kolam bentuk tanah. Ukuran kolam D28 yaitu 12 m x 20 m x 1,7 m (luas 408 m2) dan kolam D29 yaitu 12 m x 18,5 m x 1,8 m (luas 390 m2). Masing-masing kolam dilengkapi dengan saluran pemasukan air (inlet) menggunakan pipa PVC dengan diameter 4 inchi serta pengeluaran air (outlet) menggunakan pipa PVC yang berdiameter 6 inchi, perbedaan ukuran pengeluaran air (outlet) yang lebih besar dengan ukuran pipa pemasukan air (inlet) bertujuan untuk mempercepat proses penyurutan air kolam sehingga dapat mempermudah proses pemanenan ikan.

Persiapan kolam pemeliharaan induk yang dilakukan di kolam D28 dan D29 yaitu dengan melakukan pembersihan kolam, meratakan dasar kolam serta kemiringan mengarah ke kamalir dengan menggunakan sorongan dan membersihkan lumpur yang ada di bak kobakan.Kolam dikeringkan selama 1 hari yang bertujuan untuk membunuh hama dan penyakit, menutup saluran outlet dengan pipa PVC, dan pemasangan saringan di pintu pemasukan serta pengisian kolam dengan air mencapai 150 – 160 cm. Pemasangan saringan dimaksudkan untuk menghindari masuknya ikan-ikan liar sebagai predator maupun kompetitor ke kolam pemeliharaan induk.

Pemeliharaan induk dilakukan secara terpisah antara induk jantan Nila GESIT dan induk betina Nila Sultana, yang bertujuan untuk mencegah terjadinya “mijah maling” yaitu pemijahan ikan secara liar. Calon induk betina Nila Sultana dipelihara di kolam D28 jumlah tebar 5.692 ekor padat tebar 14 ekor/ m2 dengan berat bobot rata-rata 73,03 g/ekor dan induk betina nila Sultana dipelihara di kolam D29 jumlah tebar 1.857 ekor padat tebar 5 ekor/ m2dengan berat bobot rata-rata 135,70 g/ekor. Jumlah padat tebar calon induk ikan nila yang dilakukan pada saat kegiatan MKI sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI, 1999) padat tebar calon induk ikan nila yaitu 3 ekor/ m3 dengan berat 100 gram/ ekor. Sedangkan dari hasil wawancara dengan teknisi pembenihan ikan nila bahwa pemeliharaan induk jantan nila GESIT dipelihara dikolam C di salah satu unit pembenihan ikan nila GESIT di daerah dayeuh luhur. Untuk kegiatan pemijahan, induk jantan dipelihara minimal 6–8 bulan dan induk betina minimal berumur 6–8bulan, ukuran panjang standar induk jantan 16–25 cm dan betina 14–20 cm dengan bobot tubuh jantan 400–600 gram dan betina 300–450 gram (BSN, 1999).

Pemberian Pakan Ikan Induk Dan Calon Induk

Pakan berfungsi sebagai sumber protein dan energi bagi ikan yang digunakan untuk mempertahankan hidup, pertumbuhan dan reproduksi. Pakan merupakan komponen penting dalam proses pematangan gonad. Kandungan nutrisi pada pakan induk yang harus diperhatikan adalah kandungan protein karena merupakan nutrisi utama yang mengandung nitrogen, kebutuhan protein untuk induk ikan nila berkisar antara 30–35% lemak 6–8% (bobot kering) (BSN, 1999) dan kebutuhan energi sebesar 2.500 – 4.300 Kkal/ Kg (BBAT, 2015).

Tabel 3.1 Kandungan Nutrisi Pellet Terapung Merk HIPROVITE®

Komponen Persentase
Protein 31 – 33 %
Lemak 3 – 5 %
Serat 4 – 6 %
Kadar Abu 10 – 13 %
Kadar Air 11 – 13 %

Sumber :Tertera pada kemasan pakan HIPROVITE®, 2015.

Pakan yang diberikan di BBPBAT Sukabumi adalah pakan komersial dengan kandugan protein 31–33% (Tabel 3.1), dengan kandungan energi sebesar 3060 Kkal/ Kg (Lampiran 7). Pada saat magang, kegiatan pemberian pakan dilakukan pada kolam D28 dan D29. Ikhtisar pemberian pakan disajikan dalam (tabel 3.2). Kandungan protein dan energi pada pakan harus memenuhi kebutuhan induk ikan, misalnya apabila kebutuhan protein tercukupi namun kebutuhan energi tidak terpenuhi akan mengakibatkan pertumbuhan tidak optimal, ikan akan banyak mengkonsumsi pakan untuk kegiatan metabolisme dalam tubuh yang terbuang melalui urine dan feses sehingga nilai konversi pakan tinggi dan terjadi pemborosan pakan. Data diperoleh bahwa kandungan protein dan energi pada pakan yang diberikan pada kegiatan MKI sudah sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan nila (BSN, 1999).

Tabel 3.2 Pemberian Pakan pada Kolam Induk pada saat Magang Kerja Industri

Kolam Populasi Ikan (ekor) Bobot rata-rata (gram) Bobot biomasa (gram) Frekuensi pakan (kg)
Pagi Sore
D28 5.692 73,03 402.045 4 4
D29 1.857 135,70 251.995 2,5 2,5

Sumber : Data hasil kegiatan magang kerja industri, 2015.

Pakan yang diberikan pada induk ikan nila sebanyak 2% dari bobot biomassa dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali yaitu pagi dan sore. Hal ini menunjukan bahwa dalam kegiatan MKI, pemberian pakan pada induk ikan nila belum sesuai. Menurut BSN (2009) pada pemeliharaan calon induk ikan nila diberi pakan sebanyak 3-5% dari bobot biomassa/ harinya dengan kandungan protein 30-35%, hal ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan menjaga imunitas induk agar tidak mudah terserang penyakit.

Manajemen Kualitas Air

Sumber air yang digunakan pada kolam pemliharaan calon induk dan induk yaitu berasal dari saluran irigasi sungai panjalu yang di saring dan di endapkan terlebih dahulu di reservoir sebelum dialirkan ke kolam-kolam budidaya. Upaya untuk menjaga kualitas air tetap optimal yaitu dengan cara melakukan pengukuran parameter kualitas air, sampel air diambil menggunakan botol sampel, kemudian di bawa ke laboratorium uji kualitas air BBPBAT Sukabumi. Hasil data pengukuran parameter kualitas air kolam pemeliharaan induk dapat dilihat pada tabel 3.3.

Tabel 3.3 Data Kualitas Air Kolam Pemeliharaan Induk

Kolam Parameter Inlet Outlet Rataan
D28 Suhu (oC) 25,5 25,5 25,5
Alkalinitas (mg/L) 75,3 76,2 75,75
DO (mg/L) 4,78 4,61 4,695
pH 7,63 7,65 7,64
CO2(mg/L) 7,83 7,84 7,835
NH3 (mg/L) 0,25 0,26 0,255
NO2 (mg/L) 0,048 0,041 0,0445
D29 Suhu (oC) 25,5 25,5 25,5
Alkalinitas (mg/L) 74,5 75,4 74,95
DO (mg/L) 5,72 5,49 5,605
pH 7,43 7,39 7,41
CO2(mg/L) 8,46 8,45 8,455
NH3 (mg/L) 0,26 0,25 0,255
NO2 (mg/L) 0,054 0,048 0,051

Sumber : Lab Uji Kualitas Air BBPBAT Sukabumi, 2015.

Data Hasil kualitas air menunjukan bahwa suhu air pada kolam pemeliharaan induk kolam D28 dan D29 berada pada kisaran 25,50C, nila pH 7,64 pada kolam D28 dan 7,41 pada kolam D29 dan nilai DO yaitu 4,69 pada kolam D28 dan 5,60 pada kolam D29. Data suhu air dan nilai pH pada kolam pemeliharaan induk sudah sesuai bedasarkan Badan Standar Nasional (1999), kualitas air yang baik untuk pemeliharaan induk ikan nila yaitu pada kisaran suhu 25-300C, nilai pH pada kisaran 6,5-8,5 dan nilai DO pada kisaran 5-7 mg/L. Namun, kandunagan DO pada kolam 4,69 nilai tersebut belum sesuai untuk kegiatan pemeliharaan induk ikan nila dimana menurut BSN (1999) nilai DO lebih dari 5 mg/L. Penurunanan DO dalam air berdampak pada ikan dimana aktivitas pernapasan meningkata dan selera makan akan berkurang (Saputra dkk, 2011).

Ikan nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14-300C dan dapat memijah secara alami pada suhu 22–370C.Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, suhu optimal bagi ikan nila adalah 25-300C. Pertumbuhan ikan nila biasanya akan terganggu jika suhu habitatnya lebih rendah dari 140C atau pada suhu tinggi380C. Ikan Nila akan mengalami kematian pada suhu 60C atau 42ºC (Sucipto dan Prihartono, 2007). Konsentrasi oksigen terlarut yang baik dalam budidaya perairan adalah antara 5-7 mg/L (Kordi dan Gufron, 2009), dan Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitaran 7-8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berkhir jika pH rendah(Effendi, 2003).

Nilai amonia hasil pengukuran pada kolam pemeliharaan induk kolam D28 dan D29 memiliki nilai yang sama yaitu 0,255, nilai tersebut berada pada kondisi yang ideal. Hal ini berarti bahwa air kolam tersebut layak untuk pemeliharaan induk ikan nila. Menurut Standar Nasional Indonesia (BSN, 1999) batas maksimal kandungan ammonia dalam air buidaya ikan nila sebesar 1 mg/ L.

  • Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama ikan yang sering timbul pada pengelolaan induk ikan nila yaitu seperti keong mas dan ikan liar, seperti yang ditemukan pada saat kegiatan MKI ikan liar yang masuk ke kolam pemeliharaan induk yaitu ditemukan ikan lele, ikan patin dan ikan nilem yang masuk melalui saluran inlet air. Penanggulangan yang dilakukan yaitu dengan cara melakukan pengeringan kolam agar hama keong mas mati dan memasang saringan hapa berbentuk persegi panjang 1 m x 2 m x 1,5 m pada saluran pemasukan inlet air agar ikan liar yang masuk ke kolam pemeliharaan induk tidak masuk langsung ke dalam kolam.

Di BBPBAT Sukabumi pada produksi ikan nila dilakukan pencegahan penyakit yaitu dengan melakukan pemberian vaksin Streptovac® yang merupakan vaksin inaktif bakteri Streptococus agalactiae-N14G untuk pencegahan penyakit streptococcosis pada ikan nila, yang diberikan melalui metode oral yaitu dilekatkan/ disemprotkan pada pakan ikan dengan dosis 2 – 3 mL/kg bobot tubuh ikan dan diberikan selama 5-7 hari secara terus menerus.

  • Pemijahan Induk Ikan Nila

Produksi pembenihan ikan nila GMT dapat pula disebut pemijahan ikan nila jantan GESIT (Genetically Supermale Indonesia Tilapia) dengan indukan nila betina normal. Ikan nila GMT (Genetically Male Tilapia) merupakan hasil keturunan pemijahan antara ikan nila GESIT jantan dengan kromosom (YY) dipijahkan dengan ikan nila betina normal dengan kromosom (XX) maka turunan yang dihasilkan mempunyai kromosom XY. Di BBPBAT Sukabumi sendiri indukan betina yang digunakan yaitu induk nila betina ikan Sultana. Tahapan pemijahan ikan nila secara alami dimulai dari persiapan kolam, seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, pemanenan larva dan pemeliharaan/ pendederan benih ikan nila GMT.

  • Persiapan Kolam Pemijahan

Kolam yang digunakan pada saat kegiatan MKI untuk pemijahan secara alami berupa kolam dengan konstruksi tanah berukuran 20 m x 11,2 m x 1,8 m (seluas 403 m2). Sebelum digunakan kolam dibersihkan terlebih dahulu dari hama keong, dan rumput di areal kolam. Peneplokan/ perapihan pematang dilakukan agar pematang dapat dipastikan tidak bocor, meratakan dasar kolam dan kemiringan kolam ke arah kamalir agar mempermudah proses pemanenan benih dan membersihkan kobakan dari lumpur yang menumpuk pada saat perbaikan kamalir. Kolam dikeringkan selama 1 hari  bertujuan untuk membunuh hama dan penyakit, pemasangan saringan di pintu pemasukan air agar tidak ada hewan liar yang masuk langsung ke kolam pemijahan, menutup saluran outlet dan mengisi air kolam sampai ketinggian 150 cm – 170 cm. Setelah air terisi lalu saluran inlet ditutup dan selama proses pemijahan kolam tidak dialiri air. Kolam pemijahan secara alami dapat dilihat pada lampiran 8 (Gambar 5).

  • Seleksi Induk Ikan Nila

Seleksi induk (pemilihan induk) adalah kegiatan yang bertujuan untuk memilih induk yang siap untuk dipijahkan, kegiatan seleksi induk yang dilakukan di BBPBAT Sukabumi meliputi pemeriksaan terhadap kualitas ikan dilihat dari induk sehat, tidak cacat pada tubuh, memeriksa kematangan gonad ikan melihat dari lubang urogenital ikan yang memerah pada kelamin sampai anus dan pada induk betina dilhat dari bagian perut melebar, lunak apabila di raba dan bagian anus menonjol dan kemerahan. Menurut Standar Nasional Indonesia Induk Ikan Nila (BSN, 1999) seleksi induk merupakan kegiatan penting karena merupakan keberhasilan pemijahan dan sebagai upaya penjaminan mutu (quality assurance) mengingat induk mempunyai pengaruh terhadap benih yang dihasilkan. Adapun kriteria-kriteria dalam seleksi/ pemilihan induk yaitu kriteria kualitatif, kriteian kuantitatif dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) induk ikan.

Kriteria kualitatif adalah kriteria yang dilihat dari asal muasal induk, warna, bentuk tubuh, kesehatan dan kekenyalan tubuh. Dijelaskan lebih detail dalam (BSN, 1999), asal induk dari hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk ikan kelas induk dasar. Warna tubuh berwarna hitam keabu-abuan, bagian perut berwarna putih sampai ungu. Bentuk tubuh pipih (compress) dengan sisik penuh dan teratur. Kesehatan dimana anggota/ organ tubuh lengkap, sisik teratut, terdapat gurat sisi dua baris yang dipisahkan oleh tiga sisik pada bagian dorsal, tubuh tidak cacat dan tidak ada kelainan bentuk, tubuh tidak ditempeli oleh parasit, tidak ada benjolan, insang bersih, tutup insang normal (tidak tebal atau tipis) dan berlendir, kekenyalan tubuh kenyal dan tidak lembek.

Kriteria Kuantitatif adalah kriteria yang dilihat dari umur pertama matang kelamin, panjang standar, berat tubuh pertama matang gonad, fekunditas dan diameter telur, tertera pada tabel 3.4.

Tabel 3.4 Kriteria Kuantitatif Sifat Reproduksi

Kriteria Satuan Jenis Kelamin
Jantan Betina
Umur bulan ≥ 6 ≥ 6
Panjang total cm ≥ 25 ≥ 22
Bobot tubuh g ≥ 250 ≥ 200
Fekunditas butir/ ekor ≥1000
Produksi larva ekor/ induk ≥ 750
Diameter telur mm ≥ 2,5

Sumber : SNI 6140:1999.

Pemerikasaan kematangan gonad pada induk ikan nila pada tahap seleksi induk yaitu dilakukan dengan cara pemeriksaan sebagai berikut :

  1. Cara menentukan kematangan gonad ikan jantan dilakukan dengan cara mengamati bagian kelamin jantan, memeriksa bagian tubuh dan dipastikan tidak cacat dan memperkirakan bobot tubuh induk. Ikan jantan yang telah matang kelamin di sekitar perut sampai kepala bagian bawah berwarna merah.
  2. Cara menentukan kematangan gonad ikan betina dilakukan dengan meraba bagian perut dan pengamatan bagian kelamin/ lubang urogenital memerah dan pengamatan anus. Ikan betina yang telah matang gonad melalui pemeriksaan kematangan gonad ditunjukan dengan bagian perut melebar, lunak apabila diraba, bagian anus menonjol dan kemerahan.
  • Pemijahan

Kegiatan produksi pembenihan ikan nila GMT di BBPBAT Sukabumi yaitu menggunakan pemijahan alami secara masal, dengan mengembangkan sistem pengelolaan induk dalam satu unit produksi benih dengan mempertimbangkan bilangan jumlah pemijahan. Jumlah induk dalam satu populasi pemijahan secara masal disebut dengan satu paket. Satu paket induk berjumlah 400 ekor yaitu terdiri dari 100 ekor nila jantan dan 300 ekor nila betina. Indukan yang digunakan dalam proses pemijahan yaitu menggunakan indukan jantan ikan nila GESIT dan indukan betina ikan nila Sultana sehingga hasil anakannya ikan nila Genetically Male Tilapia (GMT) yaitu anakan yang dihasilkan 90% adalah jantan.

Penebaran induk dilakukan pada pagi hari saat suhu udara dan air masih rendah. Padat tebar induk adalah 1 ekor/m2, sehingga satu paket induk sebanyak 400 ekor memerlukan lahan untuk pemijahan seluas 400 m2, hal ini disebabkan induk ikan nila jantan selalu membuat sarang berupa cekungan di dasar kolam untuk melakukan proses perkawinan dengan induk betina.

Satu periode pemijihan pada saat kegiatan magang kerja industri proses pemijahan berlangsung selama 15-21 hari untuk dapat dilakukan pemanenan benih ikan. Proses pemijahan sendiri dapat berlangsung selama 8 periode pemijahan dengan delapan kali pemanenan benih tanpa harus mengangkat induk. Setelah akhir periode, induk baru diangkat dari kolam pemijahan dan dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina untuk pematangan gonad kembali selama 15 hari, selanjutnya paket induk tersebut dapat dimasukan kembali kedalam kolam pemijahan yang telah disiapkan kembali sebelumnya.

Pada saat proses pemijahan kolam pemijahan diberi pupuk puyuh dengan dosis 500 g/m2 dengan cara merobek bagian karung dan pupuk dibuang dipinggir-pinggir kolam proses ini di sebut “boom”. Pemupukan bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami untuk benih ikan nila yang dikeluarkan oleh indukan pada saat periode proses pemijahan berlangsung hingga benih siap untuk dipanen.

  • Pengelolaan Pakan dan Air

Selama proses pemijahan berlangsung induk ikan nila tetap diberi pakan dari mulai dimasukan induk ke kolam pemijahan sampai pemanenan larva. Dosis pemberian pakan yang diberikan adalah 2% dari bobot biomassa ikan sampai benih di panen, frekuensi pemberian pakan sebanyak dua kali yaitu pagi dan sore hari. Dilakukan penurunan dosis pemberian pakan yang disesuaikan dengan mengamati ketika proses pemberian pakan yang ditandai dengan pakan yang diberikan tidak habis dimakan oleh induk ikan, hal ini dilihat dari kondisi bahwa sebagian induk betina sedang mengerami telur dan larva sehingga induk betina tidak makan sampai benih ikan nila dikeluarkan dari mulutnya.

Pakan yang diberikan selama proses pemijahan berlangsung harus cukup mengandung protein 28-30% (Prihartono, 2008), ketika kegiatan magang kerja industri pemberian pakan pada induk ikan selama proses pemijahan pakan yang diberikan adalah pakan HIPROVIT® dengan kandungan protein 31-33% hal tersebut menunjukan bahwa pemberian pakan sudah memenuhi kebutuhan protein induk ikan nila selama proses pemijahan baik untuk pematangan gonad maupun maintenance induk tersebut.

Di BBPBAT Sukabumi pada saat proses pemijahan dilakukan pencegahan penyakit yaitu dengan melakukan pemberian vaksin Streptovac® yang merupakan vaksin inaktif bakteri Streptococus agalactiae-N14G untuk pencegahan penyakit streptococcosis pada ikan nila, yang diberikan melalui metode oral yaitu dilekatkan/ disemprotkan pada pakan ikan dengan dosis 2-3 mL/kg bobot tubuh ikan dan diberikan selama 5-7 hari secara terus menerus.

Selama proses pemijahan debit air diatur dalam dua tahap, yakni tahap pertama air di alirkan secara lebih besar hal ini bertujuan untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam air, memacu nafsu makan induk disamping mengganti air yang menguap, dengan demikian air yang mengalir ke kolam terlimpas keluar melalui saluran pengeluaran (outlet). Sedangkan pada tahap kedua debit air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang terbuang melalui penguapan sedemikian rupa tanpa melimpaskan air ke luar kolam, hal ini untuk menghindari hanyutnya larva/ benih ikan nila juga mengindari limpasnya pakan alami sebagai makanan awal bagi larva/ benih ikan nila yang terdapat di kolam pemijahan.

  • Pemanenan Benih

Panen benih dilakukan setiap 15-20 hari sekali dilihat dari jumlah benih yang berada di permukaan air yang sudah dikeluarkan dari mulut indukan ikan nila, pemanenan dilakukan pada waktu pagi hari. Kegiatan pemanenan benih ikan nila yang dilakukan di BBPBAT Sukabumi yaitu diawali dengan melakukan penyurutan air kolam yang mulai disurutkan sehari sebelumnya dengan air inlet dibuka sedikit menjaga agar air tidak surut pada keesokan harinya, namun hal tersebut diterapkan tergantung luasan kolam. Penyurutan air kolam dilakukan pertama-tama sampai setengahnya, sebelum surut total, kobakan sebagai tempat panen benih perlu dibersihkan dari lumpur dengan cara membuka sumbat outletkobakan, penyusutan air secara total dilakukan sampai air hanya tersisa pada kobakan saja untuk mempermudah proses pemanenan benih. Induk akan berkumpul pada kobakan sehingga benih akan dikeluarkan pada saat induk berada di kobakan, dan segera dilakukan pengambilan benih dengan menggunakan scoop net dan ditampung di hapa terlebih dahulu untuk dihitung jumlahnya dan memberokan benih agar tidak terlalu setres sebelum benih di tebar ke kolam pendederan.

Proses pengambilan larva ini dapat dilakukan oleh dua orang, pengambilan larva dilakukan secara total sampai bersih termasuk yang masih tersisa dalam sarang, dengan cara membongkar sarang dengan cangkul dan mengarahkan larva ke kobakan. Menurut Prihartono (2008), sarang tempat pemijahan induk ikan nila yang berbentuk bulat di dasar kolam dapat dihitung untuk menaksir jumlah induk ikan yang memijah dan diratakan kembali, biasanya jumlah induk ikan nila yang memijah sebanyak 30-40% dengan perolehan larva sebanyak 60.000-80.000 ekor/ paket/ 10-20 hari.

Benih ditampung sementara dalam hapa ukuran 2 x 2 x 1 m3 dengan mesh size 1,0 mm, ukuran larva yang dipanen biasanya ada dua ukuran untuk itu perlu dilakukan sortasi menggunakan hapa dengan ukuran mesh size 1,5 mm. Larva yang telah ditampung dihapa lalu dihitung jumlahnya terlebih dahulu sebelum di dederkan. Di BBPBAT Sukabumi benih ikan nila dilakukan pencegahan penyakit dengan melakuakan pemberian vaksin Streptovac® yang merupakan vaksin inaktif bakteri Streptococus agalactiae-N14G untuk pencegahan penyakit streptococcosis pada ikan nila, yang diberikan melalui metode perendaman yaitu pelarutan vaksin dalam air dengan dosis 100 ml/ 1000 liter air selama 30 menit lalu ikan ditebar ke kolam pendederan dan diberikan vaksin kembali pada pakan ikan dengan metode oral dengan dosis 2-3 ml/ kg bobot tubuh ikan selama 5-7 hari secara terus menerus.

  • Pendederan

Pendederan adalah tahap pelepasan/ penyebaran benih pada kolam. Pada proses pendederan dilakukan pemeliharaan benih ukuran kebul sampai ukuran konsumsi. Pendederan dilakukan pada kolam tanah, tujuan dari pendederan yaituuntuk menghasilkan benih yang berukuran seragam. Dalam pendederan kegiatan yang dilakukan adalah:

  1. Persiapan Kolam Pendederan

Persiapan kolam dilakukan guna mengevaluasi kelayakan kolam untuk digunakan, kolam yang digunakan pada proses pendederan di BBPBAT Sukabumi yaitu kolam tanah dengan luas 426 m2 – 784 m2. Tahapan persiapan kolam pada kegiatan pendederan yaitu perbaikan pematang, pembalikan tanah, perbaikan kamalir/ kobakan, pengerinngan, pengisian air dan pemupukan.

Perbaikan pematang dilakukan untuk memperbaiki pematang kolam yang bocor dengan cara melakukan keduk teplok ke bagian pematang yang bocor dan membersihkan pematang kolam dari rumput liar. Selanjutnya melakukan pembalikan tanah dengan mengguakan cangkul, tujuan pembalikan tanah adalah untuk meratakan tanah, membalikan lumpur agar terjadi sirkulasi pengembalian unsur hara dan mengatur kemiringan dasar kolam kearah kamalir. Perbaikan kamalir dilakukan menggunakan sorongan dari kayu karena setelah dipanen tanah akan terbawa ke tengah kamalir jadi perlu dilakukan perbaikan kamalir sesuai tingkat kemiringan yang dikehendaki agar memudahkan pada proses pemanenan benih menuju ke kobakan. Konstruksi kobakan di kolam pendederan benih ikan  nila sudah di beton sehingga hanya perlu memperbaiki tingkat kemiringan kamalir dan membersihkan lumpur di kobakan.

Tahapan pengeringan kolam bertujuan untuk memutus rantai penyakit dan menguapkan gas-gas beracun. Pengeringan dilakukan selama 1-2 hari hingga tanah lapisan atas kering, tetapi lama waktu pengeringan kolam bergantung pada cuaca. Selanjutnya tahapan pengisian air dengan ketinggian hingga mencapai 40-60 cm dengan air dijaga stagnan tidak dialiri air dan air tidak dikeluarkan dengan tujuan agar benih tidak terbawa keluar dan pakan alami tercukupi. Air ditambahkan ketika tinggi air berkurang dan dilakuan pengisian air hingga batas air yang ditentukan.

Tahapan terakhir dalam persiapan kolam yaitu melakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk organik berasal dari kotoran puyuh. Pupuk kotoran puyuh ini umumnya sudah berbentuk seperti pasta yang sudah ditempatkan pada karung dan berwarna hitam, kandungan nutrisi yang terkandung pada kotoran puyuh yaitu memiliki kandungan air 11,52%, abu 17,40%, protein kasar 32,39%, serat kasar 12,1%, Lemak kasar 1,68%, BETN 24,91%, kalsium 3,39%, posfor 2,35%, protein murni 20,06% (Hasil analisis laboratorium kimia Balai Besar Penelitian Tanah Bogor 2011). Unsur- unsur yang terkandung dalam kotoran puyuh ini merupakan unsur sekunder (micro nutrient) unsur tersebut keberadaannya sangat penting bagi pertumbuhan plankton dalam air (Edhy dkk. 2010).

Pemupukan dengan menggunakan pupuk puyuh dilakukan dengan cara melubangi karung pupuk, kemudian karung tersebut dilemparkan kedalam kolam yang telah terisi air/ disimpan pada satu titik sehingga pupuk akan keluar secara perlahan dan nutrin yang ada pada pupuk akan keluar secara bertahap sehingga pada teknik pemupukan seperti ini mengurangi terjadinya blooming plankton.

Kolam yang telah dipupuk kemudian dibiarkan selama 2-3 hari agar pakan alami tumbuh terlebih dahulu. Indikator pakan alami telah tumbuh terlihat dari warna perairan yang hijau karena adanya plankton.Pada proses pemupukan untuk kolam pendederan diberikan sebanyak 500 gr/m2. Pemupukan yang ditebar pada kolam pendederan pada saat MKI yaitu sebanyak 400 kg dengan luasan kolam 784 m2.

  1. Penebaran dan Pemeliharaan Benih

Penebaran benih dilakukan setelah tahapan persiapan kolam selesai. Benih yang ditebar pada tahap pendederan I dilakukan di kolam D37 dengan padat tebar 71 ekor/ m2 adalah benih ukuran kebul yaitu benih yang baru dipanen dari kolam pemijahan dengan umur benih 4 hari, ukuran 0,93 cm dengan berat 0,02 g, pada tahap pendederan I benih dipelihara selama 15 hari sampai ukuran benih 2–3 cm. Tahap pendederan II dilakukan di kolam D38 dengan padat tebar 38 ekor/ m2adalah benih ukuran 2-3 cm dengan bobot 0,44 g dimana benih dipelihara selama 20 hari sampai benih berukuran 3–5 cm. Dan pada tahap pendederan III dilakukan di kolam D35 dengan padat tebar 56 ekor/ m2, benih yang ditebar berukuran 3–5 cm dengan bobot 5,47 g benih dipelihara selama 21 hari sampai benih berukuran 5–7 cm. Kegiatan pendederan yang dilakukan pada saat legiatan MKI pada pendederan I belum sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (BSN, 1999) yaitu pada pendederan I ukuran benih yang ditebar minimum bobot 0,6 g panjang 1-3 cm padat tebar 75-100 ekor/ m2 dengan waktu pemeliharaan 10 hari, pendederan II benih yang ditebar bobot 2 g panjang 3-5 cm padat tebar 75-100 ekor/ m2 dengan waktu pemeliharaan 20 haridan pendederan III benih yang ditebar bobot 3 g panjang 5-8 cm padat tebar 15-20 ekor/ m2 dengan waktu pemeliharaan 30 hari.Data hasil kegiatan pendederan dapat dilihat pada (Tabel 3.6).

Tabel 3.5 Data Hasil Kegiatan Pendederan

Tanggal Kegiatan Tebar (ekor) Panen (ekor) SR (%)
15-04-2015 Pendederan I 47.490 30.000 63,17
29-04-2015 Pendederan II 30.000 24.000 80,00
18-05-2015 Pendederan III 24.000 19.600 81,67

Keterangan :

* SR (Survival Rate)

* Perhitungan SR disajikan di Lampiran 6

Data hasil pemeliharaan benih pada proses pendederan pada kegiatan MKI di BBPBAT Sukabumi didapatkan nilai SR pada tahap pendederan I sebesar 63,17%, nilai SR pada tahap pendederan II sebesar 80,00% dan nilai SR pada tahap pendederan III sebesar 81,67%, dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa nilai SR paling rendah terjadi pada tahap pendederan I, karena pada fase tersebut kondisi benih masih rentan baik karena keadaan tubuh maupun adaptasi terhadap lingkungan. Hasil data diatas menunjukan nilai SR sudah sesuai dengan Strandar Nasional Indonesia (BSN, 1999) yaitu SR pada pendederan I sebesar 60%, pendederan II sebesar 70% dan pendederan III 75%.

  1. Pemberian Pakan

Kegiatan pemberian pakan pada tahap pendederan dilakukan di kolam D37, D38 dan W5 dengan kandungan pakan yang diberikan pada tahap pendederan  di BBPBAT Sukabumi adalah pakan dengan SINTA-3®dengan jenis pakan butiran yang di rendam dengan air sehingga menjadi bentuk remahan pada pendederan I dengan kandungan protein30%, pada pendederan II pakan yang diberikan berbentuk pakan tepung/ meals Nanopolis P0-1® dengan kandungan protein 38-40%, dan pada pendederan III pakan yang diberikan adalah pakan butiran floating Nanopolis P2-3® dengan kandungan protein 38-40%. Ikhtisar pemberian pakan disajikan dalam Tabel 3.6.

Tabel 3.6 Pemberian Pakan Pada Kolam Pendederan Selama Kegiatan Magang Kerja Industri

Kolam Populasi ikan (ekor) Bobot rata-rata (gram) Bobot Biomassa (gram) Pakan yang diberikan
Per hari (kg) (%)
Pendederan I 47.490 0,08 1.223 1 82
Pendederan II 30.000 0,44 13.200 3 22,73
Pendederan III 24.000 3,04 72.960 4 5,5

Keterangan:Perhitungan kebutuhan pakan disajikan di Lampiran 5

Berdasarkan Standar Operasional dan Prosedur (SOP) Produksi Benih Ikan Nila BBPBAT Sukabumi 2015, pemberian pakan pada benih ikan pada proses pendederan yaitu sebanyak 10%. Pemberian pakan pada saat kegiatan magang lebih besardari pada Standar Nasional Indonesia (BSN, 1999) pemberian pakan produksi benih ikan nila pendederan I sebesar 20%, pendederan II sebesar 10% dan pada pendederan III sebesar 5%. Pada tahapan kegiatan pendederan I dan II pakan yang diberikan melebihi kebutuhan pakan pada ikan kemungkinan hal tersebut menimbulkan terjadinya pemborosan biaya pakan. Pemberian pakan melebihi kebutuhan dapat meningkatkan biaya operasional, sedangkan pemberian pakan pada tahap pendederan II pakan yang diberikan masih kurang optimal namun untuk memenuhi pakan yang dibutuhkan pemberian pakan 5,5% pada benih ikan nila dianggap sudah sesuai karena pada kolam pendederan tersebut sudah tersedia pakan alami di dalamnya.

  1. Pemanenan Benih

Kegiatan panen merupakan proses akhir dari rangkaian kegiatan produksi pembenihan ikan nila di BBPBAT Sukabumi. Kegiatan pemanenan diawali dengan persiapan alat-alat panen, dimana alat-alat yang digunakan dalam kegiatan pemanenan benih ikan yaitu hapa dengan ukuran 4 m x 6 m x 1 m , ember, seser, alat tangkap benih (anco) dan saringan pipa paralon. Hapa digunakan untuk penampungan sementara benih ikan sebelum benih ikan didederkan kembali atau di jual, ember digunakan untuk mengangkut ikan, seser dan anco digunakan untuk menangkap benih ikan dan saringan pipa paralon digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar benih ikan tidak terbawa arus.

Kegiatan panen benih ikan dilakukan pada pagi hari yaitu 07.00 – 08.00 WIB. Pemanenan dilakukan diawali dengan melakukan penyurutan air kolam pendederan yang dilakukan dimulai dari sore hari sebelum keesokan harinya benih ikan dipanen dengan memasang pipa disaluran outlet yang di lubangi di bagian atasnya yang dilapisi waring halus sehingga memungkinkan ikan tidak dapat ikut terbawa oleh arus air, lalu pada bagian inlet air dialirkan sedikit yang bertujuan agar menjaga air tidak habis pada keesokan harinya, kegiatan ini dilakuakan agar tidak menunggu lama karena dilakukannya proses penyurutan air sehingga waktu yang dilakukan lebih efisien.

Air kolam yang surut diusahakan masih menyisakan air di kobakan sehingga benih ikan akan berkumpul di dalam kobakan agar memudahkan dalam penangkapan benih ikan. Benih ikan ditangkap menggunakan anco dan seser halus sampai ikan didalam kobakan habis, kemudian benih ikan diangkut menggunakan ember dan ditampung di hapa tempat penampungan sementara benih ikan untuk dihitung jumlah biomassa ikan sebelum ikan di dederkan kembali atau dijual, apabila ikan akan dijual maka benih yang telah di tampung trus di pisahkan dari hama atau pesaing seperti keong, kecebong dan kini-kini lalu di angkut ke bak pemberokan dengan menggunakan ember. Bak pemberokan yang disiapkan sudah di pasang hapa ukuran 6 m x 1 m x 1 m yang diberi aerasi pada bak pemberokan, tujuan dilakukan pemberokan yaitu untuk mengurangi stres pada ikan setelah pemanenan, memilih benih yang baik tidak cacat karena proses pemanenan, mengeluarkan feses agar pada saat transportasi ikan tidak banyak mengeluarkan kotoran dan untuk mempermudah pada saat pemekingan benih.

Pada kegiatan pemanenan permasalahan yang sering timbul yaitu banyaknya hama yaitu keong, kecebong, dan kini-kini yang ikut tertangkap atau terbawa dengan ikan sehingga diperlukan pemisahan terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke hapa. Penampungan benih ikan pada hapa juga dapat bertujuan untuk mengurangi stres pada benih ikan setelah dipanen dan sebelum di dederkan ke kolam pendederan dan bertujuan untuk memisahkan benih ikan dari hama dan benih ikan yang mati ketika pada saat penanganan panen dilakukan.

  1. Grading

Grading bertujuan untuk menghasilkan benih dengan ukuran seragam sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan sesuai dengan kebutuhan pasar dan memilih benih yang cacat karena proses pemanenan atau karena ada cacat tubuh. Kegiatan grading dilakukan menggunakan alat yang dibuat secara umum berupa baskom hitam yang diberi lubang sesuai ukuran yang sudah ditentukan. Kegiatan grading  biasanya dilakukan setelah kegiatan panen selesai yang bertujuan untuk menyeragamkan ukuran ikan baik untuk di tebar kembali atau langsung dijual sesuai ukuran pesanan konsumen. Kegiatan grading yang dilakukan di BBPBAT Sukabumi yaitu meliputi pemilihan ikan dengan ukuran 2-3 cm, 3-5 cm, 5-8 cm 8,-10 dan 10-12 cm dengan ukuran diameter lubang grading antara lain, 0,5 cm, 0,7 cm, 1 cm, 1,2 cm dan 1,4 cm.

Teknik grading yaitu dengan cara ikan dimasukan kedalam baskom dengan ukuran lubang yang sudah ditentukan lalu air di ditemuk agar timbul gemercik sehingga ikan dengan ukuran yang lebih kecil akan keluar melalui lubang dan ikan yang lebih besar tersaring lalu ikan di pisahkan sesuai ukuran yang di tentukan yang di sekat menggunakan bambu sesuai perbedaan ukuran ikan, begitu seterusnya hingga ikan yang ada di bak pemberokan habis.

  1. Pengepakan dan Pengangkutan Benih

Ukuran benih yang dipak sesuai dengan pesanan pembeli, benih yang dipilih adalah benih sehat yaitu tidak cacat karena proses pemanenan/ greding dan bebas dari penyakit. Sebelum dipeking benih diberokan terlebih dahulu dibak pemberokan selama sehari sebelum pengangkutan dengan tidak dilakukan pemberian pakan, kepadatan benih dalam satu kantong plastik disesuaikan dengan jarak tempuh pengiriman. Air yang digunakan untuk media pengangkutan menggunakan air bersih dari sumur.

Proses pengangkutan benih menggunakan pengangkutan sistem tertutup yang umumnya dilakukan untuk pengangkutan benih dengan jarak tempuh jauh. Alat dan Bahan yang digunakan pada proses pengepakan yaitu air sebagai media hidup ikan, oksigen yaitu untuk penyuplai asupan oksigen dalam air selama proses transportasi, antibiotik Elbayo®, kantong plastik dengan ukuran diameter 60 cm, panjang 90 cm, lebar 60 cm dengan tebal 0,1 mm dan karet gelang untuk mengikat kantong plastik.

Langkah-langkah pengepakan benih yang diangkut dengan kantong plastik yaitu air bersih dimasukkan ke dalam kantong plastik peking yang sudah disiapkan sebelumnya dan diberi anti biotik elbayo®, lalu menghitung benih dengan menggunakan metode volumetri dengan memasukan air kedalam gelas takar lalu air yang ada di gelas takar di ukur pada gelas ukur (ml), setelah ditemukan volume air lalu ikan di hitung jumlahnya setiap ml air dan di kalikan dengan jumlah volume air pada gelas takar maka akan di dapat jumlah ikan pada setiap gelas takar, kemudian benih yang sudah ditakar dan diketahui jumlah benih/ takaran nya dimasukan kedalam kantong plastik dengan kepadatan yang disesuaikan dengan jarak tempuh pengiriman ikan, lalu kantong plastik di beri oksigen dengan terlebih dahulu mengosongkan udara yang terdapat dalam kantong plastik, lalu oksigen dari tabung dialirkan melalui selang kekantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga air dengan perbandingan (air : oksigen = 1 : 2) terakhir kantong plastik diikat kencang dengan menggunakan karet gelang serta pastikan udara dalam kantong plastik tidak keluar, dan selanjutnya menyusun plastik peking di mobil secara rapih di mulai dari bawah hingga tumpukan atas dimana setiap tumpukan plastik peking di skat menggunakan papan agar tidak tejadi tumpang tindih antar plastik peking yang akan mengakibatkan penekanan berat sehingga menimbulkan kebocoran pada plastik peking.

  • Pemasaran

Ikan nila GMT yang dipasarkan oleh BBPBAT Sukabumi merupakan jenis ikan nila benih sebar untuk tujuan pembesaran ikan nila untuk konsumsi. Benih ikan nila GMT dengan ukuran 2-3 cm dijual dengan harga pasaran Rp. 55,-/ ekor. Transaksi penjualan dilakukan secara langsung datang ke BBPBAT Sukabumi atau secara tidak langsung yaitu pemesanan melalui telepon. Pemasaran benih ikan nila yaitu meliputi daerah sekitar sukabumi, cirebon, bogor, cianjur yang dikirim melalui transportasi jalur darat, untuk pengiriman melalui jalur udara dengan menggunakan pesawat dengan kota tujuan Palembang, Lampung dan Papua.

Sumber : Laporan BBAT Sukabumi

Advertisements